DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
angelofdeath1119 (for the original fic, I already got the permition)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
It's undeniable, you know. It's unavoidable. Sometimes things have to happen. Collection of KuroPika oneshots, an Indonesian version!
GENRE :
Romance
WARNING :
AU, FemKura. Based on songs. Alur maju-mundur.
.
CHAPTER 2 : STAY CLOSE, DON'T GO
Song : Stay Close, Don't Go by Secondhand Serenade
Have I ruined all you've given me? Don't leave me tonight
I know I've been selfish, I know I've been foolish
I'm not the only one for you, but you're the only one for me
You might have said goodbye, but I won't let go yet
.
Kuroro mendongak dari buku yang tengah dibacanya, perhatiannya teralihkan. Matahari bergerak turun mendekati horizon, dan dunia pun hening.
Aku ingin tahu bagaimana suasana di sana.
Apakah hari ini cerah?
Pandangannya menjelajah langit, bintang senja pertama muncul di langit yang temaram itu. Secercah cahaya bersinar di gelasnya, dan dia berkedip, menatapnya. Dia mengambil gelas yang terisi penuh hingga luber dan meminumnya.
Dia meletakkan kembali gelas itu ke alas yang berada di atas meja.
Lebih baik setengah penuh daripada setengah kosong, bukan, Lucifer?
Kerinduan menetap di hatinya yang lelah, dan kenangan-kenangan itu meremukkan keteguhan hatinya. Menggerogoti dirinya yang sangat letih. Kurapika berbaring di atas tempat tidurnya yang nyaman, menyadari matahari akan terbit sekali lagi. Dia akan terjaga lagi sepanjang malam, untuk yang kesepuluh kalinya. Kurang tidur seperti ini merusak badannya, tapi apa yang bisa dia lakukan?
Sementara itu, benak Kurapika kembali ke seorang pria yang berada ribuan mil jauhnya, pria yang hanya kepadanyalah Kurapika rela memberikan apapun...hanya untuk bisa bersamanya.
Sungguh.
Dari tempat tidur, Kurapika dapat dengan mudah melihat tiga foto berpigura yang diambil waktu masih berada di York Shin. Ketiga pigura itu diletakkan di atas meja, semuanya cerah dan bahagia dengan warna-warna yang menari di depan matanya. Pigura pertama berisi foto dirinya dan tiga temannya yang setia—Gon, Killua dan Leorio—di bandara, pada hari Kurapika pergi. Mereka semua tersenyum. Di pigura berikutnya masih foto berkelompok, foto dirinya dan teman-temannya yang lain. Senritsu dan Neon. Mereka sangat dekat dengan Kurapika, seperti penasihat baginya. Foto itu pun ditandatangani di bagian bawah, dengan kata-kata yang membuatnya merasa hidup. 'Kami akan merindukanmu!'
Namun, foto terakhir, merupakan kenangan yang sangat menyakitkan bagi Kurapika. Foto itu diambil di padang rumput di bawah sinar matahari yang cerah. Rambutnya memantulkan cahaya keemasan sinar matahari, sementara rambut pria itu memancarkan kegelapan yang abadi.
Kurapika meringis, dia menelungkupkan pigura itu di atas meja, membuat kacanya retak.
Terlalu menyakitkan.
Bagaimana jika...bagaimana jika...bagaimana jika...
Kalimat itu membuka pikiran Kuroro dan Kurapika, keduanya tahu itu salah.
"Tak ada penyesalan, oke?"
Hening.
"Tak ada penyesalan."
Mereka sudah mengakhirinya. Mereka berusaha untuk berpegang pada perasaan itu, tapi jika sampai sama-sama kalah pada pertarungan di antara keinginan masing-masing, yang diperlukan Kuroro dan Kurapika hanyalah satu deringan saja; satu panggilan telepon yang bersifat final.
Hanya satu panggilan telepon untuk membuat mereka merasa lebih baik.
Tapi tidak perlu…untuk hal yang lebih baik pula.
