Selama seminggu perempuan beriris emerald itu bersekolah, maka selama seminggu itu pula ia tidak mengetahui keberadaan pemuda itu. Ia berharap kalau saat itu ia tidak tengah berimajinasi. Tapi, jika pun itu benar, entah mengapa dirinya merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. Masa lalunya membayanginya. Ini rumit. Tidak seharusnya dia merasakan itu. dirinya sudah lama tidak bertemu dengannya, bukan? Bukankah sekedar memberikan pelukan hangat itu wajar?
Itu pun kalau ia bisa.
Sakura menghela napasnya. Kali ini harapannya hanyalah kehidupan SMA yang tenang. Ia tidak ingin terusik dengan hal lainnya. Langit mulai berubah warna menjadi sedikit kemerah-merahan. Sudah sore dan ia harus pulang. Segera, ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan halte itu dengan sepedanya.
Don't Ignore Me, Please!
.
.
.
Karakter :
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Gaara
.
.
.
Genre:
Romance
.
.
.
WARNING:
Out Of Character, Typo dan lain hal sebagainya (-n-")
.
.
.
Tokoh-tokohnya sudah pasti punya Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 02 : Pemuda itu
"Sakura-chan yakin nggak ikut kami jalan-jalan hari ini?" tanya Hinata ketika perempuan beriris emerald itu menghubunginya. Sebenarnya, ia tidak memiliki kegiatan apapun di hari libur itu. Tapi, entah mengapa tubuhnya sangat enggan untuk bergerak keluar rumah saat ini. Malas, mungkin itu kata yang paling tepatnya.
Perempuan beriris emerald itu menganggukkan kepalanya, "Malas keluar rumah. Jangan bilang ke Ino jika itu alasanku. Nanti aku diceramahi olehnya." kata Sakura sambil menutup pulpennya. Tugas dari sekolahnya baru saja ia selesaikan dan ia memiliki banyak waktu untuk melakukan berbagai kegiatan di dalam rumah.
"Baiklah, nanti akan kucarikan alasannya. Tapi, untuk ke depannya aku ingin Sakura-chan ikut jalan-jalan bersama kami."
"Aku tidak janji ikut, tapi akan kuusahakan."
Hinata yang mendengar itupun hanya bisa tersenyum maklum. Memang agak sulit menyeret temannya yang satu ini keluar. Perempuan beriris emerald itu lebih menyukai di dalam rumah. "Oke, sampai jumpa hari Senin, Sakura-chan."
"Um, sampai jumpa." balasnya singkat. Sambungan terputus. Sakura merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, memandangi langit-langit kamar yang ditempeli oleh hiasan luar angkasa. Memang, ini terlihat kekanak-kanakkan. Bisa saja ia mencabut hiasan itu dan menggantinya dengan hiasan lainnya. Tapi, itu tidak akan terjadi. Ia menyukai hiasan ini.
Bulan, bintang, meteor ataupun planet-planet. Ia menyukai itu.
Bukannya ia ingin menjadi astronot atau peneliti ruang angkasa. Ia bahkan tidak pernah memimpikan itu. Hanya saja, benda-benda yang berada di luar kehidupan bumi cukup membuatnya tertarik. Penuh misteri dan begitu indah. Dan sepertinya bukan hanya itu. Ada seseorang yang membuatnya menyukai benda-benda luar angkasa itu.
Sakura mengalihkan pandangannya ke arah boneka beruang miliknya. Tangannya terulur menggapai boneka coklat yang nyaris setinggi dua kaki itu. Ia memandangi boneka itu sebelum akhirnya membuka bagian belakangnya yang tak sengaja robek waktu itu. Terdapat sebuah foto di dalam benda empuk itu. Sakura mengeluarkannya dan menghela napasnya. Foto enam tahun lalu. Tepat ketika ia kelas empat SD.
Terlihat dua orang anak yang tengah berpose. Mereka terlihat sangat dekat. Yang satu, seorang perempuan beriris emerald dengan rambut pink sepinggang. Lalu pemuda yang merangkulnya adalah seseorang yang menghantui pikirannya selama empat tahun lamanya. Itu foto terakhir mereka. Tepat sebelum pemuda itu menjauhinya.
Perempuan beriris emerald itu kembali memasukkan foto itu ke dalam boneka. Ia tidak ingin menatap benda itu terlalu lama. Rasa menyesakkan itu kembali. Ia menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya dari perasaan ini.
