Title: One Hundred Worlds
Disclaimer: Masih punya bang Hidekaz Himaruya. KAPAN ANDA BIKIN SKETCH PARA LATIN NATIOOOONN! /abaikan.
Oh ya, dan #hetacrew itu bukan punya saya.
Genre: Humor, Adventure, dan masih bisa bertambah selama fic ini berlangsung.
Warning: OOC, Typo(s), Gajeness, Abalness, garing, EYD tidak sesuai, merusak mata, terkena anemia, terkena tipus, random, KEPANJANGAN, —Sedikit sekali, jika anda menyadari—HISTORICAL, country name used.
Listening to: Home – Michael Bublé ft. Blake Shelton. Uh-oh, KENAPA SUARA KALIAN SEKSEH SEKALIIIII!
Bonjour! Kali ini saya, Ayano Mamoru, yang membuat chapter dua~! Sudah jelas sekali saya menjabat(?) sebagai siapa di hetacrew. O—gak tau? Gak tau? Yasudahlah(?). Bukan, saya adalah Belgium hetacrew atau akrab disapa Bubel FenaNMR yang akan mengantarkan anda pada kematian—maksud saya mengantarkan sebuah ff collab yang strange, dengan tante Hungary. Benda ini AU, full randomness. Dan benda ini untuk memperingati #happy100hetacrew.
Don't like, don't read. Silahkan kabur selagi bisa :)
Chapter Two – Journey, Surprise, and Search
.
Setelah melalui perjalanan yang panjang dengan rute Inggris – Malaka, mereka sampai di rumah keempat melayu bersaudara dengan sangat tidak elit. Lihatlah, mereka tidak mendarat mulus di bandara tetapi malah mendarat di kebun-kebun milik sang personifikasi Indonesia. Sial, memang. Apalagi jika diminta ganti rugi oleh sang empunya.
Ketiga orang disitu langsung menatap tajam sang pilot dadakan yang sekarang sedang bergidik ketakutan. Kepalanya masih benjol karena dipentung oleh sang personifikasi Hungary, masa' harus kena tojos lagi?
Sang aristokrat yang paling pertama membuka suara setelah ajang pelotot-pelototan tadi. Mata violet-nya terpejam dan tangannya mengurut dahinya frustasi, "Sial. Harus gimana ini? Peta digital kita rusak, pesawat juga mengalami lecet dimana-mana,"
"Andai kau tadi lebih berhati-hati lagi, Prussia, kita tidak akan mendarat di kebun—atau lebih tepatnya kebun yang mirip hutan ini. Apalagi kita tidak tau dimana persisnya kita berada! Ponsel-ku juga kemana!" Sambung England yang kelewat frustasi. Bukan, dia belum gila.
England terus menggeratak, mencari ponsel-nya diberbagai macam tempat. Austria hanya terdiam, Hungary juga canggung memulai pembicaraan, sementara sang pilot ngaco seliweran mencari peliharaannya. England terus memasuki kebun jauh kedalanya demi mencari ponselnya sambil mendumel, 'Cepatlah ketemu! Aku bisa menelpon Scott, Ire, dan Wales untuk menolongku!' atau ' Oh, bloody hell! Apa itu!'. Suasana menjadi sepi—jangan masukkan bunyi grasak-grusuk atau kalimat-kalimat sang british akibat sedang mencari kepunyaannya—Sampai ada suara nge-bass yang dibuat menggoda memecah kesunyian. "Mencari ini, Angleterre?"
England mendongkak sedikit untuk melihat sebuah tangan mengulurkan ponselnya yang berwarna putih. "Ponselku! Tha—FRANCE!"
"Angleterre~ Senang sekali rasanya bisa bertemu denganmu disini~"
Sebuah kriwil aneh menyembul dari belakang France. Mengintip, lalu akhirnya tersenyum ceria, "Ciao, Inghilterra! Kenapa kaget begitu, vee? Untung kami bertemu Inghilterra disini! Hei, teman-teman! Kita bisa pulang, vee~"
Terdengar suara berisik dari arah pepohonan, dan tidak lama keluarlah seorang personifikasi Spanyol yang wajahnya lusuh, menjadi ceria kembali setelah melihat apa yang didepannya. Disusul oleh South Italy, Belgium, Luxembourg, dan Portugal. Mereka masih memakai baju biasa ketika tidak sedang bekerja, dan semuanya lusuh. Bahkan France, Portugal, dan Spain tampak luka-luka.
Sungguh, sebenarnya ada apa ini?
