Last Chapter ...

"Jii-san, biar aku yang bayar", ujar seorang pria yang tiba-tiba menyodorkan uangnya pada Teuchi-jiisan.

Suara ini? Suara ini familiar bagiku. Tapi, siapa? Uhh ... aku limbung. Kututup mataku menanti rasa sakit yang akan kudapat pada bagian badanku yang akan terjatuh membentur lantai. Tapi, kenapa rasa itu tak kunjung datang?

"Hyuuga-san? Kau tidak apa-apa?", tanya suara bariton itu

Kubuka mataku perlahan. Ah! BLUSH! Pipiku memanas. Jarak antara wajahku dan wajahnya begitu dekat.

"N-naru ahh Uzumaki-san?"

Chara by : Masashi Kishimoto

Song by : Super Junior 5th Album *nosebleed*

Story by : Ran Uchiha V^^V

Pairing : NaruHina

Rating : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, a little bit Supranatural

Warning! : A lot of OOC, AU, Unpredictable, Awkward, Miss typos and many more

Daan, kebodohan terfatal saya di chapter kemarin adalah, saya lupa kalau OWARI adalah THE END!

Tapi, saya sudah menggantinya menjadi TSUZUKU~ ^^

- Ran Uchiha -

...

"N-naru ahh Uzumaki-san?"

BLUSH! Samar-samar pipi berkulit tan milik cowok duren yang menyanggaku agar tidak jatuh ini memerah meski samar-samar. Sekilas dia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Salah tingkah eh? Hei! Berhenti berharap Hinata!

"Hinata uh maksudku Hyuuga-san, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali", tanyanya lagi dengan nada yang amat khawatir.

Err, dia memanggilku Hinata?

"A-ano ... aku ... belum ... AGH!", lagi, nyeri kembali menyentak perutku. Kuremas seragam atasku, lagi. Uhh ini sungguh menyiksa.

"Err. Hinata mm maksudku Hyuuga-san, kau sepertinya terkena maag. Kamu belum sarapan?"

A-apa? Dia salah menyebut namaku lagi. Dan, lagi, dia menanyakan keadaanku. KYAAA! Dia perhatian sekali!

"Err, Hyuuga-san?"

"Ah? Aa ano, aku belum sarapan"

"Hhh. Makanya kalau mau berangkat sekolah itu sarapan dulu Hyuuga-san. Ayo cepat makan! Keburu dingin nih!", ucapnya dengan semangat. Tentunya cengiran rubah itu tak lupa ia sunggingkan. Ahh manisnya. Aih! Tampar aku! Apa-apaan aku ini!

"T-tapi Uzumaki-san itu tadi kan pakai u-..."

"Sudahlah! Makan saja! Apa perlu kusuap hah?", katanya dengan nada amat memaksa.

Orang ini, baik tapi memaksakan kehendak. Tapiii ... perhatian sekali! KYAAA! Aduh! Kumat lagi! Hentikan Hinata!

Ehh! Tiba-tiba kurasakan tubuhku melayang di udara. K-kenapa ini? Eeeh! Kini aku berpindah. Apa ini ...

"Uzumaki-san? K-kenapa kau menggendongku?"

"Diam dan menurut saja. Di sini tidak enak menjadi bahan tontonan. Ayo cari tempat yang sepi saja", jawabnya sambil berbisik.

Kenapa harus berbisik sih? Ah? Bahan tontonan katanya? Kuedarkan pandanganku ke sekitar kami. Dan ... BLUSH! Benar saja. Kami sudah menjadi tontonan seluruh orang yang ada di kantin sekolah kami. Kami-sama! Refleks aku memeluk leher Naruto, err maksudku Uzumaki-san. Dan menyembunyikan wajahku ke dada bidangnya.

"Oi! Naruto! Kenapa dengan Hinata?"

I-ini ... suara Kiba. Mau apa dia?

"Hinata nyaris pingsan. Dan bantu aku membawa nasi goreng yang ada di Teuchi jii-san. Lalu ikuti aku ke UKS", ujar Uzumaki-san sembari tetap melangkah.

"YOSH!"

Normal POV

Di UKS ...

