Akhirnya dengan rasa takut-takut Otter memberanikan diri ngupdate deh^^ Hehe,,,, Kaget juga ternyata ada yang nge-review..(BANZAI!)

Btw, untuk chapter kali ini lebih difokuskan ke hubugan Rukia dan Ichigo...Selamat menikmati..!(emang makanan?)

Rukianonymous: Makasih buat reviewnya senpai,,,ini fic pertama Otter (yep,dipanggil otter juga ga apa-apa...^^) lengkap dengan typo bertebaran dimana-mana...Author juga karena pingin nostalgia jadi dapet ide bikin fic ini. Kangen liat Ichigo en Rukia berantem soalnya...

owwie owl susah login: Rukia jadi pedopil? haha...ga juga...secara disini walaupun masih kelas 1 SMP, Ichigo tetap lebih tinggi dari Rukia..(Rukia pendek abadi kayaknya). Soal romance otter bikin jadi slight romance supaya ga terlalu jauh dari karakter ama aslinya... makasih reviewya..!

Ray Kousen7: Arigatou banyak-banyak buat reviewnya Ray-san! penulis baru juga? tapi fic kamu udah kaya professional deh!(sering baca soalnya..^^). Disini Ichi masih 13 tahun, nggak ingusan kok,,berantem aja rutin!..Maunya bikin ini jadi kayak side story kejadian beberapa tahun sebelum cerita bleach dimulai. Soal typo bakal Otter lebih perhatikan...

anna chan: kalau ga berantem ga ichigo namanya,,hehe,,,sedih juga waktu nggambari byakun jadi jahat, tapi semua orang tau kalau byakun tuh duda idaman (ga nyambug..), btw thankyou reviewnya...

Piyocco:Iya nih,,,Ichigo masih kecil tapi wajahnya masih sama kayak di komik kok,,,jadi bayangin aja Ichigo versi komik tapi agak pendek dan imut sedikit.

makasih udah review,,,bakal semangat buat update nih!

ChappyBerry Lover:OKEEEE!^^

Hiroshi Fuchida Ruchapyon:Makasih banyak udah diingetin~ Ampun!padahal desclaimer tuh wajib ada! maaf Kubo sensei,,udah nyolong karyamu tanpa ijin!Kubo-sensei: Hukum dia di bukit Soukyoku!

Desclaimer: Kubo Noriaki a.k.a Kubo Tite

Summary: Bagaimana jika Rukia telah pernah datang ke kota Karakura ketika Ichigo masih kelas 1 SMP Mashiba? Bagaimanakah pertemuan mereka?

~Turn Back the Destiny (vol.2)

Kurosaki clinic

Sinar matahari pagi masuk menembus jendela kamar Kurossaki Ichigo dengan lembut, membantu remaja dengan alis berkerut itu untuk bangun dari tidur lelapnya. Ia segera bangkit sambil memegangi kepalanya dan mulai beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuk masih menempel erat di matanya.

"Ohayou..!"

Ekspresi Ichigo langsung berubah masam medengar sapaan itu. Bahkan rasa kantuknya langsung hilang entah kemana. Bagaimana tidak? Semalaman ia telah berharap bahwa esok pagi ia akan terbangun dengan nyaman dan menyadari semua yang ia alami semalam adalah mimpi. Namun sekarang harapannya sia-sia begitu ia menoleh ke sisi kanannya. Terlihat Kuchiki Rukia telah duduk santai mengobrak-abrik beberapa majalah sambil melambai dan tersenyum ceria. Ichigo langsung sweatdrop melihatnya. "Ohayou juga, nona penguntit!" balasnya sambil cemberut. Ia berusaha tidak memperdulikan Rukia dan memulai aktivitas normalnya, berangkat sekolah.

Rukia berpikir sejenak sementara Ichigo sibuk mengenakan seragamnya. Seragam hitam dengan dalaman T-shirt putih (seharusnya yang dipakai itu kemeja putih). Mendadak sang shinigami menjentikkan jarinya. "Hei Ichigo….bolehkah aku…"

"Tidak boleh!"