"Yo! Spanien, Frankreich! Tidak kukira kita akan bertemu disini!"
"Yo, Prusia!" Sambut sang Spanyol. Matanya masih menelusuri sekitar, meperhatikan siapa saja yang ada disitu. "Austria! Hungría! Dan... Inglaterra?"
Mata yang tadinya cerah menyambut teman-temannya malah menjadi melebar ketakutan setelah melihat sang british. "Inglaterra...," Setelah sepatah kata itu, Spain malah bersembunyi dibelakang France.
"Kenapa kau, Espanha?" Portugal mengerenyit melihat kelakuan saudaranya.
"Ada Inglaterra... aku takut dipukuli lagi olehnya...,"
England langsung facepalm. Kejadian itu sudah terlampau lama sekali dan Spain masih tetap saja takut olehnya? Oh, mengapa dunia ini begitu aneh?
"Bukankah kau malah senang tadi melihat si alis tebal itu, tomato-bastard?" Tentu saja kita tahu siapa yang bertanya kali ini. Dari bahasanya yang nyelekit, dan ada sedikit nada kecemburu—AMPUN! JANGAN TIMPUK AUTHOR!
Oke, kembali ke cerita.
"Aku tadi tidak melihat Inglaterra, Romano... Tadi aku cuma melihat Prusia yang sedang membungkuk di pepohonan sebelah sana." Spain pun menunjuk pepohonan yang ada didepannya. Lho, bukankah lebih dekat England daripada Prussia dari tempatnya dia sembunyi tadi? Biarlah, itu hanya rahasia Spain dan sang ilahi.
Wanita berambut coklat menghela napas, lalu berjalan mendekati temannya. "Senang bisa bertemu denganmu, Belgium,"
Belgium melihat kearah kanannya, lalu tersenyum, "Hei, Hungary! Aku juga senang bertemu denganmu setelah beberapa lama tinggal dengan para lelaki yang aneh itu." Sontak mereka berduapun tertawa.
"Hei!"
Serontak para makhluk yang ada disitu melihat kearah asal suara. Semua mengerenyit setelah melihat siapa yang datang, lalu beberapa saat kemudian baru tersenyum sumringah. Oh, dasar lemot.
"Indonesia!"
"Indonésie!"
Dan berbagai macam bahasa pun memanggil ceria nama wanita dengan pakaian safari yang baru datang—dan tambahkan vee untuk seorang North Italy.
"Hei, teman-teman! Untung kalian semua selamat. Selamat datang ditempatku!" Sambut Indonesia ramah.
"Syukurlah kau dapat menemui kami," Ucap Austria dengan nada sangat lega.
"Ahaha! Tadi radarku berbunyi. Kukira ada makhluk halus baru yang kesasar disini, eh, ternyata malah kalian,"
Kalimat Indonesia tadi cukup membuat manusia yang masih waras disana sweatdrop. Yang kurang waras? Tentu masih tersenyum, dan kalian tahu siapa saja yang masih tersenyum.
"Ada apa ini ribut sekali?" Seseorang berbadan besar dengan syal dilehernya—bukan, bukan makhluk psikopat yang selalu tersenyum walaupun marah—, cangklong, dan rambut tulip muncul dari belakang Indonesia.
"Broer!" Teriak Luxembourg dan Belgium bersamaan setelah melihat siapa yang datang lagi.
Indonesia tersenyum hangat, lalu merentangkan tangannya seperti tidak ada beban. Dengan senyum tidak kalah menawan dengan senyum Spain, dia berkata, "Selamat datang dikebunku, para tamu yang terhormat. Kalian pasti lelah, bukan? Mari kita istirahat sebentar. Aku juga akan menyelidiki apa yang menyebabkan para nation hilang."
Sementara, di tempat lain.
Holy Roman Empire menatap miris foto para anak asuhannya. Setelah menelepon England tadi, perasaannya agak lega, namun tetap saja. Kehilangan anak asuh yang sudah dianggap sebagai cucu sendiri itu sangat menyedihkan, bukan?
"Itaria..."
Air mata sang kakek pun mengalir. Hah, dasar lebay.
"Yooo, kakek! Kenapa menangis? Aku yang hebat ini datang untuk menghibuuurrr!"
Holy Roman Empire terlonjak begitu mendengar suara cempreng anak sok hebat didepannya. Mata sebiru laut-nya mengerenyit melihat siapa yang ada didepannya. "Preuβen?"