Ia memegang helaian rambutnya. Pewarna rambut itu sudah mulai memudar. Ia yakin tinggal beberapa hari lagi rambutnya kembali ke warna asalnya. Bukannya ia tidak menyukai rambutnya–ia bahkan sangat menyukainya. Tapi, warna rambut aslinyanya itulah yang justru membuatnya minder. Memang, hitam warna yang paling terlihat normal, tapi entah mengapa dia sedikit risih dengan warna itu di rambutnya.
Untuk kesekian kalinya, ia perempuan beriris emerald itu menghela napasnya. Ia akan mengecat rambutnya nanti. Sekarang ia belum siap untuk menunjukkan warna rambut aslinya.
.
Seperti biasa, perempuan beriris emerald itu melakukan aktivitas paginya. Yang membedakan adalah waktu. Ia pergi ke sekolah lebih cepat lima belas menit dibandingkan sebelumnya–ia takut seperti waktu itu dan untungnya Iruka-sensei masuk tepat dia baru duduk. Kegiatan ekskul di sekolahnya sudah mulai aktif. Hinata mengikuti ekstra tata boga. Sedangkan Ino mengikuti ekskul paduan suara–ya…meskipun sifatnya seperti itu, Sakura akui, suara itu sangatlah bagus.
Lalu dirinya, nyaris memiliki niat kembali ke ekskul yang ia ikuti semasa SMP. Ekskul beladiri, Karate. Nyaris niat, bukan berniat. Inginnya sih mencari ekstra lain untuk diikuti –sayangnya belum ada yang membuatnya tertarik.
Perempuan beriris emerald itu merapikan rambut hitam sebahunya yang sedikit berantakan. Dengan sedikit malas, ia melangkahkan kakinya ke kelasnya. Hari ini hari Rabu. Mata pelajaran di hari ini sangatlah membebankannya. Matematika, Fisika dan Kimia yang berturut-turut. Ditambah lagi pelajaran sastra Jepang yang mempelajari materi yang tidak ia sukai, membuat puisi.
'Semoga hari ini keberuntungan berpihak kepadaku.' Sakura segera mengaminkan doanya itu. Berbagai macam hal terbayang olehnya. Dari guru yang tidak hadir hingga waktu pulang dicepatkan. Ia tahu itu tidak mungkin, tapi setidaknya biarkan dirinya berharap.
"Hei, kau perempuan berambut hitam sebahu." Sakura mengabaikan panggilan yang ditunjukkan untuknya. Bocah iseng. Sejenak, ia mulai memikirkan apa yang membuatnya sial hari ini–anggap saja 'panggilan' tadi awal dari kesialannya di hari ini.
Laki-laki itu memegang bahunya, "Aku memanggilmu, jidat lebar."
Mendengar itu, urat di pelipis Sakura terbentuk. Dan sedetik kemudian…
BUAGH…
"Urg… SAKIT, WOI!" rintih pemuda sambil mengelus kepalanya yang sukses terkena kecupan hangat dari tas Sakura. "Kasar sekali dirimu. Seharusnya kau kira-kira tadi. Aku kan hanya bercanda."
"Itu keterlaluan, Inuzuka Kiba," balas perempuan beriris emerald itu sambil menepuk-nepuk pelan tasnya. Ia menatap sedikit tajam ke arah pemuda itu. Terserah dirinya mau dikatakan apa, tapi jika mengenai dahinya yang lebar–atau pendek dan menyangkut ciri fisiknya–maka perempuan itu tidak akan diam. Baginya itu penghinaan yang cukup keterlaluan. "Dan kurasa kau sangat membutuhkan salam hangat dari tasku ini."
"Cih, aku nggak butuh salam hangat dari apapun."
"Kalau gitu jangan mengangguku. Hari ini hari yang cukup menjengkelkan bagiku."
Pemuda bertato segitiga itu menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya naik, membentuk serigaian yang memuakkan. "Jadi hari ini kau sedang badmood, eh?"
Sakura memutar kedua bola matanya. Ia membalikkan badannya, mencoba mengabaikan Kiba yang mulai menggodanya. 'Ya, dan kaulah awal penyebabnya, Pecinta Anjing.' jawabnya dalam hati. Ia melangkahkan kakinya, berjalan menjauhi pemuda yang memang sering menggodanya sedari SMP itu.
"Hei, tunggu dul–"
"Kurasa dari tingkahnya, dia tampak sangat terganggu akibat ulahmu, Kiba-san." Kiba menoleh ke pemilik tangan yang menahan tangannya yang terangkat untuk mencegah Sakura. Pemuda bertato itu mendecih kesal. Ia menyentakkan tangannya hingga terlepas dan berbalik meninggalkan pemuda itu.
