'
3 Maret 1999
Draco Malfoy menyeringai. Permata kelabunya berkilat berbahaya. Menatap ke bawah dengan tatapan predator. Sepintas ekspresinya terlihat jahil, namun tidak begitu kentara karena Draco Malfoy pandai menyembunyikan niat dan ekspresinya.
3 murid tahun kelima Slytherin meringkuk ketakutan.
"Well?" ucap Draco, "ada yang bisa jelaskan kenapa ada Wiski Api di kamar kalian?"
"Err... aku...mungkin..." Kehabisan ide, si rambut hitam menyikut si rambut blond di sampingnya.
"Uh...burung hantu membawanya..."
"Burung hantu?" Draco mengangkat satu alis.
Panik, si rambut blond menunjuk remaja paling pendek di antara mereka. "Punya Allen."
"Aku!?"
Draco menatap curiga. Dua kawannya mendelik.
"E-eh... iya! Punyaku!" Wajahnya memerah karena frustasi atau mungkin karena dikhianati, tak disangka-sangka remaja itu akan meledakkan emosinya dengan menangis. Dan meracau. "Sungguh! Kami hanya main-main! Hanya mau coba sedikit saja! Huhuhu!"
Draco menghela nafas.
"Kalian tahu ini melanggar peraturan, 'kan?" katanya, terdengar bosan, "Aku harus memberitahukannya pada Kepala Asrama. Setidaknya kalian bisa menjadi contoh bagi siswa lainnya untuk tidak mencoba bercanda dengan peraturan lagi."
Sambil tertawa kejam, Draco Malfoy melenggang dengan dua botol Wiski Api di tangannya, sementara tiga murid di belakangnya hanya bisa meratap dan memanggil-manggil ibu mereka. Kasihan sekali.
xxx
"Granger."
"Malfoy."
Lirikan malas. Dengan sabar Hermione menunggu pemuda itu berbicara. Namun, Draco menyunggingkan senyum misterius. Sorot matanya penuh tantangan. Hermione bergidik.
"Apa kau sedang sakit, Malfoy? Kusarankan kau segera menemui Madam Pomfrey. Aku tidak mau tertular penyakit gilamu."
"Hei!" seru Draco tersinggung. Hermione memutar bola matanya, sama sekali tidak peduli. Kalau bukan karena sibuk, Hermione akan bersedia untuk meladeni permainan pemuda itu. Namun, Hermione banyak tugas dan dia harus segera ke perpustakaan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta tolong pada Malfoy. Entah bagaimana pemuda itu dengan entengnya menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Hermione ingin tahu, tapi harga diri seorang gadis Granger tak bisa begitu saja disajikan hangat-hangat di atas piring perak.
Hermione menghela nafas lelah. Kalau saja dia bisa melakukan sesuatu terhadap harga dirinya itu...
"Jadi, kau mau bilang apa?" desak Hermione, "Aku tidak punya banyak waktu, Malfoy."
"Aku tahu," ujar Draco, kurang ajar. Hermione memandangnya jengkel. Kalau dia tahu, untuk apa mengulur-ulur waktu dan menghalangi jalan Hermione? Lebih banyak bermuka feret daripada bicara!
"Jadi?" Hermione setengah menggeram. Mendelik.
Draco bungkam, sadar bahwa Ketua Murid Perempuan sudah mencapai batas kesabarannya.
"Yaah," sambil mengelus-elus belakang lehernya, Draco sekilas melirik jalan larinya. Jika alasannya tidak memuaskan, Granger pasti akan mengutuknya habis-habisan.
Dan sungguh, saat itu Draco hanya ingin menggodanya saja. Uhh...
"Hm!?" tekan Hermione, semakin kesal.
"Oh, jangan marah dulu." Draco mengulas senyum miring. "Aku hanya ingin bilang—"
Mm, setidaknya, kalau dia bilang dengan tulus, mungkin Granger akan simpatik dan tidak akan meledak. Dicoba saja, ah.
Mencoba berwajah tulus, Draco melanjutkan,
"—selamat belajar, Granger."