"Kenapa aku tidak boleh ikut ke sekolahmu! Aku kesana bukan untuk bersenang-senang. Hanya untuk riset bagaimana kehidupan manusia sesungguhnya …dan mempraktekkannya."

"Itulah yang disebut bersenang-senang, shinigami!"

Wajah Rukia langsung cemberut mendengarnya. Ia bangkit dan membereskan majalah-majalah yang ia obrak-abrik semenjak subuh. "Sudah kubilang namaku bukan shinigami tapi Kuchiki Rukia."

"Dan aku Kurosaki Ichigo. Salam kenal! Jangan ikuti aku ke sekolah, mengerti!"

Rukia memandang Ichigo yang mulai beranjak pergi bersama Chad dari jendela kamar. Perlahan seulas senyum licik tergambar di wajah manisnya.

"Khukhukhu….Kau pikir kau bisa melarangku?"

SMP Mashiba

Di dalam kelas Ichigo hanya bisa melamun. Pandangannya terlempar jauh ke luar jendela, terlihat jelas pikirannya tidak sedang di dalam kelas tersebut. Tatsuki, sahabat sekaligus rival Ichigo dalam hal karate menatapnya dengan alis sedikit terangkat. Dilemparnya sebuah penghapus tepat mengenai kepala orange pemuda 13 tahun itu namun sama sekali tidak ada respon.

Ichigo duduk bertopang dagu dengan tatapan kosong. Diingat-ingatnya semua kejadian kemarin. Ia masih belum terbiasa dengan keberadaan Rukia namun entah kenapa ia merasa bisa mempercayai gadis itu. Teringat pula olehnya kata-kata Rukia sebelum pingsan. Sepertinya ia menyebut sebuah nama.

"Kai…en-dono?"

Ichigo menyadari segala sesuatu mengenai Rukia sangat misterius. Saking misteriusnya membuat pikirannya makin jauh melayang. Lama Ichigo melamun tiba-tiba lamunannya buyar. Ada 'sesuatu' yang rasanya ia kenal sedang melambai dengan gembira dari atas atap gedung sebelah. Ichigo berusaha menggosok-gosok matanya seakan tidak percaya. Mulut Ichigo langsung menganga lebar.

"KENAPA SI BODOH ITU ADA DISINI!" Jeritnya reflex sambil terlompat dari tempat duduknya. Mendadak seluruh perhatian kelas tertuju padanya."Ada apa Kurosaki?" Tanya Ibuki-sensei terheran-heran.

"Bu, bukan apa-apa! Maaf Sensei, saya harus ke toilet!" Ichigo langsung melesat keluar secepat angin meninggalkan para penghuni kelas yang hanya bisa melongo keheranan.

Dengan nafas terengah-engah Ichigo membuka pintu atap. Didapatinya Kuchiki Rukia berdiri disana dan memeluk sebuah boneka kelinci super besar yang tak jelas darimana datangnya.

"Sudah kuduga itu kau…hah..hah…Da, darimana boneka aneh itu?" Ujar Ichigo sambil menunjuk boneka kelinci tersebut. Rukia tersenyum senang sambil memperhatikan bonekanya "Bagus bukan? Ini Chappy! lihat sosoknya yang begitu luar biasa, Ichigo! Benar-benar karya seni yang hebat! Aku membelinya dari tempat bernama departemen store!"

"'Membeli ' kepalamu! Mana mungkin kau membelinya?"

"Eh? Aku tinggalkan uang kok…2000kan…"

"Mana bisa bodoh! Mata uang disini 'yen', bukan 'kan'! Kembalikan sana!"

"Sial! kau anak baik rupaya!" Gerutu Rukia dengan wajah kesal. Ia memandangi bonekanya lekat-lekat, jelas ia sangat menyukai boneka kelinci itu. Namun dengan berat hati ia harus mengembalikan boneka itu (atau Ichigo akan terus berceramah di telinganya).

