Zapretnaya Lyubov'
The Edge of Love
.
.
© J.K. Rowling
Makasih yang uda review, semuanya sudah saya tampung dan perbaiki)
Oh iya, masalah penulisan kalimat langsung itu, saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter 1.
Saya baca lagi di novel HPnya sendiri itu ada yang pake koma, ada yang pake titik. Koma untuk mengakhiri kalimat yang masih akan diteruskan, kalau titik untuk mengakhiri kalimat yang sudah selesai saya akan mencoba membuat fict chapter ini seperti itu.
Untuk masalah POV, yang di chapter 1 itu maksudnya untuk mengembalikan POV yang semula dari sudut pandang Draco menjadi sudut pandang normal)
Terimakaish untuk kritik dan sarannya ya, semua!
Warning: rate T for this chapter, typo, OOC, etc.
.
.
Chapter 2
Vospominanie (Flashback)
.
-1,5 tahun tahun yang lalu -
Hermione's POV
.
Hari ini aku tak bertemu Malfoy. Begitupula hari-hari sebelumnya. Entahlah. Akhir-akhir ini sepertinya ia menghindariku. Apa ada yang salah denganku? Ah, aku ini kenapa ya? Singkat kata, Malfoy telah membuatku gila. Aku menepuk pipiku sendiri di depan kaca toilet perempuan, lalu mencuci mukaku. Aku agak berantakan akhir-akhir ini. Kemudian berjalan menuju aula untuk makan malam. Dan, oh my God! Itu Malfoy! Hatiku berteriak girang. Namun sayangnya, dia bersama teman-teman Slytherin-nya. Kulihat dari ujung mataku mereka semua manatapku jijik saat bersisipan jalan.
Tiba-tiba Malfoy memanggilku. "Hey, Granger!" aku berbalik dan mengangkat sebelah alisku, Malfoy mengisyaratkan pada teman-temannya agar berjalan duluan tanpanya, kemudian ia mendekatiku. Aku berjalan mundur hinggar menabrak tembok di belakangku. "Dengar, Granger tangannya mengambil sejambak rambutku dan memainkannya—aku memang tak menolak untuk menjadi temanmu, tapi bukan berarti aku menginginkanmu lebih," ucapannya menusuk-nusuk hatiku. "Jangan berharap banyak, Mudblood." kemudian ia mendengus dan meninggalkanku sendiri. Oh God, apa yang aku dengar barusan?
Aku shock.
Tidak mood makan, itu sudah pasti. Aku memutuskan langsung menuju ruang rekreasi Gryffindor. Sebisa mungkin menahan airmata yang akan menetes dari mataku. Ah, aku tak tahan lagi. Airmataku menetes tepat ketika menaiki tangga terakhir menuju ruang rekreasi Gryffindor. Damn, aku datang tepat saat Harry dan Ron keluar dari ruang rekreasi. Sesuai dugaanku, Ron langsung bertanya apa yang terjadi.
"Mione, kau kenapa?" tanya Ron dan hampir menghapus airmataku, tapi tangannya kutampik. Aku hanya tersenyum dan langsung berjalan menuju lukisan Fat Lady. "Mione, tunggu.." Ron menahan tanganku. Harry mengerti situasi ini "Semoga kau baik-baik saja, Hermione. Kalian kutunggu di aula besar." Harry pergi meninggalkanku dan Ron.
"Mione," Ron mengangkat daguku. "Kau kenapa?" aku hanya menggeleng. Ron tak boleh tahu masalahku. Ron kemudian mengusap air mata yang jatuh di pipiku. "Aku yakin, Malfoy lagi ya? Hell, Hermione. Lupakan saja Malfoy," aku terdiam. Ron benar, tapi tak mudah melupakan Malfoy. Sedetik kemudian, Ron mendekatkan wajahnya padaku, ini gawat. Saat hampir Ron mengecup bibirku (lagi, setelah dia menciumku terakhir kalinya di tahun ke-4 kami), aku tersenyum getir. "Sorry, Ron,aku akan menyusulmu nanti." kemudian aku masuk ke lukisan Fat Lady. Aku tak melihat ekspressi Ron, dan aku memang tak berminat melihatnya.
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Draco's POV
.
Ah, aku berkata terlalu keras pada Granger tadi. Jadi aku mengikutinya menuju ruang rekreasi Gryffindor secara diam-diam. Apakah aku gila? Ya, aku takut ia melakukan hal-hal bodoh —tentu aku tahu ia tidak bodoh— yang biasanya dilakukan wanita saat patah hati. Patah hati? Hey tunggu, jangan kepedean dulu Draco!
Astaga, aku kaget saat melihat Potter dan Weasley keluar dari ruang asrama dan berpapasan dengan Granger. Aku segera bersembunyi di lorong terdekat dan tetap mengawasi mereka bertiga. Kulihat Potter meninggalkan Weasley dan Granger berdua. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun—oh lihat! Weasley akan mencium Granger! Ah aku harus menghentikan mereka. Tapi apa hakku? Toh, Granger bukan siapa-siapaku. Ah aku bingung! Aku mengacak-acak rambutku sendiri.
