In Hamburg, I'm Fallin' In Love
Aloha readers..! ini my first FF tauk (dan ini part 2 nya), jadi maapin ye kalo serada gaje.. yang pernah nonton anime Tsubasa pastinya tau dong, siapa Rika. Cuma, ini ditambahin dikit, hehe. Kalo dibilang pairingnya GenzoXOC kayaknya enggak juga deh, soalnya Rika juga bagian dari Captain Tsubasa kan? Ya uds, enjoy aja oke? RnR!
Pairing : Genzo Wakabayashi X OC
Disclaimer : punya Yoichi Takahashi sensei yang luarrrr…biasa
Warning : gaje, abal, aneh, garing, lebay, pokoknya gitu deh!
DON'T LIKE DON'T READ, OK?
Author POV :
Misaki berjalan menuju kamar Wakabayashi. Tapi sebelum menutup pintu,
"Wakabayashi?" tanyanya.
"ya?" Wakabayashi menoleh.
"jujurlah pada dirimu sendiri" dan setelah mengatakan itu, Misaki menutup pintu kamar Wakabayashi.
Misaki langsung mengganti pakaiannya dengan piyama, lalu duduk dipinggir kasur. Lalu iapun berbaring. Saat ia melihat foto Wakabayashi, ia berbisik pelan,
'ya, Wakabayashi. Kumohon jujurlah, dan akui perasaanmu itu"
Lalu ia jatuh kedalam alam mimpi.
###
Wakabayashi POV :
Demi apapun jugaaaa…..aku galaauuu…..,
Apa sih maksud Misaki ngomong kayak gitu..?
Seriusan deh, dari tadi aku bener - bener kepikiran sama ucapannya tadi, kalimat sederhana tapi memiliki arti yang begitu dalam (ampun bahasanya -_-").
Mungkin emang iya sih, aku emang ngerasa ada yang lain pas tiap kali tatapanku beradu sama Rika. Rasanya udara jadi gerah, mukaku kayak kebakar, jantungku berdetak aneh.
Mungkin ini yang disebut orang 'perasaan jatuh cinta'..
Tapi enggak mungkin!
Mustahil namanya kalo aku langsung suka sama cewek yang baru kutemui 12 jam yang lalu..
Tapi perasaan yang aneh ini namanya apa?
Kalo aku ga tau, wajar ya, soalnya aku engga pernah ngerasa apapun kayak gini dengan semua gadis yang pernah kutemui,
Tapi yang ini? Kenapa berbeda?
Oh Tuhaaaaannn….
Aku bingung…..
Keesokan harinya…
Huaaah…aku ngantuk..
Jam berapa sekarang? Mataku yang masih setengah terbuka melihat kearah jam dinding. Aku ingat tadi malam aku baru bisa tidur jam setengah 2..tapi jam berapa sekarang? Aku melihat jarum panjang di angka 6, dan jarum pendek diantara angka 8 dan 9.
Aah, baru setengah 9, untung hari ini libur, jadi kegiatan klub sepakbolaku juga libur…
Eh, tunggu dulu..
Jam setengah 9 pagi?
Lalu Misaki?
Astaga, aku melupakan Misaki!
Aku langsung meloncat dari tempat tidur. Tapi aku lupa, aku tidur di sofa! Ya, dengan suksesnya aku terjatuh kebawah sofa, dan kepalaku dengan mulus membentur pinggiran meja.
Aduh! Sakit sekali, kawan.
Sambil mengaduh, aku berjalan kearah kamar mandi. Aku sikat gigi dan mencuci muka. Ampun, penampilanku luar biasa kacau! Setelah keluar dari kamar mandi, aku berjalan menuju kamar tidur, niatnya sih ingin membangunkan Misaki, siapa tahu ia juga belum bangun. Tapi tiba – tiba,
Krompyaaang…..!
Aku berlari kearah dapur. Eh, ternyata Misaki sudah ada disana, menutup telinganya karena kaget.
"maaf Wakabayashi! Aku tidak sengaja menjatuhkan wajannya!"
Aku heran, sedang apa Misaki didapur?
"kau sedang apa?" tanyaku.
