Hai, semuanya!

Saya kembali dengan chapter 2 dari fic Di Balik Penantian. Chapter kali ini merupakan chapter terakhir dari fic ini.

Fic ini adalah sekuel dari fic Di balik Kebetulan. Kali ini akan diceritakan mengenai kelanjutan hubungan dari Akaba dan Mamori. Bagi yang belum membaca fic sebelumnya silakan dibaca terlebih dahulu (Di balik Kebetulan dan Di balik Gitar), tapi mau langsung baca fic ini juga tidak masalah.

Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca serta mereview fic saya. Semoga kalian menyukainya dan saya ucapkan selamat membaca.

Warning! Mamori POV, OOC (bila ada), dan jika ada kekurangan lainnya.


Eyeshield 21

Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata

Di Balik Penantian

Neary Lan

Kami segera menuju wahana yang ingin kami naiki. Aku dan dia hanya tersenyum ketika menaiki wahana Cangkir Putar. Walaupun wahana ini membuat pusing tetapi kami sangat menikmatinya. Selanjutnya kami menuju ke wahana yang lainnya. Ada kalanya juga kami berselisih pendapat untuk menentukan wahana yang ingin dikunjungi. Kali ini kami mengunjungi Rumah Hantu atas usulannya. Aku sempat menolak, namun ia justru meledekku sehingga aku menerima tantangannya. Kuakui Rumah Hantu ini sangat menyeramkan meskipun aku tahu semua hantu-hantu yang ada di sini palsu. Meskipun begitu tetap saja aku merasa takut dan terus memegang erat lengannya, takut ditinggalkan sendirian.

"Fuh, mau sampai kapan kau mencengkeram lenganku, Anezaki?" tegurnya.

"Sa-sampai keluar dari sini," kataku gugup.

"Fuh, kau begitu takut, ya? Semua hantu-hantu di sini 'kan palsu," katanya. "Padahal tiap hari kau berani menghadapi kaptenmu yang menyeramkan itu."

"Itu 'kan beda. Walaupun wajahnya menyeramkan Hiruma itu tetap manusia," kataku. Kalau dipikir kembali ucapannya memang tidak salah. Hiruma jauh lebih menyeramkan dari semua hantu di sini.

Dia tidak bicara lagi. Kami terus berjalan untuk mencari jalan keluar. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menepuk pundakku hingga membuatku berteriak kencang dan langsung memeluk erat lengannya. Sepertinya dia terkejut dengan tindakanku.

"Ada apa, Anezaki?" tanyanya kaget.

"Ta-tadi ada yang memegang pundakku. Aku takut," kataku ketakutan.

"Tenanglah, hantunya sudah pergi," katanya sambil mengelus pelan pundakku. Dia berusaha untuk menenangkanku.

"Aku ingin keluar dari sini, Akaba," pintaku.

"Baiklah. Kita akan segera keluar."

Nada bicara lembut itu kembali terdengar di telingaku. Dia mengelus rambutku sesaat kemudian menuntunku untuk segera ke jalan keluar. Akhirnya kami berhasil menemukan jalan keluar hingga membuatku bernafas lega. Dia melirikku sambil tersenyum jahil.

"Fuh, sudah lega?"

"Tentu saja," kataku dengan wajah memerah.

"Apa memeluk lenganku begitu menyenangkan?" godanya.

Aku langsung tersadar ketika tanganku masih memeluk lengannya. Dengan cepat kulepaskan tanganku dan menoleh ke arah lain. Tindakanku di Rumah Hantu tadi benar-benar memalukan. Aku jadi kesal pada diriku sendiri.

"A-aku tidak bermaksud. Jangan meledekku. Lagipula Akaba juga yang mengajakku ke Rumah Hantu," kataku kesal.

"Baiklah, aku minta maaf," katanya, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Lama-lama pun aku tidak keberatan."

Perkataannya membuatku terkejut. Aku kembali mengalihkan wajahku ke arah lain. Tidak sanggup menatap wajahnya yang menyeringai jahil.

"Dia benar-benar jahil. Tetapi aku tetap menyukai sisi jahilnya itu. Selain itu sejak tadi aku tidak bisa mengatur detak jantungku. Bersamanya memang menyenangkan, tetapi sekaligus menyesakkan."

Setelah puas bermain kami pun beristirahat di salah satu kafe. Dia memesan cappucino hangat sementara aku memesan parfait serta dua potong Blackforest Cake. Kami menikmati makanan kami sambil sesekali mengobrol. Usai makan kami memutuskan untuk berkeliling. Semakin lama pengunjungnya semakin ramai. Aku tidak berharap akan bertemu dengan kenalanku apalagi anggota klubku. Setahuku beberapa dari mereka berencana untuk bermain ke rumah Kurita. Kami berhenti sejenak untuk membeli permen kapas. Dia sempat menolaknya, namun aku tetap memaksa untuk membelikannya dan ia terlihat terpaksa menerimanya.

"Ramai sekali pengunjungnya," kataku sebelum menggigit permen kapasku.

