Sebelum ke cerita saya mau bales Riview dulu :

Meaaaa : buat yang bagian Hits-hitsnya, saya emang sengaja bikin biar pembaca gak ngantuk pas baca ff ini, haha :D. Dan makasih untuk kritikannya, itu sangat membantu saya. Wajar sih saya bukan anak sastra, saya tuh tiap hari kerjaannya ngoding syntax terus *apa hubungannya* jadi pas bikin cerita, ancur sama banyak typo XD.

Zack : saya sengaja Masamunenya dibuat OOC awal-awal, karena klo ga gitu kesannya ga terlihat seperti 'perempuan'. Tapi makasih riviewnya.

Chacha Rokugatsu : Hohoho saya memang suka dengan pairing yang crack kaya IeMasa. Kyanya klo buat rating... T dulu aja deh. Hehe.

Youri-Chan : ini tuh ff pertama ternekat saya, karena ngerubah Masamune menjadi cewek, entahlah saya tuh lagi bosan dia jadi cowo terus LOL... sama fans Masamune yang lain, saya bakal ditimpuk ga yah? Bener-bener nekat euy. Sekarang udah Update kok, makasih sudah menunggu.

Terima kasih untuk reviewnya, maaf klo lamaaaaaaa banget Updatenya. OK! Yoosh kita lanjut ceritanya!

Chapter 2

Masamune P.O.V

"IEYASU/TOKUGAWA-DONO!"

Aku mendengar teriakan dan melihat serangan menuju ke arah Ieyasu. Kurasakan kedua tangan Kojuuro menarik bahuku untuk menjauh beberapa meter dari Ieyasu yang sedang menahan serangan.

"Hoy, Ieyasu! Ternyata kau berani mencium perempuan juga!" sahut Bajak Laut berbadan besar dan berambut putih berjalan dengan santai. Eh, tunggu dulu! Bajak Laut? Saikai no Oni? Apa yang dia lakukan di sini?!

"Mo-Motochika?" Ieyasu terlihat kaget melihat kedatangannya.

"Jangan berani mendekati Hittou lagi!" teriak keempat prajurit setiaku, menyerang Ieyasu.

"Berhenti menyerangku! Uwaaahh!"

Para prajuritku tak peduli dengan ucapan Ieyasu dan tetap menyerangnya. Aku malah senang dan asyik melihat prajuritku begitu semangat mengarahkan pedangnya ke arah Ieyasu dari jauh.

"Masamune-sama! Masamune-sama!" panggil Kojuuro mengguncang-guncang bahuku.

"Ah!" Berkat panggilannya aku tersadar kalau aku terlalu asyik menonton prajuritku. Langsung saja aku berteriak dan menghentikan penyerangan terhadap Ieyasu, "Kalian semua berhenti!"

Mereka mendengar teriakanku dan langsung berhenti menyerang lelaki itu. Dengan langkah tegas aku mendekati mereka, sementara Kojuuro mengikuti dari belakang.

Entah kenapa perasaanku campur aduk sekarang. Aku berhenti di hadapan Ieyasu, dia menatapku heran lalu...

*BUGH!*

Aku memukul wajahya keras, dengan perasaan marah dan kesal aku berteriak padanya, "PERGI DARI SINI!". Kemudian aku melihat ke arah Motochika, "Dan kau! Sedang apa kau di sini, Bajak Laut bodoh?"

"Oh aku hanya penasaran kemana Ieyasu pergi jadi aku mengikutinya," jawabnya santai. "Sudah kuduga dia kemari. Dan ternyata aku tak percaya dia berani menciumu!" sambungnya dengan teriakan lebay dan tampang bodoh.

"Uugh..." terdengar suara erangan kesakitan dari Ieyasu. Aku hanya diam dan memandanginya tajam dengan satu mataku.

"Tokugawa-dono!" panggil Migimeku. "Dari awal aku memang mencurigai kedatanganmu kemari!" lanjutnya dengan ekspresi tegas.

"A-aku minta maaf. Dari awal aku memang ingin bertarung dengannya..." ucap Ieyasu gelagapan.

"Lalu, kenapa Anda berani mencium Hittou!?" tanya Yoshinao.

"Entah kenapa setiap kali aku melihat atau bertemu dengannya, tiba-tiba aku selalu ingin men-"

"Sudah cukup! Kubilang pergi dari sini!" teriaku yang memotong perkataannya yang mulai tak beres ini.

