Moshi moshi! Ika ga desuka?

Undine and Nadia are back!

Terima kasih banyak atas respon kalian terhadap fic ini! Terima kasih untuk: hamazaki youichi, Devilish 'Yuuri' aka Fio-chan, Cielheart Ie'chan, Salma Aquamarine,sudah kubalas lewat PM yah!

Dan yang nggak log in:

Zzz: terima kasih! Roger!

ShiroNeko: hahaha, kalo ada dia ceritanya bisa ganti jadi tentang amefuto…awas ada montakong!*dilempar pisang* thanks!

Airi shirayuki: thank you! Siaaap!

Baiklah, kita lanjutkan ceritanyaaa! xD


"Halo, cantik…," ujar orang itu yang ternyata adalah seorang pria dengan suara yang menyeramkan, sama dengan auranya.

Mamori menoleh dan terkesiap.

"K-kau?" ia terpojok.

"Jangan kaget begitu…," pria berambut gimbal itu semakin mendekat, "Seperti kau tidak kenal aku saja."

"Mau apa kau, Kongougawa Agon?" tanya Mamori ketus dengan mimik tidak suka.

Kongougawa Agon adalah pelanggan tetap Kuroi Sakura. Ia adalah pimpinan dari sebuah kelompok penjahat kelas kakap yang memiliki banyak uang. Sayangnya ia tak pernah disukai oleh para geisha karena sifatnya yang kasar dan suka memaksa. Namun tak ada yang berani melawannya karena jika itu terjadi, ia bisa langsung menutup Kuroi Sakura.

"Aku heran kenapa kau selalu menghindar dariku," ujar Agon sinis, "Setiap aku ingin memanggilmu ke ruangan yang kusewa, kau pasti tidak ada."

Mamori memicingkan mata. Ia memang sengaja menghindar dari Agon selama ini. Gadis itu sangat tidak menyukainya.

"Mungkin memang kebetulan saja," elak Mamori. Ia memasang wajah segalak mungkin, menyembunyikan ketakutan yang membuat ia merinding. Hawa orang ini sangat menyeramkan, batinnya.

"Maka itulah aku sengaja menemuimu duluan supaya…," Agon menyeringai seram, "Kau tidak bisa kabur lagi."

Sang geisha menatap orang itu dengan tajam.

"Maaf, tapi aku sedang sibuk."

Kata-kata Mamori barusan rupanya langsung menyulut emosi Agon. Pria itu dengan cepat mendorongnya hingga tersungkur ke tanah, menabrak tembok di belakangnya.

Ia lalu tertawa penuh kemenangan, berjongkok dan memaksa Mamori menatapnya dengan mengangkat wajah gadis itu.

"Aku tidak terima penolakan," ujarnya sambil mendekatkan wajahnya pada Mamori. Mamori berusaha melepaskan tangan itu dari wajah cantiknya, namun Agon malah mencengkramnya semakin kuat dengan kedua tangannya, maju lebih dekat dengan mata biru safir milik sang geisha.

Mamori menggeram marah.

"Kukuku…," Agon terkekeh, "Bukankah sudah kubilang, aku tidak terima penolakan."

Mamori berpikir untuk berteriak minta tolong, tapi situasi terlalu berbahaya. Ia memohon pertolongan dalam hatinya.

Dan tiba-tiba saja…

BRUAGH! KLONTANG!

Agon spontan menoleh ke arah suara. Terlihat tong tempat sampah menggelinding di dekat kaki orang yang barusan menendangnya.

Hiruma Youichi.

Agon menggeram singkat dan menyumpah,"Cih!"

Mamori terkejut namun juga bersyukur karena ia selamat dari cengkraman Agon.

"Pergi kau, medusa berambut ungu," desis Hiruma sedingin es dengan tatapan menghujam pada Agon. Matanya yang hijau zamrud berkilat ditimpa cahaya bulan.

Agon melepaskan Mamori dengan kasar, dan berdiri. Dua laki-laki itu saling mengeluarkan tatapan membunuh.

"Mukyaaa! Polisi Hiruma jalannya cepet banget MAX!" terlihat Monta berlari-lari bersama Sena.

