Chapter 1

Sebulan pertama menjadi 'murid baru' berjalan dengan baik. Tidak ada insiden-insiden konyol nan memalukan sebagaimana yang terjadi pada para tokoh utama pada cerita roman ketika berada di sekolah barunya. Atas kehidupan normal yang sekarang dinikmatinya, Kim Taehyung sangat berhutang budi kepada Park Jimin yang telah banyak membantunya dalam beradaptasi. Juga, kalau bukan karena Jimin yang banyak membantunya saat mengerjakan tugas, mengejar materi-materi yang tidak sempat ia pahami karena transisi proses pindahnya ke Busan, ia pasti akan kewalahan.

"Ah, kau mau ke kantin?" Jimin menoleh ke arah Taehyung yang baru saja beranjak dari tempat duduknya yang memang persis di sebelahnya. Taehyung menjawab "ya," dengan pelan sambil merapikan kursinya ke dalam meja.

"Aku titip boleh? Aku lupa menyelesaikan tugas dari Guru Ahn," ada raut panik yang coba Jimin sembunyikan karena—ayolah—siapa yang tidak akan panik? Taehyung sendiri pasti akan panik kalau lupa mengerjakan tugas. Terlebih, ini Guru Ahn yang kalau dari cerita Jimin, tidak akan berpikir dua kali untuk menghukum seseorang untuk berdiri di lapangan sampai waktu belajarnya habis.

"Baik, bento dan roti stroberi seperti biasa?" Taehyung yang sejak hari pertama sekolahnya menghabiskan waktu makan siang bersama Jimin tidak kesulitan untuk menghafal makanan kesukaan Jimin.

"Taetae, roti stroberinya tidak usah. Kau tahu sendiri antreannya akan panjang," Jimin menambahkan sementara fokusnya masih kepada tugas fisikanya. Mendengar itu, Taehyung yang sudah bertekad untuk sedikit membalas kebaikan Park Jimin berjanji untuk tetap memberikannya roti stroberi kesukaannya.

.

Dan, Jimin benar. Roti stroberi memang selalu menjadi favorit. Tapi, sedikit mengantre mungkin tidak apa-apa. Taehyung juga termasuk pemuda panutan yang selalu sabar bahkan saat mengantre di barisan super panjang. Kesabaran adalah kuncinya. Makanya, Taehyung cukup puas ketika ia berhasil mendapatkan roti stroberi setelah berkorban untuk mengantre beberapa belas menit.

Kesalahan pertama, Taehyung terlalu senang dengan roti stroberi yang ia dapatkan sampai tidak memperhatikan kalau petugas kebersihan tidak sengaja menumpahkan ember berisi cairan pelnya. Ia baru menyadari ada yang aneh saat sepatu dengan sol karet (ini kenapa dia tidak suka sepatu dengan sol karet) menapak di atas genangan air. Taehyung cukup pasrah saat membayangkan kalau nanti ia harus terjatuh dengan memalukan. Well, setidaknya dia murid baru. Tidak akan ada banyak yang mengenalinya.

Mungkin karena keikhlasannya, Taehyung merasa baik-baik saja setelah ia terpeleset. Taehyung tidak merasakan dingin atau kerasnya lantai saat ia terjatuh. Alih-alih keras, ia malah merasakan sesuatu yang hangat dan empuk. Ia bahkan mendengar ritme beraturan semacam detak jantung? Dan saat itulah Taehyung membuka matanya dan langsung menyesalinya seketika. Jeon Jeongguk berada tepat di bawahnya. Lengkap dengan pandangan mata pekatnya yang tajam dan tampak kesal dengan kesialan yang menimpanya.

Ingatannya soal siapa Jeon Jeongguk membuat Taehyung mengutuk dirinya dan bergegas untuk bangun. Tapi, sebelum bisa bangkit, ia harus menggunakan kedua tangannya karena saat ini ia benar-benar terjatuh dengan hasil akhir terbaring secara horizontal di atas tubuh Jeongguk. Well, baiklah, ia sampai lupa, sekarang, di mana tangannya?

Taehyung menelan ludahnya dengan susah payah saat menyadari kalau tangannya memegang sesuatu yang um...hangat. Dan itu cukup keras. Ya, cukup keras dan mustahil kalau itu adalah roti stroberinya (kutuk Taehyung yang tadi sempat memberikan remasan untuk memastikan itu benda apa). Entah, dosa apa yang pernah Taehyung lakukan di kehidupan sebelumnya karena saat ini, di penghujung tahun 2016, ia malah terpeleset di kantin sekolah sampai jatuh di posisi memalukan: di atas seorang laki-laki. Juga, jangan lupakan soal kebodohnya yang (dengan tidak sengaja?) meremas sesuatu yang tampaknya adalah kejantanan milik laki-laki di bawahnya yang adalah Jeon Jeongguk, orang yang perlu dihindari nomor 1 menurut Park Jimin.

