Princess of The Kingdom
Chapter 2
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : Naruto x Hinata
Rate : M (Gak terlalu Hot)
Wadning : OOC, OC, AU, (miss) typo, dll
.
Story by. Ichido Subarashi
.
.
Suara berisik dari beberapa pedagang di luar terdengar mulai ramai. Padahal ini masih pagi sekali. Tentu saja, mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermalas-malasan. Keluarga mereka butuh uang untuk menenuhi kebutuhan pokok.
Tapi lihatlah pemuda itu. Seakan tak peduli dengan suara berisik yang mulai merangsang indera pendengar, ia tetap masih tertidur di ranjang kecil yang di pakainya untuk berbaring.
Dengkuran yang disertai dengan air liurnya yang tampak terus saja keluar dari mulut tampak membasahi bantalnya.
Kakinya yang panjang itu tak sadar menendang segelas air di meja dekat ranjang tempat ia tertidur. Dan suara pecah kaca pun terdengar sehingga membuat Naruto sendiri terbangun.
Bangun terduduk sambil meregangkan kedua tangannya ke atas, kemudian menguap. "Ah sial, lagi-lagi gelas yang ku pecahkan," melihat pecahan gelas kaca yang bertebaran di bawah. "Kenapa tidak yang lain? Piringlah sekali-kali,".
.
Coba kita lihat di luar. Terlihat Hinata sedang asyiknya bermain dengan kelima anak laki-laki yang sekiranya berumur 7 tahun.
Lari sana-sini dengan girang. Mereka terus saling kejar, tak mempedulikan para pedagang dan pembeli yang sesekali menatap ke arah mereka.
Hingga suara teriakan seseorang terdengar.
"Yoshi! Arata! Shinori! Atsushi! Konohamaru!"
Suara seorang pemuda.
Terpaksa, mereka pun mengakhiri permainan mereka dan berjalan mendekat ke arah pemuda itu.
"Ayo kita berangkat," ucap pemuda itu, ketika mereka sampai di dekatnya.
"Naruto," tiba-tiba Hinata memanggil.
Yang di panggil pun menengok, "Ada apa?" tanya pemuda itu.
"Maafkan aku yang kemarin ya, aku tidak tahu kalau kau mencuri dari istana itu untuk~"
"Sudahlah tidak apa-apa, sebaiknya putri ikut denganku mengantar mereka ke panti asuhan. Ayo," kata Naruto.
"Haah kita kembali ke tempat itu ya, membosankan," ujar salah satu anak kecil yang bernama Konohamaru.
"Hey Konohamaru, jangan melenguh seperti itu. Nanti kalau kak Naruto punya uang untuk menebus kita lagi, kita pasti bisa bebas kok. Iya kan, kak Naruto" ujar anak lain yang bernama Yoshi.
Menggaruk kepalanya, "E-E iya pastinya," Naruto membalas dengan ragu.
Sementara itu, Hinata hanya bisa menatap sendu ke arah pemuda pirang itu.
Ia sangat menyesal melakukan hal sebodoh itu. Meminta orang lain untuk menikahinya hanya untuk penyamaran agar tidak diketahui keberadaannya oleh pihak kerajaan.
Kalau ia tahu, bahwa Naruto mencuri di istana karena alasan untuk memenuhi kebutuhan dari anak-anak panti yang tinggal bersamanya itu. Ia pasti tidak akan meminta Naruto untuk melakukan pernikahan bodoh itu.
Sejenak ia berpikir. Apa Naruto tidak mau bekerja selain mencuri?
.
.
.
.
"Mereka sudah aku pulangkan, sekarang tinggal..." Naruto mengangkat bungkusan yang diberikan oleh para pengasuh panti tadi.
"E-Eng Naruto, apa kau ingin mencuri lagi?" tanya Hinata, ketika melihat Naruto berjalan membelakangi dan akan meninggalkannya.