Untunglah ternyata Granger menolaknya, dan sekarang Weasley sedang menuju kearahku, aku harus segera pergi!
'Granger—'
'—maafkan aku' ucap Draco dalam hati
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Normal POV
.
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu. Hermione masih belum bisa melupakannya, bagaimana pun, kata-kata Draco yang menyinggung masalah darah itu menyakiti hatinya. Toh, bukan maunya Hermione kan kalau dia dilahirkan sebagai muggle-born?
Hermione me-refresh pikirannya dengan membaca 'History of Hogwarts' untuk yang ke-sekian-kalinya. Ah, lama-lama ia merasa lapar juga. Sebelum jam makan malam habis, Hermione segera turun ke aula untuk makan malam. Ron dan Harry masih ada di meja asrama Gryffindor. Hermione duduk di sebelah Ron. Ron segera merangkul Hermione "Feel better, Mione? Kau beberapa hari terakhir ini terlihat buruk," namun tangannya lagi-lagi 'diusir' Hermione "Yeah" jawabnya singkat. Terdengar cekikikan dari meja Slytherin. Ya, itu Draco dan gerombolannya.
"Ditolak, Weaselbee?" ejek Draco
"Shut up, Malfoy!" Ron mendelik
"Dia tak akan pernah berpaling padamu, selama dia masih menyukai seseorang," Hermione langsung tegang mendengar omongan Draco. Jangan sampai rahasianya terbongkar, apalagi di tempat paling umum di Hogwarts!
Ron yang mengetahui keadaan Hermione, dan sebenarnya Ron juga merasa sakit hati dengan kata-kata Draco, langsung mengacungkan tongkat sihirnya pada Draco. "Rectusempra!"
Draco terjerembab ke belakang. Diikuti gelak tawa dari asrama Hufflepuff dan Ravenclaw. Draco hampir menyerang balik Ron ketika Professor Snape menghentikan mereka.
"Expelliarmus!"
Tongkat Draco dan Ron langsung melayang dan ditangkap oleh Professor Snape.
"Mr. Weasley, karen akelakuan Anda, 30 poin dikurangi dari Gryffindor,"
'Oh, Crap!' pikir Ron
"Tapi, Sir, tadi yang memulai mengejek Ron adalah Mal Harry mencoba membela asramanya
"Mengejek tidak dilarang di Hogwarts, Mr. Potter. Saling memantrai sesama murid, itu dilarang," Snape mengayunkan kakinya keluar aula
"Maaf, Ron. Gara-gara aku Hermione memelas
"Tak apa, Mione. Santai saja," Ron tersenyum tulus
"Cih, adegan telenovela menyebalkan," cibir Draco sambil keluar dari aula besar
Ron hampir menghajar Draco, namun untungnya ia ditahan oleh Hermione, "Sudahlah, Ron.. Sudah," tapi Ron tidak mau kalah. "But, Mione, dia sudah mengejek kita," muka Ron sudah merah padam. "Ya, aku tau, Ron.. tapi—",—aku akan menghajarnya," potong Ron. Namun kemudian –cup !– Hermione mencium pipi Ron dengan lembut, dan Ron langsung otomatis mematung "Okay, Mione."
Draco, ia melihat pemandangan panas tersebut dan langsung berjalan menuju ruang rekreasi Slytherin dengan langkah cepat. Perilaku Draco tentu saja membuat teman-teman Slytherin-nya bertanya-tanya. Tentu saja, pangeran Slytherin tersebut tak biasanya gusar seperti ini.
"Drake, kau menyukai gadis Gryffindor tersebut?" tanya Pansy
"Hahaha, maksudmu Granger? Mana mungkin aku menyukainya!" bantah Draco dengan senyum dan ketawa yang dipaksakan
"Kau tak bisa membohongi kami, Draco," selidik Goyle
Draco langsung terdiam.
"Drake tentu tak akan menyukai gadis keturunan muggle tersebut," tiba-tiba perempuan berambut coklat bergabung bersama mereka
"Kau masih kecil, Greengrass. Tak akan mengerti soal cinta," Crabbe terkekeh
"Aku memang masih kecil, bukan berarti aku tak mengerti cinta," Astoria melirik Draco penuh harap. Draco bergidik.
"Tapi kau masih menempuh tahun keempat disini. Aku yang pertama mengenal Drake, jadi akulah yang pantas mendapatkannya!"
"Oh yeah? Aku tak pernah mengenal istilah 'siapa cepat dia dapat', aku hanya tahu 'siapa pantas dia dapat'!"
Draco memutar bola matanya. Pertengkaran antar-gadis yang memperebutkannya lagi. Draco pergi keluar dari pertengkaran tak ada gunanya tersebut. Ia memutuskan untuk berkeliling halaman sekolahnya, menikmati ribuan bintang yang bertaburan di langit serta sejuknya angin malam yang berhembus perlahan.
Dingin.
Iya, sebentar lagi musim dingin. Berarti sebentar lagi akan diadakan yule ball.