"HIE?" Sena yang sampai duluan terheran-heran dengan situasi yang ada, "Ada apa ini?"

Agon akhirnya melepaskan satu tatapan kejam terakhir pada Hiruma dan beranjak pergi. Sena yang melihat Mamori reflek berlari ke arahnya.

"Mamori-san!"

BRUK!

Sena sukses menabrak Agon dan terhuyung.

"Mukya! Sena! Apa yang kaulakukan?" teriak Monta panik saat melihat teman barunya itu.

"Kau…," Agon menggeram marah dan memelototi Sena, "Sampah kecil…!"

"HIEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sena.

Untunglah Agon tak mengambil tindakan. Ia akhirnya benar-benar pergi dari sana.

Sena kembali menghambur pada Mamori,"Mamori-san! Kau tidak apa-apa?"

Mamori tersenyum lemah dengan wajah pucat. Sena membantunya berdiri.

"Aku baik-baik saja," jawabnya. Gadis itu lalu menatap Hiruma dengan tersipu-sipu.

"Terima kasih, Polisi Youichi," ujar Mamori sambil tersenyum manis.

"Y-Youichi?" gumam Monta, "Aku baru tahu ada orang yang berani memanggil nama depannya seperti itu!"

Yang dipanggil Youichi hanya menaikkan alis dengan cuek.

"Sena, bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Mamori sedikit khawatir.

"Aku datang ke sini diantar oleh Polisi Hiruma dan temanku, Monta," jawab Sena sambil menunjuk Monta.

Baru saja Mamori akan mengucapkan salam pada Monta, Hiruma langsung berjalan masuk sambil mengajak mereka semua.

"Kita bicara di dalam saja."

Tiga orang lainnya entah mengapa langsung menuruti perintahnya.

-XxX-

Monta's POV

Polisi Hiruma menyewakan kami sebuah ruangan untuk berbicara, dan setelah itu ia langsung pergi begitu saja dari sana. Ruangan yang kami tempati bertatami hijau dengan dinding serta pintu bercorak sakura berwarna hitam.

"Jadi…emm…," Mamori tersenyum padaku dan merunduk, "Salam kenal, Monta. Aku Mamori!"

DEG!

"Kau kenapa, Monta?" tanya Sena saat melihatku mematung dengan tampang grogi.

Tidak…aku tidak apa-apa…hanya saja…

"Monta-kun, kenapa? Apa kau kelelahan?" Mamori bertanya penuh perhatian dengan senyum malaikatnya.

DEG!

Oh, astaga! Apa aku terkena serangan jantung? Setiap kali mendengar suaranya dan melihat wajahnya yang sangat cantik itu, jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya…mungkinkah…

"A…I-iya, Mamori-san!" akhirnya aku merunduk, sambil menyembunyikan semu merah di pipiku, "Senang berkenalan!"

"Jadi, Sena, ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Mamori.

"Begini, Mamori-san…," Sena mengeluarkan gulungan kertas dari dalam kimononya, "Aku mengantarkan pesan dari ibumu."

Mamori mengernyit dan menerima kertas itu. Ia pun membaca isinya.

"Ibu memintaku pulang," kata Mamori sedih, "Tapi aku masih belum bisa pulang sekarang…"

"Kenapa?" tanyaku dan Sena berbarengan seperti paduan suara.

"Masih banyak yang harus kukerjakan di sini…," jawab Mamori, "Lagipula gaji bulan ini belum kuterima…mungkin nanti setelah menerima gaji aku akan segera pulang."

"Begitu…," Sena mengangguk.

"Lalu, bagaimana ceritanya kalian bisa pergi bersama Polisi Youichi?" tanya Mamori dengan wajah khawatir.

"Karena kami tidak berani pergi ke sini berdua saja," jawab Sena, "Kami merasa…apa ya? Belum cukup umur?"

"Aku merasa Polisi Hiruma bisa membantu. Kalau bersama dia, pasti aman!" tambahku.