"Wajar saja karena ini hari minggu," sahutnya. "Kau suka kuajak kemari, Anezaki?"

"Tentu saja," kataku setelah menelan permen kapasku. "Selama ini kita hanya bertemu dan mengobrol di taman, tetapi kali ini kita bersenang-senang di taman hiburan. Sangat menyenangkan. Terima kasih sudah mengajakku kemari, Akaba," kataku tersenyum.

"Syukurlah kalau kau senang," katanya lega.

"Tetapi kenapa kamu tetap membawa gitarmu?" tanyaku penasaran sambil menunjuk tas gitarnya.

"Fuh, ini," katanya sambil mengangkat tas gitarnya, "tentu saja aku harus membawanya. Aku memerlukan gitar ini," lanjutnya.

"Maksudmu kamu ingin bermain gitar dan bernyanyi?" tebakku.

Dia tidak memberikan jawaban. Aku kesal dia mengabaikan tebakanku. Aku tahu dia selalu membawa gitarnya kemana pun dia pergi, aku juga tahu kalau dia sangat terobsesi dengan musik. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia harus membawa gitar itu di hari spesial ini atau setidaknya mengabaikan gitar itu hanya untuk hari ini. Jangan-jangan dia memang ingin bermain gitar di taman bermain ini. Kalau dia melakukannya pasti akan menjadi pusat perhatian. Bahkan sejak tadi kami sudah menjadi pusat perhatian para pengunjung taman bermain. Aku tahu kalau banyak lelaki yang melirikku, tetapi aku kesal ketika para gadis meliriknya. Aku tidak suka tatapan mereka padanya. Mungkin bisa dikatakan kalau aku cemburu.

"Belum menjadi pacarnya saja aku sudah merasa cemburu, bagaimana jika aku sudah menjadi pacarnya? Pesona Akaba benar-benar membuat gadis-gadis itu seperti menatap lapar padanya."

"Manis sekali," katanya tiba-tiba hingga membuyarkan lamunanku. "Permen kapas ini manis sekali, Anezaki."

Aku menoleh padanya yang sedang memakan permen kapasnya. Tawaku pun lepas ketika melihat wajahnya yang terpaksa memakan permen manis itu. Semua makanan manis tentu saja rasanya manis. Aku heran kenapa setiap lelaki bertipe sepertinya tidak suka makanan manis termasuk Hiruma. Aku bahkan sempat berpikir mungkin bagi mereka makanan manis tidak sesuai dengan imej mereka. Tetapi tidak semua laki-laki tidak menyukai makanan manis. Contohnya saja Kurita dan Komusubi.

"Fuh, jangan tertawa. Aku sudah menolaknya, tetapi kau tetap memaksaku memakannya," keluhnya sambil menatap sebal permen kapas tersebut.

"Jangan bicara begitu, Akaba. Makanan manis itu perlu dinikmati, lagipula tidak setiap hari kamu memakannya, 'kan?" kataku. Aku kembali menggigit permen kapasku. "Hm, enak."

Ketika aku sedang memakan permen kapasku dia justru terdiam menatapku. Dengan cepat aku menelan permenku karena malu ditatapnya seperti itu.

"Ke-kenapa menatapku seperti itu?" tanyaku malu.

"Fuh, tidak. Aku rasa kau benar. Aku akan menikmatinya dengan caraku," katanya misterius.

Aku hanya kebingungan dengan maksud perkataannya. Permen kapasnya masih berada di tangannya tanpa disentuhnya lagi. Kali ini kami memang tidak berniat untuk bermain wahana permainan yang lain. Ketika mengelilingi arena taman bermain ini kami melihat ada sebuah pertunjukan musik. Dia yang kutahu sangat tertarik pada musik langsung menarikku ke sana. Tidak kusangka penontonnya sangat ramai hingga aku dan dia harus berdesak-desakan untuk menonton. Untunglah dia terus menggenggam tanganku hingga aku tidak terpisah darinya.

Band yang tengah bermain di atas panggung merupakan salah satu band terkenal di kota ini. Wajar saja jika penontonnya sangat ramai. Tetapi aku tidak tahu apakah band ini merupakan band favoritnya atau bukan. Musik yang tengah dimainkan adalah musik rock hingga membuat atmosfer di sini terasa berbeda. Para penonton terlihat bersemangat bernyanyi mengikuti lirik lagu yang tengah dibawakan vokalis band tersebut. Sebenarnya aku tidak suka musik yang terlalu keras, tetapi apa boleh buat jika dia menarikku kemari.

Aku meliriknya yang terlihat tenang menonton pertunjukan musik tersebut. Dia tidak seperti penonton lainnya yang sangat antusias terutama para gadis yang terus menerus menjerit memanggil nama para personil band tersebut. Aku merapatkan diriku padanya untuk berbicara karena dengan suara musik yang kencang ini akan sulit untuk mendengarkan suara.

"Di sini sangat berisik dan juga ramai," kataku.

"Fuh, maaf membawamu kemari," balasnya.

"Ah, tidak apa. Kamu 'kan suka musik. Apa mereka band favoritmu?" tanyaku.

