Summary: You and I were just a breath apart. But then you pushed me away, with those icy blue crystals shining with pain. I stretched my hand to you, but a wall of society rose to keep us apart. And you just stood there, behind it, did nothing, although I can felt it, your hands're itching to claw and paw your way to me. But, it's just that, what we have is a love that can never be…
Warning: "Sedikit" AU dari epilog Harry Potter and the Deathly Hallows. Beberapa fakta yang tidak sama dengan di buku (karena author males ngecek kejadian dan kalimat persisnya di buku :D). A splash of Slash… Third person PoV. My poor attempt at humor. Err, rating juga dinaikkan jadi T.
Multi-chaptered fic, tapi bisa dibaca sebagai one-shot tiap chapternya, karena terlihat tidak berhubungan satu sama lain. Tapi tiap chapter berhubungan kok. Err… udah deh, deskripnya "Multi-chaptered fic. Titik." aja :P.
For this chapter: Harry Potter.
Disclaimer: JKR has not occupied her grave, and therefore, she's still alive and doesn't (hasn't! *stomping feet*) will Harry Potter to me…
.
.
A Love That Can Never Be Happened
.
.
Seperti biasa, suasana King's Cross sibuk, manusia berlalu lalang berjalan terburu-buru di antara sesamanya. Sama seperti suasana hampir dua puluh tahun yang lalu, ketika terakhir kali ia berada di sini sebagai siswa, dan sangat kontras dengan suasana King's Cross di saat 'batas kematian'nya, di alam limbo, ketika ia bertemu dengan profesornya yang telah tiada. Suasananya sangat sunyi saat itu. Ah, paling tidak, keramaian ini berarti kenormalan.
Harry mengernyit dalam hati. Ouch, kalimat itu terdengar seperti kalimat yang akan diucapkan pamannya, yang mengutamakan kenormalan di atas segalanya. Oh well…
Setidaknya, keramaian ini bisa menyembunyikan fakta bahwa sebentar lagi lima orang manusia akan menghilang tanpa bekas dari stasiun ini. Yep, sebentar lagi…
Ah, sudah terjadi. Harry dan keluarganya sudah bersandar ke palang rintang antara peron sembilan dan sepuluh, mengobrol sambil diam-diam mengawasi sekitar, menunggu saat yang tepat untuk berpindah sisi… dan voila, mereka ada di peron sembilan tiga perempat, yang tak kalah ramainya dengan counterpart Mugglenya.
Baru beberapa saat berada di sana, James sudah menghilang bersama kopernya, kemungkinan besar mencari teman-temannya di salah satu kompartemen di kereta, sudah tidak sabar untuk membuat rencana lelucon dan kejahilan yang akan mereka lakukan di sekolah. Lily kecil menggelendot pada ibunya, sementara Albus, anak tengahnya, menggenggam tangannya sambil menggigiti bibir bawahnya, kebiasaannya ketika gugup atau gelisah.
Harry sejenak berpikir mengenai alasan mengapa anak keduanya begitu khawatir. Di tahun pertamanya James juga gemetar, tapi itu karena ia terlalu senang, giginya menggeretak karena ia berusaha diam dan tidak meloncat-loncat mengelilingi stasiun. Harry sendiri saat pertama kali pergi ke Hogwarts…
Ia berusaha mengingat-ingat bagaimana perasaan dan tingkah lakunya ketika pertama kali berdiri di peron ini, namun konsentrasinya buyar karena ada tepukan di pundaknya. Harry menoleh, sahabat berambut merahnya nyengir lebar padanya. Harry mau tidak mau membalas dengan senyum miliknya sendiri.
Mereka bertukar sapa, dan mengobrol ringan sebentar. Beginilah keadaannya selama berpuluh tahun—dua puluh enam tahun!—sejak pertama kali mereka bertemu. Selalu ada yang bisa mereka bicarakan, apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Mereka sahabat sejati, meskipun ada kalanya mereka saling marah satu sama lain, saling tak mempercayai, terutama dulu sekali. Tapi apalah persahabatan jika tak ada pertengkaran?