Melihat ekspresi Rukia yang begitu sedih Ichigo menghela napasnya sambil menggaruk-garuk kepala. "Kuantar kesana deh! Bisa gawat kalau kau macam-macam lagi. Toh di kelas cuma sedang homeroom. "

Ichigo berjalan duluan sementara rukia mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan menyusuri kawasan pertokoan kota Karakura yang penuh dengan hiruk pikuk warga kota. Rukia sibuk memandang kiri-kanan melihat segala hal yang unik baginya. "Ichigo, benda aneh apa yang mereka hisap itu?"

"Ha? Itu jus kotak. Diminum pakai sedotan." Jelas Ichigo singkat. Rukia memandang heran pada deretan jus kotak di dalam mesin jual otomatis."Minuman yang rumit." katanya. Melihat tingkah Rukia yang seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa membuat Ichigo tersenyum kecil. Keduanya tiba di departemen store yang dimaksudkan Rukia. Dengan berat hati Rukia menaruh kembali boneka chappy besarnya. Ichigo memandangi Rukia, merasa sedikit bersalah. Diam-diam ia melihat ke label harga boneka itu.

"20000 Yen! Jangan bercanda! Boneka jelek begini saja!" Jerit Ichigo dalam hati. Awalnya ia berniat membelikan Rukia boneka itu. Tapi setelah melihat ke dompetnya (yang kebanyakan hanya berisi recehan) membuat Ichigo harus mengurungkan niatnya. Ia melihat ke rak sebelah, ada sebuah boneka singa berwarna coklat terang dan surai cokelat gelap dengan kepala pipih jika dilihat dari samping yang harganya cukup murah. Namun sepertinya Rukia hanya menyukai Chappy saja.

Dalam perjalanan pulang Ichigo memberanikan diri untuk bertanya."Hei…Kaien itu….siapa?"

Ekspresi wajah Rukia terlihat berbeda setelah mendengar pertanyaan itu. Ada sedikit rona merah di pipinya. "Dia fukutaichou di divisi 13, tempatku bertugas. Dia orang yang sangat baik, kami semua sangat menghormatinya. Wajahnya…sedikit mirip denganmu."

Rukia terlihat sangat bersemangat meceritakan tentang Kaien sementara Ichigo mendengarkannya tanpa menoleh.

"Oh…" Gumamnya singkat.

Hari demi hari berlalu. Ichigo mulai terbiasa dengan keberadaan Rukia dan begitu juga sebaliknya. Rukia pun merasakan hal yang aneh akan hubungannya dengan si kepala orenji itu. Walau hanya dalam hitungan hari ia bisa mempercayai Ichigo sepenuhnya.

"Kau tidak lelah, setiap hari berurusan dengan monster-monster itu?"Tanya Ichigo yang sedang sibuk mengerjakan PR. Rukia tidak menjawab. Ia memejamkan matanya kemudian dengan tergesa-gesa membuka jendela kamar Ichigo. "Ada hollow!"

"Cih! Lagi-lagi? Berhati-hatilah, Rukia.."

Seekor hollow muncul di barat kota Karakura. Hollow yang tergolong lemah itu terlihat sedang mamangsa roh seorang anak kecil yang sedang berlari ketakutan. Rukia melesat menuju Hollow itu sambil mencabut katananya dan dengan sekali tebas hollow itu langsung tumbang. Namun Rukia merasakan reiatsu lain disekitar sana. Dengan sekejap ia bershunpo dan muncul di belakang seorang pria bertopi yang ternyata semenjak tadi telah memperhatikan dirinya.

"Insting yang bagus, Kuchiki-san!"

"Kau tahu namaku? Sudah kuduga…kau pria yang waktu itu menolongku dari Graydd Bronde. Siapa kau sebenarnya?"Rukia meghunuskan sode no shiroyuki kearah pria itu. Pria itu membetulkan topinya sambil tersenyum. "Urahara Kisuke. Yoroshiku!"

