Previously (Prologue) :

"JONGINNNN!"

Suara seorang yeoja yang berteriak dari kejauhan terdengar. Pandangan Jongin terhadap kandang kuda di hadapannya mulai buram. Api melahap kandang itu dengan cepat, tak menyisakan apapun di sana.

Tangan Jongin terentang perlahan, gemetar. Airmatanya mengalir deras, terkumpul di tanah. Darah mulai mengaliri kepalanya, dan ia merasakan bahwa t 2ubuhnya melemas. Tangannya berusaha menggapai sosok yang terjebak dalam kandang kuda itu.

"Kak.. Kak Jongdae.."

"JONGINNNN!"

.

.

Dan mata itu pun terpejam, tak sadarkan diri.

.

-If You Could See Me Now-

.

.

Chapter 1

PRANK! PRANK!

Suara-suara besi yang saling berbenturan, terdengar nyaring di sudut kota Paris yang begitu gelap. Beberapa pekerja dengan pakaian yang kotor tampak berjalan, memenuhi setiap trotoar di sana. Tak terhitung juga gelandangan-gelandangan dan remaja-remaja kotor yang mencari sekeping franc demi kehidupan mereka.

Ini adalah Paris, once upon a time.

Beberapa warga yang elit tampak melintasi jalanan itu dengan kereta kuda mereka, yang dikemudikan kusir. Beberapa yeoja saling sapa, dengan keangkuhan dan raut wajah anggun mereka yang kentara.

Di antara mereka, tampak seorang namja yang baru saja menembus asap-asap hasil pembakaran batok kelapa di sebuah gedung. Namja itu mendekap dirinya sendiri, dengan tubuh yang agak gemetar.

Pakaiannya compang-camping, dengan wajah yang kotor. Nafasnya tersengal-sengal, dengan rambut yang acak-acakan–tampak sekali bahwa dia tidak terawat.

BUGH!

"Lihat-lihat kalau jalan! Dasar, gelandangan!"

Namja itu hanya terdiam, menatap orang yang tadi menabraknya. Ia mengeratkan mantel kusamnya, menjaga dirinya dari hawa dingin akibat akhir musim gugur.

"Apel, apel, apel segar! Lima apel untuk 1 franc! Ayo, silahkan!"

Namja itu memiringkan kepalanya, menatap pemandangan di hadapannya.

Sebuah toko penjaja buah-buahan.

Namja itu berjalan dengan agak terseok, mendekati lapak buah itu. Beberapa pembeli tampak sibuk memilih buah yang mau dia bawa, beberapa lagi banyak bertanya pada penjualnya. Namja itu hanya menyelipkan tubuh kurusnya di antara beberapa pembeli.

Dengan tangan panjangnya, ia mengambil sebuah apel segar.

Setelah mendapat apa yang dia mau, ia segera berjalan menjauh. Ia mengusap apel itu dengan senyum, kemudian mencium wangi harumnya yang menggoda. Satu gigit yang manis pun meledak dalam mulutnya, seakan nyawa-nya kembali lagi.

BUGH!

"Hahaha, rasakan itu!"

Seseorang dengan sengaja mengulurkan kakinya, membuat namja kumuh itu tersandung dan terjatuh. Apel yang ada di genggamannya pun terlepas dari genggamannya, menggelinding dan terjatuh tepat di atas kubangan lumpur.

Namja itu berdiri, menumpukan dirinya pada kedua tangan kurusnya. Ia merapikan pakaiannya, kemudian berjalan menuju kubangan di hadapannya dan meraih apel yang dia makan.

"Uhh, kasihan sekali. Kuharap kau bisa mencuri lebih banyak apel, hahaha!"

Para kelompok pengejek itu pun pergi, meninggalkan namja itu menangis dalam diam.

Namja itu mengusap apel yang kotor dan sudah terlihat busuk itu dengan mantelnya. Airmatanya mengalir perlahan, namun tanpa suara. Ia melihat bekas gigitan pertamanya pada apel itu, masih bisa membayangkan rasa manis apel yang meledak dalam mulutnya.

