DISCLAIMER :

Vocaloid © Yamaha Corporation

Story © Selang Regulator

WARNING :

Typo(s) bertebaran, tidak terlalu menyangkut EYD atau KTT, AU, maybe, picisan, abal, alur tidak beratur, sudut pandang tidak jelas, gaje, beberapa figuran tanpa nama, dan lain-lain

Cerita ini adalah fiksi, baik nama tokoh, waktu, tempat, dan kejadian di dalamnya, sama sekali tak ada hubungan dengan kenyataan

Don't Like, Don't Read

SUMMARY :

Teror itu kembali lagi, memainkan permainan keji tanpa ampun. Hatsune Miku, seorang agen polisi dan Kevin Yohio, detektif swasta terkenal, adalah dua orang musuh bebuyutan yang 'terjebak' bersama dalam sebuah kasus atau mereka yang menjadi seorang pemain dalam sebuah pemainan.

.

.

.

[[ -Permainan Kematian- ]]

.

.

.

Bab 1

Kevin Yohio iri pada teman lamanya. Kaito Shion pernah nyaris mati tapi berhasil hidup lagi. Sekarang, berkat cinta dari seorang wanita, Kaito berhasil melewati masa-masa sulit dihidupnya. Melihat kebahagiaan dimata Kaito setiap kali memandang istri dan bayinya, Yohio tahu betapa Kaito menghargai kesempatan kedua yang telah diberikan Tuhan padanya.

Jika ada orang lain yang tahu betapa berharganya kesempatan kedua, Yohio-lah orangnya.

Kaito menepuk bahu Yohio. "Ayo kita keluar dan kau bisa membantuku meletakkan daging steik ini di panggangan," pria bersurai biru malam itu mengangkat nampan berisi daging yang telah di bumbui. "Len telah memanaskan panggangan," lanjutnya.

"Memangnya butuh berapa orang untuk memanggang daging steik?" tanya Yohio sebelum mengangkat botol bir ke mulutnya dan menenggak hingga tetes terakhir.

Kaito mengangkat bahu. "Terserah, tapi kupikir kau mungkin ingin menyingkir dari para wanita itu selama beberapa menit. Itu saja maksudku, kecuali kau memang sangat ingin untuk mendengar sekali lagi semua detail bagaimana kami memdekorasi kamar bayi, pergi ke kelas senam pra-persalinan bersama, dam bagaimana aku nyaris pingsan selama proses kelahiran Kaiko,"

Yohio tersenyum sambil menoleh ke arah ruangan sebelah, tempat para wanita sedang asyik bencengkrama-Kagamine Rin, pacar Len, dan saudara Rin, Maika Kikio-duduk bersama Sakine Meiko didepan meja dapur sambil menggendong anaknya.

"Aku rasa sebaikanya membiarkan percakapan tentang bayi itu menjadi obrolan para wanita saja," kata Yohio sambil mengikuti Kaito keluar menuju patio .

pemuda bersurai pirang itu tidak terlalu menyukai acara kumpul keluarga dan pesta barbeque. Ia mau datang bukan karena merasa bosan atau kesepian. Ataupun tidak ada tempat lain yang bisa dikunjungi. Hanya saja, sahabat yang ia miliki bisa dihitung dengan sebelah tangan-Kaito dan Meiko termasuk di dalam daftar pendek itu.

"Kau suka steik yang dimasak bagaimana, Yohio?" tanya Len seraya mengambil nampan dari tangan pemuda bersurai biru malam dan menempatkannya disebelah alat pemanggang.

Meskipun mereka telah mengenal selama bertahun-tahun, tapi baru ini mereka mengadakan pesta barbeque. Yohio menatap Len seraya menaikkan sebelah alisnya. Pengacara bermata biru langit dan berambut kuning madu itu hari ini mengenakan kemeja putih, sweter hitam, dan celana jins belel.

"Setengah matang," jawab Yohio.

Len menyeringai. "Sungguh? Aku sudah menyangka kau bukan orang biasa. Kau unik,"

"Tidak,"

"Tidak suka yang matang ya?" pemuda bersurai kuning madu itu tergelak saat mengangguk ke arah pintu belakang rumah. "Mungkin saja Nona Maika lebih suka bersama pemuda yang sudah matang?"

Yohio tersenyum, tidak tepancing dengan gurauan Len. "Aku persilahkan kau untuk bertanya padanya. Tapi bagaimana dengan gadis yang kau bawa? Bukannya gadis itu berharap seluruh perhatianmu padanya?"

