Title : A Story Five Absurd Girl ( Chapter 2 )

Main cast

Kim Kibum x Annishi (KiAnn)

Park Leeteuk x Lenny (TeukLenn)

Cho Kyuhyun x Emon el (KyuMonn)

Kim Yesung x Lizz Danesta (YeLizz)

Lee Donghae x Pigu (DongGu)

.

Note : Ini hanya imajinasi semata. Tolong pengertiannya Buat Lizz, Emon, Nishi dan Pigu! Maaf karena menjadikan kalian tokoh dific yang tidak awesome ini..hehe XD. Tambahan karena cerita ini ingin dibuat secara natural jadi mungkin akan jadi banyak chap.

Karena kelima tokoh dan pasangannya masing-masing butuh kealamian saat bertemu hingga mereka benar-benar jadi pasangan. Oh satu lagi dan fic ini sungguh ala drama sekali hahaha

Warning : Straight/ Bahasa tidak baku/ Typo/ DLDR/ No Bash

.

.

.

Happy Reading

.

#Cinta Pandangan Pertama#

.

~LennyChan~

Kelima yeoja absurd yang tadi pagi membuat keributan tidak jelas. Akhirnya bisa bernafas lega juga karena sudah sampai dikampus mereka. Meski kelimanya harus berpisah saat itu juga karena ada kelas pagi masing-masing yang akan segera dimulai.

Kecuali satu yeoja yang terlihat masih sangat mengantuk. Bagaimana tidak jika pagi ini Pigu harusnya bisa tidur lebih lama lagi karena tidak ada mata kuliah sama sekali sampai siang nanti. Jujur saja ia ingin sekali mengamuk pada ke empat sahabat ajaibnya itu.

Yeoja tersebut sesekali masih menguap tidak peduli sama sekali dengan bisik-bisik tetangga sekitar alias teman-teman kampusnya yang tengah diam-diam membicarakannya. Masa bodoh pikirnya.

Pigu merasa matanya semakin mengantuk tapi ia juga lapar karena tidak sempat sarapan. Lagipula bagaimana mau sarapan bangun saja langsung pergi ke kampus. Entah kenapa Pigu merasa ia butuh asupan tenaga. Yeoja itupun memutuskan untuk pergi kearah kantin dan menunggu keempat sahabatnya yang lain disana.

Mungkin karena masih mengantuk. Pigu tidak menyadari bahwa dibelakangnya terlihat seorang namja tampan yang tengah berlari-lari dengan terburu-buru. Dan tanpa sengaja menabrak punggung mungil miliknya yang langsung tersungkur begitu saja dengan tidak elitnya. Karena pipinya yang lebih dulu mencium lantai koridor kampus.

"Aww Appo! pipiku." Ringis Pigu langsung saja bangkit dari posisi jatuhnya yang tidak elit. Tangan kanannya memegangi pipinya yang tadi mencium lantai. Bibir mungilnya mengerucut dan ia mendelik sadis pada orang-orang yang menertawakannya. Secara terang-terangan pula. Dan dalam hati Pigu berjanji akan melabrak seseorang yang membuatnya malu

Saking fokusnya merapal sumpah serapah Pigu sampai tidak menyadari, jika namja tampan yang menabraknya itu kini tengah berdiri tepat disampingnya. Jelas sekali ia merasa bersalah pada gadis tersebut. Meski tak dipungkiri juga seulas senyum geli terpatri diwajah tampan miliknya.

"Apa kau tidak apa-apa nona?" Mendengar nada suara seorang namja disampingnya membuat Pigu tersadar dari gerutuannya sendiri. Dan yeoja itupun bersiap untuk memaki sang pelaku.

"YAK KALAU JALAN PAke ma_ta." Pigu tanpa sadar semakin memelankan nada suaranya.

Yeoja itu mematung ketika menatap wajah sang penabrak yang ternyata_

"Oh ya Tuhan, sungguh amat sangat tampan. Tolong siapa saja cubit tangannya, apakah ia sedang bermimpi atau ini memang nyata? Bertemu makhluk ciptaan Tuhan yang paling tampan dan sexy. Mama, Pigu jatuh cinta." Teriak batin yeoja itu histeris.

"H-hey kau baik-baik saja kan? Aku minta maaf ne, Aku sedang terburu-buru. Jadi tidak apakan jika aku tinggal?" Tegur namja tampan itu khawatir. Karena yeoja yang ditabraknya hanya diam saja sembari menatap wajahnya tanpa kedip.

