CHAPTER 2

[Fanfiction Yaoi] [When The Rain Stopped] [XiuHan]

Author : littlenaa

Main Cast :

Kim Min Seok

Xi Luhan

Other Cast :

Do KyungSoo

Oh Sehun

Rate : T

Genre : Romance/Hurt/Comfort/School Life

Length : Chaptered

Warning : Boy x Boy, little OOC, typo bertebaran, cerita kurang menarik tapi di paksa untuk menarik.

Summary :

Ketika kau berada di sampingku dan menceritakan betapa cintanya dirimu kepada seseorang yang tak pernah aku ketahui hujan selalu turun saat aku menangis mengingat kalau dirimu benar-benar tak akan pernah mencintaiku, tapi kali ini kenapa hujan tidak turun mengiringi air mataku?

"A-aku.., mau ke toilet sebentar." Kata Minseok dan pergi berlalu. Luhan dan Sehun mengangguk kemudian kembali beradu mulut.

' Kau tau orang yang kucintai? Dia ada di dekat kita. Aku sungguh ingin memeluknya dan menyatakan suka padanya.'

'haruskah aku merasakan ini?'

CHAPTER 2 ~oOo~

Langit telah berubah warna jingga, angin sore berhembus pelan, melambai pada rumput hijau yang kini menemani sosok namja berpipi chubby yang sedang memejamkan matanya menengadah menyapa langit sore.

Kim Minseok. Sepulang sekolah ia menemui Luhan, sahabatnya. Karena mereka berbeda kelas.

Minseok memejamkan matanya semakin erat saat dirasa hatinya kembali memilu. Namja itu mencekram baju di bagian dada kirinya. Sangat sakit.

"Baozi?" Namja cantik itu menatap Baozi-nya yang sedang tertidur di atas rumput hijau. Terdengar dengkuran halus yang lolos keluar dari mulut Baozi –Minseok. Namja cantik itu adalah Luhan. Ya, sahabat Minseok.

Luhan yang mengetahui bahwa Minseok sedang terlelap, ia tersenyum manis melihat wajah namja berpipi chubby itu. Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Minseok. Luhan terduduk di samping Minseok, tangannya mengelus lembut surai coklat Minseok.

"Kau cantik Baby Baozi... aku merasa kau sedikit berbeda sekarang. Jangan seperti itu ku mohon." Luhan terus berbicara entah pada siapa, seakan-akan Minseok bisa mendengarnya.

Minseok melenguh saat ia rasa sesuatu menyentuh pipinya. Matanya sedikit terbuka, dan beberapa kali mengerjap membiasakan cahaya matahari sore memasuki retina matanya. Saat sudah terbiasa, ia menangkap sosok Namja yang –tadinya ingin dia hindari. Luhan tersenyum melihat Minseok terbangun dan merubah posisinya –duduk.

"Lulu, kenapa bisa di sini?"

"aish.. Baozi, kau lupa! Ini kan memang tempat kita berdua." Tutur Luhan sambil mencubit pipi chubby Minseok pelan.

"yayaya... lepaskan cubitanmu Lu..." Minseok menarik paksa tangan Luhan dari pipinya. Luhan melihat Minseok bingung, dia merasa Minseok berbeda, tapi ia tepis jauh-jauh pikiran buruk itu.

"hehe... iya iya.." Lalu Luhan merebahkan dirinya di atas rumput melihat langit. "Baozi?" panggil Luhan lagi.

Minseok mengambil posisi sama dengan Luhan, rebahan di samping Luhan dan melihat langit.

"Hm?" jawab Minseok tanpa melihat Luhan.

"Apa kau pernah merasakan jatuh cinta?" tanya Luhan dengan santai. Minseok membulatkan matanya merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya saat mendengar kata 'jatuh cinta'.

"P-pernah..." Minseok menggigit bibirnya. Inilah yang ia takutkan jika bersama dengan namja yang ia cintai tapi yang ia rasa ini hanya cinta sepihak baginya –sakit hati.

"Benarkah? Dan.. Apa kau pernah merasakan patah hati?" tanya Luhan lagi, kini ia memejamkan matanya, merasakan angin membelai wajah cantiknya.

"Selalu..." 'itu selalu ku rasakan.' Tambah Minseok dalam hati.

"Orang yang menyakiti Baozi adalah orang bodoh. Kau seharusnya memilih cinta yang baik." Nasihat Luhan pada Minseok.

Minseok tersenyum miris mendengar ucapan Luhan. Orang bodoh? Jadi Luhan adalah orang bodoh itu?

"Baozi... Bantu aku membuatnya jatuh cinta kepadaku."

"Ya... aku akan mengusahakan itu... untukmu Lulu."

Seakan Hatinya kini sudah hancur berkeping-keping, tak ada lagi yang harus Minseok rasakan. Hampa.

Tes!