Tak lama, Ron teralihkan perhatiannya oleh Hugo yang menarik-narik ujung jubahnya. Harry, setelah tersenyum kecil melihat tingkah keponakannya itu, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan matanya teralihkan perhatiannya oleh sekelebat rambut pirang platinum yang—
.
—sangat dikenalnya. Harry terpekik kecil karena udara terhempas dari diafragmanya, dan pandangannya yang tiba-tiba gelap gara-gara kelebatan rambut pirang yang baru saja sempat dilihatnya—sebelum rambut itu menghalangi pandangannya, tentunya. Tapi di luar napasnya yang tiba-tiba terputus sejenak, bukannya panik, Harry hanya mengulum senyum kecil dan malah semakin menyelusupkan wajahnya ke helaian platinum lembut di depannya. Aroma daun pinus samar menghinggapi inderanya, yang dihirupnya dalam-dalam, sebelum dua tangan di pinggangnya melepasnya, dan ia bisa bernapas lega lagi.
"Rindu padaku, Dray?" bisik Harry puas.
"Selalu, Beautiful," balas si rambut pirang—yang kini bisa diidentifikasikan sebagai (surprise, surprise!) Draco Malfoy—dengan nada dipanjangkan yang familiar.
"Har, har," Harry tertawa datar, "serius deh, ada apa denganmu dan nama-nama panggilan lucu, kau bukan cewek, kan?" Harry memutar bola matanya. "Dan aku tidak… cantik, aku bukan perempuan, idiot," gumamnya sambil cemberut, ia membelakangi Draco sambil melipat tangan di depan dada.
"Tapi akan membosankan dan biasa sekali kalau aku memanggilmu Harry seperti yang lain," Draco meraih bahu Harry dan memutar tubuhnya sehingga mereka berhadapan lagi. Bibir di depannya seakan menggodanya, mengerucut seperti itu. Draco mengerjap untuk memfokuskan diri. "Aku ingin memanggilmu dengan sesuatu yang…ah, spesial, Kitten, yang cuma aku yang boleh memanggilmu begitu. Lagipula kau punya panggilan sendiri untukku, Dray, ya kan? Dan bahkan saat kita pura-pura bertengkar di koridor pun kita punya panggilan spesial untuk satu sama lain. You Silly Scarhead…" Draco mengecup keningnya cepat sebelum nyengir—menyeringai! Slytherin tidak nyengir! Mereka menyeringai!—seperti kneazle.
"And you're my Fuzzy Ferret," Harry balas nyengir, mengacuhkan protes tersinggung Draco ("Hey, aku tidak fuzzy!"), mengelus-elus rambut pirang Draco. "Baiklah, kau boleh memberiku panggilan, asal jangan yang aneh-aneh atau terlalu…" Harry mengernyitkan hidungnya jijik, "manis atau seperti cewek. Seperti Honeybee atau Sweetheart—"
"—dan Creampie dan Honeysuckle dan Cupcake? Oh, padahal aku ingin memanggilmu Muffi—"
"Dray!" Harry mendorong bahu Draco hingga ia mundur beberapa langkah, bibirnya mengerut.
Draco hanya tergelak.
Harry mendengus, lalu melanjutkan dengan nada agak muram, "Tapi… sayang sekali, kita harus sembunyi-sembunyi begini hanya untuk bertemu, padahal bukannya di dunia sihir kita bebas mencintai dan bersama siapa saja, bahkan sesama—"
"Kau tahu apa yang akan terjadi kalau orang-orang sampai tahu. Aku berbicara sopan padamu saja si Weasel langsung berasap telinganya dan menyumpah serapah, apalagi kalau kau memberitahunya dan… Granger bahwa kau bersama denganku. Belum lagi reaksi penduduk dunia sihir, mereka akan mengikat dan membakarku hidup-hidup dengan fiendfyre, menganggapku Death Eater bahkan meskipun di tanganku tidak ada cap si Muka Ular, lalu mungkin akan mengucilkanmu, atau mengira kau dikendalikan Imperius atau dicekoki Ramuan Cinta," Draco dengan sabar menjelaskan.
"Yeah, yeah, orang-orang bermuka dua mereka semua itu," gerutu Harry.
