TANGLED

...

Main Cast:

Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Genre:

Romance

...

Rate:

M

...

Disclaimer:

Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

2

Pernahkah YiFan mengatakan jika dia mencintai pekerjaannya? Jika diibaratkan perusahaannya adalah Major League baseball, maka YiFan adalah pemain terbaiknya. YiFan adalah seorang partner di salah satu bank investasi terkemuka di Seoul, yang mengkhususkan diri dalam bidang media dan teknologi. Ya, ya ayahnya dan kedua sahabat dekatnya yang mulai merintis perusahaan ini. Tapi bukan berarti dia tidak bekerja keras untuk memperoleh posisinya sekarang, karena dia melakukannya. Juga bukan berarti YiFan tidak makan, bernafas, dan tidur. YiFan berusaha untuk memperoleh reputasinya sekarang, dia melakukan bukan karena ayahnya.

Jika kalian bertanya, apa yang dilakukan seorang bankir investasi? Well, kalian tahu di film Pretty Women, ketika Richard Gere memberitahu Julia Roberts bahwa perusahaannya membeli perusahaan lain, dan menjualnya bagian demi bagian? Nah, YiFan lah orang yang membantu dia melakukan itu. YiFan menegosiasikan transaksi, menyusun kontrak, mengelola due delegence[1], rancangan perjanjian kredit, dan banyak hal lain yang dia yakin kalian tidak tertarik untuk mendengarnya.

Sekarang mungkin kalian bertanya pada diri sendiri kenapa pria seperti YiFan mengutip film anak perempuan seperti Pretty Women? Jawabannya sederhana: saat tumbuh besar, setiap minggu ibunya mewajibkan mereka sekeluarga mengikuti "malam film keluarga" pada anak-anaknya yang masih kecil. Luhan bisa memilih film setiap minggunya. Dia terobsesi pada segala hal tentang Julia Roberts dan memaksa YiFan menerimanya, sekitar satu tahun. Bahkan karena terlalu sering menonton film tersebut YiFan bisa mengutip dialog film itu kata demi kata. Meskipun harus dia akui Richard Gere lumayan keren.

Sekarang kembali ke pekerjaannya.

Bagian terbaik tentang pekerjaan ini adalah perasaan mabuk yang YiFan rasakan ketika menutup kesepakatan, kesepakatan yang sangat bagus. Ini seperti mendapat blackjack di kasino Vegas. Seperti dipilih oleh Jenna Jameson untuk bermain di film porno berikutnya.

Tidak ada —dan maksudnya tidak ada— yang lebih baik dari itu.

YiFan yang mencari pelanggan untuk kliennya, merekomendasikan langkah apa yang seharusnya mereka lakukan. YiFan tahu perusahaan mana yang sangat ingin dibeli dan perusahaan mana yang perlu pengambil alihan secara paksa. YiFan lah orang yang memiliki informasi dari dalam tentang mogul media yang siap melompat dari Namsan Tower karena dia terlalu banyak menghabiskan keuntungan perusahaan pada pelacur tingkat tinggi.

Kompetisi untuk mendapat klien sangat sengit. Kalian harus menarik perhatian mereka, membuat mereka menginginkanmu, membuat mereka percaya tidak ada orang lain yang dapat melakukan untuk mereka seperti yang bisa kalian lakukan. Ini agak mirip seperti melakukan hubungan seks. Tapi bukannya mendapatkan seorang gadis yang menarik pada penghujung hari, YiFan mendapatkan cek yang sangat besar, dia menghasilkan uang untuk dirinya sendiri dan juga untuk kliennya, banyak sekali.

Anak-anak dari para mitra ayahnya juga bekerja di sini, Park Chanyeol dan Kim Minseok. Ya Minseok atau YiFan biasa memanggilnya Xiumin hyung —suami Si Menyebalkan. Seperti para ayah mereka, mereka bertiga tumbuh besar bersama, masuk ke sekolah yang sama, dan sekarang bekerja di perusahaan yang sama. Para orangtua menyerahkan pekerjaan yang sesungguhnya kepada mereka. Dan para orang tua itu memeriksa dari waktu ke waktu, untuk merasakan bahwa mereka masih menjalankan sesuatu, dan kemudian pergi menuju Country club untuk bermain golf di sore hari.

Xiumin dan Chanyeol juga bagus pada pekerjaannya —jangan salah paham. Tapi YiFan lah bintangnya. Pria Wu itu lah jagoannya. Dia lah orang yang klien minta dan perusahaan yang tenggelam dalam ketakutan.

Mereka tahu itu dan begitu juga YiFan.

Baiklah cukup untuk membahas masalah pekerjaannya. Karena kita akan beralih membicarakan hal yang lain, yang mungkin akan membuat kalian lebih mengerti tentang kisahnya kemarin.

Senin pagi YiFan berada di kantornya jam sembilan, sama seperti biasa. Sekretarisnya —gadis cantik bermata besar— sudah ada di sana, siap dengan jadwalnya untuk hari ini, pesannya dari akhir pekan, dan secangkir kopi terbaik.

Tidak, YiFan belum pernah menidurinya.

Bukan berarti YiFan tidak senang melakukannya. Percayalah, jika dia tidak bekerja untuknya, YiFan akan memukul (merayu) dia lebih keras daripada Mohammad Ali.

Tapi YiFan punya aturan —standar, kalau menurut istilah kalian. Salah satunya adalah tidak main-main di sekitar kantor. YiFan tidak berhubungan asmara dengan rekan kerja, sebagai catatan dia tidak bercinta di tempat di mana dia bekerja. Belum lagi masalah pelecehan seksual akan muncul; ini bukan bisnis yang bagus. Tidak profesional.