Sakura menghela napasnya lalu memukul pelan pemuda yang baru saja menyelamatkannya. "Tak kusangka kau juga bersekolah di sini. Bukannya rumahmu jauh?"
Pemuda itu tertawa pelan, "Memangnya salah jika aku juga bersekolah di sini? Kita jadi sering bertemu, bukan?" katanya sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku, menambah kesan keren dirinya. "Lagipula satu sekolah denganmu bukan hal yang buruk menurutku."
"Jadi kau bersekolah di sini karena diriku?" ucap Sakura dengan nada bercanda. Perempuan beriris emerald itu tertawa pelan beberapa detik kemudian, menertawai dirinya yang terlalu percaya diri. "Aku bercanda. Kau ke sini karena prestasi baseball di sekolah ini cukup bagus, bukan? Dasar rambut merah maniak baseball."
Pemuda itu tertawa–entah mengapa itu cukup terdengar garing di telinga Sakura. "Baseball itu olahraga yang sangat di penuhi semangat. Seharusnya kau merasakan ketika berlari menuju base, ketika kau berhasil memukul ataupun melempar. Itu semua sangat menyenangkan."
"Terserah katamu, dasar maniak."
"Berhenti mengatakan panggilan itu, Lolita Setengah Jadi."
"Hei–" Oke, Sakura akui tingginya hanya sekitar 147 cm, dua puluh dua senti lebih pendek darinya. Tapi, tidak semua perempuan yang pendek itu loli, bukan? Pakai kata 'Setengah Jadi', pula. "Apa-apaan panggilanmu itu, Gaara?"
Pemuda bernama Gaara itu tertawa sedikit keras, "Gini, ya Haruno Sakura. Kau itu pendek. Sifatmu itu sebenarnya kekanak-kanakkan–tapi tertutupi dengan sifat dinginmu. Untuk beberapa ekspresi kau terlihat imut. Jadi, kau yang terlihat setengah-setengah itu membuatku memanggilmu dengan panggilan tadi. Dibilang loli tapi kau kasar. Dibilang tomboy, tapi terkadang kau malah bertingkah seperti perempuan seperti biasanya." Gaara menepuk-nepuk pucuk kepala Sakura yang membuat perempuan itu sedikit menautkan kedua alisnya.
Sakura cengo. Ini kata terpanjang yang ia dengar. Selama empat tahun dia berteman dengan pemuda itu, baru kali ini ia mendengar plus melihat ekspresi pemuda itu yang tampak bersemangat–selain membicarakan baseball. Seingatnya, hari ini tim baseball tidak memiliki jadwal latihan tanding antar sekolah lainnya ataupun perlengkapan olahraga baru. Lalu apa yang membuatnya tampak cerah hari ini?
"Ah, terserahmulah, Gaara. Ada baiknya jika kau ke UKS nanti. Tampaknya kau sakit sehingga kau terlihat sangat bahagia hari ini." ujar perempuan beriris emerald itu sambil memulai ancang-ancang untuk berjalan ke kelasnya. "Bye-bye. Kuharap kau menyukai ekskul baseball di sekolah ini."
"Aku pasti akan menyukainya. Bye-bye."
Sakura memberikan senyuman tipis ke pemuda itu. Ia berbalik, berjalan menuju kelasnya. Gaara yang melihat punggung Sakura pun tersenyum. "Tentu saja aku akan sangat menyukainya. Karena selain baseball, ada lagi yang menarik perhatianku di sekolah ini." gumamnya sebelum membalikkan badannya dan berjalan menuju kelasnya.
Dan tanpa mereka berdua sadari, seorang pemuda bersandar di balik pintu. Tepat di belakang pintu yang ia sandar, kedua manusia berbeda gender itu tadi saling bercengkrama. Ia mendengar semua interaksi mereka. Dengan ekspresi datarnya, ia menutup buku yang ia baca lalu berjalan menuju tempat duduknya dengan berbagai macam hal yang ia pikirkan di otaknya.
.
Sakura tidak tahu ingin berkata apa. Tepat di hadapannya ini, kedua temannya menatapnya antusias–terutama Ino dengan serigaian jahilnya. Perempuan beriris emerald itu menghela napasnya lalu mengalihkan pandangannya. Dia kurang menyukai ini. Salahnya juga sih, dia tidak menyadari kehadiran kedua temannya saat itu.
