Chapter 2 : Surprised.
.
"Katniss, larilah. Sekarang." Ucapku sebelum ada yang melihat. Dia mengangguk, mungkin mengira aku Peeta—karena warna rambut kami sama—dan segera bangkit untuk berlari. Aku mendesah lega, dan kembali ke tempat Clove tanpa menyadari ada seseorang yang menatapku tak percaya.
.
.
.
Obsession
Disclaimer: Hunger Games (c)Suzanne Collins
Genre: Angst, Romance and Tragedy. Maybe?
Warning: Canon, alur bisa jadi gajelas, typo's dan OOC (semoga engga), kebanyakan POV sedikit meloncat-loncat alurnya mungkin ya._.
Don't like? Don't read!
~=o=~
Cato POV
.
Aku berjalan cepat menuju tempat Clove, dan sesampai di sana aku langsung melabrak Peeta. "Kau! Ini semua salahmu yang menyuruh kita menginap di bawah pohon itu!" teriakku tepat di wajah Peeta. "Jangan-jangan kau juga yang bekerja sama dengan Katniss untuk mencelakai kami." Desis Marvel yang kelihatannya sangat marah.
"Right, bisa jadi. Bagaimana jika dia di jadikan latihan sasaran pisau untukku?" tanya Clove dengan seringainya yang cukup membuat merinding. "Keep calm, Clove. Jangan di bunuh sekarang. Lebih baik kita siksa dulu—aku saja, maksudku." Ucapku dengan seringai bangga. "Baiklah, tapi serahkan gadis si Lover Boy padaku." Jawab Clove. Aku tertegun, tapi segera mengendalikan emosiku untuk sejenak. "O-okay, dia milikmu." Jawabku sedikit gugup.
Peeta memandangiku aneh, mungkin menganggap aku berbeda. Tanpa pikir panjang aku langsung menyiksanya—bukan membunuhnya, hanya mencoba bertarung dengannya. dan meninggalkannya sendiri di tepian sungai itu.
.
.
Rue POV
.
Aku masih berusaha memahami kejadian tadi. Benarkah tadi Cato menolong Katniss? Apakah itu benar-benar Cato? Batinku. Setelah kepergian Cato, aku menolong Katniss sebisaku. Mengganti daun-daun untuk membalut luka tersengat tawon penjejak yang membuatnya tak sadarkan diri selama tiga hari ini. Dan selama tiga hari ini masih terbayangkan saat Cato menyelamatkan Katniss. Wow.
Saat aku masih memikirkan soal itu, tiba-tiba Katniss mengerejap-rejapkan matanya. Aku kaget dan secara reflek langsung bersembunyi di balik pohon yang ada di sekitar sana. Saat Katniss terbangun sempurna, dia berjalan menuju pohon tempatku bersembunyi. "Hey, jangan sembunyi disitu saja." Ucapnya. Aku tertegun, lalu berjalan keluar dari persembunyianku.
"Namaku.. Katniss. Ya, mungkin kau sudah tau kok. Namamu sendiri?" tanya Kak Katniss ramah. "A-aku Rue, salam kenal kak." Jawabku dengan memakai embel-embel 'kak'. Katniss tertawa pelan, "Tidak usah memangggilku kak, cukup nama saja tak apa kok." Lanjutnya. Aku sedikit menggeleng, "Tapi… baiklah Katniss." ucapku pelan. Katniss tersenyum lembut, "Karena kau telah menyelamatkanku, Rue. Mari kita menjadi sekutu, deal?" tanya Katniss ramah.
Aku tersenyum dan membalas jabatan tangan Katniss. Lalu Katniss kembali bertanya, "Oh iya, yang menyelamatkan ku waktu itu, Peeta kan?" tanya nya. Aku kembali tertegun, bahkan Katniss tak mengingat atau bahkan tak tau saat sebetulnya Cato lah yang menyelamatkan nya? Batinku. "Erm, iya kalau tidak salah. Karena aku hanya melihat kau yang sudah pingsan di sini." Ucapku berbohong. Maafkan aku, pikirku.
.
.
Normal POV
.
Kawanan karir dan kelompok Katniss berjalan tak sejalur. Bahkan bertolak belakang. Namun akhir-akhir ini Cato selalu terpikirkan mengenai Katniss yang beberapa hari lalu ia tolong. Apakah Katniss tau kalau aku yang menyelamatkannya? Atau dia malah berpikir Peeta yang menolongnya? Batin Cato bergejolak. Antara takut, marah dan cemas, itu bercampur menjadi satu, dan menjadi perasaan yang menyakitkan.
