Yippi! I'm come back! Adakah yang kangen denganku? XD *di lempar sepatu sama readers

Oh,iya. Terimakasih banyak buat yang udah review ceritaku.. *membungkukkan badan

Nah,nah… Kali ini tugas Lenny untuk membaca summary!

Len: dasar! Ekhem,baiklah..

Summary : "Akan kulakukan apapun untuk kalian semua. Hanya ini satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku." "Tidak!Jangan lakukan itu,Miku!Kau bisa saja mati!" Cerita tragedy romance pertama chan,maaf kalo ceritanya gag bisa hidup. Tapi chan sendiri suka cerita ini.

Disclaimer : gag perlu tanya lagi vocaloid udah jelas-jelas punya crypton and Yamaha. kalo vocaloid punya saya,hancur sudah mereka.

Warning : cerita jelek,gag memenuhi EYD,hati-hati kalo baca,kalo nekat baca,mending siap-siap muntah(?)


~(_ _)~

Miku menatap kalender negi yang ada di atas meja belajarnya, sudah banyak tanda silang berwarna merah disana. Tinggal beberapa lagi untuk mencapai tanggal dengan lingkaran hitam yang tebal disana. Miku menyilang tanggal hari ini. Tanggal 21 Juli, gadis itu melempar spidonya begitu dia menyilang tanggal hari ini. Handphonenya berdering pelan, dengan malas gadis tosca itu menoleh ke arah tempat tidurnya dan menemukan benda kecil berwarna senada dengan rambutnya yang diberi hiasan gantungan 2 negi yang menyilang. Miku mengambil benda berisik itu dan menatap layar handphonenya.

Ada e-mail yang masuk. Miku sedikit ragu untuk membuka e-mail yang ternyata dari Kaito, si maniak es krim yang bertemu dengannya di Rumah Sakit seminggu yang lalu. Akhirnya, mau tak mau Miku membuka e-mail itu.

"Cih,! E-mail yang sama lagi." Miku membuang benda kecil itu ke atas tempat tidur. Sebuah e-mail yang sama, yang selalu dia dapat selama seminggu ini. Sebuah e-mail dari Kaito, tapi mengatas namakan seorang pemuda honey blonde, Len.

'Aku merindukanmu, Miku. Kenapa kau tidak datang menjengukku lagi? Aku benar-benar merindukanmu Miku. Hanya kau yang kumiliki sekarang ini,'

"Cih!"

Miku mendecih lagi, dia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi. Miku sedikit merasa bersalah setelah dia meninggalkan Len sendirian di Rumah Sakit. Miku merasa dirinya terlalu egois. Len sudah tidak memiliki apa-apa lagi,yang dibutuhkan Len hanyalah kekuatan untuk mengambil puing-puing yang tersisa dan menyatukannya lagi. Hal sama yang terjadi saat Miku membuat Meito dan Luki koma di Rumah Sakit. Miku terlalu ceroboh, dia membuat dirinya terlalu terbawa emosi.

Ingatan Miku kembali lagi pada saat-saat di mana dia membuat Meito dan Luki terluka hinggga koma di Rumah Sakit.

Di sana, disebuah gedung tua yang sudah lama terbengkalai. Miku berdiri dengan gaya menantang pada segerombolan pemuda di hadapannya, Miku tidak seorang diri. Di sampingnya, ada Meito, Luki, Gumo, Gakupo, bahkan Len dan Kaito pun ada disana. Di belakang mereka, sudah ada Mikuo yang siap untuk menjadi tenaga medis kapan saja.

Miku menatap sekeliling, dia menghitung jumlah lawannya kali ini. 8 melawan 20, pasti akan terjadi pertarungan yang menarik. Miku tertawa kecil saat melihat ketua mereka hanya berdiri di belakang saja. Ternyata ,cara Miku tertawa membuat lawannya menjadi geram.

Satu pukulan di layangkan pihak lawan. Tapi dapat dihindari Miku dengan mudah. Gadis pemegang sabuk hitam taekondow itu meremat lengan lawan yang berani memukulnya dan terdengar bunyi tulang yang patah. Pria malang itu meringis kesakitan sambil memegangi lengannya yang sudah di patahkan oleh Miku. Miku kembali menatap lawannya yang masih tersisa. Tinggal 19 orang lagi.

Lawan Miku bukanlah lawan biasa. Mereka dulunya adalah anak buah dari Zaito, sepupu Kaito. Tapi sekarang sudah tidak lagi, Zaito sudah lama berdiri dipihak Miku setelah Miku berhasil menumbangkannya tanpa membuat Zaito luka sedikitpun. Entah bagaimana cara Miku melakukannya, tidak ada seorangpun yang tahu.