Prussia versi chibi itu pun mengangguk, "Ya, kek! Ada apa, sih? Manyun mulu. Kakek nanti tambah jelek, tambah tua pula,"
'Nyolot bener ini bocah...' Pikir kakek HRE. 'kalo gak ada hubungan darah udah gue abisin, kali!' Wow. Wow. WOW. Kek, betapa gaul-nya bahasamu!
"Anak asuhan kakek hilang."
"Ha? Perasaan tadi saya ngeliat semuanya lagi pada main di halaman, deh, kek,"
"Demi apa?"
"Demi papa Fritz yang ganteng!"
Holy Roman Empire menghela napas, "Semuanya ada disana?"
"Ya, semuanya!"
Holy Roman Empire kini tersenyum lega. Biasanya semua anak asuhnya itu langsung keruangan tempat ia berada sekarang. Catatan terbaru sang kakek, 'Jangan mengira anak asuh-mu hilang cuma karena tidak menjengukmu terlebih dahulu'.
"Tapi kek, tadi aku merasakan ada getaran, dan mereka semua berlarian dan berpencar! Aku tidak tahu mereka semua sekarang ada dimana, yang bersamaku tadi hanya West, Österreich, Ungarn, dan England."
Hapus catatan tadi, dan ganti dengan 'Jangan cepat percaya pada anak albino sok hebat yang tiba-tiba muncul'.
"Jadi, bagaimana ceritanya kalian bisa terlempar kesini?" Tanya England sambil menyeruput teh yang disediakan oleh Indonesia.
"Ada suatu getaran setelah beberapa lama gempanya Japan, lalu kami terlempar kesini," Jawab Portugal.
"Dimana kalian saat kejadian itu terjadi?" Giliran Australia bertanya.
"Aku, Espanha, dan kedua Italy sedang bermain-main, lalu terjadi begitu saja. Setelah getaran itu, kami pingsan, setelah bangun kami ada disini."
"Aku dan Luxie sedang memasak dan seterusnya terjadi seperti kata Portuguese." Sambung Belgium.
"Aku sedang memikirkan Jeanne dan Sey, mon cher~"
"Jadi, karena gempa dan tsunami dari Jepang?" Tanya Indonesia.
"Kupikir begitu, tapi entahlah," Ujar Luxembourg.
Mereka semua pun terdiam.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! SEDANG APA KAU DISINI, MESUM!"
Para nation yang ada diruangan itupun menatap lorong tempat tadi suara itu berasal. England mengerenyit bingung, merasa mengenali suara itu. "Malaysia?"
"KELUAR KAU DARI KAMAR MANDIKU!"
"...kamar mandi?" Ujar Austria.
"Dari tadi Malaysia belum keluar dari kamar mandi?" Tanya Hungary.
"Belum."
"Maaaaaffff! Aku juga tidak tahu kenapa aku ada di kamar mandimu! Aw! Jangan memukuli hero sepertiku pakai gayung!"
"... hero? ...America?" Seseorang yang mirip America yang juga mendengar pun terkaget-kaget. Tunggu, ...siapa dia?
Prussia bergidik ngeri, "Tadi itu siapa yang bicara? Indonesia, suruh makhluk halus tidak awesome-mu tidak keluar saat kami berkunjung!"
"Aku bukan hantu, da yo! Aku Canadaaaaa!"
"Itu bukan hantu peliharaanku!" Tangkis Indonesia. "Mungkin itu yang menyebabkan radarku tadi bunyi! Ada makhluk halus asing nyasar kesini!"
Canada pundung bersama kecoak disudut ruangan.
"Heeeeiiii! Lebih baik kita periksa keadaan Malaysia!" Kata England sambil marah-marah.
Romano memutar mata, "Buat apa? Aku disini saja. Malas sekali aku kebelakang hanya untuk memeriksa keadaan pacarmu, alis tebal."
"Hush, enggak boleh begitu, Romano," Belgium menyikut Romano dengan perasaan tidak enak kepada yang lain.
"Belgium benar, Lovi~ Ayo kita kebelakang~"
"Sudahlah! Dari pada lama menunggu, kau disini saja!" kata England sembari menunjuk Romano. "Sementara sisanya, ayo kebelakang!"
.
Hancurlah hari besar untuk England. Mata emerald-nya melebar setelah melihat apa pemandangan yang disuguhkan didepannya; America. Baru. Saja. Keluar. Dengan. Ditendang. Malaysia. Dari. Dalam. Kamar. Mandi.
Oh tuhan, mimpi apakah dia semalam?
