"Hn." Hinata mengangguk mantap. "Sesuai permintaanmu Nii-chan."
Hinata lantas mengangkat tangan kanannya. Lalu ia membisikkan sesuatu pada sebuah cincin yang melekat manis di jari telunjuknya. Beberapa saat kemudian, iris lavender-nya kembali menatap Naruto dengan dingin.
"Aku harus pergi sekarang."
Tanpa menunggu respon sang Kakak, Hinata lekas kembali berjalan menuju balik pohon dan detik selanjutnya ia sudah menghilang seiring dengan hembusan angin.
"Haruno Sakura, ya?" tanya pemuda pirang itu seraya memejamkan kedua matanya merasakan nikmatnya angin yang menyusup lewat celah-celah pakaiannya.
Yang Terpilih created by me, Miyoko Kimimori
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AR, AU, OOC, Typos,rush,abal, gaje, EYD belum benar, dll
A/N : Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil atau keuntungan apapun dari fic ini. Dalam cerita ini banyak terdapat mantra atau sihir-sihir ciptaan sendiri XDv Saya menggunakan bahasa Spanyol untuk menamai mantranya, dan saya juga menggunakan gugel translet(?) sebagai bantuan, jadi mohon maaf jika terdapat kata yang salah—bagi yang menguasai bahasa Spanyol.
Pair : NaruSaku
Rate : T
Genre : Supernatural, Adventure, Fantasy, Romance
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^O^)/
.
.
Kedua iris mata berbeda warna itu saling bertukar pandang. Sepintas keduanya menatap gadis berambut merah muda yang kini tengah duduk tak jauh di sampingnya. Sorot mata keingin tahuan nampak terlihat jelas. Ino dan Shizune terus memperhatikan Sakura sejak lantunan suara atau lebih tepatnya bisikan halus terdengar di telinga mereka. Bisikan dari suara yang amat familiar, suara Hinata.
.
"Ini perintah, Sakura Haruno dicurigai sebagai seorang Shectum. Kita akan melakukan tahap satu menggunakan mantra kedua. Namun, jangan sampai melakukan perbuatan aneh yang akan membuatnya mencurigai identitas kita," ucap Hinata di sebrang sana.
"Ryokai," jawab mereka berdua serentak seraya kembali menurunkan tangan di mana cincin mereka berada.
.
Sakura yang terus mengamati koridor sama sekali tidak menyadari bahwa ia mendapat tatapan serius dari kedua temannya. Gadis Haruno itu nampak mengguratkan senyum sembari menunggu sosok gadis yang tadi meninggalkannya.
"Hinata ... lama sekali, ya?" tanya Sakura tanpa sadar.
Ino agak tersentak, namun lekas menjawab, "Mungkin sebentar lagi."
"Hn." Shizune menggangguk pelan.
Iris emerald-nya terlihat berkilau ketika terus menatap ujung koridor, berharap dari sana muncul seseorang yang sedari tadi ia tunggu. Kembali, karena alasan itulah Sakura sampai tidak menyadari bahwa kedua orang di sampingnya terus memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mereka berdua mengernyitkan dahi. Heran, karena tidak menemukan tanda-tanda khusus yang dimiliki Sakura untuk dinyatakan sebagai Shectum. Namun, hal tersebut bukan berarti mereka akan menyelesaikan tugasnya tanpa berbuat sesuatu yang lebih.
"Ah! Itu dia!" Sakura melonjak senang saat manik matanya mendapati Hinata yang kini tengah berjalan di ujung koridor. "Hinata! Kami sudah menunggumu!"
Dari kejauhan Hinata nampak tersenyum ke arah Sakura saat gadis itu berteriak penuh kegirangan. Sekilas, ia menggulirkan matanya pada Ino dan Shizune, ia hanya mendapatkan sebuah gelengan kepala pelan dari mereka. Hinata tahu apa arti dari isyarat itu, tentu saja membuatnya mendengus pelan, namun ia kembali menutupinya dengan senyum saat langkah kakinya terhenti tepat di hadapan Sakura.
"Wah wah wah ... jadi kalian menungguku?" tanya Hinata kemudian.
"Hn!" Sakura mengangguk mantap. "Bukan begitu, Ino, Shizune?"
"Eh? Y-ya," jawab Ino sekenanya.
"U-un," timpal Shizune agak ragu.
Setelah mendapat jawaban seperti itu, tiba-tiba saja Sakura lekas menarik lengan Hinata lalu membawanya berlari. Hal itu membuat Hinata terkejut dan segera menggerakkan kakinya mengikuti kecepatan laju kaki Sakura.
"Tu-tunggu dulu Sakura ..."
"Ayo kita ke kantin! Kita harus cepat, nanti keburu bel berbunyi!"
Sakura tetap berlari dengan tangan yang menggenggam erat lengan Hinata. Sepintas, gadis itu menoleh ke belakang, mendapati tubuh Ino dan Shizune terpaku di tempat melihat tindakan mendadak yang dilakukan Sakura.
"Hey! Kalian juga! Ayo cepat!" teriaknya sembari melambaikan sebelah tangan.
Manik aquamarine-nya berkilat, gadis berambut pirang itu tersenyum sembari membalas lambaian tangan Sakura. Tak lama Ino pun mulai melangkah.
