Disclaimer: All characters belong to Kishimoto Masashi. No material profit is intended for using his creations. This fic is written and typed only for fun.
Summary: Terkadang alergi terhadap kucing dapat menuntunmu pada deretan masalah hidup yang tak pernah terselesaikan. Terkadang juga, dapat menuntunmu pada sesuatu yang menyenangkan.
Warning: AU. Pemakaian subjek dalam orang ketiga tunggal.
.
.
.
Neko
(猫)
Chapter Two
Tama—part of soul
—cat in Japanese
happy belated cat day in Japan
(February 22nd is marked as Cat Day in Japan)
by ceruleanday
February, 2012
.
.
.
Cahaya. Atau kah kunang-kunang. Sama saja. Aku hanya melihatnya seperti kembang api yang mulai menghilang di antara langit hitam. Saat membuka mata untuk pertama kalinya, yang tergambar di sana hanya garis-garis imajiner di langit. Putih dan berkotak-kotak. Aroma yang ditangkap indera penciumanku adalah bau hangat serta obat-obatan. Yang kudengar adalah bebunyian yang berasal dari pemanas ruangan, tabung gas, serta tetesan air hujan. Eh?
Aku tengah berada di sebuah kamar berwarna serba putih yang sudah sangat jelas bukan lah kamarku. Aku—di rumah sakit ya? Oh, jadi perkelahian waktu itu berakhir dengan diriku yang nyaris mati? Menyedihkan ya. Kurasa, ini kali pertamanya aku jatuh dan kalah oleh pertarungan yang kumulai sendiri. Heck.
Sama sekali tubuh ini tak bisa digerakkan. Perutku juga sakit sekali, entah kenapa. Bukan seperti ketika kau menahan ingin buang air besar, tetapi seperti ada benda tajam yang sudah menempel di sana. Aku—terkena tusukan benda tajam oleh salah satu cecurut sialan genk Mr.'J' with his golden teeth. Tsk.
Aku menoleh dan mendapati pintu kamarku berderit begitu pelan. Kututup sekali lagi kedua mataku dan berpura-pura kembali tertidur. Langkah-langkah kecil membuatku bisa memerkirakan siapa yang sekarang tengah mendekati ranjangku. Kalau bukan si kecil Konohamaru dan teman-temannya, kemungkinan besar adalah Sai—pelukis yang entah kenapa suka sekali muncul secara diam-diam.
Voila!
"Naruto ni Nii-chan!"
Aku tidak kaget. Ah, untung saja itu benar Konohamaru. Mengintip dari sedikit celah mata, Konohamaru tidak datang seorang diri. Di belakangnya, beberapa anak kecil lain yang kutahu adalah teman mainnya sekitar kompleks rumah juga mengikuti. Mereka berbisik-bisik satu sama lain dan nyaris menginjak langkah sendiri. Aku tertawa dalam hati. Lucu sekali mereka itu. Sesaat kemudian, tak pernah terlintas di pikiranku jika suatu hari seorang gadis dalam impianku akan muncul tepat di hadapan sana. Gadis berambut merah muda yang aduhai—cantik sekali. Ia membawakanku sekeranjang penuh buah tangan beserta selimut tambahan agar aku tetap nyaman di atas ranjang rumah sakit seorang diri. Dengan senyum yang begitu ramah, ia menyapaku. Tapi, kenyataannya malah sebaliknya.
Sakura—gadis impianku—itu malah mencecariku dengan ribuan nasihat. Aku memang anak yang nakal dan tak bisa diatur, tetapi aku bisa tuli mendadak kalau kau berteriak terus seperti itu, Sakura-chan.
"Dasar anak bodoh! Bagaimana kalau nanti kau mati, hah? Siapa yang akan susah? Pasti aku! Ayah dan ibumu sudah menitipkan dirimu padaku. Ck. Kau ini tidak pernah berubah ya, Naruto. Aku bingung dan sudah tak tahu lagi harus berbuat apa saat kau berada di luar sana." Ujarnya penuh lelah. Aku yang mendengarnya saja lelah. Well, mengenai masalah titip-menitipkan 'anak orang', memang benar ayah ibu menitipkanku sejak kecil pada keluarga Haruno. Aku sudah berteman baik dengan Sakura-chan sejak lama, namun entah mengapa cintaku untuknya selalu berat sebelah. Menyedihkan.
Untung saja, masih ada yang berniat membelaku meski dari golongan kaum minoritas—anak-anak kecil itu.
