Title: Our Daughter Asami
Pairing: Sanosuke x Megumi
Rate: T
Disclaimer: Rurouni Kenshin punya Watsuki Nobuhiro
Cover isn't mine :D
Chapter sebelumnya
"Ada apa Yahiko?" tanya Megumi semakin tidak sabar dengan raut wajah yang terlihat sedikit takut.
"SANO!" akhirnya Yahiko berhasil berteriak.
"Sano?" gumam Dr. Genzai dan Megumi bersamaan. Mereka saling berpandangan satu sama lain, Dr. Genzai menatap Megumi dengan heran dan seolah mengerti dengan pertanyaan yang tidak diucapkan Dr. Genzai, Megumi menggelengkan kepalanya kepada Dr. Genzai mengisyaratkan kalau dia juga tidak mengerti dengan perkataan Yahiko.
"Sano telah kembali!" Yahiko masih terengah-engah. "Dia kembali Genzai-sensei, Megumi!" kata Yahiko berusaha menyadarkan Dr. Genzai dan Megumi yang masih berdiri seperti patung. Tangan kiri Yahiko mengguncang lengan Dr. Genzai dan tangan kanannya mengguncang Megumi.
Chapter 2
*Kepulangan Sanosuke ke Jepang*
Dr. Genzai dan Megumi hanya berkedip tanpa suara. "Dia kembali tadi pagi atau lebih tepatnya dia datang saat Kaoru sedang bersiap-siap untuk memasak makan siang. Dia langsung menghabiskan makan siang kami, bisakah kau percaya itu? Dia menghabiskan masakan yang dibuat oleh busu!" Yahiko menjelaskan dengan sedikit nyaring.
"Hah… hah… Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa laparnya saat itu" Yahiko masih terengah-engah. "Namun selapar apapun dia, buatku itu sangat mengerikan. Dia menghabiskan makanan yang dibuat busu! Sepertinya aku harus berterima kasih pada Sano kali ini, karena dia kami tidak jadi memakan masakannya" Yahiko mulai tertawa. "Oh, iya. Aku hampir lupa, Kenshin mengundang kalian makan malam untuk merayakan kedatangannya malam ini"
"Oh, yokatta na!" ucap Dr. Genzai. "Baiklah, katakan pada Kenshin kami akan ke sana setelah kami selesai dengan semua pasien-pasien di sini" Megumi masih mematung di tempatnya berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah mereka selesai menangani semua pasien Dr. Genzai segera berangkat ke Kamiya dojo, namun Megumi menolak untuk ikut. Dia beralasan kalau dia sedang kurang enak badan.
"Kau yakin tidak mau ikut ke sana?" Megumi mengangguk. "Baiklah, aku akan mengajak Asami bersama kami agar kau bisa beristirahat" lanjut Dr. Genzai.
"Itu tidak perlu, saya bisa menjaganya" Megumi bersikeras. "Sebaiknya kalian segera berangkat, kalian akan melewatkan makan malamnya nanti" Megumi terus berusaha agar mereka tidak memaksanya ikut ke dojo. "Tolong sampaikan permintaan maafku kepada Ken-san dan semuanya karena tidak bisa ikut ke sana"
Kenshin memperhatikan Dr. Genzai dan kedua cucunya masuk dan menyadari ketidakhadiran Megumi dan Asami bersama mereka, dia hanya tersenyum dan mengangguk mengerti ke arahnya.
"Kenapa Megumi-san dan Asami tidak ikut kemari?" tanya Kaoru.
'Jadi Kitsune berada di Tokyo sekarang?' gumam Sano pada dirinya sendiri.
"Dia bilang sedang tidak enak badan. Megumi juga meminta maaf karena tidak bisa ikut" jawab Dr. Genzai.
"Asami?" tanya Sano heran. "Siapa Asami?"
Masih terukir senyum di bibir Kenshin. "Kau pasti akan terkejut saat bertemu dengannya nanti, de gozaru yo"
"Itadakimasu" kata mereka semua dan mereka langsung menyantap makan malam.
Saat makan Sano menceritakan pengalamannya dibeberapa negara yang telah dikunjunginya. Sano tidak menanyakan sedikit pun bagaimana keadaan Megumi, dia hanya berkomentar betapa terkejutnya ia saat melihat Ayame, Suzume, dan Yahiko yang sudah beranjak dewasa.
Sepanjang makan malam Sano terus mengolok-olok Yahiko dan sedikit mengejek Kaoru dan berakhir dengan mangkuk nasi yang melayang tepat di wajahnya.
Beberapa hari setelah Sano kembali ke Tokyo, Megumi berusaha untuk tidak pergi ke dojo sementara waktu.
Asami selalu merengek untuk pergi ke dojo, Dr. Genzai pun ikut-ikutan pusing dibuatnya. "Megumi-chan, kau sudah bekerja terlalu keras belakangan ini, kau bahkan tidak pernah libur. Aku rasa kau perlu mengambil cuti hari ini. Beristirahatlah atau kalau kau bosan kau bisa pergi jalan-jalan, lagi pula pasien yang datang hari ini tidak terlalu banyak, aku bisa menanganinya"
Ayame dan Suzume segera mengajaknya ke dojo. 'Aku masih belum bisa bertemu dengan Sano saat ini' pikirnya, namun Asami terus merengek dan mendesaknya.
"Pergilah ke Kamiya dojo, Megumi-chan. Asami sudah beberapa hari tidak bermain bersama Kenji" Megumi mendesah dan mengikuti saran Dr. Genzai.
Disepanjang jalan Megumi terus menatap kosong ke depan. 'Aku berharap dia tidak sedang berada di dojo sekarang. Mungkin dia pergi menemui teman-temannya. Tapi, bagaimana kalau dia berada di dojo saat ini?' tanyanya dalam hati.
'Kau tidak bisa terus menerus menghindarinya, Megumi!' kata suara yang ada di kepalanya. 'Cepat atau lambat kau pasti akan bertemu dengannya. Kau tidak perlu takut, hadapi saja!'
'Diam kau! Bagaimana caraku menjelaskan tentang Asami kepadanya?' tanya Megumi kesal pada pikirannya.
'Mau tidak mau, suka atau tidak, kau tetap harus mengatakannya… Lagi pula dia berhak un-' Megumi tidak mendengar lagi suara-suara yang ada di kepalanya saat mereka tiba di depan pagar Kamiya dojo.
Jantungnya berdegup dengan kencang dan semakin kencang saat Ayame mulai membuka pagar. Jantungnya serasa ingin keluar dan meledak saat melihat Sanosuke sedang bermalas-malasan di halaman, nampaknya sedang berbincang-bincang dengan Kenshin yang sedang sibuk mencuci.
Ya, itu Sanosuke. Tepat di depan sana, lengkap dengan bandana merah di kepala, tulang ikan di mulut dan seringai bodoh di bibirnya. Megumi ingin segera lari menghindarinya.
"Yo. Kitsune-onna!" sapanya.
'Kenapa kaki ku tidak bisa bergerak sekarang? Baka!' umpat Megumi. "Bernafaslah, Megumi! Tenanglah… kau bisa melewati ini semua. Kendalikan dirimu!" bisiknya.
