Tittle : Return
Author : Kim Joungwook
Pairing : YunJae
Length : 2
Genre : Romance, Family, Hurt/comfort
Summary : seorang namja yang ingin kembali kepada cintanya setelah pergi meninggalkan sang kekasih demi dunia semu yang ia impikan. Mencampakkan sang kekasih bersama dengan sang titipan Tuhan. Mencoba sepenuh hati untuk kembali membina kasih yang sempat terputus justru saat sang kekasih sudah berhasil hidup tanpa dirinya. YunJae fic! Bad summary! Just read!
Warning : YAOI, Mpreg! Typo(s)
.
.
.
"perusahaan itu masih masuk kedalam Jung corp." dan Jaejoong langsung membelalakkan matanya mendengar nama itu, ia menatap Yesung tak percaya.
"J-Jung Corp?"
.
.
.
Part 2
.
Jaejoong berjalan pelan menyusuri trotoar di sepanjang jalanan seoul. Mantel coklatnya berkibar pelan mendapat sapuan angin musim semi yang menyapanya. Dilehernya terlilit syal berwarna peach, dengan topi berwarna senada. Ia memakai kacamata coklatnya, berusaha menyembunyikan identitas seorang 'penyanyi' yang melekat di dirinya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku mantel, mencoba menghangatkan dirinya sendiri.
Ingatan akan kalimat dari sang manager bernama Kim Joungwoon itu masih terus berputar diotaknya.
Jung Corp,
Tawaran Iklan.
Dan semua itu seakan belum bisa diterima akal sehatnya. Ia terus berpikir bahwa perusahaan berlabel Jung Corp tidak akan menawarinya iklan ataupun kerjasama dengannya. Dan ia tidak berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya di depan yesung saat mendengar nama Jung Corp.
Drrrttt….
Ponselnya bergetar. Ia mengeluarkannya dari saku dan menempelkan di telinga, setelah sebelumnya menggeser layar touchscreen itu.
"yoboseyo?" sapa Jaejoong duluan sebelum line seberang mengucapkannya. Namja itu sedikit mengerutkan keningnya mendengar serentetan kalimat dari lawan bicaranya. Mencoba memahami maksud dari ucapannya.
"jigeum?" tanya Jaejoong. Dan dapat terlihat Jaejoong menganggukkan kepalanya lemah setelah mendengar jawaban dari pertanyaannya.
"ne. aku akan segera ke sana hyung. Aniyo~ aku bisa mengendarai mobilku sendiri, aku sedang berada di dekat apartementku, dan kau tidak perlu mendampingiku. Kau sedang kencan dengan Ryeowook kan?" Jaejoong terkikik kecil di akhir kalimatnya. Ia mengangguk sekali lagi sebelum mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku.
"hah~" Jaejoong menghela nafasnya, menyadari salah satu bebannya bertambah. Setelah selama ini ia berusaha menghindari apapun yang menyangkut seorang namja bermarga Jung, kini ia mau tak mau harus datang ke tempat yang berkemungkinan akan bertemu dengan namja Jung itu.
Jung Corp.
Baru saja Yesung menelpon dan menyuruhnya segera ke gedung Jung Corp, menandatangani kontrak dan menyelesaikan segala urusan sebelum memulai pembuatan iklan untuk promosi produk baru perusahaan itu.
"semoga aku tidak bertemu dengannya."
Harapan mustahil seorang Kim Jaejoong.
.
.
.
"memikirkanku?" sebuah suara lembut menyapa gendang telinga Jung Yunho. namja tampan yang tadi memejamkan matanya itu langsung membuka mata, menoleh dan mendapati sang pemilik suara tadi.
"Jae?" gumam Yunho. Jaejoong tertawa renyah, mengacak surai hitam Yunho dan mendudukkan dirinya di samping namja tampan itu, menyandarkan kepalanya nyaman di bahu Yunho.
"aku mencarimu sedari tadi, bodoh!" ucap Jaejoong pelan. Namja itu memejamkan matanya nyaman, merasakan semilir angin menyapanya di atas atap gedung sekolah mereka. Yunho tersenyum.
"aku tadi tertidur di sini. Mian." jawab Yunho. ia kembali menyandarkan tubuhnya di dinding pembatas dan meletakkan kepalanya di atas kepala Jaejoong, juga ikut menutup matanya.
"kau mencintaiku, Jae?" tanya Yunho setelah membiarkan keadaan hening beberapa saat. Jaejoong langsung mengangguk tanpa membuka mata. Yunho tersenyum, mengecup sekilas pucuk kepala Jaejoong.
"aku juga mencintaimu. Sangat." balas Yunho pelan. Ia memejamkan matanya dan meresapi kalimat yang baru saja ia ucapkan. Jaejoong kini yang membuka mata, tersenyum mendengar jawaban Yunho.
"kau akan berada di sini, Yun~ selalu." ucap Jaejoong sembari menuntun tangan Yunho untuk berada di dadanya. Yunho tersenyum.
