My Sweet Maid

.

Cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Genre : School, Romance, Genderswitch, dll

Rating : M

.

Chap.2#

.

Didepan ruang peralatan didalam gedung olahraga indoor itu, para laki-laki berkumpul secara bergerombol. Mereka terlihat panik, terutama saat beberapa dari mereka tidak berhasil membuka pintu ruangan tersebut meskipun telah didobrak berkali-kali.

"ada apa?" Sehun menengokkan kepalanya.

Mendengar suara lempeng Sehun, semua namja itu langsung memandang ke arahnya dengan wajah memelas. "tolong kami, Sehun-ssi,"

Seperti biasa, anak-anak itu selalu manja padanya. Sehun mendengus, lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan mereka. Namun namja-namja itu langsung menahan kedua tangan Sehun, bahkan ada yang berlutut sambil memohon-mohon.

"Taehyung terjebak didalam dengan tangan terikat. Pintunya digembok dengan rantai, jadi tidak bisa kami buka,"

Sehun mengangkat alis. "siapa yang mengurungnya disana?"

"hah? siapa lagi? Kau tau kan Luhan si iblis itu semakin menjadi-jadi saat acara ulang tahun sekolah akan digelar? Dia selalu melarang ini itu untuk ditampilkan saat pesta nanti. Taehyung hanya mau menampilkan tari perut tapi Luhan langsung menendangnya kedalam,"

"untuk apa tari perut? Dia kan laki-laki," kata Sehun datar. "jangan banyak mengeluh. Patuhi saja omongan ketua osis kalian,"

Selanjutnya, tak ada lagi yang membalas ucapan Sehun karena Sehun yang dengan ogah-ogahannya berjalan meninggalkan mereka. Para namja itu kembali berkumpul, memikirkan segala cara untuk menyelamatkan teman mereka didalam sana.

"tidak ada cara lain. Kita harus mengambil kuncinya dari Luhan. Dia memang pintar bela diri, tapi kita akan menang jika menyerangnya sekaligus. Persetan dengan aturan. Kita harus memaksanya turun jabatan. Kalau perlu_"

"minggir,"

Sehun tiba-tiba muncul lagi dibelakang mereka. Otomatis mereka memberi jalan untuk Sehun menghampiri pintu ruang peralatan. Sehun lalu dengan kerennya membuat ancang-ancang untuk mendobrak pintu sampai kedua pintu itu roboh dalam sekali tendangan. Taehyung yang terikat didalam sana memandang Sehun berbinar.

"keluarlah sebelum rusa betina itu mengamuk lagi," kata Sehun datar.

Semua namja disana langsung menyoraki Sehun sebagai pahlawan mereka. Namun Sehun hanya menatap mereka tak tahu menahu lalu pergi begitu saja tanpa lagi berkata-kata.

.

.

.

Sore itu Luhan sedikit terlambat menuju tempat kerja. Sehingga kini ia sedang terburu-buru untuk memakai pakaiannya di ruang loker. Mendengar perintah Minah dari dapur, Luhan pun segera berlari keluar untuk menyambut tamu yang baru saja datang.

Luhan berhenti didepan pelanggan itu dan menatapnya horor. Sedangkan pelanggan itu, yang tak lain adalah Sehun, seperti biasa hanya menatapnya dengan angkuh.

"si-silahkan duduk disana tuan," Luhan menunjuk salah satu meja ujung didekat jendela dengan sopan. Tapi yang ia lihat malah Sehun yang terus menatapnya datar.

Beberapa detik kemudian, mereka hanya saling berhadapan dengan Luhan yang tersenyum namun dengan tatapan membunuh. Sampai akhirnya Sehun membuka suara setelah berlama-lama menatap aneh Luhan.

"dimana managermu?"

Luhan mengerjap, "eoh? Ada perlu apa dengan manager?"