Tiba-tiba, mereka semua bergerak maju. Bersiap menerjang Miku dan kawan-kawannya. Baku hantam pun terjadi. Miku hanya berdiri sambil mengamati mereka. Tongkat besi yang dia ambil dari lawannya, dipukul-pukulkan ke udara. Mencoba seberapa kuatnya tongkat itu.

Miku bergerak maju,dengan sekali hantam,Miku sudah membuat seorang pria botak mengalami patah tulang di punggungnya. Miku terus merangsek maju. Perlahan tapi pasti, musuhnya berjatuhan satu persatu. Dan yang paling mencenangkan adalah,mereka yang ada dipihak Miku,tidak mengalami luka sedikitpun. Bahkan,Kaito yang IQnya rada-rada tengkurap, tidak mengalami luka sedikitpun. Miku menghitung sisa lawannya, tinggal 3 orang. Sekali gebrak, Miku pasti sudah bisa mengalahkan mereka.

Tapi Miku salah, 2 pria yang tersisa dan sang ketua genk mereka malah tertawa lebar. Lalu dengan langkah yang mantap, 2 pria itu merogoh saku celana mereka dan menodong pistol ke arah Miku. Miku sangat terkejut luar biasa, apalagi 2 pria itu sudah siap menarik pelatuknya.

"sayaounara,onihime.."

Dorr! Dorr!

Suara tembakan bergema kesegala penjuru ruangan. Kaito dan Len merangsek maju dan menghajar 3 orang itu sekaligus sambil mengucapkan sumpah serapah untuk mereka. Miku jatuh terduduk. Air mata mengalir dengan deras dari sudut matanya. Mikuo berlarian mendekat dan segera memberikan pertolongan. Tapi bukan untuk Miku.

Tapi untuk Meito dan Luki, Miku menjerit histeris melihat pemandangan berdarah didepan matanya. Sebelum pelatuk itu ditarik,Meito dan Luki sudah berlari terlebih dahulu dan bersiap menjadi rompi anti peluru untuk Miku. Miku tak henti-hentinya menangis histeris. Dia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Gakupo memeluk Miku dengan erat. Berusaha menenangkan Miku dari rasa takutnya. Gumo menepuk kepala Miku perlahan dan berkata,"Mereka pasti baik-baik saja. Mikuo saat ini sedang berusaha sekuat tenaga. Jadi, tenanglah Miku."

Miku memeluk Gakupo semakin erat,menumpahakan air matanya dipelukan anak buahnya. Mikuo sudah selesai memberikan pertolongan pertama. Samar-samar terdengar suara sirine ambulance dari kejauhan. Ambulance yang dipanggil oleh Kaito.

"Luka tembak di dada kanan Luki dan perut pada Meito. Tidak terlalu parah. Hanya saja, mungkin mereka akan mengalami koma karena terlalu banyak mengeluarkan darah." Mikuo menjelaskan keadaan Meito dan Luki untuk saat ini sambil menatap wajah temannya itu yang menahan sakit luar biasa.

"Tidak terlalu parah, Mikuo?" Miku bertanya dengan suaranya yang terdengar kacau. Mikuo hanya mengangguk perlahan sambil menatap 2 temannya yang sedang terbaring di dekat Kaito dan Len.

"Dasar bodoh! Tidak seharusnya mereka menolongku, seharusnya akulah yang terbaring di sana! Bukan mereka!" Miku menangis semakin histeris. Tak ada yang berani menyahut perkataan Miku.

Ambulance datang, perawat yang turun dari mobil itu,langsung membawa tubuh Meito dan Luki masuk. Ada 2 ambulance di sana. Miku boleh memilih ambulance mana yang akan dia Miku hanya menggeleng. Teman-temannya pun paham akan keadaan Miku. Akhirnya,Mikuo dan Len memilih tinggal untuk membereskan sisa-sisa kekacauan.

"Ini semua salahku. Hanya salahku. Aku sudah tidak berhak mengatur kalian lagi. Kalian sudah bebas sekarang." Miku menatap 2 mobil ambulance yang melaju menuju Rumah Sakit. Mikuo dan Len hanya saling berpandangan dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

"Kalian sudah bebas sekarang. Terbanglah dari sangkar emasku, terbanglah menuju jalan yang kalian pilih. Bentangkanlah sayap kalian,dan tinggalkan aku sendirian."