Jadi, Kyungsoo adalah satu-satunya gadis selain kerabat sedarah yang memiliki interaksi secara platonis dengan YiFan, dia juga satu-satunya anggota dari lawan jenis yang pernah YiFan anggap sebagai teman.

Mereka memilki hubungan kerja yang baik. Kyungsoo sungguh... mengagumkan.

Itu alasan lain YiFan tidak akan menidurinya bahkan jika Kyungsoo berbaring telentang di atas meja memohon padanya untuk melakukannya. Percaya atau tidak, seorang sekretaris yang bagus —yang sangat bagus— sulit ditemukan. Dan YiFan pernah punya beberapa sekretaris yang sangat bodoh. Dia pernah punya sekretaris yang berpikir mereka bisa sukses hanya dengan telentang, jika kalian tahu apa maksudnya.

Mereka adalah gadis-gadis yang ingin YiFan temui di sebuah bar pada malam Minggu —bukan tipe gadis yang ia inginkan untuk menjawab teleponnya di senin pagi.

Jadi sekarang kalian punya sedikit wawasan, kan? Mari kita kembali ke kisah perjalanan seorang Wu YiFan menuju neraka.

"Aku memindahkan jadwal makan siang dengan Mecha jam satu ke pertemuan jam empat," Kyungsoo berkata pada YiFan saat dia memberinya setumpuk pesan.

Sial.

Mecha Communications adalah konglomerat media yang bernilai miliaran dolar. YiFan telah mengerjakan akuisisi mereka pada jaringan kabel berbahasa-Spanyol selama berbulan-bulan, dan CEO-nya, Radolpho Scucini, selalu lebih mudah menerima saat perut kenyang.

"Kenapa?" tanya YiFan

Kyungsoo memberi YiFan sebuah berkas. "Hari ini... makan siang di ruang konferensi. Ayahmu memperkenalkan rekan kerja baru. Kau tahu bagaimana ayahmu tentang urusan ini."

Ah! Jadi itu alasannya. Ayahnya. Ya, ayah YiFan mencintai perusahaan ini dan menganggap semua karyawan sebagai keluarga besarnya. Dia selalu mencari alasan untuk mengadakan acara pesta kantor, acara pesta ulang tahun, baby shower, makan siang Thanksgiving, prasmanan President's Day, makan malam tahun baru China... perlu YiFan lanjutkan?

Ayah YiFan mencintai karyawannya, dan mereka balas mencintainya. Pengabdian, kesetiaan, keluarga YiFan mendapatkannya secara melimpah. Itu bagian yang membuat mereka menjadi yang terbaik. Karena karyawan yang bekerja di sini hampir dipastikan akan menjual anak sulung mereka pada ayahnya.

Namun, ada hari —seperti sekarang ini, ketika YiFan butuh melayani klien— yang membuat perayaan ayahnya bisa menjadi sangat menjengkelkan. Tapi begitulah keadaannya.

Jadwal Senin pagi seorang Wu YiFan sangat penuh, jadi ia pergi menuju mejanya dan mulai bekerja. Setidaknya setengah pekerjaannya harus sudah selesai sebelum acara ayahnya. Kemudian, sebelum dia bisa berkedip, sudah pukul satu, dan dia menuju ke ruang konferensi. Ketika memasuki ruangan tersebut YiFan mengedarkan pandangannya di sekeliling, sesaat matanya melihat kepala berambut pirang terang yang melekat pada tubuh tinggi dan kekar. Itu pasti Kim Jongin. Jongin mulai bekerja di perusahaan ini enam tahun yang lalu, tahun yang sama dengan YiFan. Dia pria yang baik dan sering menjadi kawan berakhir pekan. Di sampingnya adalah Chanyeol, pria yang tingginya hampir menyamainya itu tengah asyik mengobrol sambil mengusap rambut coklat terangnya dengan tangannya yang besar.

YiFan mengambil makanan dari prasmanan dan bergabung dengan mereka saat Chanyeol menceritakan malam Minggunya.

"Kemudian gadis itu mengeluarkan borgol dan cambuk. Sebuah cambuk! Kukira aku akan kehilangan akal saat itu juga, aku bersumpah demi Tuhan. Maksudku... dia masuk ke suatu biara... sebenarnya belajar untuk menjadi biarawati!" ucap Chanyeol dengan mimik khasnya.

"Aku sudah bilang, orang pendiam selalu suka yang aneh-aneh," tambah Jongin dengan tertawa.

Chanyeol mengalihkan mata coklatnya pada Xiumin dan berkata, "Serius, bung. Kau harus keluar dengan kami, sekali saja, aku mohon."

YiFan menyeringai mendengar kalimat itu karena ia tahu persis apa yang akan terjadi.

"Maaf, pernahkah kau bertemu dengan istriku?" Xiumin bertanya, alisnya berkerut dengan kebingungan.

"Jangan menyebalkan," Jongin menyikutnya. "Katakan pada istrimu kau akan main kartu atau sesuatu yang lain, bersenang-senanglah sedikit."

Xiumin melepas kaca matanya dan menyeka lensa dengan serbet saat ia tampaknya mempertimbangkan ide itu.

"Benarrrr. Dan ketika istriku tahu... dan Luhan pasti akan tahu, aku jamin, dia akan menghidangkan bolaku di atas piring perak. Dengan saus colek mentega bawang putih di sampingnya dan anggur Chianti yang enak."

Xiumin mengeluarkan suara menyeruput ala Hannibal Lecter, yang membuat YiFan tertawa terbahak-bahak. Ia bisa membayangkan bagaimana buasnya Luhan ketika memergoki suaminya bersama gadis lain.

