Biarkan Saja

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

The Serial kepunyaan Ambu *nyengir*

Albus Severus Potter diperkirakan sudah kelas 6, sudah cukup besar dan sudah cukup bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia

-o0o-

Cuaca di Spinner's End seperti hari-hari biasa di Inggris Raya, sedikit saja matahari, mendung, angin besar, dan salju yang masih tebal di akhir Februari.

Seekor burung hantu sekolah menembus udara yang menggigilkan, dan hinggap di ambang jendela. Mengetuk-ngetuk kacanya. Sebentar kemudian jendela terbuka. Burung itu masuk, menyorongkan kakinya yang terikat dengan segulung perkamen surat pada orang yang membukakan jendela.

Orang itu membuka ikatan, mengambil surat, dan memberi isyarat pada burung itu untuk hinggap di tenggeran. Sudah ada Owl Treat di sana, dan tempat minumnya juga penuh. Tanda sebenarnya di rumah itu juga ada burung hantu, tapi mungkin sedang disuruh mengantar surat.

Karena ia disuruh menunggu balasannya, maka burung hantu itu tidak langsung pulang. Ia bertengger saja di tenggeran. Minum sedikit, dan menelisik membersihkan bulu. Lalu memperhatikan orang yang sedang membuka surat tadi.

Orang itu mengerutkan kening.

Surat itu bertuliskan:

Kakek Severus Snape

Spinner's End

Tulisannya ia kenal dengan baik. Tetapi kenapa surat ini disegel?

Severus mengeluarkan tongkatnya dan membisikkan kata kuncinya, baru gulungan perkamen itu terbuka. Baru ia bisa membaca isinya.

Sepertinya sesuatu yang penting, burung hantu itu memperhatikan. Serius sekali.

Bukan hanya sekedar surat kangen, atau kelupaan sesuatu dan diminta mengirim ke Hogwarts, seperti surat-surat yang biasa dikirimkannya.

Severus merasa diperhatikan. Ia menoleh memandang pada burung hantu itu. "Tidak makan?" tanyanya.

Burung hantu itu menggeser hinggapnya pada tenggeran, dan mulai makan Owl Treatnya satu-satu.

Dan Severus meneruskan membaca suratnya.

Hogwarts, 22 Februari 2022

Grandpa,

Apa kabar Granpa? Spinner masih badai salju?Mudah-mudahan tidak ya, sudah mau Maret nih.

Er ... sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan. Sudah agak lama aku ingin membicarakannya. Tapi ... aku ragu. Kalau Grandpa ingin tahu, ini sudah perkamen ke-5 yang aku tulis. Yang lain berakhir di keranjang sampah, atau di perapian.

[Severus mengerutkan kening. Ada apa gerangan?]

Cerita ini sebenarnya diawali saat aku hendak mencari kado ulang tahun Grandpa. Sebenarnya bukan kado itu yang ingin aku berikan pada Grandpa. Aku tahu, Grandpa tidak begitu suka coklat, tidak begitu suka yang manis-manis. Tapi aku ragu untuk memberikan kado yang lain ini, sehingga pada saat terakhir, aku berikan coklat saja. Paling tidak, coklat itu berisi ramuan, trend terakhir saat ini di Honeydukes.

[Severus membuka laci mejanya, dan melihat sebuah kotak coklat yang isinya baru dimakan beberapa butir. Coklatnya berbentuk macam-macam: kulit kerang, hati, wajik, kelopak bunga, dan lain-lain. Tulisan di kotaknya: Coklat Praline Ramuan, makanlah sepotong dan tebaklah ramuan apa yang ada di dalamnya. Severus sudah mencoba beberapa, dan yang ia dapat antara lain: Ramuan Merica Meletup, Ramuan Menguap, Ramuan Tidur Sejenak. Efek Ramuan itu hanya sebentar, dan terdapat juga segel dari Kementrian yang menyatakan Ramuan-Ramuan yang menjadi isi coklat itu semua tak ada Ramuan Terlarang atau berakibat fatal]

Sebenarnya, aku ingin mengirimkan sesuatu. Er, paling tidak, aku ingin Grandpa ada di sini, di Hogwarts. Di Hutan Terlarang, tepatnya. Pada hari ulangtahun Grandpa itu, aku ingin memperlihatkan sesuatu.

Bila ditarik lagi, Grandpa juga mungkin suka memperhatikan. Bahwa James selalu suka membicarakan tentang hal-hal yang bersifat fisik bersama Dad. Quidditch, balap sapu, dan sebagainya. Sementara Dad lebih suka membicarakan hal-hal yang bersifat serius padaku. Kadang malah sifatnya rahasia.

