Tittle : Crash.
Rate : T.
Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort.
Author : Skinner Choi.
Pair : DaeLo.
Warning : BL, Yaoi, ANGST, Miss Typo(s), Aneh, DLDR, No Flamers, OOC, AU.
Chapter 2 : A Fragile Boy.
Kamar Junhong tidak ada jendela. Saat dia pergi tadi, pintu rumah juga di kunci.
" Junhongie!." Panggil Daehyun, dia semakin cemas. Dia takut Junhong hilang atau kabur.
" Junhongie! Kau dimana?."
Kemudian Daehyun melihat tali sepatu milik Junhong di bawah tempat tidur. Daehyunpun melihat ke bawah kasur, dan ternyata Junhong sedang tidur disitu bersama boneka kelincinya.
" Junhongie ireona…" kata Daehyun.
Junhong terbangun dengan terkejut, wajahnya kembali memancarkan rasa takut dan khawatir.
" Shireo!."
" Kenapa kau disini? Kau bisa sakit." Kata Daehyun.
" Tidak mau! Aku tidak suka kau disini! Aku takut!." Katanya.
" Kau harus makan, nanti kau bisa sakit Junhongie."
" Shireo! Pergi! Aku takut padamu! Kau jahat!." Kata Junhong takut.
" Aniyaa… Aku tidak akan jahat padamu." Kata Daehyun.
" Aku tidak mau !."
Daehyun akhirnya mengalah. Dia tidak ingin Juhong semakin marah dan mengamuk lagi.
" Jika kau lapar, bilang padaku nee.." kata Daehyun pelan walaupun tidak didengarkan oleh Junhong.
.
.
.
.
.
PRAANGG!
Pipi Daehyun sobek terkena goresan pecahan gelas yang dilempar oleh Junhong. Sudah 3 hari Junhong menolak untuk makan, dan Daehyun sangat khawatir. Daehyun memang sudah membawa Junhong ke ruang makan, tapi itu membuat Junhong tidak suka dan marah.
Dia memecahkan piring dan gelasnya, sedangkan Daehyun hanya diam dan bersabar. Dia membersihkan pecahan-pecahan gelas dan tiba-tiba Junhong melempar pecahan kaca itu pada Daehyun. Sebenarnya Junhong hanya kesal karena dia tidak bisa melawan Daehyun, sehingga dia terus marah seperti itu.
" Junhongie, tanganmu berdarah!." Seru Daehyun terkejut melihat Junhong dengan keras menggenggam serpihan piring yang ia todongkan pada Daehyun jika Daehyun mendekat padanya.
" Sudah kubilang aku tidak mau! Kau orang yang jahat! Kau selalu memaksaku!." Kata Junhong. Giginya gemeretak antara takut luar biasa dan kekesalan yang amat sangat.
" Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu…" Kata Daehyun sambil mencoba mendekati Junhong.
" Pergi! Jangan mendekat lagi!." Kata Junhong semakin mencengkeram pecahan kaca itu hingga darahnya semakin deras mengalir.
" Hentikan Junhongie… Kau menyakiti dirimu sendiri…" Kata Daehyun semakin khawatir.
" Aku tidak peduli! Aku benci padamu! Hiks.. Pergi!." Bentak Junhong.
" Lalu… kau ingin apa?." Tanya Daehyun datar.
Junhong masih gemetar cemas tapi tak ada jawaban. " Jika kau mau percaya, aku akan melindungimu Choi Junhong. Bisakah kau beri aku kepercayaan? Hanya sekali ini, kumohon percayalah…" bujuk Daehyun lembut.
Junhong ragu, tapi tangannya perlahan melepaskan pecahan kaca itu, dia hanya terlalu takut hingga seperti ini. Dia tau Daehyun tidak pernah menyakitinya. Tapi dia sudah tidak mau lagi mempercayai siapapun, dia takut kepercayaannya disalah gunakan.
