Pairing : sasunaru
Rating : T
Warning :Yaoi, a bit fluffiness, a bit angstiness, a bit craziness
Disclaimer : apa kalian melihat adegan bermesraan Naruto dengan Sasuke? Enggak kan! Berarti dia punya Masashi Kishimoto, cih!
A/N : Untuk Hatake gHee, dari Aria dan Raven yang sedang bernyanyi
"….Si volvieras a miiiii…..d'architeee..ct…."
"…" speech -- bicara
'…' though – dalam hati
Walking on the Thin Ice
By Raven-Zala
Chapter 2
'Ibunya Minato ternyata masih ada di Konoha ini'
Sebuah kenyataan yang membuat Naruto dan Minato diam membisu. Dua pikiran berbeda namun berinti sama memenuhi benak masing-masing. Lorong panjang tempat mereka berdiri seolah-olah mengejek mereka akan pertanyaan tak berujung.
Minato memalingkan pandangan dari Naruto. Menatap dinding di depannya dengan wajah galau. Naruto sendiri bingung mau berkata apa pada Uchiha muda di depannya itu. Beribu kalimat ingin dikatakan tapi tak satu pun terucap.
"Mi…"
"Naruto-san! Maaf aku permisi dulu", potong Minato tiba-tiba sambil berlari pergi.
"MINATO!!",namun belum sempat Naruto mengejar anak laki-laki itu, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.
BRAKK!!
Dari dalam ruangan keluarlah sosok wajah Shikamarau yang kaget dan khawatir.
"Naruto…sejak kapan kamu ada di depan pintu?", tanya sakura yang juga berada di dalam ruangan itu.
"..dari sejak pertangahan kalian bicara"
Sakura dan Shikamaru saling melirik sebelum Sakura kembali bertanya.
"…tadi kamu dengar pembicaraan kami?"
Naruto hanya menggangguk diam. Sudah jelas ia mendengar pembicaraan antara kedua orang temannya. Walaupun tidak semuanya, tapi justru ia menguping tepat saat informasi penting itu diucapkan. Sambil agak mundur merapat pintu, Shikamaru menyilahkan masuk hokagenya itu ke dalam. Naruto masuk ke dalamnya ruangannya. Dari wajahnya yang serius terlihat bahwa ia sedang berpikir.
"Naruto aku datang kesini mau berbicara perihal rumah sakit…"
"Sakura..", potong Naruto.
"..ya?"
"Apa benar ibunya Minato masih di sini?", tanyanya serius.
Usaha Sakura mengalihkan pembicaraan rupanya gagal. Sakura mengalihkan pandangannya ke Shikamaru meminta pertolongan. Sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, Shikamaru menjawab.
"..ehm..yah..sepertinya begitu", namun Shikamaru tidak berani menatap rokudaimenya itu secara langsung. '…cih, menyusahkan..', ujarnya dalam hati.
"Lalu..", lanjut Naruto, "…kenapa aku tidak diberitahu?".
Shikamaru menghela nafas, "naruto bukan posisi kami untuk memberitahumu. Itu sudah menjadi urusan pribadi keluarga Sasuke kan, jadi…"
"Tapi aku ini Hokage!! Aku berhak tahu apa yang terjadi pada semua masyarakat Konoha ini, dan lagi kalau Sasuke tahu istrinya masih ada disini, kenapa…"
"Naruto!", potong Sakura, "posisimu sebagai Hokage juga ada batasnya, kalau memang itu urusan pribadi Sasuke, kami sendiri juga tidak dapat ikut campur"
"…naruto, bukannya kami egois, tapi kami hanya menghormati keputusan Sasuke yang tidak mau mengungkit masalah itu. Sebagai sahabatnya juga sebaiknya kamu mengerti", sambung Shikamaru bijak.
Naruto diam saja, tidak membalas apa-apa lagi. Dalam hatinya Naruto juga bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah ia siap mengetahui siapa ibunya Minato, siapa orang yang sudah mengambil hati Sasuke. Takut akan jawaban yang diharapkan, naruto memilih untuk bungkam.