"akan kusuruh dia memecatmu," kata Sehun yang terus-terusan memasang mata arogannya. "kau tahu kenapa? Itu karena kau sekarang menjadi maid pemalas. Seharusnya kau menyambutku saat aku datang dan mengantarku ke tempat duduk. Jika bisa kau harusnya memijat kakiku karena aku jauh-jauh datang kesini berjalan kaki,"

Darah Luhan sudah mendidih. Yang ada dipikirannya sekarang adalah mencincang Sehun dan menggorengnya untuk dihidangkan menjadi menu baru di Kafe. Namun Kafe sedang ramai. Bisa-bisa Kafe bisa jadi sepi jika ia melakukan kekerasan pada Sehun.

"maafkan saya, tuan," Luhan membungkuk pelan.

"untuk kali ini kumaafkan. Jika terjadi lagi, aku benar-benar akan menuntut ke managermu," kata Sehun sambil menyentil dahi Luhan. Ia lalu melangkah menuju meja yang diberitahu Luhan sebelumnya. Saat berjalan melewati Luhan, Sehun menepuk bahu Luhan dan berbisik, "dan juga..kau masih berhutang satu hal padaku,"

Luhan lalu mengikuti Sehun dengan tangan mengepal. Kemudian menyerahkan kertas menu saat Sehun telah duduk.

Sehun lalu memperhatikan dengan seksama kertas menu ditangannya. Hingga lebih dari satu menit, ia membuang kertas itu ke atas meja dengan kening mengernyit. "yang ingin ku makan tidak ada disini,"

"pilih yang ada tuan. Jika tetap tidak mau, kami bisa mengantar ke restoran sebelah,"

"air putih,"

Luhan melirik sekeliling, memastikan bahwa para pelanggan sibuk dengan urusannya masing-masing. Luhan lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun dengan mata menyipit. "yak, jika kau hanya mau mempermainkanku, lebih baik pulang. Dan gara-gara kau, tiga anak idiot itu mengikutimu kesini,"

Mendengar kalimat 'tiga anak idiot', Sehun lalu menoleh ke arah meja dimana ada tiga orang namja yang menatap Luhan berbunga-bunga. Baro, Jinyoung dan Sandeul, si bocah-bocah binal tukang pembuat onar disekolah.

"tidak apa-apa. mereka sekarang penggemarmu."

"aku tidak peduli. Yang jelas, jangan sampai kau menyebarkan rahasiaku. Dan awasi juga mereka,"

"ani. Aku hanya merahasiakannya untuk diriku sendiri," Sehun tersenyum kecil. "dan hutangmu_"

"tidak mau,"

"hutang adalah hutang. Bisa atau tidak, hutang harus dibayar. Lagipula hanya satu hari,"

"tidak,"

"kau serius? Jika kau tetap tidak mau, akan kusebarkan rahasiamu ke sekolah. bahkan aku akan menyuruh ketua klub mading untuk membuat artikel tentang part time-mu disini," kata Sehun sambil menyeringai. "ah~bagaimana kalau kau jadi maidku saat acara sekolah lusa? Jangan lupa bawa pakaian maidmu ya,"

Luhan mendelik, "Sehun, kau-"

"Luhannie! Tolong antar makanannya!" seru Hani dari balik pintu dapur. Setelah melempar tatapan sinis, Luhan lalu meninggalkan Sehun menuju dapur untuk melakukan apa yang diperintahkan. Tak lama kemudian kembali dari dapur dengan membawa nampan makanan.

Baro, Sandeul, dan Jinyoung lalu berbisik-bisik penuh semangat sambil melirik Luhan yang berjalan ke arah mereka dengan membawa sepiring nasi omelet jumbo. Luhan kemudian meletakkan pesanan ke atas meja mereka, lalu mengambil sebotol saus tomat.

Luhan tersenyum. "tulisan apa yang kalian inginkan, tuan?"

"sesuai isi hatimu saja," kata Baro memandang Luhan berbunga-bunga. Sandeul dan Jinyoung mengangguk mengiyakan.