Air mata Minseok terjatuh. Untuk kesekian kalinya.

Tes!

Rintik Hujan membasahi bumi lagi. Minseok maupun Luhan tidak ada yang bergeming walau sekejur tubuh dan wajahnya sudah terbasahi air hujan. Mereka terdiam. Tapi tidak dengan air mata Minseok yang terus mengalir dan berhasil tersamarkan oleh air hujan, ia terisak dalam hati. Sungguh perih.

SCHOOL—

"Minseok-ah? Kau pucat lagi? Aku antar kau ke ruang kesehatan. Cepat!" Sehun menarik lengan Minseok yang terlihat lemas. Tapi Minseok sekuat tenaga menarik kembali lengannya.

"Aku tidak apa-apa Sehun-ya." Ucap Minseok lemah.

Sehun kembali khawatir dengan keadaan Minseok yang akhir-akhir melemah, wajahnya sering pucat. Apa yang harus Sehun lakukan untuk Minseok? Hey, Memang dia siapa Minseok?

Sehun menghela nafas panjang dan duduk di hadapan Minseok yang kini tengah memainkan jarinya di atas meja. Perlahan Sehun menarik tangan Minseok dan menggenggamnya. Minseok terkejut dan langsung menatap Sehun.

"Minseok-ah? Aku ingin bertanya sesuatu... aku mohon jawablah dengan jujur." Sehun semakin mengeratkan genggamannya. Minseok tertunduk lagi.

"Tanyakanlah." Jawab Minseok singkat.

"Kau menyukai Luhan?"

DEG

Minseok membelalakan matanya, menengadah menatap Sehun lagi. Sehun melihatnya dengan mata yang serius. Sehun sedang tidak bercanda. Minseok mengalihkan pandangannya ke sisi lain dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Sehun yang semakin erat.

"Sehun-ya, lepaskan! Apa yang kau bicarakan! Itu tidak lucu!"

"tidak! Jawab aku dulu Minseok-ah!"

Minseok tidak menjawab, ia terdiam. Apa yang harus ia katakan?

"Bodoh! Kenapa kau mencintai orang yang menyakitimu?!" bentak Sehun tiba-tiba. Minseok tidak percaya Sehun akan membentaknya seperti itu.

"Terserah padaku! Memangnya kau siapa hah?!" Minseok menepis tangan Sehun dengan sekuat tenaga dan usahanya kali ini berhasil. Minseok berlari meninggalkan Sehun keluar kelas. Ia tidak mau menangis lagi.

Sehun yang di tinggalakan terdiam menatap tangan yang tadinya menggenggam Minseok dengan erat tapi di hempaskan begitu saja.

"Minseok-ah, aku menyukaimu..." tutur Sehun seraya menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengannya dengan bahu sedikit bergetar. Sehun menangis. Ya, dia menyukai Minseok. Menyukainya sejak pertama ia bertemu Minseok.

Minseok terus berlari, ia mencari Luhan. Otaknya terus merutuki dirinya sendiri. Kenapa harus mencari Luhan! Agar ia menangis lagi? Begitukah?

Ketika Minseok berlari melewati lorong Sekolah akhirnya ia dapat melihat sosok Luhan di depan sana. Ia tersenyum sangat lebar. Entah mengapa Minseok ingin memeluk Luhan.

Ia merasa Hatinya benar, Ia harus memberitahukan bahwa ia mencintai Luhan. Jika Ia tidak mau Luhan pergi.

Minseok semakin mendekati Luhan, ia bisa melihat punggung Luhan dengan jelas, Luhan sedang jalan beriringan dengan namja lain. Namja yang mungil.

Langkah kaki Minseok terhenti ketika mereka di depan Minseok. Tanpa sengaja ia mendengar Luhan berbicara...

"KyungSoo-ah... terima kasih... kau memang cantik. Hehe..." kata Luhan kemudian menggenggam tangan KyungSoo. KyungSoo menoleh pada Luhan dengan pipi sedikit merona.

"Aish... kau gombal, Hyung." KyungSoo memukul pelan lengan Luhan yang di jawab dengan tawa renyah Luhan.

Minseok ingin pergi, tapi kakinya membeku. Air mata sudah siap lepas landas dari pelupuk matanya. Jadi inikah sosok sempurna di mata Luhan?

Tes!

Air matanya kini sudah mengalir lagi. Ia menyeka airmatanya dengan kasar. Minseok berusaha tersenyum tapi aneh, di saat ia berusaha tersenyum air matanya justru semakin deras mengalir.

"hiks... L-Lulu..."

Luhan merasa ada yang memanggilnya menoleh kan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Seperti suara Minseok. Pikirnya.

Tapi firasat Luhan benar-benar gelisah, ia menengokan kepalanya ke belakang. Dan betapa ia terkejut melihat Baozinya bercucuran air mata.

"B-Baozi?"

-TBC -