Wind Story

Cast: Choi Siwon, Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Leeteuk, Kim Ryeowook and other

Summary: "Mencintai gurumu sendiri?", "Playboy jahat yang berakhir menjadi seorang gay?", "Anak haram yang bercinta dengan ibunya sendiri?", "Mencintai seorang pelacur?". "Bukankah Tuhan mengutuk keluarga Kim yang terhormat?"

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

Rated: T to M

Disclaimer: Semua milik Tuhan

Warning: Typos, OOC, GS, BL

%ika. Zordick%

Apakah kau percaya dengan karma?

Hai... angin yang begitu menyejukkan jiwa. Bisakah kalian membawa dendam seorang bocah yang begitu terluka itu? Apakah kalian tak mengasihaninya?

Bawakan dendam itu pergi...

Kembalikan harapannya...

Dia hanya ingin bahagia di sisa hidupnya, apakah ada yang salah dengan itu?

%ika. Zordick%

10 Januari 2002

"JIFAAAANNN!" tangisan meraung dari seorang yeoja cantik terdengar begitu menyayat hati. Seorang namja tampan memeluk istrinya itu, menenangkannya sekuat yang ia bisa. Meski hatinya ikut tersayat sakit. Hatinya juga merasa kekhawatiran luar biasa. Ia juga merasakan yang di rasakan Sungmin—yeojanya. Bahkan mungkin ia merasakan yang lebih parah dari itu. Ia ayah biologis dari bocah kecil yang kini berada di dalam ruangan UGD.

"Tenanglah Nyonya Tan!" seorang dokter berusaha menenangkan Sungmin.

"Tolong Jifan kami! Tolong jifan kami!" racau Sungmin menggapai kerah baju dokter tersebut. Matanya menyalang tajam, ia sungguh serius akan membunuh dokter-dokter yang menangani Kibumnya dan meratakan dengan tanah rumah sakit ini jika terjadi masalah dengan Kibumnya.

Hangeng menarik tubuh Sungmin. Ia sangat mengetahui yeoja yang amat ia cintai itu. Yeoja berbeda yang merupakan pewaris tunggal kekayaan mafia keluarga Jung. Kekuasaan dan kekerasan sudah menjadi bagian hidupnya dari dahulu. "Tenanglah Paobai, Jifan kita akan baik-baik saja!"

Seorang dokter yang lebih tua bersama tim medisnya keluar dari ruangan Kibum di rawat. "Apakah Jifan baik-baik saja?" tanya Hangeng menghampiri dokter tua itu.

"Pembuluh darahnya pecah, kami memerlukan stok darah tuan Tan" jelas sang dokter.

"Ambil darahku! Ambil semuanya jika Jifan ku bisa di selamatkan!" teriak Sungmin memegang tangan dokter itu. Dia menangis lagi. "Anakku... hiks... hiks... dia hidupku. Tanpa dia aku tak bisa hidup. Hiks..." isakkan lirih kembali terdengar.

"Ikut kami Nyonya!"

%ika. Zordick%

Sungmin menatap lirih Kibum dengan mata merah membengkak miliknya. Matanya tak henti menatap wajah pucat bocah itu dengan foxy indahnya. "Tidurlah! Sudah tiga hari kau tak tidur paobai!" Hangeng memeluk bahu Sungmin dari belakang. Memberikan ketenangan dan kehangatan yang memang wajib ia lakukan sebagai kepala keluarga Tan.

"Aku tidak akan tidur, jika tak melihat kelopak mata indah ini terbuka, Hannie~" Sungmin menyentuh kelopak mata Kibum yang masih setia menutup rapat. Dia kemudian beralih mengusap lembut pipi tirus pucat, "Dia amat tampan, mirip denganmu"

Hangeng duduk di sisi tempat tidur Kibum. Di tatapnya bocah kecil yang mewarisi darahnya. "Jifan, sadarlah, kau dan Mommymu tak kasihan melihat baba? Menyiksa baba seperti ini?"

Sungmin menatap tajam Hangeng. "Apa yang kau bicarakan China busuk?" terdengar penekanan di suaranya. Mengintimidasi Hangeng dan membuat Hangeng sedikit merinding. Hangeng tersenyum, diusapnya rambut panjang hitam Sungmin dengan lembut. "Apa kau tega melihatku menderita karenamu? Cukup Jifan yang membuatku merasa sakit begini, Yeobo. Jangan kau juga! Aku takkan mempunyai kekuatan apapun tanpa kalian di sampingku"

Hening...

Hanya ada detakan jantung Kibum yang terdengar dari alat medis. Begitu lemah namun teratur. Suara detik jarum jam pun terdengar meramaikan, tetes-tetes cairan di dalam infus itu masuk ke dalam darah sang bocah. Membantu memberikan harapan baru.

Kelopak mata indah itu, seandainya ia bisa terbuka sekarang juga.

