Warning: AU, OOC banget.
Don't like? Yeah, click the 'back' button instead! x)

OS: Disini Deidara cewek yaa, jadi kagak ada yaoi. I'm all straight!
Nyahaha~ -ngacir pake helipad-

Summary: Anak perempuan penerus Uchiha Corp. sangat pemalu dan susah mencari teman. Apa yang sebenarnya diinginkan olehnya? 'Dia bahkan bisa membuat Hinata lupa dengan gugupnya dan mampu tertawa dengan bebas.' Chap 2 UPDATED. RnR?


-

NARUTO © Masashi Kishimoto

Can I Call You Mommy? © sabaku no panda-kun, Yamashita Kumiko, Kumiko a.k.a Panda *sama aja*

Requested by Pysche Voluptas

Chap 2: Her

-

"Dia… ahli psikologinya?" Mata Gaara terbelalak lebar, tak menyangka kalau wanita secantik itu adalah ahli psikologi anak. Pikirnya, seorang 'ahli' itu selalu seseorang yang sudah berumur.

Gaara memutuskan untuk mengintip kelas itu saking penasarannya bagaimana cara wanita itu mendidik Hinata. Tapi, belum sempat ia bergerak dari tempatnya, pintu kelas itu tertutup dengan sangarnya.

BRUAK!

"Jah." gumam Gaara dengan penuh keputus asaan. Akhirnya, dengan pasrah dia menunggu di depan kelas dan bergosip dengan ibu-ibu lainnya.

xxx

"Anak-anak, mulai hari ini wali kelas kalian adalah aku, Akasuna Sakura." Sakura mulai menuliskan namanya di whiteboard, "Kalian bisa panggil aku Sakura-sensei."

Sakura memperhatikan seluruh anak di ruangan itu. Ia sudah menghafal seluruh nama mereka, jadi tak perlu lagi ada perkenalan. Tapi, wajah pucat yang terus menunduk itu mengubah pikirannya.

"Baiklah, sebaiknya kalian semua juga memperkenalkan diri karena aku belum hafal semuanya." Sakura menunjuk salah satu anak berambut spiky cokelat yang duduk di pojok kiri depan ruangan, "Ya, silakan mulai."

"Namaku Inuzuka Kiba! Hobiku berjalan-jalan bersama Akamaru, anjingku! Kami sering melakukan ini, dan ini--YAHOO!" teriak Kiba bersamaan dengan lompatannya melewati meja.

Bruk! Meja itu jatuh, begitu pula dengan pemiliknya. Seisi kelas sweatdrop, tapi mereka langsung sibuk dengan urusannya masing-masing. Sakura segera membantu Kiba untuk bangun dan membetulkan letak mejanya.

"Oke, sekarang giliranmu." Sakura menunjuk ke anak perempuan bercepol dua di sebelah kanan Kiba.

"Aku Tenten! Hobiku… bertarung menggunakan pisau steak! Lihat koleksi senjataku!" seru Tenten sambil memamerkan isi tasnya yang penuh dengan pisau buah, pisau roti, pisau cukur, gunting rumput, golok, dan parang. Lagi-lagi seisi kelas sweatdrop, dan Sakura menyita semua barang tersebut.

"Tenten-chan, aku akan mengembalikan barang-barang ini pada orangtuamu." Lalu Sakura menghadap ke arah anak perempuan yang menunduk tadi. "Sekarang giliranmu."

Hinata meneguk ludah. Ia berharap bel pulang cepat berbunyi, namun tentu saja hal itu mustahil mengingat bel masuk baru saja berdentang. Sakura melihat kegelisahannya, lalu ia menepuk pelan pundak Hinata dan tersenyum, mencoba membuat Hinata tak lagi merasa gugup. Dan hal itu berhasil.

"A-aku U-uchiha Hinata. H-hobiku… menggambar." ucap Hinata lirih, namun cukup untuk didengar seisi kelas dikarenakan heningnya ruangan.

"Menggambar? Wow, itu hobiku juga! Hobiku yang kedua setelah makan, hehe…" Sakura menggaruk kepala belakangnya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

"Aku juga suka menggambar! Lihat--ini Akamaru!" seru Kiba sambil menunjukkan secarik kertas dengan urakan garis yang tertumpuk berantakan, bahkan Akamaru mungkin akan segera menendang Kiba kalau saja anjing itu melihat gambar abstrak pemiliknya.

"G-gambarmu… Hmmp… l-lucu!" Hinata menahan tawanya, merasa janggal dengan gambar benang kusut yang diakui Kiba sebagai gambar hewan kesayangannya itu. Sakura memperhatikan perubahan sikap Hinata, lalu ia pun tersenyum puas.

"Sakura-sensei, giliranku kapan?" tanya anak lelaki berkacamata hitam yang duduk di sebelah kanan Hinata.

xxx

Braak!!

Suara gebrakan pintu yang cukup kencang hampir saja membuat sang sekretaris berambut kelam itu terlompat kaget. Dilihatnya sang direktur tengah melangkah cepat ke arahnya, tanpa sadar ia meneguk saliva-nya.

