It's ghi : Lucius muda disini Shadz gambarkan gak jauh beda sama versi HP5 yang ketjeh badai itu. Chapternya gak panjang-panjang kok, paling cuma 4-5 chaps aja, tapi insha allah akan dibikin sekuelnya jika ada waktu luang :) Untuk alasan Dumbledore percaya sama Lucius bisa dilihat di chapter ini. terima kasih saran dan reviewnya :)
Intanmalusen : Hahaha, apakah masa depan akan berubah juga? Itu masih menjadi misteri :D dan, terima kasih atas Follow, favorite dan Reviewnya. :)
Zephaniah Luna : sebenarnya cerita dan pairing ini terinpirasi saat sedang nglamun di kelas minggu lalu terus nekat juga bikin pairing yang jarang ini. dan terima kasih atas saran dan Reviewnya :)
AdeLWizz : hueheehehee, iseng aja bikin pairing gini :D Kalau masalah huruf capital, itu memang keyboard pada laptop sedang bermasalah. Dan untuk tata bahasa, saya memang agak buruk dalam pengolahan kata. Jadi, murni kesalahan saya semua :D hahaha, untuk sikap Malfoy ada penjelasannya kok disini :p saya juga masih agak grogi bikin Loony lebih gila #waks :D tapi akan saya coba bikin Loony lebih frontal di chap ini. Terima kasih atas saran dan review-nya. :)
Flatiron Ilia Ti : hehehe, ini updatenya :) semoga gak mengecewakan. Terima kasih atas saran dan Review nya :)
.
.
.
Warning : Hampir semua karakter agak OOC. Lebay. Typos dimana-mana.
Semua murni kesalahan saya, jadi tolong jangan ada flames ya :)
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Review ya, Readers yang cantik-cantik, dan yang ganteng-ganteng.
So, Happy Reading!
.
.
.
Disclaimer : Semua karakter milik JK Rowling. Mungkin ada beberapa OC yang punya saya.
Summary : Pembalik Waktu telah membawa Luna Lovegood ke waktu yang tidak semestinya Ia berada dan menjalin hubungan erat dengan seorang….Lucius Malfoy?
Notes : Setting untuk Luna tahun ke 6 (16 th) Lucius kelas 7 (17-18 th)
.
.
.
Malam pun tiba, Lucius berbaring di tempat tidurnya memikirkan Luna. Menatap langit-langit asramanya dengan dekorasi warna hijau dan abu-abu dengan penuh suka cita, betapa bahagianya ia ketika Dumbledore mengatakan jika ia harus berteman dengannya! Ini berarti Dumbledore ada dipihaknya, dan ia takkan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Tidak akan pernah.
Lucius tersenyum sendirinya.
"Hey, kau baik-baik saja?" Tanya Goyle—ayah dari Gregory Goyle.
"Oh yeah, aku baik-baik saja." Balas Lucius gelagapan. Ha, dia salah tingkah.
"Oh yasudah. Kukira kau mulai…gila, hahaha.." balas Goyle.
"Apa? kau mengatakan aku gila?" gertak Lucius kepada bawahannya.
"Tii—tidak.. maaf." Balas Goyle yang langsung meninggalkan kamar. Lucius terkekeh melihatnya.
Ia kembali memikirkan Luna, bagaimana senyum di wajah polosnya, betapa ramahnya dia dengan kepribadian dan gaya yang unik. Ya Tuhan, sadarlah Lucius!
Lucius benar-benar sudah menaruh hati kepada gadis itu. Well, saat ini usia mereka hanya berselisih satu atau dua tahun aja, tapi jika dunia Luna yang sebenarnya? Puluhan tahun, man!
Apakah cinta selalu seperti ini? Membuat orang yang terkena getarannya menjadi gila dan kehilangan dirinya. Well, jatuh cinta memang indah…hanya pada awalnya saja. Pangeran Slytherin ini belum tau akan hal ini.
. . . . .
Malam pertama Luna di tahun 1970 benar-benar aneh. Tidurnya tidak begitu nyenyak, hingga ia harus bangun lebih awal disaat langit masih gelap. Ia harus tidur di kamar tamu yang disediakan Dumbledore untuknya mengingat ia harus di seleksi ulang untuk meyakinkan semua warga sekolah jika Luna memang siswa pindahan baru dari Amerika.