Lihatlah, siapa sesungguhnya orang-orang yang mencintaimu, yang melihatmu dengan tatapan kasih. Mereka berdua orang tuamu sebenarnya. Ayah kandungmu dan ibu tirimu yang tak punya ikatan darah apapun denganmu tapi tak bisa hidup tanpamu. Seharusnya kau mensyukurinya.

"Mommy~" lirih Kibum—mengigau.

"Wo men te xiou erl!" terlihat kebahagian di raut wajah lelah Hangeng. Sungmin segera bangkit dan mengelus rambut Kibum lembut. Senyuman indah terlihat di wajah manisnya. "Dia sadar ming!"

Sungmin mengangguk, "Mommy di sini" bisik Sungmin di telinga Kibum. Mata itu masih terpejam, di raihnya tangan Sungmin dan meletakkannya di atas dadanya. "Bummie sayang Mommy! Jangan pergi! Jangan lupakan Bummie! Jangan tinggalkann Bummie"

"Nee~, Mommy takkan meninggalkanmu! Takkan pernah sayang! Takkan pernah!" ucap Sungmin mengecup pipi Kibum. Hangeng memegang tangan Kibum yang menggenggam erat tangan Sungmin di dadanya. "Baba akan melindungi kalian! Baba akan jamin takkan ada yang meninggalkanmu lagi"

Kalian terlalu berharap!

Bocah kecil itu, dalam mimpinya bukanlah dirimu yang ia panggil.

Ia memanggil yeoja lain. Sosok ibu kandungnya dan ayah yang mengasuhnya. Bukan kalian. Dia sehat dan membuka mata itu keesokan harinya karena ia percaya bahwa yang semalam datang. Menjaganya dan memberikan rasa aman padanya adalah keluarga Kim.

Dia hidup dengan dasar itu. Dia hidup dengan harapan yang dihasilkan oleh tipuan imajinasinya.

%ika. Zordick%

9 Oktober 2012

Dengan langkah yang begitu berkharisma, namja tegap tinggi bertubuh atletis melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah barunya di Seoul. Dia melempar senyuman jokernya sesekali saat melihat yeoja-yeoja manis berusaha mencuri pandang padanya dengan malu-malu. Di liriknya jam tangannya, "Kemana si bocah setan itu?" sungutnya.

Bocah setan?

Kau mengatai adik bungsumu dengan kata 'bocah setan'? Kau tak merasa kau sungguh keterlaluan Kim Siwon? Kim Kyuhyun sebenarnya jauh lebih baik dari dirimu.

Sipecundang yang bersembunyi di balik topeng kesempurnaan itu.

Si melankolist yang tak bisa melakukan apapun.

"KENAPA KAU MENINGGALKANKU SIWON?" teriakan tanpa sopan santun yang sebenarnya terdengar dari bocah yang sedang di katai Siwon di dalam hatinya. Kyuhyun memajukan bibirnya, sedikit kesal dengan kelakuan hyungnya yang dengan gampangnya meninggalkannya—pergi ke sekolah sendirian.

Apa kau tak tahu Kyuhyun—ssi, ada orang yang lebih kesal karena di tinggalkan. Orang yang bahkan mungkin sudah kau lupakan. Salah satu hyungmu yang selalu sabar menunggumu dahulu. Apa kau tak ingat? Hyungmu yang selalu membangunkanmu dengan lembut karena suruhan Mommymu. Dia yang setia menunggumu meski dia sudah terlambat. Apa kau tak mengingatnya?

"Salah mu sendiri, kau tak lihat ini sudah pukul berapa?" jawab Siwon santai sambil memutar bola matanya. Jenuh juga mendengar si maknae mengajukan protes.

"Setidaknya kau kan harus menunggu adikmu yang manis ini" Kyuhyun melempar senyuman pemungkasnya pada yeoja cantik berseragam minim yang baru saja lewat. "Noona~" Kyuhyun memanggil gadis cantik tersebut dengan suara menggoda. Di hampirinya gadis tersebut.

"Tuan muda, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi" peringat sang butler yang di tugaskan untuk melayani dan mengawasi Kyuhyun. Kyuhyun berdecih, "Diamlah! Kau mengganggu saja!"

"Noona, boleh ku tahu nomor ponselmu?"

"Dasar anak itu" Siwon memijit pelipisnya. Tak di sangkanya si maknae keluarganya itu sungguh begitu merepotkan. Ternyata benar apa yang di katakan Mommy dan Daddy nya di telepon saat ia masih berada di Jepang. Kyuhyun memang tak terkendali saat bertemu dengan wanita cantik dan sexy.

"Ryeowook—ssi, jika kau mau kau boleh menjadi butler ku saja" Siwon mencoba menawarkan. Kasihan juga melihat namja imut itu harus berusaha begitu susah payah. Dimarahi sepanjang waktu oleh Nyonya Kim karena ketidak becusannya menjaga Kyuhyun. Kenyataannya memang Kyuhyunlah yang tak terkontrol.