"Jangan marahi, Naruto no Nii-chan! Naruto no Nii-chan begini juga pasti bukan karena kemauannya! Iya 'kan, Naruto no Nii-chan?" Oh, polos sekali kata-katamu itu Konohamaru. Sebagian besar statement-nya benar, tetapi tidak sepenuhnya. Aku memang berusaha melindungi diri dari serangan Mr.'J' dan antek-anteknya itu. Kalau tidak, sudah dari awal aku mati.
Sakura mendesah. Ia menyapu anak-anak rambutnya yang terjatuh dan membenarkan letak hair clip yang sudah beringsut dari poni merah mudanya. Ia lalu menjatuhkan diri di salah satu kursi penjenguk samping ranjangku. Lama ia menatapku yang tengah mengigau sendiri. Aku bingung tapi tak bisa terdiam begitu saja. Jadi, aku bergumam saja seolah sedang berpikir. Konyol sih.
"Kau merasa sudah baikan?" Ah, tiba-tiba saja ia berubah begitu kalem. Syukurlah, emosi jiwanya sedang mencapai batas minimum, tetapi aku harus tetap berhati-hati. Di dunia ini, ada dua wanita yang bisa membuatku terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit selama berminggu-minggu. Yang pertama adalah ibuku. Dan, yang kedua adalah Sakura sendiri. Miris. "Aku belum menghubungi ayah dan ibumu. Aku takut harus berkata apa. jadi, kutunggu saja hingga kau sadarkan diri. Yokatta, kau sudah bangun dari tidur panjang selama dua hari."
What? Dua hari? Benarkah itu? Aku bahkan tidak tahu sudah mengalami masa dorman selama empat puluh delapan jam, bahkan lebih. Wow, aku berhibernasi layaknya beruang kutub!
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Anak-anak mencecariku terus akan kondisimu. Setiap hari aku membawanya ke kamarmu."
Konohamaru memerlihatkan barisan gigi putihnya yang bersih. Dua temannya yang mengekor di belakang ikut tersenyum. Astaga, aku benar-benar lupa. Anak-anak itu pasti mengira aku sudah mati. Mata mereka terlihat sedikit sembab. Akibat menangis lama, rupanya. Ah, ternyata masih ada juga yang sangat mengkhawatirkan kondisiku, meski itu anak-anak kecil sekali pun.
"Ayo kemari, Konohamaru." Panggilku. Segera, ia melompat dan duduk di tepi ranjangku. Tubuhnya yang kecil dan sedikit gembil menggoyang-goyang ranjang. "Apa Naruto no Nii-chan sudah membuatmu menangis?" tanyaku melanjutkan. Kutepuk-tepuk kepalanya pelan.
Ia mengangguk sekuat tenaga. "Kata Sakura-Nee-san, Naruto no Nii-chan bisa saja tidak sadarkan diri selamanya. Bukankah itu artinya sama saja dengan mati?" tanyanya dengan lugu dan polos. Aku hanya tertawa dalam hati.
"Tidak. Itu berbeda, Konohamaru-chan." Sakura membenarkan. "Mati yang sebenarnya dilihat dari refleks pupil matanya. Jika tidak mengikuti instruksi cahaya, maka itu lah yang disebut mati. Sedangkan—"
Aku segera memotong. Aku yakin tampang anak-anak itu hanya melongo saking tidak paham. "Hei, hei, memangnya anak-anak akan mengerti dengan bahasa yang kau pakai itu, Sakura-chan? Jangan gunakan bahasa-mu di depan orang awam, terlebih anak-anak."
"Urusai! Aku baru saja akan menerjemahkannya dalam bahasa anak-anak, tauk!" serunya tertahan. Membuat Konohamaru dan yang lain ikut tertawa. Lagi-lagi, aku kena cubitan maut Sakura. Rasanya aduhai sakit sekali. Si Nona ahli Judo tingkat lanjut ini memang selalu menyeramkan di mataku. Ups.
Meski tak ada ayah dan ibu, aku masih bisa mendapatkan kebahagiaan lain dari keluarga kecilku di sini. Bersama Sakura dan teman-teman cilik yang tinggal hanya beberapa blok dari rumahku, tentu. Tak sulit menemukan kegembiraan berbeda, namun selalu terasa sama saat bersama mereka. Yang terpenting, aku tidak pernah merasa sendiri. Sebab, di saat aku pulang, mungkin saja yang kutemukan hanya kekosongan saat kembali ke rumah. Tak ada yang membalas sapaan 'aku pulang' dan sebagainya. Namun, Tuhan punya jalan lain kepada setiap makhluk-Nya. Ia memberikan bentuk lain dari kebahagiaan kepada setiap hamba-Nya yang selalu berusaha. Dan, aku tentu boleh membusungkan dada, bukan.