"Kau harus memberitahuku. Siapa pemuda itu? Baru kali ini aku melihat dirimu akrab dengan laki-laki." ujar perempuan berambut blonde itu dengan tatapan menuntut. Sakura memakan bekalnya. Kroket yang ibunya buat entah mengapa terasa kurang di lidahnya.
Hinata angkat bicara, "Sakura-chan, wajahmu terlihat lebih ceria tadi. Sepertinya pemuda itu membuatmu berubah." Perempuan berwajah ayu itu semakin menatap Sakura antusias. "Akhirnya aku melihatmu seperti itu setelah sekian tahun lamanya."
"Memangnya dia seperti itu dulu?"
Hinata mengangguk, "Du–"
"Hinata, cukup." Sakura meletakkan sumpitnya sambil menatap bekalnya. Hinata yang menyadari itu pun menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah. Tidak seharusnya ia mengungkit masa lalu temannya itu.
"Maaf," gumam Hinata sambil menatap hati-hati Sakura. Ino menatap Hinata tak mengerti. Memangnya apa yang salah?
Sakura yang mendengar itu pun hanya tersenyum tipis. Ia menutup bekalnya yang baru ia makan setengahnya, berdiri dan menatap kedua temannya. "Aku ke toilet sebentar." ucapnya langsung melenggang pergi, mengabaikan tatapan bingung Ino.
Perempuan beriris emerald itu melangkahkan kakinya sedikit cepat. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Masa lalunya itu cukup menghantuinya hingga saat ini. Pengkhianatan. Untuk apa dia berkorban demi seseorang yang mengkhianatinya? Untuk apa dia mempercayai orang lain jika ternyata mereka tidak mempercayai dirinya? Untuk apa berinteraksi dengan yang lain jika mereka tidak mengnggap dirimu sama sekali?
Ini menyebalkan.
Sakura menyenderkan kepalanya ke jendela lorong. Kepalanya mulai terasa pusing. Entah sudah sejauh mana ia berjalan. Perempuan itu melirik ke kanan. Labolatorium Kimia. Ah, dia melewati toilet, tepat lima meter di belakangnya. Menyadari itu, Sakura mengacak-acak rambutnya dan berbalik menuju tujuan utamanya.
Namun, Sakura mengurungkan niatnya ketika ia mendengar suara tawa dari ujung lorong. Di tempat yang sepi itu, sangat aneh jika ada seseorang yang tertawa seperti itu. Sakura mengernyitkan dahinya. Ia mengenal suara tawa ini. Ah, ini bukan tertawa jika ia mendengar lelucon dari pelawak. Ini adalah tawa yang menyebalkan. Perempuan beriris emerald itu melangkahkan kakinya ke sumber suara.
Iris emeraldnya mengintip dari daun pintu yang terbuka. Tepat di dalam gudang ini, ada tiga orang perempuan dan satu orang lainnya yang tengah menatap ketiga perempuan dengan tatapan meminta ampun. Perempuan itu menangis, seolah-olah mengharapkan ada seseorang yang membantunya dari ketiga perempuan di hadapannya. 'Pembulian.' ucap Sakura dalam hati. Rahang perempuan itu mulai mengeras disertai tangannya yang sedikit mengepal.
Namun, itu semua terhenti ketika perempuan yang tengah dibuli itu menatapnya. Bahunya tidak lagi menegang, begitu pula dengan kepalan tangannya yang mulai melemas. Sakura sedikit tersentak ketika kedua bola mata perempuan itu menatapnya dengan tatapan berharap. Perempuan beriris emerald itu mengalihkan pandangannya, tidak memperdulikan tatapan itu. Ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
'Ini bukan urusanku.'
Dengan segera ia memasuki toilet lalu mencuci wajahnya hingga empat kali. Rambut depannya basah hingga menetes mengenai seragam bagian atasnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin. 'Sangat mengerikan.' batinnya mengejek dirinya sendiri. Rambut yang sedikit berantakan dengan ekspresi yang sangat suram.
Sakura merogoh saku roknya, mengambil sapu tangan. Sembari mengelap wajahnya, ia berjalan menuju kelasnya, tempat dimana dirinya dan kedua temannya menghabiskan waktu makan siang. Sakura menghela napas. Entah mengapa perempuan yang dibuli tadi mengganggu pikirannya. Ia memegangi kepalanya untuk kedua kalinya. Memikirkannya kembali membuatnya ia pusing.
Langkahnya terhenti ketika seseorang memegang tangan kirinya. Dengan mata sedikit menyipit, ia menoleh menatap sang pemilik tangan. "Kau sakit?" tanya pemuda itu menatapnya khawatir.
Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak, hanya sedikit pusing." jawabnya sambil tersenyum tipis. "Kau tidak perlu khawatir, Gaara."
"Kau pucat."
"Kurang tidur, mungkin itu penyebabnya." Sakura menarik napasnya dalam-dalam, "Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Aku harus kembali ke kelas."
Pemuda berambut merah itu menganggukkan kepalanya ragu. Ia cukup khawatir dengan kondisi Sakura. "Jangan memaksakan diri, oke?" ucapnya sebelum perempuan beriris emerald itu berjalan lebih jauh. Sakura yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya sembari mengacungkan jempol kanannya.
Perempuan beriris emerald itu tersenyum tipis. Gaara, pemuda itu lagi-lagi mengkhawatirkannya. Memang, ia tidak ingin mempercayai orang lain, tapi entah mengapa itu semua goyah ketika kembali menatap ketiga temannya. Gaara, Ino dan Hinata. Mereka bertiga sudah cukup. Berada di samping mereka saja itu sudah sangat cukup.
Ia tidak ingin mereka bertiga meninggalkan dirinya.
.
"Yakin, pulang sendiri?" Gaara menatapnya khawatir. Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit lalu. Ino sedang ada kegiatan ekskul dan Hinata pasti sudah dijemput oleh kakaknya. Kekhawatiran Gaara terbukti, perempuan beriris emerald itu demam. Wajahnya lebih pucat dibandingkan terakhir ia bertemu dengannya beberapa jam sebelumnya–meskipun sedikit memerah karena demam.
Sakura menganggukkan kepalanya, "Rumahmu berlawanan arah denganku, bukan? Lagipula aku naik sepeda."
Gaara menghela napasnya. Perempuan beriris emerald ini sangatlah keras kepala. "Baiklah, tapi ketika sudah sampai rumah, kirimi aku pesan."
"Oke," ujar Sakura sambil menaiki sepedanya. "Itupun kalau kuingat." Perempuan itu menjulurkan lidahnya dan menggayuh sepedanya cepat. Gaara yang mendengar itu pun cengo sejenak. Sedetik kemudian, ia terkekeh pelan. Perempuan itu, Sakura, selalu saja terlihat menarik di matanya.
Sakura tertawa pelan melihat ekspresi cengo pemuda berambut merah itu. Gaara, ia bertemu dengannya sekitar tiga tahun lalu. Di halte bus dekat Sekolah Menengah Pertamanya. Waktu itu Sakura sering duduk menenangkan diri di sana–tanpa disangka itu menarik perhatian pemuda berambut merah itu. Gaara sering berlatih baseball dengan tim lainnya di lapangan tepat di depan halte. Maka dari itu, Sakura masih ingat ketika Gaara dengan seragam baseballnya duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat, memang, tapi tetap saja ia dapat mengingat pemuda itu–karena terlalu sering duduk di sampingnya.
Sakura tanpa sadar tersenyum mengingatnya. Tanpa memperdulikan suhu tubuhnya yang meningkat, perempuan beriris emerald itu terus menggayuh sepedanya. Melewati jalanan yang ia lalui tanpa memperhatikan sekelilingnya. Sebentar lagi ia akan sampai di rumahnya. Jarak yang biasa ia tempuh lima belas menit pun menjadi terasa lebih singkat.
Perempuan beriris emerald itu menghentikan sepedanya, menatap bagian dalam rumahnya di balik pagar. Ia pun menuruni sepedanya, menyenderkan sepedanya ke pagar berdinding–tepat di samping pagar besi–lalu membuka gerbang. Ia berbalik untuk mengambil sepedanya. Dan lagi-lagi langkahnya terhenti ketika kedua bola matanya menangkap seorang pemuda yang tengah berdiri tepat beberapa meter di hadapannya.
Pemuda yang menghantui pikirannya selama empat tahun ini. Pemuda yang menjadi teman semasa kecilnya dulu. Pemuda yang membuatnya memendam sebuah perasaan. Dan pemuda yang kini mungkin telah melupakannya. Memikirkan itu semua membuatnya sesak. Sejenak, ia lupa untuk bernapas. Sakura menggigit bibir bawahnya. Dengan sedikit terburu-buru, dia memegangi stang sepedanya dan menggeret sepeda itu masuk ke dalam rumah.
'Sepertinya demam ini membuatku berhalusinasi dirinya.' ucapnya dalam hati.
Baru saja ingin melangkahkan kakinya memasuki gerbang, perempuan beriris emerald itu di tarik ke belakang, berbalik dan pipinya menabrak pelan dada sang penarik. Sakura lagi-lagi menahan napasnya ketika menyadari dirinya sangatlah dekat dengan seseorang yang menariknya itu.