Ryeowook—sang butler hanya terdiam menatap majikannya. Menatap Kyuhyun dengan tatapan kecewa yang sulit di artikan. Apakah namja itu menyesal karena di tempatkan di posisi yang salah. Siwon terdiam, dia tak sungguh merasa canggung untuk menarik lengan Kyuhyun. Mata itu jauh lebih menyayangi Kyuhyun dari pada mata para yeoja yang mengharapkan Kyuhyun. Mata itu sungguh lebih perhatian dari mata yang dimiliki oleh Mommy dan Daddy mereka. Dan mata itu jauh lebih kecewa dari mata miliknya karena melihat kelakuan adiknya sekarang.

"Aku sudah mendapatkannya" Kyuhyun memecah keheningan. Dimasukkannya kembali ponselnya ke saku celana seragamnya. "Oke... Ayo kita ke ruang Kepala Sekolah hyung!" pekik Kyuhyun ceria merangkul bahu Siwon. Sementara mata Siwon tak bisa beralih dari wajah sang butler yang kini tersenyum pahit menatap punggung—dongsaengnya.

%ika. Zordick%

Ada apa dengan mereka?

Bukankah mereka sebenarnya satu? Tapi kunjung ingin terpisah.

Satu sisi ingin saling menyatukan, sisi lain ingin berpisah.

Sebuah kejelasan mereka saling merindukan, namun kejelasan lain menegaskan mereka saling terluka.

%ika. Zordick%

4 Maret 2000

Seorang bocah bersurai coklat ikal berlari menelusuri padang rumput yang luas. Senyuman tak kunjung hilang dari wajah tampan sekaligus manisnya. Gelak tawa terus terdengar dari bibir merah ranumnya. "Tuan muda, jangan berlari! Nanti kau terjatuh!" bocah kecil berperawakan manis yang sedikit lebih pendek darinya mencoba mengejar. Kaki kecilnya takkan pernah bisa mengimbangi lari dari bocah yang lain.

BUGGHH...

Bocah bersurai coklat ikal itu terjatuh. "Tuan muda!" membuat bocah perawakan manis mau tak mau mempercepat langkahnya. "Anda baik-baik saja?"

"Gwechana?" bocah tinggi yang terlihat lebih tua dari mereka berlari menghampiri bersama bocah lain yang bersurai hitam kelam. "Kyuhyun, kau baik-baik saja?" terlihat kecemasan di bola mata sekelam malamnya.

Kyuhyun—bocah yang terjatuh itu menangis kencang. "Mommy~~ HUWEEE~~~"

Ryeowook—bocah berperawakan manis memucat. Ia pasti dimarahi lagi setelah ini. Kibum—bocah dengan surai hitam kelam menghapus air mata Kyuhyun. "Jangan menangis, Ryeowook akan di marahi kalau kau menangis!"

Siwon—si sulung mengangguk menyetujui. "Bukankah kau lelaki yang tangguh Kyu, bagaimana mungkin kau bisa menangis hanya karena luka seperti ini"

"Aku tidak menangis" Kyuhyun tak terima. Di hapusnya kasar air matanya. "Bagus, kalau begitu Ryeowook—ssi, tolong obati luka Kyu ya!"

Ryeowook mengangguk senang. Entah bagaimana ia harus berterima kasih pada ke dua Kim yang begitu bijaksana meski usia mereka masih terbilang sangat muda. "Terima kasih Tuan Kibum, Terima kasih Tuan Siwon" ucapnya membungkuk dalam.

Siwon dan Kibum berpandangan. Mereka tersenyum kemudian, "Ayo kita menemui Changmin—ssi dan Yunho—ssi, mereka pasti mencari kita. Kami pergi dulu eoh!" ujar Siwon kemudian. Ryeowook mengangguk.

Siwon berlalu terlebih dahulu, Kibum menatap Ryeowook. "Aku mengerti perasaanmu, aku tidak mau merepotkan Changmin—ssi seperti Kyu merepotkanmu Ryeowook—ssi"

"Hmm? Maksud anda?"

"Anniyo, sebaiknya kau segera membantunya" Kibum mengikuti langkah Siwon kemudian. Menghilang di balik bukit-bukit kecil menghampiri masing-masing butler penjaga mereka yang usianya tak terpaut jauh dari mereka.

Kyuhyun memajukan mulutnya kesal saat melihat Ryeowook yang masih memandang punggung Kibum. "Jangan melihat hyungku!" teriaknya menyadarkan Ryeowook. "Maafkan saya Tuan muda"

"Kau tak boleh melihat orang lain selain aku. Kau dengar Ryeowook—ssi?" teriak Kyuhyun dengan nada memerintah. Ryeowook memiringkan kepalanya bingung. "Kenapa?"