"Ah!"
Salah satu kawan cilik Konohamaru seakan terkejut akan sesuatu—ikut membuyarkan lamunanku jua. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, lalu mengatupkannya saat kawannya yang sangat suka beringus itu menyuruhnya untuk diam. Tanpa babibu, ia berlari keluar kamarku. Meminta izin untuk mengambil entah apa itu dari arah luar sana.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ng, ibu Moegi-chan bekerja di Rumah Sakit ini, Nii-chan. Hari ini adalah ulang tahunnya. Kurasa, ia baru saja akan diberikan kado khusus oleh ibunya." tutur Konohamaru. "Pasti hadiah yang sangat bagus. Hihi."
"Dan, rencananya kami akan singgah menyicipi muffin di kedai Pattesiere dekat rumah sakit setelah mengunjungimu, Naruto." Kata Sakura. Aku jadi iri. Andai tubuhku sudah sedikit lebih toleran terhadap rasa nyeri pasca operasi, mungkin saja aku bisa kabur dan—itu jelas tidak boleh, 'kan. Payah.
Kutunjukkan wajah bosan ala Uzumaki Naruto pada mereka. Berharap mereka paham betapa membosankannya jika harus terus berada di atas ranjang tanpa diperbolehkan melakukan apapun yang mengasyikan. "Ahh, menyenangkan sekali ya kedengarannya." Timpalku. Sakura, Konohamaru dan satu kawannya terkikik mendengar pengakuan dariku.
Derit pintu kembali terdengar. Gadis cilik bernama Moegi itu kembali tanpa tangan kosong. Bisa kulihat, ia memeluk sebuah box berlapiskan kertas kado berwarna-warni dengan pita emas. Box-nya berukuran sedikit lebih besar dan hampir menutupi seluruh wajahnya. Ia sempoyongan membawanya. Tepat di belakang Moegi, wanita berusia tiga puluhan berseragam putih dengan papan nama muncul sembari tersenyum. Kami mengucapkan selamat sore pada ibu Moegi.
"Nah Moegi, ayo kadonya dibuka. Perlihatkan pada kawanmu dan kakak-kakak yang ada di sana." Pinta sang ibu berparas anggun itu. Segera saja, Moegi bersama Udon—kawannya yang lain—turut membuka kadonya sesuai instruksi. Konohamaru pun loncat dari tepi ranjang. Ketiga anak kecil itu begitu terperangah saat membuka bingkisan yang cukup besar dan berat itu. Saat lembaran kertas kado terakhir terlepas, betapa terkejutnya mereka. Teriakan senang dan bahagia memenuhi seisi kamar.
Moegi segera memeluk sang ibu erat-erat. Betapa senangnya ia saat melihat isi kado yang didapatkannya di hari ulang tahunnya. Ah, kapan ya aku terakhir kali mendapatkan kado di hari ulang tahunku? Lima tahun yang lalu? Sepuluh tahun yang lalu? Ataukah—semenjak ayah dan ibu tak lagi mengingat tanggal kelahiranku? Hm.
"Aaaaa! Neko-chan!" teriak gadis cilik itu sekeras mungkin. "Boleh kupeluk sekarang, Kaa-chan?"
Err—apa tadi yang dikatakannya? Ne-neko?
"Kawai na neko." Bisik Sakura. Bahkan, di balik wajah seramnya, ia masih bisa tersenyum manis saat melihat—ku—ku—kucing?
"Omedetou na, Moegi-chan. Kucing yang lucu sekali. Kau akan menamakannya siapa?" Konohamaru bertanya sembari meletakkan kertas-kertas kado yang telah robek di sudut kamar. Udon ikut membantu.
Kucing…
Ia berkata kucing, ya? Kucing itu—makhluk berbulu yang—yang—yang—
"A—a—ar—"
"A—ar—aww! Sakit tauk, Sakura-chan!" teriakku. Kenapa pula Sakura malah mencubitku lagi. Bahkan, jauh lebih keras dari cubitan beberapa saat yang lalu. Hei, adalah hakku untuk berteriak sekeras mungkin juga saat melihat benda berbulu yang sangat menjijikkan itu, 'kan? Itu adalah alergen yang harus aku hindari seumur hidup!