"Tidak juga, tetapi musik mereka enak didengar."

Pembicaraan pun terhenti dan kami hanya menikmati pertunjukan musik tersebut. Lagu yang dimainkan band tersebut telah selesai. Para penonton meminta mereka untuk bernyanyi lagi, tetapi permintaan mereka tidak terkabul. Dengan wajah tersenyum sambil meminta maaf para personil band tersebut pergi meninggalkan panggung. Jeritan kecewa para gadis mulai terdengar. Mereka seperti tidak rela ini berakhir. Tetapi kurasa personil band tersebut sudah lelah hanya saja para penonton di sini masih terlihat belum puas. Tak lama kemudian si pembawa acara muncul dengan wajah cerianya.

"Nah, itulah penampilan keren dari Exon Band. Ah, aku tahu kalau kalian masih menginginkan mereka untuk bernyanyi lagi, tetapi tenang saja. Kami masih punya penampilan lainnya yang lebih seru lagi," kata pembawa acara dengan bersemangat. Kata-katanya berhasil membuat atmosfer para penonton semakin meriah. "Baiklah, penampilan selanjutnya… Ah, ada apa Tuan berambut merah? Kenapa Anda mengangkat tangan?" tanyanya.

Aku kaget mendengar ucapan si pembawa acara dan menoleh padanya. Semua orang juga menoleh ke arah kami dan melihat dia yang sedang mengangkat tangannya dengan santai. Aku tidak mengerti kenapa dia mengangkat tangannya. Jangan bilang jika ia ingin tampil di panggung.

"Akaba, apa yang kamu…"

"Bolehkah aku tampil di atas panggung?" tanyanya setelah menurunkan tangannya.

"Sudah kuduga."

"Wah, Anda mengajukan suatu permintaan. Ini hebat sekali, tetapi aku harus mendiskusikannya terlebih dahulu," kata si pembawa acara yang kemudian memanggil seseorang.

"Aku menunggu," katanya tersenyum.

Semua orang yang menatap kami mulai berbisik. Jujur saja aku merasa risih ditatap oleh mereka seperti itu. Tetapi aku lebih risih lagi ketika para gadis mulai menatapnya dengan wajah merona. Dia menunggu keputusan dari si pembawa acara yang kini tengah berdiskusi dengan seseorang di atas panggung. Aku menarik lengan bajunya dan ia menoleh padaku.

"Ada apa?"

"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa maksud ucapanmu itu? Kenapa kamu ingin tampil di panggung? Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyaku bertubi-tubi. Terkadang aku lupa menyadari bahwa pikirannya itu sulit untuk ditebak.

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku kembali melihat ke atas panggung dan tampaknya si pembawa acara telah membuat suatu keputusan. Wajahnya terlihat sangat ceria.

"Baiklah, Anda boleh tampil. Tunggu apa lagi, naiklah ke panggung dan berikan kami suatu penampilan yang hebat. Kalian pasti juga ingin mendengarnya, 'kan?" seru si pembawa acara dengan gestur menyuruhnya ke panggung.

Para penonton mulai bersorak girang walaupun ada sebagian juga yang terlihat meremehkannya. Mereka terlalu cepat meremehkannya dan tidak mengetahui kemampuan dia yang sebenarnya.

"Fuh, aku sudah menantikannya. Pegang ini, Anezaki," katanya sambil menyerahkan permen kapasnya padaku. "Benda manis ini lebih cocok untukmu."

"Kamu benar-benar ingin tampil?" tanyaku memastikan.

"Fuh, aku harus melakukannya. Kau pasti ingin tahu 'kan alasanku mengajakmu kemari?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya padaku. "Jadi diamlah di sini dan lihatlah penampilanku, Anezaki," bisiknya di telingaku.

Reflek aku menjauhkan wajahku darinya dengan wajah memerah. Suara bisikannya tadi terdengar seperti memerintah, tetapi juga keren dan membuat jantungku berdetak kencang. Ia tersenyum padaku sebelum naik ke panggung. Aku hanya memperhatikan punggungnya yang mulai menjauh dariku.

"Nah, ini dia salah satu penonton kita yang berani mengajukan diri untuk tampil di acara ini," kata si pembawa acara ketika ia sudah tiba di atas panggung. "Kalau boleh tahu siapa namamu?"

Ia membetulkan letak kacamatanya sesaat sebelum berkata, "Hayato Akaba."

Wajah si pembawa acara terlihat kaget bahkan beberapa penonton juga kaget mendengar namanya. Aku tidak mengerti kenapa mereka sekaget itu. Sepertinya aku melupakan sesuatu.

"Namamu Hayato Akaba? Jangan bilang kalau Anda adalah atlet American football SMU dari tim Bando Spiders, Hayato Akaba," kata si pembawa acara memastikan. "Apa Anda benar-benar dia?"

"Fuh, kau benar. Orang itu adalah aku," katanya santai. Kemudian ia mengeluarkan gitarnya dan mulai memetik senarnya hingga membuat penonton terkesima.

