"Memori dan kenangan itu terpendam dalam sebuah kotak di sebuah pohon berbunga musim semi. Bunga itu membuatmu dan aku tenang. Dulu, sekarang, dan selamanya."
ARIA oleh Naoya Yuuki
VOCALOID © Yamaha, Crypton, etc.
Bagaimana jika sebuah pasangan yang saling mencintai dan berpisah cukup lama dipertemukan kembali dengan tidak mengenal satu sama lain oleh suara seorang malaikat bernama Aria?
Hari pertama—Tetangga Baru
Kagamine Rin, gadis pirang bertubuh mungil berumur delapan belas tahun, seorang mahasiswa jurusan sastra, gadis yang cukup malas untuk bergerak mengambil segelas air jika sedang haus, gadis itu baru saja tiba di Tokyo beberapa bulan yang lalu.
Rin memutar kenop pintu berwarna hijau di depannya, hari yang melelahkan pikirnya, sebelum masuk ke apartemennya dia memperhatikan apartemen 112 disampingnya, 'apakah dia sudah kembali?' tanyanya dalam hati kecilnya. Dia memandang pintu itu lama, lalu menggelengkan kepalanya dan masuk kedalam apartemennya. Untuk apa dia harus mengingat orang yang sudah membuatnya mengingatnya terus? Ya, karena orang itu sudah membuatnya harus mengingatnya—hahaha.
Gadis itu meletakkan tas samping yang dia bawa bersamanya ke sebuah sofa. Lalu dia merebahkan badannya ke atas kasur tak jauh dari sofa itu. Dia mendesah panjang sambil berusaha menutup matanya dan mencoba untuk tidur.
Suara berisik dari sebelah apartemennya tidak mengizinkannya untuk tidur lebih lama, dia membuka matanya dengan frustasi dan mengacak-acak rambutnya, suara berisik itu kembali terulang membuat dia terpaksa harus memeriksa apa yang sedang terjadi di sebelah apartemennya. Dengan langkah malas dia berjalan keluar dari apartemennya, Rin tak menggunakan baju penghangat membiarkan angin musim gugur menusuk kulitnya.
Rin berdiri di depan pintu apartemen 112, dia tidak terlalu yakin seseorang baru saja memasuki apartemen itu, tapi hei ayolah apartemen itu sebelumnya adalah milik seseorang yang sangat spesial bagi Rin dan orang itu pergi begitu saja dari hidupnya lima tahun yang lalu.
Sorotan lampu yang berada tepat diatas kelapanya menambahkan sedikit kesan menyeramkan dari apartemen 'yang ditinggalkan' itu. Dengan ragu Rin mengetuk pintu apartemen itu perlahan.
Ketukan pertama, tidak ada jawaban. Oke, Rin memang harus meninggalkan apartemen menyeramkan ini, tapi entah perasaan apa yang merasukinya membuat gadis itu mengetuk pintu itu sekali lagi—dan… masih tak ada jawaban.
Apa boleh buat, pikirnya. Dia berbalik dan berjalan meninggalkan apartemen menyeramkan itu kembali ke depan pintu hijau apartemennya, tapi sebelum Rin sempat memutar kenop pintu apartemennya, dia mendengar suara berisik itu lagi.
Baik. Sekarang dia mulai ketakutan.
Kini dengan perasaan takutnya dia mngetuk pintu apartemen disebelahnya dengan lebih kuat dan keras—masih juga tak ada jawaban. Rin mengetuk sekali lagi hanya untuk memastikan dan kemudian dia membalikkan tubuhnya. Rin yakin pasti tidak akan ada respon dari ketukannya dan yang membuat Rin semakin yakin adalah tidak akan ada orang di apartemen itu!
Sebuah tangan menepuk pundak Rin dua kali, Rin kaget dan refleks membalikkan tubuhnya sambil melayangkan tinjuan acaknya—tinjuan itu mengenai perut si pemilik tangan.
Si pemilik tangan memegang perutnya sambil merintih, "Aduh!"
Rin menatap orang di depannya dengan perasaan serba salah, seorang pemuda berambut pirang dengan wajah imut tengah merintih kesakitan.