Luna masih tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Dumbledore kemarin "Lucius Malfoy merupakan orang yang aku percayai, jangan khawatir." Apa maksudnya? Bukankah dia itu seorang Death Eater? Ah, pak tua itu selalu mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Disamping itu, Luna juga sangat berharap jika pembalik waktu itu akan selesai beberapa hari ini saja, ia sangat merindukan ayahnya. Gaahh..
. . . . .
"Selamat datang!" kata Dumbledore, nyala lilin menghiasi Great Hall dan para staff telah berjejer berdampingan di meja depan. "Selamat datang untuk tahun ajaran baru lagi di Hogwarts! Ada beberapa hal yang akan kusampaikan kepada kalian semua, dan karena salah satunya sangat serius, kurasa lebih baik ini kusampaikan dulu sebelum kalian di bingungkan oleh santapan pesta yang lezat-lezat..."
Dumbledore berdeham dan melanjutkan pidatonya, "Kali ini, kita kedatangan keluarga baru. Ia berasal dari Amerika, Luna Butter namanya. Pagi ini juga, aku akan menyeleksi Mrs. Butter untuk ditempatkan di asrama mana ia akan berada. Silakan maju kedepan Mrs."
Lucius menatapnya dari meja Slytherin dengan jantung berdebar-debar. Ia benar-benar berharap jika Luna akan masuk Slytherin bersamanya. Lucius tau itu tidak mungkin, setidaknya tidak apa kan jika berharap?
Luna maju kedepan dan siap untuk diseleksi asrama mana yang cocok untuknya. Ia sudah tau dimana ia akan ditempatkan, jadi ia tenang saja. McGonaggal meletakkan topi seleksi dikepala Luna dan topi itu mulai bergerutu sendiri.
"Ahh.. siswa baru rupanya..." Ucap topi usang nan jelek itu. Dari depan, ia bisa melihat Lucius yang duduk disamping siswa kurus, pucat dengan rambut berminyak, tak salah lagi, itu pasti Profesor Snape muda. Beralih ke meja Gryffindor, ia menjelajahi satu persatu wajah siswa yang sedikit familiar dengan anak-anaknya kelak. Ada James Potter, Profesor Lupin dan Frank dan Alice Longbottom.
"yeah, rumit sekali, pintar, berani, setia..yeah aku tau harus dimana.." topi itu bergumam dengan sendirinya.
"RAVENCLAW!" murid-murid dari asrama Ravenclaw bersorak-sorai senang karena kedatangan keluarga baru. Luna berlari menuju mereka semua dan memperkenalkan dirinya. Mata Lucius mengikuti langkah Luna dengan sedikit menggerang kesal 'Ah, sial!' batinnya. Ia tetap menjaga sikap dingin stay cool nya didepan para siswa lain, tapi sepertinya ia menunjukkan sikap yang berbeda didepan Luna.
Luna balas meliriknya sedikit dan tersenyum.
"Hai, aku John Lee, ini sepupuku Liam Chang dan Amanda Jesse. Semoga kau betah disini."
"Aku Luna Butter, senang bisa mengenal kalian." Luna menjabat tangan mereka satu persatu dan duduk disamping John. Saat menjabat Liam, Luna berpikir ia pasti ayahnya Cho Chang, yah tidak salah lagi. Mata sipit dengan ras keturunan China—Tionghoa, 'like father like daughter' pikirnya. Ia menikmati santapan pagi seperti biasa, sandwich dengan jus labu mengingat tidak ada pudding di pagi hari. Pagi ini, kebetulan ia tidak ada jam, baru siang nanti ada jam ramuan bersama Profesor Slughorn.
Acara santap pagi selesai ia meninggalkan meja dan kembali ke asrama nya—Ravenclaw. Baru setengah jalan, Dumbledore mencegatnya dan menyuruhnya untuk ke ruangan nya. Yah, berbincang-bincang sedikit, bukan lagi pdkt. Ingat itu. -_-
"Jadi, Ravenclaw adalah asramamu di masa depan, yak an?" Tanya Dumbledore ingin tahu.
"Ya, Profesor. Aku senang bisa masuk ke asramaku sendiri." Jawab luna.
"Aku senang jika kau senang. Sudah mendapat teman?" Tanya Dumbledore lagi.