Sakura mendongakkan kepalanya sambil mundur selangkah. Pemuda yang tadi berdiri beberapa meter di sana tepat berada di hadapannya. Tangan kiri pemuda itu menarik pinggangnya agar lebih mendekat. Pemuda itu menduk sehingga wajahnya hanya berjarak lima senti dari wajah Sakura. Detak jantung Sakura berdetak dua kali lebih cepat. Kali ini ia merasa jika suhu tubuhnya benar-benar bertambah panas.
Ah, dia berharap agar warna merah pada wajahnya tidak terlihat.
"Kau melupakanku, Saki?" ucap pemuda itu tanpa memperlebar jarak wajah mereka. Paras tampan pemuda itu sekilas mengingatkannya pada salah satu ekspresi pemuda itu sewaktu kecil.
Sakura menggigit bibir bawahnya kuat. Ia tidak tahu ingin mengucapkan apa. Suaranya tercekat, menahan agar tidak keluar dari mulutnya. Iris emeraldnya menatap iris hitam pekat pemuda itu dalam-dalam–begitu pula dengan pemuda itu. Napasnya naik turun tidak beraturan. Pemuda ini nyata. Ini bukan halusinasinya.
"Kau–"
Ucapannya terputus ketika tangan pemuda itu menyentuh dahinya pelan. "Sama seperti dulu, kau selalu meremehkan kesehatanmu." Pemuda itu pun memperlebar jarak mereka. Tangannya merogoh saku blazernya dan memberikannya ke tangan Sakura lalu menjentikkan jarinya ke jidat perempuan itu. Sakura sedikit meringis dan mengelus pelan dahinya.
"Beristirahatlah. Dan tegur aku di sekolah jika kau sembuh." ucapnya sambil berjalan meninggalkan Sakura yang masih mematung. Tatapan elangnya melirik Sakura sekilas sebelum ia berjalan lebih jauh. Perempuan itu memandangi punggung pemuda itu hingga berbelok memasuki sebuah rumah yang sangat ia kenali. Rumah Bibi Kurenai.
'Anak kost bibi yang baru sangat tampan, loh.'
"Jadi, yang dimaksud Bibi Kurenai waktu itu dia?" Sakura menghela napasnya kasar. Ia pun menatap benda yang diberikan oleh pemuda itu. Perasaannya campur aduk. Sebuah kompres penurun suhu. Entah bagaimana pemuda itu tahu jika dirinya demam. "Dasar, dia itu–"
"–Uchiha Sasuke."
.
Sakura merapatkan selimutnya agar kain tebal itu dapat menghangatkannya. Ia merasa kedinginan, tapi suhu tubuhnya panas. Keringat bahkan sudah membasahi sebagian besar piama yang ia pakai. 'Aku benci sakit.' batin perempuan itu sambil mencoba untuk tertidur. Ia tidak tahu apa yang membuatnya sakit. Dirinya sudah menahan diri agar tidak bermain hujan ataupun minuman dingin dan lain halnya yang dapat membuatnya sakit. Lalu apa penyebabnya? Ini sangat tiba-tiba.
Ah, sudahlah. Perempuan beriris emerald itu terlalu lemah untuk memikirkan hal itu.
Sakura sedikit membuka matanya ketika ia mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka pelan. Siapa yang membukanya? Hantu? Itu tidak mungkin. Sekarang masih menunjukkan pukul setengah lima sore dan selama ia tinggal, belum pernah mengalami kejadian dengan makhluk astral itu.
Terlihat kepala dengan rambut merah mengintip dari balik daun pintu. Gaara. Cuma dia teman Sakura yang memiliki warna mencolok–selain warna asli rambut dirinya. Sakura membuka matanya lebar-lebar lalu tersenyum tipis ketika pemuda itu memasuki kamarnya. Ia berjalan mendekat sambil membawa cake yang Sakura yakin pemuda itu membelinya di dekat sekolah.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya pemuda itu setelah sebelumnya menaruh cake yang ia bawa di atas meja belajar perempuan beriris emerald itu. Pemuda itu pun duduk di pinggir tempat tidur Sakura dan menatap perempuan itu dengan sedikit khawatir.
Dengan mata sayu, Sakura tersenyum tipis, "Kau sudah lihat, bukan? Sama sekali tidak baik." jawab perempuan beriris emerald itu dengan tampang masamnya. Ia mencoba mendudukkan dirinya dan menyandarkan punggungnya ke dinding, berhadapan dengan pemua itu. "Aku benci demam." lanjutnya sambil memajukan bibirnya yang pucat. Gaara tertawa pelan.