"Hey."

Namja itu mendongak, mendapati seorang namja berpakaian seperti tentara kerajaan yang tengah bertugas. Namja itu menatapnya dengan pandangan agak heran, kemudian beralih pada apel busuk di tangannya.

"Jangan makan itu."ucapnya.

Tentara itu berjalan menuju penjual apel yang tadi didatangi namja tadi, kemudian membeli lima buah apel dengan satu franc. Ia berjalan menuju gelandangan tadi, kemudian menyodorkan sekeranjang apel padanya.

"Kau harus makan yang bersih."ucap tentara itu.

Gelandangan itu terkaget bukan main, kemudian memegang keranjang apel itu dengan gemetar. Airmata kembali mengalir, menunjukkan betapa dia sangat tersentuh.

"Siapa namamu?"tanya tentara itu.

.

.

"Jo-Jongin."jawab gelandangan itu, menatap tentara itu dengan takut-takut.

"Well, Jongin, makanlah apel ini. Jaga mereka baik-baik. Aku harus bertugas lagi."ucap namja itu.

Tentara itu pun menepuk pundak Jongin perlahan, kemudian melewati tubuh yang masih diam kaget itu. Jongin menatap keranjang di tangannya, sedetik kemudian berbalik dan berteriak.

"Si-siapa namamu, tuan?"tanya Jongin, sedikit berteriak.

Tentara itu diam, kemudian berbalik. Ia tersenyum, kemudian mengangkat topinya sebagai tanda perkenalan yang terhormat.

"Andrew. Andrew Salozarre."jawabnya, menampilkan senyum pada lesung pipitnya (read, Andrew di sini memiliki paras seperti Choi Siwon).

"Tu-tuan Andrew."gumam Jongin, mengeja nama itu dengan penuh hormat.

Setelah perkenalan singkat itu, Tuan Andrew segera pergi dan berjalan dengan gagah di antara kerumunan-kerumunan warga Paris lainnya. Jongin mendekap keranjang di hadapannya, menatap kepergian Tuan Andrew yang baik hati.

Dalam hatinya, ia memberkati Tuan Andrew, mendoakannya dengan penuh ketulusan.

-XOXO-

Jongin berjalan dengan keranjang di tangannya, membawanya dengan hati-hati. Masih tersisa satu apel, dan Jongin sudah cukup kenyang dengan apel hari itu.

BUGH!

"Dasar nenek bodoh! Bersenang-senanglah dengan lumpur!"

Jongin mendengar sesuatu. Ia berjalan dengan cepat menuju sebuah dinding, kemudian mengintip dari baliknya. Ia agak terbelalak.

Itu anak-anak yang menyandungnya di kerumunan tadi. Kali ini, mereka tengah menyerang seorang nenek-nenek yang terjatuh ke kubangan lumpur.

"Dasar bodoh. Ayo, kita pergi!"

Kelompok anak-anak itu segera pergi. Setelah meyakinkan diri bahwa mereka pergi, Jongin segera berlari menuju sosok yang tadi mereka tindas. Nenek itu menangis, dengan pakaiannya yang kotor.

"Ne-nenek."

Jongin melepas mantel kusamnya, kemudian membantu nenek itu berdiri. Dia melepas mantel nenek itu, kemudian menyerahkan mantel kusamnya padanya. Nenek itu menatap Jongin dengan pandangan kaget.

"Nenek tidak apa-apa? Maaf, ya. Anak-anak itu memang seperti itu."ucap Jongin.

Jongin berjalan menuju keranjangnya, kemudian menghampiri nenek itu lagi. Ia menatap satu apel hijau yang tersisa di sana, kemudian tersenyum dan menyerahkannya pada nenek itu.

"Ambillah."ucap Jongin.

Jongin meraih tangan keriput nenek itu, menaruh apel hijau di atasnya. Nenek itu mengerjap kaget, dan Jongin hanya tersenyum.

"Makan, nek. Hati-hati di jalan."ucap Jongin.

Jongin membungkuk, kemudian berjalan pergi. Dia baru saja melangkah beberapa kali, saat terdengar suara nenek itu yang lembut.