"Oi, Kitsune. Kenapa kau hanya berdiri saja di sana?" Sano mulai duduk tegak sekarang. 'Dia tetap cantik seperti dulu, bahkan jauh lebih cantik dari yang ku ingat' sambil menghela nafas Sano menunggu Megumi bergerak dari tempatnya berdiri sekarang. 'Setelah diperhatikan gaya rambutnya agak sedikit berubah. Ya, namun hanya sedikit' pikirnya.
"Tori-atama!" Megumi mencoba untuk bergerak maju ke arahnya. Saat itulah Sano menyadari ada tangan kecil yang memegang kaki Megumi. Asami hanya berdiri di belakang Megumi saat pagar terbuka, dia juga tidak berani bergerak saat memperhatikan Sanosuke.
Dibalik kaki Megumi, Asami memiringkan kepalanya sedikit ke kiri untuk melihat sosok Sano yang tinggi, dengan suara bassnya yang membuat Asami sedikit takut padanya. "Tori-atama" bisiknya sangat pelan.
Megumi juga baru menyadari ternyata Asami masih berada di belakangnya setelah melihat Sano yang juga memiringkan kepalanya ke kanan untuk mengintip Asami yang sedang bersembunyi.
"Huh? Siapa anak ini?" Megumi tidak menjawab. "Dia… putrimu?" Megumi masih tidak menjawab. 'Ternyata Kitsune sudah menikah! Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi buatku'
Megumi terus berjalan di ikuti oleh Asami di belakang yang masih memegang erat kakinya dan sesekali menutup wajahnya pada kimono Megumi saat dia melihat Sano memperhatikannya.
"Asami! Ayo kemari!" teriak Kenji memanggilnya.
"Asami?" gumam Sano heran.
"Asami, hayaku!" ajak Kenji. Karena Asami yang masih bersembunyi di belakang Megumi tidak berani bergerak, Ayame, Suzume dan Kenji menghampirinya dan menariknya menjauh dari Megumi. "Hayaku ikou yo!" Kenji menariknya berlari.
Mereka sibuk bermain sekarang, Asami sudah lupa dengan keberadaan Sanosuke yang sempat membuatnya takut.
'Asami' Sanosuke berpikir keras mengingat nama itu. 'Ah, benar! Jou-chan, menanyakan tentang dia saat makan malam waktu itu!' ingatnya. 'Jadi, dia yang namanya Asami. Ternyata dia putri Megumi. Kenapa Kenshin, Jou-chan, Yahiko, atau Genzai-sensei tidak mengatakan kepadaku kalau Megumi sudah menikah dan memiliki seorang anak sekarang!' gerutunya. "Jadi, kau sudah menikah sekarang?"
Megumi tidak memandangnya "Hai" jawabnya singkat. 'Oh, Kami-sama, berikanlah aku kekuatan untuk lari dari sini' Megumi berdo'a. "Bagaimana perjalananmu, Sano?"
"Menyenangkan" 'dan aku sangat kesepian, kitsune' tentu saja kata-kata terakhirnya tidak diucapkan kepada Megumi. "Apakah kau menemukan keluargamu?" tanya Sano.
"Iie. Aku belum menemukan mereka" Sano terus menatapnya.
"Apakah pernikahanmu bahagia?" 'kenapa kau tidak berani menatapku, Kitsune?' pikirnya.
"Hai" jawab Megumi dan Sano mengangguk pelan.
"Ano ne, Kitsune. Apa kau menikah dengan teman bermainmu saat kecil dulu?"
"Kenapa kau bertanya? Itu bukan urusanmu!"
"Iie, aku hanya penasaran saja lelaki mana yang mau menikah dengan Kitsune galak sepertimu?" Sano menyeringai. "Mungkin orang yang mau menikah denganmu hanyalah orang-orang yang mengenalmu sejak lama, ne Kitsune? Hahaha…"
"Tori-atama no baka!" Megumi melemparkan ember yang sedang digunakan Kenshin untuk mencuci ke arah Sano.
"Maa… Maa… Megumi-dono, tenanglah" bujuk Kenshin.
"Hahaha… Aku hanya bertanya, Kitsune. Kau tidak perlu marah begitu" Sano mendekat kepada Megumi dan agak berbisik walaupun suaranya masih terdengar oleh Kenshin dan Kaoru "Aku hanya penasaran, siapa suamimu?"
Megumi menatapnya marah "Itu bukan urusanmu!"
Dari halaman belakang terdengar suara nyaring Asami yang sedang bermain dengan Kenji, Ayame dan Suzume.
"Che, sebenarnya apa sih yang kau berikan padanya sampai suaranya sekeras itu?" tanya Sano membuat suasana lebih nyaman dengan menggoda Megumi sedikit.
"Itu bukan salahku kalau suaranya sekeras itu, baka tori! Dan sebaiknya kau memotong rambutmu agar tidak membuat orang lain menjadi takut" jawab Megumi ketus.
Sanosuke tertawa melihat Megumi yang bersikap seperti Megumi yang dulu dikenalnya. "Kau belum berubah, Megitsune" godanya.
"Dan kau masih menyebalkan seperti dulu, tori-atama!"
Asami dan Kenji berlari ke halaman depan sambil membawa bokken milik Kaoru. Kenji terjatuh saat berlari "Kenji! Daijoubuka?" kata Asami Khawatir.
"Emm..." Kenji mengangguk dengan menahan air matanya. "Daijoubudesu!" jawabnya.
"Jangan menangis! Tidak bisakah kau lebih berhati-hati?! Sudah berapa kali ku bilang kau harus lebih berhati-hati. Kau akan membuat dirimu terluka terus kalau seperti ini!" Asami meletakkan satu tangan di pinggulnya dan tangan yang memegang bokken mengarah pada Kenji.
Kenshin, Kaoru, Sano dan Megumi memperhatikan mereka. "Dia persis seperti ibunya kalau sedang marah" kata Sano, Megumi melotot ke arahnya. Kenshin dan Kaoru hanya tersenyum melihat mereka.
Asami berjongkok di depan Kenji dan memperhatikan kakinya yang sakit. Asami membersikan debu di kaki Kenji dengan tangannya. "Nampaknya kau baik-baik saja, hanya tergores sedikit. Ayo bangun!" Asami membantunya berdiri dan membantu Kenji membersihkan bajunya yang kotor.
"Yah, dia memang seperti ibunya" sahut Kaoru.
Asami berjalan mendekati Megumi "Okaasan, Kenji terluka. Bisakah kau mengobatinya?" Megumi tersenyum dan mengangkat Kenji duduk di sampingnya, dan segera membersihkan lukanya.
"Hey, nak" panggil Sano. "Apakah kau masih takut padaku?" Asami memperhatikan Sano. Kemudian tersenyum dan menggeleng. "Baiklah. Aku rasa kita berteman sekarang, ne?" Asami mengangguk. "Apakah kau dan Kenji sedang berlatih kenjutsu dengan Yahiko?" Asami kembali mengangguk. "Sepertinya kalian sudah ahli dalam bermain pedang"
"Tidak. Kenji yang cengeng itu lebih baik dariku. Okaasan hanya sesekali membawaku kemari sehingga aku tertinggal dari Kenji"
"Benarkah? Aku rasa permainan pedangmu sudah cukup bagus" Sano melirik Kenji yang masih duduk di samping Megumi. "Apa kau sudah baikan, Kenji?" Kenji mengangguk "Mau ikut bermain bersama kami?" Kenji langsung berdiri dan Sano membawa mereka ke halaman belakang.