Sesampainya Hinata di UKS, Naruto yang menggendongnya bridal style langsung merebahkan Hinata ke atas salah satu ranjang di dalam UKS. Tak berapa lama kemudian, Kiba menyusul mereka ke ruang UKS.

"Naruto! Ini nasi goreng yang kau maksud?"

"Hm"

"Nih!", ujar Kiba sambil menyodorkan piring milik Teuchi Jii-san yang sudah mulai mendingin karena nasi goreng itu belum juga dimakan sedari tadi.

"Ayo Hyuuga-san, makanlah!", Naruto pun menyodorkan sesuap nasi di depan mulutku.

BLUSH! Lagi, Hinata malu! Dia terlihat gelagapan sesaat, namun langsung berubah ekspresi kembali menjadi agak dingin beberapa detik kemudian. Ingat dengan janjinya lagi eh?

"A-aku bisa sendiri Uzumaki-san", ujar Hinata sembari mengambil sendok yang Naruto sodorkan tadi. Dan melahapnya.

"Oi. Jangan beromantis ria di depanku!", celetuk Kiba

BLUSH!

"UOHOK!", Hinata pun langsung tersedak ,"A-a-... UOHOK OHOK! Ahiiirrr! OHOK!"

Hinata dengan tidak elitnya batuk dan mengeluarkan sebagian nasi yang baru saja ia kunyah sekali. Nafasnya tersengal. Pipinya pun mulai memerah kembali. Wajahnya gelagapan. Nampak bingung memilih antara ingin mengendalikan pipinya yang memerah karna malu atau mengatur nafasnya yang tak beraturan karena tersedak.

"Oi! Wajahmu memerah Naruto!"

Bodoh. Padahal Hinata tersedak karena ulahnya. Tapi dengan santai Kiba malah memperparah keadaan dengan menyindir pasang satunya yang menahan malunya karena sindiran Kiba sebelum ini.

Err lalu bagaimana dengan yang disindir? Naruto pun pipinya semakin memanas, semakin merah merona. Namun, bukannya mengelak, Naruto malah bungkam serta menunduk. Tak kalah bingung dengan Hinata. Malah nampak seperti salah tingkah. Tidak seperti Naruto yang biasanya bukan? Ada apa dengannya?

"K-Kibaaa!", jerit Hinata memecah suasana canggung ini ,"UOHOOOK!"

"A a a! Gomen Hinata-san! Gomen! Biar kuambilkan air!", ucap Kiba sambil berlari ke arah galon air yang berada di pojok UKS. Mengisi segelas air lalu segera membawanya ke hadapan Hinata.

GLEK GLEK GLEK ... FUHH!

"Sudah mendingan Hinata?", tanya Uzumaki.

"Huh ini semua gara-gara Kiba!"

"Kenapa jadi aku?"

"Tau lah!", aku ngambek dan menggembungkan pipiku.

Naruto POV

Apa-apaan sih Kiba ini! Aku memang ada perasaan yang berbeda kepada gadis ini, tapi ... UGH! Bisa tidak sih dia tidak membocorkan apa yang mulai aku rasakan? Err, tapi, wajah Hinata sungguh lucu ketika malu tadi. Dan, ya ampun! Aku baru sadar kalau pipinya tembem sekali! Gembungan pipinyaaa~ AAA! Sungguh aku ingin mencubitmu!

Eh? EHEM. Err ... fokus Naruto!

Hinata POV

"Hei hei, sudahlah Hyuuga-san. Ayo makan lagi. Biar kuambilkan obat maag", sahut Na-um maksudku Uzumaki-san

"Loh? Kau kena maag Hinata?", tanya Kiba dengan innocent-nya.

"Memang kau pikir apa haaah?", jawabku sambil menahan marah.

"Kan aku tidak tauuu!", Kiba pun tidak terima dan menggembungkan pipinya.

"Hei-hei sudahlaaah!"

Mungkin karna geregetan, Uzumaki pun juga membentak kami dengan amat keras. Sampai-sampai Kiba yang notabene sahabatnya pun langsung terdiam dan meminta maaf padaku. Aku sendiri? Tentu saja langsung menerima maaf Kiba dan dengan lahapnya memakan masakan yang sudah dibayar Uzumaki-san. Daripada dia kembali membentak kami. Bukan apa, tapi hal ini tidak lazim kami temui. Karna Uzumaki-san selalu ceria. Kuharap dia tidak marah padaku.