"Disamping itu," Ia merenungkan dengan senang, memasang kembali kacamatanya dan meregangkan tangan di atas kepalanya.

"Di rumah aku punya filet mignon[2], kawan. Aku tidak tertarik pada sloppy Joes[3]."

"Dasar penakut," ejek Jongin. Chanyeol terbatuk, sementara Jongin menggeleng kearah kakak ipar YiFan dan kembali berkata, "Bahkan filet yang enak akan membosankan kalau kau memakannya setiap hari, hyung."

"Tidak," Xiumin membela diri dengan penuh arti. "Jika kau memasaknya dengan cara yang berbeda setiap kalinya. Istriku tahu bagaimana membuat makananku tetap menarik."

YiFan mengangkat tangannya dan memohon, "Tolong. Harap berhenti di situ." Ada beberapa visualisasi yang tidak ingin ada dalam kepalanya. Sekalipun.

"Bagaimana denganmu, Kris? Aku melihatmu pergi dengan gadis kembar itu. Apa rambut mereka asli berwarna merah?" Jongin bertanya pada YiFan.

YiFan merasakan senyum puas meregang atas bibirnya. Ternyata ada seseorang yang memperhatikannya. Baguslah itu bisa menambah panjang rekornya.

"Oh ya rambutnya asli." YiFan berkata santai.

"Jadi, apa saja yang kalian lakukan?" YiFan tahu Jongin sedang memancingnya, dan sepertinya pria berkulit tan itu sedang beruntung karena YiFan sedang berada dalam mood-nya kali ini.

"Well. Seperti yang kalian tahu, aktivitas sebagai tiga orang dewasa yang berada di sebuah kamar." Kemudian YiFan mulai mendeskripsikan malam Minggu liarnya secara jelas dan mendetil.

Oke mari kita berhenti sekarang karena sepertinya YiFan bisa melihat pandangan menghakimi di wajah kalian. Dan dia juga bisa mendengar ketidaksetujuan bernada tinggi dari kalian: 'Dasar brengsek. Dia berhubungan seks dengan seorang gadis—well, dalam hal ini dua gadis— dan sekarang dia menceritakan semua itu ke teman-temannya. Itu sangat tidak hormat.'

Pertama-tama, jika seorang gadis ingin dihormati oleh seorang Wu YiFan, dia perlu bersikap seperti seseorang yang layak dihormati. Kedua, YiFan tidak berusaha bersikap brengsek; YiFan hanya menjadi pria umumnya. Dan semua pria berbicara dengan teman-teman mereka tentang seks. Mari kita ulangi, kalau saja kalian melewatkannya:

SEMUA PRIA BICARA PADA TEMAN-TEMANNYA TENTANG SEKS.

Jika seorang pria memberitahumu dia tidak melakukannya? tinggalkan dia, karena dia telah membohongimu.

Dan satu lagi, YiFan juga pernah mendengar kakak perempuannya berbicara tentang itu bersama sejumlah temannya. Beberapa cerita yang keluar dari mulut mereka bisa saja membuat gadis tersipu. Jadi jangan bersikap seolah gadis tidak membicarakan tentang seks seperti halnya mereka kaum pria... karena YiFan tahu pasti mereka melakukannya.

Setelah menguraikan poin-poin terperinci akhir pekannya, pembicaraan di meja berganti ke football dan efektivitas dari serangan Manning. Di kejauhan YiFan dapat mendengar suara ayahnya saat ia berdiri di depan ruangan, menjelaskan secara rinci prestasi besar dari rekan kerja mereka yang baru, yang file-nya tidak repot-repot ia buka pagi ini. Bussines Management di Seoul University, pertama di kelasnya, magang pada Kredit Suisse...bla...bla...bla.

Obrolan memudar saat pikiran YiFan beralih ke bagian dari malam Minggunya yang tidak ia ceritakan pada teman-temannya: interaksi dengan salah satu dewi berambut hitam, tepatnya. YiFan masih bisa melihat dengan begitu jelas mata bulat gelap gadis itu di kepalanya. Bibir lezatnya, rambut bercahaya yang tidak mungkin selembut seperti kelihatannya.

Ini bukan pertama kalinya bayangan gadis itu muncul di kepala YiFan, tanpa diminta, selama satu setengah hari terakhir. Sebenarnya, seperti setiap jam sebuah gambaran dari beberapa bagian gadis itu datang pada YiFan, dan ia mendapati dirinya membayangkan apa yang terjadi pada gadis itu. Atau, lebih tepatnya, apa yang bisa terjadi jika ia tetap tinggal dan pergi mengikuti gadis misterius itu.

Ini aneh. YiFan bukan tipe pria yang akan mengenang orang asing yang ia temui selama petualangan akhir pekannya. Biasanya, mereka memudar dari pikiran saat ia pergi dari ranjang mereka. Tapi ada sesuatu tentang diri gadis itu. Mungkin karena dia menolaknya. Mungkin karena YiFan tidak tahu siapa namanya. Atau mungkin pantat indahnya yang kencang membuatnya ingin memegangnya dan takkan pernah membiarkannya pergi.

Saat bayangan yang ada dalam pikirannya mulai terfokus pada sosok itu, geliatan akrab mulai terjadi di organ bawahnya, jika kau tahu apa maksudnya. Secara mental YiFan memperingatkan dirinya sendiri. YiFan tidak pernah lagi mengalami ereksi spontan sejak berumur dua belas tahun. Sebenarnya apa yang terjadi?