"Siapa namamu, wahai anak muda?"tanya nenek itu, lirih.

Jongin menoleh, kemudian tersenyum. Ia mengangguk penuh hormat pada nenek itu, membuka mulutnya perlahan.

"Jongin. Jongin."jawabnya.

Setelahnya, dia berjalan menjauh, dengan mantel kotor penuh lumpur sang nenek yang menyelimuti tubuhnya.

-XOXO-

"Wow, lihat, ada satu pengumuman!"

Sekelompok remaja gelandangan berkumpul di depan sebuah panggung yang sudah diisi oleh beberapa namja berpakaian tentara kerajaan. Jongin tampak menatap kumpulan orang itu, kemudian segera berlari menghampiri mereka.

"Berkumpullah, warga Paris! Dengarkan satu pengumuman ini!"terdengar perintah dari salah seorang tentara.

Jongin menatap kumpulan itu, matanya berbinar. Dia menatap salah seorang tentara yang tampak familiar olehnya, berdiri di belakang dengan sebuah senjata untuk berjaga-jaga.

Tuan Andrew.

"Pengumuman resmi dari Raja Marseille (read, fiktif belaka)! Diumumkan kepada seluruh pemuda Paris dan seantero Perancis! Akan diadakan pendaftaran seleksi Pasukan Pengaman Keluarga Kerajaan dua hari setelah pengumuman ini diresmikan! Dibutuhkan prajurit yang cakap, cekatan, berani, dan berdarah dingin! No mercy for enemy, itulah moto yang harus dipegang oleh para prajurit! No mercy for enemy!"pekik tentara yang mengumumkan kertas resmi kerajaan itu.

Jongin agak mengerjap, kemudian terpesona oleh pengumuman itu. Hatinya tergerak untuk menjadi Pasukan Pengaman Keluarga Kerajaan, menjadi tentara dan sukses. Dia menatap sosok Tuan Andrew yang tengah berdiri diam, sigap, dan menatap sekeliling dengan waspada.

Dia ingin menjadi seperti seorang Andrew Salozarre.

"Datanglah ke lapangan istana, dua hari setelah pemberitahuan ini diumumkan! Persiapkan mental dan fisikmu! No mercy for enemy!"

Tentara itu menggulung kertas pengumumannya, kemudian berbalik dan berjalan tegap ke arah Tuan Andrew. Kemudian, tentara-tentara itu membungkuk dan berjalan menuruni panggung. Beberapa pemuda menghampiri mereka, bertanya beberapa hal berkaitan dengan persiapan itu.

Jongin tampak tidak tertarik untuk bertanya. Ia melenggang menjauh, berjalan menuju sebuah gang cukup besar untuk menghindari kerumunan.

KIKIKIK

Tetapi kemudian, terdengar sebuah suara kikikan kuda.

Jongin membalikkan tubuhnya, menatap seekor kuda yang tampak berlarian panik di tengah kerumunan. Orang-orang menghindarinya, berusaha agar tidak terluka oleh kuda itu. Jongin berjalan melintasi orang-orang, dengan mantelnya yang bergoyang mengikuti arah gerakannya.

"Wow, wow, wow!"pekik seorang tentara, berjalan perlahan menghampiri kuda itu untuk menenangkannya.

BUAGH!

"GIUSEPPE!"

Kuda itu menendang tentara itu dengan kaki depannya, membuatnya terjerembab ke tanah dan tidak sadarkan diri seketika.

Jongin mempercepat langkahnya, menghampiri kuda itu. Ia menatap kuda itu tepat ke dalam matanya yang panik.

"JONGIN!"

Terdengar pekikan panik Tuan Andrew, tetapi Jongin tidak mempedulikan. Ia merentangkan kedua tangannya, menatap tepat ke arah kedua mata kuda itu. Kuda itu agak kaget dengan kehadiran Jongin, lantas melangkah mundur dengan panik.

"Jangan takut, kumohon. Tenanglah. Tenanglah. Aku tidak akan melukaimu."gumam Jongin, lirih dan perlahan.

