Bab 2
.
Remake Dari novel byArzeta Clarkson
.
Killa8894
.
LAWAN TANGGUH
"We Both Know are, our limitation, that's make me strong."
Colbie Caillat, Gavin DeGraw
Aku masih mengingat jelas sepasang mata karamel yang memberiku keteduhan disaat aku membutuhkan ketenangan itu, mampu memberikan kedamaian hanya dari ketulusan pandangannya padaku. Kini dipenuhi oleh kilatan api, ketajaman seperti elang, dan keberanian pada kematian. Sepasang tangan mungil dan kurus yang selalu mengusap air mataku, membelai punggungku saat aku merasa tak berdaya, memberiku perlindungan dikala aku lemah. Kini berubah menjadi kokoh dan kekar, dipenuhi bekas luka, serta kesigapan untuk menyerang. Bibir mungil yang dulu selalu siap mengeluarkan kata kata lembut penuh penguatan, telah berubah menjadi semerah darah, dan cuma Tuhan yang tahu apa saja sudah dilakukan mulut itu selama ini.
Mataku terjatuh pada sebuah tato dibagian punggung kirinya, sebuah gambar burung Rajawali hitam memanjang. Aku tersedak oleh ingatan itu. Hawk, adalah nama julukan masa kecil yang kuberikan padanya. Karena Jongie kecil selalu berimajinasi bisa terbang dan menjadi penguasa langit. Mirip burung Rajawali.
Dia bukan lagi Kim Jongin, si Malaikat pelindung yang kukenal. Di tempat ini, sosok suci itu telah dirubah menjadi Ksatria hitam pencabut nyawa, petarung tak kenal ampun dan siap menghancurkan lawannya. Setidaknya, itulah yang kupelajari dari setiap perkataan Chanyeol padaku tentang semua lawannya ditempat ini. Bayangan sahabat baik masa kecilku akan bertarung melawan Kakakku telah membuat isi kepalaku pecah ditempat saat ini juga.
Aba aba diberikan, Chanyeol dan Jongin saling mendekat dan bersalaman. Dari sini aku bisa melihat Jongin memang kalah tinggi dan kekar daripada Chanyeol, namun justru lawan seperti Jongin lah yang paling harus dikhawatirkan, sebab dia pasti memiliki tingkat kecepatan dan kelincahan melebihi sosok lebih besar darinya. Yah, sejenis pengetahuan ini kudapat dari seringnya menemani Siwon dan Chanyeol menonton pertandingan tinju dan Taekwondo.
Keduanya tersenyum sekilas, Jongin terlihat pemberani namun Chanyeol tampak lebih mengancam daripada sebelumnya. Keduanya kemudian saling memberi jarak untuk menyiapkan kuda kuda. Saling menunggu hingga Jongdae disebelahku mengejutkanku dengan membunyikan peluit sangat nyaring. Tanda pertandingan dimulai.
Aku tidak dapat melihat ekspresi Chanyeol, tapi jelas kalau Jongin haus darah dan ini membuatku ngeri. Bukannya menyerang, Chanyeol justru mundur beberapa langkah. Jongin mengayunkan pukulannya tepat ketika chanyeol menghindar ke kanan. Jongin mencoba memukul lagi dan Chanyeol menunduk lalu bergeser ke
samping. Aku terpesona pada gabungan olahraga Taekwondo dan Kick boxing yang digunakan Chanyeol, namun menyadari jika Jongin juga tidak sekedar bermain bebas, kuduga dia menggunakan beberapa jurus karate.
Chanyeol menarik tangan kanan Jongin, memiting kakinya tapi kesempatan itu dipergunakannya untuk mengacungkan serangan melalui tangannya yang kosong. Pukulan itu tepat mengenai hidung Chanyeol, menimbulkan suara tulang berderak diikuti jerit histeris penonton. Aku berusaha keras tidak berteriak sambil berdoa dalam hati semoga hidung mancungnya tidak menjadi bengkok karena kejadian ini.
Chanyeol terhuyung satu langkah kebelakang, melepaskan tangannya dari Jongin. Pemuda itu tanpa membuang waktu memanfaatkan momennya, menendangkan kaki kanannya ke dada Chanyeol kemudian melompatinya, menindihnya dan mulai
menghajar wajahnya dengan gaya beringasan. Semua orang menjerit, termasuk aku.
" Ini gila! Pemuda Itu memang sesuai namanya! Rajawali hitam! Sial! Akhirnya kakakmu berhasil menemukan lawan yang seimbang!" suara Jongdae lebih mirip pujian ketimbang kecemasan, membuatku menggertakkan gigi jengkel.
" Mengapa dia dijuluki demikian? Black Hawk? " tanyaku setenang mungkin.
Jongdae mengedikkan bahunya. " Yang kutahu dia memakai nama itu seusai gambar tato ditubuhnya. Kupikir, dia sudah membuatnya jauh sebelum bergabung dalam dunia bayangan. "
Kemudian bayangan hitam itu muncul lagi, semua kilasan itu. Kegelapan, suara jeritan, pukulan, darah dimana-mana. Mataku menggelap, dan tanpa sadar pada apa yang kulakukan aku mulai berlari. Tanpa mempedulikan jeritan Jongdae, dia berusaha menahanku dengan tangannya tapi dalam satu gerakan taekwondo mudah aku mendorong badannya hingga nyaris tersungkur. Aku sempat mendengar dia menyumpahiku tapi aku tak peduli.