--
"…karena kekuatannya ia diangkat menjadi hokage pertama sekaligus pendiri Konoha ini…"
Suara Iruka terdengar sayup-sayup di telinga Minato. Hari ini mereka belajar diluar kelas, tepatnya di atas atap Akademi. Pelajaran yang disampaikan oleh iruka-sensei adalah sejarah Konoha. Selagi murid-murid lainnya serius mendengarkan Iruka, Minato malah melamun dengan memandang desa Konoha kejauhan. Hari ini memang Minato sedang tidak ada mood. Pagi tadi pun ia tidak terlalu banyak berbicara pada ayahnya ketika sarapan. Hanya mengucapkan selamat pagi, sarapan, tanya basa-basi kapan ayahnya pulang bekerja, dan pamit pergi sekolah.
"…kepemimpinan lalu dilanjutkan oleh Hokage kedua yang merupakan anak dari Hokage pertama. Lalu dilanjutkan lagi Hokage ketiga yang dulunya bergelar Profesor…"
Kejadian kemarin masih mengusik pikirannya. Apalagi setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan sang Hokage begitu saja tanpa basa-basi. Hidup tanpa seorang ibu selama hampir sepuluh tahun membuat ia sulit menerima kenyataan tersebut. Kenyataan bahwa ibunya masih ada di desa yang terbentang di hadapannya itu.
"…kemudian konoha dilanjutkan oleh hokage ke-empat yang merupakan murid dari muridnya hokage ke-tiga. Namun sayang, kepemimpinannya tidak berlangsung lama, setelah itu ia meninggal melindungi Konoha dari serangan Kyuubi…"
'Kalau memang begitu, kenapa tousan tidak pernah bicara apa-apa. Selama ini ia selalu menghindar kalau berbicara tentang kaasan. Selama ini sebenarnya aku tahu bahwa ada sesuatu terjadi. Tapi semuanya selalu menghindar…sama saja', pikir minato sambil menumpukan sikunya di railing dan menopang dagunya dengan telapak tangan.
"…kepemimpinan dipegang lagi oleh Hokage ke-tiga sampai ia meninggal karena suatu serangan. Cucu dari Hokage pertama datang, dan langsung mengambil alih kepemimpinan yang kosong..."
Suasana atap akademi begitu damai. Berbagai macam kelakuan murid-murid mengikuti pelajaran. Ada yang serius, atau ngobrol sambil bisik-bisik dengan temannya, atau seperti biasanya para gadis-gadis memandang penuh pesona pada Minato. Minato yang hari ini mengenakan jaket lengan panjang berleher dan berwarna hitam-biru serta celana hitam ¾ itu tidak mengacuhkan para penggemarnya seperti biasa.
"…sampai sekarang kepemimpinan dipegang oleh hokage ke-enam. Nah, sejauh ini ada pertanyaan?", tanya Iruka sambil menatap seluruh anak-anak muridnya itu. Namun tidak ada yang menjawab. "…kalau begitu aku saja yang bertanya. Pertanyaan mudah jika kalian memperhatikan, 'siapa pendiri Konoha ini'……minato-kun?". Iruka tahu kalau sejak tadi Uchiha kecil itu tidak memperhatikannya, karena itulah ia sengaja memanggil agar dapat menangkap perhatiannya, 'tidak biasanya seperti itu' pikirnya.
Minato tetap menoleh karena panggilan senseinya itu. Namun pandangannya tidak berubah, masih kosong, karena pikirannya sendiri tidak tertuju pada pelajaran. Sejak tadi semua ucapan Iruka hanya lewat begitu saja, tidak ada satu pun yang nyangkut di otaknya.
"…", Minato terdiam.
"…", balas Iruka juga sambil menatap lurus muridnya itu.
"…bukan saya, sensei…", jawab Minato datar.
Iruka dan murid lainnya hanya bisa sweatdrop, "…iya, memang bukan kamu". Dari jawabannya, Iruka tahu kalau pikiran Minato sedang tertuju kemana-mana, "…ya sudah, pelajaran kita tutup hari ini karena waktunya sudah habis. Setelah ini langsung pulang ke rumah masing-masing….hati-hati di jalan".
Ucapan Iruka membubarkan kelas. Murid-murid segera kembali ke dalam ruang kelas untuk mengambil tasnya masing-masing. Sebelum Minato beranjak pergi meninggalkan atap akademi itu, Iruka memanggilnya.