"Kita bisa bertukar pasangan?" saran Len.

"Bisakah kalian berdua mengentikan itu?" ujar Kaito sambil menatap pintu ke arah pintu di serambi belakang rumah. "Aku pria menikah dan jika istriku mendengar percakapan kalian berdua, ia pasti akan melarangku mengundang kalian lagi,"

Yohio dan Len tertawa terbahak-bahak.

"Lihatlah bagaimana sang kesatria telah dilumpuhkan," sindir Yohio.

"Sekarang dia adalah pria yang manis," canda Len.

"Aku memang seperti itu," jelas Kaito pada mereka. "Dan aku bangga mengakuinya,"

Yohio tahu jika ada seorang pria di dunia ini yang paling setia terhadap istrinya, Kaito adalah orangnya. Dan dia tidak menyalahkan pria bersurai biru malam itu. Jika ada wanita yang bisa mencintainya sebesar cinta Meiko pada Kaito...

Yohio tidak pernah berharap untuk memiliki pasangan atau menikah dan menjadi seorang ayah. Ia bahkan tidak pernah membayangkan bisa terikat dalam hubungan yang permanen. Tidak akan ada wanita yang memahami masa lalunya. Setan sudah menjangkiti jiwanya. Setan yang sangat kejam, yang tidak pernah melepaskannya.

.

.

Hatsune Miku tidur telentang diatas sofa, dengan bantalan tebal bermotif bunga. Ia mengangkat gelas dari lantai ke arah bibirnya, lalu menyesap teh manis didalamnya.

Iris ocean miliknya menatap keluar jendela. Hujan deras bererta angin kencang menderu dan menerpa dahan-dahan pohon, menimbulkan suara gemerisik dedaunan.

Lagi pula, sudah bertahun-tahun ia tidak mengambil cuti untuk berlibur, semenjak kematian Ryuuto seluruh waktunya hanya tercurah untuk pekerjaan. Pekerjaanlah yang membuatnya tetap waras setelah kematian adiknya itu. Kerja telah menjadi semangat dan satu-satunya semangat yang dimiliki.

Sudalah, Miku, lupakan. Jangan terus mengungkit masa lalu. Tidak akan ada gunanya.

"Ambilah cuti selama dua minggu," Sonika, salah satu pimpinan di Kantor Kepolisian Pusat Tokyo tempat ia bekerja, tidak memberikannya pilihan.

"Aku akan gila jika tidak bekerja," jawabnya.

"Coba saja dulu. Pergi ketempat yang menyenangkan. Contohnya ke pantai. Kenakan bikini yang seksi dan goda beberapa pemuda disana,"

Jika saja ia dan bosnya bukan teman dekat, sekaligus rekan kerja selama bertahun-tahun. Wanita bersurai hijau gelap itu tidak akan mengucapkan kalimat yang terakhir itu.

"Aku akan mengambil cuti selama dua minggu," akhirnya Miku setuju. "Tapi aku tidak tertarik untuk bersenang-senang dengan pemuda di pantai,"

Sonika tertawa terpingkal-pingkal.

Jadi disinilah ia, di rumahnya yang damai. Miku tiba tadi sore. Langsung tertidur seperti mayat. Makan malam banyak. Berendam di bak air panas selama beberapa menit, lalu mandi dan mengenakan pakaiannya.

Baru hari pertama cuti panjangnya dan ia sudah merasa luar biasa bosan.

.

.

Bruno makan malam dengan sangat tenang. Selama ia memakan makanannya Bruno telah memikirkan sebuah ide-ide yang tercetus di otaknya, sebuah ide brilian. Hanya memikirkan ide tersebut sudah membuatnya bersemangat.

Setelah makan, ia harus menelepon dua orang dulu. Ia tidak membutuhkan seorang patner agar permainannya menjadi lebih menarik. Yang ia butuhkan hanyalah musuh. Seseorang yang dapat berbagi rencana saat ia mengeksekusi korban-korbannya. Seseorang yang tidak punya pilihan lain untuk mengikuti permainannya.

Tentu saja ia masih ingat di luar kepala nomor kedua orang yang akan diteleponnya.

Siapa yang akan ia telepon terlebih dahulu? Hmm...

Simpan yang terbaik untuk terakhir.

