Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto

Theme by Tana-chan No Lovely Hero

Fiction by Dae Uchiha

©2012

A Naruto fanfiction, with mature contents for violence and blood(y) scene, alternate universe, out of character, typo(s), and miss-typo(s)

p.s: different POV in every chapter! Keep alert! XD

.

B L U E

.

First : Hinata

.

.

Dia gila.

Aku mendesah keras.

Ya, itulah satu-satunya alasan logis ketika aku menatap tempat yang seakan ditimpa angin topan selama semalam ini.

Dia. Benar-benar. Gila.

Tempat ini begitu berantakan—ruangan kerja yang sudah beralih menjadi TKP pembunuhan kali ini. Kursi-kursi terbalik, meja berantakan dengan berbagai kertas yang bertebaran di sana-sini. Lemari terbuka, dengan isi yang sama berantakannya. Bolham lampu pecah, wallpaper kamar penuh dengan robekan. Bahkan lukisan penghias sudah dirobek-robek, menampilkan sebuah brankas tertutup dibaliknya. Meja tamu dengan posisi terbalik, dan ada bekas pecahan vas bunga di sekitar sofa.

Dan yang paling membuat semua terasa bagai teror adalah bercak darah yang mengotori seluruh ruangan. Darah yang menetes-netes, mengering dan mengotori kertas-kertas. Tersebar di seluruh lantai. Seolah-olah pembunuhnya membiarkan korban melakukan perlawanan dengan melempar-lemparkan benda apapun yang ada di sekitarnya, meski itu hanya berlembar-lembar kertas—atau mungkin memang itulah yang terjadi—sementara tersangka tertawa-tawa dan menusukkan pisau pada seluruh bagian tubuh korban.

Aku bergidik saat membayangkan kemungkinan itu.

Kutatap salah satu mayat dengan posisi tidur di sofa, mayat itu penuh dengan bekas sayatan dan tusukan di sekujur tubuhnya. Wajahnya pucat, meski belum sepenuhnya, membuatku menduga waktu kematiannya belum lama ini. Aku melirik arloji. Jam enam pagi. Waktu kematiannya tak mungkin lebih dari dua jam yang lalu.

Ada satu korban lagi di bawah meja kerja, dengan kondisi yang tak kalah menggenaskan. Kemeja yang dipakainya sobek parah, dan sekujur tubuhnya bermandikan darah.

Dan yang paling menyedihkan ...

Seorang anak kecil berumur kira-kira sepuluh tahunan, tergeletak di samping jendela, sementara kedua tangannya bersimbah darah, dengan tulisan—aku tak ingin menyebutnya sebagai pesan kematian, karena tulisan itu sama sekali tak memberikan petunjuk atau merujuk pada sesuatu yang berkaitan dengan si pelaku—'HELP' besar-besar pada jendela itu. Tulisan berwarna merah yang—tak perlu tim forensik untuk membuktikannya—bisa dipastikan berasal dari darah.

Bau anyir yang menguar membuatku mendadak merasa mual.

Aku mundur selangkah, membiarkan beberapa petugas memotret keadaan ruangan sebelum mayat-mayat itu dipindahkan.

"Bagaimana?" Aku bertanya pada Genma, bawahanku yang sudah kuperintahkan mencari tahu seluruh identitas korban.

"Keluarga Matsuki. Sang ayah, Matsuki Hiro adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di bagian real estate, sementara istrinya adalah ibu rumah tangga biasa. Anaknya, Matsuki Asashi adalah seorang murid perempuan biasa di salah satu sekolah dasar di distrik Nara."

"Selidiki latar belakang korban, jangan sampai ada yang terlewat. Kalau perlu semua sahabat ataupun saingan korban."

"Baik!" Genma menghormat formalitas, kemudian berbalik.

Korban keempat.

Aku kembali mendesah keras.

Ini adalah korban keempat dari seorang pembunuh sadis yang sampai sekarang tak kuketahui siapa itu. Awalnya aku mengira ada lebih dari satu pembunuh, mengingat sampai korban ketiga sama sekali tak ada persamaan antara semua korban.

Namun yang meyakinkanku adalah pembunuh yang tak segan-segan menghabisi satu keluarga sekaligus, dan terhitung sudah empat keluarga yang dibunuhnya.

Dan juga, tulisan 'HELP' besar yang selalu ditulis dengan darah korban.

Aku mendekati mayat sang anak yang belum diangkut, berjongkok dan mengamati tulisan itu. Kuamati juga kelima jari korban yang penuh dengan darah.