Sedangkan Pigu sepertinya sama sekali tidak mendengarkan apa yang diucapkan namja tampan tadi yang sudah menghilang dari pandangannya.

Karena saat ini yang ada dipikirannya atau mungkin imajinasinya. Wajah namja tampan dihadapannya tadi seolah terlihat dihiasi bunga-bunga indah bermekaran.

Sama persis seperti komik shojo yang suka dibaca oleh salah satu sahabatnya. Dimana sang tokoh pria begitu tampan bak pangeran. Dan Pigu merasa ia baru saja menemukan pangerannya

~LennyChan~

Di lain tempat tepatnya diruang perpustakaan. Yeoja itu Nishi justru tengah diliputi aura suram. Bagaimana tidak jika buku yang ingin diambilnya terletak cukup tinggi untuk ukuran tubuh mungilnya dan demi apapun yeoja manis satu itu, ingin sekali mengutuk dosen ternistanya yang sepertinya sengaja tengah mengerjainya.

Untuk kesekian kalinya masih dengan perasaan gondoknya, Nishi kembali berusaha menjinjitkan kakinya bahkan ia sampai harus berdiri diatas ujung jari jempol kakinya agar bisa meraih buku tersebut.

Sayang seribu sayang, derita memiliki tinggi badan yang pendek mungkin. Karena untuk kesekian kalinya ia gagal lagi. Jika saja yeoja itu tidak ingat ini perpustakan, Nishi pasti sudah mencak-mencak tidak jelas sedari tadi.

"Hah !" Nishi menghela nafas lelah.

Sekali lagi dan sekali lagi tapi tidak berhasil juga. Yeoja itu angkat tangan menyerah. Bodoh amat dengan tugasnya, ia capek sekali dan sialnya hanya gara-gara satu buku yang menjadi tergetnya. Dan Nishi sungguh merutuki nasib malangnya, karena sedari tadi ia tidak juga melihat satu orang namja disini untuk dimintai pertolongan.

Dengan kesal Nishi kembali mencoba menjulurkan tangannya. Tapi yeoja itu tersentak ketika dirasanya ada sebuah dada bidang yang menghimpitnya, yang otomatis menjepit tubuh kecilnya diantara rak buku dan juga tubuh yang sepertinya milik seorang namja. Demi apapun Nishi menyukai aroma tubuh itu.

Aroma maskulin dari seorang Pria, apalagi ketika iris matanya menangkap sebuah lengan kokoh yang terjulur untuk mengambil buku yang menjadi targetnya.

Tunggu! mengambil buku yang sedari tadi menjadi incarannya? Andwae! Jerit batin Nishi tidak terima.

Setelah dirasa namja tadi sudah menjauhkan tubuhnya. Yeoja itu baru saja akan menyemprot namja tersebut karena hendak mengambil bukunya. Tapi Nishi yang sudah membuka mulutnya terpaksa harus menutup mulutnya kembali. Dan ia malah mengerjap imut, ketika namja itu menyodorkan buku yang diambilnya tadi.

"Untukmu!" Suara datar namja itu terdengar singkat, jelas dan padat.

Dan ketika yeoja itu mendongak untuk menatap sang namja yang ternyata penolongnya tersebut. Dirinya tertegun, karena Namja didepannya ini ternyata tampan. Sangat tampan seperti Pahatan Patung Dewa dalam Mitologi Yunani Kuno.

Nishi harus mengakui bahwa wajah namja itu begitu datar, sedatar lantai rumah kosan murahnya. "Mimpi apa semalam, hingga dirinya dipertemukan dengan makhluk tampan super datar? Tuhan, apakah dia yang akan menjadi calon appa dari anak-anak ku kelak?" Pertanyaan absurd itu tiba-tiba saja melintas dipikirannya.

Yeoja itu sepertinya tidak menyadari bahwa tatapan namja didepannya ini semakin datar.

"Te-terima kasih." Ucap Nishi terbata

"Hn." Jawabnya singkat dan meninggalkan Nishi yang masih terpesona melihatnya.

Setelah namja tampan itu benar-benar menghilang dari pandangannnya. Nishi merasa suasana di sekelilingnya mendadak berubah penuh hujan bunga, dan tanda berbentuk hati sejauh matanya memandang. Hingga tanpa sadar yeoja itu malah jejeritan.