Daehyun perlahan mendekat dan memeriksa telapak tangan Junhong . " Tunggu sebentar, aku akan ambil p3k." kata Daehyun.
Junhong tau dia tidak punya alasan untuk membenci Daehyun, hanya saja orang asing selalu membangkitkan traumanya.
Ingatan orang-orang yang waktu itu datang ke rumahnya dengan kasar, dan dengan kejamnya membunuh ibunya didepannya, lalu dengan tidak beretika mereka menyetubuhinya. Itu adalah mimpi terburuknya, meninggalkan trauma dan luka hingga dia beranjak dewasa.
Mungkin Junhong tidak gila, dia hanya terlalu terlarut dalam traumanya. Dan Daehyun mengerti hal itu. Rumah sakit jiwa tak akan merubah apapun dalam kasus Junhong.
Daehyun mengobati luka Junhong dengan lembut dan hati-hati. " Junhongie… kau suka makanan apa?." Tanya Daehyun lembut.
Junhong melirik Daehyun ragu. " Kim… Bab—" kata Junhong serak.
" Kalau begitu aku akan buatkan kimbab untukmu." Kata Daehyun sambil tersenyum manis.
Junhong memeluk kakinya dengan kengannya yang tak terluka, sudah lama sekali tak ada yang menemaninya seperti ini, tapi walaupun begitu Junhong tidak ingin bicara apapun.
" Jika kau ingin sesuatu katakan saja. Aku pasti akan berikan, bicaralah apa yang ingin kau katakan agar aku tau." Kata Daehyun.
" Aku… " kata Junhong menggantung. Daehyun diam menunggu Junhong menyelesaikan kalimatnya, berharap Junhong mau sedikit bercerita sesuatu.
"… hanya ingin tidur." Lanjut Junhong.
Daehyun tersenyum, dia segera menyelesaikan membungkus luka Junhong dengan perban.
" Sudah selesai." Kata Daehyun.
Junhong segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik boneka kelincinya.
" Istirahatlah." Kata Daehyun.
Junhong berlari ke kamarnya dengan cepat dan bersembunyi di bawah tempat tidur lagi dengan boneka kelincinya.
.
.
.
.
.
Daehyun melihat kebawah tempat tidur. Ini sudah malam dan kali ini Junhong harus makan.
" Junhongie…" Panggil Daehyun lembut.
Junhong terbangun dan terkejut seperti biasanya.
" Kau pasti lapar 'kan? Aku buatkan Kimbap untukmu." Kata Daehyun sambil tersenyum lembut.
Junhong hanya diam, Daehyun tau Junhong tidak mau keluar dari tempat favorit-nya itu. Daehyun menaruh nampan yang berisi makan malam untuk Junhong, dan menggesernya ke bawah tempat tidur.
" Makanlah yang kenyang." Kata Daehyun sambil duduk menunggu Junhong selesai makan.
Mereka diam hanya suara sumpit yang digunakan Junhong yang berdenting membentur permukaan mangkuk. Tak lama kemudian Junhong menggeser nampan itu ke luar. Daehyun tersenyum senang, Junhong menghabiskan semuanya tanpa sisa. Sepertinya dia memangbenar-benar lapar.
Daehyun kemudian meninggalkan sekantung kecil coklat disitu.
" Karena kau sudah mau makan dan bersikap baik, aku beri coklat untukmu." Kata Daehyun lalu keluar dari kamar Junhong.
Junhong mengambil coklat itu dengan cepat, lalu memakannya. Sudah lama sekali rasanya dia tidak merasakan manis coklat kesukannya.
Keesokkan paginya saat Junhong bangun, dia melihat sebuah note yang ditinggalkan Daehyun disamping tempat tidur. Berisi; " Sarapan pagi sudah siap, setelah itu mandilah, aku sudah siapkan semuanya. Jika nanti sudah kau lakukan akan kuberi coklat lebih banyak dari kemarin. Aku akan pulang siang nanti."