Sepertinya pria bermarga Wu itu harus menelepon gadis seksi yang menyelipkan nomer teleponnya padanya di coffe house pagi ini. Biasanya YiFan akan menunda aktivitas semacam itu untuk kegiatan akhir pekan, tapi rupanya kejantanannya ingin membuat perkecualian. Mungkin kalian berpikir dia kenapa tidak melakukan masturbasi saja? Hem... big no... no... YiFan tidak akan pernah melakukannya. Apa enaknya orgasme dengan menggunakan tanganmu sendiri? YiFan masih cukup waras untuk lebih memilih mulut seksi seorang gadis.

Baiklah pembicaraan selesai.

Pada saat ini, YiFan telah sampai depan ruangan, dalam antrian untuk berjabat tangan seperti lazimnya menyambut semua karyawan baru. Saat YiFan mendekati ujung depan barisan, ayahnya melihat dan datang menyambut dengan tepukan sayang di punggungnya.

"Senang kau sudah datang, Kris. Gadis baru ini punya potensi yang sesungguhnya. Aku ingin kau secara pribadi membantu dan melindunginya, membantu dia memperoleh pengalaman untuk pertama kalinya. Kalau kau melakukan itu, nak, aku jamin dia akan menjadi sukses dan membuat kita semua bangga."

"Tentu, daddy. Tidak masalah."

Bagus. Seperti dia tidak punya pekerjaan sendiri untuk diurus. Sekarang YiFan harus menuntun seorang pemula saat dia berjalan di kegelapan dunia yang menakutkan dari korporat Korea. Sungguh sempurna.

Terima kasih, daddy!

Akhirnya tiba giliran YiFan untuk menjabat tangan gadis itu. Dia memunggunginya saat YiFan melangkah. YiFan menatap rambut lembut gelapnya yang diikat menjadi sanggul rendah, kecil, sosok tubuh mungilnya. Matanya menatap pada punggung gadis itu, saat ia berbicara dengan orang di depannya. Berdasarkan insting tatapan YiFan tertuju pada pantatnya dan... tunggu. Tunggu, tunggu sebentar.

Aku pernah melihat pantat ini sebelumnya.

Tidak mungkin.

Gadis itu berbalik.

Tidak.

Senyum di wajahnya melebar saat matanya terhubung dengan YiFan. Mata cemerlang tak berujung yang telah YiFan impikan dan sekarang dia baru ingat. YiFan juga bisa melihat jika gadis di depannya ini sedikit terkejut, ingat hanya sedikit. Gadis itu mengangkat alis sebagai tanda mengenali dan mengulurkan tangannya. "Mr. Wu."

YiFan merasa mulutnya membuka dan menutup, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Kaget melihat dia lagi —di sini dari semua tempat— sesaat keterkejutan itu pasti telah membekukan bagian otaknya yang mengontrol kemampuan bicara. Ketika syaraf sinapsis mulai berfungsi lagi, YiFan mendengar ayahnya berkata,

"...Junmyeon. Kim Junmyeon. Dia akan jadi orang sukses, nak. Dan dengan bantuanmu dia akan membawa kita bersamanya."

Kim Junmyeon.

Gadis di bar. Gadis yang ia biarkan pergi. Gadis yang mulutnya masih sangat YiFan inginkan untuk berada di sekitar kejantanannya. Bahkan YiFan pernah berfantasi bagaimana lidah merah muda itu menelusuri urat-urat di sekitar kenjantannya yang keras.

Dan dia bekerja disini. Di kantornya, di mana YiFan telah bersumpah untuk tidak pernah... sekalipun... berhubungan seks dengan rekan kerja. Hell yeah! Haruskah ia melanggar sumpahnya sendiri? Karena entah bagaimana Yifan sangat –sangat ingin- gadis itu terlentang di meja kantornya. Menggodanya, bak bintang film porno papan atas yang sering ia tonton.

Yifan sedikit tersentak ketika tangan hangat lembut Junmyeon dengan sempurna meluncur di tangan YiFan.

Sial! Bagaimana rasanya jika tangan mungilnya itu membelai kejantanannya.

Dan bersamaan dengan itu dua pikiran secara bersama masuk ke dalam kepala YiFan.

Yang pertama: Tuhan telah membencinya. Yang kedua: YiFan telah menjadi pria yang sangat, sangat nakal hampir sepanjang hidupnya dan ini adalah balasannya. Dan kalian tahu kutipan yang sering orang katakan tentang pembalasan, kan?

Benar. Dia salah satu gadis yang sulit dihadapi.


...


YiFan percaya jika dia yang menentukan nasibnya sendiri. Kehendak. Kendali. Dia menentukan kemana jalan hidupnya. Dia yang memutuskan kegagalan dan kesuksesannya. Persetan dengan nasib. Takdir bisa enyah selamanya. Jika YiFan sangat menginginkan sesuatu, dia bisa mendapatkannya. Jika dia fokus, berkorban, tidak ada yang tidak bisa dia lakukan.

Jika kalian bertanya, apa maksud dari sikapnya? Kenapa YiFan terdengar seperti pembicara utama pada konvensi swadaya? Sebenarnya apa yang coba ia katakan?

Singkatnya: Wu YiFan sedang berusaha untuk mengendalikan kejantanannya. Tapi kejantanannya tidak dapat mengendalikan dirinya. Itulah yang telah YiFan katakan pada dirinya sendiri selama satu setengah jam terakhir.

Kau lihat seorang pria di sana, yang tengah duduk di mejanya? Yang sedang bergumam tak jelas seperti penderita skizofrenia kehabisan obat?

Benar. Itu adalah Wu YiFan yang hampir frustasi.