Rukia menurunkan pedangnya. Wajahnya terlihat kaget dan menatap pria itu lekat-lekat."Kau…benar-benar Urahara Kisuke?" .Urahara hanya tersenyum santai sambil melebarkan kipas kertasnya. Topinya yang terlalu ke bawah membuat matanya tidak terlalu terlihat.

"Urahara-san. Kau pasti tahu tentang Arrancar bukan? Kalau tidak kau tidak akan datang menolongku saat itu."

Urahara Kisuke menghampiri Rukia perlahan "Seperti yang anda lihat pada Graydd Bronde Kuchiki-san. Arrancar melepaskan topeng mereka dan mendapatkan kekuatan shinigami."

"Apa!"

"Kau kaget? yah… seperti yang kau pikirkan, itu hal yang mustahil. Bahkan Graydd Bronde pun bukanlah arrancar sempurna. Kecuali jika ia 'disempurnakan'." Jelas Urahara dengan seulas senyum sementara rukia serius mendengarkan."Maksudmu…ada hal yang bisa membuatnya sempurna?"

Tatapan Urahara berubah serius. Dilipatnya kipas kertas yang dari tadi ia pegang dan menatap Rukia tajam "Jika para Arrancar sempurna…maka itu adalah awal kehancuran soul society."

Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh Rukia. Kehancuran Soul Society? Baginya itu adalah hal yang sama sekali tak terpikirkan. Rukia mengepalkan tangannya dan menunduk dengan wajah gundah. Tanpa disadarinya Urahara mendekat sembari memegang kepala Rukia." Jangan khawatir, Kuchiki-san….."

"Eh…?"

"Hougyoku…tak akan kubiarkan jatuh ke tangan 'mereka'." Setelah berkata begitu Urahara bershunpo meninggalkan Rukia yang terheran dengan kalimat terakhirnya.

"Hougyoku….?"

Kurosaki clinic

"Oi, Rukia. kenapa kau pulang malam sekali?" Ichigo baru saja selesai mandi ketika ia mendapati Rukia masuk dari jendelanya. Rukia tak menjawab. Dari wajahnya terlihat jelas ia sedang memikirkan sesuatu. Kontan Ichigo mengangkat sebelah alisnya."Apa yang terjadi?"

Rukia menoleh sedikit sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Tidak ada hubungannya denganmu." Mendengar itu Ichigo cemberut sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Kalimat 'tidak ada hubungannya denganmu' membuatnya sedikit kesal.

Rukia menatap sode no shirayuki dengan sendu."Aku harus segera jadi kuat" gumamnya. wajahnya lalu tertunduk. Diam.

.

.

Keesokan paginya….

"ICHIGOOOOOO!" Kurosaki Isshin dengan bersemangat 'terbang' menghampiri putra sulungnya yang sedang tertidur pulas. Bagaikan ninja, mata Ichigo langsung terbuka dan bangkit menahan tendangan maut sang ayah.

"Osu!Oyaji…"Sapa Ichigo dengan wajah kesal. Isshin yang terjerembab jatuh mengahtam lantai menoleh dengan bangga."Kau memang putraku.."

Ichigo menatap sekeliling. Berbeda dengan hari sebelumnya, ia tak merasakan reiatsu Rukia dimanapun di kamar itu. Ia lalu menghembuskan napasnya dengan berat."Akhirnya aku bisa kesekolah dengan tenang."

Chad terlihat sedang menikmati music lewat headphonenya ketika Ichigo datang menghampirinya. Keduanya lalu berjalan santai menuju Mashiba-chuu. Dalam perjalanan, entah kenapa Ichigo teringat ekspresi Rukia tadi malam. Ia memang baru seminggu mengenal gadis itu namun dengan sekali lihat, ia bisa langsung tahu kalau sang shinigami itu sedang memikirkan masalah yang berat.

'Tidak ada hubungannya denganmu'

Kalimat itu tiba-tiba terngiang di kepala si rambut Orange. Wajahnya berubah kesal seketika." untuk apa kupikirkan? Toh bukan urusanku" gerutunya.