"Sepertinya dia gadis yang menarik, ya?" ucapnya sembari menoleh ke arah Shizune.
"Ah, aku rasa kau benar," jawabnya seraya mengikuti langkah kaki Ino dari belakang.
=0=0=0=
"Itadakimasu!"
Gadis itu mulai menyantap onigiri yang sempat dipesannya tadi. Di sampingnya terlihat gadis berambut pirang panjang tengah menyeruputlemon teakesukaannya, sedangkan yang satunya lagi tengah membaca buku.
Disela-sela acara makannya, Sakura sempat melirik ke arah Ino dan Shizune secara bergantian. Ia merasa heran mengapa kedua sahabatnya itu tidak memesan makanan. Dan karena penasaran, setelah menelan habis onigiri-nya yang pertama, Sakura mulai bertanya pada mereka.
"Oi, kau yakin tidak akan pesan makanan?" tanya gadis itu setelah memfokuskan pandangannya ke sebelah kanan, dimana gadis cantik bermarga Hyuuga itu terduduk manis.
"Aa, tidak, aku sudah sarapan tadi pagi," jawab Ino seraya tersenyum dengan tangannya yang memegang sedotan.
Gadis bersurai merah muda itu pun mengangguk pelan tanda mengerti, lalu ia mulai melirik ke arah Shizune yang tengah memfokuskan matanya pada sebuah buku bersampul hitam kelam. Baru saja Sakura hendak bertanya pada Shizune, namun gadis itu dengan cepat menaruh bukunya di atas meja, kemudian tersenyum pada Sakura seolah mengetahui apa yang akan Sakura tanyakan.
"Aku juga sudah sarapan tadis pagi," jawabnya seraya menutup buku tersebut.
"Aa, emm ... ya sudah."
Sakura sedikit merasa heran mengapa Shizune dapat begitu saja menjawab pertanyaan yang bahkan belum dilontarkannya. Namun, gadis Haruno itu tidak ingin terlalu memikirkannya, jadi ia kembali menyantap onigiri yang sedari tadi berada di hadapannya. Sedangkan Ino dan Shizune kini mulai sibuk memperhatikan Sakura.
"Sakura, bisa kau ikut aku sebentar?" Gadis Namikaze itu berucap saat dirinya telah berdiri tegap di hadapan ketiga orang itu.
Dahi Sakura berkerut saat melihat kedatangan Hinata. "Loh, Hinata kau tidak pesan makanan? Bukannya tadi kau ingin pesan sesuatu?"
Hinata menggeleng pelan. "Tidak jadi."
Sepintas mata onyx hitam milik gadis Uchiha itu menatap Hinata dengan penasaran. Di susul dengan iris mata sebiru lautan milik Ino yang kini juga menatap Hinata. Kedua orang itu mulai memfokuskan pikirannya, dan nampaknya Hinata pun melakukan hal yang sama, karena detik selanjutnya mereka sudah bertukar pikiran lewat telepati.
.
"Tunggu dulu ... apa benar Naruto memerintahkanmu seperti yang pernah kau katakan tadi?" suara gadis berambut pirang itu terngiang jelas dalam benak Hinata.
"Lagi pula, aku belum menguasai mantra kedua dengan sempurna," suara lain mulai menyahut.
"Aku juga belum menguasainya, karena mantra itu sudah sangat jarang dipakai," timpal Ino.
"Jangan katakan bahwa kau akan melakukan itu sendirian, Hinata."
"Ya, mau bagaimana lagi? Jika kita menggunakan mantra pertama yang berada pada tingkat tinggi, pasti itu akan membahayakan jiwa Sakura," jawab Hinata, masih memfokuskan pikirannya. "Mantra kedua itu lebih baik, dan—"
"Dan apa?" tanya Ino sembari memicingkan matanya.
"—jika kalian belum menguasainya secara sempurna, aku bisa melakukannya sendirian."
.
Hinata mengambil nafas panjang sembari mengerjapkan matanya beberapa kali, menandakan bahwa ia telah memutuskan hubungan telepatinya. Menyadari hal tersebut, Ino dan Shizune pun melakukan hal yang sama sebelum akhirnya menatap Hinata dan juga Sakura secara bersamaan.
"Hinata, boleh kami berdua ikut?" tanya Shizune spontan
"Hn, tentu saja," jawabnya kemudian.
"Eh?" iris emerlad itu tiba-tiba berkilat setelah mendengar ajakan Hinata, dan dengan sekali suapan, Sakura menghabiskan onigiri-nya. "Kita mau kemana?" Ia menjauhkan nampan makan siangnya.
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan." Perlahan tangan kanan Hinata terlihat menggenggam lengan gadis bersurai merah muda itu.
"Memangnya apa? Kenapa tidak di sini saja?"
"Mungkin Hinata tidak ingin menunjukkannya di depan orang banyak, Sakura." Seulas senyum nampak tergurat dalam raut wajah Ino. Gadis itu mencoba meyakinkan Sakura dan membujuknya agar mau menuruti keinginan Hinata.
"Ino benar, mungkin itu adalah sesuatu yang hanya kamu dan kami berdua yang boleh tahu." Shizune menambahkan.