"Oh, Anda benar-benar Hayato Akaba si Ace Bando Spiders. Kita benar-benar kedatangan salah satu atlet American football yang terkenal. Mari kita sambut, Hayato Akaba."

Para penonton mulai bersorak meskipun beberapa dari mereka kembali berbisik. Mereka seolah tidak percaya melihat kemunculan dirinya apalagi ketika mengetahui bahwa ia kemari bersamaku. Aku hanya menundukkan wajahku dan sesekali melihat dirinya. Ternyata hal ini yang terlupakan olehku. Dia sangat terkenal sebagai atlet American football sehingga tidak heran jika banyak yang mengenalnya apalagi dia juga pernah menjadi pemain MVP Tokyo. Wajahnya yang tampan serta penampilannya yang keren itu membuat para gadis menjerit kegirangan sambil memanggil-manggil namanya.

"Ah, aku tidak menyangka seorang atlet sepertimu ingin tampil di panggung ini. Kira-kira lagu apa yang ingin Anda nyanyikan?"

"Fuh, aku ingin menyanyikan suatu lagu khusus untuk seseorang yang sangat spesial bagiku. Dia ada di sana sedang menontonku, gadis berambut cokelat kemerahan berbaju ungu itu," katanya menunjuk ke arahku.

Para penonton langsung menoleh ke arahku. Aku tidak berani menatap mereka hingga memilih untuk menundukkan kepalaku. Sekali lagi bisik-bisik mengenaiku dan dia kembali terdengar. Aku berusaha untuk tidak terlalu menanggapi perkataan mereka. Rasanya benar-benar malu.

"Apa maksudmu melakukan ini, Akaba? Semuanya jadi melihatku, aku malu. Tetapi tadi dia bilang akan mempersembahkan lagu spesial untukku. Apa maksudnya? Jangan-jangan…"

"Ah, gadis yang beruntung sekali. Kalau boleh tahu siapa dia? Apa dia pacarmu?"

Aku menoleh ke panggung dan bersemu merah ketika mendengar pertanyaan si pembawa acara. Aku tahu kami tidak pacaran, tetapi aku takut mendengar jawabannya. Sebelum menjawab dia justru tersenyum dan menatap lurus ke arahku.

"Fuh, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Yang jelas dia orang yang spesial bagiku. Anezaki," panggilnya, "dengarkanlah laguku," lanjutnya.

Jantungku langsung berdetak kencang mendengar ucapannya. Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku. Para penonton yang berada di sekelilingku mulai bersiul-siul menggodaku dan banyak gadis yang menatapku dengan pandangan iri.

"Nah, tanpa membuang-buang waktu lagi langsung saja kita lihat penampilan Hayato Akaba. Mainkan musikmu, kawan," seru si pembawa acara.

Penampilannya sudah dimulai. Semua penonton termasuk aku hanya fokus padanya. Musik telah dimainkan. Sepertinya lagu yang akan dimainkan tidak sekeras band tadi, musiknya lebih santai dan sedikit lembut. Di atas panggung dia terlihat bersemangat memetik senar gitarnya. Lirik pertama mulai dinyanyikannya. Semua penonton terkesima mendengar suaranya hingga membuat para gadis menjerit histeris memanggil namanya. Apalagi penampilannya sangat keren.

Lagu yang dinyanyikan cukup familiar di telinga penonton sehingga mereka semua ikut bernyanyi bersamanya, meskipun sebenarnya lagu itu berasal dari penyanyi luar negeri. Aku mencoba menghayati lagu yang dinyanyikannya dan bertanya-tanya apakah dia sungguh merasakan perasaan seperti yang ada di lagu itu. Harapanku mulai tinggi. Wajahku semakin memerah ketika ia menatapku dengan serius dan penuh kesungguhan. Seolah-olah hanya ada aku seorang diri di lapangan itu yang tengah menontonnya.

Musik telah berhenti. Suara tepuk tangan langsung bergema usai penampilannya. Dia melayangkan senyumannya kepada semua penonton termasuk aku. Aku membalas senyumannya. Tidak kusangka selain di lapangan American football dia juga bisa terlihat sekeren itu di atas panggung. Penonton mulai bersorak menyebut namanya dan memintanya untuk bernyanyi kembali. Jeritan para gadis semakin memekakkan telinga. Suasana di sini mulai riuh. Dia hanya bisa tersenyum menanggapi permintaan mereka. Tak lama kemudian si pembawa acara segera datang menghampirinya.

"Wow, penampilan yang keren dari seorang Hayato Akaba. Beri dia tepuk tangan yang paling keras." Semua penonton kembali bertepuk tangan. "Tidak kusangka seorang atlet sepertimu bisa bernyanyi sekeren itu. Jangan-jangan selain jadi atlet Anda juga ingin menjadi penyanyi, ya?"

"Fuh, aku belum memikirkannya. Tetapi terima kasih sudah mengizinkanku untuk tampil di acara ini," katanya tersenyum.