"Ya. Jadi, kita tak punya pilihan lain selain memanfaatkan sudut-sudut gelap di kastil, atau ruangan kelas kosong, atau lemari sapu," Draco menggerakkan alisnya sugestif, "atau… untuk kasus kali ini, koridor sepi…" Dan tanpa buang waktu, Draco merapatkan tubuhnya dengan Harry, mau tidak mau memerangkapnya antara si Pangeran Slytherin dan tembok batu. Mulutnya tanpa ampun menangkap mulut lainnya, saling menekan, membelai, saling merasakan satu sama lain…
Harry sendiri, tak siap dengan serangan mendadak itu—sekilas di benaknya terbayang Quidditch—ia memekik tanpa suara. Jika mereka sedang di udara, mereka saat ini sedang berebut snitch, meliuk-liuk mengejar bola emas kecil itu, adrenalin mengaliri darah mereka, menukik, bertubrukan berusaha mengungguli yang lain, bergulat—dan dalam sekejap Harry lupa sama sekali tentang Quidditch, ketika jemari ramping meremas sisi tubuhnya, menjalarkan panas hingga ke ujung-ujung jarinya. Harry merasa seakan belulangnya menghilang, sehingga jika Draco tidak menghimpitnya ke dinding, ia akan merosot ke tanah, terreduksi seperti gumpalan es meleleh. Bibir lembut itu seakan mengonsumsinya, menyantapnya dengan cara yang paling menyenangkan.
Draco memisahkan dirinya dari Harry dengan bunyi 'pop' pelan, terengah-engah. Ia memandang wajah partnernya, yang mana kacamatanya miring, rambutnya berantakan seperti biasa, mulut menganga ikut terengah, menyandar ke tembok dan mata menerawang…
"Harry, Love?" Draco mengangkat sebelah alis pirangnya elegan, namun ekspresinya puas. "Kau baik—
.
—baik saja di situ, Harry?"
Harry menggerjapkan mata. Ron memandangnya dengan wajah agak khawatir, serupa dengan wajahnya ketika melihat Harry setelah bekas lukanya sakit atau mendapat "penglihatan" dari Voldemort. Huh. Rupanya tadi suara Ron yang menariknya dari… lamunannya. Harry tersenyum kecil untuk menenangkannya.
"Oke, Ron. Aku cuma mengingat saja. Kau tahu, hiruk-pikuk naik Hogwarts Ekspress waktu kita sekolah dulu."
"Oh, yeah, sibuk sekali ya Harry, Mum biasanya tidak akan melepas kita pergi kalau belum mengingatkan kita untuk makan yang cukup di Aula Besar dan gosok gigi sebelum tidur dan sebagainya. Belum lagi peringatan kalau dia akan mengirim Howler kalau nilai kita jelek atau kita mengacau di sekolah," Ron nyengir, jelas-jelas membayangkan masa sekolahnya dulu.
"Yep, dan kau bahkan pernah dapat Howler betulan. Ingat waktu kau menabrakkan Ford Anglia ayahmu ke Dedalu Perkasa di tahun kedua kita? Atau Howler sebelum OWL di tahun kellima kita? Atau—"
"Cukup cukup, Harry," Ron mendelik, sementara yang dideliki hanya memasang wajah tak bersalah dan mengerjapkan mata, "ya, ya, aku mengerti poin-poinmu. Cukup soal Howler, dan coba kau menengok ke sana," Ron mengacungkan dagunya ke sebelah kiri belakang Harry, yang mana Harry tahu siapa yang berdiri di situ, tapi tak berani dilihatnya secara terang-terangan, "ada si Musang Melambung di sana, entah apa maunya dia datang ke sini."
Harry menelan ludah (tak menghiraukan pekik atau sikutan marah Hermione ke rusuk suaminya, "Ron, sopan sedikit!"), lalu perlahan, ia memutar badan, mengerling sedikit demi sedikit orang yang paling dirindukannya, takut akan melihat ekspresi benci atau jijik, atau lebih buruk lagi, ekspresi datar tak mengenal, ekspresi yang memberitahunya bahwa ia telah terlupakan, hanya seperti seutas nama tak bermakna di surat kabar, kau tahu nama itu, seperti nama atlet atau selebriti, tapi kau tak mengenal pribadinya, hanya tahu isu dan gossip yang beredar seperti yang dikatakan orang.