"Kyaaa... kyaaa... kyaaaa, Tampannya. Ya Tuhan tampannyaaaaaaa_". Teriaknya histeris, Dan_

"BUK!" Sebuah buku melayang kearahnya.

Upzz! Ia lupa bahwa dirinya masih di dalam perpustakaan.

~LennyChan~

Sedangkan di tempat Lizz, yeoja itu tengah berjalan dikoridor sembari membawa beberapa tumpukan buku super tebal dikedua tangannya. Lizz menghela nafas berat. Entah kenapa hidupnya terasa mengenaskan sekali.

Sudah ngekos ditempat yang murah, kecil pula. Dan parahnya harus rela berbagi dengan keempat orang yeoja lainnya. Kuliah mendapat dosen yang sialnya_

ya Tuhan kenapa hampir semuanya killer? Senang sekali pula menyiksa mahasiswi lemah sepertinya. Dosa apa dan salah apa coba Lizz pada para dosen itu. Padahal dari dulu seingatnya sejak ia kecil sampai sekarang. Ia tidak pernah menjadi anak yang nakal. Tanya saja sama mama dan papanya. Tapi Ngomong-ngomong kenapa ia jadi berpikir absurd seperti ini.

Lizz masih menggerutu kecil diperjalanan menuju ruang dosen untuk menaruh buku-buku super berat yang ada ditangannya. Tapi yeoja itu mendadak menghentikan langkahnya tatkala telinganya mendengar suara alunan musik dari ruangan yang berada tepat disampingnya saat ini.

Karena jiwa penasarannya yang mulai kambuh, Lizz dengan langkah pelan mencoba mengintip kedalam ruangan yang ternyata memang ruangan seni musik. Yeoja itu mengabaikan beban yang ada ditangannya. Ia lebih tertarik untuk menengok kearah jendela ruangan tersebut.

BRUUUKKKK...!

Tanpa sadar Lizz menjatuhkan semua buku-bukunya. "Omonaaaa, apakah matanya tidak salah lihat? Kenapa ia baru tahu kalau dikampusnya ada namja super tampan? A-apakah ini sebuah takdir baik untuknya dan dia adalah jodohku?" Innernya.

memikirkan pemikiran dadakannya membuat pipinya terasa memanas. Lizz langsung saja menangkup kedua belah pipinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan rona yang tiba-tiba muncul diwajahnya. "Mikir apa dia barusan, tapi berharap tidak apa-apakan?"

Mungkin karena sibuk perang batin antara berharap atau tidak berharap bahwa namja tampan tapi memiliki kepala yang melebihi sedikit normal, yeoja manis itu tidak sadar kalau sang objek yang menjadi pemikirannya kini sudah berdiri tepat didepannya. Dan tengah mengambil buku-buku yang tanpa sengaja dijatuhkannya.

"Kau menjatuhkan semua buku mu." Suara bariton yang merdu itu, seketika membuat kesadaran Lizz kembali.

Yeoja itu menatap wajah namja tampan yang tadi sempat mengalihkan dunianya. Mendadak rona diwajahnya kembali muncul. Lizz menunduk malu. Apalagi saat melihat namja tampan itu menyerahkan buku-bukunya.

"Go-gomawo." Ucap Lizz gugup."Ya Tuhan, kenapa aku deg-degan ya?" panik Lizz dalam hati . Sembari mengambil buku-buku itu dari tangan namja tersebut.

"Hm." Ucapnya singkat

Lizz terpaku ditempat, Pandangan matanya menatap lurus punggung namja tampan itu yang semakin menjauh dari pandangannnya. "Mama Papa sepertinya Lizz jatuh cinta."

Dan setelahnya disepanjang perjalanannya ke arah ruang dosen. Entah kenapa semuanya terasa menyenangkan. Bahkan yeoja itu bisa melihat bahwa disetiap langkahnya, seolah tengah berjalan diatas karpet merah dan entah sejak kapan pula buku ditangannya telah berubah menjadi bunga mawar putih yang cantik. Ah, kenapa cinta begitu indah!.

~LennyChan~

Dan disalah satu koridor yang menuju ruang sastra. Lenny, yeoja manis itu terlihat amat sedang terburu-buru. Sesekali kaki mungilnya berlari kecil agar cepat sampai diruang kelasnya. Tapi kenapa rasanya kelasnya mendadak terasa begitu jauh.