"Megumi-san, maukah kau mengajariku membuat ohagi?" tanya Kaoru.
"Membuat Ohagi pasti sangat menyenangkan" sambung Ayame.
"Bolehkah aku juga mau ikut membuatnya?" kata Suzume.
"Baiklah. Mari kita membuatnya bersama-sama" Megumi berdiri dan segera menuju dapur.
Saat Sano, Asami dan Kenji di halaman belakang. "Hey, Kenji!" panggil Yahiko. "Kembali kemari! Kau belum selesai latihan dan sekarang kau mau bermain?! Cepat kembali kemari!" teriak Yahiko sambil mengejar Kenji yang kabur.
"Hmmfftt… Aku rasa kita harus bermain berdua" Sano diam sejenak. 'Baiklah kalau kau tidak mau memberitahukan siapa suamimu padaku, maka aku akan mencari tahu sendiri' Sano menampakkan seringainya. "Mmm… nak, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hai" jawab Asami.
"Siapa ayahmu?" Asami menatap Sano agak lama. Sano menatapnya dengan bingung dan merasa sedikit bersalah melihat tatapan Asami yang tanpa dosa itu.
"Aku tidak tahu" jawabnya dengan sangat polos.
"Nani? Apa… Apa… maksudmu kau tidak tau?" Sano tergagap.
"Aku tidak tau"
"Kau… tidak tau… siapa ayahmu?" Asami mengangguk. "Baiklah, kalau kau tidak tau setidaknya kau mengetahui namanya, bukan?"
Asami menggeleng "Tidak"
"Jadi… jadi kau benar-benar tidak tau siapa ayahmu?!" Sano sangat shock.
'Apakah Megumi telah menjalin hubungan dengan orang lain dan tidur dengannya? Lalu disaat Megumi mengatakan dia hamil laki-laki itu kabur dan tidak mau bertanggung jawab?' pikir Sano. Sano dengan cepat menggeleng. 'Tidak mungkin. Aku kenal siapa Megumi. Dia pasti akan membunuh laki-laki itu sebelum dia sempat kabur darinya' Sano mengangguk dan percaya kalau pikirannya salah.
Sano terus berpikir 'Atau mungkin… Megumi telah diperlakukan tidak senonoh oleh beberapa bajingan saat dia sedang berjalan pulang ke rumahnya dimalam hari?' darah Sano mulai mendidih membayangkan pikirannya sendiri. 'Yah, itu mungkin saja. Selama ini dia sering pulang malam saat di Tokyo dan mungkin dia juga seperti itu saat di Aizu'
Sano tersadar dan kembali menatap Asami "Apa… Okaasan tidak pernah menceritakan tentang ayahmu?"
"Okaasan bilang Otousan sedang pergi jauh"
"Pergi jauh? Kemana?"
"Aku tidak tau. Okaasan bilang Otousan adalah seorang petualang, dia sering berkeliling dunia. Oleh sebab itu dia jarang pulang ke rumah"
"Sou ka" Sano semakin bertambah penasaran, namun dia tidak melanjutkan pertanyaannya. "Kau ingin bermain apa, nak?"
"Aku juga ingin bertanya pada oji-san, boleh?"
"Mochiron"
"Ano… sebenarnya oji-san ini siapa?"
"Sanosuke, Sagara Sanosuke. Kau boleh memanggilku Sano-oji"
"Aku belum pernah bertemu Sano-oji sebelumnya"
"Sano-oji baru saja kembali ke Jepang, nak"
"Baru kembali ke Jepang?" ulangnya. Sano mengangguk pelan. "Sano-oji tinggal di mana?"
"Sano-oji sering berpindah-pindah tempat"
"Berpindah-pindah kemana?"
"Saat meninggalkan Jepang Sano-oji pernah tinggal di China, Eropa, Amerika dan Arab"
"Sano-oji benar-benar pernah pergi ke sana? Boleh tidak kalau kita tidak jadi bermain? Tapi… Sano-oji harus menceritakan kepadaku tentang perjalanan oji-san. Setuju?"
Raut wajah Sano membuat mimik cemberut "Emmm…" Sano seolah-olah sedang berpikir keras dan mengagetkan Asami dengan menyaringkan suaranya sedikit sambil menggelitiknya "Mochiron dayo, sweety!"
Asami tertawa dengan keras karena geli. "Ayo ceritakan Sano-oji! Ayooo…" bujuk Asami dengan manja.
Sano mengangkat Asami ke pangkuannya. "Tidak mau" godanya.
"Sano-ojiiiiii… Ayo ceritakan!" Asami merengek melihat Sano yang terus menggeleng. "Nanti akan ku berikan hadiah" rayunya.
"Kau sudah pandai merayu rupanya?" 'Persis seperti Kitsune' "Apakah okaasan yang mengajarkannya kepadamu?" Asami memberikan senyum imut "Baiklah, baiklah. Aku akan menceritakannya padamu"
Asami masih tersenyum padanya, dan Sano mulai menceritakan sebagian pengalamannya. Selama dia bercerita, Asami tidak henti-hentinya bertanya. Hal itu membuat Sano kelimpungan dan semakin bingung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
'Aku yakin, Kitsune selalu memberikan teh herbal atau obat kecerdasan dan semacamnya kepada anak ini. Aku rasa dia terlalu pandai untuk anak seusianya, atau aku yang terlalu ceroboh selalu berbicara tanpa berpikir'
"Kau seperti Otousan yang sering diceritakan oleh Okaasan" mata Sano melebar karena terkejut. "Bolehkah aku memanggilmu Otousan, Sano-oji?" Belum selesai otak Sano mencerna perkataan Asami sebelumnya, sekarang dia harus memahami kembali dan mendapat kejutan baru.
"Otousan?" perasaan Sano bagaikan disambar petir saat mendengar pertanyaan itu. Matanya masih melotot terkejut.
"Sano-oji? Kenapadiam saja? Sano-oji tidak mau ku panggil Otousan? Baiklah, kalau Sano-oji tidak suka aku tidak akan memaksa. Jangan marah Sano-oji" Asami hampir menangis. "Jangan melotot seperti itu Sano-oji, Asami takut" Asami mulai terisak.
"Sano-oji tidak marah, sayang. Jangan menangis nanti Sano-oji akan dimarahi Okaasan" Sano membujuk Asami untuk berhenti menangis dengan menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
Sano memeluknya "Asami, apakah kau benar-benar tidak pernah bertemu dengan ayahmu? Apakah kau tidak pernah mengenalnya sama sekali?" Asami yang terisak pelan mengangguk. 'Sou da, dia bahkan tidak mengetahui nama ayahnya. Siapa sebenarnya ayah anak ini, Megumi?'
"Kau boleh memanggilku apa saja yang kau suka, nak" Asami yang sudah berhenti menangis kini memandangnya. "Kau boleh memanggilku, Otousan" senyum Asami mulai terlihat di wajahnya.
'Seandainya kau tau betapa aku mengingingkan hal ini menjadi kenyataan, nak. Oh, Kami… ku harap kau mendengar permohonku. Aku tidak meminta banyak kepadamu, aku hanya meminta aku dapat memiliki sebuah keluarga yang bahagia'
Asami turun dari pangkuan Sano "Otousan, ayo kejar aku!"
