MikoRei Week 2016 day 1 with extra prompt from one of 7 sins: Sloth. Enjoy!


...


Project K (c) GoRa & GoHands

SEVEN SINS' KALEIDOSCOPE ~Chain of Reluctance~

Dedicated for MikoRei Week 2016, Day 1: First Time

.

"Dan selama ini aku memilih untuk diam. Berpikir bahwa ia pasti akan mengerti dan mengenalku dengan sendirinya."

.

.

.

.

.

Menyeberangi sungai nyatanya tidak semudah apa yang Suoh Mikoto bayangkan sebelumnya. Dan arus sungai tidak pula setenang apa yang terpantul ke dalam indera penglihatannya. Karena ketika Mikoto menaiki sampan kayu tersebut, sebelum Kusuhara sempat mengayuh dayung, arus yang terasa kuat itu nyaris menyeret perahunya untuk berlayar mengarungi arah aliran sungai. Dan tidak hanya itu. Berkali-kali sang pengayuh sampannya tampak kesulitan untuk mengarahkan perahu ke tepian di seberang sana. Berkali-kali pula ia merasakan getaran sampannya menabraki benda-benda keras maupun dihajar riak air keruh menghitam di bawah sana.

"Butuh bantuan, Kusuhara?"

Kusuhara Takeru, berdiri di belakangnya sembari mengayuh dayung, tertawa kecil di sela-sela suara menyerupai tarikan napas putus-putus. "Tidak perlu, Suoh-san. Dayungnya hanya ada satu."

"Aku bisa mengayuh menggunakan tanganku."

Kekeh tawa lainnya terdengar dari balik punggungnya. "Aku tahu Anda saat ini hanya bisa melihat diri Anda sendiri dan aku, tentunya. Namun jika kemampuan indera penglihatan Anda utuh, maka kuyakin Anda tidak akan mau untuk sekedar mencelupkan jari di permukaan sungai sekalipun."

"Hmm…." Mikoto menggumam. Matanya mencari-cari hingga ke bawah lapisan permukaan air. Berusaha menemukan apa yang seharusnya bisa terlihat di sana. "Banyak hiu atau ular berbisa di sungai ini?"

"Sayangnya bukan, Suoh-san."

"Jadi…?"

"Jika kukatakan, yang menabraki kita dari tadi bukan hanya sekedar riak arus sungai, melainkan tulang-belulang yang terapung di permukaan, serta yang kerap menggoyangkan perahu kita adalah arwah-arwah yang tengah berlomba untuk menaiki perahu ini, Anda akan mempercayainya?"

Kalimat jawaban itu berhasil membuat tengkuknya merinding ngeri.

"… arwah, katamu?"

"Ya. Tidak semua orang yang mati di dunia lantas datang ke tempat ini untuk menunggu jemputannya datang, seperti yang dilakukan Suoh-san sebelumnya. Orang-orang yang selama hidupnya melakukan tindak kriminal, membunuh, merampas hak milik orang-orang di sekitarnya… arwah merekalah yang sekarang terapung tanpa arah di dalam sungai. Arus tidak akan membawa mereka menuju hilir, dan tidak pula mereka bisa menyeberangi sungai ini. Sekalipun mereka mampu memanjat ke tepian, tidak ada perahu yang akan datang menjemput mereka."

"Dan mereka pun mengincar perahu lainnya?"

"Mereka tidak akan bisa mengejar perahu yang pergi ke hilir, menuju gerbang reinkarnasi. Mereka mendatangi kita karena kita bergerak lebih lambat, melawan aliran air, ditambah lagi… kita sekarang sedang menuju tempat di mana arwah yang telah mati diberikan semacam kesempatan terakhir untuk menyelesaikan hal-hal krusial yang menghambat proses reinkarnasinya. Ya, seperti Anda saat ini. Dan tentunya, semua orang menginginkan kesempatan terakhir itu, bukan?"

Mikoto terdiam. Kesempatan terakhir, katanya? Jika saja dirinya datang tidak bersama dengan pria itu, jika kematiannya adalah jalan yang harus ditapakinya seorang diri, dan jika serpihan jiwanya tidak terbelenggu lantas menjadi harap bagi seorang Munakata Reishi yang saat itu masih hidup dan bernapas di dunia manusia, maka Mikoto yakin bahwa ia tidak akan memerlukan kesempatan terakhir tersebut.