"algasseumnida," jawab Luhan, lalu menulis satu kata di atas omelet mereka dengan saus. "selamat menikmati," lanjutnya, kemudian berjalan menghampiri pelanggan lain.

Jinyoung, Baro, dan Sandeul setelah itu bergegas memutar piring untuk melihat tulisan apa yang Luhan buat di atas makanan itu. Mereka penasaran, bagaimana isi hati si maid Luhan yang lembut dan anggun.

'MATI KAU SIALAN'

Jinyoung dan kedua temannya itu lalu terdiam. Bagaimanapun, Luhan tetaplah ketua osis berjiwa iblis walau berpakaian maid.

.

.

.

Begitu Luhan membuka pintu rumah, ia dikejutkan oleh Jimin yang berdiri tepat didepannya. Dan Jimin hanya memandang polos kakaknya itu. "eonnie, aku dapat hadiah,"

"hadiah? Ini bukan hari ulang tahunmu. Tunggu, jangan bilang hadiah itu dari pacarmu,"

Jimin menggeleng, "kurir itu bukan pacarku,"

Luhan mengernyit tak paham. Tak lama ia teringat, saat berjalan kaki menuju rumahnya tadi, ia sempat melihat kurir pengantar barang keluar dari rumahnya.

"aku menang undian dari toko di pasar," lanjut Jimin, lalu menyeret kardus dibelakangnya dan menunjukkan isinya pada Luhan. Didalam sana terdapat kecap, beras, garam, teh celup, miso, mi instan dan saus tomat.

Luhan menatap datar semua bahan-bahan dapur didalam kardus yang Jimin dapatkan. "Jimin-ah, kita ini miskin. Jika kau menang undian, minta hadiah yang lebih besar,"

Jimin menggeleng, "poin dari kartu undiannya terbatas. Lagipula mereka hanya perusahaan kecil. Jadi ini sudah termasuk hadiah yang besar,"

"arasseo. Kalau begitu biar kubawakan ke dapur,"

"tidak usah. Aku bisa sendiri," kata Jimin, "bagaimana sekolahmu, eonnie?"

Luhan menghela napas, "seperti biasa,"

"para namja itu mencacimu lagi?" tanya Jimin, dijawab Luhan oleh anggukan. "itu pasti karena kau menentang ide mereka. Turutilah mereka sekali-kali,"

"menuruti mereka? Yang benar saja. mereka hanya membawa proposal yang berisi ide-ide bodoh soal festival ulang tahun sekolah. Mereka hanya orang-orang berotak mesum yang menyarankan ide gila untuk dilakukan saat festival,"

Setelah Luhan berbicara panjang lebar, tak ada tanggapan dalam waktu cukup lama. Luhan menoleh, tak mendapati sosok Jimin beserta kardus itu disebelahnya. Ia menengok ke belakang, melihat Jimin yang menyeret kardusnya menuju dapur. Untuk kesekian kalinya, ia di acuhkan oleh Jimin yang bersikap terlalu polos meski telah menginjak kelas 3 SMP.

.

.

Seperti biasa, menjelang acara-acara sekolah Luhan selalu dipusingkan oleh banyaknya proposal yang mengusulkan acara tak karuan, yang kebanyakan tercipta oleh pikiran-pikiran mesum. Di ruangan OSIS ia memegangi kepalanya yang berdenyut. Apa yang harus ia lakukan dengan semua proposal itu?

"kurasa kau harus menyetujui permintaan mereka sekali-kali." Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun, yang kini sedang menyandar pada dinding tepat dibelakangnya.

"jangan ikut campur, sialan."

"sekejam-kejamnya kau, kau tidak tahu bagaimana rencana para laki-laki itu ketika mereka sudah sangat benci padamu."

"tapi mereka_"

Sehun menepuk pelan kepala Luhan sambil tersenyum simpul, "serahkan padaku. Izinkan permintaan mereka dan aku jamin tidak akan terjadi hal buruk apapun..."