Kuda itu masih mengikik dengan nada agak panik, namun itu tidak membuat Jongin takut. Ia berjalan menghampiri kuda putih itu perlahan, dengan kedua tangan terentang–berusaha menyentuh kuda itu.

Dan perlahan, kuda itu mulai sedikit tenang.

Jongin semakin mendekatinya, kemudian tangannya berhasil menyentuh hidung kuda itu. Kuda itu agak menolak ketika Jongin menyentuh hidungnya, dan Jongin semakin mendekat ke arah kuda itu.

"Sstt, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja. Sssttt.."desis Jongin dengan lembut.

Dan kemudian, tangan kanannya berhasil mengusap hidung kuda itu.

Jongin mengusap kepala kuda yang besar itu, memberinya rasa perlindungan. Kuda itu mendekat ke arah Jongin, kemudian mengusapkan kepalanya pada tangan Jongin. Jongin terkekeh, kemudian merapikan bulu-bulu kepala kuda itu yang berantakan.

"Ba-bagaimana.."

Jongin berbalik, ketika beberapa tentara mendekatinya. Tuan Andrew mendekatinya, menatapnya dengan kaget. Jongin sendiri agak heran kenapa dia bisa menjinakkan kuda seperti itu.

"Ba-bagaimana bisa.. kau.. menjinakkan kudaku?"tanya Tuan Andrew, heran.

"Entahlah. Aku hanya memintanya."

.

.

"Aku memintanya untuk menjadi tenang, dan meyakinkannya bahwa aku bukan musuhnya."

-XOXO-

Jongin tengah memungut beberapa sampah yang mengotori area bekas pengumuman kemarin. Dia mengumpulkannya dalam sebuah karung, kemudian mengumpulkan karung itu di pinggir-pinggir.

BRUK!

"Hey, ada seorang gelandangan yang berteman dengan kuda!"

Sekelompok pengejek itu kembali, dan Jongin hanya bisa diam. Dia tidak menghiraukan mereka, dan terus melanjutkan pekerjaannya.

BRUGH!

"Owh, sorry.."

Salah seorang dari mereka menyenggol karung yang tengah Jongin pegang, memuntahkan isinya ke tanah. Jongin terdiam, namun dia hanya diam. Dia berjongkok, merapikan sampah itu kembali.

"Kau bodoh, kau tahu? Bagaimana bisa orang bodoh sepertimu menarik perhatian letnan terhebat dalam kerajaan kita, huh?"

Jongin tidak membalas. Dia lebih memilih untuk mengumpulkan sampah-sampah itu kembali ke dalam karung.

"Jika saja aku punya saudara sepertimu, aku pasti sangat menyesal, hahaha!"

Jongin terdiam.

.

"JONGINNN!"

.

BRUK!

Jongin bangkit, kemudian berbalik. Dia menatap orang yang tadi menyinggungnya, dan orang itu tertawa ketika melihat bahwa Jongin merespon balik.

"See? Dia bisa marah juga."ejek orang itu.

BUAGH!

Hanya untuk mendapati satu bogem mentah dari Jongin pada pipi kanannya.

"Hey! Berani-beraninya kau menyentuh pipiku!"pekik orang itu, sedikit meringis nyeri pada pipinya.

"Hajar dia!"ucap salah seorang dari mereka.

BUAGH!

DUAGH!

BRUK!

BUGH!

"Mati kau, bodoh!"

"Semoga kau membusuk!"

"Tuhan bahkan jijik padamu!"

"Tidak ada yang mengharapkanmu di dunia ini, kau tahu!?"

Mereka menendang-nendang tubuh Jongin yang meringkuk di atas tanah. Beberapa masih tampak belum puas untuk meninju Jongin, dan mereka tidak peduli dengan segala memar dan darah yang keluar dari tubuh Jongin.

"HEY! APA-APAAN INI!?"

Kelompok pengejek itu kaget bukan main, ketika tindakan mereka diketahui salah seorang tentara yang menghampiri mereka sambil berlari. Tanpa ba-bi-bu, mereka segera berlari dari situ.