"Aku akan pergi, besok."
Si Pirang tidak mendapatkan jawaban apapun, dan keheningan pun terjadi.
"Satu panggilan telepon pun berarti, oke."
Sepasang mata hitam itu terlihat seperti masih berpikir.
Tak diperlukan kata-kata apapun lagi.
Kata-kata yang membicarakan tentang kepergian ini sudah cukup. Tak perlu kata-kata lain lagi.
Penjelasan tidak diperlukan, mereka sudah terlalu banyak mengetahui segalanya.
Kadangkala, terlalu banyak detail yang diketahui…lebih sakit rasanya, daripada yang diketahui hanya sedikit.
Kata-kata Kurapika saat itu berarti luka, siksaan yang menghempaskanmu ke dalam keadaan terlupa akan segalanya, entah apa. Seperti cambuk yang memukul Kuroro tepat di kepalanya. Dia merasa seperti terguncang hebat, dan tak tahu harus berkata apa.
Apa Kurapika benar-benar percaya bahwa Kuroro bisa hidup tanpa dirinya?
"Tak ada penyesalan."
Dua kata itu menandai Kurapika—Kuroro bisa bertaruh pada kenyataan bahwa dia bisa melanjutkan hidup…bahkan tanpa dirinya. Dia tak mau terdengar lebih romantis lagi dari ini, sungguh, tapi sepertinya itu tak mungkin. Melepaskan. Melepaskan? Setelah semua waktu yang mereka lewati bersama?
Dua kata itu menandai rasa aman Kurapika.
Bahwa tak akan ada penyesalan jika Kuroro menemukan 'yang lain'.
Hati Kurapika langsung membeku.
Kuroro teringat akan malam-malam saat mereka begadang, ketika dia dan Kurapika berkemah di…katakanlah, mansion milik keluarga Kuroro. Mereka menghamparkan selimut di luar, merasakan hembusan angin yang dingin. Terjaga sampai malam, menunjuk bintang-bintang, menamai setiap rasi bintang hingga bintang yang mereka lihat sudah habis dinamai dan matahari pun terbit.
Malam-malam itu ketika Kuroro akan duduk di samping Kurapika, menyaksikannya bernapas, tanpa kekhawatiran apapun. Ketika dia bisa hanya menatap gadis itu tanpa mengkhawatirkan apakah Kurapika akan tetap sama besok, apakah dirinya sendiri akan tetap sama, apakah hubungan di antara mereka akan tetap sama.
Apakah Kurapika masih akan tetap menjadi malaikatnya yang jatuh ke bumi.
Kurapika merasa dimanfaatkan dan dikhianati. Setelah cinta yang mendalam itu, Kuroro bisa hanya mengabaikan keputusan itu begitu saja, seolah hanya merupakan sesuatu yang sangat sederhana? Benak Kurapika berkelana pada kenangan pesta dansa pertamanya, malam penuh bintang yang terasa bagai kebebasan, dan keyakinan atas apa yang sedang dia lakukan.
Ciuman pertamanya.
"Maafkan aku, itu tiba-tiba saja," Kuroro bergumam. "Itu hanya…"
Lalu Kurapika balik mencium pria itu, dan bergumam di bibir Kuroro, "Tindakan lebih mengatakan segalanya, kau tahu?"
Wajah Kurapika terasa memanas mengingat kenangan itu, tapi kemudian pergi begitu saja.
Satu panggilan telepon.
"Aku tidak seharusnya melakukan itu…"
"Aku tidak seharusnya berkata begitu…"
"Seharusnya aku…daripada…"
Kata-kata itu bergema dengan jelas di benak Kuroro dan Kurapika. Bagaimana jika yang kulakukan berbeda? Akankah keadaannya menjadi lebih baik?
Lebih baik.
Lebih baik?
Telepon mereka terasa begitu mengintimidasi.
Satu. Panggilan telepon.
Sendiri.
Kesepian.
Sedih.
Terpisah.