"Shizune, ada apa? Kamu tahu kan saya sedang meeting dengan klien penting?" tanya Sasuke seraya menatap tajam pada sekretarisnya. Shizune hanya menganggukkan kepalanya takut-takut, lalu menunjuk ke arah pintu ruangan sang direktur.

"Istri anda, mengancam akan memecat saya jika_." Tanpa merasa perlu mendengar lanjutan kata-kata Shizune, Sasuke segera menghambur menuju ruangannya.

"Wah wah wah, sang direktur telah datang rupanya." Seorang wanita dengan rambut merah panjang yang duduk di kursi direktur menjentikkan jarinya, lalu mengembangkan seringai ke arah Sasuke.

"Karin." ucap Sasuke. Suaranya tetap terdengar tenang, walaupun kedua tangannya mengepal dengan kencang saat melihat wajah wanita itu.

"Aku jauh-jauh kemari untuk mengambil harta yang sudah menjadi milikku, jika itu hal yang kau pertanyakan."

"Apa?! Kau tidak akan bisa menyentuh hartaku, Karin."

"Aku bilang 'harta yang sudah menjadi milikku', bukannya 'hartamu yang akan kurebut'." Senyuman licik tak sedikit pun lepas dari wajah Karin saat mengucapkan kalimat penuh penekanan itu. Lalu ia memperlihatkan secarik kertas dengan tiga tanda tangan beratas nama dirinya, Sasuke, dan seorang saksi ahli (1) di bawahnya.

"Kapan_?!" Sorot mata angkuh Sasuke berubah garang, tangannya bergerak cepat mencengkram pergelangan tangan kanan Karin yang masih juga memasang seringai menyebalkan.

"Oh, jadi kau tak ingat?"

"Beritahu padaku, Karin." Cengkraman di pergelangan tangan kanan Karin semakin menguat, erangan pelan lolos dari mulut wanita itu. Kata-kata yang selanjutnya diucapkan oleh wanita itu benar-benar membuat Sasuke terpaku.

"Kau ingat La Vice pub? Kau mabuk, dan_"

xxx

Teng. Teng. Bel pergantian jam pelajaran--sekaligus bel pertanda jam terakhir dibunyikan oleh… seseorang yang pastinya bukan Gaara.

"Oke, anak-anak. Masukkan kembali buku kalian, lalu berganti baju karena sekarang jam olahraga!" seru Sakura sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Hari ini olahraga apa, sensei?" tanya seorang anak berambut bob sambil mengangkat tangan kanannya.

"Mmm… hari ini olahraga bebas!"

"Yeei…!!" Seisi kelas bersorak, bahkan ada yang menaburkan confetti dan melemparkan topi saking senangnya. Entah darimana mereka mendapatkan barang-barang khas perpisahan itu, jangan tanya author.

Lalu seluruh anak-anak berlari keluar kelas, menyisakan Hinata yang tetap diam di kursinya. Sakura mengedikkan bahu, lalu ia berjalan mendekati Hinata.

"Hinata-chan, tidak ingin berolahraga?"

"Umm… T-tubuhku tak kuat o-olahraga, s-sensei."

"Kalau begitu sensei temani ya?" Tanpa menunggu jawaban Sakura segera mengambil kursi di sampingnya dan duduk di depan Hinata. "Baiklah… apa yang ingin kau lakukan?"

Hinata terkesiap--baru sekali ini ada guru yang memperhatikannya dan mengatakan bahwa ia ingin menemaninya. Semua gurunya sejak TK lebih memilih untuk mengajar olahraga dibandingkan menemani dirinya yang membosankan, kecuali Sakura.

"Menggambar!" seru Hinata sambil mengeluarkan kotak krayonnya. Sakura meringis lebar, sadar bahwa dirinya tak pintar dalam bidang kesenian.

xxx

Gaara memandang sekelilingnya, baru menyadari kalau para ibu-ibu di sekelilingnya telah beranjak menuju lapangan untuk menyaksikan anak mereka berolahraga. Ia bangun dari duduknya dan hendak menuju lapangan juga, namun suara yang dikenalnya sebagai suara Hinata menghentikannya.

"Sakura-sensei… itu gambar awan?"

"Bukan, ini es krim! Eh, tapi… emang mirip awan sih." Lalu kedua suara itu tertawa bersama, meninggalkan kebingungan yang amat sangat di otak Gaara.

"Hina-chan… tertawa pada siapa?" gumam Gaara sembari mengintip dari ambang pintu ruang kelas Hinata. Dan untuk yang kedua kalinya, hampir saja jantung Gaara lupa berdetak kalau saja tak diingatkan oleh paru-parunya (??).

'Wanita tadi…?' batin Gaara dengan kepala terangguk-angguk. 'Jadi ahli psikologi itu bukan cuma nama. Dia bahkan bisa membuat Hinata lupa dengan gugupnya dan mampu tertawa dengan bebas.'