'Siapa yang akan kuajak?', pikir Draco
'Pansy? Tapi tahun lalu sudah. Daphne? Ah pasti Astoria iri. Atau Astoria saja ya? Tidak, aku tak terlalu suka anak itu. Ataukah—'
"Granger? Sedang apa kau disini?" tanya Draco pada Hermione, yang sedang duduk di bangku panjang, membuat Draco membuyarkan pikirannya tentang pasangan pesta dansa.
"Kau sendiri?" Hermione balik bertanya tanpa repot-repot menengok sedikitpun ke arah Draco. Sepertinya dia masih sakit hati padanya.
"Aku, kau tahu, yeah sedang berjalan-jalan saja. Jadi, kau ngapain?"
"Kau tak lihat? Aku sedang membaca buku," balas Hermione datar.
"Oh yah, err," Draco menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia memilih duduk di sebelah Hermione. Beberapa menit suasana terasa kaku. Draco mencoba mencairkannya, "Kau tak takut matamu rusak, eh? Tempat ini kurang penerangan, kupikir,"
"Aku sudah terbiasa,"
"Oh," dan kekakuan kembali menyerang mereka
"Kau kenapa membaca buku disini?" Draco melihat buku Hermione. Tebal.
"Aku kurang nyaman bila belajar di kamar. Teman-teman sekamarku selalu bergosip masalah cinta dan laki-laki,"
"Well yeah, itu wajar untuk anak perempuan seusia kita, lalu mengapa tak di ruang rekreasi?"
Hermione diam.
"Weaselbee, eh? Aku tahu kok, kau menghindarinya," Hermione menutup bukunya "Exactly, kau tahu darimana?" Draco hampir saja keceplosan soal hampir-ciuman-nya Hermione dan Ron dulu itu, atau bisa saja Hermione canggung pada Ron karena telah mencium pipinya di aula tadi. Tapi akhirnya dia menjawab bahwa itu hanya instingnya belaka.
"Omong-omong, mengapa kau jadi perhatian padaku malam ini? Menyapaku, duduk di sebelahku, dan menanyaiku. Ada apa?" nada bicara Hermione terdengar seolah dia tak pernah menyukai Draco. Draco sendiri baru sadar apa yang telah dia lakukan.
"Tak ada apa-apa," Draco jujur, ia sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba jadi lebih lunak pada Hermione.
"Tak kembali ke asramamu?" tanya Hermione sembari berdiri. Draco menggeleng, "Nanti saja, kau duluan kalau mau," Hermione mengangguk. "Baiklah, bye," Hermione tersenyum dan melambaikan tangannya
Selintas dipikiran Draco tadi muncul Hermione. Terbesit dipikirannya untuk mengajak Hermione, tepat pada saat itu juga Hermione ada di depannya. Semuanya terjadi begitu saja. Seperti takdir. Ah! Takdir. Secara otomatis tadi, Draco duduk di samping Hermione dan menanyakan maupun membicarakan hal-hal yang sebenarnya kurang etis ditanyakan oleh seorang Draco Malfoy pada gadis Gryffindor yang mempunyai perasaan bertepuk sebelah tangan pada Draco sendiri. Tanpa sadar, Draco tersenyum sendiri. Apakah ia mulai menyukai Hermione? Sejak kapan? Draco tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri.
Draco berdiri dan beranjak meninggalkan bangku panjang itu. Dia menoleh sesaat melihat bangku itu lagi,
'Hermione Granger, mungkin sekarang aku yang terperangkap jeratanmu,"
Draco berjalan menuju kamarnya, dan tiduran di sana. Di pikirannya hanya ada 1 orang.
Hermione Granger
Ah, cinta memang bisa memuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bahkan untuk seorang Draco Malfoy. Baru beberapa hari yang lalu ia mengejek Hermione, namun sekarang lihatlah apa yang terjadi pada dirinya.
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Musim dingin telah tiba. Natal sebentar lagi. Akan diadakan yule ball yang diikuti murid tahun 4 hingga 7 di hari terakhir mereka di Hogwarts sebelum libur natal, berarti masih ada waktu satu minggu bagi mereka yang belum memiliki pasangan untuk mencarinya. Ah sungguh kasihan mereka yang tidak akan memiliki pasangan untuk pergi ke pesta dansa paling meriah untuk tingkat anak sekolahan tersebut. Tahun lalu Draco telah mengajak Pansy. Kalau Hermione, saat kelas 4 ia pergi bersama Harry, kelas 5 ia pergi bersama Ron. Hermione sendiri tak punya rencana akan pergi ke yule ball bersama siapa tahun ini.
"Good Morning, Granger," sapa Draco saat berpapasan dengan golden trio di aula saat sarapan
"Good Morning, Malfoy," balas Hermione
"Good Morning? Apa aku salah pendengaran tadi. Seorang Malfoy mengatakan ucapan selamat pagi kepada Hermione?" bisik Ron pada Harry
"Bukan masalah ia mengucapkan ini atau itu Ron, masalahnya adalah, ia hanya menyapa Hermione saja, bukan kita!" balas Harry sambil berbisik juga
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Hermione sumringah sambil menengok ke arah dua lelaki tersebut
"Bukan apa-apa, Hermione." Harry berbohong. Hermione senyum-senyum sendiri lagi. "Dan lihat apa reaksi dia setelah disapa tadi!" Ron mendesis dan mendelik pada Harry "Jangan cemburu, Ron." Harry terkekeh
Setelah kejadian aneh tadi, Ron jadi aneh. Dia makan banyak-banyak dengan cepat. Harry sampai berkali-kali harus menepuk-nepuk punggung Ron yang tersedak. Semua juga tahu, Ron makan dengan cara begitu jika dalam 2 keadaan: kelaparan atau kesal.