Di sanalah ia berdiri, di dekat gerbong terdepan, bersama istrinya dan anak laki-laki kecil yang berambut pirang pucat, sepertinya putranya. Ia seperti yang Harry ingat bertahun-tahun lalu kecuali untuk perubahan-perubahan kecil berhubungan dengan pertambahan usia, bahkan hingga ke helaian pirang platinumnya, panjang rambutnya, lancip dagunya, tajam tatapan biru bekunya…
Lalu sosok aristokrat itu mengangguk kecil ke arahnya, dan sejenak Harry merasa lega, Dray tidak melupakannya. Tapi— tapi…
Harry memaksakan dirinya untuk tersenyum kecil sebagai balasan, dan berharap bahwa ekspresinya tidak terlihat beku dan kelu seperti hatinya, kemudian ia segera membalikkan tubuhnya lagi, karena ia tak tahan, ia tak bisa melihatnya berdiri kokoh di sana, seperti yang diingatnya dulu, di sampingnya ada istri pirangnya dan si anak laki-laki pirang memeluk kakinya.
Harry merasa hatinya diremas.
Alasan lain Harry segera berbalik lagi adalah tarikan pelan di salah satu tangannya. Albus.
Anak tengahnya akhirnya mencurahkan kecemasannya, betapa ia takut kalau Topi Seleksi akan memasukkannya ke Slytherin dan bukan ke Gryffindor seperti James, takut ia akan mengecewakan ayahnya, atau dikucilkan oleh James atau anak-anak lain, karena ia adalah anak dari Harry Potter, bagaimana bisa ia malah masuk Slytherin.
Harry tersenyum menenangkan, meskipun hatinya terasa seperti diremas lagi, teringat akan Slytherin yang lain, yang berdiri hanya beberapa meter darinya. Lalu sambil membelai rambut hitam anaknya (yang untungnya tidak mewarisi rambut berantakannya, alih-alih rambutnya menjuntai lurus, seperti rambut Severus Snape, yang mana namanya menjadi nama tengah Albus, meski untungnya tidak berminyak) Harry menjelaskan bahwa ia akan bangga pada Albus ke asrama manapun ia masuk, bahkan Slytherin.
Harry berjongkok dan bergumam di telinga Albus kalau Slytherin juga asrama yang membanggakan dan banyak penyihir terkenal dan hebat berasal dari sana, termasuk Severus Snape yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya dan merupakan salah satu peramu paling handal di dunia. Harry membisikkan bahwa bukankah ia pernah bercerita pada Albus bahwa dulu Topi Seleksi juga pernah ingin menempatkannya di Slytherin, namun Harry memohon agar tidak ditempatkan di situ, dan itu membuktikan bahwa pilihanmulah yang akan menentukan kau akan ditempatkan di mana.
Lalu setelah pelukan erat terakhir, diantarnya Albus ke pintu kereta, dan diingatkannya untuk sering-sering menulis surat ke rumah untuk menceritakan bagaimana hari-harinya di Hogwarts, bagaimana professor-professornya, pelajarannya, lapangan Quidditchnya, apa saja. Setelah Harry mengatakan ini Albus sudah mulai bisa tersenyum dan hanya mengangguk, dan berbelok mencari kompartemen untuknya dalam kereta, karena kereta sudah mulai bergerak.
Saat kepala kecil Albus melongok dari salah satu jendela, Harry melambai lemas hingga ujung kereta berbelok dan tak terlihat lagi dari pandangan, lalu ia tersenyum dan berpamitan dengan Ron dan Hermione, sekali lagi menjawab bahwa ya, ia ingat bahwa Jumat malam ia akan makan malam di rumah mereka dan ya, ia tidak akan lupa untuk membawa Odgen Tua kegemaran Ron yang baru dibelinya dari Bulgaria, lebih murah setengah harga berkat koneksinya dengan Viktor Krum dan juga namanya sendiri. Ia hanya nyengir melihat Hermione memutar bola matanya di belakang Ron, lalu melambai kecil, sebelum berbalik dan berjalan pelan.