Memutuskan untuk memperkenalkan diri, Gaara pun melangkah masuk seraya melakukan hal yang amat nista namun sering dipertunjukkan di layar televisi, yaitu bertepuk tangan satu kali. Prok!

"Gaara-jisan?" tanya Hinata keheranan, sementara Sakura sweatdrop karena merasa sering melihat tepuk tangan itu dilakukan oleh teman Sasori yang amat pelit dan bernama Kakuzu.

"Aku mengakui kehebatanmu, mademoiselle."

TuBerCulosis


(1) Saya gak tau kalo mau mindah tanganin harta yang tanda tangan siapa aja. Jadi, anggep aja itu bener xP

-

Next Chap: Invitation

"Sakura-sensei… aku ingin sensei ke rumahku besok malam. Boleh kan, Gaara-jisan?" pinta Hinata penuh harap.

"Baiklah… Tapi sebelumnya kita tanyakan dulu pada ayahmu, OK?"

-


Gomen telat apdet, padahal rencananya mau ngapdet kemarin… Salahkan kepala saya yang tiba-tiba pusing pas lagi main PS! T-T

Oh… makasih banyak ya buat yang review dan ngasih tau 'kejanggalan' yang ada di fic ini! Udah lama nggak buat fic di fandom Naruto dan ternyata kalian masih ingat padaku. I LOVE YOU ALL! xD

dilia shiraishi: Iya, emang kuacak asal warna rambutnya mirip :P
Fluff dimananya sih mou??

Pysche Voluptas: Biasanya yang kusebar itu aib orang, loh! *ditendang*

Myuuga Arai: Hehe iya, aku juga kangen nee! ^^
Huh? GaaSakuSasu? Enggak, Gaara udah punya tunangan kok *nunjuk diri sendiri, dibuang*

Furukara Ruki: Furu, kau nongol! Kemana aja? WB-nya parah ya? Dx
Haha, emangnya kau juga mau kubuat menderita? *didepak*

Daniyoo: Huh? Underwear itu… pas mereka lagi main strip poker? *dicekokin sapu*
Ahaha, iya. Emang sengaja kubuat kayak trailer/spoiler soalnya males buat deskrip xD

Nate River is Still Alive: Pen name-mu… emang Near masih hidup kan? O.o
Boleh, bahkan kau review berkali-kali pun aku senang xP
Soal Gaara yang mau jadi babysitter Sasuke… itu ada side story-nya. Tungguin aja, yah!

Cake: Ini bukan tumben, karena yang request maunya SasuSaku *digeplak*

Odium of Thanatos: Karena… mereka main strip poker? *dicekek keduanya*
Skandal apa yang kau maksudkan?! O.O

PinkBlue Moonlight: Ohoho, emang diacak biar warna rambutnya sesuai xP
Suka SasoSaku? Kabarin saya yah, kalo udah di-post ficnya!
Nanti bakal kubuat kok side story tentang Gaara dan Sasuke, tunggu aja yah!
Orochi? Gak mungkin! Orochi itu kan cinta mati ama Saske… xD

Reiya Sumeragi: Saya penggemar SasoSaku, jadinya saya buat kayak gitu xD
Ehehe, maaf ya saya lama ngapdetnya…

Lawra-chan: Huhuhu, iya Sakura miskin.
SasuSakuGaa? Enggak! Gaara udah punya tunangan *nunjuk diri sendiri, ditendang*

Erune: Ehehe, makasih… *gak tau mau ngomong apa*

Kanata Haruhi Suzumiya: Welcome back, mouto! Jangan lupa kau apdet ficmu! *ndepak*
Eh? Lucuan juga authornya! *dijambak*

Hikari Akabara: Tentang Gaara dan Sasu, bakal kubuat side story-nya xD
Ho, iya. Bilang lagi ya, kalo ficnya udah apdet! Soalnya saya kalo nggak dikasih tau jarang review… ^^'

shirayuki haruna: Iya, emang terlalu OOC T-T
Naruto sama Hinata entar kenalan kok! ^^

kakkoii-chan: Hoo… gomen gomen! Nanti kalo apdet ku-sms deh :D
Beda kok sama Carita de Angel, cuma keinspirasi aja *sama aja!*

G n K: Huh? Iyo, saya cinta crack pairing! xD
Huhuhu, saya emang lama apdet. Tapi rencananya sih fic ini apdet tiap minggu (baru rencana sih)

airi hoshina: Haiah, jangan mau ama Sasuke. Dia SAS-GAY! *dibazooka*
Iya, tapi gak bakal sama persis kok. Anaknya aja beda sifat! :D

Yukeh is Yuki-chan: Emang anaknya Karin ama Sasuke! '-.-
Gaara jadi istrinya Saske? Woi, mantan istrinya disini tauk! *nunjuk diri sendiri, dijambak*
Iya, SasuSaku. Kau bisa liat kan, mbak? *nyolok matamu*

Err--masih berminat untuk review?

Kumiko a.k.a Panda,

(1098)