Hingga 3 hari kemudian, Rukia tak kunjung kembali. Kemisteriusan Rukia kian membuat Ichigo semakin cemas walau tidak terlalu ia perlihatkan. Dengan langkah gontai ia menyusuri kawasan pertokoan kota Karakura, tempat ia dan Rukia pergi minggu lalu. Pandangan Ichigo tiba- tiba tertuju pada sebuah benda kecil yang terpajang di sebuah etalase toko. Langkahnya terhenti sejenak sembari berpikir, hingga ia akhirnya meghela napas panjang sambil bergumam.

"Apa boleh buat…"

Urahara Shoten

Disuatu sudut kota Karakura, berdiri sebuah bangunan kecil bernuansa kedai tradisional dengan plat bertuliskan ' Urahara Shoten' terpampang di atasnya. Perlahan langkah kecil si nona shinigami, Kuchiki Rukia terhenti di depan toko itu.

"Disinikah…? Benar-benar orang yang pintar bersembunyi, bahkan membutuhkan waktu 3 hari untuk menemukannya." Ujar Rukia. Padangannya teralih ketika pintu geser toko itu terbuka. Tessai Tsukabishi melongokkan kepalanya dari dalam. "Oh, Kuchiki-dono. Benar-benar tamu yang tak disangka."

Rukia menunduk hormat seraya melirik ke dalam ruangan. Terlihat Urahara Kisuke, dengan wajah yang ceria yang entah dibuat-buat atau tidak berjalan menuju pintu depan.

"Selamat datang di toko kami, Kuchiki-san! Apa kau datang berbelanja? kebetulan kami sedang ada diskon!"

Wajah Rukia tetap datar. Mata violetnya menatap tajam kearah Urahara. "Beritahu aku, siapa dalang dibalik semua ini…" Medengar permintaan Rukia yang mengejutkan membuat Urahara memasang ekspresi serius."Dalang?"

"Mengenai arrancar…Anda pasti mengetahui siapa dalang dibalik semua hal itu kan? Atau perlu lebih baik kusebut dengan istilah 'mereka' seperti yang anda ucapkan beberapa waktu lalu?"

Urahara terdiam. Dibetulkannya posisi topinya yang sebenarnya tidak miring. Sementara Tessai memandanginya dengan was-was.

Rukia melanjutkan "Ini adalah informasi yang sangat penting. Sebagai mantan 12-bantai Taichou Gotei 13 tai, apakah anda akan membiarkan soul society hancur?"

"Tentu aku tidak menginginkan hal itu, Kuchiki-san."

"Lantas kenapa anda menyimpan informasi sepenting itu sendiri? Jika saja kita mengetahui dalang nya…"

"Soul society tidak mempercayaiku, Kuchiki-san…"

Seketika Rukia kehilangan kata-kata. 'Tidak mempercayai?' pikirnya. Urahara Kisuke mendekat kearahnya dengan perlahan. "Lagipula…belum saatnya Soul society mengetahui hal ini. Aku pun punya caraku sendiri." ujar Urahara sambil tersenyum menenangkan gadis shinigami di hadapannya.

Tanpa diduga, dari arah timur kota Karakura Rukia merasakan kemunculan hollow yang cukup kuat. Keringat dingin mengucur diwajahnya sembari memengangi sode no shirayuki."Graydd bronde? bukan…ini hollow biasa." Rukia melirik tajam kearah Urahara namun akhirnya memutuskan untuk pergi membersihkan hollow tersebut walau percakapannya masih menggantung.

Mashiba-chuu

"Ichigo!"

Chad menepuk keras pundak sahabatnya yang sedari tadi melamun di atap sekolah. Ichigo menoleh dengan wajah tak bersemangat. "Chad…"

"Sudah sore, kau masih disini. Ada apa?" Walau tanpa ekspresi, Chad adalah sahabat yang sangat perhatian. Ichigo tersenyum kecil."Hei…Chad…"

"Ya."

"Jika orang yang kau percayai tidak mempercayaimu , apa yang akan kau lakukan?"