"Ada apa dengan dia sih?" tanya Hermione
"Haa..hii..hi haahoy(tadi, si Malfoy Ron belum sempat menyelesaikan perkataannya sebelum punggungnya ditepuk keras-keras oleh Harry. Untung saja Hermione tadi tak mengerti apa maksud Ron.
"Bukan apa-apa, Hermione. Dia kelaparan saja kok,"
Hermione menarik nafas dan mulai melihat-lihat keadaan sekeliling. Matanya bertemu dengan mata Draco. Dengan bahasa isyarat rumit —yang bahkan Hermione harus berkali-kali mengerutkan dahi sebelum akhirnya mengerti— Draco mengisyaratkan pada Hermione agar menemuinya di menara astronomi nanti setelah jam makan malam. Hermione hanya mengangguk saja.
"Hermione, katakan padaku," tanya Ron menyelidik tiba-tiba, membuyarkan tatapan mata Hermione pada Draco.
"What?"
"Kau masih menyukai Malfoy?"
"Well, ehm.."
Ron mengangkat sebelah alisnya. "Ya?"
"Ah! Sudah jam 8! Aku harus mengikuti pelajaran Arithmancy! Bye! Sampai ketemu nanti!" Hermione terkesan grogi dan kelihatan sekali kalau mengindari topik pembicaraan tersebut.
"Apa-apaan sih dia, pelajarannya kan dimulai pukul 9," ujar Ron sambil menggigit paha ayam di tangan kananya dengan kesal
"Yah, setidaknya dari sikapnya tadi, kau telah mengetahui jawabannya, Ron,"
"Maksudmu?"
"Wanita tak akan suka ditanyai masalah laki-laki jika cintanya bertepuk sebelah tangan,"
"Benarkah?"
"Ginny yang memberitahuku," Harry mengangkat bahu
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Great Hall di malam harinya.
Terlihat indah sekali, dekorasi natal sudah terhias. Di belakang kursi kepala sekolah, telah terdapat pohon hias yang meriah. Dihias oleh salju, permen, gantungan, dan gnome di ujung pohonnya alih-alih bintang. Miniatur santa claus beserta rusa-rusanya disihir untuk bisa bergerak mengelilingi pohon natal itu. Daun-daun mistletoe jenis Vascum album tumbuh di setiap sudut sekolah ini. Santapan-santapan khas natal telah terhidang di meja. Nafsu makan Harry dan Ron bangkit seketika, namun tidak dengan Hermione.
"Hermione? Makanmu sedikit sekali," tanya Harry
"Aku tak begitu lapar,"
"Kenapa? Hidangan seperti ini hanya ada setahun sekali lho," ujar Ron
"Iya sih, tapi untuk seminggu ke depan aku masih bisa menikmatinya,"
"Ngomong-ngomong seminggu lagi yule ball, kau sudah dapat pasangan, Harry? Hermione?"
"Ginny," jawab Harry cepat
"Aku tak yakin apakah akan datang atau tidak, jika kau ingin mengajakku sebaiknya kau mengajak anak lain, Ron." Hermione menjawab dengan lancar seolah tahu bahwa Ron akan mengajaknya.
"Ah baiklah. Aku akan mencoba mengajak Lavender," Ron melirik Hermione berharap gadis itu akan cemburu. Tetapi Ron tak menemukan sedikitpun rasa cemburu di mata Hermione.
"Ah, kupikir aku harus ke suatu tempat sekarang," Hermione pamit, sebenarnya ia akan menemui Draco di menara astronomi.
"Kau mau kemana?" Ron ikut berdiri juga "Hanya tugas tambahan, Ron. Kau tak usah ikut," Hermione langsung bergegas keluar aula dan menuju menara astronomi. Draco telah menunggunya disana. Warna kulitnya yang pucat dan rambutnya yang pirang terlihat mencolok. Bagaimana tidak, jubah Hogwarts berwarna hitam dan menara astronomi minim penerangan, jadi warna kulit dan rambutnya terlihat begitu kontras.
"Ada apa, Malfoy?" Hermione berusaha tenang walau sebenarnya hatinya dag-dig-dug tak karuan
"Aku hanya ingin melihat bintang bersamamu," jawab Draco sambil menengadah ke langit. Hermione tersipu malu. Tapi akhirnya dia mendekat ke Draco dan berdiri di sebelahnya. Hermione menggosok-gosokan kedua tangannya. Dingin.
"Dingin ya?" tanya Draco. Hermione mengangguk. "Kau kenapa tidak pakai jubahmu saat kesini sih," Draco tersenyum pada Hermione. Hermione tercengang melihat Draco mendadak lunak.