"Kurasa sudah…tapi aku harap aku bisa punya banyak teman. Aku suka berteman, itu selalu membuatku nyaman." Balas Luna menerawang jauh kedepan.
"Tentu saja." Dumbledore terkekeh.
"Boleh aku Tanya sesuatu, Profesor?" Luna merasa ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya bagaimana bisa Dumbledore mempercayai seorang Malfoy.
"Akan ku jawab semampuku." Balas Dumbledore mengangguk.
"Eh, er.. kenapa kau mempercayai Lucius?"
"Kenapa kau bertanya akan hal ini?" nada suara Dumbledore berubah drastis menjadi Sirius—maksudnya serius.
"Aku mengenal siapa Mafoy dan bagaimana dia dan dengan siapa dia mengabdi. Bukannya aku ingin mengumbar keburukan orang lain, tapi apakah anda benar-benar yakin jika anda mempercayai dia?" jelas Luna, agak gugup.
Dumbledore terkekeh lagi, "Mrs Butter, aku selalu yakin akan apa yang aku katakan. Dia orang yang cocok denganmu, yah mungkin aku melihat kalian berbeda kepribadian, tapi kalian akan saling mengerti satu sama lain. Aku tidak ragu."
"Oh, baiklah. Aku akan mencoba membangun hubungan baik dengan keluarga Malfoy, dan ku harap akan membuat hubungan yang baik antar Malfoy dan keluargaku di masa depan." Balas Luna dengan pikiran positif.
"Tapi kau harus ingat satu hal, jangan terlalu banyak mengubah banyak hal di jaman ini, karena perubahan besar pasti akan terjadi di masa depan."
"Aku akan berusaha semampuku, Profesor. Aku tidak akan merubah banyak hal."
"Aku harus memberitahumu baru saja mencoba memperbaiki pembalik waktu kemarin, dan aku punya berita yang…buruk."
"Well, apapun itu, aku akan menerimanya dengan lapang dada."
"Dengan menyesal aku harus mengatakan jika pembalik waktu iini akan benar-benar bekerja normal dalam tiga bulan kedepan. Itu merupakan waktu tercepat yang bisa kulakukan untuk memperbaiki benda berkekuatan magis tinggi seperti ini. Aku minta maaf." Ucap Dumbledore menyesal.
Luna tertunduk pasrah, tiga bulan sendirian di tahun 1970 tanpa teman-teman dan sahabat-sahabatnya. Lantas, ia mengangkat kepalanya dan menatap Dumbledore dengan senyum tipis. "Paling tidak aku masih di Hogwarts, Profesor. Terima kasih, kau sudah melakukan yang terbaik."
"Tentu saja." Dumbledore mengangguk senang. "Kalau begitu, aku pamit dulu." balas luna.
"Silakan."
Luna keluar dari kantor Dumbledore dan berniat mengelilingi kastil mumpung sedang jam kosong pagi ini. Yah sejenak mengobati rasa penatnya. Hogwarts selalu indah, dan selalu memukaunya. Kastil sangat sepi. Ia hanya bersimpangan dengan beberapa hantu seperti Sir Nicholas, Sir Cardogan dan si nakal Peeves. Untung saja Peeves tidak mengganggu Luna.
"Hai Lucius." Sapa Luna.
"Oh, hai Luna. Apa yang kau lakukan disaat jam pelajaran saat ini?" Sapa Lucius balik. Ia sepertinya habis berpatroli, dia kan prefek.
"Aku sedang kosong pagi ini, jam ku dimulai pukul 10 nanti, jadi dari pada aku bosan lebih baik berkeliling kastil. Dan kau sendiri sedang apa?"
"Aku baru saja selesai berpatroli, kebetulan aku sedang kosong juga pagi ini." Jelas Lucius.
"Kalau begitu ayo mengelilingi kastil dengan ku." Tawar Luna kepada Lucius. Lucius kaget dengan ajakkannya. Well, sebenarnya Lucius tidak perlu terlalu kaget, dia kan bintangnya Hogwarts, semua siswi tergila-gila padanya. Tapi belum ada yang bisa mengambil hatinya, sampai akhirnya Luna datang. Yeah, memang sangat cepat sekali jatuh cinta itu, maka dari itu ada istilah 'cinta pada pandangan pertama.'