Sano masih duduk di tempatnya semula "Jadi, kau memutuskan untuk bermain sekarang?" Sano mulai berdiri "Baiklah…" Sano harus berkeliling dojo untuk mengejar Asami.
Asami berlari mendekati dapur dan Megumi sangat terkejut saat mendengar teriakannya "Otousan, ayo tangkap aku!"
'Otousan? Siapa yang dia panggil 'Otousan'?' Megumi memecahkan piring yang sedang dipegangnya saat dia melihat Sano yang berlari di belakang Asami. 'Sano?! Apakah dia sudah mengetahuinya?'
"Megumi-san? Megumi-san?" Ayame mengguncang tubuh Megumi. "Apakah kau baik-baik saja?"
Megumi berusaha tersenyum kepadanya "Daijoubu. Maaf telah membuat kalian khawatir" 'Tapi bagaimana bisa dia mengetahuinya?'
"Sebaiknya kita segera menyiapkannya, mereka pasti sudah merasa lapar sekarang" kata Kaoru.
Saat mereka sedang menikmati ohagi, Megumi tidak berani menatap ke arah Sano yang duduk berseberangan dengannya. Dan Megumi pun segera kembali ke klinik setelah berhasil membujuk Asami pulang.
"Kenshin" Sano memanggilnya saat semua orang sudah tertidur.
"Oro? Ada apa Sano?"
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu"
"Sepertinya kau sedang memiliki masalah, de gozaru" Kenshin terus memperhatikan raut wajah Sano yang terlihat masih bingung. "Apa kau baik-baik saja? Wajahmu sedikit pucat, de gozaru na"
"Apakah benar Megumi sudah menikah?"
"Oro?" Kenshin terlihat heran dengan pertanyaannya. "Kami juga tidak mengetahuinya, de gozaru yo"
"Apa maksudmu, Kenshin?"
"Megumi-dono tidak pernah mengundang kami keacara pernikahannya, de gozaru"
"Lalu siapa ayah Asami? Megumi tidak mungkin memungutnya dari jalan, bukan? Karena wajah mereka begitu mirip"
Kenshin mendongak memandang Sano "Pertama kali sessha bertemu dengan Asami, saat usianya 6 bulan, de gozaru. Megumi-dono datang bersamanya ketika dia membantu persalinan Kaoru-dono. Dia selalu menghindari kami dan tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Setelah itu Megumi-dono jarang kemari, dia baru kembali tinggal di Tokyo 3 bulan yang lalu karena Genzai-sensei memerlukan bantuannya, de gozaru na"
"Sou ka na" Sano mengangguk mengerti.
"Shikashi…" Kenshin agak sedikit ragu untuk melanjutkan. "Tanpa kami tanyapun sepertinya kami sudah mengetahuinya, de gozaru yo, karena Asami juga mirip dengan seseorang yang sangat kami kenal dengan baik. Dan sessha sangat mengerti kenapa Megumi-dono tidak bisa menceritakannya, de gozaru"
Mata Sanosuke melebar, dan mengerti dengan 'seseorang' yang disebutkan Kenshin, Sano memandangnya dengan serius. "Apakah kau juga menyadarinya, Kenshin?"
Kenshin tersenyum "Bagaimana bisa kami tidak menyadarinya, de gozaru ka? Dia sudah tinggal di sini selama 3 bulan lebih dan kami selalu memperhatikannya"
"Apakah sebaiknya ku tanyakan saja langsung kepada Megumi?"
"Sebaiknya jangan dulu, Sano. Biarkan Megumi-dono yang memutuskannya. Saat dia sudah siap dia pasti akan menceritakan semuanya kepada kita, de gozaru. Sessha hanya bisa menyarankan kepadamu untuk bersabar sampai waktunya tiba, de gozaru yo"
Sanosuke mengangguk menandakan dia mengerti maksud Kenshin tapi dia agak sedikit kecewa, karena dia ingin segera mengetahui siapa sebenarnya ayah Asami.
"Ah, dan satu lagi, Sano" Sano langsung berbalik kearah samurai berambut merah itu dan memandangnya dengan antusias. "Sebaiknya kau ikuti saran Megumi-dono, untuk memotong rambutmu karena membuat orang lain merasa agak takut, de gozaru yo" Kenshin tertawa sambil berlalu meninggalkan Sanosuke yang mendengus kesal kearahnya.
"Che, kuso. Aku kira dia akan berbicara apa kepadaku. Ternyata cuma mau menghinaku, kono yaro…" walaupun agak kesal Sano tetap menuruti pendapat mereka. Dia langsung bercukur dan memotong rambutnya sendiri.
Malam itu Sanosuke duduk sendirian di engawa,dia terus memandangi bulan dan bintang-bintang serta mengingat-ingat kenangannya dengan Megumi saat terakhir kali mereka bersama.
Setelah sekian lama berpikir akhirnya Sanosuke bangkit dari duduknya dan memukul telapak tangan kirinya dengan tangan kanan yang mengepal membentuk tinju. Dia berlari kearah kamar Kenshin dan Kaoru dan membukanya dengan kasar.
"Kenshin!" teriaknya. Sontak saja Kenshin dan Kaoru terbangun dengan kaget dan Kenji langsung menangis ketakutan.
Sano mencengkram kerah Kenshin, mengguncangnya dengan keras hingga membuatnya terduduk "Kenshin bangun! Aku ingat sekarang dan aku tahu itu" teriak Sano dengan senangnya.
Namun dibalas dengan tampang ngantuknya, Kenshin yang hanya mengatakan "Orororororo"
"Sano!" teriak Kaoru yang tidak kalah nyaringnya. "Apakah kau tidak lihat kami sedang tidur?!" bentak Kouru sambil menenangkan Kenji yang terus menangis. "Apakah kau tidak bisa menunggu sampai besok pagi?!" katanya lagi dengan gusar.
Yahiko yang ketiduran di dojo pun ikut terbangun karena mendengar mereka berteriak. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada yang masih mengantuk.
Kaoru yang sudah sangat kesal segera berdiri dan melempar mereka keluar dari kamarnya."Kau juga bocah, pergi sana tidur! Jangan ikut-ikutan mengganggu kami!" Kaoru menutup pintu kamar mereka dengan keras.
"Haaah… apa yang terjadi? Kenapa aku juga diusir?" tanya Yahiko bingung. "Oi, busu! Akan ku pastikan kau akan menyesal besok karena telah melemparku keluar!" ancam Yahiko dengan mengacungkan tinjunya ke udara seolah ingin meninju Kaoru. "Ini sungguh tidak adil. Orang yang tidak bersalah ikut-ikutan diusir, dimana letak keadilan itu? Ini yang ku sebut-"
Kata-kata Yahiko terputus setelah mendengar pintu kamar dibuka dan muncullah sosok yang sangat mengerikan. Sosok Kouru yang memiliki mata tajam dan berwarna merah, bertanduk dan membawa tombak yang seakan siap melahap mereka berdua.
"Go… go… gomennasai" saking takutnya Yahiko tergagap dan mengangkat kedua tangannya, telapak tangannya menempel erat satu sama lain seolah ingin meminta ampun kepada 'setan Kaoru'.