Disamping note itu ada nampan berisi sarapan pagi untuk Junhong, lalu ada baju dan handuk. Junhong perlahan keluar dari tempat persembunyiannya, dia duduk bersila dan perlahan memakan sarapan itu perlahan-lahan.
Junhong benar-benar dibuat bingung. Dia ingin percaya dan menerima Daehyun tetapi dia selalu ragu. Dia memandang telapak tangannya yang dibalut perban. Dalam ingatannya, tak ada sedikitpun sentuhan kasar dari Daehyun. Daehyun selalu memperlakukannya dengan lembut. Junhong cukup waras untuk berfikir rasional, tapi dia tidak bisa seutuhnya keluar dari rasa trauma yang sudah menemaninya sejak kecil.
Dalam keadaan seperti ini Junhong tidak bisa berfikir dewasa karena dia tidak pernah tau dunia orang dewasa. Tubuhnya memang tumbuh, tetapi pikirannya tetap anak kecil.
Setelah selesai makan Junhong pergi ke kamar mandi dan mengganti bajunya dengan yang baru yang diberikan oleh Daehyun tadi. Ukurannya pas dibadannya. Junhong melihat pantulan dirinya di cermin. Dia terkejut dan seperti tidak mengenali siapa bayangan yang ada di cermin itu. Dia sudah lebih tinggi, dan wajahnya juga sudah lebih dewasa dan tegas. Kantung matanya yang hitam membuatnya mengerti kenapa bisa tercipta disana. Rambut Red Maroon miliknya acak dan masih basah setelah mandi tadi. Dia tidak berniat untuk merapikan rambutnya, dan detik berikutnya dia berjalan keluar kamar. Dia memperhatikan interior dan benda-benda dirumah Daehyun.
Selama tinggal disini dia tidak pernah memperhatikan sekeliling. Rumah ini cukup rapi dan nyaman menurut Junhong.
Dia melihat beberapa foto Daehyun dengan seorang anak kecil. Mungkin adiknya. Pikir Junhong. Kemudian Junhong berjalan menuju balkon. Entah kenapa, dengan sendirinya dia ingin kesana. Dia membuka pintu balkon dengan pelan, lalu dengan sedikit ragu dia berjalan keluar. Cahaya matahari yang menerpanya begitu hangat dan nyaman. Ini pertamakalinya dia merasakan lagi hangatnya mentari dan semilir angin yang memainkan rambutnya.
' Musim gugur…' Batin Junhong. Dia ingat Jongup senang melihat musim gugur karena sangat cocok dengan rambut Red Maroon-nya. Dia tidak berani melangkah lebih jauh melihat banyak orang berlalu lalang di bawah sana, karena semua orang asing berpotensi melakukan hal jahat, menurut Junhong.
Siang harinya Daehyun pulang. Dia sudah membeli coklat lagi untuk Junhong. Dia segera pergi menuju kamar Junhong. Dilihatnya nampan yang ia isi makanan tadi pagi sudah habis, dan baju yang ia siapkan tidak ada.
Daehyun melihat kebawah tempat tidur Junhong yang ternyata sudah tidur dengan boneka kelincinya. Daehyun tersenyum senang. Lalu dia menaruh coklat-coklatnya di samping Junhong lalu keluar dari kamar.
.
.
.
.
.
" Junhongie, ayo ganti perbanmu." Kata Daehyun lembut.
" Aku tidak mau keluar." Kata Junhong yang tetap di bawah tempat tidur.
" Kalau tidak mau, tidak kuberi coklat lagi." Kata Daehyun.
Lalu Junhong mengeluarkan tangannya saja, dia memang tidak ingin bicara dengan Daehyun. Entah kenapa dia jadi cemas dan bingung ingin percaya pada Daehyun atau tidak. Dia tidak mau diminta untuk tenang dan memberi kepercayaan pada Daehyun lagi jika dia mulai marah dan mengamuk.