"MINATO!!"
Minato yang yang hendak pergi segera menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Iruka, "..ya?"
"tidak…hanya saja sepertinya hari ini kamu tidak seperti biasanya, tidak bersemangat. Apa ada masalah? Mungkin aku bisa membantu", tanya Iruka khawatir.
Minato menggelengkan kepalanya, "tidak, tidak ada apa-apa", jawabnya tidak ingin membuat senseinya itu khawatir, "…tadi pagi aku habis buang air besar, jadi agak lemas..", lanjut Minato tidak jelas.
"…haah? Apa hubungannya?", bertambah satu sweatdrop lagi di kepala Iruka. 'Dia…sungguh seorang Uchiha?', bisik Iruka dalam hati sambil memegang kepalanya yang bingung itu.
Sedari tadi Minato memperhatikan gerak-gerik senseinya itu. Minato sempat ragu, namun setelah beberapa saat Minato memberanikan diri untuk bertanya. "sensei, aku mau nanya.."
"…tanya apa?", Iruka kaget melihat perubahan tiba-tiba muridnya itu.
"…sensei, kenal dengan ibuku?"
Pertanyaan tersebut langsung membuat Iruka terkejut dan kaku. Perubahan ekspresi sang guru tersebut tidak lepas dari penglihatan Minato. Minato memincingkan matanya, menunggu jawaban dari senseinya.
"ehm..i-itu..yah…aku..kenal sih", jawab Iruka dengan terbata. Ia segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Minato. Dalam hati, Iruka sudah panik mau berkata apa. Takut jika jawabannya membuka tabir gelap yang selama ini ditutupinya dengan baik-baik. "eh gawat sudah jam segini, aku harus mengantarkan laporan ke kepala sekolah. Sudah ya Minato, segera pulang. Hati-hati di jalan", katanya sambil berlalu pergi. Sebenarnya ia tidak enak memberikan jawaban yang sangat menggantung pada Minato, tapi hanya sebatas itu yang hanya dapat ia berikan.
Minato tak membalas mendengar jawaban senseinya. Ia hanya terdiam menatap kepergian sang guru. Atap akademi sudah kosong, tinggal Minato sendiri saja. Langit sore terbentang diatasnya. Dengan menghela nafas, Minato melangkahkan kaki menuju ruang kelas.
'…ah, sudah kuduga', bisiknya dalam hati.
--
Dengan menutup lembaran berkas terakhir, Sasuke menghela nafas, 'hari ini cukup sampai disini'. Posisinya sebagai kapten ANBU membuatnya ia harus bekerja tiap hari, apalagi jika sedang ada misi. Sasuke tidak jarang melakukan misi selama sebulan penuh. Menjaga keamanan Konoha yang berada pada pundaknya itu membuat ia sulit membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya, dalam hal ini Minato. Ketika Minato masih kecil, Sasuke kelabakan meninggalkannya seorang diri ketika ia hendak melakukan misi. Namun dengan bantuan dari teman-temannya terutama Naruto, Sakura, Iruka dan Kakashi-sensei, beban di pundaknya sedikit terangkat. Kadang Sasuke menitipkan Minato pada Sakura dengan harap anaknya tidak akan kesepian karena dapat bermain dengan kedua anak Sakura. Namun agaknya Minato sendiri lebih ingin bersama-sama dengan hokage ke-enam itu. Apa boleh buat, Sasuke tidak dapat melarangnya.
Mentari sudah sampai di ufuk barat. Sasuke segera membereskan barang-barang dan keluar dari ruangannya. Beberapa pekerja lain menyapanya dalam perjalanan menuju pintu keluar markas, tapi Sasuke hanya menjawab sekenanya saja.
Tepat di balik pintu kaca berbingkai aluminium dengan pegangan dari stainless steel itu, Sasuke melihat sesosok anak laki-laki yang sudah sangat dikenalnya, berdiri menunggu sambil memandang ke arah luar.
"Minato?", sapa Sasuke sambil menutup pintu pintu di belakangnya, "ada apa? Tumben menjemput?"
Minato membalas dengan senyuman di wajah, "tidak apa-apa kan? Sedang ingin saja".
"oh.."