"Kau berteriak, kau akan mendapatkan cubitan yang jauh lebih keras. Untuk kali ini saja, diamlah, oke? Aku tahu kau memang alergi pada kucing, tetapi hari ini adalah hari ulang tahun Moegi-chan. Jadi, kau diam."
Dalam seribu cara untuk menahan jeritan, ada satu hal yang bisa membuatku tidak berteriak sekeras mungkin saat ini. Jika bukan karena cubitan maut Sakura, tentu saat ini juga, aku bisa lari ke pojok kamar tanpa takut harus ditertawai. Heck, ini lah saat-saat dalam hidupku yang paling menyengsarakan. Sudah cukup dengan bullying edisi Mr.'J' yang membuatku sudah terbaring tak sadarkan diri selama dua hari penuh. Jangan buat masalah menjadi lebih runyam dengan kehadiran kucing! Singkirkan makhluk berbulu itu dari hadapan—
—ku?
"Ne, ne, Naruto no Nii-chan, sudah kuputuskan akan memberikan nama untuk kucing ini seperti nama Naruto no Nii-chan. Mite mite kore, bulunya berwarna kuning cerah, sangat mirip dengan warna rambut Naruto no Nii-chan, iya 'kan? Lalu lalu, lihat matanya. Hihi. Sangaaaat biru, seperti mata Naruto no Nii-chan! Boleh, 'kan? Boleh ya?"
Tangan dan kakiku tak bisa digerakkan sesaat. Aku bertanya, apakah salah satu dari kalian pernah menonton film Godzila? Karena, apa yang terlihat di depan mataku saat ini adalah makhluk yang benar-benar mirip dengan hewan reptil pemakan manusia itu. Lihat kumisnya yang panjang itu. Lihat dan perhatikan bulu-bulu kuningnya yang tajam dan sangat gatal. Lihat buntutnya yang suka bergoyang ke sana ke mari itu. Perhatikan bagaimana hidung kucing itu tepat menempel di ujung hidungku!
…
Eh?
Lho?
Kok?
Etoo…
"Ngg, ada apa Naruto no Nii-chan? Kok malah diam?"
Aku hanya mengedipkan mata beberapa kali dalam satu menit. Betapa jarak yang amat dekat itu tidak memengaruhiku. Sangat—aneh. Benar-benar di luar batas kenormalan. Binatang itu kucing, 'kan? Lalu—ada apa dengan diri dan tubuhku yang seakan hanya diam tak bereaksi saat didekatinya. Biasanya, aku akan segera berteriak dan lari. Jika tidak—alergiku akan—
—muncul lagi. Tetapi, tidak. Aku tidak merasakan apapun. Bahkan, saat rasa dingin teraba di kulit hidungku. Kucing itu menjulurkan lidah kecilnya dan menjilati kulit hidungku. Dan, aku merasa baik-baik saja.
Nah?
"Na-Naruto? Kau baik-baik saja?" Pertanyaan retoris Sakura menyadarkan lamunanku. Ia meminta Moegi untuk menurunkan kucing hadiah ulang tahunnya dari ranjangku. Samar-samar, bisa kudengarkan suara Sakura yang menceramahi Moegi untuk tidak lagi mendekatkan kucingnya padaku. Namun, saat meliriknya, aku benar-benar yakin ingin sekali rasanya memegangi—kucing itu? Eh, kesambar apa ya aku. Apakah ini efek masa dorman yang lama itu? Ataukah kepalaku juga ikut terbentur saat terjatuh pasca ditusuk oleh anak buah M. 'J' si gigi emas? Keduanya punya penjelasan masing-masing, kurasa. Hanya saja, dalam hidupku, sekali pun, aku tidak pernah menyangka dapat disandingkan—salah—didekati oleh seekor kucing tanpa jeritan. I-itu… mukjizat!
"Naruto, kurasa kami harus pulang. Jam besuk akan berakhir sebentar lagi. Sekarang sudah jam enam kurang lima menit. Sebelum gelap, aku akan mengantarkan anak-anak ke kedai muffin, lalu pulang. Kalau sempat, besok aku akan datang lagi dan membawakan beberapa muffin untukmu. Yah, supaya kau tidak iri lagi." tutur Sakura perlahan. Aku mendengarnya, tetapi tidak terlalu memerhatikan. Aku lebih tertarik dengan penemuan baru di mana aku tidak bereaksi terlalu berlebihan terhadap kucing milik Moegi tadi.