- Ran Uchiha -

Malam harinya ...

Haaah! Hari ini sungguh memalukan. Tapi ... sungguh berkesan. Ditambah lagi, sekarang aku sedang jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Tiba-tiba saja Sakura-chan dan Ino-chan mengajakku untuk mencari-cari kado untuk Sasuke-kun dan Sai-kun. Sakura-chan sendiri sedang mencari kado untuk Sasuke karena beberapa hari lagi dia akan ulang tahun. Sedangkan Ino? Ino akan merayakan hari jadinya dengan Sai yang pertama.

Pertama ... Itu artinya, sudah setahun yang lalu berlalu. Kejadian Gaara-kun yang mencampakkanku hampir bersamaan dengan hari jadian Sai dengan Ino. Di minggu itu, entah aku harus merasa bahagia atau sedih. Sahabatku sendiri sedang berbunga-bunga karena perasaannya berbalas, sedangkan di lain sisi aku harus menahan perihnya luka menganga yang ditinggalkan oleh Gaara-kun.

"Hinata-chan!", panggilan Sakura-chan langsung mengusir lamunanku pergi.

"I-iya? Ada apa?"

"Bagaimana pendapatmu dengan replikaku dengan Sasuke-kun ini?", tanya Sakura sembari menunjukkan boneka yang sudah ia pesan beberapa minggu yang lalu.

"AAAH! Kawaaaiiii!", belum sempat menjawab, Ino-chan sudah menyabet waktu bicaraku, "Sudah cepat! Ambil dan segera bungkus Sakura! Aku sudah tak sabar mencari kado untuk Sai-kun!"

Sakura-chan tersenyum senang, "Nah, lalu bagaimana dengan pendapat Hinata-chan?"

"Ano ...", kuperhatikan detail boneka itu. Sungguh, mirip sekali dengan Sasuke-kun! Err, tapi dalam versi chibi sih.

"Bagaimana?", Sakura kembali bertanya.

"Hm, benar kata Ino-chan. Boneka itu kawai! Seperti Sasuke-kun asli tapi dalam bentuk chibi!"

"Nah, kalau begitu, giliranku! Ayo ikut aku ke toko penjual perak!"

Ino pun menarikku dan Sakura ke dalam toko perak. Banyak sekali pernak-pernik yang dijual. Mulai dari cincin, kalung, bahkan gantungan kunci couple. Eh? Couple? Kuperhatikan lagi dengan teliti. Benar! Couple! Err ... entah kenapa aku penasaran ingin ke sana! Aku pun memisahkan diri dari Ino dan Sakura yang melangkah ke arah etalase cincin couple, menuju ke arah etalase gantungan kunci couple.

"Ada yang bisa saya bantu?", tanya pelayan toko itu dengan ramah.

"Ano, aku ingin melihat-lihat dulu", jawabku sembari tersenyum.

"Baiklah nona. Tapi sebelumnya saya ingin memberitahu kalau ada barang yang baru datang langsung dari pabriknya. Dan jumllahnya hanya ada sepasang untuk satu jenis. Bagaimana? Apa nona tertarik?"

Err ... sebenarnya aku sendiri bingung kenapa kakiku membawaku kemari. Tapi ... boleh lah.

"Hmm baiklah. Saya ingin melihatnya", jawabku

"Hai"

Dengan segera pelayan itu menarik keluar sekotak gantungan kunci yang ada di etalase tingkat teratas.

"Ini nona. Dan kebetulan ada beberapa gantungan kunci yang memiliki mitos tersendiri"

"M-mitos?"

"Benar nona. Yaa, seperti kepercayaan begitu. Nah, yang ini salah satunya!", ujar pelayan itu sembari mengangkat sepasang gantungan kunci couple berbentuk anak laki-laki dan anak perempuan kecil yang sedang tersenyum. Ah! Kawai! Tapi, aku tidak melihat adanya bentuk atau sesuatu yang aneh pada gantungan itu.