"aku sedang tidur, bodoh!" gumam Yunho masih dengan menutup matanya. Jaejoong mem-poutkan bibirnya dan menegakkan tubuhnya tiba-tiba, membuat Yunho sedikit kehilangan keseimbangan, dan berakibat kepala namja tampan itu membentur dinding dibelakangnya. Jaejoong meringis kecil mendengar bunyi benturan itu.
"auch~ appo Jae~" rintih Yunho sembari mengelus belakang kepalanya. Jaejoong mengecup sekilas pipi Yunho.
"mianhae~ kau duluan, sich!" ucap Jaejoong tetap tak mau kalah. Yunho ikut mem-poutkan bibirnya.
"nappeun!" desis Yunho masih dengan mengelus kepala bagian belakangnya. Jaejoong berdiri dan langsung mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan Yunho, membuat namja tampan itu lagi-lagi merintih kecil.
"appo~?" tanya Jaejoong sembari mengelus belakang kepala Yunho, menggantikan tangan namja itu. Yunho mengangguk dengan bibir yang masih mengerucut. Jaejoong tersenyum kecil dan mengecup bibir itu.
"dasar manja!" gumam Jaejoong. Yunho terkekeh kecil.
"aku hanya manja kepadamu, sayang~" jawab Yunho. Jaejoong tersenyum.
"hanya boleh padaku!"
.
"Jaejoong-ssi?"
"ah, ne?!" Jaejoong menjawab panggilan itu setelah sebelumnya mengerjapkan mata beberapa kali. Yeoja yang tadi memanggil Jaejoong itu tersenyum.
"kita harus masuk sekarang, Jaejoong-ssi." ucapnya lagi. Jaejoong menoleh, menatap sebuah pintu kaca yang tak transparant di depannya. Sepertinya sedari tadi ia melamun sampai-sampai tak sadar bahwa mereka sudah sampai di ruangan tempat penandatangan kontrak kerjanya.
"ah, ne. mianhae, Yoona-ssi." ucap Jaejoong sembari menundukkan wajahnya sedikit. Yoona tersenyum.
"gwenchanayo, oppa." jawab Yoona. Jaejoong langsung menegakkan kepalanya, memandang bingung ke arah Yoona.
"ye?"
"bolehkan memanggilmu, oppa? Lagipula sebentar lagi kita akan melakukan kerja bersama." ucap Yoona, mencoba memberi alasan. Jaejoong balas tersenyum.
"ne. gwenchana, Yoona-ah." jawab Jaejoong.
"aku sedikit grogi. Kata orang-orang pemilik Jung Corp sangat tampan. Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya. Dan karena perusahaan ini sangat besar, suatu kebanggaan tersendiri dapat menjadi bintang iklan di sini. Bukan begitu. Jaejoong oppa?" tanya Yoona. Jaejoong meringis kecil.
"ne. kau benar. Pemilik Jung Corp memang tampan. Ya,kupikir memang sangat tampan."
.
.
.
Seorang Jung Yunho berjalan santai di lobi kantornya. Sesekali ia menunduk saat karyawan yang ada di sana menyapa, menunjukkan sikap hormat kepada atasan mereka.
"Yunho hyung!" sebuah teriakan menghentikan langkah namja itu. Ia berbalik, mengangkat salah satu alisnya saat melihat Yoochun yang tengah berlari.
"wae? Kenapa kau berlarian di kantor?" tanya Yunho. Yoochun meringis, mengatur nafasnya terlebih dahulu.
"Hyung! Hyung jangan masuk!" ucap Yoochun ambigu. Yunho semakin bingung dengan sikap Yoochun.
"jangan masuk kemana?" tanya Yunho lagi. Yoochun tertawa menyadari kebodohannya sendiri. Ia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Yunho.
"jangan masuk ke dalam ruangan hyung!" tambah Yoochun setelah tawanya reda. Yunho menatap Yoochun, meminta penjelasan dari namja yang sudah ia anggap adik itu.
"ada.. Ada Jaejoong hyung di sana." ucap Yoochun. Tubuh Yunho menegang seketika. Meski raut wajahnya tak berubah, tetapi tubuhnya bereaksi cepat. Ia sangat peka terhadap nama itu. Sangat peka.
"ba-bagaimana bisa?" sepintar apapun Yunho menutupi perasaannya, rasa khawatir dan cemas tetap mendominasi. Yoochun tersenyum.
"pihak marketing memintanya menjadi bintang iklan kita. Lagipula diakan menjadi artis terkenal belakangan ini." jelas Yoochun. Yunho menghela nafasnya.
"gwenchana. Aku akan menghadapi mereka. Tinggal penandatanganan kontrak kan?" ucap Yunho. Yoochun ikut menghela nafasnya.
"hyung yakin?" tanya Yoochun ragu. Yunho tersenyum.
"aku yakin. Lagipula aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya, Chun. Kami bahkan tak pernah bertemu sejak hari itu. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan?" jawab Yunho. Yoochun ikut tersenyum dan menepuk pelan pundak Yunho.