Wajah Chad tetap datar. Tanpa ekspresi. Ia lalu mengangkat jari telunjuknya lalu terdiam. Lamaaa sekali hingga akhirnya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah: "begitulah…"

"Apanya yang 'Begitulah!'!Lagi-lagi kau memotong penjelasanmu kan! Padahal aku sudah bicara sungguh-sungguh!" Gerutu Ichigo mencak-mencak sambil mengacungkan telujuknya kearah Chad. Yang dituju hanya tetap diam. Ichigo menghela napasnya sambil bersandar dipagar atap gedung itu. Angin sepoi-sepoi menghembus rambut jingganya.

"Kalau begitu, buat saja orang itu percaya!" Ichigo menoleh kearah Chad yag tahu-tahu buka suara.

" Ichigo yang kukenal pasti akan berkata begitu." Seulas senyum tergambar diwajah Ichigo mendengar kalimat sahabat baiknya itu. Ia segera bangkit dari lamunannya dan bergegas menuruni atap sekolah.

"Terima kasih, Chad!"serunya.

Bagian Timur Karakura-chou.

"Hadou no 33, Soukatsui!" Sebuah bola api biru meluncur dari telapak tangan Rukia, menghantam seekor hollow berwujud seperti kelelawar yang sedang di hadapinya. Rukia sedikit kewalahan menghadapi hollow itu. Wajar saja, hollow itu adalah Brick bone, walau kelas teri ia telah memakan seorang shinigami.

"Shinigami lemah! kau akan kujadikan yang ke-2."

Secepat kilat Brick bone melesat kearah Rukia membuat gadis itu mengayunkan zanpakutounya, menahan terkaman hollow ganas itu. "Hadou no 4, Byakurai!" petir putih ukuran kecil meluncur dari telunjuk Rukia mengenai sebelah tangan Hollow itu. Namun nampaknya serangannya malah membuat sang hollow makin bersemangat menekan Rukia. Shinigami itu terpental beberpa meter. Nafas Rukia mulai tidak beraturan. Tenaganya habis terkuras karena terlalu lelah mencari keberadaan Urahara Kisuke. Sesekali ia memandangi zanpakutounya dengan ragu.

"Tidak ada jalan lain…"gumamnya. Dengan raut wajah cemas Rukia mengangkat katananya lurus dihadapannya seraya mengumpulkan segenap kekuatan. Ia membalikkan katananya perlahan.

"Mai…Sode no Shirayuki…."

Tidak ada respon. Katana di genggaman Rukia bahkan tak bergeming sedikitpun. Hanya diam tak menjawab. Sontak kejadian itu membuat keringat deras mengucur di wajah Rukia. "Ke,kenapa?" Perasaan Rukia serasa hancur melihat Roh zanpakutounya sama sekali tidak menjawab panggilannya. Benar, ia hanyalah shinigami lemah yang kebetulan mendapatkan roh zanpakutou, pikirnya. Wajahnya tertunduk lemas menatap zanpakutounya dengan sendu. "Memang tidak bisa…." gumamnya.

Melihat pejagaan Rukia yang mengendur, kontan Brick bone mengambil kesempatan dan terbang hedak menerkam rukia. Rukia yang sama sekali lengah tak mampu bergerak hingga ia merasakan katana dalam genggamannya terlepas direbut seseorang. Sesosok pria berambut orange menebas hollow itu dengan katana miliknya. Perlahan hollow itu memudar dan kemudian menghilang diiringi raungan yang mengenaskan.

Rukia mengangkat wajahnya, memandangi si rambut orange tersebut. "Ichigo?"

"Yo!"

Ichigo menyodorkan zanpakutou yang ia rebut tadi kepada sipemiliknya. Dengan wajah lesu Rukia tersenyum sambil menyambut zanpakutounya. "Terima kasih…"

PLAKKK! Seketika tangan Ichigo memukul keras kepala Rukia hingga gadis itu tertunuk ke bawah. "BAKAMONO! Apa yang kau lakukan! Sakit tahu!"