Tiba-tiba Minato menggaet lengan Sasuke dan menariknya jalan menjauhi markas, "hei tousan, makan malam diluar yuk. Jarang-jarang kan..", pintanya.
Dengan senyum di bibir, Sasuke menjawab, "boleh saja".
Sepasang ayah-anak Uchiha itu segera melangkahkan kaki meninggalkan Markas ANBU. Akhirnya mereka menghabiskan waktu sore berdua. Makan malam dan berkeliling melihat beberapa pertokoan sampai malam. Sasuke cukup menikmati waktunya berdua saja dengan anak satu-satunya itu. Mereka memang jarang bepergian bersama. Untuk pergi berbelanja kebutuhan, Sasuke lebih sering sendirian.
Langit malam sangat cerah sehingga bintang-bintang yang bersinar pun terlihat. Dalam perjalanan pulang mereka menyusuri jalan kecil yang tidak terlalu dilewati banyak orang. Karena Uchiha mansion sendiri terletak di pinggir Konoha, akses menuju kesana jarang didirikan rumah-rumah. Di kanan-kiri bagian jalan dipenuhi rimbunan pepohonan. Untungnya walaupun gelap, sinar bulan masih menerangi sebagian jalan.
"haa…kalau perutku kenyang hatiku riang", ujar Minato.
"Kamu…dasar aneh", kata Sasuke yang sudah maklum itu.
Namun Minato segera membalas, "apa yang aneh?! Aku tidak aneh!! Setidaknya, aku tidak makan selai pakai jempol kaki…", dengan wajah cemberut Minato memalingkan muka dari ayahnya.
"Memang ada orang yang bisa?!",
"Hm?", Minato malah tersenyum kepada ayahnya.
'Rasanya…tidak ada keturunan Uchiha seperti ini…', batin Sasuke meratap.
Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Sambil melamun pandangan Sasuke tertuju pada jalan di hadapannya. Tiba-tiba suara Minato memecah lamunannya.
"Tousan….gendong aku", pintanya
Sasuke hanya mengernyitkan alis menatap Minato, bingung akan permintaan anaknya yang tidak biasa itu, "kamu itu sudah besar.."
"aah, pelit!", Minato menghentikan langkahnya dan melipat tangannya ke dada.
Namun beberapa detik setelah itu, Minato melihat ayahnya berjongkok di depannya dan menoleh padanya, "sini..", kata Sasuke menawarkan punggungnya.
Dengan wajah bahagia, Minato berlari menuju ayahnya. Setelah Minato mengalungkan kedua tangannya ke leher ayahnya, Sasuke mengunci kedua kaki Minato dengan tangannya. Meyadari posisi Minato sudah cukup aman, Sasuke berdiri dan melanjutkan kembali perjalanannya dengan Minato di punggung.
Merasakan kehangatan ayah dari belakang, Minato tersenyum. Sudah lama Minato tidak merasakan saat-saat manis seperti ini, pada dasarnya Minato adalah anak yang mandiri, karena itulah ia jarang bermanja-manja pada ayahnya. Bagi Minato, Sasuke adalah seorang ayah yang baik, teman yang dipercaya, guru yang diteladani, dan…saingan cinta.
Dengan tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan, Sasuke menjadi sosok ayah muda yang populer di kalangan para wanita. Dada bidang, bahu lebar, dan otot-otot tubuh terbentuk sempurna hasil dari profesinya sebagai ninja elit ANBU selama bertahun-tahun, rupanya tidak mengecewakan. Juga wajah dinginnya yang mewakili keangkuhan seorang Uchiha, rambut dan warna matanya yang gelap, sangat cocok kalaunya ayah diberi gelar King of Darkness. Minato pikir ayahnya tidak sulit membuat para wanita bertekuk lutut di depannya hanya dengan sekali pandang. Sudah dibuktikan dengan tatapan terpesona semua wanita yang ditemui mereka selama perjalanan pulang.
Karena itulah Minato tambah tidak mengerti, jika ayahnya saja baik dan sempurna seperti itu, kenapa ibunya harus meninggalkannya. Apa yang membuat ayahnya harus mengalah untuk merelakan kepergian ibunya begitu saja.
"tousan…."
"hn?"