"Err, tapi tidak ada yang aneh menurutku", gumamku

Pelayan itu pun tersenyum, "Benar nona. Memang nampak biasa saja, namun, yang saya ketahui, sebenarnya gantungan kunci ini penggambaran dari sepasang anak kecil yang bertemu satu sama lain dan menjadi jatuh cinta karena adanya suatu insiden di jaman dahulu"

"Insiden?"

"Benar nona. Dahulu ada seorang anak perempuan yang konon jatuh cinta kepada seorang temannya. Dan temannya ini selalu saja memberikan apa yang anak perempuan ini impikan. Namun, ketika mereka mulai beranjak dewasa, anak laki-laki yang dia idamkan pergi begitu saja tanpa alasan yang ia ketahui. Dia pun berjanji, tidak akan berpaling pada laki-laki mana pun. Dan apabila dia melanggar janjinya, dia akan dikutuk untuk menjaga cinta barunya sampai akhir hayat. Namun karena shock berlebih, perempuan ini lalu terkena serangan jantung dan meninggal"

M-mirip sekali dengan jalan cerita hidupku. Tapi, apa hubungannya dengan gantungan kunci ini?

"Lalu, hubungannya dengan anak lelaki di gantungan ini apa?", tanyaku yang err kurasa nampak seperti anak kecil yang penasaran.

Pelayan itu kembali tersenyum, "Nampaknya nona penasaran. Lalu, di masa mendatang, menurut mitos, perempuan ini bereinkarnasi dan menemukan cinta barunya. Sejak saat itu, dia dikutuk untuk menjaga cinta itu sampai mati. Dan kudengar, kalau anda membeli dan memberikan gantungan kunci ini pada pasangan atau orang yang anda sukai anda, maka anda akan bahagia bersama dia selamanya. Apa anda berminat?"

P-pasangan? Orang yang aku sukai? N-Naru-Naruto-kun eh? Aduh apa-apaan kau ini Hinata! Tapi ... dari awal aku sudah suka dengan gantungan ini.

"Hmm ..."

"Bagaimana nona? Ini hanya ada satu di dunia yang asli dari perusahaan perak kami"

"Baiklah! Aku ambil!"

"Pembayaran bisa langsung ke kasir ya nona. Semoga anda selalu bisa bersama dan bahagia bersama pasangan anda selamanya. Arigatou telah membeli barang kami", ucap pelayan itu tetap dengan senyuman yang sedari awal kami bicara selalu ia sunggingkan.

BLUSH! Apa tadi katanya? Selalu bersama dan bahagia selamanya? Bersama ... Naruto-kun? Aih!

"Ah. I-iya", jawabku salah tingkah.

Kulangkahkan kakiku menuju kasir di dekat pintu keluar. Kubayar dengan segera. Tapi, setelah kupikir, mau aku berikan ke siapa gantungan yang berbentuk laki-laki ini? Apa kuberikan pada Naruto ya?

- Ran Uchiha -

Keesokan paginya ...

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Ohayou Hinata! Eh, maksudku Hyuuga-san! :D

Sudah bangun kan?

DEG DEG DEG! Aih apa-apaan aku ini.

To : Uzumaki 'Duren' Naruto

Ah? Iya. Ohayou ^^

Aku sudah bangun dari jam 5 tadi. Membantu Kaa-san memasak. Kamu?

Kalau Uzumaki-san mau memanggilku Hinata, juga tidak apa-apa. Daripada selalu salah memanggil.

Oh iya, arigatou untuk yang kemarin ^^

-SEND-

DEG DEG DEG

"Eh? Aku ini kenapa?"

T-tapi, mengingat kejadian kemarin ...

FLASBACK ON

"Hinata uh maksudku Hyuuga-san, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali"

"...Kamu belum sarapan?"

"Ah? Aa ano, aku belum sarapan"

"Hhh. Makanya kalau mau berangkat sekolah itu sarapan dulu Hyuuga-san. Ayo cepat makan! Keburu dingin nih!"

"Uzumaki-san? K-kenapa kau menggendongku?"

"Diam dan menurut saja. Di sini tidak enak menjadi bahan tontonan. Ayo cari tempat yang sepi saja"

"Ayo Hyuuga-san, makanlah!"

