Berjalan dengan tenang—bahkan santai—seraya sesekali bersenandung ringan, berusaha melupakan rasa penat yang menjalari tubuh mungil gadis bermarga Hanazono itu. Namun, semuanya berakhir saat dua orang pemuda yang baru saja dikenalnya menghadang perjalanannya menuju rumah. Mereka—Kazune dan Jin—saling melempar tatapan maut mereka, seakan ada percikan listrik yang berada di antara keduanya.
"Doushite no senpai?" Tanya Karin heran. Karin tau, mereka berdua memang saling bermusuhan. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa mereka berdua menghadang perjalanan pulangnya? Apa dia melakukan kesalahan? Karin gemetar.
"Anoo-" belum selesai Kazune berbicara, Jin langsung berdiri di depannya seraya memotong ucapannya.
"Apaan sih! Aku duluan! Ini Karin-san se-" Kazune mendorong Jin menjauh dari hadapannya sebelum Jin berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Jangan menghalangiku baka! Karin-san ayo-"
"Kau yang menghalagiku beautiful boy! Karin-san, minta-"
"Abaikan saja artis mesum ini Karin-san! Ayo, akan kuantar pulang-"
"Yang benar saja! Tak akan kubiarkan Karin pulang bersama denganmu cocan!"
"Senpai! Sebenarnya aku sedang terburu - buru. Aku harus menjemput-"
"Apa-apaan kau! Dasar artis rendahan!"
"Daripada kamu, cocan! Sebenarnya gendermu apa eh?"
"CUKUP!" Lerai Karin, kesal karena mererka berdua saling memotong ucapan masing-masing. Namun tak ada yang mendengarkannya—seperti mengabaikan keberadaannya karena ucapannya sama sekali tidak didengarkan. Kini, terpatri dengan sangat jelas empat buah sudut siku-siku di keningnya.
"Kau, cari gara-gara dengan orang yang salah!" Seru Kazune galak.
"Eh? Siapa takut?!" Ejek Jin. Kini, keduanya bersiap untuk memukul lawan mereka masing-masing.
"Berhenti!" Karin langsung mengangkat kaki kanannya untuk menendang kedua tangan yang terkepal milik Kazune dan Jin yang hampir melukai keduanya sehingga serangan mereka berhasil digagalkan oleh sang master karater.
"Gh, itai yo!" Keduanya memandang Karin—yang sedang mengeluarkan aura kelam dari tubuhnya karena sedari tadi menahan kesal—dengan intens seraya mengelus-elus kedua tangan mereka yang tadi ditendang dengan sangat keras oleh Karin.
"Katakan padaku, apa mau senpai sampai - sampai kalian berdua menghadang perjalanan pulangku!" Tanya Karin galak. "Asal kalian berdua tau ya, aku sudah sangat muak-"
"Onee-chan!" Perkataan Karin terputus saat sesosok anak kecil dengan topi telinga kelinci memekik seakan memberikan sebuah isyarat untuknya. Sosok mungil yang diketahui sebagai adik Karin itu melambai dari seberang jalan yang juga dibalas lambaian oleh Karin.
TING!
Lampu jalan yang tadinya berwarna hijau kini berwarna merah. Sang pria bertopi kelinci itu memberanikan diri untuk menyeberangi zebra cross untuk menemui sang kakak yang berada di sisi lain jalan tempatnya sekarang. Namun, baru setengah perjalan menuju seberang jalan, pria kecil yang membawa tas itu terjatuh di tengah jalan. Karin memekik kecil melihat adiknya terjatuh dengan cukup keras.
"Ayo bangun Suzune! Bukankah kau anak yang kuat?!" Teriak Karin kencang, berusaha menyemangati adik kecilnya itu. Sang adik yang dipanggil dengan nama kecil Suzune itu pun mendengar teriakan sang kakak pun mengangguk kercil lalu mulai mencoba untuk bangkit dan berdiri.
"Dia siapa?" Tanya Kazune dan Jin serentak, dan di detik berikutnya mereka kembali melemparkan deathglare masing - masing sehingga memunculkan sebuah arus pendek listrik. Karin memutar kedua iris emeraldnya malas, muak akan sikap kekanakan kedua senpai—meski dia tau bahwa keduanya memang rival. "Dia adikku," jawaban singkat dari Karin mampu membuat mereka berdua mengangguk paham secara beriringan. Sedangkan Karin tetap terus memandang lurus ke tempat Suzune kercil yang masih bersusah payah untuk bangkit.