Saat ia menekan nomor orang pertama ditelepon genggamnya, ia sudah membayangkan bagaimana ekspresi orang tersebut ketika mengetahui akan ada permainan baru yang akan segera dimainkan.

.

.

Yohio lupa menyetel teleponnya dengan nada getar, sehingga pada saat makan malam telepon itu berbunyi dan ia harus meminta maaf pada yang lain, meminta izin untuk pergi keluar.

Yohio melihat nomor asing yang tertera pada layar teleponnya, lalu ia menjawab telepon itu pada deringan kelima. Haya sebagian orang yang mengetahui nomor pribadinya.

"Yohio di sini,"

"Halo, Kevin Yohio. Apa kabarmu hari ini?"

Yohio tidak mengetahui suara orang itu, jelas sekali kalau suara itu tidak disamarkan. Dari suaranya, bisa ditebak orang itu adalah pria.

"Siapa kau dan bagaimana kau bisa mengetahui nomor pribadiku?"

Terdengar suara tawa. "Akan ada sebuah permainan baru,"

"Apa maksudmu?"

"Bukankah anak kesayangan Tuan Kevin Johio Lucas ingin pergi keluar dan bermain?"

Yohio membatu dan seketika menegang saat ia menggenggam erat teleponnya. Jantungnya berdegup kencang dan darahnya mengalir dengan cepat di dalam tubuhnya.

"Tergantung permainannya,"

"Katakan padaku apa yang kau ketahui tentang The Killer Lady, tapi orang lain tidak tidak tahu dan akan ku jelaskan sedikit padamu tentang permainan baruku,"

Detak jantung Yohio semakin cepat. Brengsek! Apakah pria ini bercanda?

"Sweet Ann memiliki seorang patner," jawab Yohio.

Terdengar suara tawa dari seberang sana. "Bagus sekali, Kevin. Sangat bagus sekali,"

Insting Yohio mengatakan bahwa yang sedang meneleponnya ini adalah seorang patner dari The Killer Lady, orang yang berhasil lolos karena tidak ada satupun yang mengetahui keberdaannya.

"Kapan kau berencana memulai permaian barumu itu?" tanya pemuda bersurai pirang itu.

"Aku baru saja memulainya,"

Perut Yohio terasa mual. Orang gila ini sudah memulai membunuh lagi.

"Kapan?"

"Aku akan memberi petunjuk...Bagian utara, Hokaido. Jam empat belas lalu,"

Seketika sambungan terputus sebelum Yohio bisa merespon. Orang itu telah menutup teleponnya dan berakhirlah percakapan mereka.

.

.

Kilatan cahaya terlihat membelah langit dan diikuti petir menggema. Miku tengah duduk bergelung di atas sofa ruang keluarga sambil memanggku buku di pangkuan. Rasa kantuk belum kunjung mendatanginya.

Jdeer!

Tiba-tiba terdengar suara petir yang menghantam sesuatu. Ya Tuhan! Nyaris saja ia terjatuh dari sofa empuknya, secara tidak sengaja ia menjatuhkan buku yang ia baca tadi.

Saat Miku mencoba membungkuk untuk mengambil bukunya, terdengar suara telepon genggamnya berbunyi. Kenapa ia tidak mematikan benda sialan itu? Karena ia sedang berusaha menikmati cuti kantornya. Kemungkinan telepon itu dari ibunya atau kakak laki-lakinya.

Setelah mengambil bukunya yang terjatuh, kemudian ia beranjak, uraian rambut toskanya sedikit berantakan. Mengambil telepon genggam yang tak jauh dari tempatnya berada.

Miku mengambil teleponnya, memeriksa nomor penelepon di layar, dan sadar bahwa ia tak mengenali nomor tersebut. Mungkin ini hanya orang salah sambung atau ada seseorang yang iseng untuk mengganggu di masa libur cutinya.

"Halo..."

"Halo, Hatsune Miku. Menyenangkan sekali bisa mendengar suara merdumu,"

"Siapa ini?"

"Seorang pria yang mengagumi kecantikanmu dan kecerdasanmu,"

"Bagaimana kau bisa mendapat nomor teleponku?"

"Aku puya cara sendiri untuk mendapatkannya,"

"Aku akan menutup teleponnya. Jangan pernah meneleponku lagi,"

"Jangan ditutup. Aku akan memberikan berita bagus," pria di seberang sana berhenti sejenak. "Ada sebuah permainan yang baru saja dimulai,"

Miku sedikit terkejut. "A-apa maksudmu?"