"...dan kau...harus menjadi pelayanku selama acara itu berlangsung."

Emosi Luhan melunjak. Ia menepis tangan Sehun dari kepalanya. "aku tidak mau!"

Sehun tertawa kecil. Lalu ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah foto ke hadapan Luhan.

"HAPUS!" Luhan memekik. Ia berdiri dan mencoba merebut ponsel itu, berencana memusnahkan foto itu dari ponsel itu.

Foto Luhan yang memakai kostum maid berwarna pink disertai kuping kucing di kepalanya. Memalukan dan tak pantas.

"Aku tak peduli kau mau atau tidak. Yang jelas, reputasimu ditanganku." Sehun tersenyum menyeringai.

Luhan menyerah, tak dapat menjangkau ponsel itu mengingat postur Sehun yang cukup semampai. Setelahnya Sehun tertawa mengejek, memasukkan ponsel ke saku celananya dan pergi dari ruangan itu.

"SEHUN SIALAN!"

.

Pada akhirnya, Luhan mengikuti saran Sehun mengenai proposal-proposal tak karuan itu. Biarpun tak semua proposal itu ia setujui, setidaknya para murid laki-laki masih merasa sangat bergembira dan bersemangat mempersiapkan setting acara festival sekolah.

Sampai akhirnya, hari ini acara itu pun tiba. Seperti perkataan Sehun sebelumnya, tak ada terjadi hal buruk apapun selama acara berlangsung. Sehun pasti telah memantau para murid laki-laki untuk tidak berbuat macam-macam terhadap perempuan.

Dan mengenai pakaian maid...

Sangat bodoh jika Luhan menuruti perintah lelaki muka datar itu!

Luhan berdiri di depan sebuah stand makanan di lapangan sekolah, memakan kimbab sambil mengernyit dan menatap hati-hati ke arah Sehun yang sedang dikerumuni para wanita di stand makanan lain. Ia sedikit heran kenapa Sehun tak kunjung menemuinya untuk menagih 'permintaan' beberapa waktu lalu.

"kenapa dia tidak menegurku? jangan-jangan..." Luhan menggumam. Lalu dalam hati ia berteriak.

'JANGAN-JANGAN FOTOKU SUDAH TERSEBAR!'

"Luhan," Jin menepuk pundak Luhan pelan. "Baekhyun memanggilmu di ruang kostum."

Luhan mengernyit, tetapi mengiyakan perkataan Jin dan pergi menuju gedung lantai dua, tepatnya tempat Baekhyun berada.

.

.

Dan...

"APA INI? BAEKHYUN, KAU..."

Baekhyun hampir menangis. Bukan karena takut melihat amarah Luhan, melainkan saking ia senang dan terharu melihat penampilan Luhan yang super feminim dengan pakaian maid buatannya.

"Lulu..." Baekhyun mengusap air matanya, lalu membongkar sebuah kotak berisi kostum-kostum yang digunakan para murid selama acara berlangsung. "Lulu...ini yang terakhir!"

Luhan mendelik, melihat Baekhyun menatapnya berbinar sambil menunjukkan stocking khusus maid.

"tidak, Baekkie...jangan...t-tidak...baek...BAEK! TIDAAAKKKKK!"

.

Sehun tertawa keras. Tanpa hentinya terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, mengejek penampilan Luhan yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah merah emosi.

Selama acara berlangsung, Sehun diperintahkan memakai kostum bartender, karena itu ia lah yang memberi saran pada Baekhyun dan Minseok agar mendandani Luhan seperti maid.

Baekhyun yang berpikir bahwa Sehun menyukai Luhan, langsung semangat bukan main sekaligus penasaran, bagaimanakah penampilan Luhan dengan kostum pelayan.

Nafas Luhan berderu tak karuan. Ketika ingin menghantam Sehun dengan nampan, Sehun menahan pergelangan tangan gadis itu. Tawa lelaki itu berhenti.