"aku percaya padamu hyung. Kajja!" dan Yoochun langsung menarik lengan Yunho, sedikit menyeretnya menuju ruangan namja itu.
"tadi kau melarangku masuk, sekarang menyeretku. Dasar labil!" gumam Yunho. Yoochun hanya menyengir tak berdosa mendengar ucapan Yunho.
"ada banyak artis cantik dan seksi di sana hyung~" ucap Yoochun sembari tersenyum. Yunho memukul pelan kepala Yoochun.
"dasar! Dipikiranmu hanya ada wanita seksi saja!" ucap Yunho tak habis pikir. Dan Yoochun hanya tertawa menanggapi ucapan Yunho.
.
.
.
Jaejoong duduk tenang di kursinya. Ia mencoba mengendalikan debaran jantungnya yang semakin menggila. Ia tak tahu ketakutan apa yang menderanya, ia hanya sedikit paranoid ketika berada di area Jung. Bahkan ia tak tahu apa yang ia takutkan. Dan detak jantungnya seakan berhenti saat pintu ruangan itu terbuka, nafasnya tercekat dan matanya melebar secara tiba-tiba. Ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini, tapi yang pasti, senyuman seseorang yang membuka pintu itu mampu meluruhkan sedikit ketakutan yang menderanya.
"annyeong haseyo. Joneun Jung Yunho imnida. Jeongmal Chaesunghamnida, sudah membuat anda semua menunggu di sini." ucap Yunho sembari mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa di sana setelah sebelumnya menundukkan tubuh sejenak, sedangkan Yoochun masih setia berdiri disampingnya.
"ah, ye. Gwenchana sajangnim." jawab salah satu artis di sana. Yunho dan Yoochun tersenyum sesaat.
"baiklah, untuk mempersingkat waktu, ini kontrak kerja yang perlu anda semua tanda tangani. Jadi kita akan menjalani iklan ini selama seminggu. Serangkaian jadwal shooting dan photo shoot sudah dijelaskan disana. Jadi silahkan diperhatikan baik-baik poin yang ada di kontrak itu. Dan anda bisa langsung menanda tanganinya." jelas Yoochun. Yunho mengangguk. Namja bermata musang itu membagikan kontrak kerja ke hadapan semua yang ada di sana. Dan artis-artis itupun mengambilnya lalu membaca dan mempelajarinya terlebih dahulu sebelum menandatangani dokumen itu.
Pandangan Yunho jatuh pada Jaejoong yang masih diam, tidak bergeming sama sekali dari tempatnya duduk. Dan namja itu juga tidak mengambil dokumen kontraknya.
"Jaejoong-ssi?" panggil Yunho pelan. Jaejoong mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengembalikan pikirannya ke sini. Ia mengangkat pandangannya dan mendapati Yunho yang tengah menatap ke arahnya.
"gwenchaseumnida?" tanya Yunho. Jaejoong mengangguk kecil, suaranya tercekat, seakan tak mau keluar. Yunho tersenyum lembut.
"ini kontrak anda Jaejoong-ssi, silahkan dibaca dan ditandangani." ulang Yunho. Jaejoong mengangguk lagi.
"a-ah, Y-ye." jawab Jaejoong terbata. Yunho dan Yoochun tersenyum kecil.
"tak perlu segugup itu, Jaejoong-ssi." ucap Yoochun sembari terkikik kecil. Yunho menginjak kaki sekretarisnya itu dan menatap tajam kearahnya.
"jangan bercanda." desis Yunho. Yoochun hanya tersenyum geli.
"baiklah, jika anda sudah selesai, anda bisa kembali." ucap Yunho kepada tamunya yang lain. Merekapun satu persatu keluar dari ruangan Yunho.
"gamshamnida, Jung Yunho-ssi." ucap Yoona sembari menyalami Yunho. Yunho tersenyum.
"cheonmaneyo,yoona-ssi." balas Yunho. yoona mengerling kecil dan segera berlalu dari sana. Yoochun terkikik melihat pemandangan itu.
"hyung dapet penggemar, tuch!" bisik Yoochun. Yunho hanya menghela nafasnya.
"terserah katamu, Chun!" balas Yunho malas.
"Y-Yun." sebuah panggilan pelan menyapa gendang telinga dua namja tampan itu. Mereka berbalik dan baru menyadari bahwa masih ada seorang lain di ruangan itu.
"Jaejoong-ssi?" ucap Yunho sembari memandang bingung ke arah Jaejoong. Jaejoong menelan ludahnya gugup.
"B-bisa kita bicara berdua?" pinta Jaejoong masih dengan suaranya yang pelan. Yunho dan Yoochun berpandangan sejenak sebelum akhirnya Yunho tersenyum dan mengangguk.
"ne. gwenchanayo." jawab Yunho. Yoochun menunduk sebentar ke arah Jaejoong dan segera berlalu dari ruangan itu.
"jadi, apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Yunho sembari duduk kembali di sofanya. Jaejoong menatap Yunho sejenak.