Naruto menaikan salah satu alisnya dan menengok melihat ke arah Hinata. "Aku mencuri hanya satu kali, yaitu kemarin. Seperti biasanya, hari ini aku akan mengantar beberapa dagangan ini ke pelanggan," kata Naruto.
Ternyata perkiraannya salah. Meski hanya sedikit. Ia kira Naruto sering mencuri di istana. Ternyata tidak seperti itu. Sepertinya dia mencuri waktu itu, mungkin untuk kelima anak tadi.
"Kenapa diam saja? Ayo ikut, putri ingin kutinggal disini?"
"Ah iya, maaf"
Hinata pun segera menyusul Naruto, kemudian berjalan bersamanya.
.
.
"Jadi... bagaimana putri Hinata tahu kalau aku akan memulangkan mereka ke panti?"
"Dasar kau ini, panggil aku Hinata saja. Kau kan bukan pelayanku lagi, kenapa masih memanggilku seperti itu sih?"
Naruto mengernyit. Jadi dia ingat dengannya? Lalu apa dia juga ingat dengan janji itu?
"Iya, Hinata. Putri kan belum menjawab pertanyaanku,"
Hinata hanya bisa menghela nafas mendengar hal itu. "Aku kan sudah bilang, panggil aku Hinata saja,"
"Ah iya, maafkan aku. E-Eng Hinata, ya Hinata"
Terdiam sejenak. "Arata yang memberitahuku,"
"Oh,"
Hening. Setelah itu tidak ada kata yang di ucapkan oleh mereka.
Dalam diam, Hinata hanya bisa tersenyum melihat Naruto yang sedang berjalan bersamanya.
"Mungkin hari ini aku akan sangat sibuk," dalam hati Hinata bergumam.
"Naruto"
Yang dipanggil pun menengok.
"Aku ada sesuatu yang tertinggal, kau teruskan saja pekerjaanmu. Aku akan mengambilnya," Hinata tiba-tiba berjalan ke arah yang berlainan meninggalkan Naruto.
"H-Hey tunggu, sebaiknya aku menemanimu,"
"Tidak usah, kau lanjutkan saja pekerjaanmu,"
"Ah sial,"
Tampaknya Naruto merasa menyesal tak bisa menemani Hinata.
.
.
.
.
.
.
Hari sudah malam, orang-orang kembali masuk ke rumah mereka masing-masing. Malam ini memang sangat dingin. Satu orang pun tak ada yang berani berada di luar rumah. Sepi sekali.
Lain halnya untuk Naruto. Dia masih ada di luar rumah. Bahkan pintu rumahnya sendiri belum ia tutup. Ia juga masih berdiri disana, menunggu seseorang. Yaitu, Hinata.
"Mestinya tadi aku menemaninya. Hah semoga tidak terjadi apa-apa,"
Tiba-tiba angin berhembus. Menambah betapa dinginnya hawa malam ini. Tapi bukannya segera masuk ke dalam rumah, Naruto tetap berdiri di sana.
"Naruto!"
Pandangannya teralih oleh suara yang memanggilnya itu.
"Dasar bodoh, kenapa baru pulang sekarang?"
Ternyata Hinata. Dia datang dari arah istana berada. Dan... ia membawa sesuatu yang di bungkus oleh kain yang ia bawa di tangan kanannya.
"Maafkan aku, aku tadi~" ucapan Hinata terhenti ketika Naruto tiba-tiba menarik tangannya agar masuk ke dalam rumah.
"Di sini sangat dingin, sebaiknya kita bicara di dalam saja. Aku takut putri sakit nanti,"
.
.
口 Princess of The Kingdom 口
.
.
Di kerajaan Khatiddon, tepat di dalam istana. Seorang pria tengah berdiri menatap foto besar di depannya. Foto itu tertempel di dinding. Dalam foto itu terlihat sepasang suami istri yang sedang menggendong seorang bayi perempuan.
"Yang Mulia"
Pandangannya beralih ke arah seeorang di belakangnya.
"Ada apa prajurit?" tanya pria itu.
"Bukankah kita sudah tahu tentang keberadaan tuan putri, kenapa kita belum juga menjemputnya?"