Daehyun mengganti perban Junhong dengan lembut. Sebenarnya Daehyun ingin bicara banyak dengan Junhong, tapi itu sangat sulit. Membuat Junhong sedikit menurut dengan iming-iming coklat saja sudah seperti keajaiban.
" Sebentar lagi makan malam. Keluarlah. Ayo makan bersama." Ajak Daehyun.
" … Kenapa kau suka memaksa." Kata Junhong.
Daehyun tertawa kecil. " Aku hanya ingin ditemani." Kata Daehyun.
" Aku tidak mau menemanimu. Temani saja dirimu sendiri." Kata Junhong ketus.
" Akan kuberikan apapun yang kau mau." Kata Daehyun.
" Aku mau cherry tomato…" kata Junhong.
" Baiklah, akan kubelikan cherry tomato untukmu." Kata Daehyun.
Padahal Junhong meminta hal yang ia ingin Daehyun tak akan membelikannya. Tapi Daehyun ternyata menyanggupinya. Jadi dia harus mau menemani Daehyun makan malam.
" Sudah selesai." Kata Daehyun, lalu Junhong segera menarik tangannya.
" Kutunggu di meja makan ne… Aku tak perlu memaksamu seperti biasanya kan?." Kata Daehyun yang tak mendapat jawaban dari Junhong. Lalu dia keluar dari sana.
Malam harinya, Daehyun sudah menyiapkan makan malam di meja dan tak lupa cherry tomatoes yang baru ia beli dari supermarket. Daehyun duduk disana menunggu Junhong. Lama Junhong tidak segera muncul. Daehyun sedikit kecewa memang, mungkin tidak malam ini.
Saat Daehyun hendak makan, tiba-tiba Juhong menggeret kursi pelan dan duduk disana. Daehyun terkejut, tapi langsung tersenyum.
" Kukira kau tidak kesini." Kata Daehyun sambil tertawa kecil.
Junhong hanya diam dan menunduk.
" Makanlah sesukamu, kau harus makan yang banyak." Kata Daehyun.
" Kau memaksa lagi." Kata Junhong.
" Hahaha… kau lucu sekali." Timpal Daehyun senang.
Ditengah makan, Junhong menatap foto Daehyun bersama dengan seorang anak kecil yang terpajang di meja tak jauh dari situ. Daehyun menyadari arah tatapan Junhong. " Dia adik laki-lakiku, namanya Jimin." Kata Daehyun sambil tersenyum. Junhong melirik sejenak kearah Daehyun lalu memakan sesuap makanan dari piringnya, masih sambil memberikan tatapan waspada pada Daehyun.
" Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan saat dia baru saja pulang sekolah. 5 tahun yang lalu." Kata Daehyun.
Tangan Junhong terhenti dari kegiatannya. Junhong cukup tau perasaan Daehyun, karena Junhong juga pernah kehilangan keluarganya.
" Dia sangat lucu dan anak yang hiperaktif. Aku selalu menemaninya bermain di taman dulu." Kata Daehyun sambil tertawa kecil mengingat kenangannya.
" Dan aku selalu memperhatikan seorang anak yang duduk dibawah seluncuran tiap sore." Lanjut Daehyun.
Junhong terkejut, dia ingin tau siapa yang dimaksud oleh Daehyun.
" Aku suka rambutnya yang serasi dengan musim gugur. Aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya."
Junhong tidak berani melihat Daehyun, dia sangat tau siapa orang yang dimaksud oleh Daehyun. Tapi dia takut, karena dia tau pasti siapa anak itu.
" Aku menyukainya hingga hari ini, semakin aku melihatnya, semakin aku mencintainya." Kata Daehyun tenang sambil memandang lembut pada Junhong.