"…kenapa ibu pergi?"
Pertanyaan itu membuat bahu dan tangan Sasuke mendadak tegang. Minato dengan sabar menunggu jawaban dari Sasuke. Namun yang bersangkutan tidak membalas sepatah kata pun. Pandangan Sasuke tetap tertuju ke depan dan ia tidak menghentikan langkahnya sedikit pun.
"…apa karena aku? Karena melahirkan aku? Atau sebenarnya ada alasan lain..", lanjut Minato penasaran
"Sudahlah Minato….Ibumu itu tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Sekarang ini ia telah memiliki kehidupan sendiri yang lebih bahagia. Kita juga memiliki kehidupan yang harus dijalani. Mulai hari ini, tolong jangan bertanya apa-apa lagi tentang dia", ujar Sasuke menutup pembicaraan.
Minato jadi terdiam mendengar ucapan ayahnya itu. Sunyinya jalan pada malam hari tidak menutup pikiran Minato yang sudah penuh memikirkan masalah ibunya. 'Memang percuma bertanya pada tousan, dia tidak akan pernah menjawab apa-apa…'. Gagal mendapat penjelasan, Minato memutuskan untuk tidak lagi berusaha mengorek informasi dari ayahnya. 'tapi juga percuma saja bertanya pada orang lain', bisik Minato dalam hati, '…kalau begitu lebih baik aku mulai bergerak sendiri'.
Malam itu, Minato menetapkan hati untuk mencari keberadaan ibunya dengan usaha sendiri. Seorang sosok yang sangat dirindukannya walaupun selama bertahun-tahun ia menyangkal hal tersebut. Namun, ia tak ubahnya seperti anak-anak lainnya, yang sebenarnya mengharapkan keutuhan sebuah keluarga.
Maka….dimulailah penyelidikan Minato….
--
"Maaf ya, gara-gara aku panggil tiba-tiba, Naruto-san harus meninggalkan pekerjaan", ujar Minato yang melihat kedatangan Rokudaime itu ke Gunung Hokage untuk menemui dirinya.
Naruto tersenyum, "tidak apa-apa Minato-chan", katanya sambil duduk.
"…naruto-san?...kenapa kau tidak duduk diatas kepalamu sendiri saja?"
Naruto yang butuh berapa detik untuk mencerna kata-kata Minato, diam tertegun, "oh….benar…", lanjutnya pindah ke 'kepalanya sendiri'.
Setelah mengambil posisi yang nyaman di 'atas kepalanya', Naruto menoleh pada Minato, "Ada yang mau dibicarakan?"
Uchiha kecil itu mengangguk. Setelah penetapan hati kemarin untuk mencari sendiri keberadaan ibunya, Minato memutuskan untuk bertanya pada rokudaime sebagai penyelidikan awal. Posisi Naruto sebagai Hokage mungkin bisa membantunya, pikir Minato.
"Ini tentang ibuku…", sahutnya dengan wajah serius, "apa Naruto-san tahu?...sesuatu dulu ketika aku lahir?"
Naruto terperangah mendengar pertanyaan Minato. Tadinya ia sudah mengubur semua pikiran tentang hal tersebut dari kepalanya. Namun tampaknya tidak untuk sore hari ini.
"…maaf Minato-chan, aku tidak tahu", katanya tertunduk.
Minato tidak melepas pandangannya pada Naruto. Ia tidak tahu apakah pria di depannya itu berkata sesungguhnya atau tidak, seperti yang lain…
"Sepuluh tahun yang lalu…kamu tiba-tiba datang…bersama Sasuke"
Minato mengernyitkan alis curiga, "tiba-tiba?"
Naruto tersenyum menatapnya, "iya…sepuluh tahun yang lalu, aku baru sembuh dari koma.."
"Apa?!"
"…aku terluka ketika sedang melakukan misi…diserang oleh penjahat', ujar Naruto pura-pura sedih, "…lalu perutku robek…mungkin ususku terburai.."
"CUKUP!! TOLONG JANGAN DIDESKRIPSIKAAAAN..!!", potong Minato histeris, berusaha tidak membayangkan apa yang terjadi dengan Hokagenya dulu.