Sang raja kembali melihat foto itu.
"Kita tidak perlu menjemputnya, dia sudah dewasa. Ia sudah memilih jalan hidupnya,"
口 Flash Back 口
"Hinata? Kau kembali?"
"Tidak paman, aku disini tidak punya waktu banyak"
"Apa maksudmu? Kau sudah ada di rumah, kita punya waktu yang lama untuk berbicara"
"Tidak paman, aku sudah punya rumah sendiri. Naruto pasti akan menungguku"
"Naruto? Siapa dia?"
"Aku akan tinggal bersamanya, selamanya. Mempunyai anak-anak yang akan bisa membuatku tidak kesepian lagi"
Terdiam sejenak. "Tapi bagaimana dengan kerajaan? Harus ada pewaris sahnya, yaitu kau"
"Paman harus menikah dengan seseorang. Jadikanlah istri paman sebagai ratu dan jadikanlah anak paman sebagai pewaris sah kerajaan Khatiddon"
"Hinata... maafkan aku yang telah membunuh kedua orang tuamu, waktu itu~"
"Tidak apa-apa, aku juga yang salah. Kalau saja aku tidak menyuruh paman untuk membunuh kedua orang tuaku mungkin paman tidak akan menanggung dosa bersamaku. Akulah yang egois"
"Tidak Hinata, aku memang salah"
"Paman tidaklah egois, paman itu baik. Karena itulah aku mempercayakan kerajaan ini kepada paman. Tidak apa kan?"
"Tapi aku... aku tidak bisa~"
"Aku percaya pada paman".
Terdiam. Agak lama...
"Aku tahu. Kau bisa percaya pada pamanmu ini Hinata, terima kasih".
口 Flash Back Off口
.
.
口 Princess of The Kingdom 口
.
.
Duduk di sebuah kursi sembari menatap Hinata yang sedang sibuk membuatkan secangkir minuman untuknya. Itulah yang Naruto lakukan saat ini.
"Kau terlihat tidak biasa, Hinata" ujarnya.
Merasa senang karena Naruto tidak lagi memanggilnya dengan sebutan 'putri'. Hinata pun berjalan mendekatinya kemudian memberikan secangkir kopi yang telah dibuatnya itu.
"Apa saja untuk suamiku,"
Naruto mengernyit. "Katamu waktu itu, hanya pernikahan pura-pura. Kenapa malam ini kau menganggap itu seakan yang sesungguhnya?"
"Kau saja yang menganggap itu pura-pura, dari awal sih aku menganggapnya dengan serius. Kau kan sudah berjanji,"
Kedua mata Naruto terbelalak. Jadi dia ingat?
Sontak kedua pipinya pun memerah. "Jangan bercanda putri".
Dahi Hinata berkerut. Kenapa dia memanggilnya putri lagi? "Dasar tidak berubah," Sambil mencubit kedua pipi Naruto. "Cepat minum saja, nanti dingin lagi" dan memaksa Naruto untuk meminum kopi yang ia buat dengan menuangkan langsung ke mulut pemuda itu.
Alhasil, Naruto pun tersedak karena hal itu. Karena merasa khawatir, dengan cepat Hinata pun langsung memberikan segelas air putih yang telah ia siapkan sejak tadi.
Rupanya Hinata sedang merencanakan sesuatu. Apa itu? Mari kita lihat selanjutnya.
Tanpa berpikir panjang, Naruto segera meminumnya.
"Ahh kau ini, bisa mati aku tadi,"
"Maaf, aku terlalu berlebihan ya?"
Membersihkan sekitar mulut Naruto yang terkotori oleh kopi, kemudian berjalan memasuki ruangan, tepatnya kamar tidur, dan meninggalkan Naruto yang tampak bingung dengan sikapnya. "Tinggal menunggu beberapa menit." Hinata bergumam.
"Kenapa dengannya?" masih duduk di kursinya, Naruto terlihat bingung dengan sikap Hinata yang tidak biasa itu.