Tertawa. Terdengar sinis dan dingin. Membuat gadis itu sedikit bergidik.

"Nah, kau pasti bersyukur tidak menutup teleponnya tadi, kan?"

"Permainan macam apa?" tanya Miku.

"Apa fakta yang hanya diketahui olehmu, aku, dan Kevin Yohio tentang The Killer Laddy?"

Miku berusaha untuk tidak panik. "Sweet Ann tidak sedirian. Sebenarnya ada dua orang pembunuh,"

"Kau cerdik sekali, Miku sayang. Sekarang aku akan membiarkanmu dan Yohio ikut serta dalam permainan ini. Dan petunjuk pertamamu adalah...Bagian paling utara, empat minggu lalu,"

"Petunjuk apa itu?"

Sunyi.

Pria brengsek itu telah menutup teleponnya. Miku menggenggam teleponnya. Tangannya gemetar.

Sialan. Apakah permainan maut akan dimulai lagi? Setahunya, telah ada kasus tiga tahun lalu, hanya senior diatasnya yang menangani kasus itu. Kasus itu megenai pembunuhan berantai yang korbannya adalah perempuan-perempuan dari kontes kecantikan di Jepang. Namum, setelah ditemukannya Sweet Ann yang tewas tertembak dikepala, kasus itu secara resmi ditutup.

Selama ini, Miku sedikit tertarik dengan kasus tersebut dan memunculkan kecurigaan di otaknya. Mereka berdua-dengan Yohio-yakin bahwa Sweet Ann tidak bekerja sendiri.

Miku kembali menuju sofanya. Orang yang ingin ia lihat sekarang lagi di dunia ini adalah Kevin Yohio. Jutawan playboy yang memiliki usaha Biro Pengamanan dan Investgasi Swasta Kevin itu adalah orang bajingan yang sok dan sekaligus luar biasa macho. Dan hanya Yohio yang memiliki kecurigaan sama dengannya, Miku sadar bahwa takdir telah mempermainkan dirinya.

Miku lebih memilih memakan pecahan gelas daripada menghubungi Yohio.

Telan harga dirimu dan lakukan yang harus dilakukan.

Miku mencari daftar nomor di teleponnya. Terlihat masih ada nomor Kevin Yohio. Seharusnya ia sudah menghapusnya sejak lama. Ragu-ragu sejenak dan akhirnya ia menekan tombol teleponnya. Menunggu telepon itu diangkat.

"Wah, wah, sungguh kejutan mendapat telepon dari agen kepolisian Tokyo favoritku," terdengar suara bariton di telinga Miku.

"Apa orang itu meneleponmu?"

"Siapa yang meneleponku?"

"Hentikan candaanmu itu. Jangan timpali aku dengan pertanyaan lagi,"

"Ya, dia meneleponku, lima menit yang lalu. Kapan dia meneleponmu?" tanya Yohio.

Miku menghela nafas. "Baru saja,"

"Kecurigaan kita selama ini benar. Apakah dia memberi tahumu tentang permainan barunya?"

"Iya, apa dia memberimu sebuah petunjuk?"

"Ya. Apa kau juga?"

"Bagian dari utara, empat minggu lalu,"

"Petunjuk yang dia berikan padaku Bagian utara, Hokaido," Yohio menggeram. "Berengsek. Dia telah membunuh dua kali,"

"Kita harus mencari tahu," tegas Miku.

"Apa kantor kepolisian Tokyo-"

"Mereka tidak akan bergerak tanpa bukti yang kuat," ucap Miku memotong perkataan pemuda itu.

"Kalau begitu, aku yang kan menangani hal ini,"

"Tidak tanpa diriku, kan,"

Yohio kembali menggerutu. "Apakah kau memutuskan untuk bekerja sama sekarang?"

Sulit bagi Miku untuk menjawabnya. "...Ya, itu yang aku coba sarankan,"

.

.

.

To be continue...

.

.

.

*Curahan Author

Fiuuuh! Akhirnya selesai juga :"D tangan pegel banget *plakk* Ok. Chapter selanjutnya akan lanjut *fight*

Mohon beri oleh-oleh seperti Gantungan Kunci Favs, Follows Manis, Reviews Renyah yang ditaburi Bumbu Kritik dan Saran dari Anda!

Terimakasih telah membaca cerita Selang Regulator.

- When's the next time you'll come back?-