Dia sedang mengingatkan dirinya sendiri pada prinsip hidupnya, keyakinan suci yang membuat ia bisa sampai sejauh ini dalam hidup. Prinsip yang telah membuatnya sukses tak terbantahkan baik di ranjang maupun di kantor. Prinsip yang tidak pernah mengecewakan pria itu sebelumnya. Prinsip yang setengah mati ingin YiFan buang ke keluar jendela. Dan itu semua karena seorang gadis yang berkantor diseberang lorong.

Kim Junmyeon.

Bicara tentang masalah terkutuk ini.

Cara YiFan melihatnya, dia masih bisa meraih yang lebih tinggi. Secara teknis YiFan tidak bertemu Junmyeon di tempat kerja; YiFan bertemu dengannya di sebuah bar, itu berarti dia bisa melupakan label "rekan kerja" dan mempertahankan status "kencan yang tak terduga" seperti yang awalnya ditunjukkan pada Junmyeon.

Apa? Kenapa kalian menatapnya seperti itu? Apa kalian lupa jika YiFan seorang pengusaha; dan tugasnya adalah untuk menemukan celah. Dalam segala hal, termasuk menemukan celah agar ia bisa menghabiskan waktu yang indah –menurutnya- dengan Junmyeon.

Jadi, dalam teori setidaknya, YiFan bisa bercinta dengannya dan tidak merusak hukum alam pribadinya sendiri. Masalah dengan strategi itu, tentu saja adalah apa yang terjadi sesudahnya.

Lirikan kerinduan, mata penuh harapan, upaya yang menyedihkan untuk membuat dia cemburu. Pertemuan secara "kebetulan", pertanyaan tentang rencananya, terlihat santai berjalan melewati pintu kantornya. Yang semuanya pasti akan meningkat menjadi perilaku semi-penguntit yang meresahkan. Hah, YiFan sudah sangat hafal tentang konsekuensi itu.

Beberapa orang dapat mengatasi kencan satu malam. Yang lain tidak bisa. Dan YiFan pasti berada di ujung yang salah dari orang-orang yang tidak bisa.

Ini tidak menyenangkan.

Jadi, kalian paham, tidak peduli betapa parahnya YiFan ingin, tidak peduli betapa keras nafsu mencoba menguasainya. Itu bukan sesuatu yang ingin ia bawa ke tempat bisnis. Tempat sucinya, rumah keduanya.

Itu tidak akan terjadi. Titik.

Itu saja. Diskusi selesai.

Kasus ditutup.

Kim Junmyeon secara resmi dicoret dari daftar potensial YiFan. Dia terlarang. Tak tersentuh. Sama sekali takkan pernah. Tepat disebelah daftar mantan pacar teman-temannya, putri bos, dan sahabat baik kakaknya.

Well, sebetulnya kategori terakhir itu sedikit masuk wilayah abu-abu. Karena ketika YiFan berumur delapan belas tahun, sahabat Luhan, Zhang Yixing, menghabiskan musim panas di rumah mereka. Tuhan memberkatinya —gadis itu memiliki mulut seperti alat penghisap debu. Untungnya bagi YiFan. Si Menyebalkan tidak pernah tahu bahwa sahabatnya datang ke kamar YiFan pada jam dua malam. Jika sampai Luhan tahu, akan ada konsekuensi yang mengerikan —YiFan sedang membicarakan tentang siksa neraka— jika Luhan punya.

Omong-omong, sampai di mana kita?

Oh benar. Sudah dijelaskan jika YiFan telah mengambil keputusan yang tegas bahwa Kim Junmyeon adalah gadis yang sayangnya tidak akan pernah ia tiduri. Dan YiFan baik-baik saja dengan itu. Sungguh.

Dan pria Wu itu hampir saja percaya pada dirinya sendiri.

Sampai gadis itu muncul di pintunya.

Ya Tuhan.

Junmyeon memakai kacamata. Dengan jenis bingkai yang gelap. Versi perempuan dari Clark Kent. Kacamata itu akan terlihat culun dan tidak menarik untuk kebanyakan gadis. Tapi tidak untuk Junmyeon. Pada batang hidung kecilnya, ditambah bulu mata yang indah, dengan rambut yang di sanggul sedikit longgar, secara keseluruhan sangatlah seksi.

Saat Junmyeon mulai bicara, pikiran YiFan tiba-tiba penuh dengan segala macam fantasi guru seksi yang pernah ia alami. Mereka bermain dalam pikirannya tepat di sebelah pustakawati yang seakan terkekang secara seksual, tapi sebenarnya nymphomania yang memakai pakaian kulit dan borgol.

Sementara semua fantasi liar ini terjadi di kepala YiFan, Junmyeon masih bicara.

Apa sebenarnya yang dia katakan?

YiFan memejamkan mata agar tidak menatap bibir berkilauan gadis itu. Sehingga ia benar-benar dapat memproses kalimat yang keluar dari mulut Junmyeon:

"...ayah bilang kau bisa membantuku dengan itu." Junmyeon berhenti dan menatap YiFan penuh harap.

"Maafkan aku, perhatianku terpecah. Kau ingin duduk dan bicara sekali lagi?" Tanya YiFan, suaranya tak pernah mengkhianati gairah yang ada dalam dirinya. Dan YiFan bersyukur atas itu.

Sekali lagi, untuk para gadis di luar sana —ini fakta untuk kalian: Pria memikirkan hubungan seks pada otak mereka nyaris 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Angka yang pasti adalah setiap 5,2 detik atau kurang lebih sekitar itu.

Intinya adalah, ketika kalian bertanya, "Apa yang kau inginkan untuk makan malam?" para pria berpikir tentang bercinta denganmu di meja dapur. Ketika kalian memberitahu mereka tentang film cengeng yang kalian tonton dengan pacar pekan lalu, mereka berpikir tentang film porno yang dilihat di tv kabel tadi malam. Ketika kalian menunjukkan kepada mereka tentang sepatu desainer yang dibeli di obral, para pria berpikir betapa menyenangkannya jika kaki itu berada di bahu mereka.