" Chanyeol! " jeritku tepat disamping kanan ring, tempat Chanyeol dan Jongin suara teriakan dari para petugas penjaga kepadaku. Tapi aku tak peduli pada apapun lagi saat ini kecuali keselamatan orang yang kucintai. " Masih ingat janjimu mengajakku ke Paris akhir tahun ini?! "
Chanyeol mengerang diantara menahan serangan sekaligus terkejut karena melihat keberadaanku. " Demi Tuhan Sehun...apa yang kamu lakukan disitu?! "
" Hajar saja si Kepala Kecoa ini dan menangkan pertarungan ini demi aku, kumohon!" Jeritku setengah terisak.
Dan mendadak segalanya menjadi sunyi. Sepasang mata karamel yang tadinya menggelap dipenuhi nafsu membunuh kini menatapku. Campuran rasa terkejut,
dan tak percaya telah berhasil melembutkan ekspresinya. Aku yakin Jongin nyaris menyebut namaku sebelum disela oleh tendangan serta pukulan double dirahang yang membuat Jongin terjengkang. Chanyeol menonjok hidung Jongin, dan tanganku menutup mulutku saat Jongin berusaha memukul lagi beberapa kali tapi tak ada yang mengenai Chanyeol.
Jongin terjatuh kesamping ketika Chanyeol memukulkan sikunya ke wajah Jongin sekali lagi. Ketika kupikir semua akan berakhir, Jongin berdiri dengan terengah engah menggunakan seluruh kemampuannya berusaha menerjang Chanyeol lagi. Jongin memang sangat lincah sayangnya ada sesuatu dalam dirinya saat ini membuatnya menjadi tak fokus dan tak terkendali, Chanyeol mengetahui hal itu sangat baik dia memanfaatkan kesempatannya untuk menghindar. Kali ini Chanyeol tidak mau main main dia menghadiahi kurang lebih enam pukulan hingga Jongin tidak dapat mengikuti gerakannya.
Mereka banjir keringat serta darah, aku terkesiap ketika Jongin meleset lagi, memukul tiang semen. Ketika dia membungkuk memegangi tangannya yang sakit, Chanyeol menyerang untuk mengakhiri pertarungan. Tanpa ampun Chanyeol menendangkan lututnya ke wajah Jongin, lalu memukulinya terus hingga Jongin terjatuh menyentuh lantai. Mataku nanar menghadapi Jongin yang sudah lemah dan tak berdaya.
" Chan hentikan! " jeritku menghalau pekikan kemenangan yang telah mulai disuarakan untuknya.
" CHAN, BERHENTI KAMU BISA MEMBUNUHNYA! "
Kali ini Chanyeol betul betul berhenti, keindahan berlian zamrud didalam matanya yang sempat hilang sesaat oleh kuasa kegelapan didalam dunia bayangan ini akhirnya kembali lagi memancarkan sinar. Chanyeol menoleh, menatap padaku dan terkejut melihatku air mataku tumpah. Kemudian Chanyeol berlari kearahku, tanpa mempedulikan darah dan betapa basahnya dia aku memberikannya pelukan lebar.
Terdengar bunyi peluit kencang lagi, semua pendukung Chanyeol berjingkrak, bersorak penuh kegembiraan, menjerit meneriakkan namanya. Kemudian aku bisa melihat arus perputaran uang mengalir deras bersamaan dengan ekspresi marah dan kecewa para pendukung Jongin.
Jongdae mengumumkan nama Chanyeol sebagai juara bertahan untuk kelima kalinya tahun ini, para sponsor yang duduk dibarisan terdepan ring dalam balutan 3 setelan mahal langsung berdiri dan bertepuk tangan sangat keras, mengelu elukan nama Chanyeol sebagai ' anak emas kesayangan ' mereka.
Kemudian aku melihatnya. Jongin, dibantu temannya berusaha bangkit berdiri, meskipun bernafas sangat berat tapi dia bisa berjalan. Mendorong temannya dalam rasa frustasi dan berjalan tertatih kearah kami. Seketika seluruh tubuhku terasa dipaku ditempat. Chanyeol menegang, membalikkan tubuh dan bersikap protektif dengan menyembunyikanku dibalik badan kekarnya. Tapi rupanya Jongin hanya berniat untuk mengulurkan tangan dan memberikan selamat pada Chanyeol.
" Selamat sobat, kamu memang pantas mendapatkannya. "
Suaranya begitu berat di ikuti batuk. Hatiku terasa sakit melihatnya begitu menderita, membayangkan dia harus menahan setiap perih dari pukulan ditubuhnya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Chanyeol menaikkan satu alis sejenak, tampak menimbang nimbang, kemudian menjabat tangan Jongin dan tersenyum lebar. " Kamu adalah lawan yang sangat tangguh, kamu tahu itu. Teruslah berjuang, aku berharap bisa menghadapimu lagi tahun depan. "
Jongin berusaha keras tersenyum meskipun tampak kesakitan. Dia mencoba melirikku sekilas, tapi aku justru semakin berusaha menyembunyikan diri darinya. Kemudian, sebuah kalimat yang terlontar dari mulutnya membuatku tak bisa menahan kehancuran pada tembok dihatiku. " Pacarmu sungguh cantik, dan baik. Sob, kamu beruntung. "
Aku bisa merasakan aura ketegangan diantara keduanya, anehnya Chanyeol bahkan tak membuat bantahan jika aku adalah adiknya.
Jongin sudah akan berbalik, ketika pada akhirnya aku tak bisa mempertahankan keseimbanganku. Tubuhku oleng, dan aku merasa badanku terjatuh dengan kepala seperti membentur sesuatu terlebih dahulu. Aku sempat mendengar suara jeritan dan pekikan, tapi kali ini lebih kearah kengerian. Kemudian aku melihatnya.
Sepasang mata karamel menatapku penuh ketakutan.
Ketakutan yang sama seperti 11 tahun lalu.
.
.
.
.
.
.
TBC
Review lebih dua puluh lanjuttt lagi yaaaaa