Hermione tertegun. Menatap pemuda itu dengan ekspresi yang seolah mengatakan bahwa gadis itu tersentuh dengan perhatiannya.
Menahan tawa, Draco berpikir bahwa rencana sukses. Hingga tak sengaja ia menangkap gerakan tangan gadis itu.
Menarik keluar tongkat sihir.
Bersamaan dengan raut wajahnya yang berubah seperti goblin kebelet. Dan tak pernah ada kabar bagus jika ada goblin kebelet.
Tanpa babibu, Draco langsung melarikan diri ke kamarnya.
Yang tertinggal hanyalah gema pekikan banshee di ruang rekreasi.
xxx
Kedua orang itu, yang penuh pertentangan namun terkadang bisa satu pandangan, sebenarnya memiliki hubungan partnership yang baik. Bekerja sama sebagai Ketua Murid serta menjadi rival (bagi Hermione) dalam pelajaran dan nilai. Kalau dipikir-pikir, tidak pernah sekalipun ada pertengkaran serius yang membuat mereka bersikap cuek selama berhari-hari. Tidak pernah ada kisah yang sepeerti itu.
Hermione sangat menjaga perasaan dan menahan mulutnya untuk tidak bicara macam-macam.
Draco memang terkadang suka mengerjai, namun dia tahu sampai mana batasnya agar tidak menyinggung masalah sensitif.
Oleh karena itu, bisa dibilang mereka berhasil menjaga kedamaian.
Sampai malam itu terjadi.
Draco yang tidak sepenuhnya berubah, masih ada sisa seorang Slytherin dan Malfoy yang dulu, melirik Wiski Api yang disitanya. Mengikuti bisikan nafsu dan setan yang
seolah memenuhi isi telinganya. Beralasan hanya ingin sedikit mencoba. Penasaran, katanya.
Dan ia mencobanya.
Satu tetes menjadi satu teguk. Berlanjut ke satu gelas. Berlanjut ke satu botol. Hingga rasanya tak punya akhir.
Draco tenggelam di dalam kabut. Merasa ada dorongan untuk melepaskan segala beban dan hal yang mengikat. Ia tidak terlalu tahu apa yang terjadi.
Namun, rasanya ia mendengar seseorang berseru.
Suara familiar...Granger? batinnya bertanya. Namun kabut begitu tebal dan melayang-layang.
Ia mendengar teriakan dan permohonan agar dilepaskan. Agar berhenti. Suara itu meminta tolong, namun tidak ada yang menjawabnya.
Tidak ada yang datang menolong suara itu.
Draco tidak mengerti.
Ia melayang semakin tinggi, kemudian kegelapan menyambutnya.
Dan suara itu...suara itu...
...
xxx
Tergolek gadis itu di atas lantai yang dingin. Kancing kemejanya terlepas dan berhamburan. Sweaternya mungkin sudah robek. Lemas rasanya. Hermione tidak bisa bergerak dari posisinya.
Sakit. Sakit. Sakit sekali. Badannya sakit semua.
Iris hazel memandang dalam kekosongan dan kemalangan sehitam arang.
Setetes, dua tetes air mata mengalir, melewati pangkal hidung dan pelipisnya.
Suaranya sudah habis untuk berteriak dan meminta tolong.
Tidak ada...tidak yang datang menolongnya...
Ah...perasaan gadis itu telah dicengkeram oleh cakar duka.
Kini ia hanya bisa menangis tanpa suara.
Apakah yang salah?
Kesalahan apakah yang sudah Hermione lakukan?
Dosa macam apakah yang sudah Hermione buat?
Kenapa...
kenapa ia harus mengalami kejadian ini?
Oh Tuhan...kenapa...kenapa...
Air mata itu tergenang dan membasahi sisi kepalanya.
Hermione masih tergeletak tak berdaya seperti sebuah boneka.
Menatap kosong cahaya api yang menari-nari di atas kayu bakar.
Dan ia terus menjerit. Terus! Dan terus menjerit!
Namun, jeritannya tidak memiliki suara.
Pendulum di jam 12 berbunyi untuk kedua kalinya.
xxx
.
.
a sequel of 'The Woman who Surfaces to the Future':
The Man who Lingers in the Present
—Draco's story
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
.