"Tapi…," Mamori berkata sambil menuangkan teh di cangkir kami, "Dia 'kan bukan tipe orang yang mau membantu begitu saja…"

"Iya…memang…," Sena menghela nafas, "Dia mau membantu, dengan syarat kami harus membayar pajak dua kali lipat…"

"Astaga!" Mamori terkejut, "Dasar Youichi! Selalu saja bertindak seenaknya!"

DEG!

Wah…selain cantik, gadis ini ternyata pemberani juga! Dia bahkan tidak takut berkata seperti itu tentang Polisi Hiruma!

"Apa kau akan langsung pulang?" tanya Mamori pada Sena.

"Sepertinya begitu, tapi…," Sena terlihat ragu.

"Kenapa, Sena?" tanyaku.

"Begini…ummm…," Sena mengadu jari telunjuknya, "Aku ingin membalas kebaikan Monta yang mengantarku sampai ke sini, sebelum aku pulang…"

Wah, baik sekali dia. Tapi tidak perlu, ah!

"Tidak perlu, sudah sewajarnya aku membantumu, teman…," kataku sambil menepuk bahu Sena.

"Tapi aku harus memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih," ujar Sena.

"Begini saja," Mamori angkat bicara, "Monta-kun, apakah saat ini kau ada masalah yang bisa Sena bantu?"

Kalau ditanya seperti itu, sih…

"Sebenarnya…," aku tertunduk, "Aku sedang menggiatkan bisnis kimono keluargaku, uangnya akan aku belikan obat untuk Ibu yang sedang sakit…"

"Ya ampun…," terdengar Sena bersimpati, "Kenapa kau tidak cerita? Aku 'kan bisa membantumu…"

Aku tersenyum tipis. Lalu wajahku kembali memerah saat Mamori tersenyum padaku.

"Monta, kau sangat baik telah mengantar Sena sampai di sini," pujinya, "Jadi sekarang Sena harus ikut Monta untuk membantu dia berjualan kimono!"

"Hah?" aku terperangah.

"Benar!" Sena mengangguk, "Monta! Aku akan ikut kau berjualan kimono!"

"K-kau tidak perlu melakukannya!" elakku sungkan.

"Jangan menolak, Monta-kun….," pinta Mamori.

Whua….kalau dia yang minta, aku tidak mungkin menolak…

"Biar balasan surat ini kukirim lewat kurir Kuroi Sakura saja," kata Mamori.

"Bagaimana, Monta?" tanya Sena, "Boleh 'kan?"

"Baiklah," jawabku sedikit terharu, "Doumo arigatou gozaimasu!" kataku pada Sena dan Mamori.

"Nah, aku harus mulai bekerja," kata Mamori, "Ayo, kuantar ke pintu keluar!"

Kami bertiga berjalan ke pintu keluar. Saat Mamori berjalan di sebelahku, lagi-lagi perasaan aneh itu datang. Ah, apa sebetulnya yang sedang terjadi padaku?

"Mamori-neechan, kami pamit ya," ujar Sena.

"Jaga dirimu baik-baik, Mamori-san!" ujarku mantap dengan tampang laki-laki sejati.

"Tentu saja. Monta-kun, titip Sena, ya!" kata Mamori.

"Serahkan saja padaku, akan kujaga dia!" seruku,

"Seharusnya aku yang berkata begitu!" protes Sena, "Yang samurai 'kan aku!"

Aku dan Mamori tertawa bersamaan. Ah…lagi-lagi jantungku berdebar.

-XxX-

Maka pergilah Monta bersama teman barunya, Sena, kembali pulang ke rumah keluarga Montarou. Hari sudah malam, dan sepanjang perjalanan mereka bercerita banyak hal untuk mengurangi rasa takut yang mengintai mereka.

-XxX-

"Eh, Sena," aku memanggil Sena sambil bersidekap menahan dinginnya malam, "Mamori-san itu…cantik sekali ya?"

Sena tertawa kecil,"Banyak yang bilang begitu. Aku juga merasa dia cantik, kok."

"Lalu…apa kau tidak naksir padanya?" tanyaku, "Kalian 'kan cukup dekat!"

"Tidak…," Sena menggeleng, "Aku hanya menganggapnya sebagai kakak. Dia juga hanya menganggapku sebagai adik."