"Aku tak tahu kalau sedingin ini, Malfoy." gigi Hermione mulai bergemeretak. Draco, sebagai laki-laki, mencopot jubahnya dan memakaikannya pada Hermione. "Lebih enakan?" Hermione mengangguk. "Terima kasih" ucapnya. Jujur saja, Hermione merasa aneh memakai jubahnya Draco. Kebesaran, plus melihat tanda ular Slytherin alih-alih singa Gryffindor terasa sangat asing baginya. Namun dia senang, tak kedinginan lagi. Wangi parfum white musk juga terasa sangat wangi di hidungnya.
"Ngomong-ngomong, kau sudah dapat pasangan yule ball, Granger?" Hermione menggeleng. "Belum ada yang mengajakku, kau?"
"Aku bingung mau mengajak siapa. Pansy sudah tahun lalu, dan aku malas dengan perempuan lain. Aku tak mengenal mereka sedekat aku mengenal Pansy,"
Hermione sedikit cemburu mendengar omongan Draco.
"Tapi di asramamu kan banyak perempuan yang cantik-cantik,"
"Ya memang," Draco menjawab santai
"Kau kan mudah tinggal mengajak mereka, dan mereka mau,"
"Tapi sepertinya tahun ini lain," Hermione mengangkat sebelah alisnya. "Apanya?"
"Granger, kalau aku yang mengajakmu, maukah kau pergi ke yule ball bersamaku?" tanya Draco sambil menatap Hermione dalam. Sesaat, Hermione merasa ada Nagini yang melata dan menggeliat di dalam perutnya. Ia tak melihat sedikitpun keraguan dan kebohongan di mata Draco.
"Kau serius?"
"Tentu, apa aku terlihat berbohong?" Draco tertawa renyah
"Hahaha, kau sudah tahu jawabanku, Malfoy." Jawab Hermione mantap. Persetan dengan berubahnya sikap Draco, yang penting sekarang Draco telah menjadi 'sesuatu yang semakin dekat' dengan Hermione. Mereka terus berbincang-bincang selama setengah jam selanjutnya, sampai akhirnya Draco membanting pembicaraan ke hal-hal yang bisa membuat Hermione panas-dingin.
"Granger, kau tahu mitos tentang mistletoe?"
"Mitos orang mana? Rumania? Eropa pertengahan? Skandinavia? Atau mana?" sebenarnya Hermione sudah tahu hal yang akan ditanyakan Draco. Tentu bukan mitos orang Rumania yang menyatakan bahwa mistletoe adalah obat. Bukan pula mitos orang Eropa pertengahan yang menyatakan bahwa mistletoe digantung di pintu agar para penyihir tidak bisa masuk.
"Skandinavia,"
"Ah, err, aku tahu, kenapa?"
"Isinya apa, Granger? Katakan padaku,"
Lidah Hermione mendadak kelu. 'Apa maksud Malfoy sebenarnya?' pikirnya. "Mitos orang Skandinavia menyatakan bahwa, mencium sahabat atau keluarga di bawah mistletoe melambangkan persahabatan dan cinta sejati. Kalau tidak melakukannya, akan sial sepanjang tahun,"
"Kau memang brillian, Granger." kekehnya
"Ada apa sih kok bertanya begitu?" tanpa menengok pada Hermione, Draco menunjuk atas. Hermione mendongak dan mulutnya menganga melihat daun-daun mistletoe perlahan tumbuh diatas mereka.
"Sejak kapan?"
"Sejak awal mereka telah mengetahui ada pasangan yang berduaan di tempat sepi seperti ini, mereka memberi kesempatan,"
"Jadi mereka mengira kita pasangan? Gitu?"
"Exactly,"
Hermione menelan ludahnya. Apa yang harus ia lakukan?
"Granger…"
"Y..ya?" Hermione gugup
"Kau tak ingin sial sepanjang tahun kan?" Draco menggigit bibir bawahnya, tanda ia grogi mengatakan hal tersebut
"Tentu tidak, kau?"
"Aku juga tidak," Draco diam sejenak "kau mengerti maksudku?" sebelum mendengar jawaban Hermione, Draco perlahan menaruh tangannya di pinggang Hermione. Menariknya perlahan ke pelukannya. Hermione tak berkutik, ia hanya mengikuti perintah Draco. 5 detik kemudian, bibir mereka bertemu. Hermione merasa Nagini di perutnya mulai menggeliat-geliat lagi. Merlin! Rasanya sungguh luar biasa hangat.
5 menit bibir mereka berpagut sebelum akhirnya mereka 'sepakat' untuk melepaskannya.
"Ah, sudah jam segini!" pekik Hermione ketika sadar sudah berapa lama mereka disana
"Iya, kau kembalilah, sudah malam" Draco tersenyum. Hermione langsung mencopot jubah Draco dan mengembalikannya ke Draco. "Thanks, Malfoy, sampai ketemu saat yule ball nanti!" Hermione terburu-buru turun ke bawah. Draco hanya tersenyum.
Sesampainya Hermione di ruang rekreasi, ia langsung ditanyai pertanyaan oleh kedua sahabatnya. Terutama Ron.