Junhong terus terdiam. Tidak ingin dan tidak ada yang ia katakan, dia tidak tau harus apa dan bagaimana. Tanpa sadar Daehyun tersenyum sedih. Dia tidak pernah menyangka jika harus melihat orang yang ia cintai harus seperti ini. Jujur dia lelah harus mengajari dan menyembuhkan Junhong dari awal. Tapi dia tetap teguh untuk bisa menyembuhkan Junhong. Dia tidak pernah bisa menghilangkan rasa cintanya pada Junhong.
Daehyun-pun juga mengalami shock saat mengetahui Junhong memiliki penyakit kejiwaan. Dia selalu bersedih, dan kesal melihat kelakuan Junhong yang selalu takut pada semua orang., tetapi Daehyun selalu menyembunyikan semua perasaan dan emosinya itu.
" Junhongie, apa kau tidak mau jalan-jalan keluar?." Tanya Daehyun.
Juhong menggeleng lagi. " Banyak orang, terlalu banyak. Aku takut!." Kata Junhong.
" Baiklah, apa kau tidak ingin sesuatu? Akan kubelikan untukmu." Kata Daehyun.
Junhong hanya menggeleng.
Mereka kembali terdiam. Daehyun ingin bicara banyak, tapi dia tidak ingin membuat Junhong tidak nyaman.
" Ma… af…" kata Junhong tiba-tiba.
Daehyun tercengang dan menghentikan makannya.
" Untuk apa?." Tanya Daehyun.
Junhong terlihat bingung, dia menyentuh pipinya menunjukkan letak luka yang pernah ia goreskan pada Daehyun waktu itu. Daehyun reflek menyentuh plester yang menutupi goresan itu, lalu dia tersenyum.
" Gwaenchana, kau harus khawatirkan lukamu sendiri dan cepat sembuh. Terimakasih kau sudah memperhatikan." Kata Daehyun lembut.
Junhong menunduk lagi. Setelah selesai makan dia kembali ke kamarnya dan tidur dibawah tempat tidur lagi.
" Aku tidak bisa merawatnya seperti binatang. Aku harus membuatnya normal kembali." Gumam Daehyun resah.
.
.
.
.
.
" Bisakah aku bertemu dengannya sebentar saja?." Kata Jongup, wajahnya terlihat sangat khawatir.
" Aku tidak tau, tapi aku takut dia kembali menjadi lebih parah ketika melihat orang lain. Padaku saja dia masih takut, dia kemarin mengamuk saat melihat temanku datang kesini, dia benar-benar ketakutan." Kata Daehyun.
" Bagaimana keadaannya? Aku ingin melihat adikku Daehyun-ssi…." Kata Jongup.
" Dia makan teratur, tapi masih sangat takut untuk bertemu dengan orang lain."
" Kumohon, aku ingin sekali bertemu dengannya." Kata Jongup.
Daehyun menghela nafas panjang, " Baiklah, ayo masuk." Kata Daehyun terpaksa.
Daehyun-pun mengantar Jongup menemui Junhong di kamarnya.
" Junhongie, hyungmu da-"
PRAAANGG!
Tiba-tiba Junhong melempar sebuah pigura foto kearah pintu yang baru dibuka setengah. Terlihat Junhong sedang duduk disamping tempat tidur dengan ketakutan dan gemetaran.
" Kaa! Pergii! Tidak mau ada orang lain! Aku ingin sendiri!." Kata Junhong histeris sambil mulai untuk melempar benda-benda lagi.
" Junhongie, ini aku, Jongup, hyungmu." Kata Jongup.
" Aku tidak peduli! Cepat pergi! Aku tidak percaya siapapun!." Kata Junhong sambil melempar benda-benda disekitarnya dan mencoba agar Jongup tidak mendekatinya.
" Junhongie… Tenanglah…" kata Daehyun mencoba membujuk.
" Kubilang pergi!." Teriak Junhong.
DUAAAKKK!
Junhong melempar vas bunga kearah Jongup dan membuat dahi Jongup berdarah.