Rin mengulurkan tangannya, "Maafkan aku telah memukulmu," ucapnya.
Pemuda itu tersenyum memperlihatkan giginya. "Aku Kirigamine Len, kau?" tanya pemuda itu seraya memperkenalkan dirinya.
"Kagamine Rin," jawab Rin singkat. "Ano… apa yang terjadi di dalam sana?"
Pemuda itu tertawa. "Aku hanya sedang merapikan barang-barangku."
"Oh begitu, lain kali hati-hati ya Kirigamine-san."
"Len."
Rin menaikkan alisnya bingung. "Ha?"
"Panggil saja aku Len, Rinny," Len tersenyum,
"Baiklah, Len. Ada yang bisa aku bantu?" tawar Rin.
Len mendorong Rin menjauh dari apartemennya. "Aku tidak ingin merepotkanmu, jadi selamat malam."
ooo
Kirigamine Len, pemuda itu baru saja tiba dari Amerika, perjalanan panjang membuatnya lelah dan membuatnya ingin secepatnya tidur untuk memulihkan tenaganya di dalam apartemen yang baru saja ia dapatkan beberapa hari yang lalu dari temannya.
Dia berjalan dari bandara menuju apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari bandara itu. Sambil berjalan dia memperhatikan kiri dan kanannya, memperhatikan pohon-pohon yang sedang menggugurkan daunnya. Ya, sekarang sedang musim gugur.
Matanya tak sengaja menangkap sosok gadis berambut pirang sebahu sedang dudukk di sebuah bangku panjang sambil memperhatikan arlojinya, ingni rasanya dia untuk menyapa gadis itu, tapi apa boleh buat dia terlalu lelah untuk berbicara atau hanya sekedar gadis kesepian itu, dia memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
Kini dia telah berada di depan apartemennya, hanya tinggal membuka pintunya saja dan dia bisa tidur pulas. Dia meronggoh saku jaketnya, tidak ada kunci di sana. Kemudian dia meraba saku celananya, tidak ada apa-apa. Oh sial, dia memang ceroboh—dari dulu dia memang sudah ceroboh.
Dengan malasnya pemuda itu menjumpai pemilik apartemen dan meminta kunci cadangan untuk apartemen miliknya, beruntungnya pemilik apartemen sedang tidak keluar untuk menikmati pemandangan daun berguguran.
Dia kembali ke depan pintu apartemennya, membuka pintu dan memasuki apartemen itu. Dia menyeret tas ransel dan kopernya memasuki apartemen, kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mengabaikan debu yang menempel diatasnya—dia sama sekali tidak peduli.
Handphonenya berdering mendengarkan sebuah lagu yang terus menggema dalam ruangan itu, dia terbangun dari tidurnya yang baru empat jam itu. Dengan ragu dia mengambil handphonenya dan menjawab panggilan dari sang penelepon.
"Hallo?" jawabnya. "Iya. Aku sudah sampai di Tokyo. Berhentilah menganggap aku anak kecil, bagaimanapun aku ini lahir di Tokyo. Iya sudah ya. Aku mau istirahat." Dia mengakhiri pembicaraannya.
Pemuda itu mulai membuka kopernya dan mengeluarkan baju-bajunya yang dibawanya dair Amerika, dia melangkah menuju pintu belakang apartemennya matanya melihat sebuah sapu tua yang masih sangat bagus. 'Beruntung sekali, aku akan membersihkan tempat ini dulu', gumamnya.
Dia mulai membersihkan tempat itu, menyusun ulang segala barang yang ada di sana, member sihkan kamar mandi dan membersihkan langit-langit apartemennya. Butuh dua jam baginya untuk membersihkan tempat itu.
Sudah pukul tujuh dan waktunya untuk makan malam, dia mengambil baju jaketnya tak lupa syal hijau kesayangannya—malam ini akan sangat dingin.
Karena dia baru saja tiba di Tokyo, dia tidak akan mencari restoran mahal hanya untuk makan malam, dia hanya berjalan beberapa meter dari apartemennya menuju sebuah kedai kecil di sana.