"Bartender memiliki derajat lebih tinggi daripada maid." Ujarnya.

"aku ketua OSIS."

"oh? Benarkah?" Sehun mengangkat satu alis sambil menyeringai.

"Sebenarnya tidak apa-apa aku menyebarkan fotomu di tempat kerja sekarang. Toh, penampilanmu sekarang tak ada bedanya dengan yang ada di foto itu. Tetapi jika aku mengungkap fakta bahwa kau maid sungguhan yang bekerja paruh waktu...maka musuhmu akan meningkat drastis." Bisik Sehun. "jadi...bagaimana kesepakatannya...gadis maid?"

Luhan memalingkan wajahnya. Ia mengangguk kaku.

.

Permintaan Sehun terkabulkan. Selama acara berlangsung, lelaki itu terus mondar-mandir mengelilingi sekolah diikuti seorang maid dibelakangnya, Luhan.

Mereka berdua sempat menghebohkan para murid sekolah pada awalnya. Tetapi ketika ditanya apakah Luhan adalah kekasihnya, maka Sehun menjawab. "Pembantuku. Kenalkan. Dia pembantu yang tidak becus,"

Dan Luhan hanya diam saja.

"Lulu!" panggil Sehun, meniru julukan yang Baekhyun berikan pada Luhan.

"JANGAN PANGGIL AKU_"

Tangan Sehun dengan cepat membungkam mulut Luhan. "ingat. Kau adalah maid milik seorang Bartender."

Luhan melotot, menepis tangan Sehun. Kemudian ia memaksakan senyumnya kepada Sehun. "a-aku datang...tu-tuanku..."

"bawakan aku makanan."

"m-makanan apakah yang a-anda inginkan, tuanku?"

"terserah."

Luhan menghentakkan kakinya saat berjalan mencarikan Sehun makanan. Sedari tadi, Sehun terus memerintahkannya macam-macam, hal-hal tak penting. Seperti menyuruhnya menarikan dance sebuah girlgroup, menyuruhnya berakting seperti anak tiri, menyuruhnya mendongeng, dan sebagainya. Agak beruntung sebenarnya, karena permintaan aneh itu hanya dilihat oleh Sehun, tidak di depan anak-anak lain.

Luhan telah membeli satu porsi jjangmyeon di stand makanan dan menghampiri Sehun yang duduk sambil berbaring di taman belakang bak sedang bersantai di pantai. Lelaki itu juga telah melepas jas dan blazzernya sehingga hanya mengenakan celana dan kemeja putih.

Sehun mengernyit, melihat makanan yang Luhan bawa untuknya. Setelahnya ia menatap Luhan kecewa. "aku tidak makan yang pedas."

"TADI KAU BILANG TERSERAH KAN!"

"ssshh...maid tidak boleh membentak tuannya." Kata Sehun sambil meletakkan jari telunjuk didepan bibir. "dan maid harus mengetahui apa saja makanan yang disukai dan tidak disukai oleh tuannya."

Luhan menggigit bibirnya. "Sehun...aku lelah..."

Sehun tertawa kecil. "duduk."

"ha?"

Sehun menghela nafas. Ia segera menarik lengan Luhan sampai gadis itu terjatuh dan duduk di pangkuannya. "tuanmu menyuruhmu duduk. Disini.

"Se-sehun. Jangan macam-macam atau..."

"kau mungkin menguasai satu jenis beladiri. Tapi aku menguasai semuanya. Kau yang jangan macam-macam denganku. Dengan tuanmu. Sekarang kau bukan siapa siapa." Sehun mengangkat dagu Luhan dan sedikit mendekatkan wajahnya. Tatapannya kepada Luhan seakan menyatakan ancaman.

"tapi..."

"kau seharusnya paham. Selama aku berada di Kafe-mu itu, aku selalu memesan yang manis, kan?"