"Ah, baiklah aku akan pergi.. maaf kalau yang kulakukan membuatmu marah." Ieyasu meminta maaf padaku. Lalu memanggil teman robotnya, menaikinya kemudian langsung melesat pergi.

"Aeh, dia benar-benar pergi. Nekat sih jadi orang," kata bajak laut itu yang seenaknya menyenderkan tangannya di pundakku.

"Iih berat! Singkirkan tanganmu!" aku menyingkirkan tangannya dari pundakku. "Kau juga pergi sana!" usirku padanya.

"Hm? Iya, iya aku akan pergi. Galak ih, seperti Mori." Motochika mulai berjalan pergi diantar Kojuuro. Dan semoga saja dia tak menceritakan apa yang terjadi sekarang ke orang lain.

"Kalian, bawakan pedangku dan simpan ke ruanganku. Sesudah itu kalian berempat bisa kembali ke barak." perintahku pada prajuritku.

"Ha'i!"

Sementara itu, aku mulai memasuki rumah untuk membersihkan diri. Rasanya aku ingin berendam air hangat dengan aroma mawar dan merilekskan pikiran.

Begitu sampai, aku langsung memerintahkan pelayan wanitaku untuk menyiapkan air hangat aroma mawar. Sambil mengunggu, aku melepas semua pakaian serta eyepatchku di ruangan khusus dekat kamar mandi. Kemudian melilitkan handuk putih di tubuhku dan duduk di kursi sambil meminum cocktail.

Beberapa menit kemudian pelayan wanitaku datang. "Masamune-sama, air hangatnya sudah siap," ucapnya.

"Hm. Ya." jawabku singkat.

Aku beranjak dari duduku, lalu ke kamar mandi dan masuk bak mandi untuk berendam. Mmm... nyaman sekali.

.

.

.

Malampun tiba. Tubuhku sudah bersih dan wangi. Sekarang aku sudah berbaring di futon, bersiap untuk tidur. Tapi kenapa setiap mata ini terpejam, aku selalu ingat ciuman tadi. Ditambah dia memanggil namaku bukan julukanku. Sentuhan bibirnya masih terasa di bibirku dan ku akui... he's great kisser.

Aku tak pernah menduga kalau hari ini aku mendapat ciuman pertamaku, dan aku tak percaya kalau pria yang menciumku adalah Ieyasu. Aarrgghh! Aku kesal pada diriku sendiri. Karena... karena... Aku janji pada diriku sendiri tidak akan dekat dengan lelaki atau berpacaran dulu apalagi sampai berciuman. Menurutku, berpacaran itu adalah sesuatu yang rumit.

Dan itulah alasan kenapa keempat prajuritku begitu marah dan langsung menyerang Ieyasu. Mereka tahu persoalanku, aku juga yang memberitahu mereka bila ada pria yang mencoba dekat denganku –kecuali Kojuuro- ikuti pria itu. Serang saja pria itu kalau dia berbuat aneh dan terlihat ingin 'menyentuhku'.

"Aaaaaaa! That's so embarrassing!" aku hanya menjerit saja dengan menenggelamkan kepalaku ke bantal dan memukul-mukul futon ku.

*BRAK*

Pintu dibuka keras oleh Kojuuro dan langsung menghampiriku dengan wajah khawatir karena mendengar jeritanku yang sangat keras.

"Masamune-sama! Anda tidak apa-apa?" tanya Migimeku yang langsung duduk di dekatku.

"Kojuuro!" panggilku dengan nada tinggi.

"Iya, Nona?"

"Singsingkan lengan yukatamu!" perintahku padanya.

"A-ah, baik."

Kojuuro menyingsingkan lengan kanan yukatanya. Bisa kulihat wajahnya sangat was-was, karena dia tahu kenapa aku menyuruhnya melakukan itu. Meski begitu dia tetap melakukannya.

"Nah, sekarang kemarikan tanganmu," kataku.

Dia pun mengarahkan tangannya padaku, aku memegangnya dan mengelus-elus tangannya dengan perlahan. Keringat bercucuran dari pelipisnya, sangat menyenangkan melihat wajahnya sekarang. Kalau aku melakukannya pada pria lain, aku yakin wajah mereka akan langsung memerah dan mengeluarkan darah dari hidung mereka. Yeeaahh... aku pernah mencoba melakukannya pada Yukimura, dan reaksinya seperti itu.

Aku masih mengelus tangannya, beberapa saat kemudian...

...aku mencubitnya...

...sangat kencang.