"A-aku bisa sendiri Uzumaki-san"

"Oi. Jangan beromantis ria di depanku!"

BLUSH!

FLASHBACK OFF

BLUSH! Kurasakan pipiku memanas. Detak jantungku bertambah, semakin cepat. Nafasku juga mulai tak beraturan. Kami-sama. Jangan-jangan aku ini sudah ...

ARGH! Tapi jangan! Aku sudah tidak mau lagi disakiti.

Tapi, menurutku, Naruto adalah tipe cowok yang setia.

TIDAK! JANGAN HINATA!

DRRT DRRT

1 Message Received

PIP

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Wah, rajin sekali Hinata. Calon istri idaman :D

Aa, kalau begitu, panggil saja aku Naruto.

Haha aku juga bangun pagi.

"Calon istri?" BLUSH

Calon istri yang baik? Benarkah? Ah, tapi bagaimana ya kalau aku yang menjadi istri Naruto. Pasti aku bangun amat pagi. Menyiapkan makanan yang menggugah selera dan ... AH! BLUSH! Hinataaa, kendalikan fantasimu! Ingat janjimu!

Huh, balas saja SMSnya.

To : Uzumaki 'Duren' Naruto

Naruto? Baiklah :D

Tumben sekali bangun pagi? Biasanya Naruto kan datang sering mepet bel?

Kata Kiba sih begitu.

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

IhQ! Dasar Kiba! Tukang membocorkan rahasia.

Eh? Hinata-chan nggak tau ya?

Hari ini tes lanjutan kelas akselerasi makanya aku bangun pagi :D

Akselerasi? B-berarti dia akan lulus lebih dahulu daripada aku. T-tapi ... gak mungkin! Dengan gemetar aku mengetik balasan SMSnya.

To : Uzumaki 'Duren' Naruto

Akselerasi? Naruto-kun ikut?

Aku tau sih ada tes akselerasi. Aku juga masuk tahap pertama, tapi aku tolak

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Wah, sayang sekali. Berarti aku akan lulus mendahului Hinata nantinya :(

Aku masuk tahap kedua. Nanti tes mulainya jauh lebih pagi dari bel sekolah berbunyi dan langsung pengumuman.

Lulus duluan? CKIIIT! "K-kenapa? Kenapa dadaku nyeri sekali?"

DZIIING! Tiba-tiba, aku merasa ketakutan. Tanpa kusadari, pelupuk mataku mulai tergenang air mata yang siap akan tumpah.

Jangan, jangan sampai aku kehilangan Naruto-kun! T-tapi, aku tidak boleh egois. Tidak boleh.

To : Uzumaki 'Duren' Naruto

Apa Naruto sudah benar-benar yakin?

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Sebenarnya aku sendiri tidak tau kenapa ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya, tapi aku amat penasaran. Aku mengikuti instingku yang menurutku cukup tajam. Ya, semoga saja aku bisa mendapatkan keberuntungan di sana.

Jadi, kau sudah yakin Naruto?

TESS ... TESS ... Air mata ini sudah tak dapat aku bendung lagi.

Kenapa? Kenapa aku ini? Padahal dia bukan siapa-siapaku. Apa aku benar-benar mulai mencintainya? Sungguh, aku tidak mau dia pergi. T-tapi, aku tidak boleh egois, memang aku siapanya.

To : Uzumaki 'Duren' Naruto

Sebenarnya aku tidak rela Naruto lulus duluan dariku, nanti aku merasa kehilangan.

Haah sudahlah. Kalau begitu, ganbatte!

Nanti ketemu di perpus aja :)

Aku mau siap-siap ke skolah. Jaa.

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Hinata mulai menyukaiku ya? Ahaha.

Tapi aku benar-benar serius ingin melanjutkan ini semua.

Aku juga akan berangkat nih, sebentar lagi tes mulai.

Arigatou Hinata :D

Oke. Jaa :D

Kami-sama ... kenapa harus berpisah? Padahal kami baru bertemu. Pipiku bertambah basah karna tetesan air mataku sudah mulai mengalir dengan derasnya. CKIIIT! Sungguh di sini, di dadaku, aku merasa tertusuk. CKIIIT! Sesak. Amat sesak. CKIIIT! Aku tidak mau kau pergi! Aku harus mencegahmu!