Kyuhyun menggaruk kepalanya. Kenapa? Ia juga tidak tahu kenapa. Hanya saja ia merasakan sebuah perasaan tidak suka saat melihat Ryeowook menatap orang lain selain dirinya. "Yang majikanmu kan aku!" dasar bocah! Padahal usiamu masih terlalu muda untuk bersikap begitu arrogant

"Tuan muda benar. Ahh—baiklah, ayo kita obati!"

Ryeowook meniup luka di lutut Kyuhyun dan mulai mengeluarkan kotak P3K dari rensel yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Karena Kyuhyun—orang yang hanya boleh ia tatap selalu terluka. Ia adalah peri yang akan menjaga bocah egois itu. Menenangkan hatinya dan mengobati lukanya. Menerima semua akibat dari kesalahannya.

%ika. Zordick%

9 Oktober 2012

Siwon melangkahkan kakinya menuju ruang Kepala Sekolah di sekolah barunya. Entah boleh dia percaya atau tidak pada namja yang terpaut lebih muda dua tahun darinya ini. Ia hanya mengikuti langkah sang dongsaeng yang tampak begitu ceria mengetik massage pendek melalui smartphonenya. Tak sulit untuk menebak kepada siapa Kim Kyuhyun melakukan itu. Jelas saja untuk para yeoja yang tak jelas asal-usulnya.

Hati seorang Kim Siwon semakin tak tenang, perasaannya terasa canggung. Hanya firasatnya atau ia memang di awasi oleh seseorang. Sejak ia datang di Korea. "Kyu~" saat Siwon hendak menanyakan apakah sang adik memiliki stalker, Kyuhyun berbalik. "Kita sampai!" dia menunjuk pintu ruang kepala sekolah dengan dagunya.

Siwon mengangguk mengerti, dia mengetuk pintu itu. Namun sebelum tangannya menyentuh pintu kayu coklat tersebut, pintu itu terbuka. BRUGGHHH...

"Aww..." ringis seorang yeoja berambut hitam kecoklatan. Yeoja cantik yang tak perlu waktu lama langsung bisa ditebak berprofesi sebagai seorang guru. Siwon terpaku sejenak, waktu seolah berhenti, hatinya berdebar cepat, aliran darahnya menjadi lebih deras. Obsidian hitam miliknya tak bisa lepas dari wajah cantik bak bidadari sosok yang sedang terduduk di lantai di hadapannya.

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, sedikit heran karena hyungnya yang konon tak pernah bisa menyakiti wanita sedikitpun kini hanya terdiam. Dia kenal yeoja yang terjatuh di sana. Ia tahu dengan baik yeoja yang selalu menghukumnya karena bermain PSP di kelas. Ia juga amat tahu guru yang ia rasa sok ikut campur urusannya.

"Gwechanayo seongsenim" akhirnya Ryeowook lah yang mengambil tindakan untuk mengulurkan tangan pada sang guru. Guru cantik itu menatap Siwon tajam—tidak punya rasa tanggung jawab, sombong dan arrogant itulah kesan pertama yang ia dapatkan atas namja luar biasa tampan di hadapannya tersebut.

"Gamshamida Ryeowook—ssi" Guru—Park Leeteuk tersenyum memamerkan angelic smilenya yang membuat orang bisa yakin bahwa ia baru saja terjatuh dari langit dan kehilangan sayapnya. Amat cantik. Indah dan tak terlukiskan.

Siwon tersadar dari keterpesonaannya saat Kyuhyun menepuk bahunya agak keras. "MAAFKAN AKU! AKU TAK SENGAJA!" Kikuk. Siwon membungkukkan tubuhnya untuk pertama kali pada orang lain selain kedua orang tuanya. Leeteuk tertawa, kesan yang terekam di otaknya berubah. 'Anak ini anak yang baik'.

Kepala sekolah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Berhati-hatilah lain kali Leeteuk seongsenim. Saya sudah menunggu anda Siwon—ssi"

Siwon memberikan senyuman terbaiknya saat membereskan barang-barang sang guru yang ia tabrak. Leeteuk membalas senyum itu, kesan yang ia berikan pada Siwon bertambah saat Kepala Sekolah dengan sopannya mempersilahkan Siwon duduk.

Kim Siwon, si anak yang akan membuat dirinya bermasalah. Sama seperti halnya dengan Kim Kyuhyun. Mereka penguasa yang susah untuk di atur.

"Ryeowook—ah, kurasa kau akan mengalami hari yang sulit karena kau akan menjaga dua tuan muda di sekolah ini" bisik Leeteuk di telinga Ryeowook. Ryeowook tersenyum, ia menggeleng lemah. "Tuan muda pertama jauh lebih dewasa, seongsenim" ucap Ryeowook dengan suara yang ia usahakan kecil.