"ya bikin sarapan lah! Awalnya aku mau membangunkanmu, ingin bertanya dimana kau menyimpan telur. Eh, aku melihat kau masih tidur, pulas sekali…makanya aku engga enak ngebanguninnya. Ya sudah aku cari sendiri. Nih, udah ketemu!" jawabnya riang sambil menunjukkan wadah telur. Aku hanya melongo.
Ya ampun, aku maluuuuuuuuuuuu….sekali! masa tamu yang bikin makanan buat tuan rumah! Kau memalukan, Genzo Wakabayashi!
"eh, udah..! aku aja yang bikin sarapannya..! kau ngapain gitu, aku ga enak nih! Dari kemarin kau terus yang masak!" seruku.
"serius nih? Ya udah, aku pengen mandi dulu. Daah..!" kata Misaki.
Akhirnya aku bikin sarapan deh. Bikin telur mata sapi, menggoreng daging, memanggang roti. Saat aku membawa piring berisi telur, daging dan roti panggang, Misaki selesai mandi.
Setelah sarapan, Misaki memutuskan untuk jalan – jalan disekitar apartemenku. Awalnya mau aku temenin, tapi Misaki mengingatkanku, kalau aku belum berkemas. Jadi ceritanya nanti aku ke Prancis dulu, menginap di apartemen Misaki selama 1 malam, baru keesokan paginya berangkat ke Jepang.
"tapi serius, gak mau aku temani? Kalo ada yang nanya kamu dalam bahasa jerman gimana?" tanyaku.
"alah gampang, ngomong aja pake bahasa inggris, 'sorry I can't speak German'. Beres kan?" sahutnya ceria.
Akhirnya Misaki berangkat jalan – jalan, setelah aku memberinya kuliah singkat (taelaah..) tentang daerah sekitar sini.
Fyuuh, akhirnya aku harus berkemas juga…
-_-"
####
Misaki POV:
Tau enggak sih, sebenarnya aku jalan – jalan mau ngapain?
Aku mau cari hadiah ulang tahun untuk Wakabayashi!
Sebenernya aku pengen ngajak Rika, tapi kayaknya dia bakalan ada acara sama temennya, makanya aku enggak jadi mengajaknya.
Kira – kira aku beli apa ya?
Aku memasuki sebuah toko kecil yang kelihatan lucu. Ternyata itu toko alat tulis sekaligus toko kelontong. Yah, boleh dicoba…
Aku ingat kalau Wakabayashi senang menulis catatan harian. Jadi kuputuskan untuk membeli sebuah buku catatan. Tapi harus sesuai dengan uang yang ada dikantong dong..hehe..tadi pagi aku tukeran uang sama Wakabayashi, soalnya ga sempat ke money changer. Lumayan banyak sih..jadi bisa beli yang rada bagus, kalo bisa sih yang buagusss banget (tapi tetep murah ya, inget, harus iriiit..:D)!
Aku berputar – putar disekeliling toko. Keliatannya kecil dari luar ternyata tokonya besar juga..
"hei, Misakiiii…!" lho, kok kayaknya aku kenal suara itu. Aku tengok ke kiri dan ke kanan, kok enggak ada? Aku merinding. Jangan – jangan itu suara….hiii…!
"hei, Misaki! Dibelakangmu lho!"
Aku menoleh ke belakang. Astaga, itu Rika dan Adelaide! Mereka berjalan menghampiriku yang masih setengah bengong.
"hei, kenapa kau ada disini? Mana Wakabayashi? Masa kau sendirian saja? Tanya Rika.
"eh, .. kenapa aku ada disini? Aku mencari sesuatu. Wakabayashi tidak ikut, dia sedang berkemas untuk nanti siang. Iyaaa, aku sendirian..memangnya kau lihat aku mengobrol dengan seseorang? Lalu kalian sedang apa disini? Ingin membeli sesuatu juga?" jawabku.
"Adelaide berkata ia akan menunjukkan toko terunik didaerah sini. Aku ikut saja, eh, ternyata tokonya lucu banget. Lihat, aku sudah menemukan ini!" ujarnya bersemangat sambil menunjukkan sebuah buku catatan bersampul kulit (asli atau imitasi? :p) berwarna putih yang bagus, sebuah bingkai foto, dan sebuah pensil mekanik imut berwarna putih (lagi, Rika memang suka warna putih), dan biru muda.