Mikuo dan Len semakin kebingungan dengan perkataan sang banchou kesayangan mereka. Miku melangkahkan kakinya meninggalkan medan pertempuran. Len berteriak nyaring memanggil nama Miku. Tapi,Miku tetap berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Jangan biarkan sayap kalian patah. Karena,setelah ini, tidak akan ada lagi yang akan merajut sayap kalian. Kini, aku sudah bukan si banchou lagi. Aku sudah tidak berhak mendapatkan gelar itu. Aku sudah gagal melindungi kalian. Selamat tinggal."

Pikiran Miku kembali lagi pada dunia nyata. Sebuah putaran film tentang masa lalunya,membuat hati Miku terasa sakit. Miku kembali menyalahkan kebodohan teman-temannya,yang terus memaksanya untuk tetap menyandang gelar 'banchou'.

"Tinggal sedikit lagi, Miku. Sedikit lagi."

Miku berusaha menyemangati dirinya. Dia bergegas bangkit dan mengambil tas selempang dan handphonenya. Miku memakai topi warna hitam dan baju terusan warna putih yang dipakaikan jaket hitam. Miku berlarian keluar rumahnya untuk mengunjungi Len,melaksanakan babak baru skenarionya.

"Konbawa,!" suara seorang gadis memecahkan suasana. Kaito bangkit dari kursinya dan bergegas menyambut kedatangan gadis twintail yang membawa sekeranjang buah dan setumpuk CD MP3 yang masih baru.

Seorang pemuda honey blonde yang sedang duduk di atas ranjang sedikit kebingungan untuk menebak nama dari tamunya kali ini. Gadis twintail itu duduk dikursi yang tadi di duduki oleh Kaito.

"Apa kau lupa padaku, Len?"

"Miku!" ucap pemuda honey blonde itu dengan riang.

Tangannya meraba-raba udara kosong di hadapannya. Berusaha mengangkap sosok gadis yang namanya dipanggil tadi. Miku menangkap tangan pemuda itu dan meletakkannya di kedua pipinya yang kemerahan karena dinginnya udara malam. Perasaan hangat menjalar di pipi Miku, Miku menutup matanya dan merasakan sensasi aneh yang membuatnya merasa nyaman. Wajah pemuda itu sedikit memerah begitu sadar dia telah memegang wajah sang banchou yang tidak bisa di pegang seenaknya. Seperti sebuah boneka porselin yang sangat mahal, Miku menarik sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah senyuman yang sangat manis. Kaito saja sampai menjatuhkan sekotak es krim yang dia siapkan untuk Miku makan.

"Len! Saatnya…"

Sebuah suara memecahkan suasana. Mau tidak mau Kaito harus mengalihkan wajahnya dari momen-momen yang sangatlah langka itu. Di depan pintu sana, berdirilah Mikuo dan Gakupo yang cuma bisa diam saat melihat pemandangan yang ada didepannya. Suasana mendadak hening lagi.

Merasa aneh dengan keadaan, Miku memalingkan wajahnya dengan tangan yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Len. Gadis itu memiringkan kepalanya dengan wajah yang sangat imut. Mata teal aquanya membulat besar dan bercahaya, pipinya berwarna semu kemerahan, bibirnya yang basah karena lip blam sedikit terbuka.

Pemandangan yang sangat langka itu sampai membuat Gakupo tanpa sadar mimisan di tempat. Miku hanya mengerjapkan matanya berkali-kali dengan sangat imut saat melihat Gakupo mimisan dengan hebat. Membuat Mikuo sampai berharap kakak kesayangannya itu mau menjalin hubungan terlarang dengannya. Kaito sampai berharap Miku mau jadi boneka porselin pengganti es krim kesayangannya,dan Gakupo bahkan sampai berharap Miku mau jadi permaisurinya. Tapi,Len hanya bisa diam. Nasibnya terlalu malang, hingga dia tidak bisa melihat adegan langka yang terjadi hari ini.

"Berhenti menatapku seperti itu atau kalian akan mati!" Miku berbicara dengan ekspresi yang luar biasa datar. Tapi, sekalipun tanpa ekspresi,kalau Miku sudah mengancam seperti itu,itu artinya ada 2 pilihan. Memilih menurut atau di gantung di jemuran Rumah Sakit.

Suasana kembali hening, tampak ada 3 roh yang terbang melayang meninggalkan tubuh 3 orang pemuda yang tergeletak begitu saja. Miku acuh tak acuh pada roh-roh yang malang tiu, dia masih saja bermain-main dengan tangan Len,yang membuat wajah Len semakin memerah.