Matilah.

Bunuh Taehyung sekarang.

"Um, tanganmu...," Taehyung tidak menyangka kalau suara Jeongguk akan selembut itu. "...kau bisa gunakan itu untuk menopang tubuhmu," lanjutnya dengan kikuk. Taehyung dengan muka tersipu merah akhirnya dengan segera melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak tadi. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menopang dirinya sendiri dan bangkit. Batinnya terdengar ribut berkelahi memperdebatkan perlukah ia mengulurkan tangannya untuk membantu Jeongguk. Tapi ia terlalu malu untuk memberikan tangannya (yang sudah memegang kejantanannya barusan) untuk membantunya berdiri. Lagipula, Jeongguk sudah bangkit dan kini menepuk-nepuk celananya yang tampak... um... berdebu. Ya, ya. Taehyung sebisa mungkin menghindari tatapan Jeongguk dan lelaki yang bersangkutan juga bergegas meninggalkan tempat kejadian dan keluar dari kafetaria.

Taehyung menarik nafas panjang dan sangat lega saat menyadari kalau tidak ada pukulan atau tonjokan yang melayang ke arahnya karena insiden tadi. Ia, baru akan mengambil roti stroberinya saat menyadari kalau hampir semua pasang mata memandangnya. Puluhan ekspresi iba dan horor, juga 'turut berduka cita' segera membuat kelegaan Taehyung sirna. Sepertinya, Taehyung harus segera berlutut dan memohon maaf kepada Jeon Jeongguk kalau ia masih ingin menikmati sisa waktunya di sekolah dengan damai.

.

.

"Ah? Kau dapat roti stroberinya?" Jimin tampak senang melihat kemasan roti berwarna merah muda di tangan Taehyung. "Sudah kubilang antreannya akan lama. Well, tapi makasih," Jimin tersenyum seraya memberikan kecupan ke arah Taehyung.

"Hey, Jimin... apa yang akan kau lakukan, kalau kau tidak sengaja meremas barang seseorang?" tanya Taehyung dengan wajahnya yang masih pucat. "Barang? Maksudmu? Tergantung nilai barang itu apa," jawab Jimin seraya mengernyitkan kedua alisnya, tampak tida mengerti dengan pertanyaan ambigu Taehyung.

"Um, nilai barang ya… itu cukup penting, sih. Untuk reproduksi," jawab Taehyung sebelum akhirnya memutuskan untuk menerangkan seterangnya,

"Barang itu, [sensor]," dan mendengarnya, Jimin sontak tersedak. Ia tidak berhenti terbatuk sampai Taehyung yang berusaha menenangkan dirinya menyodorkan air kemasan ke arah Jimin. Setelah ia cukup tenang, Jimin segera memandang Taehyung seraya memastikan kalau ini bukan pertanyaan lelucon.

"Astaga, kau serius? Memangnya barang siapa yang kau remas?" Jimin kembali meminum air kemasannya lagi karena tenggorokannya masih terasa sakit.

"Um, Jeon Jeongguk,"

Mendengar nama itu, Park Jimin kembali tersedak, untuk kedua kalinya.

.

.

.

Membolos di pelajaran olah raga bukan hal yang Taehyung perkirakan. Kontras dengan kondisi jantungnya yang cukup lemah, Taehyung cukup menyukai pelajaran olah raga karena itu mengasyikan. Tapi, mengingat apa kata Park Jimin barusan ...

"Kalau aku jadi kau, aku akan berlutut memohon maaf di depan Jeon Jeongguk,"

…maka saat ini Kim Taehyung memilih untuk izin tidak enak badan ke guru olah raganya dan duduk bersimpuh lutut di depan toilet. Posisinya mungkin konyol, ia sendiri melihat tatapan aneh orang-orang yang lewat tapi dengan kekuatan tekad, akhirnya ia berhasil menanggalkan urat malunya sambil mempersiapkan mentalnya kalau-kalau Jeon Jeongguk akan segera keluar dari toilet.

Sebelumnya, segera setelah bel masuk kelas berbunyi, Taehyung bergegas ke kelas Jeongguk untuk menemuinya. Ia sedikit berharap jika ia melakukan permohonan maafnya di jam belajar, mungkin Jeongguk akan berbaik hati dengan tidak membunuhnya? Mungkin. Tapi, betapa sialnya dia karena ternyata Jeon Jeongguk tidak ada di kelas dan seorang teman sekelasnya mengatakan kalau Jeongguk baru saja pergi ke toilet.