"ka-kalau begitu aku belikan sekarang..."

"tidak. Tidak perlu." Kata Sehun, kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya. "kenapa harus jauh jauh? Sudah ada yang manis disini."

"a-apa yang..."

Luhan mendelik. Wajah Sehun sangat dekat. Bibir mereka berdua menempel satu sama lain.

Wajah Luhan seketika memerah. Pikirannya melayang kemana-mana.

'aku benci laki-laki. Aku benci laki-laki. Aku benci laki-laki. Aku be...'

Sehun melepaskan pangutannya. Melihat Luhan yang terdiam dengan mata mengerjap. Kemudian Sehun memutar bola matanya. "hentikan ekspresi itu. Menjijikkan."

Dengan tak tahu diri, Sehun menyingkirkan Luhan dari pangkuannya. Kemudian ia pergi begitu saja.

Tapi Luhan masih duduk dengan wajah bodohnya, masih dengan satu pertanyaan yang terngiang di pikirannya.

'Kenapa tadi aku tidak memberontak?!'

.

.

.

Sayang sekali. Luhan benar-benar penuh kesialan hari ini. Di tempat kerja, manager menyuruhnya memakai seragam anak SD dan menguncir rambut menjadi dua. Parahnya, Minah, sang manager, menyuruhnya bertingkah seperti anak kecil terhadap semua pelayan.

MIMPI BURUK APA INI? Begitu yang Luhan pikirkan sepanjang waktu.

"Ma-manager...aku tidak yakin bisa me-"

"Nah, Luhannie-ku sayang...ada pengunjung yang berjalan kesini. Cepat sambut dia!" Kemudian Minah segera mendorong pelan punggung Luhan agar berjalan menuju pintu masuk.

Luhan berdehem, mempersiapkan suaranya. Mula-mula, ia diperintahkan membelakangi pintu masuk, kemudian setelah pelanggan itu membuka pintu, Luhan diharuskan berbalik dan menyambutnya bak anak kecil.

Dan pelanggan itu telah membuka pintu, diiringi lonceng kafe yang berbunyi.

Luhan berbalik dengan senyum lebar yang manis. "Selamat datang, Oppa!" serunya –berpura-pura– bahagia menyambut sang pelanggan.

Pelanggan itu memandangnya tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Agak lama. Membuat kecanggungan antara Luhan dan orang itu. Ya, orang itu adalah Sehun.

Sehun. Oh Sehun.

Luhan menatap Sehun penuh rasa dendam sekarang. Atas dasar apa Sehun menciumnya saat di sekolah tadi?

Sehun dengan angkuh mengalihkan pandangannya dan berjalan melewati Luhan, menuju sebuah meja yang kosong.

Luhan dengan tawa paksa menarikkan kursi untuk Sehun, mempersilahkan lelaki itu duduk. Dengan agak takut ia memperhatikan raut wajah Sehun. Lelaki itu terlihat jauh lebih dingin dari biasanya.

"a-ada apa, oppa?"

Sehun meliriknya tajam. "kau tidak biasanya begini. Kau pasti merencanakan sesuatu dariku. Apa yang kau inginkan? Balas dendam?"

Jleb.

Seketika Luhan mengeluarkan keringat dingin dari dahinya. "e..eh? Te..tentu tidak, oppa...Lulu selalu bertingkah begini, kok!"

Sehun memberikan senyum mengejeknya. "jangan bilang kau...diam-diam buang angin didepanku?"

Argh! Andai saja Minah dan maid lain tidak di Kafe itu. Maka bogem Luhan pasti melayang dengan kecepatan tinggi!

"Lulu tidak buang angin, kok, oppa!" seru Luhan dengan mempertahankan nada imutnya. Sebelum Sehun berkata-kata lagi, ia secepatnya pergi dan mengambilkannya segelas air mineral.

"Ini minuman kesukaanmu, oppa!" Luhan tersenyum manis, meletakkan gelas itu ke atas meja Sehun.