Sebenarnya ini adalah suatu kutukan.

Secara pribadi, YiFan menyalahkan Adam. Ada seorang pria yang berada dalam posisi sangat baik dalam hidupnya. Berjalan-jalan dengan telanjang, seorang gadis cantik yang memenuhi segala hasratnya. YiFan hanya berharap apel itu benar-benar lezat, karena Adam sungguh mengacaukannya untuk mereka, para pria. Sekarang mereka harus berusaha untuk mendapatkannya. Atau dalam kasus YiFan, berusaha mati-matian untuk tidak menginginkannya.

Junmyeon duduk di kursi di seberang meja YiFan, dan melipat kakinya. Demi Tuhan YiFan sedang berusaha untuk tidak terlihat semesum mungkin karena pemandangan di depannya.

Jangan melihat kakinya, jangan melihat kakinya- YiFan merapalkan kata-kata itu dalam hatinya seperti sebuah doa.

Tapi terlambat. Mata YiFan mengkhianati dirinya.

Pemuda Wu itu melihatnya. Kaki di depannya terlihat kencang, putih, dan halus seperti sutra. YiFan menjilat bibir dan memaksa matanya menatap wajah Junmyeon.

"Jadi," Junmyeon mulai lagi, "Aku telah menyusun portofolio pada sebuah perusahaan pemrograman, Genesis. Pernahkah kau mendengar tentang perusahaan itu?"

"Samar-samar." YiFan menjawab, pria itu mengalihkan pandangannya, menatap kertas-kertas di mejanya untuk membendung aliran gambar tidak senonoh yang suaranya memanggil dari pikiran menyimpangnya.

Jika boleh jujur, YiFan adalah seorang yang sangat sangat nakal. Menurut kalian apakah Junmyeon akan menghukumnya jika ia mengatakan padanya betapa nakalnya ia?

Ok, ok, YiFan tahu dan sangat tahu. YiFan hanya tidak bisa menahan diri.

"Mereka membukukan laba sebelum pajak sebesar tiga juta dollar pada kuartal terakhir." Ucap Junmyeon.

"Benarkah?"

"Ya. Aku tahu itu bukan sesuatu yang sangat mengejutkan, tapi itu menunjukkan mereka memiliki pijakan yang solid. Mereka masih kecil, tapi itu adalah bagian dari apa yang menjadikannya bagus. Para programernya muda dan lapar. Rumornya, mereka mempunyai ide-ide yang akan membuat Nintendo Wii terlihat lebih mirip Atari. Dan mereka punya otak untuk mewujudkannya. Apa yang tidak mereka miliki adalah modal."

Junmyeon berdiri dan bersandar di atas meja YiFan untuk memberikan sebuah berkas. Dalam hitungan detik YiFan diserang oleh aroma manis seperti bunga. Lezat, dan memikat —bukan seperti parfum yang nenek-nenek pakai yang praktis membuat kalian tersedak ketika berpapasan dengannya di kantor pos.

Jika saja YiFan lupa bahwa Junmyeon adalah gadis yang terlarang untuknya, YiFan sangat ingin merengkuh kepala gadis itu agar ia bisa menenggelamkan wajahnya ke rambut Junmyeon dan menghirup nafas dalam-dalam.

Tapi YiFan menolak dan lebih memilih untuk membuka berkas sebagai gantinya.

"Aku telah menunjukkan apa yang aku punya Mr. Wu... eh ayahmu, dia mengatakan padaku untuk menjelaskan ini padamu, dia pikir salah satu dari klienmu—"

"Alphacom." YiFan mengangguk.

"Benar, dia pikir Alphacom akan tertarik."

YiFan melihat pekerjaan yang Junmyeon lakukan sejauh ini. Ini bagus. Rinci dan informatif tapi terfokus. Perlahan-lahan, otaknya —yang ada diatas bahunya—mulai berpindah fokus. Jika ada satu topik yang memiliki harapan untuk mengeluarkannya dari pikiran tentang seks, itu adalah pekerjaan. Sesuatu yang bagus. YiFan pasti bisa mencium potensi di sini.

Ini tidak beraroma selezat Kim Junmyeon, tapi mendekati.

"Ini bagus Junmyeon, sangat bagus, aku pasti bisa menjual ini untuk Seanson. Dia adalah CEO Alphacom."

Mata Junmyeon sedikit menyipit. "Tapi, kau akan memasukkan aku ke dalam tim, kan?"

YiFan menyeringai. "Tentu saja, apa aku terlihat seperti tipe orang yang butuh mencuri proposal orang lain?"

Junmyeon memutar matanya dan tersenyum. Kali ini, YiFan tidak bisa berpaling.

"Tidak, tentu saja bukan Mr. Wu. Aku tidak bermaksud mengartikan... Itu hanya... kau tahu... hari pertama."

YiFan memberi isyarat pada Junmyeon untuk duduk kembali, dan dia menurut. "Well, aku akan mengatakan dari yang terlihat ini, kau menjalani hari pertama yang bagus. Dan, tolong, panggil saja Kris."

Junmyeon mengangguk. YiFan bersandar di kursinya menilai gadis di depannya. Matanya memeriksa seluruh tubuh Junmyeon dari ujung kepala sampai kaki dengan cara yang sama sekali tidak profesional. YiFan tahu itu. Tapi kelihatannya YiFan tidak peduli.