Kayaknya buku catatan itu bagus juga kalau aku berikan ke Wakabayashi.
"hei hei, dimana kau menemukan buku catatan itu? Aku juga ingin beli!" seruku.
"itu, di rak sebelah sana." Ujarnya.
Aku segera menuju kesana. Di rak tersebut aku melihat buku catatan aneka rupa yang imut + lucu. Tapi tatapanku segera tertuju pada sebuah buku catatan berwarna coklat bergradasi yang unik, soalnya kesannya kayak buku antik gitu deh. Kulihat harganya, semoga tidak mengecewakan (hehe, harus irit!). ternyata, harganya pun enggak terlalu mahal. Ya sudah, ini saja deh.
"hei, buat apa kau beli buku catatan itu? Bukannya kau tidak terlalu suka menulis?" tanya Rika heran.
"bukan buatku, buat Wakabayashi. Beberapa hari yang lalu (tepatnya tanggal 7 Desember) ia berulang tahun, dan aku tidak enak jika tidak memberinya kado. Walaupun biasanya ia tidak terbiasa menerima hadiah sih.." jawabku.
"eh, aku juga boleh beli hadiah buat Wakabayashi ya?"
Sebelum aku menjawab, Rika sudah melesat kearah lain. Aku dan Adelaide Cuma bisa geleng – geleng kepala. Saat aku mau membayar dikasir, aku ingat aku enggak bisa bahasa jerman. Jadi, aku minta bantuan Adelaide deh..hehe…
Saat aku sudah selesai membayar, Rika datang dan ikut meminta bantuan Adelaide, karena Rika juga ga bisa bahasa jerman. Aku lihat sekilas dia membeli apa untuk Wakabayashi. Ia membeli sebuah cangkir.
Lho, sebuah cangkir?
Aku dan Rika keluar toko dengan membawa bungkusan. Untung tokonya mau ngebungkusin kadonya, jadi kami ga usah ribet lagi ngebungkus kado.
Aku lihat jam tanganku. Nah lho, sudah jam 12?
"eh, Misaki, aku pulang dulu. Soalnya jam 1 udah harus ke apartemen Wakabayashi kan?"
"yup, dadah kalau begitu.." sahutku sambil melambaikan tangan. Rika dan Adelaide berjalan kearah yang berlawanan. Saat diperjalanan, aku melewati sebuah taman yang bagus sekali. Makanya, aku duduk dulu sambil istirahat sebentar.
Aku lihat lagi jamku. Ya ampuuun, sudah jam setengah 1!
Aku berlari menuju apartemen Wakabayashi.
Kenapa?
Yang pertama aku takut telat. Yang kedua..
Karena dari tadi perutku sudah bernyanyi rock karena minta diisi, alias laper gitu…hehe…
######
Rika POV :
Aduh, dari tadi Adelaide bawel sekali sih..!
"eh, Rika, kau ngasih kado apa sih buat Wakabayashi? Aku penasaran banget!" tanyanya sedari tadi.
"kan tadi juga udah lihat kan? Cangkir!" jawabku.
"ya masa cangkir polos doang? Ga mungkin! Maksudku tuh cangkir kayak gimana, warnanya apa, ada gambar apa? Gituuu.."
"cangkirnya warna coklat, ada tulisan 'Choco!', sama ada gambar cokelat (makanan yang rasanya manis itu lho!).. kayaknya Wakabayashi suka warna coklat, makanya aku beliin yang itu.."
"terus, kenapa kau beliin kado buat Wakabayashi?"
Deg. Enggak tahu kenapa, kok rasanya aneh ya…
"y..ya enggak kenapa – kenapa sih..Cuma kayaknya aku perlu ngasih kado aja gitu.." aku berusaha menjawab. Kok kayaknya susaaaahh….banget jawab pertanyaan kayak gini.
"ooh…"
Enggak tahu kenapa, aku merasa ada lain dalam suara Adelaide saat ia ber – oh tadi..