"Mati kau, cuih!"

Dan yang terakhir malah meludahi Jongin.

Jongin terbangun dengan rasa sakit, berusaha untuk berdiri. Tentara yang menghampiri mereka segera berjongkok di sampingnya, membantunya berdiri.

"Tu-Tuan Andrew.."gumam Jongin, dengan sudut bibirnya yang berdarah.

"Jangan bicara. Ikut aku ke pos."ucap Tuan Andrew, tetapi Jongin menolak.

"Sampahnya.."gumam Jongin.

"Biar tentaraku yang merapikannya. Ayo, ke pos."ucap Tuan Andrew.

Dan Jongin tidak bisa menolak lagi, ketika Tuan Andrew membopohnya perlahan menuju pos tempat dia berjaga saat ini.

-XOXO-

"Mari kita obati luka ini."gumam Tuan Andrew.

Tuan Andrew meraih beberapa dedaunan dari semak-semak di depan posnya, kemudian menumbuknya. Ia berjongkok di hadapan Jongin dengan sebuah mangkuk berisi daun-daunan yang sudah ditumbuk.

"I-ini apa?"tanya Jongin, disenyumi Tuan Andrew.

"Ini daun jeruk liar. Sudah tradisi keluargaku untuk menggunakan daun jeruk ini untuk mengobati luka dan memar."ucap Tuan Andrew.

"Kau punya riwayat tabib?"tanya Jongin, digelengi Tuan Andrew.

"Ibuku dulu adalah seorang tabib. Dia bekerja di kerajaan, menjadi tabib istana."ucap Tuan Andrew.

"Hebat."

"Kemari, aku oleskan ini pada lukamu."

Tuan Andrew mengambil sejumput tumbukan, kemudian mengoleskannya pada luka Jongin. Jongin agak meringis sakit, namun ia berusaha menahannya. Tuan Andrew sesekali menatap ekspresi sakit Jongin, namun ia diam saja.

"Nah, selesai."

Tuan Andrew tersenyum, kemudian menaruh mangkuk itu di mejanya. Ia mengambil sebuah kursi, kemudian duduk di hadapan Jongin yang mengamati luka-luka berbalut tumbukan dedaunan pada tubuhnya.

"Kenapa mereka memukulimu, Jongin?"tanya Tuan Andrew.

Jongin terdiam. Tuan Andrew menatap Jongin sembari tersenyum, kemudian meraih sebuah gelas berisi wine dan meminumnya dalam satu teguk. Ia menawarkan segelas wine pada Jongin, namun Jongin menolak dengan halus.

"En-entahlah. Mereka memang suka memukulku."ucap Jongin.

"Kenapa kau tidak melawan?"tanya Tuan Andrew.

"A-aku terlalu takut. Orang bilang aku lemah."sahut Jongin, dengan nada lirih dan kepala yang ditundukkan.

"Apa kau pikir orang yang bisa menaklukan kuda seliar kemarin adalah orang lemah, huh?"ucap Tuan Andrew, melawan ucapan Jongin.

"A-aku tidak tahu. Kemarin itu aku sedang beruntung saja."jawab Jongin, berusaha mengelak.

Tuan Andrew menghela nafas berat, kemudian meraih botol wine miliknya dan kembali meneguk satu gelas wine. Ia menatap Jongin, kemudian menegakkan tubuhnya–untuk mempertegas ucapannya.

"Prajurit kemarin yang diserang kuda itu, kau tahu siapa?"tanya Tuan Andrew.

"Tidak. Siapa?"tanya Jongin, dibuat penasaran.

"Dia adalah Letnan Giuseppe von Louis, salah satu letnan terbaik kerajaan ini. Dan letnan sehebat dia, bisa ditendang oleh kuda kerajaan sendiri. Kau berhasil menaklukan kuda itu. Kau tahu, apa yang dilihat kuda itu dalam dirimu?"tanya Tuan Andrew, digelengi Jongin dengan mata yang memancarkan rasa penasaran.

.

.