"Kau habis darimana, Mione?" Ron mulai menyerbu Hermione
"Tugas, Ron! Ah aku mengantuk sekarang, sampai besok!"
Ron hanya memandang Hermione naik ke kamarnya. Ia melirik Harry, meminta pendapatnya. Harry hanya mengangkat bahunya.
"Jangan tanya aku, Ron. Aku bukan wanita," katanya
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Yule ball
Pesta dansa termeriah di Hogwarts. Aula besar telah disulap menjadi lantai dansa yang mewah. Dekorasi berwarna putih menghiasi setiap sudutnya. Sangat cantik. Di Aula telah terlihat sebagian murid yang telah siap menghadiri acara tersebut bersama pasangan-pasangannya masing-masing. Para anak laki-laki yang tidak mendapat pasangan juga hadir, namun mereka hadir bersama teman-temannya yang juga tidak mendapat pasangan.
Harry dan Ron juga telah hadir disana, menunggu Ginny dan Lavender yang masih berdandan di ruang rekreasi, dasar perempuan. Harry dan Ron tampak lebih tampan malam itu. Rambut Harry sedikit diberi sihir agar bisa rapi sepanjang malam, ia juga memakai kemeja berwarna putih tanpa dibalut jas. Dasinya berwarna abu-abu. Sedangkan Ron, rambutnya yang pendek dibiarkan sedikit acak-acakan, jasnya warna coklat dengan kemeja juga berwarna putih. Jasnya tak dikancingkan dan dia juga tak memakai dasi. Terkesan lebih wild dari Harry.
"Harry, kau lihat Hermione?" tanya Ron
"Tidak, mungkin sebentar lagi dia datang. Itu kalau dia mendapat pasangan. Ya, kau tau kan dia tidak akan datang jika tidak mendapat pasangan, ego-nya sangat tinggi. Jika dia datang, ya kau harus siap mental mengetahui siapa pasangannya, Ron."
"Aku tak bisa menebak apakah dia datang atau tidak, Harry. Dia selalu menghindari topik ini! Aku tak tahu apakah dia berusaha merahasiakan pasangannya, ataukah dia malu karena tak punya pasa Ron belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Hermione masuk ke aula, menghampiri mereka. Hermione tak kalah cantiknya dengan aula. Rambutnya dikepang ke samping dengan hiasan bulu-bulu warna putih menempel di belakang kepalanya. Dressnya selutut warna hitam dengan model setengah lengan. Hermione juga memakai kalung manik-manik yang Ron lihat dibuat Hermione sendiri di waktu senggangnya. Ron baru menyadari bahwa kalung itu untuk dipakai di yule ball sekarang.
"Hai, Harry. Hai, Ron." sapanya
"Hai juga, Hermione. Kau tampak lebih cantik hari ini," puji Harry yang diikuti jawaban terimakasih dari Hermione. Ron juga ingin mengatakan hal itu, tapi sudah didahului oleh Harry. Ron langsung to the point menanyakan hal yang daritadi ingin ditanyakan.
"Disamping itu, Hermione, kau datang bersama siapa malam ini?" Ron mendesis
Seolah menjawab pertanyaan Ron, Draco masuk ke aula dan menghampiri mereka.
"Granger," Hermione menoleh dan tersenyum pada Draco. Kumis Merlin! Draco tampak sangat tampan malam ini! Ia memakai jas atasan berwarna hitam dan kemeja warna putih. Dasinya warna hijau zamrud dipasang rapi, dibawah kancing paling atas yang sengaja ia buka. Rambutnya di model sedikit berantakan, namun mengesankan Draco lebih cool.
"Sampai nanti, kalian berdua," Katanya sambil meninggalkan mereka berdua yang terpatung.
"DAMN!" Ron yang akhirnya tersadar dari ke-shock-annya hampir mengejar mereka namun akhirnya ditahan Harry.
"Biarkan dia, Ron. Toh, Hermione sudah lama menyukai Malfoy,"
"Tapi, Harry, kita tak tahu apalagi rencana busuk Malfoy! Tahun lalu Malfoy juga berbaik hati pada Hermione namun ternyata itu semua agar nilai OWLnya bagus! Sekarang apalagi? Mencicil untuk ujian NEWT tahun depan?" Ron kehilangan kendali
"Ron, jika kau melakukan ini, kau akan menghancurkan pesta ini, poin Gryffindor bisa dikurangi banyak karena kau,"
Ron mendengus dan diam. "Fine, tapi kita awasi mereka dari jauh, oke?" Harry hanya mengangguk.
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Ron mengacuhkan Lavender yang daritadi sudah ada di sebelahnya. Tentu, Lavender yang merasa dikacangin tak terima, Ron yang mengajak kenapa malah Lavender yang merana?
"Hey, Ron. Kalau kau memang segitu inginnya bersama Hermione mengapa tak mengajak dia?"
"Keduluan," jawab Ron santai sambil menunjuk Hermione dan Draco yang sedang asyik berdansa di lantai aula yang berwarna perak. Lavender ikut terkejut.
"Malfoy? Hermione bersama Malfoy? Oh sungguh merananya dirimu, Ron."