Aku baru akan berbalik saat mataku menangkap sebuah benda kecil yang juga berlumuran darah. Seingatku, pembunuh ini tak pernah membiarkan adanya satu benda tajam pun di ruangan yang menjadi TKP. Bahkan di dapur yang menjadi TKP saat kasus kedua pun, aku tak menemukan satu pisau pun di sana.

Aku mengeluarkan saputangan dari saku, mengambil benda kecil itu dan menyerahkannya pada salah satu petugas.

"Periksa sidik jari yang ada di benda ini, dan juga cocokkan darah yang tertempel di sini dengan darah anak kecil itu dan juga darah yang ada di tulisan tersebut. Oh, dan sekali lagi periksa semua TKP sebelumnya, apakah ada benda seperti ini di tempat kejadian."

"Baik!" Petugas itu membungkuk sejenak sebelum menjalankan perintahku.

Jika dugaanku benar ... ada yang aneh dengan pembunuhan ini.

.

.


.

.

Aku meletakkan berkas itu, nyaris frustasi.

Lagi-lagi, tak ada persamaan latar belakang korban keempat ini dengan ketiga korban lainnya.

Ada dua kemungkinan, pembunuhnya adalah psikopat sinting yang menghabisi keluarga yang dipilihnya secara acak, atau dendam pribadi pembunuh yang tak terlacak oleh kepolisian.

Aku akan memilih opsi kedua yang terdengar lebih rasional.

Aku memerhatikan seorang petugas bernama Haku yang tadi kuperintahkan untuk menyelidiki benda yang kutemukan di TKP.

"Ini hasil pemeriksaan dan juga hasil outopsi korban." Ia melaporkan, memberikan beberapa map lagi untukku.

"Bagaimana dengan penyelidikanmu di TKP lainnya?"

"Maaf, tapi aku tak menemukan benda yang Anda maksud."

Aku sedikit kecewa, namun itu tak boleh membuatku menyerah. Tidak di saat ada seorang pembunuh brutal dan berbahaya yang sedang berkeliaran dan meneror Konoha. "Apakah kita masih punya barang-barang di pakaian korban untuk korban sebelumnya? Cari barang yang aku tunjukkan, atau barang lain yang sejenis."

"Baik!" Haku ber-ojigi sebelum berbalik.

Aku membuka map yang diserahkan Haku.

Hasil outopsi dari semua korban.

Matsuki Hiro, meninggal akibat kehabisan darah karena banyaknya tusukan dan sayatan di sekujur tubuhnya, dan juga pemukulan berkali-kali di kepala oleh benda berat. Aku menduga benda yang dipakai untuk memukul adalah kursi, meski tak ada sidik jari lain yang tertinggal di seluruh ruangan ataupun benda di ruangan tersebut selain sidik jari para korban.

Pembunuhan—yang—bisa dikategorikan sebagai pembunuhan yang sempurna. Seprofesional apapun pembunuh, tak meninggalkan satu sidik jari pun pada korban yang melakukan perlawanan atau di ruangan yang begitu berantakannya adalah hebat.

Matsuki Ami, meninggal akibat pemukulan pada belakang kepala, menyebabkan otak kecilnya rusak. Tusukan dan sayatan yang didapatnya bukanlah penyebab utama kematian korban.

Lalu, Matsuki Asashi.

Aku mengernyitkan kening saat membaca laporan autopsi dari kematian Asashi.

Anak kecil itu tidak mengalami tanda-tanda penyiksaan seperti orang tuanya, penyebab kematiannya murni karena habisnya darah akibat sayatan pada nadi tangan kirinya.

Aku semakin yakin saat melihat laporan yang menyatakan tidak adanya sidik jari lain selain sidik jari Asashi pada benda yang kuduga dipakainya untuk menyayat nadi, begitu pula laporan yang menyatakan bahwa darah di benda itu murni darah Asashi, dan juga darah yang membentuk tulisan HELP itu.

Aku mengobrak-abrik mejaku, mencari laporan autopsi ketiga keluarga lainnya. Seperti laporan-laporan sebelumnya, tulisan HELP itu selalu ditulis dengan darah dari anggota keluarga yang terkecil. Dan jika aku tidak salah ...

Anggota keluarga terkecil itu selalu meninggal akibat kehabisan darah, tak pernah mendapat luka sayatan atau pun tusukan seperti anggota keluarga lainnya, begitu pula dengan jam kematiannya yang selalu paling akhir.

Selalu ada dugaan bahwa pelaku menghapus sidik jarinya di setiap benda tajam yang dipakainya untuk membunuh, tetapi kali ini aku memercayai instingku.