Geli melihat respon dari Minato, Naruto kembali melanjutkan, "…tidak, tidak, maaf..aku hanya tahu Sasuke membawamu sebagai anaknya…"
Tiba-tiba raut wajah Naruto berubah sedih. Minato yang merasakan perubahan itu mendekatkan diri ke Naruto dan berdiri di hadapannya, "tentang tousan…apa Naruto-san senang dengan kembalinya tousan ke desa ini?", tanyanya tersenyum.
Naruto segera menatap Minato dan membalas tersenyum ,"yah...tentu saja aku senang. Kau tahu? Aku sudah menghabiskan waktu hampir dua stengah tahun berlatih, demi memulangkan kembali ayahmu. Eh ternyata dia pulang dengan sukarela. Rasanya…semua usahaku itu percuma", katanya dengan nada sedih.
"Aku rasa tidak percuma, karena akhirnya kau menjadi apa yang diimpikan sedari dulu…menjadi Hokage"
Mendengar kata-kata dari Minato, Naruto kembali tersenyum. Walau mempunyai sifat yang berbeda, Sasuke dan Minato memiliki kesamaan. Sama-sama berhati baik dan perhatian, namun caranya saja yang berbeda. Tidak seperti Sasuke yang dingin dan lebih mengedepankan tindakan dibanding ucapan. Minato orangnya sangat terbuka dan ceria, hal itulah yang membuatnya sering dipertanyakan sebagai anaknya Sasuke.
"Dobe!"
Naruto dan Minato langsung menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Sasuke, yang pada saat itu mengenakan setelan hitam dengan jaket jounin, datang menghampiri mereka.
"Kau itu…kalian sedang apa disini?", tanyanya dengan dingin, "jangan bilang kau kabur dari tugasmu, usuratonkachi.."
Naruto melotot ke arah Sasuke, "apa maksudmu?! Aku tidak kabur...hanya ingin beristirahat menghirup udara segar. Setelah seharian penuh berkutat dengan dokumen yang tak ada habisnya…aku ingin istirahat sejenak!!"
"eeh, bukannya sama saja? Kalau ada waktu kosong untuk mengobrol, lebih baik kau menyelesaikan tugasmu"
Bukannya mengerti, Naruto malah tambah emosi, "sial kau Teme! Kenapa setiap kedatanganmu hanya membuatku emosi. Lagipula Minato yang memintaku datang!"
Spontan Sasuke langsung menoleh ke arah Minato, "apa benar? Memangnya kau ada keperluan dengan Hokage?"
Minato hanya nyengir, "bukan apa-apa. Ga terlalu penting kok".
Mendengar jawaban anak semata wayangnya itu, Sasuke menghela nafas, "kalau memang tidak penting lebih baik kamu pulang Minato, sudah sore…."
Mata Minato terbelalak kaget, "eh?"
Sasuke membalas menatap Minato, "pulang…bukan 'eh'.."
'Cih, dia mengusirku', umpat Minato dalam hati. Sebelum melangkahkan kaki pergi, ia pamit kepada Naruto, "Naruto-san aku pulang duluan…oh ya tousan, aku tahu tangan tousan itu cepat, tapi tolong jangan apa-apakan Naruto-san", ujarnya sambil berlalu pergi tanpa merasa bersalah.
"APA MAKSUDMU??", teriak Sasuke.
Sasuke menatap kepergian Minato dengan sweatdrop di kepala dan helaan nafas. Beberapa detik kemudian ia menoleh karena merasa ada orang yang menatapnya. Rupanya orang tersebut adalah Naruto yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan aneh.
"…dobe…ada apa?"
Naruto yang ketahuan sedang memandang Sasuke segera mengalingkan pandangan.
"Tidak…tidak ada apa-apa"
Sasuke curiga dengan kelakuan Naruto, bertanya lagi pada Hokage ke-enamnya itu, "tadi kalian membicarakan apa?"
Naruto langsung berbalik menghadap Sasuke dengan wajahnya cerianya dan senyuman yang dipaksakan, "tadi Minato bertanya perihal dirimu"
"Aku?"
"Dia bertanya tentang masa lalu, masih bingung kenapa kamu kembali ke Konoha setelah…tiga tahun itu", ujar Naruto dengan agak menunduk.