"Uh, em, tentu saja. Dengan senang hati." Lucius menerima tawaran Luna. Di sisi lain kastil, Goyle, Crabbe dan Pucey memergoki Lucius dengan Luna sedang berjalan..berduaan?
"Apa? Lucius dengan gadis aneh itu sedang berjalaan berduaan? kurasa dia sudah benar-benar gila." Ucap Goyle sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Yeah, kau benar. Kupikir semua keluarga Malfoy hanya mau berteman dengan orang-orang yang sederajat dengannya, dan kupikir Lucius dengan gadis itu sangat berbeda, tidak hanya dari status social tapi juga derajat." Ucap Pucey.
"Atau jangan-jangan..?" ucap Goyle terputus.
"Jangan-jangan apa?" Tanya Crabbe.
"Lucius berpacaran dengan Loony." Ucap Goyle seketika.
Plakk… Crabbe menampar Goyle tiba-tiba.
"Ouch.. apa yang kau lakukan, Crabbe!" Geramnya sambil memegangi pipinya
"Tidak mungkin jika Lucius menaruh hati dengannya. Hanya karena dia berjalan berdua dengan seorang gadis, bukan berarti gadis itu pacarnya. Kau pintar sekali, seperti bayi troll." Ucap Pucey. Crabbe mengangguk.
"Bagaimana jika kita ikuti mereka?" saran Goyle.
"Tidak, tidak, kau tau bagaimana kemarahan Lucius kan?" Tolak Pucey.
"Aku juga tidak setuju. Hargai saja privasinya, itu kan hak nya." Sahut Crabbe. Goyle memutar matanya kesal.
Yang belum kita ketahui dari Lucius adalah, dia tidak mempunyai banyak teman. Dia hanya memiliki pengikut. Selain itu pula, keluarganya membatasinya untuk berteman, ia hanya diijinkan untuk berteman dengan sesama Slytherin saja. Ras Malfoy benar-benar selalu menganggap derajatnya yang tertinggi dari yang lainnya. Tapi Lucius muda berbeda dengan keluarga Malfoy sebelum-sebelumnya, ia lebih bisa akrab dan membuka diri dengan orang-orang baru.
"Jadi, Luna bagaimana hari pertamamu di Hogwarts? Apa tidurmu nyenyak?"
"Oh yeah, aku melewati malam yang panjang dari malam sebelumnya. Dan aku senang tidak ada nargle."
"Nargle?"
"Yeah, makhluk ghaib yang suka menyembunyikan barang-barangmu, ia tinggal di mistletoe. Kalung ini penangkalnya."balas Luna polos.
"Tutup botol butterbeer?" Lucius terkekeh.
"Yeah, aku percaya jika nargle itu benar-benar ada."
Lucius tidak menjawab. Ia tidak menyangka jika gadis ini benar-benar unik, gadis terunik yang pernah ia temui. Lucius ingin mengenal gadis ini lebih dalam.
"Hei, ceritakan tentang sekolah asalmu! Aku benar-benar penasaran." Mereka masih melanjutkan langkah mereka untuk mengelilingi kastil megah ini, Luna punya dua jam tersisa sebelum pelajaran ramuan. Akan tetapi, mereka memutuskan untuk duduk ditaman depan perpustakaan saja. Cukup ramai, ada beberapa anak yang berada disana, membaca buku, bergurau atau hanya sekedar duduk saja yang lainnya menatap mereka berdua aneh, tampak sedang membicarakan mereka.
"Oh, aku banyak belajar bermacam-macam hal disana. ngomong-ngomong Hogwarts selalu indah ya, tak peduli seberapa tua kastil ini." Ucap Luna.
"Selalu indah? Kau pernah kemari sebelumnya?"
Menghela nafas sejenak, dan memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Lucius. "A..Aku sudah pernah melihat kastil ini beberapa kali, tapi belum pernah memasukinya. Hanya rumor-rumor yang aku dengar jika Hogwarts selalu memberikan kejutan bagi siapa saja. Dan kurasa itu bukan rumor, Hogwarts sangat mengagumkan." Jelasnya.
"Ahaha, ya aku juga teringat tahun pertamaku disini, aku begitu terkagum-kagum saat melihat bangunan ini. Pengalaman pertama saat aku disini, aku bangun kesiangan, sekitar pukul 9 pagi sedangkan aku ada kelas pukul 8.30. saat aku tersadar jika aku terlambat, aku langsung berganti baju mengenakan jubahku mengambil buku-buku ku dan berlari menuju kelas transfigurasi dengan tergesa-gesa. Kau apa yang terjadi selanjutnya?"