BUG! BUG! BUG! Kaoru tanpa ampun memukul mereka berdua.
"Ini semua salahmu, Sano" kata Yahiko sambil berjalan menjauh dari kamar Kaoru. "Apa sih yang kau pikirkan berteriak-teriak tidak jelas di kamar busu?"
"Siapa yang berteriak-teriak tidak jelas?" tanya Sano kesal. "Aku hanya bilang kalau aku sudah ingat semuanya"
"Hah? Ingat apa?" tanya Yahiko. "Aku tidak yakin dengan perkataanmu, selama ini yang ada di otakmu hanyalah makan. Jadi apa yang lebih penting daripada makan sampai kau tidak bisa menundanya sampai besok?"
"Asami. Aku adalah ayahnya" Sano berkata dengan bangganya.
"HAAAAAAAAAAAH! Apa… apa… apa… aku tidak salah dengar?" Sano menggeleng mantap. "Uso! Kau pasti bercanda"
"Uso janai. Aku ingat persis kapan kami membuatnya" mata Yahiko seakan keluar dari kelopaknya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sanosuke.
"Kenapa kau bisa begitu yakin?" Yahiko masih sulit menerima kenyataan. "Apakah Megumi memberitukannya kepadamu?" Sano kembali menggeleng. "Lalu darimana kau tahu hal itu?"
"Apa kau selama ini tidak memperhatikannya? Wajahnya, sifatnya… dan aku ingat saat malam itu, malam sebelum Megumi pulang ke Aizu" Sano agak sedikit malu mengungkapkannya "Kami… kami…"
"Kami, apa?" tanya Yahiko semakin penasaran.
"Kami… melakukannya" jawab Sano sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Kau… dan… Megumi? Kau… melakukannya?" kali ini Yahiko bertanya dengan penuh selidik. "Apakah itu benar? Hanya malam itu?" Yahiko diam menunggu jawaban dari Sano yang akhirnya dijawab dengan anggukan kecil dari Sano. "Kau… yakin… hanya malam itu?" tanyanya lagi dengan mendekatkan wajahnya kearah Sano, memperhatikan ekspresi wajahnya dengan seksama. Sano kembali mengangguk pelan. "Bagaimana dia bisa hamil hanya dengan 'satu malam'mu, baka! Kau pikir aku bodoh?! Aku bukan anak kecil lagi, Sano?!" Yahiko agak sedikit meninggikan suaranya sampai Sano harus membungkam mulutnya dengan erat.
"Baiklah… baiklah… kau bisa diam tidak?" Sano yang agak frustasi dan malu akhirnya menyerah dengan Yahiko. "Kami melakukannya berkali-kali malam itu, sampai Megumi ketakutan hamil tapi aku tidak peduli. Dan pagi harinya sebelum dia berangkat ke stasiun kami juga melakukannya lagi" Sanosuke terus menundukkan wajahnya karena malu. Sano sedikit mengangkat wajahnya melirik kearah Yahiko "Tapi aku senang dia tidak menyesal dengan semua itu"
"Hahahahahaha…" Yahiko tertawa terbahak-bahak, dia sampai harus memegangi perutnya karena geli. "Aku sudah tahu itu. Pasti kaulah ayahnya... hahahahahahaha…" Kaoru yang mendengar Yahiko tertawa keras langsung terbangun lagi dan melemparnya dengan bokken.
Dug! Bokken itu mendarat persis di kapala Yahiko. Dan muncullah benjolan tinggi di tengah kepalanya.
"YAHIKOOOO… SANOSUKEEEE…" Geramnya sangat kesal. Yahiko dan Sano pun langsung lari.
"Hey, bocah. Sebaiknya aku mengatakan ini kepada Megumi" kata Sano yang langsung hendak berlari ke klinik. Sanosuke hanya berhasil beberapa langkah sebelum Yahiko menarik lengannya.
"Oy, oy… pejantan tangguh. Sebaiknya kau tunggu sampai besok kalau kau tidak ingin mendapatkan cenderamata seperti yang ada di kepalaku ini" kata Yahiko sambil menunjuk benjolan di kepalanya.
Dengan kesal dan terpaksa Sano pun masuk kembali ke dalam diikuti oleh Yahiko yang mengusap-usap benjolannya. Sambil berjalan masuk Yahiko masih sempat menggoda Sano.
"Hey, Sano"
"Aa?"
"Bisakah kau memberitahuku satu hal?"
"Nani?"
"Bagaimana caramu melakukannya?"
"Naniiiiii?" jawab Sano dengan kesal dan berlari mengejar Yahiko yang terlebih dahulu kabur.
Namun, telinga tajam Kaoru masih terganggu dengan celotehan dua makhluk tersebut. Diapun kembali terbangun dan melemparkan dua bokken lagi kearah mereka.
Dug! Dug! Muncullah benjolan di kepala Sano dan menambah benjolan lagi di kepala Yahiko.
"Bisakah kalian tidak ribut malam-malam beginiiiiiii!" geramnya lagi.
"Awww… berapa banyak bokken yang dia miliki?" tanya Sano yang kini juga mengusap kepalanya.
"Entahlah. Yang jelas kau tidak tau betapa tersiksanya Kenshin dengan temperamennya itu"
"Aku sudah bisa membayangkannya"
"Tapi aku masih belum bisa membayangkannya"
"Hmm? Apa yang tidak bisa kau bayangkan?" Sano tertawa mengejek. "Ku kira kau tidak sepintar yang ku bayangkan"
"Itu karena aku masih belum berpengalaman"
"Hmm? Apa maksudmu?" Sano bingung dengan pernyataan Yahiko.
"Yah… aku masih heran, bagaimana caramu melakukannya?" kini tanda siku-siku mulai bermunculan di dahi Sano. "Bagaimana caramu melakukannya dengan gadis terhormat dan berpendidikan seperti Megumi? Bagaimana dia mau tidur dengan seorang berandalan yang tidak memiliki reputasi seperti dirimu? Yah, aku masih belum berpengalaman dengan wanita makanya aku masih belum bisa membayangkannya"
Yahiko berbalik ke arah Sano dan melihat tanda siku-siku yang ada di dahi Sano. "Oy oy, apa ini?" tanyanya tanpa dosa, dia mulai memungutnya dan membuangnya jauh-jauh. (A/N: Saya juga heran, kok lambang siku-siku yang ada di dahi bisa dipegang dan dipungut?)
"Serius! Aku benar-benar ingin tau, bagaimana caramu melakukannya?" Yahiko mendekat kearah Sano dan berbisik. "Tidak bisakah kau menceritakannya padaku? Sedikiiiiit saja. Aku janji tidak akan memberitahukannya kepada siapapun"
"Apa kau sungguh ingin tau?" Yahiko mengangguk, Sano pun memberi isyarat untuk menyuruhnya lebih mendekat lagi, Yahiko pun menurut. Setelah Yahiko cukup dekat dengannya, Sano langsung memukul kepalanya dengan keras. "Apa yang ada di dalam kepalamu, hah?" bentak Sano.
"Itaaaaaiii… Temee! Nani yatten no yo!?" Jawab Yahiko sambil mengusap kepalanya yang sakit.