Cato memang berusaha untuk tidak mendekat ke daerah yang lain, salah-salah nyawa Katniss yang menjadi taruhannya. Dia tak mau itu terjadi. Namun, dia juga sangat tidak ingin membuat Clove terluka. Terluka secara fisik dan batin karenanya, perasaan bersalah ini lama-lama bisa membunuhku, batin Cato muram.
Lain lagi dengan Katniss dan Rue, mereka sedang menyiapkan rencana untuk mengebom wilayah Kawanan karir dengan cara mengaktifkan ranjau yang di tanam di sekitar tumpukan persediaan makanan Kawanan karir. Dan mereka akan memulai rencana ini, besok.
.
.
Cato POV
.
"Aku melihat gumpalan asap dari sebelah utara sana." Gumamku, yang tentu saja di dengar oleh yang lain. "Great, mungkin mangsa baru atau si gadis Lover Boy itu." Lanjut Marvel. Clove menyeringai senang, "Okay, kita semua kesana." Ajakku sekenanya. Berusaha menghilangkan perasaan ketakutan yang tak berujung ini. Entah perasaan ku saja atau memang ada yang sedang memperhatikanku dari balik semak sana, entah lah.
Kami pun meninggalkan base camp kami, tanpa merasa cemas. Malah bersemangat—walau hanya Clove, Marvel, 3 dan 4—untuk memburu mangsa lagi, setelah kami berjalan lumayan jauh dari base camp kami, tiba-tiba terdengar bunyi yang cukup kuat. Aku menyadari sesuatu dan langsung berlari menuju base camp.
.
—yang ku lihat hanyalah puing-puing dan barang-barang yang sudah tak terlalu berguna. Serta satu anak panah yang ku yakini itu pasti milik Katniss.
.
.
Normal POV
.
Katniss dan Rue selesai dengan rencana mereka, namun Katniss belum bisa menemukan Rue. Katniss mulai panik karena 'kode' yang di buat mereka berdua tak dibalas oleh Rue. "Ruee! Jawab aku!" teriak Katniss. Terdengar teriakan Rue dari jauh, "Tolong!". Katniss berusaha secepat mungkin berlari menuju arah suara Rue.
Rue terjebak jerat. Mendengar teriakan Rue, Katniss semakin panik dan mengingat adiknya—Primrose—yang sering bermimpi buruk dan berteriak-teriak seperti itu. Dia mencoba melupakan keluarganya sejenak dan memotong tali-tali jerat Rue, dan langsung menenangkan Rue. "Sudah Rue, kau aman. Jangan menangis lagi." Gumam Katniss diantara pelukan mereka.
.
—tanpa menyadari nyawa mereka sedang terancam.
.
"Ru-e." napas Katniss tercekat. Rue sudah tergeletak hampir meregang nyawa karena menyelamatkannya. "M-maaf, Ka-Katniss. K-kau harus me-menang." Dan hanya itu kata terakhir yang dikeluarkan oleh Rue. Katniss yang tersulut emosinya menyerang Marvel yang telah menombak Rue dengan brutal, sampai menyebabkan kematian. Dia bergegas pergi dari tempat Rue saat sudah memberinya bunga, sebagai tanda penghormatan terakhir untuknya. Dan pesawat ringanpun mengambil tubuh Rue.
Meninggalkan Katniss yang sekarang seorang diri, tenggelam dalam kegelapan sampai dia mendengar sebuah pengumuman. "Mohon perhatiannya, para Tributes yang tersisa. Mulai malam ini, siapapun yang berasal dari distrik yang sama akan menjadi pemenang. Namun harus dari distrik yang sama, terima kasih." Ucap salah seorang juri di Hunger Games.
Karena selama ini Katniss belum melihat wajah Peeta di pengumuman siapa yang sudah meninggal, dia langsung bergegas mencari Peeta. Dan Cato—mencoba berbahagia di depan Clove, tanpa menyadari masih ada satu distrik lagi yang harus mereka kalahkan—distrik 12.
.
.
TO BE COUNTINUE
Dan mungkin jadinya entah berapa shoot._. panjang-panjaang, jadi mungkin tiap chapter hanya 1000 word. Maafkan atas kelabilan author ini. Err.. POV-nya kebanyakan yak kayaknya._. soalnya Hunger Games jarang ketemuannya, jadi harus pindah-pindah POV-nya /banyakalasansajakau /plak. Judulnya juga rada ganyambung yak, mungkin nanti bakal diganti deh.. last, review please? xD