Leeteuk mengagguk mengerti. She see. Perbedaan manner ke dua Kim itu. Mereka sangat jauh berbeda. Si sulung yang terlihat berkharisma, dan si adik yang tak punya sopan santun. Ketika langkah kaki indahnya yang dibalut high heels berwarna biru aqua itu hendak melangkah pergi, suara sang kepala sekolah menghentikannya. "Miss Park!" panggil sang namja paruh baya tersebut.

Dengan sedikit bersusah payah, Leeteuk membenarkan pegangannya pada buku-buku tebal dan berkas yang sedari tadi ia bawa—yang sempat terjatuh akibat si sulung Kim. "Nee, Sanjangnim. Anda memanggil saya?" tanyanya dengan senyuman yang amat indah kembali terlihat di wajah cantiknya.

"Bukankah kau ada jadwal di kelas XIIA sekarang?"

Leeteuk menaikkan sebelah alisnya, "Nee~"

"Bisakah kau membawa siswa Kim Siwon—ssi bersamamu?"

Leeteuk masih setia dengan senyuman manisnya hingga—

"Ye?"

"Ikutlah bersama Park Seongsenim!" namja paruh baya itu melirik Siwon yang hanya bisa membatu di tempatnya. Tentu saja ini anugerah baginya, siapapun bisa menebak ia sedang jatuh cinta pada guru cantik itu. Ya~ tentu saja bagi kita yang peka dan menghargai cinta.

PRAANGG...

Hancur sudah hari bahagia Leeteuk. Cukup satu Kim yang ia tangani dan kini ia harus berjalan bersisian di satu lorong yang sama bersama Kim lainnya. Hah~ DUNIAnya hancur!

%ika. Zordick%

5 Januari 2003

Wajah pucat anak yang sedang berada di kursi roda itu masih terlihat begitu murung. Tiada senyuman indahnya yang biasa ia tunjukkan, tak ada wajah tampan dengan rona kebahagian lagi. Hanya dia yang terpuruk. Hanya dia kecewa. Hanya seorang bocah yang merasa—sendirian.

Kim Kibum—tidak, dia Tan JiFan, bocah blasteran China Korea yang menawan. Hatinya hancur sehancur tubuhnya. Hidupnya hilang seiring dengan kejiwaannya yang terseret kesedihan yang semakin mendalam. "Jifan... Selamat datang kembali di rumah" teriak seorang yeoja cantik sekaligus manis bersurai hitam kelam padanya.

Kibum masih diam, dia menatap sekelilingnya. Dia rindu rumah.

Tapi dia sudah sampai di rumah.

"Rumah?" tanyanya—entah pada siapa. Entah pada sepasang suami istri yang ada di hadapannya. Sang namja yang memang ayah kandungnya atau pada sang ibunda tiri yang begitu menyayanginya. Ataukah ia sedang bertanya pada dirinya sendiri sekarang. Dirinya yang tampak begitu menyedihkan bagaikan seorang bocah jalanan yang tak terawat lagi. Seolah kedua orang tuanya telah tiada.

Mereka memang telah tiada...

Tapi bukankah kau sudah dapat gantinya? Kibummie...

Dia tertawa meremehkan. Senyuman getir terlihat dibibirnya yang pucat dan kering. "Rumah?" tanyanya kembali. Mungkin pada salju di luar sana yang sedang turun menghapus warna dunia menjadi kembali suci dan bersih. Putih—warna kesukaannya.

"Ini bukan rumahku, ahjussi" ucapnya polos namun dengan suara begitu lemah pada sosok namja China bertatapan sama polosnya dengannya. Begitu mirip. Begitu sama. Bukankah mereka terlihat begitu mirip?

Deg...

Deg...

Ya... itu bukan rumahmu.

Ini bukan rumahmu Kibummie. Rumahmu adalah kediaman keluarga Kim. Meski kediaman itu tak sebesar kediaman Tan. Tak semewah kediaman Tan. Namun rumah itu menjadi saksi begitu besarnya cintamu pada keluarga Kim.

Raut wajah Sungmin berubah. Senyuman yang merekah pada bibir pink alaminya berubah menghilang. Raut kekecewaan jelas terlihat di ukiran wajah cantiknya. Dicengkramnya kuat lengan Hangeng—suaminya. Untuk menguatkannya, untuk meyakinnya bahwa ia masih baik-baik saja meski rasa sakit di dadanya semakin menjadi. Meski duri-duri itu kembali menancap di hati bersih seperti salju di luar sana.

"Ini rumahmu sayang—rumah barumu" ucap Hangeng menatap dalam mata hitam kelam yang sama seperti miliknya. Berjongkok di hadapan bocah berkursi roda itu. Memberikan senyuman penuh kasih sayangnya. Tapi sialnya, bocah itu tak membalas senyumannya. Bocah itu menangis. Kibumnya menangis.