Kini sudah tiga benjolan bersarang di kepala Yahiko. "Aku tidak menyangka ternyata isinya penuh dengan pikiran-pikiran kotor. Mungkin kepalamu sudah rusak karena terlalu sering ditimpuk oleh Jou-chan" Yahiko mendengus kesal dan mereka kembali ke kamar masing-masing.
Keesokan harinya, Yahiko berusaha membangunkan Sanosuke yang masih mendengkur keras di kamarnya. "Hey, pria mesum! Ayo bangun! Tadi malam kau begitu bersemangat ingin memberitahu Megumi segalanya. Sekarang sudah siang! Ayo bangun!" Sanosuke tidak menggubrisnya dan terus tidur.
"Apa yang ingin diberitahukan Sano kepada Megumi?" Yahiko terkejut mendengar suara Kaoru yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.
"Sebaiknya kau tanyakan saja pada orang ini" Yahiko menunjuk Sano yang masih sibuk mendengkur.
"Hey, pemalas. Ayo bangun!" kini Kaoru pun ikut-ikutan membangunkan Sanosuke yang terus tidur seperti orang mati. Akhirnya dengan susah payah Yahiko dan Kaoru berhasil juga membangunkan Sano.
"Sano, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kaoru dengan tatapan yang tajam dan tangan yang disilangkan di depan dada.
Sanosuke hanya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aaaah… eeto…"
"Nani?" tanya Kaoru lebih mengancam.
"Aaaakkkhhh… chikuso!" Sano semakin kesal dan kembali menggaruk kepalanya bahkan kali ini lebih kasar. "Sekarang aku tidak yakin apa yang telah terjadi" jawabnya dengan agak bingung, entah dia masih dalam pengaruh alkohol ataukah bingung dengan keadaan yang sekarang dihadapinya.
"Yang benar saja, Sano. Uso tsukane yo…" bentak Yahiko.
"Tsuitenai!" balas Sano.
"Kau begitu yakin tadi malam!"
"Entahlah, aku benar-benar bingung. Hottoite yo!" kali ini Sano yang membentak dan membuat Yahiko serta Kaoru pun tersentak.
"Baka" gumam Yahiko sebelum pergi meninggalkan Sano sendirian dikamarnya.
"Yahiko, katakan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Kaoru.
"Entahlah, tadi malam Sano hanya mengatakan kalau dia ingin mengatakan 'sesuatu' kepada Megumi"
"Sesuatu? Sesuatu apa?"
Yahiko mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Sesuatu… sesuatu… seperti… eeto…" kali ini Yahiko memainkan jari-jarinya "Eeto…"
"Seperti…?" Kaoru sudah mulai kesal menunggu jawaban dari Yahiko. "Seperti apa, Yahiko?"
"Eetoooo… As-Asami…" Yahiko melirik kearah Kaoru yang kini sudah menyilangkan tangan didepan dada sambil menggerak-gerakkan ujung kakinya naik turun berusaha menahan amarahnya kepada Yahiko. Yahiko menarik nafas dalam sebelum bersiap-siap mengucapkan hal yang sulit kepada Kaoru. "Asami adalah anaknya!" teriaknya dan Kaoru pun langsung mendaratkan pukulan dikepala Yahiko.
"Yahiko!" bentak Kaoru. "Kau membuatku kaget, tahu" Kaoru diam sejenak. "Tapi… tapi… apa yang kau ucapkan tadi?"
"Busu… Nani yatten no yo?" jawab Yahiko marah. "Bukankah kau sudah mendengar perkataanku barusan"
"Tapi… tapi… aku tidak yakin apakah aku mendengarnya dengan benar" kata Kaoru tergagap.
"Ahou ka?" Yahiko acuh sambil berlalu meninggalkan Kaoru. Baru beberapa langkah Yahiko berjalan Kaoru sudah menahannya dengan menarik kerah bagian belakang Yahiko.
"Chotto matte. Apa kau bilang? Apa kau sudah bosan hidup, huh?" Yahiko menelan ludah, melirik ke belakang dan melihat wajah Kaoru yang sudah berubah menyeramkan, dengan wajah yang membesar bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri, mata merah menyala, taring yang siap mencabik-cabiknya, dan tanduk yang menjulang tinggi.
"Gomennasai, Kaoru-sama"
"Baiklah, sekarang ceritakan kepadaku dengan lebih rinci dan jelas" Yahiko pun menceritakan semua yang dia tau kepada Kaoru. Mata Kaoru merem melek mendengarkan cerita Yahiko. "Apakah semua itu benar?" tanyanya dengan syok.
Yahiko mengangkat kedua bahunya, mengisyaratkan bahwa dia pun tidak tahu. "Kita akan tahu kebenarannya setelah Sano berbicara kepada Megumi"
Kaoru mengangguk pelan "hmm… baiklah, aku mengerti sekarang. Tapi… bagaimana caranya agar kita bisa membujuk Sano pergi menemui Megumi?" Kaoru berpikir sebentar dan tiba-tiba muncul lampu yang menyala dari atas kepala Kaoru yang membuat Yahiko menoleh kearahnya "Aku tahu!" semburnya.
Kaoru pun berbisik kepada Yahiko, Yahiko hanya manggut-manggut mendengarkan ide Kaoru sebelum mereka bersiap-siap menjalankan rencana Kaoru.
Yahiko pergi menemui Kenshin dan mengatakan kepadanya kalau Kaoru menyuruhnya ke pasar.
"Tapi, sessha harus mencuci dulu, de gozaru yo" Yahiko langsung menarik Kenshin keluar dari dojo.
"Sekarang pergilah sebelum busu mengamuk. Masalah cucianmu biar busu yang urus semuanya. Dan jangan lupa, jangan pulang sebelum sore, ok? Ja…" Yahiko mendorong Kenshin menjauh.
"Yahiko… chotto…" sebelum Kenshin sempat berkata-kata Yahiko langsung menutup pintu pagar dojo tepat di depan wajahnya, meninggalkan battosai malang berambut merah itu di depan dojo. "Dia sama sekali tidak mendengarkan, de gozaru yo"
"Oy, busu…!" dari halaman depan Yahiko mengangkat jempolnya kearah Kaoru. Kaoru mengangguk dan langsung mendobrak masuk kekamar yang sekarang ditempati Sano.
Kaoru memaksa dan menarik Sano keluar kamar. "Dengar Sano, kalau kau masih tetap ingin tinggal di sini maka kau harus mematuhi perintahku, mengerti? Sekarang kerjakan semua pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan oleh Kenshin!"
"Kenapa harus aku yang mengerjakannya? Bukankah itu pekerjaan Kenshin, jadi suruh saja dia yang melakukannya"
"Kenshin sekarang sedang sibuk berbelanja jadi kau yang harus menggantikannya!"
"Suruh saja Yahiko!"
Yahiko muncul secara tiba-tiba dari halaman belakang diikuti oleh murid-muridnya. "Oy…apa kau tidak lihat aku sedang sibuk sekarang?" Yahiko berdiri dengan tangan kiri dipinggang dan tangan kanan memegang shinai dibahu.
Sanosuke menggeram melihat gaya angguh Yahiko, dan sekaligus bingung melihat murid-murid kenjutsu yang berdiri di belakang Yahiko tidak memakai baju. "Are? Kenapa murid-muridmu tidak memakai baju, Jou-chan?"