"Santai saja, kawan. Kami justru merasa semakin terhibur dengan penampilanmu. Bukan begitu semuanya?" tanya si pembawa acara yang langsung disahuti penonton. "Apa kalian ingin lagi?" Sorakan penonton semakin keras. "Sepertinya mereka menginginkanmu untuk bernyanyi satu lagu lagi."

"Aku ingin menuruti permintaan kalian. Tetapi maaf, aku tidak bisa. Ada urusan yang harus kuselesaikan sekarang," katanya, namun mendapat protes dari para penonton.

"Apa ini ada hubungannya dengan gadis spesial berbaju ungu yang ada di sana?"

"Ya. Ada urusan yang harus kuselesaikan dengannya. Aku tak ingin membuatnya menunggu hingga mengubah ritmenya," katanya lembut sambil menatapku. "Ada hal yang harus kukatakan padamu, Anezaki."

"Wow, kami ingin tahu apa yang ingin Anda katakan, bukan begitu semuanya?" Sorakan penonton terdengar antusias. "Nah, selesaikanlah urusanmu dengan gadis itu."

Aku melihatnya turun dari panggung dan berjalan menghampiriku. Selama beberapa saat kami menjadi pusat perhatian. Semua bisikan para penonton mulai memenuhi telingaku. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakannya padaku. Tetapi aku mendengar mereka menyebut-nyebut tentang pernyataan cinta. Jika hal itu benar aku tidak tahu harus menghadapinya seperti apa. Saat ini saja aku sudah salah tingkah berhadapan dengannya.

"Ah, penampilanmu tadi bagus sekali, Akaba," kataku bermaksud basa basi.

"Fuh, terima kasih. Itu hanya pertunjukan pembuka sebelum kita lanjut ke pertunjukan inti. Kali ini kita akan masuk ke pertunjukan inti, Anezaki," katanya dengan nada misterius. "Aku minta kalian semua di sini menjadi saksi atas pertunjukan intiku."

"Pertunjukan inti? Apa maksudnya?"

"A-apa maksudmu, Aka—"

"Sst, tenang dulu, Anezaki," katanya sambil meletakkan jarinya di bibirku. "Aku ingin kau mendengar pernyataanku."

"Pernyataan? Jangan-jangan…"

Dia menarik jarinya dari bibirku. Kemudian tangannya mengelus pelan pipiku dan daguku diangkatnya untuk menatap dirinya. Ia melepaskan kacamatanya sehingga aku dapat melihat bola mata merahnya yang seakan memaksaku untuk menatapnya. Penonton yang berada di sekitar kami mulai menahan nafas atas apa yang dilakukannya. Aku sendiri sudah tidak mampu mengendalikan detak jantungku serta menyembunyikan rona merah wajahku.

"Aku ingin mengatakan bahwa aku," ia memberi jeda sesaat pada ucapannya, "kau tahu ini lebih sulit daripada yang kukira," candanya.

Dia terlihat mengalihkan pembicaraan. Aku rasa dia sama gugupnya denganku yang penasaran dengan pernyataan yang ingin diutarakannya. Kali ini ia menghela nafas dan mencoba untuk bersikap serius.

"Aku tidak akan membuatmu menunggu lagi, Anezaki," katanya dengan tangan besarnya yang kembali membelai pipiku. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyukaimu, Anezaki."

Pernyataan yang selama ini ingin kudengar itu akhirnya terucap dari bibirnya. Tatapan lembut dari mata merah yang terkadang ditakuti itu menunjukkan kesungguhannya. Tangan kekar seorang atlet yang biasa digunakannya untuk menyerang musuhnya selama pertandingan ataupun terkadang digunakannya untuk memetik gitar itu masih membelai pipiku dengan lembutnya sebelum akhirnya berpindah untuk menggenggam kedua tanganku dan mengecupnya lembut. Semua tindakannya membuat jantungku hampir melompat keluar dan wajahku seakan terbakar. Aku hampir saja melupakan semua orang yang berada di sekeliling kami yang menahan nafas ataupun menjerit girang melihat tontonan gratis dari kami. Mereka pun juga bersorak agar aku menerima pernyataannya.

"Kau keberatan dengan perasaan yang kumiliki ini, Anezaki?" tanyanya dengan sorot mata memohon. "Katakan, aku ingin mendengarnya darimu," katanya dengan menggenggam erat kedua tanganku.

Aku sendiri masih kebingungan dan tidak percaya setelah menerima pernyataan cintanya. Ini memang bukan pertama kalinya ada yang menyatakan cinta padaku, namun kali ini berbeda. Sungguh berbeda karena aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tidak kusangka perasaan bertepuk sebelah tangan ini akhirnya terbalas, tidak sia-sia aku menanti tibanya hari ini. Padahal aku sempat pesimis bahwa dia mungkin tidak menyukaiku selain sebagai teman.

Kurasa ini bukan waktunya bagiku untuk memikirkan hal lain selain sosok pemuda yang kini berdiri di hadapanku. Pemuda yang sedang menanti jawabanku atas pernyataan cintanya. Seperti katanya tadi aku pun juga tidak ingin membuatnya menunggu. Mengabaikan rasa malu karena ditonton oleh orang sebanyak ini aku menatap wajahnya.