TING!
Lampu yang tadinya berwarna hijau kini kembali berwarna merah. Beberapa mobil yang berada dibarisan depan kini mulai menancapkan gasnya. Karin membulatkan iris bak batu zambrudnya kaget saat mendengar suara dentingan dari lampu jalan.
Dengan sigap namun tergesa - gesa, Karin memegang pundak milik Kazune dan Jin lalu melompat melewati mereka dengan cara salto di atas mereka. Sedangkan Kazune dan Jin hanya bisa melongo dengan mulut yang menganga lebar—tak menyangka bahwa Karin dapat melakukan aksi sekeren itu. Dan tentu saja hal itu membuat mereka berdua semakin menyukai Karin.
TIIIINN!
Suara klakson sebuah mobil truk begitu menggema di jalanan karena Suzune yang berada di jalurnya, tentu saja hal itu semakin membuat Suzune ketakutan dan tidak bisa bergerak karena merasa seluruh badannya kaku dan membeku. Karin yang menyadari keadaan itu semakin memacu kakinya untuk berlari lebih cepat ke tempat Suzune. Hati kecilnya benar - benar tidak rela jika Suzune juga pergi menyusul kedua orang tuanya yang kini sudah berada di pangkuan Tuhan—yang juga ditabrak oleh truk di depan matanya. Dengan sigap, dia menarik tangan mungil Suzune dan membawanya ke pinggir jalan dan memeluknya erat—seakan jika di lepas, Suzune akan pergi meninggalkannya untuk selamanya. Tangisan Suzune pun pecah saat itu juga.
"Onee-chan! Suzu takut!" Seru Suzune di sela - sela isak tangisnya. "Shh! Sudah tidak apa - apa Suzune, tenanglah," hibur Karin seraya memeluk Suzune dengan penuh kasih sayang. Tak lama setelah itu, Kazune dan Jin datang menghampiri Karin yang masih memeluk adiknya—yang kelihatan masih syok, namun mulai berhenti menangis. Juga dengan perasaan khawatir, mereka berdua memandang adegan harmonis hubungan saudara di depan mereka. Saat itu juga, Karin melempar deathglare kepada mereka.
"Dengar ya kalian berdua! Masa bodoh kalau kalian itu senpai atau sensei sekalipun, aku tidak perduli! Lihat? Akibat ulah kalian yang seenak jidat menghadangku di jalan—bahkan seolah - olah aku tak berada di antara kalian, aku jadi terlambat untuk menjemput adikku dan hal itu hampir membuat adikku pergi untuk selamanya. Apa kalian tidak sadar? Adikku hampir menjadi korban karena sikap kekanakan kalian itu!" Sentak Karin dengan penuh emosi, yang kini mulai menangis sesugukan. Sedangkan Kazune dan Jin hanya bisa terdiam mematung. Ada seberkas rasa bersalah menyelimuti hati mereka berdua.
"Sudahlah Onee-chan, ayo pulang," bujuk Suzune seraya menghapus air mata Karin menggunakan tangan mungilnya. Karin tersenyum simpul melihat ulah adik semata wayangnya itu. Dia lalu berdiri seraya menggendong Suzune dan berjalan pulang, meninggalkan Kazune dan Jin—yang merasa sangat bersalah—dengan wajah yang masih tetap memancarkan emosi.
"Gomennasai Karin..."
.
.
Kamichama Karin (Chu!) © Koge Donbo
The Karate Girl © Hinamori Meirin a.k.a Rizki Kinanti
Rate : T
Genre : Adventure & Romance
Pairing : KazuRinJin (main pair)
Warning! : Gaje, abal, typo(maybe), AU, OOC(maybe), OC, EYD banyak yang salah, banyak kata yang hilang, hancur lebur, dll.
.
.
Happy Reading!
.
.
Enjoy~
.
.
Don't like? Don't read!
Please klik back :')
.
.
Suasana rusuh a.k.a menghinggapi sebuah kelas, tepatnya kelas 10.C yang diakibatkan oleh guru killer mata pelajaran sejarah mereka tidak hadir karena suatu alasan—yang tentu saja hanya diketahui oleh para dewan guru—membuat suasana kelas 10.C yang tadinya begitu mencekam kini berubah 180 derajat menjadi begitu meriah seperti tempat diskotik atau mungkin seperti sebuah pesta ulang tahun sweet seventeen yang di gabung menjadi satu.