Indonesia juga sama. Mulut-nya terbuka lebar, mata-nya terbelalak, tidak jauh beda keadaannya dengan England.
"H-hei , kalian semua! H-hahaha!"
"APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ADIKKU, MESUM?"
Indonesia sudah menyambar lagi bambu runcingnya yang sebelumnya dipakai untuk mengejar Malaysia. Netherlands, Australia, dan Portugal yang berdiri dekat Indonesia langsung memegangi gadis darah tinggi itu.
"A-aku gak ngelakuin apa-apa, kok!"
"America,"
Sang negara adidaya menoleh kearah seseorang yang memanggil namanya. "I-iya, Iggy?"
"Aku punya hadiah untukmu,"
Australia menatap England sebelum memberi bungkusan tersebut ke America.
"I-ini apa, Iggy?" Tanya America takut-takut.
"Buka saja,"
America membuka bungkusan tersebut, dan wajahnya memucat. "S-scone?"
"Ya, hari ini aku membuat terlalu banyak scone. Aku memutuskan untuk memberikan setengahnya padamu. Makanlah,"
America menatap sekelilingnya, mencoba mencari bantuan dari nation lain. Para nation yang sedari tadi cekikikan, menjadi berpura-pura tidak tahu atau bersiul-siul.
"Sudahlah, Angleterre~" France angkat bicara, membuat America tersenyum lega. "Lebih baik kita dengarkan penjelasan Amerique terlebih dahulu~"
"Hm, sudah waktunya aku berangkat ke konferensi Asia Tenggara," Indonesia memotong sambil melihat jam tangannya. "Kupikir lebih baik kita semua ke konferensi, nanti aku juga akan menelepon para nation yang tidak hilang.
"Dan kau, Amerika," Telunjuk Indonesia mengarah lurus ke wajah America. "Jelaskan semuanya pada kami di konferensi nanti."
"Jadi kau terbawa seperti angin lalu berakhir di kamar mandi Malaysia?" Seseorang berwajah oriental menyipulkan.
"Benar sekali, China! Hero sepertiku tidak mungkin bohong! Aku sendiri juga kaget kenapa tiba-tiba ada di kamar mandi Malaysia padahal sebelumnya aku sedang bersiap-siap di ruang kerjaku untuk World Meetings sambil memakan hamburger!"
"Seram sekali, ana~" Komentar Thailand. "Sebaiknya kita juga mencari nation lain yang hilang~"
"Ya. Tetapi itu berarti, kita harus keliling dunia untuk mencari para nation yang hilang?" Vietnam mengerenyitkan dahinya. "Mahal."
Semua nation disitu facepalm karena komentar Vietnam. Bukankah mereka punya kekuasaan sendiri terhadap alat-alat negara?
"Aku menyumbang alat telekomunikasi untuk ekspedisi," Singapore angkat bicara, matanya masih sibuk dengan handphone super canggihnya itu.
"Aku menyumbang pesawat-nya, vee~!"
"Aku dan bruder sepakat untuk menyumbang alat-alat untuk pencarian," Kata Germany.
Semua nation disitu berebut menawarkan bantuan-bantuan untuk mencari para nation yang hilang. England memutar mata lalu berdiri, "Tenanglah, para hadirin. Tulis sumbangan kalian di kertas lalu kumpulkan di Australia,"
Para nation saling berpandangan. England berdehem lalu melanjutkan, "Dan ajukan siapa saja yang akan ikut ekspedisi, dan pilihlah ketua-nya."
Suasana jadi sunyi sesaat setelah perkataan England tadi. Seychelles adalah orang pertama yang mengangguk dan berteriak dengan semangat. "Gagasan yang bagus, England!"
Personifikasi Inggris tersebut tersenyum puas kemudian memukul meja-nya. "Nah! Sekarang mari kita mulai pemilihannya!"
#
To Be Continued
#
Fail. Fail. FAIL. F-A-I-L fuuuu— /headbang.
Abaikan yang diatas. Maaf-kan saya kalau ini cerita malah ngalor-ngidul kemana-mana, bu Hungary! Mana chapter ini kesannya bertele-tele dan garing pula...
Bagaimana dengan chapter ini? Aneh? Makin gaje? Gak lucu sama sekali? Atau malah hancur? Nulisnya buru-buru pula =_="
Terimakasih atas perhatiannya~! Mungkin chapter tiga akan kami garap bersama. Ada kritik atau saran dari anda sekalian? Bisa langsung ke review page. *nyengir*
Salam Magnum~!