Ayolah dirinya bahkan sudah terlambat sepuluh menit. kenapa tidak sampai-sampai sih, rutuknya dalam hati kesal. Bahkan yeoja itu tanpa sengaja jadi sering menabrak orang yang berpas-pasan dengannya. Yang membuatnya harus sering membungkuk pula untuk minta maaf.

"Hey jalannya hati-hati." Tegur yeoja yang tidak sengaja disenggol oleh Lenny karena yeoja itu yang berlari-lari dikoridor seenaknya.

"Mianhae, aku sedang buru-buru." Sahut Lenny cepat dan membungkuk sekilas.

Sebelum kembali berlari dengan sekuat tenaga. Tuhan, semoga Jung kangsanim belum datang. Doa yeoja itu penuh harap dalam hati. Meski ia yakin itu sangat mustahil.

Saking terburu-burunya, yeoja itu semakin mengencangkan larinya. Demi Tuhan, rasanya kedua kakinya sudah mau patah. Ini sungguh penyiksaan fisik namanya. "Harusnya tadi ia bolos saja sekalian." Gerutu Lenny tidak jelas.

Yeoja tersebut bahkan tidak memperhatikan ke depan, karena kepalanya yang tertunduk sambil berlari. Otomatis ia jadi tidak melihat, sesosok namja tampan dengan wajah malaikatnya yang juga terlihat tengah fokus dengan lembaran-lembaran kertas yang ada ditangannya tengah berjalan berlawanan arah dengannya.

Dan hanya butuh sepersekian detik untuk keduanya_

BRUUUGGG_

SRAAKKK_

UHH_!

Saling bertabrakan, Kedua pasang iris milik Lenny maupun seseorang yang ditabraknya sama-sama membulat sempurna. Apalagi semua lembaran kertas yang tadi dipegang oleh namja tampan itu, kini semuanya bertebaran dan tepat menjatuhi kepala milik keduanya.

Dan ketika itulah kedua pasang iris mereka bertemu. Yeoja itu terdiam, entah kenapa ia merasa bahwa semua suara disekitarnya seketika menghilang tergantikan dengan suara musik alunan yang begitu indah. Ketika menatap sepasang mata milik namja tampan tersebut.

"Dan sejak kapan lembaran-lembaran kertas itu berubah jadi kelopak bunga? Ataukah ia hanya sedang berimajinasi?. Pikirnya dalam hati.

Lenny masih terdiam dan mengerjap bodoh kearah sang namja yang sepertinya terlihat sedikit kesal. Dan demi apapun yang ada didunia, yeoja itu bisa merasakan ada debaran asing yang dirasakannya dihatinya. "Umma, anakmu ini sepertinya jatuh cinta!" Cicit Lenny dalam hati.

"Hm, bisakah kau singkirkan kakimu dari kertas-kertas ku." Suara namja tampan bak malaikat yang ada dihadapannya itu. Langsung menyentak yeoja yang sedari tadi terdiam bengong tersebut.

Refleks Lenny menatap kearah bawah kakinya. Dan ia kembali membulatkan matanya saat dilihatnya bahwa kakinya berdiri diatas kertas-kertas milik sang namja. Yeoja itupun langsung menyingkirkan kakinya dan mulai memunguti lembaran kertas tersebut.

"Ma-maaf aku tidak sengaja. Sungguh aku tidak sengaja." Masih dengan posisinya yang tengah memunguti lembaran itu.

Lenny terus saja minta maaf. Dilihat darimanapun jelas sekali jika gadis tersebut tengah panik.

Yeoja itu tidak sadar, seulas senyum tipis terlihat diwajah tampan namja itu. Setelah selesai Lenny langsung menyodorkan kertas yang sudah dikumpulkannya.

"Se-sekali lagi maafkan aku." Ucapnya gugup

"Lain kali berhati-hatilah." Jawab namja itu santai.

Namja itupun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan yeoja yang masih terdiam memandangi kepergiaannya. Dan seulas senyum tersungging manis diwajah Lenny.

Yeoja itupun berbalik kembali melangkah menuju ruang kelasnya. Kali ini ia tidak berlari, melainkan melompat-lompat kecil dengan penuh suka cita. Dan hari ini untuk pertama kalinya mungkin mendengar ceramah dari Jung Kangsanim akan sedikit lebih menyenangkan.