Sepintas emerald-nya menatap ketiga orang di depannya secara bergantian. Sejujurnya, ada sedikit rasa curiga saat ia menangkap ekspresi aneh yang dikeluarkan ketiganya. Namun, karena tidak ingin berprasangka buruk, apalagi terhadap teman barunya, jadi Sakura memutuskan untuk menghilangkan pemikiran tadi. Dan, tak lama, Sakura pun ikut tersenyum.
"Baiklah! Aku akan ikut dengan Hinata!" jawabnya penuh semangat.
"Terima kasih," ucap Hinata dengan nada rendah.
Ketika mereka tengah beranjak dari meja kantin dan hendak pergi, mereka tak menyadari bahwa seseorang tengah mengamati mereka. Kedua manik cokelat terang itu berkilat saat menatap Sakura dari kejauhan. Pemuda berambut merah itu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada meja kantin. Sembari bertopang dagu, ia mulai menyeringai lebar.
"Aku akan membawamu, Haruno Sakura, Yang Terpilih."
=0=0=0=
Langkah kaki keempat gadis itu berhenti tepat di sebuah koridor sepi. Sekilas koridor itu nampak tak pernah dikunjungi orang karena suasananya terlihat kotor dan mencekam. Tentu saja, koridor itu adalah koridor yang sudah lama, yang merupakan jalan menuju gudang sekolah yang sudah tak terpakai.
Sakura yang baru pertama kali datang ke tempat seperti itu mulai menggosok tengkuknya, merinding. Mata emerald-nya menerawang sejauh mungkin. Melihat sedetail mungkin tempat tersebut walaupun sebenarnya dia takut dan tidak enak untuk berada di sana.
Melihat Sakura yang nampaknya sibuk memperhatikan sekeliling, Hinata mulai berkonsentrasi membaca mantra. Gadis itu tidak ingin membuang-buang waktu lagi, terlebih jika hal itu menyangkut persoalan Sakura yang dicurigai sebagai Shectum. Ino dan Shizune yang memang belum menguasai mantra kedua itu hanya bisa menggenggam tangan Hinata dan membantu gadis itu untuk semakin memfokuskan pikirannya.
Sementara itu, entah kenapa, Sakura malah menggerakan kakinya. Ia mulai berjalan pelan dengan pandangan yang tak luput dari sekelilingnya. Ia tak mengerti kenapa Hinata dan yang lain membawanya ke tempat seperti ini. Dan, ia merasa penasaran dengan sesuatu yang akan Hinata berikan, sampai-sampai harus datang ke tempat yang mengerikan.
"Apa kau yakin kau akan memberikannya di tempat seperti ini?" tanya Sakura tanpa menoleh. Sibuk mengamati dengan ekspresi tegang.
Hening.
Dahinya berkerut, heran mengapa Hinata tak menjawab. "Errr ... Hinata?"
Tak ada jawaban, hanya bisikan-bisikan halus yang terdengar. Tentu saja hal itu membuat Sakura semakin takut. Tubuhnya tertegun di tempat, nafasnya mulai memburu. Sakura tidak berani menoleh walaupun ia ingin mengetahui keadaan teman-temannya yang tidak menjawab sedikitpun pertanyaannya tadi.
"Ng ... Ino?"
Hening.
"Shizune?"
Hening.
"He-hey, kalian masih di sana kan?"
TAP TAP TAP!
Gadis berambut indigo itu mulai melangkah mendekati Sakura yang masih terdiam karena takut. Bibirnya masih bergerak mengikuti irama mantra yang ia hafal. Tangan kanannya terulur, hendak menggapai sosok Sakura yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Di sisi lain, derap langkah kaki yang terdengar di telinganya telah sukses membuat keringat dingin meluncur cepat di pelipisnya. Datang ke tempat mengerikan, teman-teman yang tak membalas perkataannya, dan sekarang suara langkah kaki yang kian mendekat, Sakura yakin bahwa ia akan pingsan sebentar lagi.
"Haruno Sakura ..."
TAP!
Sebuah tangan telah sukses mendarat di atas kepalanya. Emosinya seketika melunjak. Sakura hendak menjerit karena saking takutnya, namun niat itu gagal karena sebuah mantra melantun dengan cepat dari bibir Hinata.
"Diga la verdad ..."
Sakura terdiam, bergeming. Seketika cahaya keemasan menyeruak dari dalam tubuhnya. Cahaya itu membuat tubuhnya terangkat, sedikit melayang di udara. Iris emerald-nya yang tadi terlihat cerah kini nampak redup dengan sorot mata yang menunjukkan kekosongan. Raut wajahnya sedikit kusam, tak ada kesenangan yang terlihat dari sana. Kini tubuhnya berbalik, kembali menghadap Hinata. Sementara itu, Hinata berdiri sigap seraya terus menatap Sakura, begitu pun dengan Ino dan Shizune yang berada tak jauh di belakangnya.
"Apa mantranya berhasil?" tanya Ino seraya melirik ke arah Shizune.
"Mungkin, kita tunggu saja."