"Oh, gitu….," aku manggut-manggut.

"Memangnya kenapa?" tanya Sena.

Aku jadi bingung harus menceritakan ini atau tidak. Malu, MAX!

"Jangan-jangan kau suka pada Mamori-neechan ya?" pertanyaan Sena tepat sasaran.

"Aku juga tidak tahu…," jawabku, "Selama dia bersama kita tadi, jantungku terus berdebar-debar…"

Sena tertawa kecil menanggapiku.

"Memangnya…dia belum punya pacar?" tanyaku ragu.

"Belum," jawab Sena. Aku serasa mendapati cahaya surga menyinariku.

"Serius?" tanyaku lagi. Sena mengangguk.

"Kenapa kau tidak bilang!" kataku riang sambil menepuk bahunya. Sepertinya aku menepuknya terlalu keras, Sena hampir saja tersungkur ke tanah.

"HIEEE!"

"Kalau begitu," aku mengepalkan tangan dan mengucapkan tekadku, "Setelah bisnisku berajalan lancar, setelah obat Ibu terbeli, aku akan mempersunting Mamori-san sebagai istriku! Sudah kuputuskan!"

"Wah wah…," Sena bertepuk tangan memuji, "Rupanya Monta benar-benar menyukai Mamori-neechan!"

"Iya! Aku benar-benar menyukainya, MAX!" seruku gembira.

Saat kami sedang tertawa-tawa, tiba-tiba hidungku mencium bau yang enak dan manis.

"Eh, Sena!" panggilku, "Kau mencium bau manis, nggak?"

Sena menggeleng,"Nampaknya hidungmu peka sekali Monta."

Namun penciumanku benar. Tak jauh dari tempat kami terlihat sebuah kedai dango dengan lampu yang masih menyala. Kelihatannya sedang menyiapkan adonan untuk berjualan besok pagi.

"A-HA-HAAAAAAAAAAAAAA!"

Teriakan barusan sukses membuat aku dan Sena berteriak kaget.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi datang pada kami sambil, err…berputar dengan satu kaki diangkat ke atas. Rambutnya pirang gelap dan agak panjang.

"A-ha-haaa!" ulangnya, "Toko kami masih tutup, datang lagi besok pagi, yaaa!"

"Mukya?"

"HIE?"

Aku dan Sena saling bertatapan dengan wajah bingung. Siapa juuuga yang mau beli dango malam-malam begini?

"Kakak!" terdengar suara seorang gadis, "Jangan mengagetkan orang seperti itu!"

Dari balik tirai di pintu kedai muncullah seorang gadis berambut pendek dengan warna biru keunguan. Wajahnya judes dan langsung menghampiri kakaknya.

"Cepat masuk dan aduk adonannya!" bentak gadis itu. Lelaki tinggi itu meminta maaf dan berputar masuk ke kedai.

"Ah…gomenasai," gadis itu meminta maaf, "Kakakku memang suka bertindak bodoh. Mohon maafkan dia ya!"

Ah…dasar orang aneh! Tapi biarlah!

"Agak kaget sih, tapi tidak masalah…ya 'kan Sena?" jawabku santai.

Lho? Kok tidak ada jawaban?

"Oi, Sena!" aku menyikut lengannya pelan.

Baru kulihat ternyata Sena sedang bengong sambil memasang wajah bodoh. Ia sedang melihat ke arah….gadis itu?

"Dia…manis sekali, ya…," terdengar Sena berdesis pelan.

Mukya?

[to be continued…]


Undine: NYEEEEEEEEEEEH! Pendek amat!

Nadia: Nee-chan! Nggak ada kata-kata lain, apa?*ngelempar kursi*

Undine: *menghindar*Lain kali harus lebih panjang, ya!

Nadia: iya, iya….aku akan berusaha…

Baiklah minna, mohon maafkan kami berdua, ya….ceritanya cukup sampai di sini dulu. Terima kasih banyak sudah membaca dan mohon maaf kalau ada kesalahan.

Mind to review? Anonymous juga boleh ikutan! xD