Pemuda pecinta baseball itu mengulurkan tangannya menyentuh dahi Sakura. Sakura yang merasakan tangan dingin pemuda itu menahan napasnya untuk beberapa detik. "Masih panas. Lebih parah dari kemarin malah." gumam pemuda itu menarik tangannya. "Sepertinya kau tidak akan masuk ke sekolah dua atau tiga hari."
Sakura menaikkan sebelah alisnya. Matanya menatap pemuda itu sedikit jail, "Kenapa? Kau merindukanku karena tidak bertemu di sekolah?" Perempuan itu tersenyum jail. Gaara yang mendengar itu mematung sejenak sebelum akhirnya mencubit hidung Sakura.
"Ya, kurasa aku merindukan seseorang yang akan berdebat dengan Kiba di lorong nantinya. Melihatnya melempar tas ke wajah pemuda itu dengan tatapan dinginnya. Lalu–"
"Jangan mengejekku!"
Gaara tertawa, sedikit lebih keras dibandingkan biasanya. Ia tampak lebih puas. Sakura mencubit pelan lengan atas pemuda itu agar meredakan suaranya–sayangnya bukan mereda malah semakin keras. Kedua bola mata Sakura menatap ekspresi pemuda itu. Gaara tampak sangat bahagia hari ini. Tiga tahun mengenalnya membuat Sakura ingin mengenalnya lebih dalam. Dulu, dia adalah pemuda yang cukup misterius, pendiam dengan tatapannya yang menatap datar sekelilingnya.
Tapi, semakin ia bertemu dengan pemuda itu, semakin sering pula ia mengenal karakternya. Ia dapat tertawa lepas seperti ini atau pun melontarkan godaan dan lelucon kepadanya. Ia juga sangat jail di saat-saat tertentu. Tapi, meskipun begitu, pemuda itu sangat hangat.
"Ah, tadi Kiba nitip ucapan semoga cepat sembuh," ucap Gaara, matanya lagi-lagi mengerling jail. "Mungkin dia kangen ngejaili dirimu."
Sakura memutar kedua bola matanya, "Hei…" tegurnya sambil memukul pemuda itu pelan. "Meskipun dia bandel, Kiba itu termasuk anak baik. Penampilannya saja yang menipu." Gaara hanya memainkan bibirnya sekilas, entah mempercayai atau tidak ucapan Sakura. Iris hijau pucatnya menatap langit-langit kamar perempuan itu.
"Aku baru tahu kau menyukai benda-benda luar angkasa."
"Sebenarnya tidak terlalu sih, tapi ada beberapa hal yang membuatku menyukainya." Sakura tersenyum tipis. Emeraldnya menatap hiasan di langit-langit kamarnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Gaara yang melihat itu pun tertegun. Baru kali ini dia melihat emerald itu menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan sepertyi itu.
"Hei, aku sudah mendaftar ke ekskul baseball tadi." ujar pemuda itu mengalihkan pembicaraan. Sakura menatapnya antusias. Dirinya memang bukan pecinta baseball tapi, dia menyukainya. Pemuda di hadapannya ini yang membuatnya menyukai olahraga itu.
"Pelatihannya di mulai besok. Dan dua minggu lagi ada latihan tanding anggota baru dengan kakak kelas."
"Bukannya itu bagus? Kau bisa menunjukkan kemampuanmu dari situ, bukan?"
"Memang sih, tapi, bukannya ini terlalu cepat?"
Sakura menaikkan bahunya, "Lebih cepat lebih baik, kau tidak perlu menunggu kelas tiga tahun ini lulus baru dapat memasuki tim inti."
Gaara menganggukkan kepalanya. Iris hijau daunnya menatap Sakura, "Lalu kau? Ikut ekskul apa?"
"Karate lagi, mungkin." jawabnya sedikit ragu–tersirat ketidakniatan di dalamnya dan Gaara menyadarinya. Memang sih, Sakura berencana mengikuti ekskul itu sedari awal, tapi entah mengapa semakin hari ia semakin tidak niat. "Atau aku tidak mengikuti ekskul. Ah, kalau tidak, membuat ekskul sendiri, 'Ekstra Pulang Ke Rumah'."
Gaara memukul kepala Sakura pelan, "Kalau tidak punya tujuan gitu mending jadi manager ekskul kami."