Hinata mencoba mengambil nafas panjang. Manik matanya terfokus pada diri Sakura yang telah terpengaruh mantranya. Sekilas, Hinata terlihat tegang, mungkin karena sebentar lagi akan ada informasi menarik yang akan ia terima.
"Comienza ..." Hinata sudah sigap untuk mendengarkan.
"Haruno Sakura," ucapnya dengan nada bergema. "Berumur 16 tahun. Putri semata wayang dari keluarga Haruno, sekaligus Shectum penerus Clan Senju."
DEG!
Mereka bertiga terkesiap. Tak ada satu pun yang bergerak setelah kata itu meluncur dari mulut Sakura. Rasa terkejut juga senang bercampur aduk di dalam hati mereka. Tanpa berpikir panjang, Ino dan Shizune lekas berlari menghampiri Hinata. Di sisi lain, gadis Namikaze itu masih terbelalak dengan mulut setengah menganga. Hinata tak menyangka bahwa kecurigaan Naruto adalah benar. Sakura memang seorang Shectum.
'Ja-jadi benar ... Sakura ...'
"Pewaris kekuatan Senju Tsunade. Haruno Sakura, Shectum angkatan 102, tingkat pertama."
"A-apa? Ti-tingkat pertama?"
Kembali, hal tersebut membuat ketiganya terkejut bukan main. Meski begitu, Hinata tak mengucapkan apapun lagi ketika telinganya mendengar setiap penuturan dari Sakura. Tubuhnya sedikit bergetar, namun Hinata cepat mengendalikan diri.
"Sakura ... ini tidak mungkin." Ino menutup mulutnya dengan kedua tangan, semakin tak percaya dengan apa yang Sakura katakan.
"Dia ... Shectum tingkat pertama?" mata obsidian-nya terbelalak, merasakan hal yang sama seperti Ino. "Tsunade saja berada di tingkat ketiga, tapi kenapa Sakura ..."
'Bahkan, dia melampaui Tsunade?' gumamnya dalam hati. 'Aku harus cepat memberitahukan ini pada Naruto.'
"Tercatat sebagai Shectum dari asrama 43, ditugaskan mensosialisasikan diri dengan manu—"
"Detener!" teriaknya lumayan nyaring.
Tak lama setelah Hinata meneriakkan kata itu, cahaya keemasan yang tadi menyelimuti Sakura kini kembali masuk ke dalam dirinya. Tubuhnya pun kembali menyentuh permukaan tanah, namun seketika ambruk ke lantai karena ia tak sadarkan diri. Tentu saja, Ino dan Shizune segera menolong Sakura. Sedangkan Hinata, ia kembali sibuk dengan pemikirannya mengenai gadis Haruno itu.
=0=0=0=
Di sisi lain, tepat di dalam pertengahan hutan. Seseorang yang memakai jubah hitam dengan motif awan berwarna merah tengah berjalan mendekati sebuah gua, dengan santai ia melangkahkan kakinya. Dari balik tudung jubahnya itu masih bisa terlihat helaian surai berwarna merah pekat dan sebuah kacamata yang menghiasi wajahnya. Ia tidak menyadari bahwa seseorang kini tengah berada di atas pohon, bersembunyi di antara dedaunan rindang setelah mengucapkan beberapa mantra.
"Dia hampir menjalankan rencananya," ucapnya setelah berhenti tepat di depan mulut gua. "Aku tidak menduga bahwa Sakura akan terlebih dulu mengenal mereka."
DEG!
Sosok yang tengah bersembunyi itu seketika menutup mulutnya yang menganga. Gadis berambut merah tadi suskses membuatnya terkejut setelh mengucapkan sebuah nama yang amat familiar baginya.
'Sa-Sakura?'
Desiran angin dan terik matahari nampak menemani kesepian tempat ini. Dari balik sebuah pohon yang cukup rindang, muncul seseorang lagi yang memakai jubah hitam yang sama. Orang kedua itu juga berjalan mendekati gua.
"Tuan, apa kami harus membawanya sekarang?" sembari berjalan, orang kedua itu membuka tudung jubahnya. Nampaklah rambutnya yang dicepol dua.
"Tenten?" seseorang berambut merah yang tadi sampai lebih dulu kini membalikkan tubuhnya menghadap gadis yang berjalan ke arahnya.
"Sejak kapan kau datang, Karin?" gadis bercepol dua itu kini menghentikan laju kakinya tepat di sebelah gadis berkacamata. Dan dengan sedikit kasar, ia menyibakkan tudung jubah gadis tersebut, sehingga dapat terlihat jelas wajah mulus berhias kacamata itu dengan mahkota surai berwarna merah pekat.
"Baru saja."
TAP TAP TAP!
"Jadi kita terlambat, ya. Ternyata aku terlalu banyak mengulur waktu."
Kedua gadis itu tersentak kaget dengan suara yang tiba-tiba saja terdengar dari dalam gua. Karin dan Tenten lekas berjongkok dengan lutut kiri yang menyentuh tanah dan lutut yang satunya di tekuk sebagai penopang tangan kanan serta wajah mereka tertunduk seolah memberi hormat.
"Tu-tuan?"
TAP TAP TAP
"Tugas kalian sekarang bukanlah untuk menangkapnya," ucapnya rendah, namun tegas. "Aku sudah memikirkan rencana lain. Sekarang, pergilah dan temukan—"
HESH!
