PUTRA © Bosondeicus

Hetalia © Hidekaz Himaruya

Putra Bayu Dirgantara © Bosondeicus

Genre: Humor, Hurt Comfort, Parody, Angst, Family.

Rated: M-antap Djiwa

Warning: Mungkin OOC tapi charanya kan OC semua ya… OC male Indonesia, OC kerajaan-kerajaan Indonesia, deskripsi merajalela, typo(s), Oneshot , alurnya gak jelas, dan semua kekurangan lainnya. Benda ini jauh dari kata sempurna.

#

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#

Aku tidak pernah sesayang ini pada orang lain.


Ini merupakan pagi yang indah.

"BANGSAAAAAAAT!"

Setidaknya, bagi sebagian orang.

Putra menendang selimutnya asal. Ia segera meloncat dari ranjangnya dan melesat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini hari pertamanya OSPEK—dAN IA DENGAN BODOHNYA BANGUN TERLAMBAT.

"Bangkebangkebangkebangkebangke—anjas ini sabun mana sabun?" Putra misuh-misuh mencari sabun yang mendadak tidak ada di tempatnya yang biasa. "MASA IYA MANDI PAKE ODOL—APA YANG DIRASA?"

"BERISIK BANGKE! MASIH PAGI JANGAN GANGGU ORANG!"

Putra kicep.

"… maaf Bang Wijaya."

Ia menyeka keringat di dahi dan lehernya dengan kesal. Kenapa hari ini tidak hujan saja, sih?

Putra tahu, hari ini tidak akan jadi hari yang indah untuknya. Tidak karena ia sudah terlambat, juga karena ia tidak membawa peralatan yang diperintahkan, juga karena ia tidak berpakaian sesuai ketentuan, juga karena ternyata salah satu seniornya di kampus ini adalah sang mantan.

Iya, mantan.

Dasar setan.

"Kamu tahu kesalahan kamu apa?" senior bangsat itu bertanya dengan nada yang sangat—amat—mengintimidasi—sekali. Matanya yang sudah tajam dari lahir bertambah tajam saja setelah sekian lama tidak bertemu—oh, dan tubuhnya juga makin kekar saja. Seingat Putra dulu rahangnya tidak setajam sekarang, dan apa apaan bahu yang terlihat keras itu? Putra jadi ingin melemparkan diri padanya kan—

"Tahu."

"—mana sopan santunnya?" sambar senior itu dingin.

"Siap, saya tahu Kak."

Laki-laki yang lebih tua diam-diam mengulum senyum mencibir. Ia kira tadinya ia salah lihat, ternyata orang ini benar-benar kekasihnya. Panca sangat rindu. Dan meski ia sempat pangling karena perubahan yang terjadi pada anak ini—lihat, wajahnya tidak seperti anak-anak lagi, tapi Putra masih indah seperti dulu—pada akhirnya ia mengenali pemuda ini setelah melihat lebih dekat.

Salah satu MABA toh.

"Aku merindukanmu."

Putra kicep. Matanya langsung bergulir dengan cepat untuk menatap laki-laki itu dari mata ke mata, dan ia langsung terenyuh. Tatapan Panca sangat dalam dan lembut. Dia tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

"Oh."

Panca mengulum senyum miring. Ini akan sulit.

"Kau tidak merindukanku?"

"Tidak." –Ya, aku sangat merindukanmu. Setiap hari dan setiap malamnya.

"Bukannya kekasih yang baru bertemu setelah sekian lama seharusnya saling melepas rindu?"

Putra tertawa pendek. "Kekasih katamu? Kalau kau lupa, kita sudah putus sejak lama."

"Aku tidak merasa pernah menyetujui permintaanmu untuk putus denganku."

"Dan aku tidak merasa perlu meminta izinmu untuk mengakhiri hubungan itu!"

Panca maju satu langkah. "Kau tidak menerima penjelasanku dan pergi, aku tidak bisa menerima keputusanmu untuk putus begitu saja."

"Tutup mulutmu," Putra mendesis. "Aku tidak mau mendengar apapun darimu."

"Kenapa kau sangat keras kepala," Panca menelan kembali kata-katanya. "beri aku nomor teleponmu, ini perintah."

Putra menyipitkan matanya tidak suka. Melihat wajah Panca saat ini rasanya seperti mimpi, mimpi indah tentunya, karena nyatanya meski ia menyangkal sekeras apa pun ia tetap merasa bahagia. Perasaannya masih sama. Masih ada. Tidak peduli sudah selama apa waktu yang terlewatkan, perasaan itu masih bertahan.

…dan ia tidak tahu apa yang merasukinya, Putra menyodorkan ponselnya pada laki-laki berkacamata itu dengan wajah yang dipalingkan ke kanan.

Panca mengulum senyum. Ia rasa ia masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.