Tiba-tiba kedua pipinya mulai memerah. "Kenapa juga dia memakai baju itu?" Naruto teringat baju yang Hinata pakai tadi adalah baju yang sangat tipis, sehingga entah sengaja atau tidak ia bisa melihat kedua buah dada gadis itu yang tampak tertutupi oleh bra putih cream yang sepertinya terasa begitu sesak.
.
Di dalam kamar terlihat Hinata sedang duduk di ranjang. Ia teringat sesuatu dengan pesan yang di sampaikan oleh penyihir istana tadi ketika ia pergi ke sana.
"Campurkan saja serbuk ini ke dalam minumannya. Serbuk ini akan membuatnya lupa akan apapun bahkan dirinya, yang bisa ia ingat hanya tuan putri adalah istrinya. Istri yang sempurna."
Perkataan seorang penyihir istana dari ingatannya.
Hinata menghela nafas panjang. "Aku tahu setelah ini akan baik-baik saja. Hanya malam ini, aku harus bisa tenang," ia kembali bergumam.
.
Sudah setengah jam berlalu. Tidak terjadi apa-apa. Hinata juga telah tertidur di ranjang tadi tempat ia duduk. Ia sangat lelah. Sepertinya ia lupa dengan apa yang dilakukannya kepada Naruto tadi. Ia sekarang tertidur.
Hingga beberapa saat kemudian, kedua matanya pun mulai terbuka karena merasakan ada semacam suatu hembusan yang hangat terasa di lehernya.
Dan ketika ia bisa melihat apa yang sebenarnya itu. Ia terkaget hingga bangun terduduk karena melihat Naruto yang sudah ada di hadapannya dengan muka yang memerah tengah menatapnya dekat.
"N-Naruto?"
Hinata bangun dari ranjang, dan dengan hati-hati ia mulai berjalan ke pintu bermaksud keluar. Ia saat ini merasa takut dengan Naruto yang seperti itu.
"Ah!" Ia memekik keras ketika merasakan Naruto tiba-tiba memeluknya dari belakang. Hinata berusaha meronta. Ia benar-benar panik!
Tak lama kemudian, ia pun tersadar dan mulai berpikir. Bukankah dia yang mencampur kopi itu dengan serbuk pemberian penyihir istana. Bukankah dia juga yang membuat Naruto seperti ini. Harusnya dia itu senang karena rencananya telah berhasil. Kenapa dia malah takut? Kenapa dia malah ingin pergi?
Dia tidak bisa meninggalkan Naruto begitu saja. Dia harus bertanggung jawab karena ini.
"Yang penting tuan putri harus tenang." Perkataan penyihir istana dalam ingatannya.
Perlahan, Hinata pun mulai berhenti meronta. Ia biarkan Naruto melakukan apapun terhadapnya.
Jangan meronta.
Ia tahu. Inilah cara agar ia bisa mempunyai buah hati yang nantinya akan membuatnya merasa tidak kesepian lagi.
"Aku mencintamu, Hinata."
Pemuda itu berbisik ke telinganya. Dan Hinata bisa merasakan sepasang tangan milik Naruto telah masuk ke dalam kaosnya tengah menggerayangi kedua buah dadanya.
Ia mengerang lembut, membiarkan Naruto melakukannya.
"N-Naru..."
Sekarang ia merasakan kedua tangan pemuda itu memaksa untuk menerobos pakaian dalamnya dan menemukan kedua payudara miliknya di sana.
Naruto mulai meremas-remasnya. Hinata kembali mengerang pelan.
.
.
Dan sepertinya, malam ini akan menjadi waktu yang sangat panjang bagi Hinata. Bersama Naruto yang tengah di landa nafsu itu, mungkin juga akan menjadi malam yang banyak menguras keringatnya.
.
.
口 THE END 口
Ngegantung ya?
Emang saya buat ngegantung kok (^O^)
Sebelumnya terima kasih buat kalian yang mau nyempetin ngebaca fic Gaje ini.