Angin berhembus sedikit kencang dari biasanya, membuat suara gemerisik daun semakin membahana di sekitar hutan. Sosok yang masih bersembunyi di atas pohon itu berdecak kesal karena tak bisa mendengar dengan jelas perkataan terakhir dari seseorang yang kini tengah berjalan keluar gua.
"Apa itu akan berguna?" tanya Tenten seraya mendongakkan kepalanya.
"Tentu saja, aku akan melakukan sesuatu dengan itu."
"Baiklah, kami akan segera mendapatkannya." Karin masih tertunduk memberi hormat.
Dari dalam gua yang sangat gelap, muncul seseorang yang lagi-lagi juga memakai jubah hitam yang sama. Ia menghentikan langkahnya tepat pada sorot sinar matahari yang menyinari bagian depan mulut gua. Sehingga, kini terlihat dengan jelas kedua mata onyx hitam itu, serta wajahnya yang memiliki garis penjang di dekat hidung. Sosok di atas pohon itu mendelik tajam melihat Uchiha Itachi keluar dari sarangnya.
"Lakukan tugas kalian sekarang."
"Baik!"
Karin dan Tenten lekas menghilang dari pandangan. Sementara itu, sosok bayangan hitam yang sedari tadi mengamati perbincangan mereka mulai menghilang—berubah menjadi kepulan asap tipis yang dihembuskan angin. Seiring dengan itu, mata obsidian milik Uchiha sulung itu lekas mendelik tajam ke arah tempat persembunyian sosok tadi.
=0=0=0=
Hitam. Pandangannya terlihat hitam. Dahinya berkerut. Sakura tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Sekelibat bayangan suram terlintas di benaknya. Bersamaan dengan itu, suara lembut melantun dengan jelas.
"—kura ... Sakura ... bangunlah, Sakura."
"Nnnggg ..."
Kelopak matanya terbuka pelan, menampilkan green emerald yang berkilau indah. Senyuman senang terpampang jelas dalam raut wajah ketiga gadis yang menemani Sakura. Mereka senang, akhirnya gadis itu siuman setelah beberapa menit tak sadarkan diri akibat pengaruh mantra yang Hinata berikan.
"A-aku ... apa yang terjadi padaku?" Sakura mulai bangkit duduk, dibantu oleh Ino yang berada di sampingnya.
"Kau pingsan Sakura." Sebelah tangannya mengelus lembut puncak kepala gadis Haruno itu.
"Aku pingsan?"
"Hn." Shizune menganggukkan kepala. "Apa kau ingat? Kau pingsan karena ketakutan melihat koridor yang sudah lama tak dikunjungi orang."
"Benarkah?"
"Dia benar, Sakura." Hinata mulai mendekat. "Maafkan aku karena membawamu ke tempat seperti itu. Padahal aku hanya ingin memberi hadiah di mana orang-orang tidak akan melihatnya," ucapnya sedikit tertunduk.
Sakura terdiam. Pikirannya kembali berputar. Ia seolah tahu sesuatu tapi ia tak bisa mengingatnya. Memang benar dia merasa ketakutan saat mereka membawanya ke tempat mengerikan itu, tapi ia tak mengerti kenapa ia bisa pingsan hanya karena ketakutan seperti itu.
"Tak apa, Hinata," jawabnya kemudian, disusul dengan senyuman khas seorang Sakura. "Lagi pula itu semua sudah berlalu."
Hinata mendongak, menatap emerald Sakura dengan lekat. "Benarkah?"
"Hn."
"Terimakasih." Ia pun ikut tersenyum. "Baiklah, sebagai tanda permintaan maafku, aku ingin kau menerima ini."
"Eh? Menerima apa?"
"Tentu saja sesuatu yang sudah Hinata janjikan," timpal Ino, membuat Sakura sedikit menoleh sembari mengernyit.
"Aku harap kau senang menerimanya," ucapnya seraya merogoh saku jas yang ia kenakan.
"Hinata ..."
"Taraaaa ..." Tak lebih dari satu detik, Hinata mengeuarkan tangannya, menampilkan sebuah benda berbentuk lingkaran dengan lubang di tengahnya.
"Kau memberiku cincin?" tanya Sakura seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Hn." Hinata mengangguk pelan, "Cincin ini sama seperti punyaku."
Ia mengangkat tangan kirinya. Terlihat jelas bahwa di jari manis gadis tersebut, terdapat sebuah cincin yang sama persis dengan yang akan dihadiahkan pada Sakura, namun yang berbeda hanya warna batu kristal yang terdapat pada cincin tersebut.
"Ino dan Shizune juga punya, ayo perlihatkan," ucapnya kemudian, Shizune dan Ino hanya menurut saja dan lekas memperlihatkan cincin mereka.
"Kalian membeli cincin yang sama?" tanya Sakura heran.
"Begitulah, kami—" belum sempat Shizune menyelesaikan perkataannya, sesuatu seolah merasuk ke dalam raganya, membuat dentuman kecil di dadanya. Ia tahu cloning-nya telah kembali setelah menjalankan tugas.