Atau… sungguhkah demikian? Lalu mengapa ada rasa yang menggelitik dalam dadanya?

"Kita sudah sampai, Suoh-san."

Suara Kusuhara membangunkannya dari lamunan. Sampannya kemudian menepi, diiringi satu hentakan yang cukup keras, nyaris membuatnya oleng. Sang pendayungnya itu turun terlebih dahulu, lalu menatapnya dan melemparkan satu senyum ganjil ke arahnya.

"Silakan turun, Suoh-san. Dan berhati-hatilah. Karena ketika kaki Anda menapak turun dari perahuku, saat itu pula perjalanan Anda akan dimulai."

Mendengus tawa sembari membiarkan seringai kecil itu tetap bertengger di bibir, Mikoto mengangkat tubuhnya. Merasakan derit kayu di bawah kakinya, kemudian melompat turun dari sampannya. Dan apa yang disampaikan Kusuhara Takeru ternyata memang benar adanya. Karena pemandangan di sekelilingnya yang berubah. Kabut putih lantas menjadi dinding tinggi menjulang. Mengurungnya. Bahkan ia tidak lagi bisa melihat maupun merasakan keberadaan Kusuhara.

Meski seluruh inderanya menangkap sesuatu. Desir angin. Gemerisik dedaunan. Wangi tanah. Luapan hangat nostalgia dalam dadanya.

Ia tahu. Ujiannya telah dimulai.


...


"Maaf? Ada perlu apa denganku?"

Suoh Mikoto kecil, dengan es krim stroberi terkulum di mulut, menatap lurus pada seorang bocah laki-laki, mungkin sebaya dengannya, mengenakan celana pendek hitam dan kemeja biru muda yang setengah bagiannya telah tertutup lumpur, ditambah kacamata membingkai sepasang iris ungu cerah. Sementara anak laki-laki yang menegurnya itu balas menatap padanya. Penuh rasa ingin tahu. Penuh desakan atas tanya yang dilontarkan.

"Tidak ada perlu apa-apa. Aku hanya sedang memperhatikanmu memanjat pohon dan terjatuh lalu terguling demi menangkap kumbang. Menyenangkan untuk dilihat."

Semburat merah muncul di pipi anak laki-laki itu. "Ti—tidak sopan!"

Mikoto mengangkat sebelah alisnya. "Di mana salahku? Aku hanya memperhatikanmu. Aku tidak berusaha menarik celanamu sampai melorot atau semacamnya."

Detik berikutnya, satu cap berbentuk telapak tangan merah mampir dan menghajar telak pipinya.

"Manusia barbar!"

Mikoto tertawa. Tergelak. Sementara anak laki-laki itu, disertai raut wajah memerah, bibir mengerucut, dan kening bertaut, membereskan satu kotak berisikan beberapa ekor kumbang dan sebuah jaring penangkap serangga, untuk kemudian melangkah pergi, setengah berlari meninggalkan taman kota itu.

.

.

"Apakah Anda yakin hanya akan seperti ini akhirnya?"

Mikoto tersadar. Gambaran masa lalunya di sebuah taman di musim panas. Pertemuan pertamanya dengan Reishi, bahkan jauh sebelum takdir para raja merantai tangan dan kakinya. Ah, betapa ia nyaris melupakannya. Semburat manis dan polah polos dari seorang Munakata Reishi yang berhasil membuat jantungnya berlari saat itu. Sementara pertemuan mereka yang berakhir tanpa perkenalan, tanpa kata, dan Mikoto tidak pernah lagi menemukan sosok anak laki-laki menggemaskan itu di mana pun. Tidak pernah pula mereka bertukar nama.

Atau bahkan… mungkin hanya dirinya yang mengingat pertemuan itu, dan tidak bagi Reishi.

"Apakah akan ada yang berubah jika aku melakukan sesuatu?"

Gaung suara Kusuhara kembali terdengar di telinganya. "Aku tidak jauh-jauh mengantarkan Anda ke tempat ini hanya untuk membiarkan Anda menonton masa lalu Anda tanpa Anda melakukan sesuatu untuk memperbaikinya."