"Jadi... merayakan pekerjaan baru, ya?" YiFan bertanya mengacu pada komentarnya di REM hari Sabtu.

Junmyeon menggigit bibir, dan itu sukses membuat celana YiFan seketika mengetat saat miliknya menggeliat dan mengeras, lagi. Kalau ini terus berlangsung YiFan akan mengalami blue balls[4] ketika ia sampai di rumah.

"Ya. pekerjaan baru." Junmyeon mengangkat bahu kemudian mengatakan, "Aku menduga siapa kau, ketika kau menyebutkan siapa namamu dan nama perusahaanmu."

"Kau pernah dengar tentang aku?" YiFan bertanya, benar-benar penasaran.

"Tentu. Kupikir hanya ada sedikit orang di bidang ini yang belum membaca tentang si anak emas dari keluarga Wu, Kim and Park di Busines Weekly... atau Seoul Times Page Six untuk urusan itu."

Kata-kata terakhirnya mengacu pada kolom gosip di halaman yang YiFan sering muncul.

"Jika satu-satunya alasan kau mengabaikanku karena aku bekerja di sini," ada jeda sejenak ketika YiFan berkata itu "Aku akan menyerahkan surat pengunduran diri di meja ayahku dalam satu jam." Lanjutnya.

Junmyeon tertawa, semburat warna merah muncul di sekitar pipinya dan kemudian gadis itu menjawab, "Tidak, itu bukan satu-satunya alasan." Dia mengangkat tangannya untuk mengingatkan YiFan tentang cincin pertunangan yang hampir tidak terlihat.

"Tapi, bukankah kau senang sekarang bahwa aku menolakmu? Maksudku, akan jadi lumayan canggung jika sesuatu terjadi diantara kita, bukankah begitu?" lanjutnya

"Pasti akan sepadan." Wajah YiFan benar-benar serius saat ia mengatakan pada Junmyeon.

Junmyeon mengangkat alisnya dengan ragu. "Meskipun aku bekerja di bawahmu sekarang?"

Sekarang, ayolah —Junmyeon menjurus tepat ke arah sana, dan dia tahu itu. Bekerja di bawahnya? Bagaimana mungkin YiFan mengabaikan kata-kata itu?

Namun YiFan hanya mengangkat alis, dan Junmyeon menggelengkan kepala dan tertawa lagi.

Dengan senyum liar YiFan bertanya pada Junmyeon "Aku tidak membuatmu tidak nyaman, kan?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Tapi apakah kau memperlakukan semua karyawanmu dengan cara ini? Karena aku harus memberitahumu, kau membiarkan dirimu terbuka lebar untuk suatu gugatan."

YiFan tidak bisa mencegah senyum dari bibirnya. Junmyeon sangat mengejutkan. Tajam. Cepat. YiFan sampai harus berpikir sebelum ia berbicara dengannya. Dan YiFan suka itu.

Aku menyukainya.

"Tidak. Aku tidak memperlakukan semua karyawanku dengan cara ini. Belum pernah. Hanya satu, yang terus aku pikirkan sejak malam Minggu."

Ok, mungkin YiFan tidak memikirkan Junmyeon ketika threesome dengan si rambut merah bersaudara. Tapi setidaknya sebagian benar.

"Kau tidak bisa diperbaiki," kata Junmyeon dengan cara yang memberitahu YiFan jika dia berpikir bahwa YiFan adalah sosok yang manis.

Aku memiliki banyak hal, sayang. Manis bukanlah salah satunya.

"Aku melihat sesuatu yang kuinginkan, dan aku mengejarnya. Aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan."

Kalian tidak akan pernah mendengar sebuah pernyataan yang lebih benar tentang YiFan daripada itu. Tapi mari kita berhenti untuk sementara waktu di sini, OK? Jadi YiFan bisa memberi kalian gambaran lengkapnya.

Kalian tahu, ibu YiFan, Anne Wu, selalu menginginkan keluarga besar —lima, mungkin enam orang anak. Tapi Luhan enam tahun lebih tua dari YiFan. Enam tahun mungkin terlihat tidak terlalu jauh untuk kalian, tapi untuk ibunya itu adalah seumur hidup. Ceritanya, setelah melahirkan Luhan, ibunya tidak bisa hamil lagi —tapi itu bukan karena kurang berusaha. Melainkan karena "Infertilitas sekunder," mereka menyebutnya. Ketika Luhan berumur empat tahun, ibunya hampir menyerah pada harapan untuk mempunyai banyak anak.

Dan kemudian coba tebak? Dua tahun kemudian YiFan lahir.

Kejutan.

YiFan adalah bayi ajaib ibunya. Malaikat berharga yang berasal dari Tuhan. Harapan yang terkabul. Jawab atas doa-doanya. Dan dia bukan satu-satunya yang berpikir begitu. Ayah YiFan juga sangat senang, bersyukur memilki anak yang lain —anak laki-laki. Ini adalah fakta jika anak laki-laki adalah kebanggaan para ayah. Karena mereka berpikir jika mereka memiliki keturunan dari jenisnya. Dan Luhan —tahun-tahun sebelum menjadi si menyebalkan— senang sekali akhirnya mempunyai seorang adik laki-laki.

YiFan adalah apa yang keluarganya inginkan dan tunggu selama lima tahun. YiFan adalah pangeran kecil. YiFan tidak mungkin berbuat salah. Segala yang ia inginkan pasti terkabul. YiFan adalah yang paling tampan, yang paling cemerlang. Tidak ada seorang pun yang lebih ramah dan lebih manis daripada dia. YiFan dicintai melebihi kata-kata —dimanja dan juga dilayani.