Yup! Inilah yang aku sering lakukan kalau aku sedang kesal atau marah. Aku melampiaskannya dengan cara mencubit siapa saja yang berada di dekatku. Dan oh ya. Cubitanku ini punya nama, yaitu 'Cubitan Naga' yang diberikan oleh Ayahku saat aku pertama kali mencubitnya. Menurut para korbanku, cubitanku ini sangat menyakitkan. Memang, Katsuie dan Keiji contohnya. Setiap kali mereka bertemu denganku, gadis maupun pria nyentrik itu pasti akan jaga jarak denganku.

"Nn.. a, a.. Ma-Masamune-sama..." Kojuuro terlihat sangat kesakitan dengan cubitanku. Meehh... i don't care!.

"Aaahh! Aku kesal, kesal, kesal! Kojuurooo!" Aku terus mencubitnya tanpa ampun. Di antara para korbanku, Kojuuro lah yang paling siap menerima pelampiasanku ini, tak peduli berapa kali aku melakukannya. Tentu saja, itu harus!.

Beberapa lama kemudian, aku menyudahi kegiatan mencubit yang menurutku sangat menyenangkan ini. Setelah itu aku langsung menarik selimut dan berbaring kembali. Tak lupa mengucapkan terima kasih pada Kojuuro yang sekarang tangannya memerah penuh bekas cubitan.

"Oh, ya Kojuuro. Apa kau memberitahu Motochika, kalau jangan sampai kejadian tadi dia ceritakan ke orang lain?" tanyaku sebelum dia pergi.

"Tentu, Masamune-sama. Saya sudah memberi peringatan keras pada Chosokabe-dono saat mengantarnya ke gerbang tadi," jawabnya.

"Oh, baguslah."

"Kalau begitu... Saya permisi, Masamune-sama."

"Ya."

Kojuuro keluar dan menutup pintu kamarku. Aku merasa lebih tenang sekarang. Kurasakan mataku mulai berat, aku berdoa agar besok tak terjadi hal seperti tadi.

End Masamune P.O.V

.

.

.

Di luar kastil Date.

Seorang pria yang memiliki bekas luka di pipi kiri berjalan sambil mengusap-usap tangannya. Kojuuro memang sudah terbiasa mendapat 'Cubitan Naga' dari Nonanya, tapi tetap saja itu terasa sangat menyakitkan.

"Yare-yare, kau dicubit lagi ya?"

Langkah Kojuuro terhenti karena mendengar suara perempuan. Pria itu menoleh ke arah kanan dan melihat seorang shinobi dari clan Takeda.

"Ah. ternyata kau, Sarutobi." Kojuuro tersenyum ke ninja perempuan itu. Malam ini mereka memang sudah berjanjian untuk bertemu.

Gadis itu mendekat ke arah Kojuuro, lalu menyentuh tangannya dan memperhatikan luka cubitannya. Wajah sang Migime langsung memerah saat tangannya disentuh oleh Sasuke. Memang mereka sudah berpacaran cukup lama, namun setiap kali dia mendapat perlakuan dari pacarnya itu Kojuuro selalu salah tingkah.

"Apa yang terjadi padanya sekarang?" tanya Sasuke penasaran.

"Masamune-sama moodnya sedang tak stabil hari ini. Kau yang perempuan pasti mengerti maksudku," jawab Kojuuro sedikit berbohong, karena tak boleh ada yang tahu dengan apa yang terjadi pada Masamune.

"Oohh begitu. Tapi untunglah dia hanya mencubitmu di tangan tak di pipi."

"Huh? Memangnya kenapa?"

"Karena," terdapat jeda dari Sasuke, "Aku yang akan mencubit pipimu!"

Sasuke tiba-tiba mencubit pipi Kojuuro dengan kencang, meski tak sekencang Masamune tetap saja terasa sakit. Kojuuro terus berulang kali mengatakan 'hentikan', tapi gadis itu menghiraukan kata-katanya. Samurai itupun memegang tangan gadis imut itu dan menjauhkannya. Dia menarik tangannya, memeluk shinobi wanita itu lalu mencium bibirnya.

Tak lama mereka menyudahi ciumannya. Kojuuro menatap Sasuke lembut dan menempelkan hidungnya di hidung gadis itu, sedangkan yang ditatap hanya tertawa saja.

"Aku bawakan sesuatu untukmu," ucap Sasuke sambil tersenyum manis.

"Apa itu?" tanya Kojuuro.