"Sudahlah Sano, jangan mengalihkan pembicaraan. Lakukan saja tugasmu, SE-KA-RANG!" Kaoru menahan tawa di belakang Sano dan mengedipkan mata kepada Yahiko dan murid-muridnya.
Sano sangat terkejut melihat begitu banyak tumpukan baju kotor yang sudah menunggunya. "Nanda korya!? Apa kau sengaja mengerjaiku?" tanya Sano dengan kesal.
"Oh, aku lupa mengatakannya kepadamu, hari ini murid-muridku begitu bersemangat. Jadi… yaaa… begitulaaah… dan tolong sekalian kau cuci juga baju-baju kotor mereka. OK?" Kaoru memutar bola matanya. "Cepat selesaikan pekerjaan ini karena masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang menunggumu di dapur, di halaman, dll"
"HAAA!" Sano melotot kearah Kaoru.
Kaoru pergi meninggalkan Sano, dia bergabung dengan Yahiko yang bersembunyi di belakang pintu sambil ber-highfive ria. "Kita lihat saja, sampai berapa lama dia bisa bertahan" Yahiko mengangguk setuju.
Sano terus ngedumel saat mencuci, tapi dia langsung berhenti setelah beberapa saat "Kuso! Untuk apa aku melakukan semua ini? Mencuci pakaian kotorku saja aku males apalagi disuruh mencucikan pakaian orang. Pakaian kotor Jou-chan saja sudah banyak, sekarang ditambah lagi pakaian murid-muridnya. Ini sudah keterlaluan…"
Sano membanting pakaian yang sedang diremasnya. "Cukup sudah! Ini tidak bisa didiamkan. Mau di taruh di mana mukaku kalau orang lain melihatku mencuci seperti ini" Sano langsung berdiri, menoleh ke kanan dan ke kiri dan langsung lari meninggalkan dojo.
Kaoru dan Yahiko yang dari tadi cekikikan mengawasi Sano dari balik pintu akhirnya keluar dari persembunyian mereka dan tertawa terbahak-bahak melihat Sano yang lari seperti maling yang ketahuan mencuri.
Sano terus berlari tak tentu arah, bingung tidak tahu harus kemana dan tidak ada tujuan. Kakinya terus melangkah membawanya ke klinik Dr. Genzai.
Sesampainya di depan klinik, Sano melihat Asami yang sedang asyik bermain sendirian. 'Kemana Ayame dan Suzume?' pikirnya dalam hati.
Sanosuke mendekat kearahnya dan Asami pun terdiam sejenak melihat bayangan yang nampak panjang di depannya sebelum mendongak melihat orang yang telah menutupinya dari terik matahari.
"Otousan!" teriaknya girang dan langsung bangkit dari tempatnya bermain dan memeluk Sano.
Sano mengangkatnya sebelum bertanya "Okaasan wa?"
Asami masih memperhatikan perubahan dari Sano dan mengelus rambut Sano yang kini telah dipotong pendek seperti saat ia belum meninggalkan Jepang. "Okaasan sedang sibuk di dalam. Hari ini banyak orang yang datang, Ayame-nee-chan to Suzume-nee-chan juga ikut membantu"
"Sou ka. Otousan masuk dulu ya"
"Apakah Otousan sakit?" tanyanya dengan khawatir sambil memegang dahi, pipi dan leher Sano untuk memeriksa apakah dia demam.
"Iie. Otousan hanya ingin berbicara pada Okaasan. Sekarang Asami bermain dulu disini" Asami mengangguk dan Sano pun menurunkannya kembali.
Asami hanya diam memperhatikan Sano yang berjalan masuk ke dalam klinik.
Saat memasuki ruang kerja Megumi, Sano hanya diam di depan pintu sambil memperhatikan Megumi yang masih sibuk dengan pasiennya.
Merasakan ada orang yang berdiri dibelakangnya, Megumi berbalik dan melihat Sano menatapnya dengan tatapan yang tajam, aneh, bahkan bisa dibilang menakutkan.
"Sano? Nande koko ni?" Sano tidak menjawab. "Tori atama?" Sano masih tidak menjawab. Megumi menghela nafas dan berjalan kearah Sano berdiri. "Sano? Nani ga atta?" melihat tatapan Sano yang masih terpaku menatapnya Megumi menarik lengan Sano dan berbalik kearah pasiennya "Obaasan, sugu modotte kuru kara" Megumi pun langsung keluar dengan menarik Sano ikut bersamanya.
Sesampainya di halaman belakang Megumi langsung terlihat kesal dan berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan "Ada apa denganmu, Sano!?"
Sano masih tak bergeming. "Sano!" bentak Megumi sekali lagi. "Dengar Sano, aku sedang sibuk sekarang dan aku tidak bisa berlama-lama disini. Cepat katakan apa yang kau inginkan? Apa kau terluka lagi?" Sano menggeleng. "Baiklah kalau begitu, silakan pulang sekarang karena aku masih sibuk" Megumi berbalik hendak meninggalkan Sano, namun Sano langsung menahannya.
"Tada kirei da, kyou wa" Sano bergumam.
Megumi berbalik dan memandangnya heran. "Kau kesini cuma ingin mengatakan itu? Pulanglah Sano!"
"Iie, tapi kau terlihat cantik setiap hari"
"Aku serius, Sano. Pulanglah sekarang, karena aku sangat sibuk dan tidak bisa meladenimu saat ini"
"Aku akan menunggumu"
"Iya, aku tidak bisa ditunggu"
"Aku akan menunggumu sampai kapanpun, Kitsune"
Megumi mendesah dan berbalik, meninggalkan Sano dan kembali ke tempat prakteknya. "Omatase shichai mashita" Megumi menyapa pasiennya kembali.
"Ah, tidak apa-apa, sensei" Pasien itu terlihat ragu-ragu namun memberanikan diri untuk bertanya kepada Megumi. "Ano… sensei… Apakah pria tadi suami anda?"
Megumi yang terkejut mendengar pertanyaan dari nenek yang merupakan pasiennya hanya bisa menggelengkan kepala dengan mulut ternganga.
"Ah, gomen ne. Apakah dia pacarmu?"
"Bukan" Megumi hanya menjawab singkat.
"Tapi kalian terlihat cocok sekali. Pemuda tadi sangat tampan dan gagah dan anda juga sangat cantik, sensei. Kalian sangat serasi" sang pasien menggodanya.
Megumi tersipu. "Ah, Obaasan…" jawab Megumi. "Baiklah saya rasa punggung anda sudah mulai membaik, tapi anda harus tetap meminum obat ini 3 kali sehari dan perbanyaklah istirahat. Cobalah untuk tidak terlalu lelah dalam bekerja, Obaasan"
"Hai, arigatuo gosaimasu, onna-sensei" setelah pasiennya pergi Megumi memandang kearah Sano yang sedang asyik menemani Asami bermain.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Sano? Apakah kau ingin menjalin hubungan kembali denganku" Megumi menggeleng. "Ah, tidak mungkin. Aku mungkin terlalu berharap" Megumi bergumam sendiri.
Sano dengan sabar menunggu Megumi selesai melayani semua pasien-pasiennya, sampai akhirnya dia melihat tidak ada lagi pasien yang mengantre di ruang tunggu dan mendengar pasien terakhir Megumi mengatakan "Taihen osewa ni narimashita, Sensei" setelah pasien itu keluar, Sano pun menarik nafas dan menyiapkan mentalnya untuk berbicara dengan Megumi dan bersiap dengan kenyataan yang akan dihadapinya nanti.