Pernah Dad membicarakan tentang Deathly Hallows. Sambil lalu saja sih, tidak mendalam. Grandpa, pernahkah tahu tentang Deathly Hallows? Dad pernah bilang kalau ia pernah menceritakannya padamu, sekilas. Tapi aku lalu meminjam buku bibi Hermione, buku dongeng Beedle itu. Dan aku jadi lebih paham, apa saja Deathly Hallows itu. Aku jadi paham kalau Jubah Gaib itu salah satu dari Deathly Hallows, yang merupakan pusaka turun temurun keluarga Grandpa James.

Beberapa minggu lalu, aku diberi detensi oleh Prof McGonagall. Eheheh, iya, yang aku ketahuan saling lempar balon berisi air di koridor bersama Scorpius. Dan hukumannya, aku bersama Scorpius harus membantu Hagrid mendata unicorn yang sakit, sakitnya apa, parah atau tidak, kalau parah aku harus menghalau mereka ke tempat karantina.

Aku tidak tahu ke mana arahnya Scorpius berjalan, yang aku tahu kemudian, aku sendirian. Mengikuti jejak seekor unicorn yang—kemungkinan pincang karena jejaknya terputus-putus. Aku terus mewaspadai jejak itu, dan—

aku menemukannya.

Aku menemukan batu itu.

Dad pernah bilang kalau ia menjatuhkan Batu Kebangkitan di suatu tempat di Hutan Terlarang, tapi ia tidak ingat di mana. Selain itu, ia memang tidak berniat untuk menemukannya lagi.

Tapi aku menemukannya.

Hitam, kecil, namun memiliki kewibawaan bagai batu paling besar di seluruh hutan. Seolah-olah memiliki magnet, sehingga begitu tiba di tempat itu, entah mengapa aku langsung memandang ke arah di mana ia berada. Kecil dan gelap, tetapi langsung terlihat. Seakan memiliki cahaya sendiri.

Ohya, Grandpa mungkin bisa membayangkan. Itu bulan Desember, salju sudah mulai turun dan menutupi tanah. Batu-batu lain tentu saja tertutup salju. Tetapi batu ini tidak. Gelap di antara salju yang putih bersih, tentu saja terlihat. Dan memang seperti memiliki cahaya atau panas sendiri, seperti yang melelehkan salju di sekitarnya.

Seakan memiliki kharisma.

Pada saat itu aku terpana sejenak. Beberapa menit. Kemudian tersadar, dan mulai mengejar unicorn yang menjadi tugasku. Setengah hati. Karena aku kemudian malah tidak bisa menemukan unicorn itu, dan kembali pada Hagrid. Untung saja Hagrid memaklumi, dan karena hari sudah larut malam, ia memulangkan aku dan Scorpius, memutuskan ia akan mencari sendiri unicorn sisanya.

Dan aku malah terbayang-bayang akan batu itu. Malam itu aku tak bisa tidur. Esoknya, walau aku memaksakan diri untuk memusatkan perhatian, tetap saja batu itu selalu sekilas terbayang.

Malamnya aku meminjam Jubah Gaib dari James, bilang padanya ada buku di perpustakaan tertinggal. Ia percaya saja. Tentu saja kau bisa menebak, aku kembali ke tempat batu itu. Memandangnya dengan terpesona.

Dan anehnya, aku tidak terbayang akan memakai batu itu sendiri. Aku tak tahu, kalau aku memakai batu itu, aku ingin bertemu siapa.

Yang kubayangkan memakai batu itu adalah kau, Grandpa!

Kubayangkan, kau memakai batu itu dan bertemu dengan Grandma Lily.

Aku tahu, banyak hal yang kau ingin bicarakan dengan Grandma Lily.

Tapi aku ragu.

Aku ragu bahwa kau justru akan marah padaku, karena berani-beraninya menggunakan batu itu. Karena berani-beraninya ... memasuki wilayah pribadimu.

Selama bulan Desember itu aku terus ragu. Beberapa kali di malam hari aku mengecek keberadaan batu itu, dan semakin lama justru semakin memikat.

Tapi kemudian libur natal dan tahun baru. Kami kembali ke Godric's Hollow. Kita bertemu. Pesta. Ke The Burrows. Dan kesibukan-kesibukan lain lagi.