Kata-kata itu mempengaruhi kewarasan mereka.
Kecerobohan.
Kesembronoan.
Kebodohan.
Semua itu menandai kesalahan-kesalahan Kuroro dan Kurapika di masa lalu.
Kata-kata itu…membuat lubang di antara mereka semakin besar. Kata-kata itu membuat pisau imajiner mengukir lubang yang lebih dalam di hati, pikiran dan jiwa mereka.
Kuroro dan Kurapika membuat hati mereka sendiri mengucurkan darah,
Berhenti berbohong pada dirimu sendiri, pikir keduanya. Kau tak bisa melakukannya…
Lagipula, mungkin mereka masih tetap 'bersama', dalam pengertian tertentu. Belum ada seorang pun yang sakit hati, sepengetahuan mereka. Mereka masih berpegangan pada benang takdir imajiner yang menghubungkan mereka berdua, lebih seperti benang tipis yang menghubungkan jari kelingking Kuroro dan Kurapika, mengikat mereka selamanya.
Monster-monster itu menyerah menggerogoti pijakan Kuroro dan Kurapika, membuat mereka terjungkal, hampir jatuh ke dalam kegelapan neraka yang tak terbayangkan.
"Une autre, plus belle que mon amour! Le soleil qui voit tout, toujours. N'a jamais vu sa pareille au monde. Depuis que le monde est monde," dengan bosan Kuroro membacakan kalimat itu di kelas, merasa tak tertarik dengan pelajarannya. Mereka sedang membahas Romeo dan Juliet, seminggu sebelum pesta dansa. Saat itu kelas Bahasa Prancis, dan Kurapika memutuskan untuk menggunakan drama itu dalam penerjemahan.
"Kurapika?"
"Ya, Bu," dia berkata, lalu berdiri, memegangi bukunya. "Ces plaisirs violents ont des fins violentes et dans leurs excés, ils meurent tells la poudre et le feu que leurs baisers consument."
"Terima kasih. Bagus sekali."
Kurapika menghela napas. Pesta dansa sialan, aku bahkan tak membutuhkannya. Guru bodoh, perlukah pesta dansa dinilai?
"Kurapika."
"Ya, Bu?" Kurapika bertanya, mendongakkan wajahnya. Ah, ternyata bukan gurunya…"Ternyata kau, Neon."
"Kelas sudah selesai, lima belas detik yang lalu," Neon berkata, menarik pergelangan tangan gadis pirang itu. "Kuroro-senpai tampan sekaliii!"
"Ya," Kurapika mendengus, mengambil tas miliknya dari gantungan . "Yang benar saja."
Yang benar saja, sebuah senyuman nampak di bibir Kurapika ketika mengingat waktu itu. Yang benar saja, tapi sekarang kau jatuh cinta padanya?
Gadis itu pergi untuk memeriksa buku catatannya, buku catatan khusus untuk kenangan yang istimewa.
Dia membalik halaman pertama buku catatan dengan tepian spiral itu dan meraba sebuah tandatangan lembut di halaman terakhirnya.
Kau mungkin mengatakan selamat tinggal, tapi aku belum akan melepasmu.
Harapan membuncah di dalam hatinya.
Neraka kerinduan. Seperti itulah Kurapika menamainya. Tapi Kuroro harus memegang kata-kata yang diucapkannya sendiri.
Dia belum akan melepasnya.
Dia akan bertahan.
Dia akan menunggu, hingga Kurapika kembali.
Lagipula…dia adalah Romeo yang setia.
Kurapika mengambil ponselnya dari dalam saku, fotonya bersama Kuroro masih dipakai sebagai wallpaper di ponselnya itu. Dalam diam, air mata menetes jatuh membasahi pipi Kurapika ketika dia menatap foto itu hingga menjadi kabur dalam pandangannya.
Kurapika ingin tahu, apakah situasi saat ini juga seperti itu?
Perlahan mengabur…
Tolong, jangan lepaskan.
Jangan dulu.