Suara teriakan, dentuman, bahkan musik rock—yang entah milik siapa dan dapat dari mana—terdengar dengan begitu memekakkan teling, menambahkan kemeriahan kelas 10.C yang berada cukup jauh dari ruang guru. Gadis dengan iris keemasan mendekat ke arah sahabatnya yang tengah membaca novel di bangkunya—yang berada di pojok ruang kelas. Bagaimana dia bisa membaca di saat suasana kelas yang begitu err-, gila? Jawabannya terletak pada sebuah headset berwarna hijau yang berada di kedua telinga sang pemilik surai brunette itu.
"Karin?" Panggil Miyon, namun tak ada respon berarti dari Karin. Miyon pun mengembungkan pipinya kesal. Dia melambaikan tangannya berulang kali di depan Karin. Masih tak ada respon, Miyon pun menarik napas dalam - dalam lalu—
"KARIN!"
—berteriak sekeras - kerasnya, membuat semua perhatian kini berada pada Miyon yang kini wajahnya sangat merah akibat kehabisan napas karena berteriak. Karin menutup novelnya, kemudian menoleh ke arah Miyon seraya melepaskan headset hijau di kepalanya.
"Apa sih?" Dengus Karin sebal.
"Kau ini kenapa sih Karin?" Tanya Miyon dengan emosi yang meluap - luap. Kesal, marah, heran, semua perasaannya bercampur menjadi satu.
"Bad mood!" Dua kata yang terlontar dari bibir Karin mampu menjelaskan keadaan Karin. Miyon mengernyitkan alisnya. "Bad mood? Kenapa?" Tanya Miyon penasaran.
"Karena Kazune-senpai dan Jin-senpai," jawab Karin acuh tak acuh. Iris keemasan milik Miyon langsung menatap Karin berbinar. Karin mendelik kesal karenanya. "Kenapa, eh?" Tanya Karin datar.
"Jangan - jangan..." Miyon menjeda kalimatnya, yang membuat Karin mempunyai firasat yang tak enak akan kalimat yang akan dilontarkan Miyon. "Jangan - jangan apa?! Jangan membuat perasaanku menjadi aneh!" Sentak Karin yang langsung membuat Miyon langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
"Apaan sih! Kau pikir aku ini paranormal hei gadis cantik bersabuk hitam?" Sindir Miyon. "Yang ingin aku katakan itu jangan - jangan terjadi sebuah cerita cinta segitiga yang indah diantara kalian bertiga!" Seru Miyon—yang lagi - lagi membuat semua perhatian tertuju padanya. Sebagian besar gadis di kelas mereka—yang mendengar tebakan Miyon yang terbilang sangat romantis di kehidupan nyata—mampu membuat wajah mereka langsung bersemu merah.
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan direbutkan oleh Kujyou-senpai dan Kuga-senpai," lanjut Miyon dengan wajah berbinar. Gadis - gadis di kelas mereka sontak langsung mengeluarkan aura yang begitu mencekam—marah karena idola mereka dibicarakan—dan Miyon pun langsung mengibas - ngibaskan tangannya seolah memberi isyarat kalau semuanya baik - baik saja sehingga suasana mencekam itu mulai luntur dengan perlahan.
"Cih... Yang benar saja! Aku sungguh - sungguh tidak sudi!" Hardik Karin, yang membuat Miyon menciut seketika. "Lalu apa?" Tanya Miyon penasaran.
"Huft... Kemarin mereka menghadang perjalanan pulangku, yang tentu saja membuat aku terlambat menjemput adikku satu - satunya. Dan karena sikap kekanakan mereka berdua yang kembali muncul, adikku nyaris tertabrak truk! Oke, garis besarnya adalah aku SANGAT marah bahkan benci dengan mereka berdua. Mereka hampir mengulang kejadian tujuh tahun lalu!" Jelas Karin yang kini mulai menitikkan air matanya—bahkan wajahnya kini sudah dibanjiri air mata.
~Flashback : On~
"Karin?! Karin?! Dimana kamu nak?" Teriak sesosok wanita yang kini sedang mencari-cari sosok anak gadisnya. Wanita yang diketahui berstatus sebagai ibu dalam keluarga Hanazono itu mendorong kereta bayi yang didalamnya seorang bayi laki - laki yang tengah terlelap.