~LennyChan~

Dan ditaman belakang kampus Emon justru tengah merutuk kesal. Bagaimana tidak, gara-gara terlambat ia jadi tidak diijinkan masuk kelas. Sialnya Ryewookie teman satu jurusannya malah tidak membawa pula buku makalahnya yang berisi semua tugasnya dari Shim Kangsanim. Lengkap sudah penderitaannya hari ini. "Tuhan sebenarnya Emon salah apa?" Teriak batin yeoja itu miris.

"Ckkk Ryewook sialan, awas saja anak itu, akan aku labrak jika ketemu." Sungutnya kesal sendiri.

Emon hanya mondar-mandir sedari tadi dipinggir semak-semak. Tentu saja dengan berbagai kegalauannya.

"Arrhhgg_ bagaimana kalau nanti Shim kangsanim malah memberi ku nilai C, padahal aku sudah mengerjakan tugasnya?" Memikirkan hal itu mendadak kepala Emon terasa pening.

"Andwaeeee_." Teriak yeoja itu frustasi.

SRAKKK_SREEKKK_

Mendengar suara disemak-semak yang tiba-tiba grasak-grusuk membuat Emon terkejut. Tanpa sadar gadis itu mundur beberapa langkah dari tempatnya. Berusaha menjaga jarak dari suara tanpa wujud tersebut.

"Si-siapa disana? U-ularkah?" Astaga, entahlah karena otak yeoja manis itu tengah frustasi atau memang sedang tidak berfungsi dengan baik. Hingga menebak sekenanya.

"Huh, kau tau? Kau yeoja terberisik yang pernah ku temui." Sahut seseorang dari balik semak-semak. "Suara seorang namja." Pikir Emon.

Yeoja itu sontak semakin memundurkan dirinya menjauh, apalagi saat seseorang mendadak muncul dari arah semak-semak dan berdiri didepannya sembari memegang sebuah benda pipih hitam ditangannya tanpa melirik sedikitpun kearahya

Dan Emon langsung membatu ditempat setelah melihat wajah namja tersebut. " Oh God, pemuda didepannya ini kenapa begitu tampan? Aigoooo, lihat pipi chubbynya itu terlihat menggemaskan sekali."

Tanpa sadar yeoja itu menyentuh kedua belah pipinya sendiri. Dalam hati ia gemas, sangat gemas dengan pipi chubby namja itu. Dan_

"eh kenapa perasaanku sesenang ini? Ke-kenapa dengan jantungku, kenapa deg-degan begini?" Jerit inner Emon histeris.

" Apakah ini yang namanya cinta pandangan pertama?" Jujur saja memikirkannya membuat batin yeoja itu meringis.

Yeoja itu tidak sadar, kalau namja tersebut tengah menatap lekat kearahnya. Bahkan saat tangan namja itu tiba-tiba saja mengusap kepalanya. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Emon yang hanya mematung karena terlalu terkejut mungkin dengan perlakuan dadakan namja yang tidak dikenalnya.

Dan tanpa disadarinya tangan kanannya menyentuh puncak kepalanya yang disentuh oleh namja tampan tadi.

Seketika wajah Emon merona. Dan yeoja itu bersyukur karena namja itu sudah pergi dari tadi. Entah kenapa tawa kecil lolos dari bibir mungilnya, ia tidak mengerti dengan debaran yang tiba-tiba muncul dihatinya saat namja itu menyentuh kepalanya. Tapi Emon juga tidak memungkiri bahwa ia menyukai perasaan asing tersebut.

Dan sepertinya ia mungkin akan berpikir ulang untuk memarahi Ryewook, karena bagaimanapun juga kesalahan gadis itu membawa keburuntungan juga untuknya.

Rasanya Emon bisa merasakan, bahwa disekelilingnya terdapat bunga-bunga bermekaran dengan indah.

~LennyChan~

Dan di hari itu juga, cinta kelima yeoja absurd tersebut mulai bersemi. Benang merah baru saja terhubung. Dan mereka belum menyadari kalau suatu kisah mereka akan saling terhubung. Disatu tempat yang sama dilokasi yang berbeda.

Kelima gadis itu saling berlari menuju ke suatu tempat yang sama. Karena hati mereka tahu, bahwa ada hal yang membahagiakan yang harus kelimanya bagi bersama.

.

.

.

TBC

.

.

.

Review Please! Jika kalian berkenan membaca fict ini, tapi kalau tidak suka abaikan dan close saja yaaaa hehehe

Terima Kasih sudah mampir dan membacanya.

See You Next Chapter!

.

From_ KyulennyChan ( Author )

AnnishiKimki Istri Kibummie ( Editing )