Insting yang mengatakan, bahwa anggota keluarga yang terkecil mati bukan karena terbunuh, melainkan bunuh diri. Meninggal setelah menuliskan kata HELP di TKP menggunakan darah mereka.

"Tapi ... kenapa?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku dengan keras.

Dan aku tak bisa menemukan alasannya.

.

.


.

.

"Aku bisa gila."

Sasuke mendengus kecil sebelum meneguk cocktail miliknya. Ia nampak begitu tenang—dan ia memang selalu terlihat tenang—berbanding terbalik denganku yang pastinya sudah terlihat sangat kusut dan berantakan. "Kau sudah mengatakannya ratusan kali, Dobe."

Aku mendesah, frustasi memenuhi kepalaku. "Kau akan merasakan hal yang sama jika kasus yang kau tangani tak sesuai dengan ekspetasimu," ucapku sedikit jengkel, menarik-narik dasiku yang terasa mencekik.

"Apa yang kau harapkan dari seorang pembunuh? Ia akan menyerahkan diri padamu dan berkata hukum aku seberat-beratnya?"

"Aku akan dengan senang hati mengabulkannya," jawabku cepat. Oh, seandainya hal itu bisa terjadi, aku tak perlu menyelidiki kasus ini dengan susah payah.

Berbeda dengan Sasuke, aku meraih ramenku yang pasti sudah mendingin dan menyeruputnya dengan keras.

"Kau benar-benar tak berubah, Dobe," komentar Sasuke.

"Jika maksudmu aku harus menjadi seperti ayahmu yang begitu serius dan maniak kopi hanya karena kini aku inspektur kepolisian, tidak, terima kasih," balasku, menyeruput ramenku lagi. "Bahkan, jika aku tahu menjadi inspektur kepolisian begitu menyusahkan seperti ini, aku takkan menuruti saranmu." Aku menghela napas, "Sungguh, aku tak mengerti ada orang yang bersusah-payah mau menjadi seorang detektif. Ini merepotkan," tambahku.

"Hn."

"Aku butuh teman, Teme," Aku nyaris menjerit, membuat Sasuke mengernyitkan keningnya, "Sudah ada empat pembunuhan dalam dua bulan ini, dan aku sama sekali tidak menemukan titik terang mengenai pelaku pembunuhan itu!"

"Belum," Ia mengoreksi, "ayolah, Dobe, aku tahu kau tak sebodoh itu. Kau hanya perlu menjernihkan kepalamu sedikit dan menemukan penyelesaian."

"Itulah masalahnya," Aku menggerutu, "kau tahu betul kepalaku tak pernah jernih jika aku sedang dikejar suatu hal—dalam hal ini, dikejar waktu untuk menangkap pembunuh itu sebelum ada korban lainnya. Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya seandainya kau seolah bertanggung jawab atas seluruh nyawa yang ada di Konoha."

Sasuke menatapku, dan sedetik aku melihat ada tatapan prihatin di oniksnya yang selalu datar. "Bersemangatlah." Walau nadanya datar, aku yang sudah bertahun-tahun berteman dengannya tahu pasti arti ucapannya itu.

"Hmm," gumamku, menyandarkan tubuh di sofa.

"Jika kau ke sini, ada sesuatu yang ingin kau diskusikan." Ia kembali berbicara setelah beberapa menit kami terdiam, dan aku yakin itu karena wajahku yang betul-betul terlihat memprihatinkan.

"Ya, tapi ini hanya dugaanku semata," sahutku lesu. "Ada sesuatu yang aneh tentang pembunuhan ini. Kau tahu, aku sudah bercerita tentang tulisan yang selalu ditinggalkan korban terakhir dalam pembunuhan itu padamu. Tadi ... aku menemukan bahwa korban terakhir selalu meninggal kehabisan darah tanpa adanya penganiayaan di tubuhnya. Aku sudah mengeceknya berulang kali, dan aku menemukan adanya kemungkinan, bahwa korban terakhir meninggal bukan karena dibunuh, tetapi karena bunuh diri. Aku ... hanya masih belum bisa menemukan alasan yang logis. Apa yang membuat pelaku tak membunuh korban terakhir dan kenapa korban terakhir bunuh diri? Apa yang membuat korban terakhir meninggalkan tulisan itu sebelum akhirnya meninggal karena kehabisan darah? Kenapa ia tak kabur dan mencari pertolongan?" Aku menyerangnya dengan pertanyaan beruntun, kemudian menghela napas panjang. Demi Tuhan, aku benar-benar butuh teman bicara sebelum kepalaku meledak karena kasus ini. Hell, aku bahkan baru saja diangkat menjadi inspektur!