"Mommy... Daddy..." rengek Kibum. "Bummie mau bertemu Mommy dan Daddy"

Sungmin menunduk, mengusap lembut surai hitam pendek Kibum. "Kami Mommy dan Daddymu Jifan"

Begitu lembut. Kelembutanmu takkan menghasilkan apapun Tan Sungmin. Bocah itu tak pernah menganggapmu sebagai ibunya. Kaulah yang membuatnya hancur seperti ini.

Kibum menepis kasar tangan Sungmin di kepalanya. "Ahjumma~, kumohon bawa aku kembali. Aku rindu ibuku. Aku rindu ayahku" Kibum menatap Hangeng dengan penuh harap. Berharap sang ayah akan luluh dan membiarkannya pergi.

"Yesung—ssi!" panggil Hangeng penuh wibawa pada seorang remaja yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia membungkuk formal, penuh rasa hormat dan keeleganan layaknya seorang butler profesional yang bergaji mahal. "Saya di sini tuan besar"

"Bawa Tuan mudamu ke kamarnya!" perintah Hangeng mutlak, berusa menulikan telinganya dari jerit tangis sang anak dan membutakan matanya untuk melihat air mata serta penolakan dari sang bocah yang mewarisi ketampanannya tersebut.

BRAAKK...

Kibum terjatuh, nafas Sungmin semakin tercekat. Ribuan atau bahkan jutaan solusi tak berguna berputar di kepalanya. Pilihan-pilihan yang seolah sia-sia menjadi momok yang membuatnya frustasi. "Hangeng—ah! Kumohon!"

Anggaplah sebagai nalurinya sebagai seorang ibu yang tak ingin kehilangan anaknya. Seorang ibu yang tak ingin anaknya terluka. Bukankah kau begitu mulia ibu? Bukankah kau seharusnya mendapatkan penghargaan tertinggi atas kesucian hatimu untuk bocah yang bahkan tak pernah kau lahirkan dan kau kenal sebelumnya. Dia—bocah itu, anak haram suamimu. Kau harusnya mengutuknya. Kau harusnya membuangnya. Jika bisa kau harusnya membunuhnya sekarang juga.

Yesung terdiam, pertama kalinya ia melihat sang Nyonya Besar berlutut dan melakukan hal yang membuang harga dirinya yang amat terhormat itu. Hanya demi seorang bocah cengeng yang kini terisak menahan perih di hati dan tubuhnya? Sehormat apapun Sungmin pada Hangeng—suaminya, baginya haram untuk menunjukkan sisi lemahnya. Ia seorang penerus di sini bukan? Dia dibesarkan di keluarga terhormat sebagai orang yang punya kekuasaan dan keji.

"Apa yang kau lakukan?" mata Hangeng membulat terkejut. Segera di raihnya lengan Sungmin, mengangkat istrinya agar berhenti melakukan hal bodoh yang takkan bisa merubah keputusannya. "Kembalikan Kibum pada keluarganya, kumohon!"

"KAU GILA!?" Sungmin mendongak, menemukan sosok sang ayah yang sedang menatapnya nyalang. "Aku tak ingin anak itu menderita Aboeji. Kembalikan dia ke tempat yang seharusnya"

PLAAKKK...

Hangeng menutup mulutnya. Ia semakin tak percaya dengan tingkah sang mertua pada istrinya. Kibum bahkan berhenti menangis melihat kekerasan di depan matanya. Ini yang kedua kalinya, setelah adegan kedua mantan orangtuanya berkelahi karenanya. Sekarang, seorang ahjumma yang baik hati dimatanya itu harus di tampar oleh seorang yang terlihat begitu jahat.

"Anak ini! Adalah cucuku! Apa ada yang kurang jelas dengan itu?" namja yang mengenakan tradisional Korea itu terlihat begitu mengintimidasi di ruangan luas tersebut. Ia mengangkat tubuh Kibum yang menegang saking takutnya pada sosoknya. "Kau, kenapa kau begitu tak berguna? Ajari istrimu dengan baik, atau lebih baik kau ceraikan saja!"

"ABOEJI!"

"Jika ada yang membawa cucuku pergi dari sisi keluarga besar Lee dan Tan, kupastikan aku dan ayahmu Hangeng—ah, akan menghancurkan keluarga yang menampung cucuku ini"

Kibum bukan anak bodoh. Ia tahu maksud dari kata-kata tersebut. Keluarga Kim hancur? Mommynya akan menderita, Daddynya akan kelelahan dan kedua saudaranya akan bersedih. Bagaimana mungkin? Karena dia? Kenapa harus selalu karena dia?

"Hiks... hiks..." isakkan itu runtuh juga. Air mata itu mengalir kembali. "Haraboeji... hiks... hiks..." lirih. Panggilan yang memilukan itu terdengar dari bibir pucat sang bocah cerdas. "Anak pintar, ayo kita bertemu dengan yeye mu di China"

%ika. Zordick%

14 February 2003

"Tuan muda, apa kau tak bosan melakukan itu?" tanya seorang maid pada seorang bocah yang masih sibuk melipat origami agar menjadi burung-burung yang begitu cantik. Bocah itu melirik sang maid yang sedari tadi tampak bosan memandangi tingkah sang majikan tapi tidak untuk wajah tampan yang dimiliki oleh anak yang belum genap berusia tujuh tahun tersebut.