"bagaimana jika kita bicara ditempat lain? Aku tak ingin mendengar hal-hal yang tidak baik jika kita berdua di ruanganmu terlalu lama." ucap Jaejoong, Yunho terdiam sesaat sebelum mengangguk.
"ya, terserah dirimu."
.
.
.
"jadi, apa yang akan anda bicarakan, Jaejoong-ssi?" tanya Yunho to the point. Setelah tadi mereka pergi dari gedung perusahaan Yunho, Jaejoong meminta Yunho untuk pergi ke sebuah café kecil di dekat sana, sebuah café yang tidak terlalu ramai dan tidak mencolok. Sehingga kehadiran dua orang yang cukup terkenal tidak terlalu menghebohkan.
"bisakah kau memanggilku seperti biasa, Yun?" pinta Jaejoong sembari memicingkan matanya menatap Yunho. Yunho tersenyum kecut.
"seperti biasa? Maksudmu?" tanya Yunho dengan senyum remehnya. Jaejoong menelan ludahnya menerima tatapan Yunho.
"ma-maksudku tanpa embel-embel, -ssi." jawab Jaejoong. Yunho menutup matanya sejenak dan menghela nafasnya lelah.
"sekarang, katakan padaku segera. Apa maumu, Jae?" tanya Yunho begitu membuka matanya lagi. Jaejoong tersenyum.
"aku merindukanmu." jawab Jaejoong singkat. Yunho mengangkat alisnya memandang Jaejoong.
"merindukanku?" ulang Yunho tak percaya. Ia mendengus kasar. "apa kau bercanda?" tambah Yunho. Jaejoong meringis kecil, tapi kemudian ia kembali tersenyum.
"aku tidak bercanda. Dan aku memang merindukanmu. Lebih tepat lagi, sangat merindukanmu." jawab Jaejoong sembari memberi penekanan di dua kata terakhirnya. Yunho terdiam. Ia memandang Jaejoong dengan tatapan lelahnya.
"apa maumu?" tanya Yunho lagi. ia masih tidak dapat menerima kalimat Jaejoong. Jaejoong menghela nafasnya.
"aku sangat sangat merindukanmu. Apakah itu hal yang salah?" tanya Jaejoong tak sabar. Yunho mengusap wajahnya kasar. "itu alasan yang tidak logis mengingat kita tak memiliki hubungan apapun lagi. dan lagi, jika kau merindukanku, itu tidak berlaku lagi karena kita sudah tidak pernah bertemu sejak saat itu. Kau memberi alasan yang sangat tidak logis." jawab Yunho.
"tapi setidaknya kita pernah mempunyai hubungan serius dulu." ucap Jaejoong lagi. Yunho tersenyum remeh.
"itu dulu. tidak lagi sekarang." jawab Yunho ketus. Jaejoong masih mempertahankan senyumnya, seakan sudah menduga semua sikap Yunho kepadanya.
"tapi aku masih memiliki rasa yang mendasari hubungan itu, Yun." ucap Jaejoong cepat. Yunho tersentak. Sekali lagi ia memandang tak percaya pada Jaejoong.
"K-kau bercanda." dan Yunho kali ini memberi pernyataan, bukan pertanyaan. Jaejoong menggeleng.
"aku tidak pernah bercanda mengenai topik ini, Yun. Kau tahu itu." jawab Jaejoong. Yunho menghela nafasnya frustasi.
"jika kau masih memiliki rasa itu. Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Yunho lagi. Jaejoong menatap serius ke arah Yunho.
"apakah perasaanku sudah tidak berarti lagi dimatamu, Yun?" Tanya Jaejoong. Yunho mengerling tajam kea rah Jaejoong.
"jika kau masih memiliki perasaan itu kemana saja kau selama ini, hah? Kau pergi meninggalkanku begitu saja. Meninggalkan semuanya dan kini kau berkata bahwa kau masih memiliki reasa padaku? Sebenarnya apa maumu?!" Yunho mengatur nafasnya pelan. Meski ia tak berteriak, tapi tekanan suaranya yang sedikit tinggi cukup menghabiskan nafas.
Jaejoong terdiam, ia sedikit tertegun mendengar serentetan kalimat dari Yunho. ia mencoba menarik nafas dalam, mengumpulkan kembali tekadnya tadi.
"Aku memang sangat merindukanmu, Yun. Dan kau tahu alasanku meninggalkanmu. Tapi kali ini aku benar-benar serius dengan ucapanku. Aku merindukanmu. Sangat." Balas Jaejoong pelan, ia berucap lirih, mencoba meyakinkan Yunho bahwa apa yang ia ucapkan bukan hanya sebuah bualan. Yunho mendengus kasar.
"sudah kubilang, rasa rindumu itu termasuk alasan yang tak masuk akal untuk membuat kita harus bertatap muka berdua seperti ini, Jae." Ucap Yunho ketus. Jaejoong membelalakkan matanya, memandnag Yunho sarat emosi.