Apa yang terjadi pada diriku?
#####
Wakabayashi POV :
Setelah makan siang yang lumayan berhasil tadi (haha, aku bikin udangnya agak gosong, tenaaang, cuma agak kok! *mencurigakan*), aku dan Misaki tinggal menunggu Rika datang, terus langsung menuju bandara. Waduh, kalau dia tidak cepat datang..
Tok tok tok..
Nah, semoga itu dia..
Aku bangkit untuk membuka pintu. Saat aku membuka pintu, benar. Yang kami tunggu dari tadi sudah datang. Tapi, lagi – lagi aku merasakan perasaan yang aneh itu lagi.
"hai, Wakabayashi" sapanya riang.
Aku tersenyum (lebih tepatnya mencoba tersenyum) dan mengajaknya masuk.
"hei..!" sapa Misaki kepadanya.
"sapaan macam apa itu? Nyapa orang tuh yang bener dong Misaki. Pake 'halo' atau 'hai' gitu!" cerocosnya. Misaki hanya nyengir mendengar kritik itu.
"kalian sudah menunggu dari tadi ya? Maaf ya, tadi lama perpisahannya sama Adelaide .. hehe.. wajar lah, aku bakal lama banget gak ketemu sama dia. Oh iya!" ia langsung merogoh tasnya. Ada apa?
Dia mengulurkan sebuah kotak yang sudah terbungkus kertas padaku.
Sebuah kado?
"kata Misaki beberapa hari yang lalu kau ulang tahun kan? Selamat ulang tahun!" ujarnya ceria.
"eh iyaa..! aku juga lupa! Nih Wakabayashi, selamat ulang tahun juga!" kata Misaki sambil ikut – ikutan mengulurkan kado kepadaku.
Sumpah, aku speechless sekaligus terharu. Misaki masih ingat ulang tahunku! Tapi Rika?
"e..eh..makasih banyak.." aku enggak tau mau ngomong apa lagi selain terima kasih. Grogi + seneng + bahagia + terharu + heran + malu + speechless + perasaan yang tidak bisa didefinisikan campur jadi satu!
Aku penasaran sih, tapi nanti saja ah, aku bukanya…
"eh, ayo, kita berangkat! Sudah jam berapa tuh!" sahut Rika.
Eh, iya, aku malah lupa. Aku segera memasukkan kado itu kedalam koper. lalu mengikuti mereka keluar apartemen. Kukunci kamar, lalu segera kuikuti mereka berdua. Mereka berdua menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan seperti 'sudah tak ada api yang menyala kan?, atau 'yakin kau sudah mengunci segala yang perlu dikunci?'. Yah pertanyaan sejenis itulah..
Setelah sampai dibandara, kami segera melakukan rutinitas yang biasa ada dibandara (enggak usah dijelasin ya, bakalan paleng soalnya, & emang writernya males ngejelasinnya :P ). Akhirnya kami pun terbang menuju Prancis….
####
Author POV :
(sori ya, kawan – kawan para readers…writer gak bisa ngejelasin semua yang mereka lakuin di Prancis. Ringkasannya aja cukup yaa… maaf banget nih!)
Setelah sampai di Prancis, ya mereka pulang ke rumah masing – masing dong. Wakabayashi ikut Misaki ke rumahnya, sementara Rika balik kerumahnya. Mereka nyampe Prancis sekitar jam 5. Malamnya, Rika mengundang Misaki dan Wakabayashi makan malam dirumahnya. Setelah itu, ya Misaki dan Wakabayashi pulang. Sesampainya dirumah, mereka mengobrol dengan ayah Misaki sampai jam 9, lalu tidur. Besok paginya, Misaki mengajak Wakabayashi jalan – jalan keliling Paris, dengan guide tambahan yaitu nona Erika Delberroux. Mereka muter – muter Istana Versailles, lihat Eiffel, ke Museum Louvre, mampir ke Arc De Triomphe, menyusuri Champs Elyssee, memandangi Notre Dame, dan mengunjungi tempat – tempat lain yang gak kalah luar biasa. Mereka jalan – jalan dari jam 9 pagi, jam setengah 1 makan siang, lalu lanjut jalan – jalan sampai jam 3. Abis itu, Wakabayashi, Misaki dan ayahnya bersiap – siap, soalnya mereka naik penerbangan sore alias jam 5 sore. Rika ikut mengantar juga kok.
