Oke, akhirnya Fei sukses update yang ini! (readers: "Mana SUM-nya?" Fei: "Entahlah, Fei pun bimbang." –dihajar masal-)

.

Sp-Cs: Sebenernya bukannya "ada" lagi, tapi "sudah banyak"… tapi kemungkinan besar Fei gak akan men-discontinued fict ini, soalnya Fei udah nyiapin plotnya sampe tamat di chapter 13 / 14 (kalo gak ada yang di tambah). Jadi mungkin bukannya discontinued, melainkan hanya lama di-update-nya, contohnya ya…sekarang ini #plak

.

Disclaimer: Persona 3 punya ATLUS

Warning: OC berpotensi (besar) menjadi Mary-Sue

.

.

~CHAPTER 2: "Never Dreaming, What We'd Have to Go Through"~

.

.

Makhluk-makhluk itu semakin dekat, dan tangan dari salah satu makhluk itu menyerang tangan Yukari sehingga evokernya terlempar. Benda berbentuk pistol itu terjatuh tepat di sebelah Ruuki. Evoker yang ada tulisan "SEES" itu diambil Ruuki dengan agak ragu. Dan entah apa yang sedang ia pikirkan, gadis itu mengarahkan evoker tersebut ke dahinya sebelah kanan, lalu mengucapkan sebuah kata dengan perlahan.

"Per…so…na…"

.

.

Cahaya biru mengelilingi Ruuki sesaat setelah bunyi pecahan kaca terdengar. Dan entah darimana asalnya, sesosok makhluk muncul di belakang gadis itu –melayang di udara.

Makhluk itu berbentuk bulat dan warnanya biru tua, memiliki tiga mata yang besar-besar dan seram. Ada sepasang kaki berwarna merah di bawah tubuhnya, serta sayap iblis kecil berwarna emas di balik punggungnya. Makhluk itu bernama Mazed Eyes.

"Maragi!" seru Ruuki. Dengan persona-nya, ia langsung mengeluarkan elemen api. Dengan mudahnya, tangan dari setiap makhluk yang mereka bertiga langsung lenyap.

Ketika sesosok monster lagi dating dari belakang Minato, Ruuki langsung mencari pisau lempar yang diberikan Yukari sebelumnya dengan meletakkan pistol evokernya di lantai. Setelah mendapat pisaunya, Ruuki langsung melemparkan pisau tersebut. Minato yang terkejut langsung terjungkal ke depan dan mendapati evoker yang tadi ditaruh Ruuki.

"Persona!" seru Minato. Sekumpulan cahaya spiral kini mengelilingi lelaki berambut emo itu. Kemudian sesosok makhluk baru muncul dari belakang Minato. Makhluk itu berambut putih dengan membawa harpa di belakangnya. Nama makhluk itu adalah Orpheus.

"Bash!" Minato menggunakan skill-nya untuk mengalahkan sisa dari monster yang ada.

Setelah semua monster hilang, dua sosok makhluk yang melayang di belakang Ruuki dan Minato saat itu juga hilang. Sama seperti kedua makhluk yang telah hilang, kesadaran kedua remaja itu pun juga hilang. Pandangan mereka menjadi gelap, tidak bias melihat apa-apa, mendengar apa pun, dan seakan tubuh mereka mati rasa.

Saat tersadar, Ruuki tidak melihat adanya Yukari, Minato, ataupun kedua senpai-nya. Bahkan ruangan itu sama sekali tidak dikenalnya. Ruangan itu bernuansa biru dan seakan bergetar –seperti sedang terjadi gempa. Tetapi getarannya janggal, karena seakan ruangan itu sedang bergerak naik atau turun di udara.

Disana ada seorang pria berambut putih yang bagian atasnya botak, serta hidung yang panjang. Sekilas, hidung itu mirip sekali dengan hidung Pinokio. Pria itu duduk di kursi di belakang meja. Dan ada seorang wanita yang berdiri disamping pria tersebut. Wanita itu memiliki rambut perak yang pendek dan membawa sebuah buku berwarna biru.

Masih di kursinya, Ruuki melihat ke sebelah kanannya. Ia menemukan Minato yang terduduk di kursi di sebelahnya dengan kondisi tidak sadarkan diri. Tetapi lelaki itu tersadar beberapa saat kemudian.

"Selamat datang di Ruang Velvet," kata si pria berhidung panjang. "Namaku adalah Igor, dan perempuan yang di sampingku ini adalah Elizabeth," katanya lagi.

"Halo," sapa Elizabeth.

Dan pembicaraan pun berlanjut tentang makhluk yang mereka panggil menggunakan evoker yang ternyata adalah makhluk bernama Persona, kemudian apa yang mereka lawan sebelumnya disebut shadows. Kemudian,

"Wild Card?" tanya Minato tidak mengerti.