"A-aku," kataku gugup. Tidak kusangka begitu sulit untuk menjawabnya. "A-aku sama sekali ti-tidak keberatan dengan perasaan yang kamu miliki, Akaba. Ka-karena aku pun juga memiliki pe-perasaan yang sama denganmu," kataku dengan wajah yang merah padam. Sungguh aku malu sekali dengan cara bicaraku yang gugup ini, seperti bukan diriku saja.

"Jadi?" tanyanya sambil mendekatkan dirinya padaku. "Bisa katakan lebih jelas?"

"Bu-bukannya sudah kukatakan dengan jelas? Aku juga punya perasaan yang sama denganmu."

"Lebih jelas seperti yang kukatakan tadi. Selaraskan harmonimu denganku, Anezaki."

Aku terdiam dengan raut wajah kesal. Entah kenapa aku merasa dia ingin mengerjaiku hingga membuatku terlihat seperti akulah yang lebih dulu menyatakan cinta padanya, bukan dirinya. Tidak kusangka dia bisa selicik itu dalam memutarbalikkan fakta. Menghela nafas menyerah aku pun mengatakan apa yang ingin didengarnya, kurasa itu setimpal dan bisa membuatnya senang. Untuk sementara aku harus mengabaikan sifat liciknya itu yang baru kuketahui.

"Aku juga menyukaimu, Akaba. Aku sangat menyukaimu," kataku tersenyum. Kali ini aku bisa mengatakannya dengan lancar dan jelas hingga membuat hatiku terasa ringan. Dia juga tersenyum bahkan samar-samar aku dapat melihat rona merah tipis di wajahnya yang selalu tenang itu.

"Fuh, aku senang mendengarnya. Boleh aku memelukmu?" tanyanya sambil merentangkan kedua tangannya.

Aku kembali tersenyum dan tanpa ragu-ragu segera menghambur ke pelukannya dan berkata, "Tentu saja."

Semua orang yang berada disekeliling kami mulai bertepuk tangan riuh sambil bersiul bahkan juga ada yang mengucapkan selamat kepada kami. Kami hanya bisa tersenyum melihat jumlah orang yang semakin ramai mengelilingi kami dan kami hanya bisa mengucapkan terima kasih. Aku sama sekali tidak menyangka kalau kami benar-benar menjadi pusat perhatian. Si pembawa acara juga mengucapkan selamat kepada kami berdua dengan suara cerianya.

"Wow, selamat untuk kalian berdua. Beri tepuk tangan yang keras untuk pasangan yang berbahagia ini. Semoga hubungan kalian berjalan lancar!"

Kami mengucapkan terima kasih atas ucapan si pembawa acara. Kemudian dia kembali menarikku ke dalam pelukan hangatnya. Aku dapat mencium aroma daun mint segar dari tubuhnya hingga aku tak ingin melepaskan pelukannya. Kurasakan tangannya membelai rambutku dengan sayang bahkan mengecupnya perlahan. Aku pun semakin mengeratkan pelukanku padanya seolah masih ingin memastikan bahwa semua ini adalah nyata. Mulai saat ini aku dan dia telah resmi menjadi sepasang kekasih.

"Aku benar-benar menyukaimu, Akaba. Kuharap ini bukanlah mimpi yang akan segera berakhir jika aku membuka mataku."

"Tidak, Anezaki. Ini bukan mimpi, bukalah matamu jika ingin memastikannya," katanya yang seolah-seolah bisa membaca pikiranku. Ia menyeringai jahil ketika aku menatapnya.

"Kamu membaca pikiranku, ya?"

"Fuh, entahlah. Mungkin itu bakat terpendamku," katanya asal.

"Kalau begitu aku harus berhati-hati dengan bakat terpendammu itu, Akaba," kataku tertawa geli.

"Hayato, mulai saat ini panggil aku Hayato, Mamori," pintanya.

Aku terdiam sesaat, kemudian tersenyum. "Baiklah, Hayato," kataku dengan wajah merona. Ini pertama kalinya aku memanggil nama kecilnya.

Tak lama pertunjukan musik yang sempat tertunda itu kembali dilanjutkan dengan penampilan band yang menyanyikan lagu khusus untuk kami. Suara riuh penonton kembali terdengar seiring lagu yang dinyanyikan sang vokalis. Kami menikmati pertunjukan band tersebut. Tiba-tiba dia berbisik ke telingaku dan membuatku menoleh ke arah sekumpulan maskot-maskot taman bermain yang kaget melihat kami dan buru-baru kabur dari tempat pertunjukan musik. Aku hanya heran melihat tingkah maskot-maskot lucu itu.