Setelah selesai makan dia kembali ke apartemennya, dia memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari, entah sejak kapan dia merasa dirinya adalah orang paling rapi dan bersih. Saat hendak menutup lemari pakaiannya kakinya tersandung tas koper yang dibawanya hingga membuatnya terjatuh, bukan hanya itu kakinya juga terlilit tali pinggangnya dan ketika dia berdiri dan mencoba untuk berjalan dia kembali terjatuh.
Dia duduk untuk melepaskan tali pinggang yang melilit kakinya, suara ketukan tiba-tiba saja terdengar dari arah depan. Ingin sekali ia membuka pintu apartemen itu setelah berurusan dengan tali pinggang ini tentunya. Suara ketukan pintu kembali terdengar, pemuda itu berdiri lalu menatap kakinya sendiri, tidak ada lagi tali pinggang yang melilitnya, itu artinya dia bebas berjalan.
Kemudian dia melangkah menuju pintu apartemennya, hanya tinggal beberapa jarak lagi dengan pintu apartemen itu dia malah terjatuh tersandung tas ranselnya, oh sial—dari dulu dia memang sudah ceroboh, pemuda macam apa dia?
Suara ketukan kembali terdengar kali ini terdengar lebih keras dan kuat. Dia bangkit dan menyingkirkan tas itu dengan paksa, suara ketukan pintu kembali terdengar, tapi kali ini dia telah berhasil memegang kenop pintu. Dengan perlahan dia membuka pintu itu.
Seorang gadis terlihat sedang membelakangi pintu apartemennya, dia menyentuh bahu gadis itu bermaksud untuk bertanya ada apa, tapi sebuah tinjuan malah melayang tepat ke arah perutnya membuatnya terduduk dan menahan sakit.
Len merintih. "Aduh!" tangannya sibuk mengelus bekas pukulan gadis itu, kemudian dia melihat uluran tangan sang gadis. Sebenarnya dia bisa bangkit sendiri, tapi baginya menerima uluran tangan orang lain merupakan sebuah kehormatan besar.
"Maafkan aku telah memukulmu."
Len tersenyum, sejenak dia merasa bahwa dia pernah bertemu dengan gadis itu, dia terlihat berpikir, oh yang benar saja? Dia gadis yang duduk sendirian di taman itu kan?
"Aku Kirigamine Len. Kau?" sungguh, dia hanya berbasa-basi semata.
"Kagamine Rin," Rin melepaskan uluran tangannya. "Ano… apa yang terjadi di dalam sana?" tanya gadis itu—Rin—kemudian.
Len terlihat berpikir, kemudian dia berkata, "Aku hanya sedang merapikan barang-barangki," dia tersenyum.
"Hm? Lain kali hati-hati ya, Kirigamine-san."
Len menaikkan alisnya, Kirigamine-san? Oh gadis ini tidak perlu terlalu formal dengannya. "Len."
"Eh?"
"Panggil saja aku Len, Rinny!"
Len dengan seenaknya memanggil gadis itu dengan sebutan Rinny—itulah dia, si ceroboh yang hobi memberikan nama panggilan keorang lain.
"Len, ada yang bisa aku bantu?"
Len tertawa, seorang gadis menawarkan bantuan? Tidak. "Aku tidak ingin merepotkanmu, jadi selamat malam Rinny." Len mendorong gadis itu menjauh dari apartemennya sambil tersenyum menunjukkan giginya.
Len memasuki apartemennya, dia menghela napasnya berat. Dia benar-benar mengganggu tetangganya oleh kecerobohannya. Len mengunci pintu apartemennya dan menuju ke kamar tidurnya, besok dia harus mengelilingi kota Tokyo dan bertemu dengan rekan kerja barunya.
Ah, kerja.
Hari pertama—Tetangga Baru (end)
Fanfic LenRin pertama saya yang tertunda update-annya selama dua tahun—hahaha! Tentu saja ide awalnya sudah melenceng jauh, fanfic ini juga mengalami perubahan judul. Aria? Maksudnya apa ya? LOL!
Review?