"Ya, tapi aku tak akan menjadi Ronald Merana di kamar mandi laki-laki, kau tenang saja," Ron melucu tapi garing, Lavender masih menatap Draco dan Hermione takjub.
"Kupikir mereka serasi, Ron! Lihat betapa bahagianya wajah mereka!"
"Ya, dan mereka tak tahu bahwa banyak mata menatap mereka jijik," yang dimaksud Ron adalah tatapan dari para fans Draco, dan sebagian besar teman-temannya di Slytherin. Sepertinya, Draco juga tak memberitahu teman-teman Slytherin-nya, Ron melihat Pansy dan Blaise duduk sambil terus menatap Draco dengan tatapan-tak-percaya.
Ron juga menatap tak percaya pada Harry yang tampak begitu bahagia bisa berdansa dengan adiknya Ron. Seandainya Ron juga bisa menikmati malam ini.
"Lavender, kau mau berdansa?" tanya Ron pada akhirnya
"Tentu, Ron!" Lavender menjawab dengan semangat, dan mereka pun melangkah ke lantai dansa
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Sekarang sudah larut malam. Aula masih ramai dengan murid-murid Hogwarts yang sedang mengikuti yule ball, namun hanya separuh yang masih tersisa di lantai dansa. Termasuk Draco dan Hermione. Mereka berdua malam ini sepertinya tersihir, walau mereka belum berpacaran namun muka keduanya menyiratkan kebahagiaan dan kepuasan. Hermione menyenderkan kepalanya di dada Draco sambil terus bergerak-gerak mengikuti alunan musik yang mengiringi. Tangannya memegang pundak Draco, dan Draco memegang pinggang Hermione. Mereka telah benar-benar jatuh cinta.
"Malfoy, kenapa kau berubah?" Hermione bertanya sambil terus menyenderkan kepalanya
"Berubah bagaimana?"
"Entahlah, kau jadi baik padaku," Hermione berhenti menari sebentar dan menatap Draco. "Padahal beberapa minggu yang lalu kau melarangku berharap banyak,"
"Hm, aku ingin kau tahu, Granger. Pada saat itu, aku berbicara begitu padaku hanya karena aku seorang Malfoy. Bukan seorang Draco. Setelah mengatakan itu, aku juga mengikutimu sampai depan ruang asrama, makanya aku tahu kalau kau menghindari Weasley, kau hampir dicium kan?" Draco berhenti sebentar, membiarkan Hermione mencerna kata-katanya. "Aku juga selalu memperhatikanmu, Granger. Setiap habis kucemooh, kau selalu murung," Draco tertawa
"Kau senang melihatku murung?"
"Bukan begitu, hanya saja aku senang kalau ternyata kau sebegitu mempedulikan aku,"
"Tentu, aku sudah pernah bilang kalau aku menyukaimu," Hermione tertawa dipaksakan
"Aku kagum dengan usahamu 'mengejar-ngejarku', Granger. Hahaha,"
"Aku tak mengejar-ngejarmu ya! Ga sampe gitu juga kali!"
"Sudahlah, Granger. Kau lupakan masa lalu kita, sekarang hanya ada masa depan,"
Hermione hanya mengangguk, walau dia tak sepenuhnya mengerti maksud Draco. Sementara di seberang aula, Ron dan Harry telah lelah berdansa dengan pasangannya. Bahkan Lavender dan Ginny sudah balik duluan ke ruang rekreasi karena mengantuk. Melihat adegan mesra Draco dan Hermione, Ron dan Harry langsung minggat sejauh-jauhnya dari aula.
"Aku muak," kata Ron
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Sejak saat Draco jadi lebih dekat dengan Hermione. Bahkan setelah libur natal juga. Banyak gosip yang beredar karena kedekatan mereka. Mulai dari Hermione yang memberi ramuan pada Draco —ini versi fansnya Draco—, lalu Draco yang memberi pelet pada Hermione —versi fansnya Hermione—, hingga versi Ron yang bersikukuh pada pendapatnya bahwa Draco hanya ingin nilai NEWTnya bagus saja. Nyatanya, Draco dan Hermione tidak terpengaruh kabar tersebut, mereka tetap berjalan kesana-kemari. Keduanya sering ke perpustakaan, Draco yang sesungguhnya berotak encer namun sayangnya malas, dia berusaha belajar dengan sungguh-sungguh agar pantas bersaing dengan Hermione. Bahkan selama ini, Draco yang selalu mencari-cari Hermione. Tak pernah sekali pun Hermione yang mengajak Draco. Sepertinya keadaan berbalik, Draco yang mengejar-ngejar Hermione.
Tak terasa musim dingin berganti musim semi yang hangat. Cuaca di luar sangat indah, Draco ingin sekali mengajak Hermione berjalan-jalan diluar.
"Weasley, kau tahu dimana Granger?" tanya Draco pada Ginny yang kebetulan bertemu dengannya di koridor dekat sayap rumah sakit
"Tidak, kenapa?"