Jadi, jika kalian menganggap YiFan sombong? Egois? Manja? Kalian mungkin benar. Tapi jangan marah padanya, ini bukan salahnya. YiFan adalah produk dari bagaimana ia dibesarkan.

Sekarang karena pembicaraan kita sudah keluar jalur —mari kembali ke kantor YiFan. Bagian berikut ini adalah penting.

"Dan kupikir kau seharusnya tahu, aku menginginkanmu, Junmyeon."

Lihat bagaimana pipi Junmyeon bersemu merah, dengan sedikit keterkejutan di wajahnya? Lihat juga bagimana wajah menggemaskan itu berubah menjadi serius, dan tatapannya bertemu dengan mata YiFan kemudian memandang ke bawah lantai?

That's right. YiFan telah mempengaruhinya. Dan Junmyeon juga menginginkan pria itu. Tapi gadis itu melawannya. YiFan bisa melihatnya dan ia yakin bisa mendapatkannya. YiFan bisa membawa Junmyeon tepat kearah yang sangat dia inginkan.

Pengetahuan ini membuat YiFan menahan erangan saat organ bawahnya bereaksi sekuat tenaga. YiFan ingin berjalan menghampiri Junmyeon dan menciumnya sampai dia tidak bisa berdiri. YiFan ingin menyelipkan lidahnya di antara bibir ranumnya sampai lututnya lunglai. YiFan ingin mengangkatnya. Melingkarkan kaki gadis itu dipinggangnya. Menyandarkan tubuhnya di dinding dan...

"Hai, Kris. Ada kemacetan lalu lintas di jalan fifty third. Jika kau ingin mengadakan pertemuan jam empat, kau harus segera pergi." Suara Kyungsoo terdengar dari telepon di mejanya.

Terima kasih Kyungsoo, cara yang bagus untuk merusak suasana, sekretaris yang mengagumkan dan pemilihan waktu yang mengerikan.

Junmyeon bangkit dari kursinya, bahunya kaku, punggungnya lurus. Dia mendekat ke arah pintu dan menolak untuk menatap YiFan. "Jadi, terimakasih untuk waktumu Mr. Wu. Kau... ah... beritahu aku kapan kau menginginkanku."

YiFan mengangkat alisnya penuh arti oleh kata-kata Junmyeon. YiFan suka saat Junmyeon tersipu —dan YiFan lah orang yang melakukan ini padanya.

Masih menghindari kontak mata, Junmyeon menyeringai kecil. "Tentang Alphacom dan Genesis. Beritahu aku apa yang harus kulakukan... apa yang kau ingin aku lakukan... apa... oh, kau tahu apa yang kumaksud."

Sebelum gadis itu keluar dari pintu, suara YiFan menghentikannya. "Junmyeon?"

Gadis itu menoleh kearah YiFan, matanya penuh tanya.

YiFan menunjuk ke dirinya sendiri. "Panggil saja Kris."

Junmyeon tersenyum, memulihkan dirinya sendiri. Kepercayaan diri alaminya kembali ke dalam matanya. Kemudian matanya bertemu dengan tatapan YiFan. "Benar, Aku akan bertemu denganmu nanti, Kris,"

Setelah Junmyeon keluar dari pintu, YiFan berkata pada dirinya sendiri, "Oh, ya. Ya, pasti."

Saat YiFan memeriksa tasnya sebelum pergi ke pertemuan, YiFan menyadari ketertarikan ini —tidak, itu bukan kata yang cukup kuat— kebutuhan yang ia miliki pada Junmyeon tidak akan hilang. YiFan bisa berusaha dan melawannya, tapi YiFan hanya seorang pria, demi Tuhan. Jika dibiarkan tak terselesaikan, hasratnya untuk Junmyeon bisa mengubah kantornya, tempat yang YiFan cintai, menjadi sebuah ruang penyiksaan dari frustasi seksual.

YiFan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Jadi, YiFan punya tiga pilihan: Pertama, dia bisa keluar dari pekerjaannya. Kedua, YiFan bisa membuat Junmyeon keluar dari pekerjaannya. Atau ketiga, YiFan bisa membujuk Junmyeon untuk berbagi satu malam yang sangat menyenangkan dengannya. Dimana kedua belah pihak melampiaskan hasrat masing-masing —Persetan dengan konsekuensinya.

Tebak mana yang akan YiFan pilih?


TBC


[1] due diligence: proses investigasi atau survei yang dilakukan oleh suatu pihak ke pihak lainnya sebelum proses penandatanganan kontrak/berlakunya kerjasama diantara semua pihak.

[2] filet mignon: nama sejenis steak.

[3] sloppy joes: sandwich yang terdiri dari daging giling, bawang, saus tomat atau kecap dan bumbu lainnya.

[4] Blue balls: istilah yang digunakan untuk rasa nyeri atau ketidaknyamanan di testis yang terjadi ketika seorang pria terangsang secara seksual tanpa ejakulasi.

Well, ini sangat panjang, karena saya menggabungkan 2 bab. Semoga ga capek ya bacanya. :D

Saya sangat berterima kasih pada: akiko ichie:: aif gii myeonnie:: Alicia Juliet Wizards:: KrisHo WonKyu:: dhearagil:: Duo Bubble-Kim316:: dewo1804:: Guest:: j12:: Emmasuho:: hae15:: KyuraCho:: Gigi onta:: anon:: LittleMyeon:: Raemyeon:: nam mingyu:: park hanra:: Krisho Hyemi.

Yang sudah mereview ff ini. Dukungan kalian sangat berarti.

Oke, untuk yang bertanya siapa pengarang novel ini, kalian bisa baca di diclaimer ff ini. Mohon review-nya. \^o^/

Khamshamnida.