Sasuke tampak tertarik. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, menatap ke langit-langit selama beberapa saat. "Mungkin," Ia akhirnya membuka suara, "kau tahu, ada kepercayaan di dalam psikologi untuk—"

"Akhh!"

Suara Sasuke terpotong oleh jeritan yang berasal dari kamarnya.

Aku menatap Sasuke takjub. Atensiku teralihkan sepenuhnya. "Whoa, Teme, aku baru tahu kau menyembunyikan seorang ga—"

"Hinata," Ia bergumam sebelum beranjak menuju kamarnya, membuatku mengangkat sebelah alis.

Aku memutuskan untuk mengikuti Sasuke, disibukkan oleh pemikiranku sendiri. Zaman dimana Sasuke masih sangat labil dan sering bergonta-ganti pacar—aku bahkan ingat dia tak pernah tahan untuk berpacaran dengan satu gadis lebih dari satu bulan—telah lama berlalu. Aku berpendapat bahwa kami sudah terlalu tua untuk bergonta-ganti pacar di usia kami kini,—ya Tuhan, aku bicara seolah aku adalah bujangan tua yang nyaris berusia tiga puluh tahun—karena itu, suara gadis di kamarnya masih menimbulkan tanda tanya besar untukku.

Kamar itu masih tetap sama seperti biasanya. Sasuke memutuskan untuk membeli satu apartemen ketika ia sudah diterima sebagai psikolog di salah satu rumah sakit di distrik Shin, meski setahuku ia masih lebih sering tidur di mansion Uchiha daripada di apartemen ini.

"Dobe, tutup jendelanya."

Aku berjalan dan menutup jendela kamar yang terbuka. Ketika aku berbalik, barulah aku menyadari bahwa Sasuke sedang melakukan hal yang aku jamin tak pernah ia lakukan pada siapapun kecuali pada Mikoto-kaasan: memeluk seorang gadis.

Sasuke masih dengan sikap tenangnya seperti biasa, membisikkan kata-kata yang terdengar seperti "It's alright," pada gadis di pelukannya, sementara gadis itu terlihat gemetar dan balas menggumamkan sesuatu yang tak terdengar olehku.

Sedetik kemudian pandanganku jatuh sepenuhnya pada profil gadis itu. Kulitnya bersih dan putih, terlihat lebih baik dari kulit Sasuke yang sangat pucat. Tubuhnya menunjukkan bahwa gadis itu berumur tak lebih dari dua puluh tahun, dan—aku mengutuk pikiranku sendiri—terlihat jelas bahwa Tuhan begitu adil memberikannya tubuh yang begitu sempurna dan terbentuk di usianya yang masih muda. Pipinya berisi, sedikit pucat dengan campuran rona, bibirnya sedikit gemetar saat ia bersuara. Matanya yang bulat untuk ukuran mata orang Jepang mengerjap berulang kali, menampilkan bola mata sewarna ameythst, sedangkan rambut indigo miliknya terurai dengan indah.

Aku mengalihkan pandanganku pada Sasuke dengan tatapan menuntut penjelasan.

Sasuke, tentu saja tak terlalu memerhatikanku, mengusap-usap rambut gadis itu, dan beberapa menit kemudian gadis itu sudah bersandar sepenuhnya pada Sasuke—ia tertidur.

Sasuke menidurkan gadis itu di ranjangnya dan menyelimutinya, kemudian ia mengisyaratkan padaku untuk keluar bersamanya.

Kami kembali ke sofa, aku terus menatapnya dengan cengiran lebar. Aku harus mendapat penjelasan.

Sasuke menatapku jengah, sampai akhirnya ia mengeluarkan suaranya. "Dia Hinata."

.

.

To Be Continued ...

.

.

A/N: Ini dia chapter satu! Ahaha... maaf, tapi kayaknya kalian salah nebak siapa korban di prolog kemarin ^.^a aku memang mau bikin dengan tema yang dikasih Tana-chan. Oke, secara keseluruhan aku ngartiin tema yang dia kasih: Hinata yang beda dan Sasuke yang ... #well, this is spoiler. Jadi, mungkin agak beda sama fic yang mengusung genre yang sama lainnya ... #pede

Aku juga harap, fic ini bakal berkembang di luar hipotesis kalian, dan mudah-mudahan bisa bikin kalian bilang, "Lho? Kok kayak gini? Aku kira gini?" ^.^v

Masih mau kan, menganalisa?

:D

-Dae-