- Ran Uchiha -

Jam istirahat ...

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Aku tunggu di tangga bawah kelasmu

Dengan cepat aku berlari menuruni tangga yang ia maksud. DEG DEG DEG! Hmh, Kami-sama. Jantungku mulai berdetak lebih cepat lagi. Selalu, selalu saja tiap aku mendengar, melihat atau bertemu dengan Naruto. Rasa ini ... ya, rasa ini, rasa yang sama dengan apa yang aku rasakan pada Gaara-kun dulu. Tapi ... Aku, aku tidak ingin. Tidak ingin dia pergi meninggalkan goresan luka seperti Gaara-kun dulu. Bagaimana pun, aku sudah tidak bisa membohongi perasaan yang mulai tumbuh ini. Benar! Aku harus bicara padanya nanti. Dan langkah kakiku pun berhenti pada saat nyaris menubruk seorang murid laki-laki. Tapi ... SRET!

"Ah! Gomenasai! Aku menyenggolmu!", langsung kubungkukkan badanku untuk meminta maaf. Malu Hinataaa maluuu!

"Ah? Tidak apa-apa err ... Hinata-chan?"

Suara ini?

"N-Naruto-kun?"

"Hoi! Bagaimana kabarmu?", tanyanya sambil tersenyum ala rubah seperti biasa. GYUUT. Uhh, dadaku mulai menghangat.

"B-baik kok. Err Na-Naruto-kun, a-apa sudah selesai tes?"

Naruto tertawa. Tiba-tiba dia mengacak rambutku dengan gemas.

"A ah! Apa-apaan sih!"

"Kau lucu sekali! Tentu saja aku sudah selesai dengan tesku. Kalau belum, bagaimana bisa aku ada di sini bersamamu?"

BLUSH! B-benar juga! Aih! Nampaknya otakku mulai konslet. Atau ... aku salah tingkah?

"Hei! Wajahmu memerah. Apa kau baik-baik saja?"

"Ah! Ano ... Etto ... aku ... ti-tidak apa-apa?"

"Sungguh? Jangan-jangan kau masih sakit? Apa perlu ku-..."

"Sungguh! Aku tidak apa-apa Naruto-kun", ucapku dengan segera. Err, aku sendiri juga tidak tau kenapa aku menjawab seperti itu. Padahal rasanya, melihatnya sedikit saja membuat perutku sendiri sudah dipenuhi kupu-kupu yang merayap ingin keluar. Menggetarkan badanku. Membuat sensasi yang berbeda.

"Sungguh? Baiklah"

"..."

"..."

"..."

"Err ... lalu apa kita akan terus berdiri seperti ini sampai jam istirahat selesai?"

"Ah! Ano! Sampai lupa. Aku ingiin memberimu sesuatu!", kurogoh saku jas seragamku.

"A-apa itu?"

Kusodorkan gantungan kunci berbentuk anak laki-laki yang tersenyum itu ke tangan Naruto, "Nih!"

"Aah! Kawai~"

"Hehe. Lucu ya? Itu couple dengan milikku", kutunjukkan pula gantungan couple milikku dengan menggantungkannya di jari telunjukku.

"C-Couple? Err ... Hinata, untuk apa hadiah ini?"

"Eh?", benar juga. Untuk apa? Aku harus menjawab apa?

"..."

"..."

"Hina-..."

"Ano, aku membelinya karena dari dulu aku ingin memiliki gantungan kunci couple. Tapi karena aku tidak mempunyai pasangan. Maka aku memberikannya pada Naruto-kun", jawabku dengan spontan. Err, benar, sepertinya aku salah tingkah di dekat Naruto-kun.

"Hoho. Begitu? Arigatou ne. Ini benar-benar bagus! Kawai~", ucapnya dengan tersenyum tulus dan bahagia. Ahh, ganteng sekali kalau seperti itu. Tanpa sadar aku pandangi wajah Naruto tanpa henti. Benar, sepertinya kegantengannya setara dengan oppadeul Super Junior.

"Hinata?"

"..."