Sakura mengernyitkan dahinya. Bukannya di setiap ekstra yang populer itu pasti memiliki manager yang dapat dihandalkan? Sangat tidak mungkin mereka mengurus ekskul mereka sendiri tanpa bantuan manager. Ekskul baseball di sekolahnya saja dulu memiliki manager yang sangat giat meskipun akhirnya ekstra baseballnya hanya bertahan hingga router ke tiga.
"Dua mananger sudah lulus. Dan manager yang sekarang kelas tiga. Kurasa dia sangat membutuhkan bantuan." Gaara menaikkan sebelah alisnya, matanya menatap Sakura seakan-akan mengatakan, 'Jadi mau tidak?'.
"Akan kupikirkan." ucapnya sebelum akhirnya menguap. Perempuan beriris emerald itu mulai mengantuk–efek obatnya bekerja. Pemuda berambut merah itu tersenyum maklum dan bangkit dari duduknya.
"Sudah sore, aku pulang. Nanti malah nggak dapat bus ke rumahku lagi. Cepat sembuh, oke?" Gaara mengacak-acak pelan rambut hitam sebahu Sakura. Perempuan beriris emerald itu sedikit menggerutu akan tindakan pemuda berambut merah di hadapannya namun itu tidak membuatnya kesal.
"Terima kasih sudah menjengukku." kata Sakura. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman yang cukup lebar. Sangat manis. Saking manisnya, Gaara mungkin akan terdiam menatapnya jika saja tidak ingat kalau perempuan itu sudah sangat mengantuk.
Pemuda berambut merah itu mengusap tengkuknya, mencoba agar tidak salah tingkah. Ia mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu kamar. Gaara berbalik sebentar, menatap Sakura yang mulai bersiap untuk tidur. Ia tersenyum penuh arti ke perempuan itu sambil melambaikan tangannya pelan. Pintu tertutup. Dan Sakura menutup matanya, bersiap untuk tidur.
Tidak seperti sebelumnya, perempuan beriris emerald itu tidak membutuhkan waktu lama untuk terlelap. Dua menit kemudian ia tertidur. Sangat pulas. Saking pulasnya, ia tidak menyadari jika ada seorang pemuda yang memasuki kamarnya. Dengan sangat berhati-hati, menutup pintu kamar dan berjalan mendekati Sakura yang tertidur.
Tangan kanannya mengelus surai hitam–pemuda itu tahu dulunya berwarna pink–yang sedikit lepek karena keringat. Mengelusnya berlahan, memastikan si pemilik surai hitam itu nyaman dalam tidurnya. Pemuda itu mendekatkan wajahnya, menatap sang putri tidur dalam-dalam. Sorot matanya mulai berubah, menjadi lebih sendu.
Pemuda berambut dark blue itu pun menempelkan dahinya ke dahi perempuan itu tanpa memperdulikan suhu badan Sakura yang meninggi. Tangan kanannya yang sedari tadi mengelus surai hitam itu kini meremas pelan helaian rambut itu. Sedangkan tangan kirinya yang sedari tadi diam kini memegangi tangan Sakura, menggenggamnya erat seakan-akan tidak ingin melepaskannya. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya sedikit kuat.
"Maaf karena sudah mengabaikanmu selama ini."
.
.
.
.
.
….. ._.
MANGAP! MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA! TT_TT Maaf karena kemarin langsung selesai aja. Ngga ada basa-basinya. Terus ceritanya terlalu mainstream. Terus typo yang bertebaran. (tulisannya SMA, tertulis Sekolah Menengah Keatas -_-") Ancur… -_-… dan berbagai kesalahan lainnya. Banyak banget sampai merenung di depan laptop TnT.
Ah, sudahlah TTwTT… udah ke publish…
Akhir kata… terima kasih sudah membaca, review, favorite dan follow XD ini ide yang mainstream dan yaa… mungkin agak sulit di jabarkan ._.
Kritik dan saran sangat bermanfaat untukku. ^^
.
DaunllalangKuning : Ohayou juga, DaunllalangKuning ^^. Untuk sarannya bisa jadi masukkan, agak kurang juga sih, manggil Sakura dengan kata 'Ra' atau 'Saku'. Jujur, sering kebiasaan manggil nama temen pakai dua huruf belakang dan di depan hehehee.. Akan diusahakan untuk diubah –nggak janji karena mungkin akan kepakai lagi untuk beberapa alasan. Lagipula di Jepangnya nggak ada penyingkatan nama kaya gitu -_- *apalah diriku*. Terima kasih sudah mau review :3 untuk punggung siapa dan yang ngekost itu siapa nanti akan ketahuan juga, kok.