Kibum—sang Tuan muda tak mengalihkan pandangannya. "Kau sendiri tak bosan melihatku terus?" balas Kibum dengan wajah dan nada yang begitu datar. Yesung—sang butler menatap tajam sang maid, memberi isyarat agar segera menyingkir. "Jangan terlalu kaku, Yesung—ssi!" peringat Kibum saat maid itu pergi menghilang dari pandangannya.

"Bukankah kau tak menyukainya?"

"Tapi sepertinya aku lebih tak menyukai Sungmin—ssi, bisakah kau menyingkirkannya untukku juga?"

"Berhentilah berbicara bodoh! Tuan muda..." Yesung seolah tak mau kalah dalam berdebat dengan sang majikan yang jauh lebih muda darinya tersebut.

Kibum menarik sayap burung kertasnya. "Selesai" gumamnya lebih riang dari biasanya. Membuat Yesung harus bersedia berdiri lebih dekat dengan Kibum. Apa gerangan yang sedang dilakukan sang tuan muda yang biasanya bersedih itu hingga menjadi ceria seperti ini?

"Apa itu?"

"1001 burung dari kertas. Aku sudah membuatnya, apakah permintaanku akan terkabul?"

Yesung tersenyum samar. Bocah ini...

Bocah yang sama dengan yang kecewa beberapa bulan lalu. Bocah yang berusaha menjadi yang terbaik untuk melindungi keluarganya. Bocah bodoh yang tak mengerti bahwa keajaiban itu omongkosong.

Yesung bisa menebaknya, apa yang akan di minta sang bocah.

Kembalikan aku kepada keluargaku,Tuhan...

Namun ia harus bersedia menelan ludah takjub. Bocah itu tak sepolos dan senaif yang kau kira Yesung—ssi. Dia jauh lebih kuat dan lebih mengerti arti kekecewaan. "Coklat valentine ini, biarkan aku memberikannya pada seorang yang tepat. Bukan pada Mommy lagi! Kumohon!" gumam Kibum sambil memejamkan matanya.

Sakit...

Tentu saja, mungkin tak lama ia mengenal Tan Jifan—Tan Kibum, tapi selama waktu sebentar itu ia terus berdiri di sisi sang tuan muda. Ia tahu watak kokoh sang majikan. Ia tahu betapa sakitnya dan menderitanya orang yang terus berharap. Rasanya ia jauh lebih beruntung, ia tak mengenal orang tuanya dan diasuh oleh kelurga Lee untuk menjadi seorang pelayan. Inilah artinya 'Bersyukurlah atas apapun di hidupmu' karena ada orang yang mungkin jauh lebih sedih hidupnya darimu.

"Aku bisa mengantarkannya untuk Mommymu jika kau memerintahkannya, tuan muda" bahkan Yesung yang terkenal tak punya hati pun turut tersentuh. Bagaimana mungkin seorang butler berwajah datar dan tak berhati sepertinya mampu melakukan hal yang begitu baik?

Kibum mendongak, menatap wajah dingin yang sepertinya memang wajib di miliki oleh semua orang di keluarga Lee dan Tan di hadapannya. Tatapan teduhnya sungguh membuat Yesung tersiksa. "Bolehkah aku memintamu untuk membunuhku, Yesung—ssi?"

"Aku tak bisa, maaf" Yesung menunduk. Kibum terkekeh, tapi sirat terluka terlihat diwajahnya. "Aku bercanda, kalau begitu bisakah kau mengantarkanku di ruangan Yeye"

"Baiklah"

%ika. Zordick%

Desiran angin lembut, dipenghujung musim dingin terasa sejuk. Yesung mengeratkan syal yang terpasang di leher Kibum, tak ingin sang tuan muda yang memang berkondisi lemah itu harus sakit lagi. "Yeye..." panggil Kibum saat melihat seorang namja tampan bertubuh tegap yang mengenakan pakaian tradisional China yang terlihat mengembangkan senyuman untuknya.

"Kenapa kau membawanya kemari di cuaca yang sedingin ini?" Sang kakek sepertinya amat menyayangi cucunya. Kibum menggeleng, "Aku yang memintanya"

"Benarkah? Kau ingin bertemu dengan noona-noona cantik Jifan?"

Kibum memiringkan kepalanya. Bingung dengan apa maksud sang kakek. Noona cantik? Ditempat kakeknya? "Bawalah dia ke dalam Yesung—ah, jika ada yang dia sukai beritahu aku"

Yesung mengangguk mengerti dan mempersilahkan sang tuan muda. Kibum memasuki ruangan yang sama sekali tak pernah ia masuki sebelumnya. Puluhan gadis yang mungkin tak lebih tua dari Yesung terlihat duduk disana bagaikan boneka. Wajah mereka terlihat begitu terluka, tatapan mereka kosong meski bola mata mereka begitu indah.