Harry tidak menengok sekalipun untuk mencari istrinya dan putri kecilnya, karena ia ingat bahwa pagi ini sambil lalu Ginny mengatakan ia dan Lily akan berbelanja setelah dari King's Cross, ia tidak ingat belanja apa atau di mana, dan sejujurnya, ia tidak terlalu peduli, toh ia tahu kalau keduanya aman dan Ginny bisa menjaga Lily dengan baik. Harry juga tidak berani sekalipun menoleh ke arah tiga orang pirang sebelumnya berdiri, ia takut, entah takut mendapati mereka masih ada di sana (hanya berdua alih-alih bertiga), atau justru takut mereka sudah menghilang dari sana, dan mungkin yang dilihatnya tadi hanya imajinasinya.
Ia menggeleng kecil untuk menjernihkan kepalanya, dan tanpa banyak berpikir atau berkonsentrasi ber-Apparate ke ruang kerjanya, meskipun di sekeliling rumah itu ada ward yang menghalangi seseorang ber-Apparate langsung ke dalam rumah atau bahkan ke halamannya. Berdiri di tengah ruang pribadinya, Harry merasakan efek dari semua pikiran dan kejadian seharian ini menerpanya berat. Ia terhuyung sedikit, namun dengan refleks Seekernya ia menemukan kakinya dan berhasil berjalan sedikit sebelum ambruk di kursi nyaman dekat lemari buku besarnya. Ditutupnya matanya untuk menenangkan jantungnya yang berdenyut tak karuan.
Setelah detaknya kurang lebih kembali normal, Harry membuka matanya. Ia tak mengira bahwa hari ini ia akan bertemu dengannya lagi. Selama ini, setelah mereka berpisah tepat sebelum kelulusan mereka dari Hogwarts, Harry telah memasrahkan diri, bahwa satu hal ini tak bisa digapainya. Manusia tidak selalu bisa mendapatkan keinginannya, dunia tak selalu adil. Walaupun di hatinya harapan tak pernah pupus, ia sudah menerima bahwa ia takkan pernah terwujud, dan berusaha menjalani hidupnya sepenuhnya, seutuh yang ia bisa. Meskipun… meski, oh, betapa ia menginginkannya…
Harry mendesah panjang. Ia tak habis pikir mengapa hal seperti ini selalu terjadi padanya. Selalu saja ada yang menghalanginya untuk mencapai kebahagiaan seutuhnya. Tentu, sebagian besar keinginannya terpenuhi setelah perang.
Ia mempunyai pekerjaan tetap yang meskipun kadang menyebalkan dan membuat frustasi, tapi cukup memuaskannya. Ia menjaga hubungan baiknya dengan Ron dan Hermione, bahkan setelah bertahun-tahun, bahkan hingga kini. Ia juga mempunyai sebuah rumah nyaman yang berpemandangan indah, tidak terlalu besar tapi cukup untuk keluarganya, dan juga bebas wartawan (yeah, ia lebih takut pada wartawan, dari pada Death Eater yang kejam dan garang. Death Eater ia bisa tangani, tinggal kutuk atau kalau perlu jotos saja. Tapi wartawan, uh, mereka seperti lalat yang terus mengikutinya, sulit dibasmi juga, terus kembali meskipun sudah diusir; atau bahkan… fangirl… ya, fangirl, mereka baru mengerikan. Seperti werewolf-werewolf kelaparan, mereka itu—Harry meringis memikirkannya).
Ia dikaruniai tiga anak yang sehat—hanya beberapa kali terkena pilek atau batuk, penyakit biasa—pintar—mereka punya spesialisasi sendiri tentunya: James pintar memikirkan kejahilan brilian yang bisa dilakukannya di sekolah (sekarang kalau saja Harry bisa membuatnya menunjukkan antusiasme yang sama pada pelajaran), Albus suka membaca dan ajaibnya, pintar membuat Ramuan (mengingat siapa ayahnya, itu keajaiban), Lily Luna pintar menggambar dan kadang-kadang membantu Harry merawat bunga mawar di kebun mereka—dan baik—well, mereka mungkin kadang berbuat iseng, merengek, dan merengut bila kemauan mereka tidak dituruti, tapi itu wajar untuk anak-anak. Mereka adalah buah hatinya, dan Harry mencintai mereka dengan sepenuh hatinya.