"Kau, mau kemana hah?" Bentak sosok pria tegap yang tengah memandang wanita—sang istri yang sedang mencari anak pertama mereka—dengan tajam. Seakan tak ada rasa takut sedikitpun, sang istri malah membalas tatapan tajam suaminya.
"Aku pergi... Seperti keinginanmu, puas?" Balas sang istri dengan dingin.
"Ini masalah kita! Tak ada hubungannya dengan anak - anak!" Bentak Pria marga Hanazono itu. Tangan besarnya menarik lengan sang istri—yang menggenggam erat kereta bayi yang ditiduri sang anak bungsu dengan lelap—dengan paksa. "Cih... Tidak! Terima kasih. Kau pikir kau siapa, hah? Kau... Kau... Kau punya yang lain! Iya 'kan?!" Jerit wanita yang menginjak kepala tiga itu dengan berurai air mata.
"Dasar bodoh! Itu tidak mungkin!" Bela sang pria.
"Ck, kau pikir aku bodoh?! Aku... Aku... Aku ingin semua ini berakhir! Kau membuatku muak! Kau menyebalkan!"
"Cih... Ayo bicara di rumah!" Tangan sang suami semakin menarik paksa lengan istrinya—membuat wanita itu melepaskan kereta bayi berisi putra bungsunya. Sang istri pun memberontak tak terima, dia berusaha melepaskan cengkraman kuat sang suami saat mereka menyebrang jalan.
Tin! Tin!
Suara klakson berbunyi dengan nyaring yang berasal dari sebuah truk bermuatan maksimal yang melaju kencang di depan mereka. Tanpa bisa menghindar, tubuh sepasang suami istri itu pun tertabrak dan terpental beberapa meter dari tempat mereka berdiri semula dengan penuh berlumuran darah. Napas keduanya tersenggal - senggal. Dan di detik - detik berikutnya, mata mereka mulai tertutup setelah mengucapkan sederet kalimat yang menyayat hati. (Note: maaf kalau kalimatnya gak menyentuh m(_ _)m)
"Kau salah paham, dia adik iparku... Maafkan aku... Aishiteru."
Tak jauh dari tempat dua insan yang terkapar dengan berlumuran darah, sesosok gadis kecil dengan surai diikat twintail yang baru berumur sekitar 7 tahun menatap kedua insan yang sebenarnya adalah kedua orang tuanya dengan—sangat—syok. Iris emeraldnya terlihat berkaca - kaca. Dia yang tadinya ingin memamerkan sabuk barunya—sabuk hitam, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam karate—yang dia dapatkan setelah mati - matian berlatih kini musnah sudah. Suara isakan pun lolos dari bibir mungilnya, tangannya yang bergetar menggenggam kereta dorong bayi tempat adiknya tertidur.
"Ini tidak adil!" Serunya frustasi diiringi dengan isak tangisnya.
~Flashback : Off~
"Yang sabar Karin... Aku menyesal telah menanyakannya," ungkap Miyon seraya menepuk - nepuk pundak Karin yang bergetar—akibat menangis, tentu saja. Karin menggeleng pelan, lalu menghapus air matanya kasar. "Tak apa Miyon. Itu hanya masa lalu... Tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi," jawab Karin, dia tersenyum miris.
"Hidup sebatang kara, hanya bersama seorang adik yang masih sangat kecil untuk mengetahui kondisi keluarga. Hal itu membuatku mau tak mau menjadi punggung keluarga... Bekerja banting tulang untuk adikku—yang kemarin hampir terenggut karena keegoisan orang. Aku... Aku harus bagaimana lagi?" Jelas Karin putus asa. Air mata semakin bercucuran di wajah cantik miliknya. Miyon—yang tanpa sadar—juga mulai menitikkan air mata, seolah merasakan penderitaan sahabatnya.
Puk!
Seseorang menepuk pundak Miyon, yang tentu saja membuat gadis surai hijau toska itu terkesiap dan buru - buru menghapus air matanya. Iris keemasain itu mendelik ke arah pemilik tangan yang menepuk pundaknya, yang merupakan salah seorang dari siswi di kelasnya.
Karin pun tak jauh beda dengan Miyon, dia juga terkejut dan langsung menghapus air matanya. Di detik berikutnya, topeng 'sok' tegar-nya kembali terpasang dengan rapi, tak lupa dengan senyum manis yang dilontarkan pemilik hijau zambrud itu.