Sehun menaikkan alis. "tidak. Aku hanya minum air pegunungan."

"jangan egois, dong, oppa. Jangan menyusahkan Lulu, oppa..ah..oppa mau makan apa? Lulu sarankan nasi omelet_"

"Sehun oppa ingin lobster panggang berukuran besar yang dilumuri anggur merah dan telur ikan hitam." Kata Sehun, memotong ucapan Luhan.

Ah...Luhan ingin membunuh lelaki itu sekarang juga.

"i-itu mustahil Sehun oppa...Lulu tidak bisa...Jangan membuat Lulu susah, oppa..."

"ini tidak bisa, itu tidak bisa. Kau juga berbohong bahwa kau tidak buang angin."

"AKU MEMANG TIDAK BUANG ANGIN, BRENGSEK! DASAR ORANG CABUL! PULANG SANA!"

Dan seisi Kafe terdiam.

Semua maid dan pelanggan memandangi Luhan saat itu. Beberapa pelanggan ada yang bergidik. Bahkan orang setampan Sehun pun dicaci maki oleh Luhan. Apalagi mereka?

Sehun mendengus. Ia berdiri dan memalingkan wajahnya. "Lulu, kau sepertinya tak suka Sehun oppa berada disini. Aku pergi saja."

Suasana sunyi. Yang terdengar hanya langkah kaki Sehun yang hendak keluar dari Kafe.

Tetapi ketika Sehun hampir mendekati pintu, Luhan membuka suara.

"Sehun oppa!" panggilnya.

Spontan Sehun berhenti, dan berbalik sedikit untuk menjawab panggilan gadis itu. "hm?"

Luhan mendongak. Sambil memeluk nampan, ia menggigit bibir bawahnya. Sial. Itu adalah ekspresi yang sangat Sehun sukai.

Dengan wajah malu, Luhan menatap Sehun. "oppa...kumohon...datanglah lagi..."

Para pelanggan pria seketika berbunga-bunga melihat sisi manis Luhan yang datang tiba-tiba itu. Sisi manis yang natural.

Sehun tertawa kecil, kemudian berlalu dari hadapan Luhan.

.

.

Tema anak SD sudah selesai!

Luhan melepaskan karet pita pink yang mengikat rambutnya menjadi dua lalu menghempaskannya ke lantai, tak lupa ia menginjak karet itu beberapa kali. "Sehun sialan. Sehun sialan. Beraninya dia mempermalukanku di hadapan semua orang!"

Kemudian ia membuka pintu loker dengan kasar, membuka seragamnya dan meletakkannya ke dalam sana. Dengan hanya mengenakan rok selutut dan bra, ia menutup pintu loker. Ketika hendak mengenakan kaosnya, ia dikejutkan oleh sosok Sehun yang bertelanjang dada di sebelahnya.

"SE-SEHUN! APA YANG-"

Sehun menoleh. "ada wanita berdada rata yang memanggilku sialan tadi."

Luhan mendelik. Ia lalu melirik tubuh bagian atasnya yang hanya berbalut bra, kemudian segera menyilangkan tangan menutupi dadanya. "Kau jangan macam-macam, Oh Sehun!"

"Kau jangan macam-macam, Luhan!"

Luhan membuang nafas kasar. Ia membuka pintu loker untuk menghalangi penglihatan Sehun ke tubuhnya. Sebelum Sehun berbuat aneh, Luhan segera mengenakan kaosnya.

"Sekarang aku selesai! Kau yang pakai bajumu!" seru Luhan setelah menutup pintu loker dengan kasar.

Sehun mengangkat alis. Matanya mengarah pada rok SD yang Luhan kenakan. Lalu ia melangkah maju mendekati Luhan sehingga Luhan berjalan mundur ke belakang, sampai akhirnya punggung Luhan menabrak dinding.

Sehun tersenyum menyeringai, "kau belum mengganti rokmu. Ayo buka."