Ia sudah diberi begitu banyak hal yang diinginkannya dalam hidupnya, dan ia masih meminta lebih juga. Egois sekali, eh? Padahal biasanya Harry akan mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan ketika sudah jelas bahwa balasan yang ia terima terkadang sudah jelas tidak sebanding untuknya. Namun…
Namun mau tak mau, ia berharap, berandai-andai, jikalau saat itu mereka tidak berpisah…
Dipikir bagaimanapun, dilihat dari sudut manapun, kesimpulannya tetap satu, cinta mereka tak akan pernah bisa terjadi.
Mereka tetaplah harus berpisah, atau menghadapi konsekuensinya.
Ia mendesah lagi. Hal buruk apa yang diperbuatnya di kehidupannya sebelumnya, sampai-sampai ia dianugerahi perasaan—cinta yang menyiksa—ini?
Setelah kejatuhan Voldemort, ini adalah hal terburuk yang Harry pikir bisa diterimanya.
Tapi bahkan demi seluruh sihir dalam sel tubuhnya, ia tak bisa membuat dirinya menyesali telah mencintainya. Dan masih, hingga kini.
…Our love is a Love that can never be… happened.
A/N. Hello all. Chapter ini saya post sekarang (dan bukannya besok atau lusa… atau minggu depan :P) supaya terlihat kenapa cerita ini dilabeli "Harry P." dan "Draco M." dan bukan "Severus S." karena banyak yang nanya kenapa ada Severus di chapter 1. Kalau di multi-chaptered fic, chapter 1 itu seperti prolog, gitu. Dan dalam suatu cerita tokoh utama ga selalu harus langsung muncul kan?
…Masih belum keliatan? Hmm, gapapa, kan baru chapter dua, masih banyak waktu untuk mencari-cari penyambungnya kok :D.
Tapi… saya yakinkan kalau ini cerita tentang Harry dan Draco. Kalau diperhatikan di tiap chapter, akan terlihat kok jejak-jejak mereka (Harry dan Draco), atau ya mungkin ga keliatan kalau ga dicari, tapi walaupun sedikit, beneran deh ada, bahkan di chapter 1. Ada yang bisa lihat gak? Huhu, mungkin saya terlalu pinter *disambit*(dan terlalu cinta Severus) jadinya Severusnya menonjol sekali xD.
Yang jelas, di tiap chapter ada benang merah yang menyatukan mereka. Err, tapi mereka mungkin terlihat seperti err… kumpulan one-shot-yang-tidak-bersambungan.
Btw, seharusnya percakapan di memory sequent itu lebih enak pakai bahasa Inggris ya? Pakai bahasa Indonesia jadi aneh. Bonus deh, nih, kalau pakai bahasa Inggris jadinya begini (tapi cuma percakapannya ya, yang ringannya itu juga):
"Miss me, Dray?" Harry purred slightly.
"Always, Beautiful," answered the blonde—whom now can be identified as (surprise, surprise!) Draco Malfoy—with a familiar drawling note.
"Har, har," Harry laughed flatly, "seriously, what is it with you and cutesy pet names, eh? You're not a bloody girl, are you?" Harry rolled his eyes. "And I'm not beautiful, am not a woman, you idiot."
"But it's too boring and… ordinary if I call you Harry like the others. I want to call you with something…ah, special, Kitten, something only I am allowed to call you that. Besides, you have your own petname for me, Dray, isn't it? And even when we pretended to fight in the corridor we have special nicknames for each other. You Silly Scarhead…"
"And you're my Fuzzy Ferret," finished Harry grinning ear to ear, ignoring Draco's protest ("Hey,I'm not fuzzy!"), and caressing his silvery blond hair. "Alright, you may give me pet names, as long as it's not weird or too…" Harry wrinkled his nose disgusted, "sweet or girly. Like Honeybee or Sweetheart—"
"—and Creampie and Honeysuckle and Cupcake? Oh, but I want to call you Muffi—"
"Dray!"
Draco just laughed.