"Shizune, kau baik-baik saja?" Sakura semakin menatapnya heran kala gadis Uchiha itu terdiam.
"E-eh? Ti-tidak." Ia lekas tersenyum penuh, membuat sebelah alis Sakura terangkat dan mata lavender Hinata sukses tertuju ke arahnya.
.
'Kau mendapatkan sesuatu?' ucap Hinata setelah mengirimkan telepatinya.
'Ya. Akan aku ceritakan nanti.'
.
"Ummm … ya, seperti yang kau lihat, Sakura. Cincin ini di sesuaikan dengan warna rambut kita berempat, dan yang ini disesuaikan dengan rambutmu. Ini." Hinata segera mengalihkan pembicaraan. Ia mulai meraih tangan kiri Sakura dan langsung memakaikan cincin tersebut di jari telunjuknya. "Ini tanda persahabatan kita, dan jangan pernah dilepas, ya?"
Sakura memiringkan kepala, heran saat Hinata memakaikan cincin itu di jari telunjuknya. "Kenapa ... kau memakaikannya di jari telunjukku?"
"Karena kami juga memakainya di jari telunjuk," jawab Shizune yang mewakilkan Hinata.
Matanya mengerjap beberapa kali seraya menatap satu persatu letak cincin yang mereka bertiga kenakan. "Ah ... aku baru sadar. Tapi kenapa di jari telunjuk? Dan kenapa kau bilang tak boleh melepasnya?"
"Karena inilah keunikkan persahabatan kita," jawab Ino seraya beranjak berdiri. "Ayo, aku akan membantumu." Tangannya terulur di hadapan gadis berambut merah muda itu, menunggu Sakura untuk merespon.
"Keunikkan, ya?" dengan cepat ia meraih lengan Ino, lantas berdiri walaupun masih ada rasa pening di kepalanya.
"Aku harap kau mengerti, Sakura." Hinata pun kut berdiri, disusul oleh Shizune.
"Karena keunikkan ini akan membawa keajaiban dalam hidup kita."
Matanya berbinar saat Shizune berucap seperti itu. "Baiklah, aku mengerti." Sakura mengangguk senang, iris emerald-nya tak henti bersinar tatkala menatap sebuah cincin yang telah melekat pada jari manisnya. "Aku takkan pernah melepas cincin ini."
=0=0=0=
'Teeettttt ... teeeetttt ...'
Bel sekolah berbunyi sangat nyaring, menandakan berakhirnya waktu istirahat. Dengan segera seluruh murid mulai berjalan menuju kelasnya masing-masing, termasuk keempat gadis yang memakai cincin dengan model yang sama itu. Mereka lekas pergi dari tempat yang telah membuat Sakura pingsan. Dan, setelah cincin itu diberikan, mereka berharap bahwa gadis itu akan menjadi partner terbaik bagi mereka.
Sakura dan Hinata terlihat berjalan dengan santai, diikuti oleh Ino dan Shizune di belakang. Iris emerald milik gadis merah muda itu tak henti-hentinya menatap cincin di jari telunjuknya, ia merasa amat senang, bagaimana tidak?
Mendapat perlakuan baik, mendapat teman-teman baru yang pengertian, ditambah dengan hadiah persahabatan yang rasanya terlalu cepat, namun itu mampu membuat hatinya begitu senang. Sakura tak menyangka jika hari pertamanya di Konoha International High School tidak begitu buruk seperti apa yang pernah dipikirkannya.
"Hey Sakura, sepertinya kau begitu senang?" tanya Hinata sembari tersenyum.
"Tentu saja, aku senang bisa menjadi bagian dari persahabatan kalian."
"Aku juga senang bisa bersahabat denganmu, Saku-chan," timpal Ino yang mempercepat laju kakinya agar bisa sejajar dengan Sakura.
"Ya, aku juga sama," tambah Shizune yang kini berada di samping Hinata.
TAP TAP TAP!
Tiba-tiba saja Sakura berlari menjauhi ketiga sahabatnya dengan senyuman yan mengembang, ketika jarak antara mereka sudah terbilang lumayan jauh, ia menghentikan langkah kakinya. Lekas ia berbalik, menatap sahabatnya yang masih tertinggal di belakang.
"Terima kasih, semuanya!" teriaknya dengan mata yang berbinar.
Ketiga sahabatnya hanya terdiam sesaat seraya mengentikan laju kaki mereka, tak pernah mereka sangka bahwa Sakura akan mengatakan seperti itu. Sekilas ketiganya saling berpandangan sebelum akhirnya memutuskan untuk berlari mendekati Sakura yang kini tengah berjalan mundur.
Hinata, Shizune, dan Ino terus tersenyum gembira seraya berlari ke arah gadis bersurai merah muda itu. Namun tiba-tiba saja, serentak langkah kaki mereka kembali berhenti.
"Ayo cepat kita—"
BRUUKK!
Sakura yang belum sempat menyelesaikan perkataannya, dengan segera menoleh ke belakang tatkala punggungnya serasa menabrak sesuatu. Ketiga sahabatnya yang tadi tersenyum kini berubah menatap tajam pada sosok pemuda yang tengah berada di belakang Sakura.