"Yun! Apakah kau tidak merindukanku sama sekali? Apakah kau sudah melupakanku selama ini? Apa artinya diriku dimatamu sekarang? Apakah kau juga sudah menghapus rasa itu? Jawab aku, Yun!" ucap Jaejoong dengan nada yang sedikit tinggi. Yunho menghela nafasnya, berusaha tidak terpancing emosi saat ini.
"mian. tapi aku sudah berusaha melupakan apa-apa tentangmu sejak kau meninggalkanku. Aku sudah berusaha menjalani hidup normalku tanpa dirimu. aku juga sudah berusaha menghapus perasaan itu dari diriku. Dan kurasa, aku sudah berhasil melakukan itu semua." jelas Yunho tenang. Jaejoong menatap Yunho dengan mata merahnya.
"K-kau melakukan itu semua, Yun? Kau melakukan itu, Yun? Lalu apa artinya 10 tahun kita bersama?" tanya Jaejoong tak percaya. Yunho menatap datar ke arah Jaejoong.
"seharusnya itu pertanyaanku. Apa yang ada dipikiranmu saat meninggalkanku 5 tahun yang lalu? Kau angap diriku itu apa 5 tahun yang lalu? Apa?" Yunho balik bertanya, masih dengan tatapan datarnya. Jaejoong terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi.
"cih, kau tidak bisa menjawabku, Jae." ucap Yunho melihat respon Jaejoong. Air mata Jaejoong langsung mengalir begitu mendengar ucapan pedas dari Yunho.
"Y-Yun. K-kau membenciku?" tanya Jaejoong. Yunho tersenyum kecut.
"Aku sangat ingin melakukannya. Tapi, sayangnya tidak. Aku masih belum mampu untuk melakukan itu semua." jawab Yunho. Jaejoong menundukkan wajahnya.
"mianhae. Jeongmal mianhae." gumam Jaejoong. Yunho menghela nafasnya. Ia mendorong kursinya kebelakang dan bangun dari duduknya, berdiri sembari memakai kembali mantelnya yang tadi ia lepas.
"jika kau sudah selesai bicara, aku harus kembali. Masih ada pekerjaan yang harus kutangani." ucap Yunho mulai melangkah menjauh. Belum ada tiga langkah ia berjalan, ia sudah berhenti dan berbalik saat Jaejoong memanggil lirih namanya.
"S-saranghae." bisik Jaejoong dengan lelehan air mata di kedua pipinya. Yunho mengangkat ujung bibirnya dan kembali berbalik lalu menjauh, tidak memperdulikan satu kata yang baru saja diucapkan Jaejoong.
"ah, ya, Jae." Yunho tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik, memanggil nama namja yang tadi berbicara dengannya. Jaejoong mengangkat kepalanya, menatap Yunho dengan mata sembabnya.
"Changmin sudah masuk SD tahun ini." ucap Yunho, dan ia kembali berbalik lalu melanjutkan langkah lagi. Kali ini tanpa menghentikan langkahnya ataupun berbalik lagi meski dapat ia dengar suara tangis Jaejoong yang semakin keras mendengar kalimatnya yang terakhir.
.
.
.
Jaejoong berjalan lunglai sepanjang trotoar. Mobilnya ia tinggal begitu saja di parkiran café tadi. Ia sedang tidak mood untuk mengendarai mobil. Biar saja salah seorang teman ataupun suruhannya nanti untuk mengambil mobilnya kembali. Kali ini ia ingin berjalan kaki menuju apartementnya.
Mantelnya ia pakai asal, hanya tersampir di pundaknya. Wajahnya masih sembab, menunjukkan bahwa tadi ia sehabis menangis. Wajahnyapun masih memerah. Langit yang sudah gelap dan juga jalanan yang lumayan sepi membuatnya tidak dikenali sebagai seorang Kim Jaejoong seorang penyanyi terkenal. Apalagi keadaannya yang sedang kacau dan berantakan.
"kau bercanda." dan Jaejoong mengucapkan kalimat itu berkali-kali, sepanjang perjalannya. Ia masih tidak dapat percaya atas kata-kata Yunho yang tadi diucapkan. Ia masih tidak terima Yunho melupakannya. Ia masih tidak terima Yunho tak lagi mencintainya padahal selama ini ia sudah berusaha untuk tetap menjaga perasaan itu.
"ajikdo saranghanda." gumam Jaejoong. Dan tanpa diperintah, air matanya kembali turun. ia bukan seorang yang cengeng. Sungguh! Setahun ini masih dapat ia hitung dengan satu tangan berapa kali ia menangis. Tapi segala hal yang menyangkut tentang seorang Jung Yunho membuatnya mudah menitikkan air mata.
"mianhae, Yun. Jeongmal mianhae. Na jalmotaesseo. Jalmotaesseo~" gumam Jaejoong di tengah tangisnya. Ia terjatuh dan menangis tergugu di trotoar itu. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Pundaknya naik turun, isakannya lolos begitu saja. Ia merasa tersakiti di saat ia sudah menyakiti. Ia merasa terlupakan di saat orang lain merasa dilupakan olehnya. Ia merasa tidak dianggap disaat ia sudah pernah tidak menganggap kehadiran orang lain. Dan demi apapun~ ia benar-benar merasa bersalah saat ini.