"Doushite?" Tanya Miyon heran. Gadis dengan surai indigo itu tersenyum. "Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Kalian tidak akan keluar?" Tanya gadis itu—Kujyou Himeka—dengan ramah. Miyon membulatkan matanya—berbanding terbalik dengan Karin yang memutar bola matanya—tak perduli. Dan di detik selanjutnya, Karin sudah di seret beberapa meter oleh Miyon. "Terima kasih Himeka, kami ke kantin dulu," dan teriakan Miyon pun menggema di sepanjang koridor.
.
Dia berdiri. Menggenggam erat pagar pembatas. Merasakan hembusan lembut angin yang menerbangkan beberapa anak rambut dari surai bak emas itu. Pemuda itu melewatkan semua jam pelajaran—sampai saat istirahat ini. Menghela napas sejenak, pikirannya kembali dipenuhi rasa beralah akan sosok gadis brunette yang belakangan ini mencuri perhatiannya. Sosok yang begitu berbeda dari semua perempuan yang pernah ditemuinya. Sosok yang paling unik—yang mampu tertangkap dari pemikirannya. Sirna sudah harapannya untuk mendekati gadis itu.
Bagaimana jika minta maaf? Pertanyaan itu selalu terngiang - ngiang di kepala kuning itu. Namun rasa gengsinya yang kelewat tinggi mampu membuatnya untuk menolak mentah - mentah pemikiran itu. Tapi tetap saja, hatinya terus gelisah.
Dan jalan terakhir yang dapat dipilihnya adalah menjauhi Karin. Ugh! Tentu saja dia tak akan bisa melakukannya. Apalagi, otomatis dia akan melihat rivalnya—Kuga Jin—akan semakin berusaha mendekati Karin. Untuk kesekian kalinya, dia mengacak surai keemasan miliknya.
"Yosh! Aku harus bicara padanya!" Tekad Kazune bulat, walau hatinya masih ragu akan keputusannya itu.
.
Terdiam seorang diri. Kelas sudah sepi akibat penghuninya sudah menyerbu kantin. Sedangkan pria dengan iris bak kucing itu hanya bisa memainkan kameranya dengan wajah masam. Dia mengotak - atik foto yang berada di sana. Sesekali, tatapannya berubah menjadi sendu tatkala melihat beberapa foto gadis brunette diikat twintail. Kejadian kemarin sore kembali menghantuinya. Rasa bersalah seolah semakin bertengger dengan erat di hatinya. Sebegitu burukkah dia di depan Karin? Jin menatap ke luar jendela dengan tatapan biasa—setelah memasukkan kamera ke dalam tas.
Sosok yang mengganggu perhatiannya selama ini tertangkap kedua irisnya. Gadis dengan iris bak klorofil itu seperti tengah berbincang dengan Kaito—sepupu Miyon—, Yuuki dan Miyon. Mereka tampak tertawa saat Yuuki menggerakkan mulutnya—entah apa yang Yuuki katakan. Jin tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Karin. Hari ini tak ada jadwal latihan—tidak seperti biasanya. Mungkin mentornya sedang sibuk? Pikir Jin. Sebenarnya, Jin ingin memanfaatkan kesempatan saat latihan karate untuk meminta maaf kepada Karin. Tapi kalau sudah begini, mungkin harus ditunda dulu, pikir Jin positif.
.
Bel pulang berbunyi dengan nyaring—hampir memekakkan telinga siswa - siswi Sakuragaoka High School. Karin tampak membereskan buku - bukunya dengan cepat. Beranjak meninggalkan karena sang sahabat ada kegiatan klub mading yang diikutinya. Karin melambai sekilas kemudian memacu kaki jenjangnnya untuk menapaki trotoar jalan. Berharap agar perjalanan pulangnya kali ini lebih baik dari kemarin—setidaknya tidak seburuk kemarin.
Beberapa langkah sebelum perempatan jalan, kini dirinya kembali di hadang oleh dua sosok perempuan yang sama - sama menatapnya tajam. Sepertinya perjalanan pulangnya tak akan pernah mulus, batin Karin mengelus dadanya pelan.
"Ada apa?" Tanya Karin sekenanya. Kedua perempuan itu melemparkan tatapan maut mereka seolah itu adalah hadiah khusus untuk Karin. Tiba - tiba saja, salah seorang dari kedua gadis itu—dengan rambut hitam indigo diikat twintail—maju selangkah mendekatinya. Tak lupa dengan telunjuk yang menunjuk muka Karin—seolah meremehkan dirinya. Karin mencoba bersabar. Dia tahu, kedua gadis di depannya ini adalah seniornya.