.
xxx
24 Agustus 2001
Pansy dan Blaise menatapnya heran sekaligus tak percaya. "Apa katamu?"
Draco mengulas senyum tipis. Memandang kedua sahabatnya dengan sorot matanya yang terasa familiar—namun juga asing di saat yang bersamaan. Terkadang Pansy dan Blaise merasa aneh jika melihatnya, namun mereka segera sadar bahwa Draco yang sekarang agak berbeda dari Draco yang mereka kenal.
"Aku bilang," ulangnya, "kalian tidak perlu datang lagi tiap hari rabu untuk...menyegarkan ingatanku."
"Ah...itu...kau serius?" tanya Pansy, dengan ragu melirik Blaise.
"Yeah." Draco tersenyum miring, "lihat ini. Aku hanya perlu menggunakan pensieve dan semua beres."
Lambat-lambat Pansy dan Blaise mengangguk paham.
"Itu lebih praktis," ujar Blaise tenang.
"Aku juga berpikir begitu." Pansy memaksakan senyum, "tapi, bagaimana..."
"Hm?" tanya Draco saat wanita itu tidak melanjutkan ucapannya. Pansy mengatupkan bibir.
"Tidak," ia menggelengkan kepala, "lupakan saja."
Biarpun berkata begitu, namun Draco bisa menangkap pertanyaan yang hendak wanita itu tanyakan. Kedutan di bibirnya terlihat aneh, dan Pansy meringis. "Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan beberapa barang untuk menjadi pengingat. Bahkan semua peri rumah tahu hal ini. Mereka bisa membantuku."
Blaise hanya diam menatap sebelum akhirnya ia memejamkan mata, berkata, "kami mengerti."
Pansy kelihatan sekali ingin mengatakan sesuatu, namun Blaise meliriknya. Memintanya diam dengan caranya sendiri.
"Kalau begitu, kami akan pulang dan melihat sesukses apa solusimu ini besok pagi," kata pria itu sembari bangkit dari duduknya. "Ayo, Pansy."
"Ah... Blaise..." Pansy menghela nafas, "well, sampai besok, Draco."
Draco, sahabat mereka, melambaikan tangan dan mengulas senyum tipis. Sorot matanya yang terlihat tenang itu terasa asing dan sebenarnya membuat orang-orang yang melihat merasa terganggu. Dan Draco yang sekarang...tampaknya tidak menyadari hal ini. Atau mungkin saja dia pura-pura tidak sadar. Entahlah.
Pansy tak mampu menahan senyum penuh paksaan di bibirnya. Ia segera berbalik, bergegas mengikuti punggung Blaise. Hingga mereka sudah jauh dari pinut manor dan pertanyaan serta kecemasan Pansy Parkinson tak bisa dibendung.
"Kau serius membiarkan dia melakukan itu!?"
Blaise menjawabnya datar, "kita tidak bisa memaksanya."
"Blaise!" Wanita itu nyaris histeris. Blaise Zabini lantas berhenti melangkah. Menggerakkan sedikit badannya ke samping saat ia menanggapi gadis dari balik bahunya.
"Tidakkah kau melihatnya, Pansy?" tanyanya retoris, menatap tajam dari ujung mata, "sejak awal, Draco memang hanya ingin ditinggal sendirian."
_bersambung_
Alhamdulillah,, chap ini rampung juga akhirnya,,,
Karena banyak yang bertanya-tanya, mohon dibaca,, ^^"
chap Alternate End—the child who vanished along with the past hanyalah chap pengandaian misalnya Hermione memilih kembali dan tidak jadi merubah masa lalu. Jadi, hanya pengandaian, bukan chapter terakhir yang sesungguhnya. Makanya dipisah gitu dari fic aslinya. Chapter terakhir termasuk di fic aslinya, gak dipisah kayak alternate end. ^^"
Jadi, yah, seperti itulah...mohon maaf udah buat bingung para pembaca sekalian,,
yosh! terima kasih atas reviews-nya di chap sebelumnya, Ley-san, dewi-san, dan Dini695-san!
xD
yoshaa! thanks for reading!
Rozen91