"Kue buatanku," jawab ninja itu.

"Kue buatanmu? Kau yang membuatnya sendiri?" tanya pria itu agak heran, karena dia tahu Sasuke kurang menguasai dalam hal memasak kue.

"Iya, hehe. Aku ingin kau yang pertama mencobanya, dan ini spesial untukmu."

"Sepertinya enak, mana kuenya?" Kojuuro melonggarkan pelukannya.

"Sebentar," kata Sasuke yang sedang merogoh saku celananya. "Ini." Dia pun mengeluarkan kantong kuenya dan membukanya agar aroma kuenya tercium.

Kojuuro mencium aroma kuenya, dia pun berkata kalau kuenya memang mengundang selera. Lalu pria berambut hitam ini mengajak gadis berambut merah itu ke taman untuk lebih menikmati saat makan kue. Merekapun duduk dan memakan makanan kering manis berbentuk bulan dan bintang itu.

"Bagaimana rasanya? Enak tidak?" tanya Sasuke yang penasaran dengan komentar dari pacarnya.

"Enak. Aku suka," kata Kojuuro.

"Bohong. Kau pasti bilang seperti itu agar aku senang saja 'kan?" Sasuke kurang percaya dengan apa yang Kojuuro katakan.

"Aku tak bohong. Kuemu enak, tingkat kematangannya pas, dan rasa manisnya pas." Kojuuro berkata layaknya seorang juru masak profesional. "Aku sangat suka kuenya. Terima kasih, Sarutobi." Samurai itu berterima kasih dengan senyuman tulus. Si pembuat kue juga tersenyum bahagia mendengarnya, itu artinya usahanya tak sia-sia karena terus berlatih meningkatkan kemampuannya dalam memasak kue.

Kojuuro mendekatkan wajahnya ke gadis itu. Wajah mereka sangat dekat, bibir mereka saling bersentuhan, kemudian...

"Aku mau kuenya."

"Huh?"

"Eh?"

Takeda no Shinobi dan Ryuu no Migime saling menjauhkan wajah masing-masing dan menengok ke belakang di mana seorang Date Masamune berdiri di belakang pasangan kekasih itu. Ekspresi kedua pasangan itu terkejut dan membatu, membuat sang Dokuganryuu memandang mereka dengan malas. Ternyata Masamune terbangun kembali karena ingin pergi ke dapur untuk minum, dan tanpa mereka sadari gadis ini sudah dari tadi terus memperhatikan kemesraan mereka.

"Hey. kalian dengar aku?" Gadis itu mencoba menyadarkan mereka.

Kojuuro berdiri dari duduknya, "Ma-Masamune-sama... Ada apa sampai membuat Nona terbangun?" tanya Kojuuro dengan nada setengah terkejut.

"Aku hanya haus," jawabnya singkat. "Hey ninja, aku mau kuenya," sambungnya meminta kue gadis berbaju loreng.

"Ah ya. Ini, silahkan." Sasuke memberikan kantong kuenya ke Masamune. Wanita bermata satu itupun mengambil empat kue saja dan memakannya satu persatu.

"Kuenya enak, hanya sedikit ketebalan saja. But not bad, aku suka." Komentar Masamune yang membuat ninja itu menunjukan ekspresi senang

"Terima kasih!" ucapnya yang tak kuasa menahan senyum.

"Aku mau kembali tidur, kalian berdua lanjutkan lagi kencan kalian. Tapi jangan sampai 'berisik' yah," kata Masamune dengan senyuman jahil dan berjalan menuju kamarnya untuk tidur lagi.

Sementara Kojuuro yang mengerti maksud dari kata 'berisik' barusan wajahnya langsung memerah. Sedangkan Sasuke hanya menaikan satu alisnya karena bingung dan tak paham apa yang diucapkan Masamune. Pasangan kekasih ini melanjutkan kencan mereka lagi dengan mengobrol sambil bercanda saja.

Esoknya keadaan mulai normal kembali, mood Masamune sudah membaik. Sekarang dia hanya fokus dengan apa yang harus dia kerjakan. Tapi terkadang saat dia sedang berjalan dan ada prajurit atau pelayan yang berpapasan dengannya, wanita itu tiba-tiba langsung mencubit mereka. Dia mencubitnya sebentar, tapi rasa sakitnya sangat lama.

.

.

.