"mianhae, Yun. Jeongmal mianhae~" dan Jaejoong hanya dapat membisikkan kalimat itu pada dirinya sendiri. Ia tidak peduli pada orang-orang yang lewat memandang aneh ke arahnya. Peduli setan dengan image-nya yang dapat hancur karena tindakannya. Sekarang ini, lebih penting membuat hatinya kembali utuh. Kembali membangun segala hal yang ingin ia lindungi dan perjuangkan. Lebih penting mengobati luka hatinya yang kini terbuka lebar.
"jalmotaesseo~ na jalmotaesseo~"
.
.
.
"hyung~ kau itu bagaimana sich? Kenapa kau membiarkan Jae hyung ke sana sendirian?" ucap Ryeowook sembari memarahi sang kekasih. Yesung memajukan bibirnya, tak terima menerima amarah Ryeowook.
"aku kan menemanimu berbelanja, Wookie. Kau itu bagaimana sich?!" balas Yesung tak terima. Ryeowook mendengus kasar dan menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu itu.
"tapikan aku tidak tahu kalau Jae hyung hari ini akan ke Jung Corp. hyung juga tidak memberitahuku~" ucap Ryeowook, masih tak mau kalah. Yesung menghela nafasnya dan ikut duduk di samping Ryeowook.
"sudahlah, aku sedang tak ingin berdebat denganmu. Lebih baik sekarang kita menunggu Jae pulang, hm?!" ucap Yesung akhirnya. Ryeowook mengangguk dan merentangkan kedua tangannya sembari membalik tubuhnya hingga menghadap Yesung.
"peluk~" ucap Ryeowook manja. Yesung terkekeh dan memeluk namja mungil itu.
"uh~ kekasihku manja sekali~" ucap Yesung sembari memberi kecupan-kecupan kecil di kepala Ryeowook. Namja itu hanya terkikik kecil.
"tapikan hyung tetap cinta~" ucap Ryeowook. Yesung tertawa dan melepas pelukannya. Menangkup kedua pipi Ryeowook dengan telapak tangannya dan mengecup cepat bibir kekasihnya.
"ne, ne. saranghae Ryeowookkie~" ucap Yesung. Ryeowook tersenyum.
"nado saranghae, hyungie~" balas Ryeowook. Dan merekapun berciuman. Kembali menempelkan kedua bibir yang sudah sangat sering bertemu itu.
Cklek….
"sudah kubilang jangan bermesraan di apartementku!" sebuah suara menginterupsi kegiatan dua insan yang sedang berciuman itu. Yesung dan Ryeowook langsung melepas ciuman mereka dan duduk normal di sofa.
"omo~ Hyungie~ apa yang terjadi padamu?!" dan Ryeowook langsung histeris begitu melihat keadaan Jaejoong yang berantakan di depan pintu masuk. Jaejoong memutar bola matanya.
"aku tak apa, Wook." jawab Jaejoong cepat. Tapi memang dasar si Ryeowook, ia tetap berdiri dan menghampiri Jaejoong.
"ayo hyung, kita duduk dulu. lalu ceritakan apa saja yang hyung lakukan hingga bisa seberantakan ini." ucap Ryeowook lagi. Jaejoong menghela nafasnya.
"aku lelah, wook. Aku ingin langsung tidur." Ryeowook langsung memajukan bibirnya dan memasang wajah memelas.
"hyung kejam! Padahal sedari tadi aku sudah cemas menunggu hyung di sini. Dan sampai sini hyung justru mengacuhkanku! Hyung jahat!" ucap Ryeowook dengan mata yang berkaca-kaca. Jaejoong menghela nafasnya lagi. ia mengusap wajahnya kasar.
"arra, arra. Kajja kita duduk di sofa dulu dan akan kuceritakan apa yang kulakukan hari ini hingga pulang selarut ini." ucap Jaejoong akhirnya. Ryeowook tersenyum dan langsung menarik Jaejoong untuk duduk di sofa.
"oh, ya Yesung hyung. Tolong ambilkan minum untuk Jaejoong hyung." ucap Ryeowook pada kekasihnya. Yesung hanya bisa mengangguk dan menuruti ucapan kekasihnya itu. Jaejoong tersenyum kecil melihat Yesung yang begitu patuh pada Ryeowook.
"aku masih heran, kenapa kalian berdua bisa bersama." ucap Jaejoong menyuarakan pikirannya. Ryeowook tersenyum.
"karena kita saling mencintai, hyung. Dan juga kita tidak dapat menentukan kepada siapa kita harus mencintai." jawab Ryeowook. Jaejoong tersenyum kecut.