"Kita perlu bicara, Megumi" Megumi yang sedang sibuk membersihkan dan merapikan peralatan kedokterannya sontak terkejut mendengar suara yang agak serius dari Sano.
"Sano! Kau mengagetkanku. Aku kira kau sudah pulang sejak tadi" bohong Megumi, sebenarnya saat Sano keluar menemani Asami, Megumi selalu memperhatikan mereka.
"Bisa kita bicara sekarang?" suaranya jauh lebih dalam kali ini.
Jantung Megumi berdegup kencang dan sangat gugup, namun dia tidak ingin menampakkannya kepada Sano. Megumi takut untuk memandang Sano, dia hanya terus menyibukkan diri dengan peralatan-peralatannya.
Sano perlahan mendekat kearahnya, Megumi yang terlalu gugup hanya mendengar suara dentingan peralatan medis dan suara detak jantungnya yang terlalu keras tanpa mendengar suara langkah Sano yang semakin dekat di belakangnya.
"Bisakah kau berhenti sebentar?" Sano yang sudah berdiri di belakangnya langsung membalikkan Megumi. Memaksanya untuk menatap mata Sano. Sanosuke mengambil baki dan penjepit stainless steel yang sedang dipegang Megumi dan menjauhkannya ke samping.
Megumi hanya bisa menunduk dan memejamkan mata dihadapannya. "Megumi…" suaranya pelan. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi" suara Sano semakin lirih. "Ceritakan padaku tentang Asami? Apa… kau benar-benar sudah menikah? Atau… aku… adalah ayahnya?"
Megumi tanpa sadar meneteskan air matanya dan terisak pelan namun cukup jelas ditelinga Sano.
Sano mengumpat pada dirinya sendiri. 'Apa aku terlalu terus terang? Kuso! Aku sudah mengacaukan semuanya' pikirnya. "Oy oy, Megitsune. Kenapa kau menangis? Apa aku telah melukai perasaanmu?"
Megumi menggeleng dan mendorongnya menjauh. "Tidak! Asami adalah anakku!" dia berbicara tanpa sadar.
"Aku tau, aku hanya menanyakan siapa ayahnya" Sano terdengar sedikit memaksa. "Apakah dia anakku atau bukan?"
"Bukan! Kau bukan ayahnya! Aku hanya seorang wanita bodoh yang mau ditiduri oleh lelaki yang tidak berguna dan tidak bertanggung jawab yang sudah meninggalkan kami!" Megumi meledak dalam amarah dan tangis. "Sekarang pergilah dan jangan mengganggu kehidupan kami lagi!" teriaknya.
Entah disadari atau tidak Megumi mengucapkannya begitu keras sehingga terdengar oleh semua yang berada di klinik itu.
Sano hanya terdiam karena terkejut, bingung hendak melakukan apa. Sebenarnya Sano sangat sakit melihatnya menangis seperti itu namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, Sano hanya bisa menyesali perbuatannya yang sudah menyebabkan Megumi menangis begitu.
"Megumi…" Sano berusaha membuatnya tenang.
"Jangan sentuh aku, pergilah"
Melihat Megumi yang terus menangis Sano juga terus berusaha menenangkannya, dengan membelai rambut panjangnya. "Sshhh… tenanglah" gumamnya.
"Kore wo yamete kudasai" dengan suara pelan dan bergetar Megumi berusaha mengucapkan kata-katanya, namun Sanosuke dapat mendengarnya dengan jelas.
Tapi Sano mengacuhkan komentar Megumi dan terus membelainya.
"Onegaishimasu" Megumi menepis tangan Sano dan berlutut sambil menangis dihadapannya.
"Megumi, jangan seperti ini!" Sano berusaha membangunkannya namun Megumi tetap berlutut.
" Tolong tinggalkan kami. Onegaishimasu... Onegaishimasu… Onegaishimasu…"
Dr. Genzai, Ayame, dan Suzume juga hanya bisa diam dan berpura-pura tidak mendengar apa-apa. Mereka mendengar suara kaki kecil yang sedang berlari dilorong. Mereka bertiga langsung menoleh kearah suara tersebut dan terkejut melihat Asami yang sedang berlari hendak mendekati Megumi. Dr. Genzai berusaha menahan Asami namun sudah terlambat, karena Asami begitu cepat berlari menghampiri orang tuanya.
"Okaasan!" teriak Asami dan langsung memeluk Megumi. "Okaasan, ada apa? Apa yang terjadi, kenapa Okaasan mengangis dan berteriak?" tanyanya polos.
Megumi langsung memeluknya erat, seolah takut akan ada orang yang mengambil Asami darinya dan memisahkan mereka.
Sano mundur sedikit demi sedikit sampai mendekati pintu. Sanosuke merasakan tangan yang agak besar memegang bahunya, Sano berbalik masih dengan wajah terkejutnya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan mendapati Dr. Genzai yang sedang mengangguk pelan kearahnya.
Dr. Genzai menatap mereka dengan iba dan mengajak Sano keluar. "Beri dia waktu, Sano. Aku yakin dia tidak bermaksud seperti itu" Sano memandangnya. "Pulanglah dulu, aku akan membicarakannya pelan-pelan nanti pada Megumi. Percayalah padaku, Sano. Aku mengerti perasaanmu sekarang, namun saat ini kau juga tidak bisa menyalahkan Megumi atas tindakannya"
Dr. Genzai mengantarkan Sano ke halaman depan. "Cobalah untuk rileks, Sano. Jangan terlalu memikirkan masalah ini. Kita tunggu sampai Megumi tenang dulu baru kita bicarakan baik-baik"
"Wakatta! Aku mengandalkanmu dalam masalah ini, Genzai-sensei. Kau sudah seperti orang tua baginya, dan aku harap dia mau berkata jujur kepadamu. Baiklah, aku pergi dulu. Ja, mata ne"
Dictionary
- Hayaku, Hayaku ikou yo! : cepat, ayo! / ayo cepat!
- Mochiron, Mochiron dayo : tentu/ tentu saja
- Shikashi : tapi
- Uso janai : aku tidak bohong
- Nani yatten no yo : apa yang kau lakukan? (bahasa yang digunakan para Gengster/ bahasa tidak formal)
- Uso tsukane yo : jangan bohong! (kata ini digunakan oleh laki-laki. Perempuan biasanya menggunakan kata: Uso tsukanai de)
- Tsuitenai : aku tidak berbohong (jawaban untuk menjawab 'Uso tsukane yo')
- Hottoite yo : tiggalkan aku sendiri
- Ahou ka : apakah kau bodoh
- Okaasan wa : dimana Okaasan
- To : dan
- Nande koko ni : kenapa kau di sini
- Sugu modotte kuru kara : saya akan segera kembali
- Tada kirei da, kyou wa : kau tampak sangat cantik hari ini
- Omatase shichai mashita : maaf telah membuatmu menunggu
- Taihen osewa ni narimashita : terima kasih banyak atas keramahan anda
- Kore wo yamete kudasai : tolong hentikan ini
- Onegaishimasu : saya mohon
Maaf apabila ada kesalahan dalam dictionary saya
##### Please Review #####