"Ya, kalian berdua adalah pemegang Wild Card. Dengan kata lain, kalian akanbisa memiliki Persona lebih dari satu –tergantung relasi yang kalian miliki. Semakin banyak relasi yang kalian buat, akan semakin banyak juga Persona yang bisa kalian miliki. Dan kalian tidak akan bisa memanggil Persona yang sama secara bersamaan," jelas Elizabeth.

"Nah, kalian sudah harus kembali ke dunia kalian sekarang. Tetapi sebelumnya, tolong masing-masing dari kalian menyimpan kunci ini, ini adalah kunci untuk membuka pintu ruang Velvet," kata Igor sambil memberikan kedua remaja itu masing-masing sebuah kunci berwarna biru muda. "Nah, sampai jumpa lagi."

.

.

Ruuki membuka matanya, mengerjap-erjap kedua bola matanya berkali-kali. Bau kamar rumah sakit, ia hapal betul bau ruangan yang seperti itu. Dinding putih, korden putih, ranjang yang tidak enak ditiduri, dan semuanya serba putih. Ia benci ruangan seperti ini.

"Kau sudah sadar rupanya," kata Akihiko yang baru saja masuk ke kamar itu. "Minato juga baru sadar beberapa menit yang lalu. Yukari tadi langsung memanggilku dan Mitusur ke kamar Minato. Lalu kupikir mungkin kau juga sudah menyadarkan diri," jelas Akihiko.

"Apa yang terjadi semalam?" tanya Ruuki.

"Semalam? Oh, malam dimana kau memanggil persona adalah sekitar…seminggu yang lalu," jawab Akihiko yang sedikit membuat Ruuki kaget.

"Ap-apa? Maksudnya aku tidak sadarkan diri selama seminggu?" tanya gaddis itu.

"Ya. Tapi tidak apa-apa, itu wajar bagi ornag yang baru pertama kali mengeluarkan persona-nya. Oh, omong-omong persona adalah makhluk yang malam itu kau dan Minato panggil menggunakan evoker. Kau ingat makhluk itu kan?" kata Akihiko.

"Mazed Eyes. Ya, aku ingat," jawab Ruuki.

"Ya, itu dia. Hn, sebenarnya aku paling malas ada di kamar rawat rumah sakit –ruangan seperti ini selalu mengingatkanku akan adik perempuanku. Satu-satunya adik perempuanku, namanya Miki," jelas Akihiko sambil emnarik kursi ke samping tempat tidur Ruuki. "Hidupnya cukup singkat, padahal dia anak baik dan dia adalah satu-satunya yang kumiliki dulu. Saat ia pergi dari dunia ini, rasanya ingin sekali aku langsung menyusulnya. Tetapi kalau aku bunuh diri, maka aku tidak akan bisa pergi ke tempat dimana dia berada –surga. Lalu sejak saat itu juga aku mengganggap hidup ini adalah sebuah permainan, dan aku pun bertemu dengan Mitsuru –gadis yang membuat hidupku lebih seru lagi karena ia mengenalkanku pada shadows dan persona. Dan memburu shadows sampai sekarang merupakan pelarianku," jelasnya lagi.

Ruuki menatap senpainya itu dengan hampir tidak ada ekspresi. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada senpainya yang sedang mengenang masa lalunya. Apakah ia harus mengatakan sesuatu? Menghiburnya mungkin? Tetapi ia tidak pernah pandai berkata-kata, nanti malah ia mengatakan hal yang tidak baik. Pada akhirnya, Ruuki hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Duh, kenapa aku malah menceritakan hal cengeng seperti itu? Sebaiknya ak–"

" –tidak cengeng kok. Itu normal, senpai. Menangisi dan sedih akan kepergian orang lain itu hal yang normal. Justru yang patut dipertanyakan adalah saat kau tidak sedih saat adikmu pergi," kata Ruuki, memotong kata-kata Akihiko.

"Kau piker begitu?" tanya Akihiko yang dijawab oleh anggukan mantap gadis berambut biru yang duduk di ranjang. "Hn, menarik. Oke, aku akan bilang pada Mitsuru kalau kau sudah sadar. Nanti akan ada dokter yang memeriksamu sebentar, kemudian kita bisa pulang ke asrama," kata Akhiko.

.

.

Keesokkan harinya, Minato dan Ruuki sudah kembali bersekolah. Hari itu klub-klub olahraga sedang membuka pendaftaran untuk anggota baru. Ada klub memanah, tinju, kendo, atletik, dan sebagainya. Yukari langsung menuju ke klub memanah sepulang sekolah, kemudian Akihiko pergi ke klub tinju, sedangkan Mitsuru sibuk di ruang OSIS. Minato pergi ke klub renang sedangkan Ruuki memutuskan untuk ikut klub kendo.