Kuroro menatap langit-langit, insomnia begitu menderanya. Insomnia lebih buruk dari flu yang dia alami waktu itu, bahkan insomnia lebih buruk dari kanker. Karena insomnia membuatnya terjaga. Membuatnya sadar bahwa tak ada sosok yang membuatnya tetap merasa hangat saat malam tiba. Tak ada gadis yang memberinya nasihat, dan membuatnya kuat menghadapi segalanya.
Tak ada gadis yang menyelamatkan hidupnya.
Kebohongan…
Jangan beritahukan kebohongan.
Kumohon, jangan.
Jika kau tak bisa melakukannya lebih lama, tolong, telepon saja.
Aku tak ingin menjadi orang pertama yang jatuh.
Kumohon, kuatkan dirimu.
Kita pasti bisa melaluinya.
Aku percaya.
Berpeganganlah pada harapanmu.
Aku akan ada di sana, melakukan semua itu untukmu.
Selamanya, aku budakmu.
Selamanya, aku pelayanmu.
Jangan lepaskan, kumohon…
Kuroro bisa merasakan ponselnya bergetar di dalam saku.
Ketika dia melihat nama di layar ponsel itu, matanya membelalak terkejut, tapi juga ketakutan. Bahkan sedih.
"Kurapika."
Ponselnya terus berdering, tapi tak ada yang menjawab. Kurapika mulai khawatir. Atau mungkin Kuroro sudah tidur. Dia menghitung angka-angka yang ada di jam dindingnya.
Mungkin di sana sudah tengah malam.
Suara deringan itu berlanjut, tapi tak ada seorang pun yang menjawab.
"Kurapika…"
Sesuatu yang hangat, dan basah mengalir jatuh dari mata Kuroro. Setelah itu dia tak bisa mengendalikan derasnya setiap tetes air mata itu.
"…Apakah sudah berakhir?"
Kuroro menggelengkan kepalanya, memegangi ponselnya yang terus bergetar.
"Kumohon…jangan bilang bahwa kau sudah menyerah."
Kuroro menatap ponsel itu, setelah berdering selama dua menit. Dua menit, tapi terasa seperti selamanya. Dia tidak tahu harus menjawabnya atau tidak. Jika Kuroro menunggu, mungkin Kurapika akan memikirkannya kembali. Mungkin…mungkin Kurapika akan mengatakan bahwa dia sudah memencet nomor yang salah…atau itu adalah temannya…atau sebuah gurauan saja.
Namun setelah mengumpulkan semua kekuatannya, Kuroro memencet tombol answer.
"Maafkan aku."
"Aku juga."
A/N :
Authornya bilang, untuk ending chapter ini…harap simpulkan sendiri. Tapi untukku, rasanya menyesakkan sekaligus mengharukan. Ini situasi yang biasa terjadi saat terjadi masalah yang tak terselesaikan namun terpaksa harus segera menjalin hubungan jarak jauh. Hubungan yang rapuh. Awalnya mereka memperkirakan tak ada lagi kata-kata yang harus diucapkan. Tapi ternyata kata maaf…justru bisa menyelesaikan masalah di antara keduanya. Happy ending^^
Oke, ini balasan review chapter lalu :
Nekomata Angel of Darkness :
Ya, sweet banget…kadang sesuatu memang harus terjadi, supaya bisa sama-sama menyadari segalanya. It's unavoidable…
Natsu Hiru Chan :
Aku rasa memang fic ini feelingnya cukup kuat…
Ga suka waktu Kuroro mabuk? Tapi, Kuroro mabuk hanya karena Kurapika lohh…seperti di chapter ini, tanpa diduga dia pun menangis karena Kurapika saat semuanya terasa seolah tak tertahankan *wink*
Tenang aja, masih ada empat chapter lagi…hehe!
October Lynx :
I'm glad to tell you that this fic is perfect for improving the feeling of romance in KuroPika relationship, although it's an AU fic.
Of course I'll help you, my friend^^
Mind to review…?