Maka, begitulah akhirnya bagaimana Kim Taehyung bisa berada dalam posisi berlutut di depan pintu toilet. Suasana koridor yang hening membuat Taehyung berkali-kali memikirkan kembali tentang haruskah ia melalukan ini saat tidak ada saksi mata? Bagaimana kalau besok mayatnya ditemukan mengambang di sungai Nakdong atau malah di laut? Kim Taehyung tidak bisa membayangkan kalau kelak mayatnya terbawa hingga ke benua lain. Jangankan benua lain, ayah dan ibunya pasti akan sedih dan kesulitan kalau mayatnya nanti malah terbawa hingga ke Jepang atau Korea Utara. Bisa-bisa, Taehyung jadi gwishin karena mayatnya tidak dikremasi sebagaimana mestinya.

Tidak.

Kim Taehyung tidak mau menjadi gwishin.

Taehyung baru saja memutuskan untuk membangkitkan tubuhnya dan kabur. Sayangnya, para dewa seolah tidak memperkenankan perilakunya karena saat itu juga, Jeon Jeongguk keluar dari toilet. Segala saraf motorik di tubuh Taehyung mendadak macet saat ia bertukar tatap dengan adik kelasnya itu. Awalnya, Jeongguk menatap ke Taehyung dengan ekspresinya yang dingin. Tapi, begitu Jeongguk mengenali wajahnya dan (sebut Taehyung gila tapi ia yakin, 100 persen yakin kalau) ada rona kemerahan di pipi Jeongguk yang sempat terekam di memori Taehyung saat itu.

"A-apa yang kau lakukan?" Lagi, Taehyung mendengar suara lembut yang tidak terduga dari sosok laki-laki dengan rentetan reputasi dan prestasi kejamnya itu.

"Aku mau berlutut dan minta maaf. Aku ingin kita bisa hidup damai dan tenang sampai masa akhir sekolah dan lulus tepat waktu," Taehyung dengan tulus mengucap sambil menunduk. Rangkaian lokakarya dan seminar meracik teh yang sempat ia ikuti saat di Daegu dulu cukup berpengaruh pada sikap dan ketahanannya saat berlutut. Makanya, mendengar tidak ada jawaban dari Jeongguk membuat Taehyung tidak berani mengangkat kepalanya karena itu berarti Jeongguk belum menerima maafnya.

"Aku sungguh tidak bermaksud meremas pe-pe-...ng...barangmu karena kupikir- kupikir itu roti stroberiku," Taehyung merasa pipinya kali ini memerah karena mengatakan itu membuatnya jadi mengingat kembali bagaimana barang Jeongguk yang terasa cukup keras saat tidak sengaja ia remas. Kalau mengingat itu pertama kalinya Taehyung memegang milik orang lain, ia jadi merasa sangat aneh.

Mendengar masih tidak ada jawaban, Taehyung mulai mempersiapkan mentalnya kalau nanti Jeongguk tiba-tiba meninjunya atau jika ia tanpa basa-basi mendorongnya ke bawah tangga. Untuk itu Taehyung fokus memperhatikan kaki Jeongguk yang masih di hadapannya. Berjaga-jaga kalau nanti ternyata adik kelasnya itu memilih untuk menendangnya. Tapi, bahkan setelah Taehyung merasa siap dihajar, Jeongguk tetap diam untuk waktu yang lama. Makanya, itu membuat Taehyung memberanikan diri untuk bertanya lagi, "A-apa kau menerima permintaan maafku?"

Hening.

Semakin lama, rasanya Taehyung berpikir kalau ditinju dan didorong dari lantai tiga gedung sekolah tampak lebih baik daripada tidak diacuhkan. Ia juga tidak mau kalau harus mengulang permintaan maafnya lagi sampai beribu kali. Kalau sampai begitu, mungkin Taehyung sendiri yang akan dengan ikhlas melompat dari atas atap sekolah.

"B-baik," dan suara lembut itu membuat Taehyung dengan segera menatap ke arah Jeon Jeongguk. Tepat ke wajah itu. Taehyung segera menyesalinya karena yang ia temukan adalah sebuah ekspresi menggemaskan yang membuatnya meragukan reputasi buruk Jeon Jeongguk. Apa ini benar-benar anak kelas 1 yang membuat ketua berandal kelas 3 patah tulang sampai tidak masuk sekolah selama seminggu? Karena kalau ya, mustahil ia bisa membuat wajah seimut dan sepolos itu.

.

.

.

Atau mungkin, Kim Taehyung sudah mati atau ia berhalusinasi dalam keadaan koma.

Yang jelas, ia tidak punya alasan untuk menyesal karena permintaan maafnya baru saja diterima oleh Jeon Jeongguk.

[Tbc]

Hahaha.

Maafkan ketidakjelasan ini Ya Tuhan. Ya Pembaca, Ya Everyoneee~