Mulai terbayang lagi batu itu, saat sudah hampir masuk sekolah. Ada ulangtahunmu di akhir libur. Sabtu tgl 8, aku masih terus bimbang. Padahal James dan Lily sudah membungkus kado mereka. Hugo dan Rose juga datang dan kulihat sekilas mereka juga membawa kado untukmu.

Nyaris saja aku melaksanakan rencanaku itu. Malam Minggu, malam tanggal 9, mengajakmu memakai Jaringan Floo terdekat dengan Hutan Terlarang, dan membiarkanmu melihat batu itu, memakai batu itu, bertemu dengan Grandma Lily. Alangkah senangnya. Mungkin.

Tapi aku terus ragu.

Jadi malam Minggu itu aku malah menggunakan Jaringan Floo untuk ke Honeyduke dan membeli coklat itu. Benar-benar tindakan putus asa, membelikan coklat untuk Grandpa XP

Dan kau tahu, Grandpa? Begitu aku masuk sekolah lagi Seninnya, aku tidak berani melirik ke tempat batu itu berada. Dua kali aku datang ke Hutan Terlarang, sekali karena tugas Herbologi, sekali lagi sendirian, penasaran. Tapi aku tidak sampai ke tempat itu.

Aku benar-benar tidak berani bahkan melirik batu itu. Takut kecewa, karena melewatkan hadiah ulang tahun Grandpa yang begitu berharga T_T

Tapi di pagi ini, menjelang akhir Februari, salju di Hogwarts mulai mencair. Agak aneh, karena biasanya Hogwarts termasuk dingin dibandingkan wilayah Inggris Raya lain. Tapi, ya biarlah.

Dan aku tiba-tiba punya keberanian untuk mengecek tempat batu itu berada.

Sudah tidak ada di sana, Grandpa.

Benar-benar sudah tidak ada.

Memang salju sudah mencair, dan batu-batu di sana terlihat sama saja. Tidak ada yang mencolok seperti batu itu di tengah salju, seperti kemarin. Kucoba mencari di antara batu-batu yang banyak itu.

Tapi kalaupun ada, aku tak bisa menemukannya. Batu itu kemarin membawa perasaan aneh jika melihatnya, tapi sekarang aku tak punya perasaan aneh itu. Seperti ... memang benar-benar sudah tak ada di sana.

Kalau mau dibilang, bisa dibilang aku kecewa. Aku menyesal. Karena aku sama sekali tidak pernah membicarakan ini pada Grandpa. Menanyakan dulu, apakah Grandpa bersedia kalau aku memberi batu itu sebagai kado ulang tahun. Sekarang, kesempatan itu lewat sudah.

Ah, sudahlah. Yang penting, aku sudah curhat pada Grandpa. Mau dimarahi juga boleh, terserah. Pokoknya sudah curhat!

Aku sayang Grandpa. Peluk cium,

Al

Severus tercenung. Ia melihat lagi ke lacinya.

Dikeluarkannya kotak coklat itu. Dibukanya tutupnya. Tanpa memilih, diambilnya sebutir. Dimasukkannya ke dalam mulut. Coklatnya meleleh di atas lidahnya, dan ramuannya langsung terasa dalam mulutnya.

Hangat.

Ramuan Penghangat di Musim Dingin.

Ia hapal, Ramuan ini ia yang menciptakan resepnya. Sedikit banyak, Lily membantunya. Kelas tiga.

Beberapa tahun terakhir ini, Hermione mematenkan banyak Ramuan ciptaannya. Tentunya banyak yang memakai, tapi ia tak memperhatikan, royalti yang masuk ke gudang uangnya di Gringotts dari Ramuan apa saja.

Severus memejamkan mata, menikmati efek hangat jahe yang lama baru hilang.

Lalu ia mengeluarkan perkamen, pena bulu, dan botol tinta.

Spinner's End, 22 Februari 2022

Dear Al,

Coklat berisi Ramuan Penghangat di Musim Dingin, jauh lebih berharga daripada sekedar batu. Batu dan ilusi, tak akan bisa menandingi.

Sungguh.

Dan aku tak akan bilang-bilang pada Dad kalau kau sudah menemukan batu itu. Sekaligus, memutuskan untuk tak memakainya.

Aku bangga padamu, Al.

Aku kenal satu Albus lain, yang tak bisa menahan godaan untuk memakai batu itu. Aku bangga karena kau tak tergoda.

Belajar yang rajin, Al, dan aku sayang padamu!

Severus Snape

Burung hantu sekolah itu melayang membawa balasannya, di tengah cuaca yang masih sangat dingin. Di Spinner's End.

FIN