"a-apa?!" Luhan kembali membelalakkan matanya.

Tangan kanan Sehun menahan dinding tepat didekat leher Luhan. Dengan memiringkan kepala, Sehun berbisik tepat di telinga kiri gadis itu. "atau mungkin...kau ingin aku yang melepaskan?"

"he-hey, Sehun...kau bercanda—"

Nafas Luhan tercekat. Matanya membulat begitu Sehun menciumi lehernya. Ia ingin menendang selangkangan Sehun saat itu juga. Tetapi salah satu kaki Sehun lebih dulu menahan kedua kaki Luhan. Kalau sudah urusan kekerasan, Sehun sama sekali tak bisa dilawan.

Kedua tangan Luhan hanya dapat meremas roknya. Ia menggigit bibir, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara –lebih tepatnya desahan. Karena semua itu menyangkut harga dirinya.

Tubuh Luhan menggelinjang, ketika tangan Sehun masuk ke dalam kaosnya dan menyentuh salah satu gundukan di dalam sana. Nafas Luhan menjadi berderu tak karu-karuan.

"Ngh~"

Akhirnya suara itu terdengar.

Tangan Sehun telah berhenti bermain di dalam sana. Lelaki itu pun sudah melepas pangutannya. Kemudian Sehun mengambil kaosnya di atas loker dan memakainya. Diliriknya Luhan yang masih mengatur nafas di pojok dinding sana.

Dengan wajah datarnya, Sehun menghampiri Luhan dan menepuk pucuk kepala gadis itu dua kali. "tidak usah ganti apa-apa lagi. Ayo pulang,"

Luhan mendongakkan kepalanya. "Sehun, bagaimana kau bisa masuk kesini?"

Sehun agak bingung. Gadis itu menanyakan hal lain, seolah sudah lupa dengan perbuatan bejat yang sebelumnya Sehun lakukan padanya.

"pintu belakang terbuka lebar. Dan kulihat kau sendirian di Kafe ini." jawab Sehun.

"huh?" Luhan terheran. Memang. Dia adalah orang terakhir di Kafe itu. Para maid lainnya telah pulang lebih dulu. Tetapi Luhan yakin benar, bahwa ia sudah mengunci pintu belakang. Tetapi kenapa...

"sudahlah. Ayo pulang."

.

.

.

Seorang wanita berdiri menyandar pada tiang lampu jalan. Memandangi kedua anak muda yang kini berjalan beriringan di trotoar seberang. Sehun dan Luhan.

Sambil menempelkan ponsel ke telinganya, ia menarik sudut bibir kirinya. Matanya kembali mengarah pada Sehun dan Luhan yang kini telah berjalan agak jauh.

"gagal?" suara terdengar dari ponsel itu.

Wanita itu tertawa kecil. "ya...kau selalu bisa memprediksi kegagalanku."

"dan kau senang?"

"dan aku senang!" jawab wanita itu dengan mantap.

"...tetapi, Kai...aku memotret suatu kejadian penuh gairah."

.

.

.

TBC

.

Hmmmmmmmmmmmmmmmm

Apa ya '_'

Hmmmmm

Maaf bangeeettttttt kelamaan apdet (sampe setahunan anjir wkwkwk)
dan maaf gabisa balas review satu-satu.
Wifi di rumah sekarang udah bener kok jadi mungkin bakal aku balas review kalian habis ini :'D

Tapi udah kan? Udah kan? Janji deh gak bakal setahunan lagi apdetnye -_-

Masih seseru chapter 1 belum? :'))
maaf deh kalo belom :'((

Kalau begitu silahkan review biar author-nim tau adegan mana yang kalian suka dan mana yang kalian gak suka di chapter ini!

Sssttt. Sebagai bonus, aku kasih dikit rated M disini :v
mau dibuatin yang full? Hmm tergantung kalian mau atau nggak '-'

Bhaayyy #pelukreaders