"Eh, kau dimarahi dan mengambil poin asrama mu?"
"Tidak, ini lebih buruk." Balas Lucius.
"Lalu, ada apa?" Luna sangat penasaran.
"Aku lupa tidak memakai setelan celana hitam seragamku! Mereka tertawa melihatku memakai celana tidur berwarna kuning dengan motif beruang berwarna pink. Ya Tuhan, malu sekali aku."
Luna tertawa terbahak-bahak, "Kau memakai celana bermotif beruang? Ahahaha.. aku tak bisa membayangkan betapa malunya kau saat itu, Lucius. Lalu apa yang kau lakukan?"
"itu pemberian sepupuku. Saat itu aku berpikir 'ah siapa yang akan melihat celana tidur ini, kan hanya setean untuk tidur.' Tetapi aku benar-benar salah, lalu aku hanya berdiri menahan malu, setelah itu McGonaggal menghampiriku dan menyihir celanaku menjadi hitam. Untung sekali tak ada yang mentertawakan aku setelahnya. Tidak aka nada yang mencari masalah denganku." Lucius terkekeh sendiri.
"Ahahaha.. aku berharap jika aku bisa melihat ekspresimu saat itu. Pasti lucu sekali, dan akan akan aku abadikan kenangan itu dalam pensieve." Luna masih tertawa sendiri.
"Oh, ayolah! Itu sudah hampir tujuh tahun lalu. Tak ada yang mengingatnya, well mungkin ada beberapa."
"Oke oke, kau bisa melucu juga ternyata. Kukira kau selalu dingin pada semua orang yang mendekatimu."
"Aku selalu dingin kepada siapapun, Luna. Sikapku tak pernah bak kepada siapapun, tapi aku tidak bisa bersikap demikian padamu." Balas Lucius, ia mengecilkan nada suaranya pada kalimat yang terakhir. 'semoga Luna tidak mendengarnya.' Pikirnya.
"Aku tidak berpikir demikian, kau baik, walau sedikit sombong. hahaha." Jawab Luna.
"Aku akui aku memang sedikit sombong tapi, benarkah kau menganggapku..baik?" Tanya Lucius tidak yakin. Ia menatap kedalam mata Luna, melihat kedalam mata biru yang cerah, membuat hatinya semakin tidak karuan.
"Yeah, tentu." Jawab Luna mantap. "Kenapa kau berpikiran lain tentangku, Luna?"
"Kau tau, saat pertama aku masuk kesekolah, semua orang menganggapku gila karena yah penampilanku seperti ini, mereka menjauhi ku daripada harus dikatakan sama gilanya denganku. Aku menganggap sesuatu yang mereka anggap tak mungkin ada, itu yang menyebabkan aku dianggap gila dan dijuluki 'Loony Lo—maksudku Butter.' Aku tau satu poin darimu; Kau beda dari mereka, Lucius. Kau mau jalan berdampingan dengan orang sepertiku." Ucap Luna, balik menatap mata kelabunya dalam, 'apakah aku melihat bulan disana? Matanya indah sekali!' pikir Luna.
"Jangan begitu, kau tidak gila dan kau sama warasnya denganku." Ia tersenyum
"Terima kasih, Lucius. Atau kau sama gilanya denganku? hahaahah" Balas Luna tersenyum senang.
"Mungkin dua-duanya. Jadi, apa kita bisa berteman sekarang?" Tawar Lucius sambil menyodorkan tangannya kepada Luna. Menatap mata Luna tulus, penuh harap.
"Tentu saja kita berteman." Balas Luna menjabat tangan Lucius, dan memberikan senyum indah yang lebar. Lucius merasa tidak berdaya, kelevek-kelevek :D "Oh, aku harus pergi sekarang, ada kelas ramuan setengah jam lagi. Sampai jumpa saat makan siang."
"Sampai jumpa, Luna." Lucius melihat nya berlari penuh antusias. Ia tersenyum.
. . . . .
Luna mengambil buku-buku yang akan ia bawa kekelas ramuan hari ini, saat ia keluar dari kamarnya, John Lee memanggilnya.