###
Wakabayashi POV :
Akhirnya sampai juga dibandara. Huft..
Jepang, aku datang! Siap – siap untuk menyambut SGGK ini yaaaa…
Haha..
Entah kenapa, dari tadi tatapanku selalu mengarah padanya..aduh, galau lagi deh.. -_-"
Dari tadi, ia mengobrol dengan Misaki. Sepertinya seru sekali ya, tapi aku mau gabung agak enggak enak. Gimana gitu deh. Ya sudah, aku hanya terdiam, memandangi tali sepatuku.
"Penumpang pesawat Boeing 737-400 tujuan Tokyo, Jepang, diharap memasuki Waiting Room. Ladies and Gentleman, passenger of Boeing 737…"
Akhirnya datang juga. Aku meraih koperku dan akan menyeretnya saat kudengar ia memanggilku. Ia tersenyum lebar, tapi kulihat matanya agak aneh. Seperti berkaca – kaca. Kenapa ya? Apa dia sedih Misaki pergi ke Jepang?
"aku benar – benar senang bisa bertemu denganmu Wakabayashi. Sangat senang." Katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menyambut tangannya, dan kami berjabat tangan. Setelah beberapa saat, ia melepaskan pegangannya. Aku merasa aneh saat ia memegang tanganku, tapi lebih aneh lagi saat ia melepaskannya. Seperti….
Terasa ada yang hilang.
"sampai jumpa, Rika – chan." Sahutku pelan. Ia mendengarnya, dan hanya tersenyum kecil.
Saat aku berjalan meninggalkannya..
"Wakabayashi.." aku menoleh.
"ya?" tanyaku.
"aku…aku benar – benar berharap suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.." ujarnya pelan.
Aku terpana. Bingung. Heran. Mukaku terasa terbakar. Perasaan aneh itu muncul lagi, menghunjam hatiku dengan keras sekali.
"Rika – chan.." sahutku.
"hmm?"
"aku….aku..juga berharap begitu" astaga, aku benar – benar tidak tahu apa yang sedang kuucapkan! Mulutku terasa mempunyai otak sendiri! Ampun, aku malu sekali! Rika dan aku sama – sama kaget mendengar kalimat tadi. Tapi dia hanya tersenyum, sementara aku bengong. Ya sudah, dengan perasaan aneh, aku berlalu dari hadapannya.
Di dalam pesawat…..
"hei, Misaki.." kataku.
"hmm? Ada apa?" tanyanya, sambil menoleh kepadaku. Ia sudah setengah tidur, dan pesawat sudah setengah jam tinggal landas.
"Rika kayaknya sedih banget ya, berpisah denganmu? Tadi matanya sampai berkaca – kaca begitu.."
"hah? Berkaca – kaca? Emang Rika tadi nangis ya? Aku hampir 1 tahun berteman dengannya, baru sekali melihat dia menangis. Rika tuh orangnya kalo punya masalah dipendam sendiri, kalau nangis sendiri. Serius tadi Rika nangis?" tanyanya kaget.
"e..eh, enggak, kayaknya aku aja yang salah lihat deh. Maaf ya Misaki, mengganggu tidurmu.." kataku gugup.
"hoaahmm, baiklah, selamat tidur.." jawabnya. Ampun, dia langsung tertidur!
Nah loh, sekarang aku yang merasa aneh..
Tadi Rika kenapa menangis ya? Aku berani sumpah kalo tadi matanya udah berkaca – kaca banget, tinggal nunggu airmatanya turun.
Tapi kenapa ia menangis?
Padahal biasanya tidak..
Akhirnya aku tidur dengan rasa heran…
####
Akhir ceritanya ngegantung banget ya? Sori sori sori nih. Abis rencananya author pengen bikin lanjutannya di cerita yang selanjutnya. Tapi inget, baru RENCANA loh.
Akhir kata, REVIEW!