"Mi.. Miku.. bi.. bisa kau lepaskan.. tanganku?" Len tergagap-gagap saat bicara, tampak keringat dingin mengalir dari dahinya. Miku terdiam dan menatap Len yang sudah seperti udang rebus.

"Apa kau punya permintaan,Len?" ucap Miku tiba-tiba sambil menundukkan kepala.

"eh,"

"Setiap orang pasti punya permintaan yang dipendam dalam lubuk hatinya sendiri. Dan kau, Len. Apa permintaanmu? Siapa tahu aku bisa mengabulkannya untukmu."

"Aku.. yang aku inginkan..itu…" Len tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya menunduk dalam sambil meremat selimutnya.

"Mata,itu yang kau butuhkan. Iya, kan, Len?" Miku membenahi topinya yang hampir lepas sambil memandangi jasad-jasad dari manusia tidak bersalah di dekat kakinya.

"Aku..memang ingin bisa melihat lagi. Aku ingin melihat wajah Rin yang tersenyum lagi, aku ingin melihat langit senja saat kita berkumpul di atap sekolah, aku ingin melihat Kaito yang selalu berlari mengejar truk es krim, aku ingin melihat teman-teman genk kita yang sering bertengkar karena hal kecil, dan aku ingin melihatmu lagi, Miku…" Len mengangkat wajahnya, mencoba mengingat kembali sisa-sisa ingatan yang ada dalam pikirannya. Miku menoleh ke arah Len,dan beranjak dari kursinya perlahan tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun.

" Aku ingin melihat Miku…Sebagai banchou kesayangan kami semua, yang selalu berdiri di garis depan tanpa rasa takut sedikitpun, yang selalu mati-matian melindungi kami semua…Ya, itulah keinginanku. Aku ingin melihat Miku yang selalu terlihat keren di mataku."

Len mengangkat tangannya dan meraba perban yang melilit matanya. Ujung bibirnya tertarik ke atas, sebuah senyum simpul yang berhasil menghentikan langkah Miku yang sedang menyeret tubuh anak buahnya ke luar ruangan. Miku merasakan panas di wajahnya,jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mikuo yang nyawanya berhasil terkumpul kembali,hanya mengerjapkan mata berkali-kali saat melihat wajah kakaknya yang sedang merona itu.

"Tapi itu sudah tidak penting lagi bagiku…" Len menyibak selimutnya ke samping. Dengan susah payah,dia mencoba turun dari ranjang Rumah Sakit. Tangannya meraba-raba udara kosong di hadapannya. Miku sangat terkejut dengan jawaban Len,dia bergegas melempar 3 tubuh itu keluar ruangan tanpa menutup pintu terlebih dulu.

Bruuukkk!

Sebuah suara yang mampu mengembalikan 2 nyawa sekaligus ke dalam raga pemiliknya. Gakupo dan Kaito mengerang kesakitan saat kepalanya terbentur tembok lorong Rumah Sakit akibat perlakuan Miku. Mikuo hanya bisa menatap punggung kakaknya dengan kondisi yang mengenaskan. Kepala di bawah dan kaki di atas. Benar-benar perlakuan seorang gadis yang luar biasa.

"akh!" Len jatuh terjerembab saat kakinya tidak sengaja menabrak kursi yang ada di samping ranjang tempat tidurnya. Len mengerang pelan, telinganya dapat mendengar suara langkah kaki orang yang berlari mendekat.

"Len, kau baik-baik saja?" Miku menyingkirkan kursi yang menindih kaki Len dengan sekali tendang dan membantu Len berdiri. Len menggeleng,dia lebih memilih duduk di lantai, Miku menurut saja dan ikut duduk dihadapan Len.

"Apa…yang menurutmu lebih penting, Len?" Miku menyondongkan wajahnya ke depan, walaupun Len tidak bisa melihatnya,tapi dia bisa merasakan keberadaan Miku di dekatnya. Tangannya terangkat kedepan dan membelai rambut teal Miku dengan sangat lembut. Di kecupnya rambut teal itu perlahan dengan sangat lembut dan berhasil membuat wajah pemiliknya merona.

"Sesuatu yang sanggat berharga untukku. Sesuatu yang telah membuatku sadar akan pentingnya keberadaan dia dalam hidupku…" Miku mengerjapkan mata berkali-kali. Ternyata banchou kita ini kesulitan mencerna kata-kata Len. Mikuo merangkak masuk keruangan dengan sangat perlahan agar tidak membuat keberadaanya di ketahui oleh Miku. Dia menajamkan pendengarannya dan dengan sangat cepat,dia sudah bisa menangkap alur dari pembicaraan konyol itu.