Di arena latihan kendo, Ruuki disambut hangat oleh guru olahraga dan Miyamoto Kazuhi sang kapten klub yang sekelas dengan Ruuki, serta seorang manager klub bernama Nishiwaki Yuko. Dan ternyata, Ruuki adalah satu-satunya anggota perempuan di klub tersebut. Tetapi untungnya ia tidak dipandang remeh begitu saja oleh anggota yang lainnya.

Seusai klub, Ruuki langsung pulang ke asramanya. Ikutsuki Shuji, si Chairman, sudah menunggunya di ruang tengah lantai satu bersama dengan Mitsuru. Karena Ruuki sudah ada, berarti mereka tinggal menunggu Minato.

Ttidak lama kemudian, Minato pun tiba di asrama. Ikutsuki langsung mengajak mereka bicara tentang Shadow dan Persona. Sampai larut malam, ketika sudah tidak ada lagi pertanyaan yang dilontarkan oleh Minato dan Ruuki, Ikutsuki pun kembali ke rumahnya, sedangkan anak-anak yang di asrama beristirahat.

Di hari Minggu pagi yang sangat cerah, Yukari mengetuk pintu kamar Ruuki, dan gadis berambut biru itu mengajak temannya masuk ke kamar. Yukari memberitahu Ruuki bahwa mala mini mereka akan kedatangan teman baru dalam asrama –akan dibawa oleh Akihiko. Setelah memberitahukan tentang hal itu, keduanya mengobrrol macam-macam hal, dan di siang hari mereka pergi ke mall Paulownia.

Malam harinya, sesuai janji, Akihiko pulang ke asrama sambil membawa seorang pengguna persona yang baru –yang akan bergabung dengan mereka di asrama itu.

"Hei, ayo cepat masuk!" teriak Akihiko yang sudah masuk.

"Tunggu! Ini berat sekali!" kata orang dari luar. Suara lelaki yang sebenarnya tidak begitu asing bagi Ruuki, Minato, dan terutama Yukari yang sudah menunggu senpainya dan "si anak baru" di ruang tengah.

"Junpei?!" seru Yukari terkejut karena ternyata yang masuk ke asrama itu adalah seorang laki-laki kurus yang selalu mengenakan topi bisbol di kepalanya –Iori Junpei.

"Yo! Ah, jadi ternyata kalian bertiga juga? Ini keren!" kata Junpei kegirangan.

"Se –senpai! Jadi dia yang akan bergabung dengan kita?!" tanya Yukari.

"Yah, kemarin malam aku menemui dia sedang sendirian saat Dark Hour. Dia adalah satu-satunya manusia yang tidak tertidur dalam peti. Aku juga sudah bilang pada Mitsuru dan ia menyuruh orang ini tinggal bersama kita disini," jawab Akihiko.

"Oh, sial," dengus Yukari.

.

.

Keesokkan harinya, sepulang sekolah, semua penghuni asrama Iwatodai langsung menuju ruang pertemuan di lantai empat, dimana Ikutsuki telah menunggu mereka. Setelah member ucapan selamat dating secara singkat dan (agak) garing, Ikutsuki pun memulai percakapan mereka.

"Apakah kalian percaya jika saya mengatakan bahwa dalam sehari ada lebih dari 24 jam?" tanyanya.

"Maaf?" ujar Junpei.

"Hn, " Ikutsuki menganggukkan kepalanya. "Bagi manusia biasa, sehari memang hanya ada 24 jam, tetapi bagi kalian yang memiliki kemampuan khusus sebagai pengguna persona dalam sehari tidak akan melewati 24 jam dalam sehari. Ada jam yang tersembunyi di antara pukul 12 malam dan satu subuh. Tepat pukul 00.00 malam, waktu akan terhenti. Manusia yang tidak memiliki kemampuan seperti kalian akan tertidur tenang dalam peti dan tidak tahu apa-apa yang ada di luar sana. Tidak ada elektronik yang akan hidup, darah ada dimana-mana, pagar istana shadow pun akan terbuka. Fenomena inilah yang kemudian kita kenal sebagai Dark Hour," jelas Ikutsuki.

"Arisato, Misaki, kalian berdua pernah berjalan dalam fenomena ini sebelumnya –sebelum mereka menyerang asrama. Ingat sat kalian berdua pertama kali dating ke asrama ini?" tanya Mitsuru, dijawab anggukan kepala kedua juniornya. "Nah, sepanjang perjalanan menuju ke tempat ini waktu itu adalah pengalaman Dark Hour pertama yang kalian alami."