Usai menonton pertunjukan musik kami kembali mengelilingi taman bermain dan sesekali mencoba wahana permainan yang lain hingga tidak terasa hari sudah semakin sore. Namun, kali ini kami benar-benar menjadi pusat perhatian bahkan lebih parah dari sebelumnya. Ini semua karena pernyataan cinta yang dilakukannya sehingga membuat semua pengunjung menatap kami sambil berbisik, tersenyum ataupun sekedar mengucapkan selamat. Aku hanya bisa tertawa hambar sementara dia terlihat cuek. Aku terkejut ketika dia mengajakku untuk membeli permen kapas. Sejak tadi aku tidak sadar kalau permen kapas kami terjatuh ketika dia memegang kedua tanganku. Usai membeli permen kapas aku segera menariknya menuju wahana bianglala.

"Maaf, semua tempat sudah penuh. Saya mohon Anda untuk menunggu," kata penjaga wahana tersebut.

Dengan berat hati kami pergi meninggalkan wahana tersebut. Padahal aku ingin sekali naik bianglala berdua dengannya. Apalagi kudengar akan ada kembang api tepat jam enam sore. Sepertinya ia menyadari kekecewaanku dengan menepuk pelan kepalaku dan mengusapnya untuk menghiburku.

"Fuh, sudahlah. Naik bianglala bukan suatu keharusan jika berkunjung ke taman bermain, 'kan?"

"Tetapi aku ingin naik, Hayato."

"Jangan bilang kalau kau ingin berduaan denganku, Mamori," godanya.

"Ti-tidak, bukan begitu," kataku mengelak. "Katanya akan ada kembang api, jadi aku ingin lihat dari atas sana. Bukankah pemandangan akan terlihat lebih indah kalau dilihat dari tempat yang tinggi?" Kulihat ia hanya mengangguk. "Pasti banyak yang berpikiran seperti itu. Huh, seharusnya kita lebih cepat kemari."

"Tiga menit lagi jam enam," katanya sambil melihat jam tangannya. "Sebentar lagi kembang apinya akan dinyalakan."

"Benar-benar tidak ada kesempatan," keluhku.

"Buka mulutmu, Mamori," ujarnya. Aku menatapnya dengan wajah kebingungan. "Sudahlah, buka saja mulutmu."

Dia menyodorkan permen kapasnya padaku dan memintaku untuk memakannya. Aku menggigitnya sedikit. Rasa permen kapas ini benar-benar manis, rasa manis yang tidak begitu disukainya. Aku tidak mengerti kenapa dia membeli permen itu tanpa menyentuhnya. Justru aku yang diminta memakan permennya.

"Kenapa aku harus memakan permenmu? Kamu 'kan bisa—" kata-kataku terpotong ketika jarinya diletakkan di bibirku.

"Sst, satu menit lagi. Lebih baik kita mulai hitung mundur dari sekarang."

Aku mengikutinya untuk menghitung mundur. Setelah hitungan satu kembang api mulai bermunculan di langit. Warna-warnanya yang indah mulai menghiasi langit musim gugur. Aku tercengang melihat keindahan kembang api tersebut yang telah melupakan kekesalanku karena tidak bisa menikmatinya dari atas bianglala.

"Tidak jelek juga 'kan kalau menikmatinya dari sini," katanya tersenyum.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Tidak hanya kami saja, tetapi seluruh pengunjung taman bermain kini menghentikan kegiatannya sesaat hanya untuk menikmati keindahan kembang api.

"Kau ingin tahu bagaimana caraku memakan permen manis ini, Mamori?" bisiknya di telingaku. Aku kembali mengangguk. Dia kembali menyodorkan permen kapasnya padaku. "Gigitlah."

Dengan wajah cemberut aku kembali memakan permen kapasnya. Entah kenapa dia suka sekali menjahiliku. Lihat saja, suatu saat nanti akan kubalas. Setelah permen itu habis kumakan ia menyentuh daguku agar menatapnya. Kacamatanya ia lepaskan, kemudian ia menggigit sedikit permen kapasnya. Tiba-tiba wajahnya mulai mendekati wajahku. Tepat saat kembang api kembali berbunyi bibirnya telah mengecup bibirku.

Aku terkejut dia tiba-tiba menciumku. Ini adalah ciuman pertamaku dan aku senang dia menjadi orang pertama yang melakukannya. Rasa ciuman ini benar-benar manis karena permen kapas yang kami makan tadi. Lidahnya membelai bibir bawahku seolah meminta izin agar aku membuka bibirku dan membiarkannya mengeksplor isi dalam mulutku. Permen kapas di dalam mulutnya berpindah ke mulutku dan kami berebut untuk menikmatinya hingga akhirnya lidah kami saling bergulat untuk merebut dominasi. Tentu saja dia yang mendominasiku hingga membuatku harus mencengkeram erat kemejanya sementara ia memeluk pinggangku agar aku tidak merosot ke bawah akibat ciumannya yang dalam. Justru permen kapas kami yang kembali jatuh.

Dia terus menjelajahi isi mulutku hingga membuatku tak mampu mengimbanginya. Permainan lidahnya membuat tubuhku seakan meleleh. Dalamnya ciuman yang kami lakukan membuatku melupakan bahwa saat ini kami tengah berciuman di tempat umum. Namun, semuanya seolah terabaikan ketika aku telah jatuh dalam permainannya. Tidak kusangka dia bisa melakukan ciuman seperti ini. Terbatasnya oksigen di dalam paru-paruku membuatnya sadar untuk mengakhiri ciuman ini. Benang-benang saliva menjadi jembatan penghubung antara bibirku dan bibirnya. Nafas kami menderu dengan wajah yang sama-sama memerah. Namun, kulihat ia menyeringai sambil mengusap saliva di bibirnya dan di bibirku.