"Kalian mau apa?" Ulang Karin geram. "Mudah saja." Tatapan tajam dari iris blue safir milik sosok dengan surai blonde yang memakai bandana telinga kelinci itu menjawab. Tunggu dulu! Iris blue safir dan surai blonde? Karin merasa tidak asing. Dia membaca name tag-nya. Kujyou Kazusa. Tentu saja! Dia mirip Kazune, batin Karin. Dan sejurus kemudian, dia menekuk wajahnya. Masih kesal?
"Jauhi Kazune-kun dan Jin-kun!" Gadis indigo dengan ikat twintail itu ikut menimpali. Karin mengangkat salah satu alisnya. "Siapa juga yang mau dekat mereka berdua," cetus Karin. Kilatan amarah bercampur emosi tampak terlihat jelas dari iris kelam milik gadis itu. Tak jauh beda dengan gadis pertama, gadis pirang disebelahnya tampak juga ikut tersulut emosi.
"Cih! Jangan jadi sok cantik ya!" Bentak gadis telinga kelinci itu. Karin menatap mereka datar. "Mereka yang mendekatiku, bukan aku yang mendekati mereka!" Balas Karin datar.
"Kau..." Geram gadis blonde itu—Kazusa—dan mengambil ancang - ancang untuk menampar Karin. Karin refleks menunduk, membuat lambaian tangan miliknya malah mendarat di wajah sahabatnya—Rika. Rika semakin tersulut emosi—karena sadar kalau tamparan itu terjadi karena ulah Karin pun mulai bersiap untuk menghabisi Karin. "Ck, kau tidak tahu? Aku ahli karate... Aku sudah sabuk kuning. Ayo maju! Jangan lupa tanggalkan tas menjijikkan itu!" Tantang Rika. Karin menatapnya malas, namun tetap menuruti perkataan Rika.
Tap! Tap! Tap!
Mereka berjalan maju, saling berhadapan. Rika memandang sinis Karin, sedangkan Karin hanya bisa memandangnya dengan wajah masam. Rika memasang seringainya saat melihat wajah masam Karin—yang diartikan sebagai wajah takut. Well, kau salah tanggap, Rika?
Rika mulai melayangkan tinjunya kearah wajah Karin. Karin menangkisnya dan memekang pergelangan tangan Rika dengan kuat. Masih dengan wajah masam, Karin langsung membalik tubuh Rika—yang membuat tangan Rika terlipat dengan kuat di belakang tubuhnya—dan langsung menendang tubuh Rika hingga jatuh tersungkur di jalanan. Karin kembali memasang wajah datar dan memungut ranselnya. Tanpa sadar, sebuah benda panjang jatuh dari tasnya. Rika dan Kazusa membulatkan matanya. Itu sabuk hitam!
Karin membalik tubuhnya—memandang sekilas kedua sosok gadis yang terperangah melihat sabuk hitam yang dipungutnya. Tetap dengan wajah datar, Karin berucap, "Persetan dengan kalian berdua yang merupakan senior. Jangan pernah menganggap remeh orang! Dan satu lagi, aku sama sekali tidak mendekati Kazune-senpai dan Jin-senpai! Cam kan itu!" Bentak Karin lalu benar - benar pergi meninggalkan Rika dan Kazusa yang masih terbengong - bengong atas kejadia yang barusan terjadi pada mereka.
.
Tsuzuku~
.
Author Note :
Aloha minna, Meirin come back dengan chapter 2 dari salah satu fanfict Meirin yang berjudul 'The Karate Girl' atau yang Meirin singkat dengan 'tkg' sebagai ganti telah lama menghilang dari FanFiction (karena suatu alasan XD) #kalimatnyakepanjangannak!-_-" #dor!