" Jongup-ssi!." Teriak Daehyun terkejut. Dan saat itu Daehyun terlihat sangat kesal sekali pada Junhong. Dia segera menarik Jongup keluar dari kamar.
" Maaf…" Kata Jongup.
" Aniya… Tunggulah disini, aku akan mengurus Junhong." Kata Daehyun lalu kembali masuk ke kamar Junhong.
Junhong kembali melempari barang-barang kearah Daehyun, tetapi Daehyun tetap tidak peduli.
" Kau ingin apa?." Tanya Daehyun datar.
" Kaa!." Seru Junhong takut.
" Dia adalah kakakmu, kau tidak seharusnya melakukan hal ini!." Kata Daehyun marah.
" Aku tidak peduli!." Sergah Junhong dengan gemetar sambil terus menghindari Daehyun yang terus mendekat.
" Jika kau terus seperti ini, kau bisa menyakiti hyungmu, menyakiti dirimu sendirri, dan… menyakitiku…" kata Daehyun.
" Jangan dekati aku lagi!." Teriak Junhong, dia sudah tidak mau mendengar apapun lagi.
" Cukup Junhongie! Berubahlah!." Seru Daehyun kesal. Tiba-tiba terdengar suara Jongup yang mengetuk pintu dengan keras.
" Daehyunnie! Kumohon jangan lakukan hal yang terlalu kasar pada adikku…" Kata Jongup.
Daehyun tidak membalas perkataan Jongup. Dia tetap fokus pada Junhong. " Kau benar-benar beruntung memiliki kakak sepertinya." Gumam Daehyun.
" Kaa! Hiks… hiks.. jangan mendekat lagi!." Seru Junhong.
" Aku tidak tau apa maumu, tapi aku tidak peduli kau bilang apa, aku ingin kau menuruti kata-kataku!." Kata Daehyun.
" Shireoyoo!."
" Jika ka terus manja, kau tidak akan bisa sembuh!,"
" Shireo! Shireo!."
" Kalau begitu akan kupaksa!." Kata Daehyun tegas.
DOK! DOK! DOK! DOK!.
" Daehyunnie! Jangan kasar pada Junhong!." Teriak Jongup dari luar.
" Kali ini aku tidak akan berhenti hingga kau menurut." Kata Daehyun.
Junhong sudah terpojok, dia berusaha terus menjauhi Daehyun tapi tetap saja tidak bisa , nafasnya memburu, matanya terlihat sangat ketakutan dan marah. Tapi apapun yang terjadi Daehyun juga tidak akan pernah tega berbuat hal yang kasar pada Junhong. Dia sudah tidak tau lagi harus mengajari Junhong seperti apa, karena tidak ada perubahan sejak dia dibawa ke rumah Daehyun. Junhong hanya menurut sesaat saja, dan setelah itu kembali seperti semula.
Junhong meringkuk menutup kedua telinganya tak mau memandang Daehyun
" Apa yang kau inginkan dariku! Kaa! Hiks.. hiks.. Jangan sakiti aku…" kata Junhong kacau.
Junhong memejamkan matanya setelah melihat Daehyun sudah melayangkan tangannya hendak memukul, tapi tak dirasakannya rasa sakit apapun. Saat Junhong kembali memandang Daehyun, dia melihat Daehyun menghentikan tangannya dengan wajah melunak dan iba. Daehyun tak akan pernah sanggup menyakiti Junhong sedikitpun.
Tiba-tiba Daehyun memeluk tubuh ringkih Junhong dengan erat. Sangat terasa tubuh Junhong gemetar hebat. Junhong terdiam tapi tetap terisak. Dia takut tapi dia tidak bisa melawan lagi. Selanjutnya Junhong terkejut, jantungnya seakan berhenti, matanya membulat dan nafasnya tercekat. Dia sudah terkunci dan tenaganya hilang meluap entah kenapa.
Daehyun menciumnya!.
.:: To Be Continued ::.