"Kuda itu melihat kekuatan dalam dirimu. Kekuatan yang menguasai kuda itu, memerintah dirinya untuk tenang dan tidak menyerang orang-orang. Kuda itu melihat kekuatan dalam dirimu."

Jongin terdiam ketika mendengar ucapan Tuan Andrew. Tuan Andrew tersenyum–memamerkan lesung pipitnya–kemudian menunjuk bagian dada dari Jongin. Jongin memperhatikan tangan itu.

"Dia melihat kekuatan dalam sini. Kau takut terhadap kuda itu, tetapi kau mengendalikan rasa takut itu dan menjadikannya sebagai kekuatan olehmu untuk mengontrol kuda itu."ucap Tuan Andrew.

Tuan Andrew menatap Jongin yang agak memikirkan jawaban Tuan Andrew. Tuan Andrew terkekeh, kemudian menyilangkan tangannya di dada bidangnya.

"Apa kau akan mengikuti seleksi prajurit besok, Jongin-ah?"tanya Tuan Andrew.

Dan kemudian, Jongin menggeleng. Tuan Andrew menegakkan tubuhnya, kaget.

"Kenapa?"tanya Tuan Andrew, meminta penjelasan Jongin.

.

.

"Mereka yang suka mengejekku akan mengikuti seleksi itu juga. Aku pasti akan dikalahkan oleh mereka. Mereka tidak suka denganku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengalah."

Tuan Andrew terdiam, kemudian tersenyum maklum. Ia mengusap kedua tangannya, kemudian mengamati wajah Jongin yang sendu. Dia menepuk pundak Jongin, membuat Jongin menatapnya.

"Jangan pernah mau dikuasai oleh orang lain."ucap Tuan Andrew, membuat Jongin mengernyit bingung.

"Maksudmu?"tanya Jongin.

"Kau manusia, Jongin. Kau bebas semenjak kau lahir, semenjak kau pertama kali bernafas. Kau memiliki hak untuk menjadi dirimu sendiri, mengenal siapa dirimu sebenarnya. Jangan sampai kau membiarkan orang lain menguasaimu, membuatmu kalah. Jangan. Kalahkan mereka, Jongin. Tumbuhkan passion dalam dirimu, jadilah kuat, jangan pernah mau diinjak oleh mereka. Kau berharga, Jongin. Aku tidak mau kau menyia-nyiakan bakat bertarungmu di tempat tidak layak seperti ini."

Jongin terdiam. Tuan Andrew tersenyum, kemudian menatap wajah Jongin dengan pandangan teduh. Jongin agak memikirkan jawaban itu, menatap ke arah manik hazelnut dari letnan yang perlahan memotivasinya.

"Bebaskan dirimu. Jadilah bebas, Jongin. Tidak ada yang berhak melawanmu di sini. Jika mereka melawan, lawan mereka balik dengan kekuatan dalam dirimu. Jadilah kuat, perkasa, selayaknya namja lain. Kau punya kesempatan yang sama dengan semua namja di luar sana."jelas Tuan Andrew.

"Mengapa kau begitu percaya bahwa aku bisa, Tuan Andrew?"tanya Jongin, meminta penjelasan Tuan Andrew.

.

.

"Wajahmu mengingatkanku pada salah seorang kawanku di infanteri yang berkhianat pada kerajaan ini. Aku ingin ada seseorang yang menggantikan posisinya dalam pasukan, dan aku percaya itu adalah kau."

TO BE CONTINUE

Note :

HELLO GUYS!

Well, disini udah mulai ada friendship antara Tuan Andrew Salozarre. Btw, bayangin aja kalo Tuan Andrew Salozarre itu adalah Siwon Super Junior yaaaaa (udah diberitahukan sebelumnya dalam teks, nama Inggris SIWON adalah ANDREW CHOI).

Jujur, HAW suka banget sama peran Jongin di sini. Kalian bakal diajak untuk mengikuti setiap perkembangan kepribadian Jongin, dan bakal ada twist di ending yeayyy!

So, mind to REVIEW and FAVOURITE my FF?

HUANG AND WU