"Hanya kau yang kuinginkan, Miku…" Ucap Len sambil tersenyum lebar pada Miku,

BLUSH!

Wajah Miku langsung merah padam mendengarnya,jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat,ah,tidak. mungkin lebih dari itu. Mikuo yang mendengarnya langsung jaw drop, dan mengakibatkan hal fatal yang mungkin akan disesalinya untuk seumur hidupnya,secara tidak sengaja,kepalanya membentur pinggiran pintu dengan keras dan menimbulkan efek bunyi 'BUAK!' yang sampai membuat orang-orang di sekitar lorong menengok ke arah Mikuo yang sedang berguling-guling kesakitan di depan pintu kamar rumah sakit.

"mati aku, mati aku," Mikuo masih sempat-sempatnya mengucapkan kekesalannya saat acara guling berguling berlangsung dengan dramatis.

Luar biasa, tak ada seorangpun dari ruangan itu yang menyadari ke-gajean tingkah Mikuo di depan pintu. Gakupo dan Kaito hanya cengo menatap sahabatnya merintih kesakitan sambil berguling-guling di lantai sambil menggelenng-gelengkan kepala.

'dokter bodoh!' batin Gakupo yang sedang menatap Mikuo dengan tatapan miris.

'demi semua es krimku, tak kusangka Mikuo ternyata mengalahkan kebodohanku..' batin Kaito yang menatap dengan malas ke arah Mikuo.

Sementara itu, dengan sangat terpaksa, author gaje ini memindahkan setting secara paksa ke dalam ruangan Len.

"Le..Len…Ka..kau.." Miku memegangi dadanya yang bergemuruh. Mata tealnya tak henti-hentinya menatap wajah Len yang tampak manis saat tersenyum. Seperti wajah Rin yang selalu tampak hangat setiap gadis itu tersenyum. Mendadak ada perasaan aneh di hati Miku,sangat menyesakkan dan sakit begitu dia mengingat Rin.

"Aku menyayangi Miku, lebih dari apapun…"

Miku tersentak kaget mendengarnya,dia tidak menyangka Len akan sampai mengatakan hal itu padanya. Bagaimana bisa? Miku menggantikan posisi Rin yang seharusnya selalu berada di peringkat teratas di hati Len dalam sekejap,?

Miku semakin merasa sesak di hatinya. Terasa sangat menyakitkan,menggores-gores hatinya dengan perlahan dan menyakitkan. Miku bangkit dari duduknya dan mengambil tas selempangnya. Len sedikit kebingungan dengan suara berisik di sekelilingnya. Gakupo dan Kaito mengerjapkan mata berkali-kali. Mikuo segera menyudahi acara berguling-gulingnya itu dan menatap wajah kakaknya yang berubah masam.

"Maafkan aku, Len. Tapi aku berjanji, aku pasti akan mengabulkan permohonanmu itu.." Miku bergegas keluar tapi langkahnya terhenti saat Len meneriakkan namanya.

"Tapi kenapa kau pergi,Miku? Bukankah, kau berjanji akan mengabulkannya? " Miku terhenyak sejenak sambil menundukkan kepalanya, rasa sakit di hatinya sudah membuat gadis ini buta akan keberadaan orang lain yang berada di ruangan itu. Yang sedang menyaksikan drama menyedihkan dari sang banchou.

"Aku akan mengabulkannya..dengan caraku sendiri.." Ucap Miku sambil berlalu meninggalkan ruangan Len. Melewati Mikuo yang sedang menunduk sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Melewati Kaito dan Gakupo yang kebingungan sambil menatap Miku sampai gadis itu menghilang dari pandangan mereka.

"Walaupun harus mati…"

Miku menatap langit malam yang bertaburkan bintang. Udara malam berhembus perlahan. Ujung rambut gadis itu bergoyang dipermainkan angin. Miku melangkahkan kakinya meninggalkan gedung Rumah Sakit dengan arah yang tidak menentu. Sosoknya perlahan menghilang ditelan kegelapan malam yang mencekam…

~(_ _) ~


Yatta! Chap 2 selesai!

Ah,iya. Pemirsa sekalian,maafkan chan bila masih banyak typo yang bertebaran,ya!

He,he ..peace men..030)v

*ditabokk

Nah,di sini aku juga mau ngucapin "makasih buat yang udah repot-repot nge-review ceritaku, aku seneng banget ada yang mau ngereview! XD"

Oh,iya. Buat readers terhormat,aku minta review kalian semua,ya! Tolong di comment bila ada salah-salah..

Biar aku bisa memperbaikinya…

Arigatou…

REVIE,PLEASE…