"ya. Kurasa kau benar. Kita tidak dapat menentukan kepada siapa kita harus mencintai. Dan kurasa, rasa itu yang membuatku dapat seberantakan ini." ucap Jaejoong. Ryeowook diam, ia langsung memeluk tubuh Jaejoong, membuat namja itu sedikit kaget dengan gerakan tiba-tiba Ryeowook.
"gwenchana hyung. Masih ada aku dan Yesung hyung di sini." ucap Ryeowook. Jaejoong tersenyum, ia memeluk balik Ryeowook dan memejamkan matanya.
"ya, masih ada dirimu dan Yesung hyung. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa mencintai kalian seperti aku mencintai Yunho." ucap Jaejoong. Ryeowook melepas pelukannya dan memandang Jaejoong dengan bibir mengerucut.
"hyung memang tidak boleh melakukan itu!" ucap Ryeowook. Jaejoong tertawa dan mengacak surai rambut Ryeowook.
"dasar anak kecil!" ucap Jaejoong. Ryeowook semakin menekuk wajahnya.
"aku bukan anak kecil hyung! Tahun depan aku sudah berumur 25. 25!" balas Ryeowook tak terima. Jaejoong masih saja tertawa.
"tapi sifatmu masih manja seperti ini, sayang~" ucap Jaejoong lagi.
"ini minumnya." ucap Yesung begitu datang kembali ke ruang tamu. Ryeowook menoleh dan menatap Yesung.
"hyungie~ Jae hyung bilang aku manja~" adu Ryeowook pada sang kekasih. Yesung menahan tawanya melihat wajah menggemaskan Ryeowook. Ditambah tingkah imut namja paling muda di sana itu.
"hm, hm. Jae bilang seperti itu?" tanya Yesung. Ryeowook langsung mengangguk.
"sudahlah. Tidak perlu kau dengarkan. Lebih baik sekarang kita mendengarkan cerita Jaejoong dulu. ne?" tawar Yesung sembari duduk di samping Ryeowook dan merangkul bahu namja itu. Ryeowook akhirnya mengangguk.
"ne. lebih baik sekarang hyung bercerita kepada kami, apa saja yang hyung lakukan." ucap Ryeowook akhirnya. Jaejoong menghela nafasnya, memandang satu persatu dua namja didepannya itu dan menghela nafsnya sekali lagi.
"baiklah, aku akan menceritakannya pada kalian. Semuanya." dan mulailah mengalir sebuah cerita dari mulut seorang Kim Jaejoong.
.
.
.
Sudah lima hari berlalu sejak pertemuannya dengan Kim Jaejoong. Yunho juga sudah menjalani kehidupannya seperti biasa, seperti tidak pernah bertemu dengan Kim Jaejoong 'lagi'. Ia sudah melupakan pertemuan itu, setidaknya, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kembali dengan kehidupan normalnya. Tidak memperdulikan proses iklan yang sedang dilakukan Jaejoong dan menyerahkan segalanya kepada bawahannya. Ia hanya ingin hidup tenang kembali, tanpa memiliki beban apapun.
Tapi sepertinya, ketenangan itu segera pergi dari sekitarnya saat pagi ini, ia tiba di kantor, dan melihat Jaejoong sudah menunggunya di dalam ruangan tempatnya bekerja.
"ada apa kau kemari, Jae?" tanya Yunho begitu melepas mantelnya dan menggantung di samping pintu. Jaejoong tersenyum, ia masih duduk di sofanya.
"ada hal yang harus aku bicarakan padamu." jawab Jaejoong singkat. Yunho mengangkat sebelah alisnya dan memandang Jaejoong dari kursi kerjanya.
"bicaralah." perintah Yunho. Jaejoong tertawa kecil mendengar nada perintah Yunho.
"mianhae, Yun. Tapi aku bukan bawahanmu. Bicaralah sedikit sopan kepadaku. Walau bagaimanapun, aku tetap lebih tua darimu." ucap Jaejoong. Yunho menghela nafasnya.
"sudahlah, Jae~ langsung saja ke intinya. Aku tidak suka basa basi." balas Yunho. Jaejoong tersenyum, ia berjalan menghampiri Yunho yang duduk nyaman di balik mejanya.
"aku ingin bertemu Changmin." ucap Jaejoong. Yunho mengernyitkan dahinya memandang Jaejoong.
"untuk apa kau menemuinya?" tanya Yunho tegas.
"geunyang." jawab Jaejoong singkat. Yunho menatap tajam mata Jaejoong.
"aku butuh alasan yang jelas untuk memperbolehkanmu menemui Changmin." ucap Yunho. Jaejoong tersenyum remeh.
"kau punya hak apa untuk melarang seorang ibu menemui anaknya?" balas Jaejoong. Kali ini Yunho tertawa.
"ibu? Hakku? Kau mempertanyakan hakku? Aku ayahnya. Aku yang sudah merawat dan membesarkannya seorang diri. Tanpa peran ibu yang seharusnya kau sandang." balas Yunho. Jaejoong terdiam. Ia menatap penuh arti pada Yunho.