Sasuke yang terkejut akan ucapan Naruto hanya terdiam. Ia tidak menyangka Naruto akan mengungkit masa lalunya lagi. Sebuah keputusan yang membawanya pada penyesalan seumur hidup, pergi dari Konoha mengkhianati Naruto.
Naruto menatap Sasuke dalam-dalam. Sebenarnya bukan hal itulah yang ingin dikatakannya. Namun pembicaraannya dengan Minato tadi, membuat hatinya berkecamuk. Dalam hatinya ia ingin menyangkal bahwa kemungkinan keberadaan ibunya Minato…istri dari Sasuke…akan merebut pria yang ada di hadapannya itu. Setelah mengetahui kenyataan tersebut, Naruto terus dihantui rasa ketakutan akan perginya seorang Uchiha yang sangat dicintainya itu, kembali ke pelukan istrinya.
Setelah bertahun-tahun memendam semua perasaan, Naruto tidak menyangkal pengharapannya pada Sasuke. Pengharapan kalau suatu saat, Sasuke akan menoleh kepadanya. Namun, sebuah kenyataan menipiskan harapannya itu. Dengan penuh ketetapan hati, Naruto bertanya pada Sasuke.
"Sasuke…kau masih mencintai ist-..ibunya Minato?"
Entah kenapa dibandingkan 'istrinya Sasuke', Naruto lebih memilih menggunakan 'ibunya Minato', sebuah kata yang sesuai untuk menjaga kerapuhan hatinya yang bersiap hancur dalam genggaman Sasuke.
Sasuke terkejut. Ia hanya terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Pertanyaan dengan jawaban yang diikuti penyesalan terus berputar dalam pikirannya selama ini. Dengan menatap lurus kedua mata biru bening hokagenya, ia menjawab.
"Iya"
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Naruto membalikan badannya memunggungi Sasuke. Ia langsung berlari meninggalkan Gunung Hokage itu tanpa menoleh.
Sasuke menatap punggung Naruto yang semakin lama semakin menghilang itu dengan tatapan terluka.
"Maaf Naruto…", bisiknya pelan.
Naruto berlari sekencang mungkin kembali pada Hokage Tower. Butiran air mata mengalir deras di pipinya. 'aku memang bodoh…berharap seperti ini…', isaknya dengan hati yang hancur. Genangan air mata menutupi pandangannya membuat ia berhenti berlari. Naruto berjalan ke arah pohon besar terdekat, menyandarkan kepalanya pada batang pohon tersebut.
'…seharusnya aku tahu…kalau selama ini aku mengejar sesuatu yang kosong', air matanya terus mengalir tanpa henti, menghanyutkan perasaannya yang berubah menjadi kepingan. Naruto tahu bahwa suatu saat hal ini akan terjadi, namun ia belum siap menerima semua konsekuensinya. Harapan semu itulah yang membuatnya tetap bertahan di sisi orang yang dicintainya..
'…sasuke…'
--
Berdiri menatap gedung tinggi di hadapannya, Minato melangkah menuju pintu masuk dengan dua buah daun pintu. 'Rumah sakit Konoha…tempat yang sesuai untuk mencari informasi mengenai kesehatan seluruh masyarakat Konoha', pikirnya. Untuk menghindari kecurigaan ayahnya, Minato memutuskan menunda penyelidikan pada orang-orang terdekatnya. Setelah gagal mencari data mengenai kelahirannya di rumah, Minato langsung menuju rumah sakit dimana ia dilahirkan, rumah sakit satu-satunya di Konoha. 'Pasti semua dokumen kesehatan tersimpan aman di rumah sakit ini. Semua data kesehatan, kelahiran maupun kematian akan tercatat tanpa cela'.
Minato memasuki area rumah sakit dan langsung menuju ruangan tempat dimana Kepala Rumah Sakit bekerja. Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan jawaban, Minato membuka pintu memasuki ruangan.
"Halo, Tsunade baa-chan", sapanya.
Mata Tsunade terbelalak kaget melihat tamu yang datang berkunjung.
"Minato? Wah tumben, ada perlu apa?", tanya mantan Hokage ke-lima itu pada keturunan Uchiha di depannya.