Chapter ini menceritakan tentang kilas balik kehidupan Karin, asal mula 'sabuk hitam' yang diperoleh Karin, serta alasan Karin menjadi seorang pelatih eksul Karate di sekolah X3 Maaf ya... Untuk yang kesekian kalinya, Meirin membuat sosok 'Karin' menjadi yatim piatu lagi... Bahkan tanpa kehadiran sosok bibi-nya. Gomennasai (_ _)
Kenapa lama update chapter 2 ini? Padahal seharusnya seminggu setelah Fict 'Impian' dipublish? Alasannya karena MEIRIN SIBUK SAMA MASALAH SEKOLAH YANG GAK ADA HABISNYA DESU YO! HONTOUNI GOMENNASAI MINNA m(_ _)m *teriak* *sujud-sujud gaje* #plaak
Back to topic(?) Meirin pengen tanya, dari keempat Fict Multichapter punya Meirin, yang mana yang paling kalian suka? Nanti, yang paling banyak disukai readers yang bakal Meirin update selanjutnya :3 Monggo di jawab ya :3
Setelah puas berbacot ria(?), sudah saatnya Meirin membalas riview kalian XD :
Akira Bella-chan : Arigatou udah dibilang bagus dan menarik Bella :D Ini udah update dan Ganbatte mo Bella ;)
Hime Azuya : Hai' ^^ Gak bakal Meirin hapus kok :3 Meirin bakal tetap semangat buat ngelanjutin semua Fict Meirin sampai selesai kok :3 Ganbatte mo Azu-nyaan~ ;)
Haruka : Arigatou sudah dibilang seru :D Ini udah lanjut, gomen karena gak bisa kilat (_ _)
Ryukutari : Are? Bukan kebanyakan virus, tapi kekurangan virus :v #plaak Kenapa romance semua? Karena diriku ini percinta romance :v #pose #bletak! Ini udah lanjut :D Gomen kalau lama m(_ _)m Ganbatte mo Ryu-chan ;)
Dce : Hai' ^^ Ini sudah lanjut, gomen kalau tidak memuaskan...
Yumi Azura : Ecieee~ Pen name baru cieee~ #plaak BTT(?) Back to topic. Ini udah next :3 Tenang saja, gak bakal Meirin hapus dan bakal terus lanjut ;) Arigatou udah riview :3
TsukiRin Matsushima29 : Hai' ini udah lanjut ^^
Guest (1) : Arigatou karena udah dibilang keren :D Ini udah lanjut, gomen kalau jelek m(_ _)m Tenang saja, semua Fict Meirin dilanjutin kok ;) Btw, lain kali kasih nama ya ;)
NaChan : Arigatou atas pujiannya, juga karena sudah menyukainya :)
Guest (2) : Ini sudah lanjut, semoga bisa mengatasi rasa penasarannya :D Sebagai saran, lain kali dikasih nama ya, biar enak manggilnya X3
Reo Toa Hikari dan Hikaru : Ini sudah dilanjut :3 Arigatou karena sudah menunggu :3
Mikasa Yoshioka : Huweeee T_T Gomennasai kalau lama update-nya T_T
Bernikacchi : Ini udah lanjut :3 Arigatou karena sudah dibilang keren :3
Vii Violetta Anais : Ini udah lanjut Vie-chan ^^
Martinachristy54 : Hai' ini udah update ^^ Di manganya Karin memang bisa karate, walau tidak terlalu kelihatan :)
Are, Meirin lagi kena WB, jadi mohon dimaklumi jika chapter ini sama sekali tidak memuaskan m(_ _)m. Tapi, walau begitu Meirin tidak menerima 'flame' ya ;) Sudah cukup Meirin drop karena 'flame' seseorang di fict 'Impian' sampai - sampai Meirin berniat hiatus untuk selamanya :( Tapi untung saja ada beberapa sahabat Meirin yang merupakan author dari fandom ini yang menghibur Meirin, Meirin jadi semangat lagi buat Fict XD Makanya, Meirin mohon kepada readers, jika kalian tidak suka dengan semua FanFict Meirin jangan memberikan Meirin 'flame', okay? Meirin tidak ingin lagi terpuruk :) ~
Satu lagi! Meirin merasa gaya penulisan Meirin jadi sangat turun nih =_= #pundung Maafkan Meirin yang tidak tahu berterima kasih ini(?) #makinpundung Meirin males banget sebenarnya #plaak Tapi, berhubung ini adalah hutang janji, jadi harus ditepati deh X3
Sekian bacotan dari Meirin, jangan lupa tinggalkan saran kalian ya :) Meirin tutup chapter ini dengan,
.
.
Chapter 2 has been update
.
Mind
To
RnR
Please?
.
.
Pagaralam, 27 Juni 2014
.
.
Salam,
Hinamori Meirin :)
.
PS: Biasakan untuk mereview setelah membaca FanFict ;') SilentReaders