5 hari kemudian

Seorang Tokugawa Ieyasu sedang termenung di kediamannya. Dia masih memikirkan tentang kejadian waktu itu, betapa nekatnya dia mencium seorang Date Masamune dengan modus mengajaknya bertarung, yang menurut para daimyo lain gadis mata satu itu sangat dingin, keras kepala, bermulut pedas dan galak.

Ia tak habis pikir kenapa dia bisa melakukan hal itu padanya. Padahal menurut temannya Chosokabe Motochika, Ieyasu sangat payah soal perempuan. Pernah si Bajak Laut itu mengajaknya pergi ke tempat yang banyak wanita, tak seperti Motochika yang 'bersenang-senang' dengan para wanitanya, Ieyasu malah mengobrol tentang 'ikatan' dan menceramahi mereka.

Saat sedang termenung, datanglah seorang Tadatsugu Sakai yang menanyakan tentang bekas luka pukulan di wajahnya. Pria berarmor nuansa kuning itu hanya menjawab tidak apa-apa sambil memegang hidung dan dahinya. Pukulan dari Masamune sangat keras sehingga masih terasa sakit, menurutnya hal ini memang pantas dia terima karena membuat gadis itu sangat marah. Namun, Ieyasu belum tahu kalau ada yang lebih menyakitkan dari pukulan Masamune.

Hari ini Ieyasu berniat pergi kemana saja untuk mencari suasana yang tenang. Sebelum pergi, dia berpesan pada Tadatsugu untuk tetap siaga menjaga daerah Sunpu selama dia pergi. Pria berambut merah panjang itu menuruti perintahnya, setelah itu Ieyasu langsung pergi bersama teman setianya, Tadakatsu.

Selama berjalan-jalan atau lebih tepatnya terbang di udara bersama robotnya, dia hanya fokus memandang ke depan, membiarkan angin menerpa wajahnya. Lalu saat dia melirik ke bawah dia melihat ada cahaya merah dan biru yang dia langsung ketahui itu adalah elemen api dan petir. Itu pasti mereka, batin Ieyasu.

"Tadakatsu, kita berhenti di sini," ucapnya. Tadakatsu pun melambatkan kecepatan terbangnya kemudian mendaratkan dirinya di tanah, lalu Ieyasu turun dan berjalan mendekati obyek tersebut.

Saat sudah mendekat, ternyata dugaannya benar, elemen api itu berasal dari Sanada Yukimura dan elemen petir berasal dari Masamune. Mereka terlihat sangat bersemangat bertarung. Tiba-tiba saja hatinya terasa panas, dia cemburu. Padahal dia hanya melihat mereka saling beradu senjata saja. Entah apa yang merasuki pikirannya, Ieyasu menjadi tak suka dengan kedekatan mereka.

"Sedang memperhatikan Ryuu-neesan, ya?"

"Aahh!" Ieyasu kaget oleh suara anak perempuan karena terlalu fokus melihat mereka. "K-kau siapa?" tanyanya.

"Aku Itsuki, salam kenal," kata anak perempuan itu memperkenalkan diri. "Kaka sendiri siapa?"

"Aku Tokugawa Ieyasu. Salam kenal juga, Itsuki-chan," jawab pemuda itu ramah.

"Ngomong-ngomong, dari tadi aku lihat kakak ini memperhatikan Ryuu-neesan terus. Suka ya?" tanya Itsuki tepat sasaran.

"E-eh?"

"Mengaku saja kak, jangan malu~" rayu Itsuki dengan nada jahil. "Ah, mereka sudah selesai bertarung. Ryuu-neesan!" panggil gadis mungil itu berlari menghampiri Masamune dan meninggalkan Ieyasu di belakang.

Masamune menoleh ke sumber suara, "Itsuki-chan! Eh?" saat melambaikan tangan, dia melihat Ieyasu di sana dan bertanya-tanya kenapa lelaki itu ada di sini.

Itsuki memeluk Masamune seperti kakaknya sendiri. Gadis berambut coklat sebahu itu ternyata mempunyai janji untuk mengajari gadis kecil ini berbahasa asing. Tanpa kenal rasa lelah sehabis bertarung, Masamune mengajak Itsuki duduk di dekat pohon. Dan langsung mengajarinya belajar berbicara dalam bahasa asing. Ternyata bukan hanya Itsuki saja, Yukimura juga tertarik belajar hal itu. Dengan semangat pemuda ini mengikuti pembelajaran dari Masamune.