"Mereka seperti—"

"Diriku" ucap Yesung pelan. Kibum melirik sang butler. Yesung tersenyum, "Hanya saja aku beruntung karena lebih terhormat untuk berjalan di belakangmu dan melayanimu seumur hidupku dengan nama Lee di sisiku"

Kibum menghampiri salah seorang gadis di sana. Gadis yang entah mengapa membuatnya hatinya menghangat di dinginnya cuaca. Gadis yang membuat jantungnya berdetak, membuatnya terasa lebih hidup. Sepertinya Yesung sudah menemukan gadis yang bisa membuat cucu sang kaisar bergetar. Ia bisa menduga kalau gadis itu akan menjadi sex doll keluarga itu. Kibum akan diajarkan untuk tak pernah jatuh cinta pada gadis pelacur. Dia akan jauh lebih menderita lagi.

"Noona~" panggil Kibum lembut. Gadis itu tersenyum, memamerkan wajah cantiknya yang bagaikan ukiran indah langsung dari Tuhan. "Siapa namamu?"

"Lee Donghae"

Kibum tersenyum, "Kau cocok dengan pakaian sutera biru ini. Cantik" polos. Kibum hanya seorang yang polos. "Aku Kim Kibum"

"Tuan muda" Yesung memperingatkan. "Aku Tan Jifan, ini coklat untukmu"

"Terima kasih, apa kau datang untuk membeliku?"

"Membeli? Kurasa tidak..."

"Kalau begitu aku tak pantas menerima coklat ini, tuan. Aku hanya seorang pelacur"

%ika. Zordick%

1001 burung kertas...

Kalian dengar permohonan manusia tak sempurna ini.

Dia meminta untuk bisa mencintai, dan saat ia menemukannya.

Ia tak pantas. Bukan karena cintanya yang terlalu sempurna.

Melainkan, dialah yang membuatnya terlihat tak sempurna dengan keberadaannya.

%ika. Zordick%

9 September 2012

"Ah bu.." Kibum membuka matanya. Wajah cantik Sungmin langsung menyapa retinanya. Panggilan yang begitu diinginkan Sungmin terdengar. Panggilan yang begitu lama tertanam di bibir merah menawan hati tersebut.

Sungmin hampir saja menangis di tempatnya berdiri. Takjub sekaligus bahagia kini memenuhi hati bersihnya. Tak sia-sia harapannya selama ini. "Jifan..." Sungmin menutup mulutnya. "Kibummie~"

GREEB...

Kibum memeluk Sungmin erat. "Mei you, ah bu. Wo se Tan Jifan. Wo se ni te erl" Kibum sudah memantapkan hatinya. Sudah saatnya ia berbahagia di akhir hidupnya. Sungmin—ibunya terlalu menderita selama ini karena dirinya. Biarkan ia memberikan kebahagiaan untuk keluarga yang memberikannya kesungguhan kasih.

"Kau kenapa A-Fan?" mata Hangeng terbelalak melihat adegan penuh kasih putra dan istrinya tercinta. Ayolah, ini hal langka.

"Biarkan aku bahagia" gumam Kibum yang bisa di dengar jelas oleh Sungmin. Sungmin lebih mengeratkan pelukannya pada tubuh Kibum. Tak ada lagi keraguan dalam hatinnya, "Aku akan membuatmu bahagia anakku" lirihnya lembut.

Biarkah aku bahagia di sisa umurku.

6 bulan... bukankah waktu yang singkat, jangan biarkan aku menangis dan menderita lagi.

Jangan biarkan aku berharap dan kecewa lagi!

Biarkah aku menjadi diriku yang berbeda.

Aku hanya ingin merasakan cinta dari mu, dari ah bu dan aku membalas cintanya.

Dari baba dan aku menghormatinya layaknya ayah.

Dari ibu kandungku, meski bentuk yang ia berikan akan berbeda.

Dari kekasihku, aku akan menikahinya dan menjadikannya seorang terhormat.

Dari mereka yang melupakanku, aku akan membuat mereka mengingatku dan menyesali segalanya.

Tan Ji Fan.

TBC

Hah~~

Inilah FF yang paling membuatku resah dan agak panas dingin nulisnya #plaakk

Ada yang bertanya mengapa?

Karena saya kena bash! #jduak

Seumur-umur siapapun tahu bahwa saya adalah author jenis random pair, jadi bagi yang melihat nama ika zordick, maka yang terlalu fanatik pada pure pair tolong menjauh. Huft... ini daya kreasi seorang penulis saja, tak minta lebih. Saya hanya ingin orang tak bisa menebak cerita saya dan tahu akhirnya seperti apa.

Thankyou!

Lalalalalla~~~