Iris emerald itu terbuka lebar, mengetahui pemuda pirang dan gerombolannya itu tengah berdiri tegap di belakang punggungnya. Ia tidak tahu kalau ia dengan tidak sengaja akan menabrak pemuda tersebut. Seketika itu juga Sakura membalikkan tubuhnya, lalu perlahan berjalan mundur.
"Ma-maafkan aku," ucapnya seraya berbungkuk beberapa saat, lalu kembali berdiri tegap menatap pemuda itu.
Green emerald bertemu blue shapire. Semuanya terdiam, kecuali Naruto, ia memilih untuk segera menatap ke arah lain sembari mulai berjalan kembali. Melewati sang gadis begitu saja, diikuti oleh semua pengikutnya yang berjumlah 3 orang. Sakura hanya terdiam menatap kosong pandangan di depan matanya, merasakan semilir angin yang berlalu bersama kepergian pemuda tersebut dari hadapannya.
Saat Naruto berada hampir melewati Hinata, ia berbisik pelan tanpa menghentikan laju kakinya. Sedangkan gadis Namikaze itu hanya mengangguk tanpa menoleh. Detik selanjutnya, saat Naruto telah pergi, Ino berjalan lebih dulu menghampiri Sakura dan diikuti Shizune.
"Emmm ... a-ano, sepertinya aku lupa sesuatu, aku ada urusan mendadak. Aku harus pergi dulu," ucap Hinata dengan gugup seraya menatap ke arah Shizune dan Ino.
Gadis bermarga Hyuuga dan Uchiha itu mengangguk pelan menandakan setuju sembari masih berlari kecil menghampiri Sakura. Sedangkan Hinata, kini ia berlari ke arah yang berbeda dengan mereka berdua.
"Saku-chan, kau tak apa?" tanya Ino seraya mengelus kedua pudak Sakura yang masih saja terdiam.
"Sakura ..." Shizune mencoba memanggil nama gadis itu seraya mulai mengibaskan sebelah tangannya.
"Kenapa ..."
"Eh?" Shizune dan Ino saling bertatapan.
"Kenapa aku merasa tidak asing dengannya?" tanya Sakura menolehkan lehernya pada Ino.
Tubuh Shizune dan Ino langsung bergetar hebat mendengar pernyataan Sakura barusan. Mata mereka terbuka lebar dengan tak henti-hentinya menatap paras cantik gadis tersebut seolah mengingatkan mereka akan sesuatu.
"Ka-kau bi-bicara apa, Sakura?" tanya Shizune dengan tergagap.
"Aku seperti sudah mengenal pemuda tadi begitu lama, aku seperti pernah melihat wajahnya di masa lalu."
DEG!
Mereka kembali tersentak kaget untuk kedua kalinya. Degup jantung mereka tidak karuan seiring nafasnya yang memburu. Mereka berdua kembali mengingat ramalan yang dibuat Deidara 150 tahun lalu juga mengingat insiden tadi. Setelah Naruto mengumumkan bahwa Sakura adalah Yang Terpilih-Shectum, kini rahasia yang sebenarnya sedikit demi sedikit terkikis. Tak heran jika Sakura pernah melihat Naruto di masa lalu, itu karena ingatan Sakura dengan ingatan Shectum sebelumnya sedikit terhubung.
"Sa-Sakura, mungkin itu hanya perasaanmu saja," ucap Ino mencairkan suasana yang sempat menegang.
Sakura hanya terdiam, ia mencoba memikirkan kembali apa yang baru saja dirasakannya. Gadis itu kembali mengingat wajah pemuda tersebut di masa lalu, namun yang ia dapatkan hanya pening di kepala bagian kanannya. Refleks membuat sebelah tangan mungilnya memijat pelan bagian tersebut, sekadar menghilangkan rasa sakit yang mulai menjalar.
"Sakura, kau sakit?" Shizune mulai mengkhawatirkan kesehatan gadis tersebut.
"Ti-tidak," jawabnya enteng seraya menggeleng pelan.
"Ayo kita kembali ke kelas, kau butuh istirahat," ajak Ino yang mulai menggiring Sakura untuk berjalan.
Sakura hanya menurut, ia mulai berjalan perlahan, didampingi kedua sahabatnya. Namun, sekilas terbersit sesuatu yang mengganjal pikirannya, sesuatu yang terasa aneh bagi dirinya, sehingga ia memutuskan untuk berhenti dan lekas membalikkan tubuhnya.
"Saku-chan, ada apa?" tanya Ino heran.
"Aku lupa, handphone-ku tertinggal di Kantin." Sakura berbohong. "Kalian duluan saja, nanti aku menyusul," ucap Sakura yang lekas berjalan pergi tanpa persetujuan Ino dan Shizune.
'Aku ... kenapa aku terus merasa tidak enak seperti ini? Dan ... rasanya aku seolah ingin mengikuti Hinata,' gumamnya pelan.
Gadis itu mulai melangkah lebih cepat. Kepalanya terus menoleh, berharap menemukan sosok Hinata yang entah kenapa ingin ia temui. Sakura tidak mengerti kenapa ia merasa seperti itu, gadis itu hanya menuruti kata hatinya, siapa tahu ia akan menemukan hal yang terduga, hal yang mungkin saja menjadi penyebab mengapa hatinya merasa gundah.