"Luna!"
"Hai John. Mau ke kelas ramuan?" Balas Luna.
"Yeah, tentu saja. Ayo." John mengambil tasnya dan berjalan dengan Luna.
"Kau ada hubungan apa dengan Malfoy?" Tanya John.
"Kita berteman, tentu saja." Jawab Luna spontan.
"Aa..apa? kau berteman dengan Malfoy?" Tanya John.
"Yeah, dia orang yang baik. Ada yang salah?" Balas Luna.
"Ya Tuhan, kau tau kenapa Malfoy tidak pernah terlihat berteman dengan siswa dari asrama lain?" Ucap John seiring dengan langkah mereka menuju ke kelas ramuan di dungeon.
"Tidak, memang kenapa?"
"Abraxas Malfoy adalah seorang yang membatasi anaknya untuk berteman dengan siapa saja selain asrama Slytherin, seperti yang kita tau, keluarga Malfoy selalu menganggap dirinya lebih unggul dari kita semua. Pun, ada alasan kenapa tak ada wanita yang berani mendekati pria itu adalah karena ia sudah di jodohkan dengan Narcissa Black."
Deg.
Jantung Luna serasa berhenti berdetak, namun ia berusaha memasang wajah sedatar mungkin tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
"Oh, benarkah?" Tanya Luna.
"Yeah, Amanda pernah mencoba mendekatinya tahun lalu, tapi kau tau apa? dia memilih mundur karena Amanda tidak berani bersaing dengan Narcissa, yah walaupun sebenarnya Narcissa tidak pernah mengapa-apakan Amanda, karena memang sudah jelas Narcissa yang akan jadi pemenangnya." Balasnya.
Luna merasakan ada sesuatu yang menggelitik hatinya, membuat emosinya sedikit terguncang-guncang. Sedih senang bingung, rame rasanya. "Ayolah John. Aku dan Lucius hanya sebatas teman, kalaupun dia memang sudah dijodohkan dengan Narcissa, aku ikut senang mendengarnya." Balas Luna menutupi kegelisahannya.
"Ya sih, yasudahlah, ayo kita lanjut. Nanti malah terlambat lagi." Luna mengangguk.
Dalam diam, Luna memikirkan perkataan John mengenai Narcissa dengan Lucius yang telah di jodohkan. Terjadi perdebatan seru dalam dirinya, seru sekali. Melebihi debat politik.
-Pikiran Luna-
Apa yang kurasakan ini? kenapa aku merasa tidak karuan saat ada disamping Lucius?. Sebuah rasa yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Jantungku berdebar cepat sekali tadi, seolah ingin keluar dari dadaku. Tatapan mata kelabunya benar benar tajam, menatap dalam ke bola mataku tadi.
Tidak,tidak. Jangan katakan jika aku telah menaruh hati padanya. Ini tidak mungkin, ini gila!
Ayolah Luna, ini memang sudah garisnya. Hapus perasaanmu kepada Lucius, ia sudah dijodohkan. Demi apa! aku baru berjumpa satu hari dengannya dan kau sudah menaruh hati? Ini tidak mungkin. Memang dia begitu menawan, tapi tidakkah aku sudah mendengar apa yang tadi John bilang jika ia telah dijodohkan dengan Narcissa Black, sang putri Slytherin.
Aku tidak bisa merubah apa yang harus terjadi di masa ini, karena ini akan mengubah banyak hal di masa depan kau ingat kata Dumbledore, kan?
Tidak Luna, jaga hatimu! Jika kau tidak boleh jatuh cinta padanya. Perasaanmu itu bisa merusak masa depan dan bisa berakibat sangat fatal. Jauhi dia, simpan perasaanmu itu dalam-dalam.
Kau bukan tercipta untuknya.
Dan kau bisa membuat Draco Malfoy tidak terlahir didunia ini.
BERSAMBUNG. . . .
. . . . . .
Hola, bagaimana chapter ini? semoga bisa diterima di hati para readers yang ganteng-ganteng dan yang cantik-cantik sekalian. Seperti biasa, kritik dan saran selalu menjadi bagian yang saya tunggu-tunggu. Sekali lagi, terima kasih buat yang sudah favorit, follow dan review. ^_^
Well, tunggu next chapter. Semoga gak lama :D