Minato tersenyum pada wanita yang sebenarnya sudah berumur itu, "Tsunade baa-chan, aku minta tolong. Aku ingin melihat dokumen kesehatanku…mau kugunakan untuk tugas sekolah"
"Dokumen kesehatan?", awalnya Tsunade masih curiga akan tujuan Minato. Namun melihat anak laki-laki tampan itu hanya tersenyum polos padanya, hati Tsunade menyerah.
"Baiklah…aku akan memberimu ijin. Temuilah Shizune di ruang Staf, dia akan membantumu mencari dokumen yang akan kamu cari"
"Baiklah, terima kasih Tsunade baa-chan!!", sahut Minato yang berlari mendekati Tsunade dan langsung memeluknya.
Setelah melepas pelukannya, Tsunade menatap serius Minato, "jangan berbuat yang aneh-aneh ya".
"…tidak kok", jawabnya sambil menutup pintu.
Selama perjalanan ke ruang Staf, Minato bersiul santai. Beberapa kali menegur para pekerja medis. Sampai ia menemukan orang yang dicarinya.
"Bibi Shizuneee…."
Shizune yang pada saat itu cukup sibuk bekerja, menoleh pada Minato, "Minato? Ada apa?"
"Tsunade baa-chan menyuruhmu membantuku mencari dokumen kesehatanku…aku perlu untuk tugas sekolah", ujar Naruto lagi.
Shizune menaikkan sebelah alisnya, "memangnya boleh?...aduh, keadaan lagi seibuk begini. Tapi ayolah aku antar…"
Namun belum jauh mereka meninggalkan ruang staf. Sebuah suara memanggil mereka.
"Shizune!! Darurat!! Tenagamu dibutuhkan cepat!!", teriak seorang pekerja medis setengah berlari.
"Ya ampun….", Shizune menoleh pada Minato, "Maaf Minato aku tidak bisa menemanimu…ini, kunci ruangan dokumen, pergilah sendiri!"
Minato menatap kepergian Shizune kemudian menatap sebuah kunci yang tergeletak di tangannya. "Hehe…", Minato nyengir.
Ruang dokumen sangat besar dan agak gelap, karena cahaya matahari dari luar hanya masuk pada bukaan-bukaan kecil pada sebelah atas rak. Berbagai macam berkas, dokumen maupun gulungan kertas memenuhinya. Rak-rak dokumen tinggi berada pada setiap dindingnya. Minato agak kesulitan menemukan dokumen kelahiran yang dicarinya, beberapa berkas sudah berserakan di lantai.
'Hmm…data kelahiran sepuluh tahun yang lalu…data kelahiran…ah, ini dia'. Minato menarik tumpukan berkas itu yang ternyata lumayan berat. 'Astaga, tebal sekali. Kalau dilempar ke Akamaru pasti mati'
Dengan tidak sabar, ia memeriksa satu per satu kertas pada berkas kelahiran tersebut. Jantung Minato berdegub keras bersiap mengetahui semua jawaban. Keingintahuannya semakin tinggi semakin ia mendekati tanggal kelahirannya. 'delapan November…sembilan November…sebelas…duabelas November….'
'..loh? tunggu bentar! Kok rasanya tadi terlewat', Minato memeriksa balik, '…sebelas…sembilan…loh?loh?'
Berbagai macam dugaan langsung memenuhi benak Minato, 'kemana kertas bertanggal sepuluh November itu?', tanyanya gundah. Tubuh Minato mendadak lemas. Kecurigaannya terhadap sesuatu yang terjadi pada masa lalu terbukti, dengan kosongnya data-data mengenai kelahirannya. 'Apa sebegitu rahasianya kah kejadian sepuluh tahun yang lalu…sampai semuanya menutupinya seperti ini?', berbagai macam perasaan, sedih, penasaran, dan kesal berkecamuk dalam hatinya.
Di dalam ruang dokumen yang cukup gelap itu, Minato tertunduk pasrah.
-TBC-
Seorang wanita mendekati Minato sambil berlari merentangkan tangannya..
Aria : Minato!! Come to Mama!! Come to Mama!!
BLETAKKKK!!
Raven : (menyeret Aria yang pingsan)… Maaf, kesalahan bukan ada pada komputer anda, tapi ada pada teman author. Silahkan mereview…