"Makanya jangan pasang tampang begitu! Bisa-bisanya kau lengah, kalau saja aku tidak datang kau pasti mati!"

"Kau sendiri kenapa melakukan hal seberbahaya tadi! Ini pekerjaan shinigami, tidak ada hubungannya dengan manusia sepertimu!"

Ichigo terdiam sejenak menatap tajam pada lawan bicaranya "Kau tidak mempercayaiku?"

Rukia tak mampu membalas tatapan tajam Ichigo. Dipalingkannya wajahnya menghindari kontak dengan mata berwarna coklat terang itu. Ichigo menghela napasnya dengan berat. "Kau sudah bukan orang asing bagiku, Rukia. Karena itu…jangan sekali-kali bilang 'tidak ada hubungannya denganmu' lagi. Mengerti!"

Seketika wajah lesu Rukia berubah menjadi lebih segar. Perasaannya menjadi lebih hangat, bersamaan dengan warna langit yang berubah memerah karena mentari senja. Ia lalu memberanikan diri menatap wajah Ichigo yang terpantul warna mentari senja. Angin semilir meniup lembut rambut orangenya "Aku mengerti…Maafkan aku" Ucap Rukia sambil menunduk dan memejamkan mata. Suasana hening, hanya terdengar suara semilir angin.

"Nih!" Dengan cuek Ichigo melemparkan sebuah benda kecil ke arah Rukia. Rukia menatap benda itu heran. Sebuah phone strap berbentuk kelinci berukuran kecil.

"Cha, CHAPPY!" serunya girang.

"Kutemukan saat berangkat sekolah tadi. Kupikir kau benar-benar meyukai benda aneh itu. Yah…walaupun kecil kurasa tidak jelek-jelek amat…..Eh,tapi apa gunanya phone strap untuk shinigami?" Ichigo memegangi dagunya, memasang pose berpikir.

"Terima kasih Ichigo!" Perlahan senyuman manis tergambar di wajah Rukia membuat rona merah muncul di kedua pipi si rambut orange."Yah..." balasnya dengan salah tingkah. Seyuman manis Rukia berubah mejadi senyuman jahil seketika.

"Apa-apaan itu? kenapa wajahmu memerah? Apa kau tertarik padaku, Kurosaki-kun?"

"Bi,bicara apa kau! wajahku merah karena mentari senja bodoh!"

"Eh? tapi dari buku manusia yang kubaca , jika seorang pria memberi sesuatu pada seorang gadis itu berarti cinta"

"'Cinta' kepalamu! AAAHHH! Sudah! kembalikan saja benda itu!"

Keduanya terus bertengkar mulut dalam perjalanan pulang.

Hueco Mundo

"Kau sudah sembuh, Graydd?"

Sebuah suara menyapa Graydd Bronde yang sedang berdiri mematung di atas pasir putih hueco mundo. Sumber suara itu adalah seekor phanter berwarna putih dengan tatapan dingin.

"Grimmjow…"

Graydd berbalik menatap phanter yang dipanggilnya Grimmjow itu."Begitulah…Bahkan saat ini aku bisa mengalahkanmu, dan kau tak akan lagi menjadi Adjuchas terkuat."

Grimmjow terkekeh mendengarnya, membuat Graydd menyipitkan matanya sebagai tanda kekesalan.

"Omong kosong! Dengan kekuatanmu sekarang kau tak akan bisa menyetuhku. "

"Kita lihat saja nanti Grimmjow Jaeggerjack, aku telah menemukan sasaran menarik. Manusia yang mampu melihat shinigami…menarik bukan? Jika kumakan rohnya maka kekuatan ku akan meningkat! "

"Sudah kubilang, itu omong kosong!"

Graydd melepaskan pandangannya seraya berbalik "Dan saat itu, aku akan menghabisimu dan menjadi Vasto Lorde.!"

Dengan tawa kemenangan, graydd Bronde melangkah menuju real world….

To be Continued