"Bukan yang pertama," ujar Ruuki tiba-tiba, membuat semua kepala tertuju padanya. "Itu bukan yang pertama kalinya untukku, sebab aku pernah terjebak di Dark Hour juga sebelumnya."

"Kapan?" tanya Akihiko.

"Dua tahun yang lalu, dengan kakak laki-lakiku. Dan Mazed Eyes itu sebenarnya bukanlah persona-ku, itu adalah milik ibuku," jawab Ruuki.

"Hm, jadi ibu dan kakakmu adalah pengguna persona juga?" tanya Ikutsuki dijawab dengan anggukan kepala Ruuki. "Kalau begitu mungkin kau bisa ajak keluargamu untuk berdiskusi dengan kita disini tentang persona."

"Itu tidak mungkin terjadi, Ikutsuki-san. Kakak serta kedua orangtuaku sudah tiada. Satu-satunya yang masih bersama denganku hanyalah kucing ini, Serafina," jelas Ruuki.

Pada saat itu, suasana hening seketika. Semua mata masih tertuju pada gadis pemilik kucing putih itu. Tidak ada yang bersuara, sampai akhirnya Ikutsuki mengeluarkan suaranya lagi.

"Ehem, jadi Kirijo-san, mungkin kau dan Akihiko harus membawa mereka berempat ke Tartarus," katanya.

"Tartar –? Apa itu?" tanya Junpei.

"Sarang para shadows, itulah istana yang tadi kami sebutkan. Nah, akhirnya aku akan melanjutkan permainan ini lagi," ujar Akihiko senang.

"Ya ampun, Akihiko! Kau kan, masih dalam tahap penyembuhan! Aku yakin lenganmu masih belum sembuh benar!" kata Mitsuru marah.

"Sudah, sudah. Kalian bawalah adik-adik kelas kalian ini kesana sebelum tengah malam. Dan Akihiko, jangan dulu bertarung dengan shadow," pesan Ikutsuki, lalu mereka pun berangkat dari asrama.

Dari asrama, mereka naik kereta, menggunakan jalur yang sama dengan jalur yang mereka lewati jika akan pergi ke sekolah Gekkoukkan. Dan anehnya, ternyata mereka memang pergi ke sekolah itu.

"Lho? Katanya pergi ke Tartar…apa itu namanya? Yah, pokoknya yang sarang shadow itu! Kenapa kita ada disini?!" kata Junpei dengan nada tinggi.

"Jangan berisik, bodoh. Lagian memangnya kau tidak tahu?" tanya Yukari kesal.

"Eh?" dan Junpei-pun makin bingung.

"Wajar kalau dia tidak tahu, Yukari," ujar Mitsuru.

"Nah, tunggu saja. Sebentar lagi tengah malam," ucap Akihiko. Saat matanya menangkap sosok Ruuki, dalam otaknya terngiang kata-kata gadis itu.

" –tidak cengeng kok. Itu normal, senpai. Menangisi dan sedih akan kepergian orang lain itu hal yang normal. Justru yang patut dipertanyakan adalah saat kau tidak sedih saat adikmu pergi,"

Lalu Akihiko mengalihkan pandangannya. Berusaha tidak peduli seperti apa yang selama ini ia lakukan dalam hidupnya. Ia tidak ingin lagi menyayangi orang seperti ia menyayangi Miki. Tidak lagi, karena ia takut. Takut saat ia memiliki seseorang yang berharga lagi ia malah tidak ingin kehilangan. Tidak lagi. Tidak untuk yang kedua kalinya. Tidak untuk orang yang kedua.

Jam dinding sekolah Gekkoukkan masih berdetak. Tidak ada makhluk hidup di sekitar tempat itu yang bersuara. Semuanya hening,. Yang terdengar hanyalah suara detik jam.

.

11 : 59 : 55

.

11 : 59 : 56

.

11 : 59 : 57

.

11 : 59 : 58

.

11 : 59 : 59

.

00 : 00 : 00

Dan Dark Hour pun dimulai.

.

.

~TBC~

.

.

Oke, jadi ini Fei ngetiknya pake computer sekolah. Enggak, bukan nyuri waktu loh ya, tapi memang lagi nganggur, nungguin ujian praktek yang jam 1an nanti. Terus bosen, makanya gini deh … :/

Persona Mazed Eyes-nya Ruuki itu ga ada di fandom Persona Series sebenernya, itu hanya imajinasi Fei semata ==". Terus kalo gak bisa kebayang tentnag bentuk persona Mazed Eyes, silahkan cari di google, search "Crazed Eye", itu adalah nama Mana di Mana Khemia, tapi beda loh ya, yang mirip cuma keperawakannya, jadi ini bukan crossover :)

REVIEW!