"Aku ingin mengajaknya berjalan-jalan di luar. Dasar, Granger. Aku kan pacarnya kenapa dia tak memberiku kabar sih," Draco pergi sambil ngedumel sendiri
"Tunggu, Malfoy!" Draco berbalik lagi ke arah Ginny sambil menunjukkan ekspressi muka 'ada apa'
"Kau bilang tadi Hermione adalah pacarmu?"
"Kenapa memangnya?"
"Kenapa Hermione tidak pernah cerita padaku? Dia bahkan bilang padaku tidak punya pacar!"
"Hah?" kali ini Draco yang melongo. "Bagaimana bisa kami tak pacaran, kami selalu bersama!"
"Aku tak tahu apa dia memang merahasiakan hal ini, tapi— ah aku hanya ingin tahu, dulu kau nembak Hermione seperti apa?"
Draco menceritakan semua yang ia dan Hermione bicarakan pada Ginny. Mulai dari kejadian di menara astronomi, hingga pernyataan Draco tetang 'masa depan'-nya bersama Hermione. Hermione mengangguk ia anggap bahwa Hermione telah menerimanya.
"Hahahaha! Kau belum mengenal Hermione sepenuhnya, Malfoy!" Ginny tertawa terbahak-bahak. "Kau tahu, Hermione tak begitu mengerti masalah cinta! Dulu juga dengan kakakku begitu, mereka sama saja. Kau hanya berkata begitu mana mungkin Hermione menganggapnya sebagai acara pernyataan cinta, kau harus mengucapkan kalau kau suka dia dengan jelas di depannya. Jangan secara implisit gitu,"
"Jadi, selama ini dia belum menganggapku pacarnya?" Draco melongo ngerti. Ginny mengangguk pelan.
"Mungkin kau tahu dimana dia sekarang, Malfoy. Cari dia dan cepat katakan sebelum dia diambil kembali oleh kakakku,"
"Oke, thanks, Weasley!" Draco buru-buru mencari Hermione, ia tahu tempatnya.
Perpustakaan.
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Begitu menemukan Hermione, Draco langsung duduk di sebelahnya.
"Kau mengapa tak bilang mau kesini sih?"
"Memangnya kenapa kau harus tahu?" tanya Hermione santai
'Oh damn! Benar kata Weasley! Jadi selama ini hanya aku yang menganggap kita pacaran?' pikiran Draco kacau balau
"Tentu aku harus tahu, karena—"
"Kenapa kau harus tahu? Kau bukan siapa-siapaku, kau kan Hermione belum sempat selesai berbicara tapi mulutnya sudah dibekam oleh mulut Draco. Setelah dilepaskan, muka Hermione memerah.
"Tolong dengarkan baik-baik saat orang lain berbicara, Granger. Jangan kau potong,"
Hermione langsung diam, dan mengangguk.
"Kau berpikir, aku terlalu cuek tentang semuanya. Jadi kau merasa tidak perlu memberitahuku kau kemana dan ngapain, kan?"
"I..iya,"
"Kalau begitu, tak ada alasan untuk tidak memberitahuku lagi,"
"Huh?" Hermione mulai tak mengerti maksud ucapan Draco. Draco menarik nafas dalam dan mengatakan dengan sangat serius. "Saat di menara astronomi, aku menciummu dengan perasaanku, bukan hanya karena ada mistletoe diatas kita. Aku selalu menemanimu saat waktu senggang, di yule ball juga kita telah membicarakan 'masa depan' kan? Lalu kau sering sekali pergi sendirian sementara aku mencari-carimu. Mengapa kau tak memikirkan perasaanku sedikit saja?" tatapan mata Draco berubah menjadi sangat amat hangat.
"Ma..masa depan? Oh saat yule ball itu ya. Bisakah 'itu' disebut dengan pengakuan cinta? Banyak orang yang akan berpikir kalau itu bukan," Hermione baru mengerti maksud Draco saat itu
"Kau baru mengerti? Astaga, itu pertama kalinya aku mengutarakan perasaanku padamu. Kupikir tadi aku akan mengatakan hal itu sekali lagi padamu, tapi lupakan sajalah," Draco berbalik memunggungi Hermione
"Itu OK, aku akan menghitungnya sebagai pengakuanmu," Hermione tersenyum "aku tahu perasaanmu sekarang, itu sudah cukup," Draco kemudian berbalik. Ah, senyuman Hermione benar-benar membuat ular di perut Draco menggeliat senang.
Pipi Draco bersemu merah. Hermione bahkan rela bolos seharian jam pelajaran demi melihat Draco yang seperti ini!
Draco menarik kepala Hermione ke pelukannya.
"Aku menyukaimu, Granger!"
di Perpustakaan Hogwarts, pada musim semi tahun ke-6,
Hermione Granger resmi menjadi pacar Draco Malfoy.
dan itu menjadi awal mula semua cerita ini.
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
A/N Chapter 2 selesai! Disini isinya flashbacknya Hermione sama Draco sampai mereka jadian aja.
Saya minta maaf kalau ada kekurangan, apa pun itu.
Makasih yang uda review chapter 1 kemarin ya x)
Oh iya, ternyata disini belum ada lemon dan rate-nya belum dirubah. Berarti di chapter 3 ya!
Tolong reviewnya untuk chapter 2 ini. Terimakasih xD