"Hinata ... dia pergi ke ma—"
"Bagaimana?"
Suara baritone dari seorang pemuda terdengar jelas oleh Sakura yang kini tengah berada di dekat pintu masuk Aula. Kakinya yang tadi hampir melangkah kini terhenti seketika, dan ia semakin berjalan mendekati pintu besar berwarna cokelat tua tersebut.
"Apa yang kau dapat?"
"Sakura dinyatakan positif sebagai seorang Shectum."
DEG!
Emerald-nya terbuka lebar tatkala mendengar suara khas perempuan yang sangat familiar di telinganya. Terlebih lagi, ia merasa terkejut saat namanya disangkut-pautkan dalam pembicaraan tersebut. Dan itu telah berhasil mengundang tanda tanya besar dalam benaknya. Lekas ia mendekatkan telinganya ke pintu, mencoba mendengar lebih jelas pembicaraan itu, ya walaupun Sakura tahu bahwa 'menguping' itu tidak sopan, namun ini juga menyangkut namanya yang disebut begitu saja.
"Aku juga sudah mendapat kabar dari Shizune saat dia mengintai Akatsuki, nampaknya mereka mulai menjalankan rencananya," lanjut perempuan itu yang diperkiran Sakura adalah Hinata.
BUGHT!
Suara dentuman keras pada dinding Aula terdengar sangat jelas hingga membuat Sakura sedikit melonjak karena kaget.
"Sial!" geram pemuda itu kesal. "Kali ini kita harus benar-benar melindungi Sakura."
"Baik, Naruto-nii ..."
Ia terbelalak. Sakura kembali merasa terkejut saat nama pemuda pirang itu melantun cepat dari bibir sang Gadis. Karena penasaran, reflek Sakura membuka sedikit pintu tersebut, sekadar ingin mengetahui keadaan di dalam. Deritan pintu itu terdengar pelan seiring iris emerlad-nya menatap jauh ke dalam Aula.
"Sepertinya mereka sudah menduga ini sebelumnya, lalu menjalankan rencananya saat hari itu akan terjadi. Cih! Brengsek!"
Matanya berkilat ketika menyadari sosok siapa mereka. Tentu saja Sakura tahu, ternyata benar mereka adalah Naruto dan Hinata, tepat sebagaimana apa yang dipikirkannya tadi.
"Kau pasti akan berubah jika hari itu terjadi 'kan?" tanya gadis bermanik lavender itu. "Lalu apa rencanamu?"
"Entahlah." Naruto mengangguk pelan. "Kita pikirkan itu nanti. Yang terpenting sekarang, beritahu yang lain, perlindungan untuk Sakura dimulai dari sekarang."
"Baik."
Hinata mulai berjalan menjauhi Naruto. Sakura pun yang menyadari sosok itu berjalan mendekati pintu segera berlari menjauh, ia takut ketahuan menguping oleh kedua orang itu.
'Sebenarnya ada apa ini? Kenapa namaku ... lalu Shectum?' gumamnya sembari berlari.
=0=0=0=
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Seluruh siswa kini tengah berada dalam perjalanan pulang atau bahkan ada yang sudah pulang duluan. Seperti halnya keempat orang itu, mereka tengah berjalan santai menyusuri jalanan yang mulai terlihat sepi.
"Kau yakin?" tanya pemuda berambut nanas memecahkan keheningan seraya menggulirkan matanya pada pemuda pirang di sebelahnya.
"Ya, aku yakin itu," jawabnya tanpa menoleh.
"Huh, mendokusai ne ... apa yang lain sudah—"
DEP!
Tiba-tiba saja bayangan hitam melintas lalu berhenti tepat di hadapan mereka. Bayangan hitam itu kemudian berubah menjadi sosok seorang pemuda berambut raven menggunakan jas putih dengan kerah tinggi berwarna merah.
"Dia sudah pulang bersama Ino."
Kedua pemuda itu menatap tajam pada pemuda keturunan Uchiha itu. Naruto yang berdiri terpaku karena kehadiran Sasuke yang tiba-tiba hanya menyeringai lebar.
"Baguslah," ucapnya enteng seraya menolehkan pandangannya ke atas sebuah pohon. "Shizune ... Jaga dia selama di rumah."
Shizune yang entah sejak kapan berdiri di sebuah dahan pohon yang cukup besar itu hanya mengangguk pelan.
"Dan jangan sampai dia tahu tentang identitas kita."
"Ryokai," jawabnya, kemudian menghilang dalam kepulan asap putih.
Sejenak, ketiga pemuda itu menatap ke arah kepulan asap yang kian lama kian menghilang. Lalu sekilas bertukar pandang dengan tatapan tajam.
"Shikamaru?" Naruto menoleh ke kiri dimana sahabatnya itu tengah berdiri dengan ekspresi bosan.
"Hn?" jawabnya singkat.
"Panggil Hinata dan Neji, kita harus berkumpul di Markas."
"Baik."
TBC
Diga la verdad : Sihir yang mampu membuat korbannya mengatakan identitasnya secara lengkap serta kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya.
Comienza : Mulai
Detener : Berhenti
REVIEW AND CRITICS, PLEASE?