"Hinata? Kenapa kau memanda-..."

"A? Douitte", jawabku dengan canggung.

"Hoo. LaLu, kenapa memandangiku? Apa aku ganteng?"

BLUSH!

"Wah, wajahmu memerah! Kau mengakuinyaaa!"

"Ish! Naruto-kuuuun!", aku langsung memukul-mukul bahunya tanpa ampun.

"Hei! Hei! Aw! Ittai!"

"Eh? Naruto-kun? Tidak apa-apa?", aku mulai khawatir.

"Hehe. Agak sakit. Tapi, aku anggap itu pukulan kasih sayang. Haha!"

Eh? Tiba-tiba dia sendiri sudah berlari. Sial!

"NARUTO-KUUUUN!", jeritku sembari mengejarnya.

- Ran Uchiha -

Huffh. Lumayan capek juga ternyata aku mengejar Naruto-kun tadi. Padahal sudah sejam yang lalu aku sudah berhenti mengejarnya dan setengah jam yang lalu aku sudah mulai menjalani pelajaran selanjutnya. Sialan! Dia bisa membuatku kecapekan dan salah tingkah terus menerus seperti ini. Tapi ... dari percakapannya tadi, aku rasa dia punya perasaan yang sama kepadaku.

DEG DEG DEG. Mendadak hatiku berdebar. Bukan, bukan debaran yang biasanya. Debaran ini... debaran yang aku rasakan sama seperti ketika aku ditinggalkan oleh Gaara-kun. Kenapa? Ada apa ini sebenarnya?

DRRT DRRT. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Kuperhatikan sejenak Anko-sensei yang sedang mengajar. Saat dia lengah, aku pun mengambil handphoneku di dalam loker mejaku dan membaca pesan yang ada dengan sembunyi-sembunyi.

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Hinata-chan, aku ingin menyampaikan suatu kabar untukmu

To : Uzumaki 'Duren' Naruto

Ada apa Naruto-kun?

From : Uzumaki 'Duren' Naruto

Ini mengenai kelas akselerasi.

Aku ...

TSUZUKU ...

- Ran Uchiha -

Halu ... masih adakah yang membaca?

Aku sendiri tidak yakin ada. Review yang kuterima pun sedikit. Agak kecewa sih.

Tapi, tidak apa! Aku tetap semangat melanjutkan ff ini demi kalian semua! ^^

Setelah aku baca lagi chap kemarin. Err, rasanya agak ancur ya. Gomennasai =.= Tapi sungguh, aku sudah berusah semaksimal mungkin di chap kemarin dan aku sudah memperbaikinya di chap ini. Semoga bisa memuaskan kalian.

Nah, bales review dulu ^^

Lostiusness

Makasi ya udah review:*

Bahaha iya ta? Sampe bikin ngompol gak? ._.

Padahal aku bikinnya gak pake feel yang gimanaa gitu.

Suka? Jadikan fav story dong! Fav author juga! NYAHAHAHAHAHA!

Akari Yuka

Arigatou Yuka-chan ^^

Hoho ada deh. Makanya keep in touch (?) sama ceritaku. Pantengin terus ya! :D

Ini udah update kok. R&R lagi plis ^^

Benjiro Hirotaka

Ah, arigatou ^^

Ini udah update, r&r lagi ya ^^

Anonym

Err ini siapa ya? Arigatou udah review ^^

Ini udah aku update ^^

R&R lagi ya ^^

Mitsu Rui

Arigatou ^^

Ini aku update, r&r lagi ya ^^

Gyurin Kim

KYAAA! Kamu juga ELF? Aku juga loooh! Biasnya sapa? Aku suka Donghae!

Kamu beli albumnya? Wah, aku gak sanggup beli =..=

Tapi tetep pemburu gretongan sejati (o)/

Btw, arigatou, kamsahamnida udah review ^^

Eh? Mirip sama kamu? Aku dulu juga gitu ._.

Tapi sekarang udah enggak. Bekunya udah diangetin sama ... *ehem

Ini udah update loh ^^ R&R lagi ya ^^

Oke, last but not least. Karena review merupakan salah satu unsur pelecut semangat saya maka ... Mind to review? Arigatou minna-san ^^