Ieyasu berjalan mendekat ke arah mereka dan duduk memperhatikan guru dan murid tersebut, walau dengan hati yang memanas karena kecemburuan. Apalagi sekarang Masamune dan Yukimura terlihat lebih dekat saat belajar bersama itu. Sungguh, dia sekarang benar-benar sangat tidak suka melihat mereka dekat seperti sekarang ini.

.

.

.

"Fuaah! Akhirnya selesai juga. Belajar bersama Ryuu-neesan memang menyenangkan!" seru anak perempuan berambut putih. Kini mereka sudah selesai belajar-mengajarnya.

"Yaah... meskipun banyak cubitan sana-sini," timpal Yukimura yang perut dan tangannya dipenuhi bercak merah karena mendapat cubitan dari gadis cantik itu.

"Itu karena kau banyak yang salah Yuki~" Dokuganryuu mencubit pipi pemuda merah itu, Ieyasu sebal melihatnya.

"Aw, aw! Masamune-dono sakit!" Yukimura kesakitan, Masamune dan Itsuki malah menertawakannya.

Beberapa lama kemudian, Itsuki dan Yukimura pamit untuk pulang, sekarang hanya Masamune dan Ieyasu berdua. Mereka tak saling bicara untuk beberapa saat, sehingga akhirnya lelaki itu memulai pembicaraan.

"Hey, Dokuganryuu. Ternyata kalau kau mengajar, kau galak juga yah."

"Hah? Apa yang kau bilang barusan, Ieyasu?"

'EEEHHH! Bukan itu yang aku ingin ucapkan! Aku hanya ingin memuji cara mengajarnya saja! Oh, ya Tuhan bodohnya diriku...' begitulah batin Ieyasu, dia merutuki ucapannya sendiri dan takut dengan tatapan gadis di depannya.

"Hahaha" Masamune malah tertawa, sempat membuat Ieyasu bingung. Namun tawanya terdengar anggun, lelaki itu suka dengan suara tawanya. "Kalau aku tidak galak, mereka tidak akan cepat bisa." Jelasnya.

"Benar juga ya." Ieyasu setuju dengan ucapan Masamune. "Oh ya, boleh aku jujur, Dokuganryuu?" sambungnya.

"Emm... boleh. Jujur tentang apa, Ieyasu?"

Ieyasu menarik nafas, menghembuskannya perlahan, lalu mulai bicara,"Aku... tak suka melihatmu begitu dekat dengan Sanada. Y-yah lebih tepatnya... aku cemburu."

"Kau cemburu? Memangnya kau siapanya aku?"

DEG!

Ieyasu tertegun mendengar pertanyaan Masamune. Iya, dia sadar kalau dia bukan siapa-siapanya gadis itu, dia juga tak berhak melarang gadis itu untuk dekat dengan siapapun. Masamune menatapnya datar, menunggu apa yang akan Ieyasu katakan.

Dengan pandangan serius lelaki itupun membuka mulut, "Aku memang bukan seseorang dalam hidupmu. Tapi mulai detik ini dan seterusnya aku akan memiliki hatimu, aku akan menjadi seseorang yang spesial di hidupmu lebih dari sekedar aliansi. Aku mencintaimu, Masamune. Maukah kau menerimaku?"

Giliran Masamune sekarang yang terdiam oleh ucapan Ieyasu. Satu matanya membulat tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Wajahnya panas dan memerah, jantungnya berdegup lebih cepat. Dia menundukan kepalanya dan bingung harus apa.

Lalu apa jawaban dari Masamune? Apakah dia akan menerimanya atau menolaknya?

To Be Continued


Ya ampun, lelet banget updatenya, apalagi yang chapter 1 banyaaaaakkkk banget typonya seperti code syntax yang bisa bikin mual buat yang pertama kali liat. Yaaa, karena saya juga punya banyak urusan di kehidupan saya, jadi mohon dimaklumi *bow*

Motochika : Woy Lady Gakgik! Gue mau protes! Gue kok dikit amet munculnya!?

Author : Protes mah protes aja! Gak usah bawa-bawa nama panggilan gue pas smk! Terserah gue dong lo muncul dikit atau banyaknya! Huh.

Motochika : sabodo teuing!

Yukimura : Cuneng, aku juga mau protes! Ko aku juga dikit banget munculnyaaa...!

Author : nih bocah apa lagi, manggil gue pake sebutan pas lebaran kemaren... ayolah Yuki, ff ini bukan tentang dikau, hah udah ah.

Ok, terakhir terima kasih sudah membaca ff saya, semoga suka. Maaf kalo pendek dan banyak typo.

Review?