"tapi tetap saja aku ibunya. Dan kali ini aku ingin bertemu dengan anakku!" jawab Jaejoong masih tak terima. "mau apa kau bertemu dengan Changmin?" tanya Yunho mengulang ucapannya. Jaejoong tersenyum lembut.
"aku ingin melihatnya. Aku ingin memeluknya. Aku merindukannya, sangat." jawab Jaejoong. Dapat Yunho lihat ketulusan dari setiap ucapan Jaejoong. Yunho menghela nafasnya.
"kau ibunya?" tanya Yunho retoris. Jaejoong mengangkat sebelah alisnya.
"tentu saja. Kau juga tahu mengenai fakta itu." jawab Jaejoong. Yunho balas tersenyum.
"lalu, kenapa kau harus meminta ijin kepadaku untuk menemui anakmu sendiri?" ucap Yunho telak. Jaejoong langsung terdiam. Yunho memasang wajah datarnya lagi.
"jika tidak ada lagi yang ingin kau ucapkan, lebih baik kau pergi dari ruanganku. Aku harus bekerja." ucap Yunho lagi. Jaejoong tersenyum sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan Yunho.
"gomawo."
.
.
.
Hari sudah mulai sore, matahari sudah mulai bersembunyi dari langit kota Seoul. Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Jung dan berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang Jung Yunho berjalan keluar dari mobil itu dan berjalan lemas masuk ke dalam rumah. bertemu dengan Jaejoong pagi tadi menghancurkan moodnya seharian ini. Sungguh! Ia sedang dalam mood terendah saat ini.
"appa~" tapi sebuah suara nyaring yang menyapa gendang telinganya begitu melangkah masuk ke dalam rumah sudah membuat moodnya naik secara drastis. dan sebuah senyuman seorang Jung Yunho langsung terukir di wajahnya.
"changminnie~ appa merindukanmu." ucap Yunho sembari berjongkok dan merentangkan kedua tangannya di depan pintu, siap menerima tubuh mungil anak laki-lakinya.
"Minnie juga merindukan appa~" ucap Changmin begitu berada di pelukan Yunho. Yunho tertawa dan menggendong Changmin, berjalan memasuki rumahnya.
"bagaimana sekolah hari ini? Menyenangkan?" tanya Yunho sembari mendudukkan mereka berdua di sofa depan TV yang masih menyala. Changmin mengangguk.
"ne, menyenangkan appa. Changminnie juga sudah diajari berhitung." jawab Changmin bangga. Yunho tertawa dan mengecup pipi Changmin. Seorang Jung Changmin dapat menjadi mood booster baginya.
"lalu Changmin juga sudah diajari bahas inggris appa. Mother, father, and family~" tambah Changmin sembari merentangkan tangannya senang. Yunho terdiam. Mendengar ucapan Changmin, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di otaknya.
"changminnie, bagaimana jika nanti eomma datang dan menemuimu?" tanya Yunho tiba-tiba. Changmin mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap bingung pada Yunho.
"eomma? Eomma akan pulang appa?" tanya Changmin excited. Pasalnya sejak kecil, Yunho sudah memberi pengertian pada Changmin bahwa sang eomma sedang pergi jauh untuk sebuah urusan.
Yunho mengangguk kecil, sebuah senyuman miris tersungging di wajahnya.
"ne. eomma sudah pulang. Chagi~" jawab Yunho sembari mengecup ujung kepala Changmin. Changmin tertawa dan melonjak senang di samping Yunho.
"Changmin mau bertemu dengan, eomma~" ucap Changmin senang. Yunho ikut tertawa dan bangkit dari duduknya.
"appa mandi dulu, ne~ Changmin bersama halmoni dulu. arasseo?!" ucap Yunho sebelum melangkah pergi. Changmin mengangguk.
"ne, appa~"
Yunho melangkah pelan menuju kamarnya. Dipikirannya masih terngiang ucapan Jaejoong tadi pagi. Memang, sekeras apapun ia menghilangkan eksistensi Jaejoong dihidupnya, namja itu pasti akan muncul lagi. bagaimanapun, ia sudah meninggalkan Changmin bersamanya, meninggalkan seorang malaikat cilik disampingnya.
"untuk alasan yang jelas, aku ingin membencimu. Tapi untuk alasan yang lebih jelas, aku berterima kasih padamu."
.
.
.
TBC
Kkk~ wah, ternyata udah ketebak hubungan Jae ama Yun. Tapi emang sih, kebanyakan yang ninggalin itu si Yun. Yang jadi cowok nggak bener itu seringnya si Yun. Dan sejujurnya, FF ini adalah FF balas dendam saya karna bias saya *Yunho* selalu-seringkali- menjadi pihak yang bersalah dan menyesal diakhirnya. Saya ingin sekali-kali Jaejoong yang menyesal.
Hahahahahaha *evil laugh
Oke, oke. Jadi, Chapter 2 ini adalah hadiah special untuk para reader dan juga reviewers tercinta. Muach~ :*
Hope U like it~ And don't forget to review again!
See ya next chap~~~~~