"A-ah ya, oke."
Sakura keluar terlebih dahulu, diikuti Konohamaru dan Udon. Yang terakhir adalah Moegi—gadis cilik yang masih berdiri di sudut pintu sembari memeluk kucing barunya—yang konon katanya juga akan dinamai Naruto.
"Hm, Moegi-chan."
"Ya, Naruto no Nii-chan?"
"Kemari sebentar." Panggilku. Lagi-lagi setan apa yang memasuki jiwaku sampai-sampai terlalu penasaran dengan fenomena yang baru saja terjadi pada diriku. "Apa Nii-chan boleh memegangi—err—Naruto?" Aneh juga ya saat kau menyebut namamu sendiri, padahal sudah diputuskan jika namaku akan sama dengan nama kucing berbulu kuning milik Moegi.
Tanpa babibu, Moegi menyerahkan kucing barunya di pangkuanku. Kucing itu tengah mendengkur sehingga bunyi purr pelan terdengar di balik hidungnya. Ia menggulung tubuhnya dan mencari kehangatan. Benar kata orang. Kucing memang binatang paling manja. Bulu-bulunya yang tampaknya memang berwarna serupa dengan rambutku melebat. Entah aku tidak tahu kucing ini memiliki nama species apa, aku tidak peduli. Yang namanya kucing tetap lah kucing.
"Disentuh saja, Nii-chan." Tangan kecil Moegi menuntun tanganku yang kaku untuk mengelus punggung Naruto-neko. Meski agak ragu, ada rasa tajam tapi sangat lembut dari permukaan kulit tanganku. Tidak setajam yang selalu kuperkirakan. Lalu, tidak terlalu buruk. Anehnya, aku tidak merasakan sedikit pun gatal. Seperti—seperti alergen kucing yang ada dalam sel tubuhku tidak bereaksi sama sekali. Dampak apa ya ini? Aku harus mencari tahu.
'Moegi-chan… Moegi-chan?'
Samar-samar, dari balik pintu, aku mendengar suara ibu Moegi. Setelah beberapa kali mengelus perlahan punggung kucingnya, Moegi beranjak dari ranjangku dan berlari ke ujung pintu. Saat si ibu yang juga berprofesi sebagai ahli medis muncul di sana, ia hanya tersenyum. "Ah, maaf. Sepertinya Moegi-chan sangat senang dengan kehadiran Uzumaki-san. Iya, 'kan Moegi-chan?" Moegi menanggapi dengan anggukan. "Kalau begitu, kami permisi dulu, Uzuma—"
"A-ah! Tung-tunggu dulu, errm—Takayama-san!"
Ia menoleh, merespon panggilanku, lalu membuka celah pintu yang agak menutup. "Ya, ada apa, Uzumaki-san?"
Ragu. Tetapi, aku perlu bertanya. Lagipula, dia juga ahli kesehatan, 'kan? Apa salahnya.
"Bolehkah aku—bertanya satu hal?"
Semoga saja prakiraan buruk yang terlintas di benakku tidak benar. Aku bukan titisan Cat Man, 'kan?
.
.
.
To Be Continued
A/N:
Sorry for the delayed update. Things around me are getting so frustrating. But first, let me answer your lovely reviews. :)
Yashina Uzumaki : Um, saya gak yakin fic ini mau dibuat jadi yaoi. Haha. Mungkin friendship aja kali ya. *dor* Gomenne. Ah, trims sudah direview! :D
Kazuki NightNatsu : Etoo, hihi. FYI, Sasuke memang selalu dikelilingi warna-warna yang cerah kan? Jadi, saya asumsikan sebenarnya dia emang suka yang cerah. (boong) XD Makasih reviewnya ya. :D
Azusa TheBadGirl : Hiyaaa. Itu lagunya di-aransemen sendiri. XD Maaf kalu aneh. Wkwk. Oh iya. Mungkin saya gak deskripin, tapi mengingat Naru itu termasuk anak yang rada-nakal di fic ini, tentunya dia sudah tau 'lubang-lubang tikus' kalau mau kabur dari sekolahnya. XD (ngaco) Eh, tapi bener lho. Haha. Thanks sudah mereview ya. :D
OraRi HinaRa : Hihi. Gigi emas Jiroubo yang kinclong. Cring, cring. XD Trims sudah direview ya. :D
Proudly, I say, thanks for all of your attention, readers. This fic is full of mistakes, far far far away from perfectness. From your review, it will show me its crackness :D