"Inilah caraku menikmati permen kapas, bagaimana tanggapanmu?"

Aku menarik nafas perlahan sebelum menjawab pertanyaannya. "Apa tidak ada cara yang lain? Lihat, semua orang melihat kita," kataku malu ketika mendapati beberapa orang yang menatap kami.

"Tetapi kau menikmatinya, 'kan? Apa itu ciuman pertamamu? Kalau iya aku beruntung sekali menjadi orang pertama yang mendapatkannya."

Aku hanya bisa terdiam dengan wajah memerah. Tanganku mulai memukul-mukul tubuh tegapnya, jujur aku menikmatinya walaupun juga malu. Dia benar-benar tahu cara memberikan kejutan padaku. Aku menenggelamkan wajahku ke dadanya untuk menyembunyikan rasa maluku. Dia memeluk pinggangku sambil mengusap kepalaku.

"Fuh, apa kau suka dengan pertemuan khusus kali ini?"

"Tentu saja. Seharian ini kamu hampir membuat jantungku copot, Hayato," kataku yang masih menenggelamkan wajahku di dadanya.

"Dan kau membuatku tidak tidur beberapa hari karena memikirkan kejelasan perasaanku padamu, Mamori," balasnya. "Termasuk rencana pertemuan khusus ini. Ritmeku benar-benar kacau."

Kami kembali terdiam menikmati saat-saat menenangkan seperti ini. Suara kembang api perlahan-lahan mulai lenyap. Malam telah menjelang dan pengunjung semakin ramai. Lampu-lampu warna-warni mulai menghiasi taman bermain. Mataku tidak sengaja menangkap sekumpulan maskot-maskot yang bertingkah aneh di pertunjukkan musik tadi. Menurutku perilaku maskot-maskot itu benar-benar mencurigakan.

"Aku benar-benar menyukaimu, Mamori," katanya tiba-tiba hingga membuatku menatapnya.

"Aku pun juga menyukaimu, Hayato. Sangat menyukaimu," kataku tersenyum.

"Terima kasih. Kalau begitu aku boleh menciummu lagi?"

"Eh?"

Tanpa bisa kucegah bibirnya sudah kembali menyapa bibirku. Memberikan kecupan lembut yang diam-diam sangat kusukai. Kali ini hanya ciuman lembut, tidak seperti ciuman pertama yang membuatku kewalahan. Hanya beberapa saat kemudian kami melepaskan pagutan bibir kami. Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Ingin menyapa maskot-maskot di sana? Sepertinya mereka suka mengamati kita," bisiknya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Sepertinya ia memang tidak bisa diremehkan dalam hal mengamati. Mata merahnya yang katanya menyeramkan itu kembali menatap maskot-maskot tersebut dan untuk kali keduanya mereka kabur setelah menyadari tatapannya. Hari sudah malam sehingga kami memutuskan untuk pulang. Aku senang ketika kami berjalan sambil bergenggaman tangan. Genggaman tangannya yang erat seolah tidak ingin melepaskanku.

Hari ini aku benar-benar senang bisa pergi kencan dengannya, walaupun dia bilang ini hanya pertemuan khusus. Banyak hal yang mengejutkan telah terjadi. Mulai dari pernyataan cintanya di hadapan semua orang hingga ciuman yang membuatku meleleh. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini, hari spesial yang kualami dalam hidupku. Kenangan yang sungguh berharga.

Selama ini kupikir perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan. Namun, kali ini semua telah terjawab. Aku dan dia memiliki perasaan yang sama hingga akhirnya kami menjadi sepasang kekasih. Aku sangat menyayanginya begitupun ia sebaliknya. Bagiku tidak ada yang namanya sia-sia dalam menanti. Asalkan terus percaya serta disertai dengan usaha, maka hal yang diinginkan akan dapat terwujud. Kini ia telah berada di sisiku dan akan kujaga dirinya sebaik-baiknya karena Tuhan telah berbaik hati mempertemukan dengannya serta menyatukan kami. Semoga hubungan ini tetap berjalan dengan lancar. Ternyata di balik penantian kudapati dirimu yang akan selalu menggenggam tanganku.

The End


Sekian chapter keduanya. Maaf, apabila akhirnya terkesan menggantung. Tidak tertutup kemungkinan kisah hubungan antara Akaba dan Mamori ini akan berlanjut di fic selanjutnya.

Jadi, bagaimana tanggapan kalian setelah membaca fic ini? Apakah perlu dibuat lanjutannya lagi? Silakan tulis tanggapan kalian di kolom review.

Terima kasih kalian sudah membaca fic saya dan sampai ketemu di fic yang lainnya.


January, 2013

Neary Lan