Ketika ia membuka sepasang matanya, ia mendapati dirinya berdiri di atas sebuah panggung kayu, berpakaian serba putih. Raga terasa lemas, tak bertenaga; begitupula dengan jiwanya yang sudah padam apinya hidupnya.

Di hadapannya, berdirilah berbaris-baris tentara berpakaian serba biru yang dilapis oleh zirah besi. Di depan mereka, sederet Menteri dan Jendral-Jendral kebanggaan kerajaan ini berdiri tegak.

Dan yang memimpin mereka semua adalah sang Kaisar Wei sendiri.

Kepala si tahanan mendongkak, menatap langit kelabu yang menangis butiran salju lembut. Udara dingin berhembus, menembus lapisan kain putih yang begitu tipis. Tubuhnya dibuat gemetar, ia tak lagi kuat menghadapi semua ujian ini.

Sang tahanan berlutut, menatap sang Kaisar sejenak. Mempertanyakannya, namun tak mendapat jawaban.

Sudah tak ada lagi kata 'mundur', hah?, tanyanya melalui kontak mata itu.

Atensi dialihkan pada cawan berisi arak putih hangat. Sesuai dengan tradisi, si tahanan dipersilakan untuk meminumnya. Ia mengangkat cawan tinggi ke langit, seolah mempersembahkan secawan arak tersebut untuk-Nya. Ditegaknya cairan bening itu, menghabiskannya dalam tiga tegukan. Ia menghela nafas singkat, memejamkan kembali sepasang matanya.

Ah, betapa inginya aku tertidur pulas, pikirnya saat itu. Tanpa membawa beban apapun, melepas semuanya di belakang.

Pedang diangkat tinggi, siap untuk diturunkan. Waktunya sudah hampir habis. Mulutnya terbuka untuk mengucap sebuah kalimat perpisahan, sebuah suara terdengar.

Itu bukanlah suaranya, melainkan suara dari seorang pria yang sangat dikenalnya. Disusul oleh derapan lari kuda, juga teriakan panik dari pada tentara.

"YIN!"

.

.

[To Be Continued...]