.

.

"Tunggu!"

Mikoto kecil mengulurkan tangannya, menangkap lengan anak laki-laki itu. Dan bocah itu berbalik, menatap ke arahnya. Lengan yang berusaha beringsut untuk lepas dari genggamnya. Namun Mikoto tidak menyerah. Entah mengapa. Mikoto kecil tidak ingin melepaskan.

"Maaf."

Hanya kata-kata itu yang berhasil terucap dari mulutnya. Pandangannya beralih. Degup jantungnya yang menderu, mengetuk hingga gendang telinganya. Mikoto kecil tidak mengerti. Untuk pertama kalinya, ada hal yang tidak ia mengerti dari dirinya sendiri.

"… sampai kapan kau akan mencengkeram tanganku?"

Tergagap, Mikoto melepaskan genggamannya. Kedua tatapan mereka yang kembali bertemu. Anak laki-laki di hadapannya itu masih terdiam. Seolah menunggunya. Seolah menantikan kata-kata yang akan terucap dari mulutnya.

Tanpa disangka, ia tersenyum seraya mengulurkan tangan.

"Aku Mikoto. Kalau kau sedang mengumpulkan serangga-serangga di taman ini, aku tahu tempat yang bagus dan cara yang mudah untuk melakukannya."

Beberapa detik tangannya menggantung di atas udara, hingga anak laki-laki itu mengangkat tangan, membetulkan letak kacamata, lalu balas menjabat tangannya. Hangat.

"Namaku Reishi. Senang berkenalan denganmu, dan mohon bantuannya. Maaf karena sudah menamparmu, dan jika kau ingin membantuku, lebih baik kau habiskan dulu es krim yang nyaris meleleh di tanganmu itu."

.

.

"Dengan begini, sudah selesai?"

Sosok Kusuhara Takeru berdiri di sampingnya. Ada tawa yang meluncur dari pemuda itu.

"Oh, jangan khawatir, Suoh-san. Perjalanan Anda masih panjang."

.

.

Panas menyengat di atas kepalanya. Linting tembakau yang terisap cepat memenuhi paru-parunya. Sementara sang Raja Biru di sampingnya—tanpa seragam yang tampak menggerahkan tergantikan balutan pakaian kasual ditemani jaket tipis tersampir di bahu—sepertinya telah selesai memberinya kuliah umum mengenai peraturan yang harus dipatuhinya mengenai larangan merokok di sembarang tempat, serta tawaran bekerja sama antara klannya dengan klan yang dikepalai oleh pria muda itu.

Mendengus seraya menancapkan rokoknya di atas aspal, Mikoto melemparkan kata-katanya. "Sudah selesai dengan semua ceramah membosankanmu itu?"

Munakata Reishi melirik ke arahnya. Ada tatapan angkuh yang tidak kalah arogan dengan sorot miliknya.

"Aku tidak heran jika di masa mendatang aku harus mengulang kata-kataku setiap kali aku bertemu denganmu, Suoh Mikoto. Lalu, jika kukatakan aku telah selesai mengajarimu etika dan peraturan masyarakat, apa yang akan kau lakukan?"

"Tidak ada," jawab Mikoto, mengedikkan bahu. "Kalau kau masih akan menceramahiku, aku akan pergi dari sini. Dan jika tidak, aku akan merokok satu batang lagi."

"… kau memang manusia keras kepala. Aku ingin tahu otak bebalmu itu terbuat dari apa."

Mikoto hanya terkekeh sembari menyelipkan sebatang tembakau lain di bibirnya, lalu menjentikkan jari, mengisap pangkalnya, dan membiarkan asap putih tipis membumbung di udara. Gesturnya yang semula membuatnya berpikir bahwa lelaki muda di sampingnya itu akan kembali mengomelinya, atau malah habis kesabaran dan meninggalkannya seorang diri di sana, nyatanya meleset dari perkiraannya.

Karena Munakata Reishi lantas duduk di sisinya. Sebelah tangan laki-laki itu kemudian mengeluarkan satu kotak rokok untuk mengeluarkan satu batang linting tembakau dari dalamnya. Dan ketika Reishi merogoh saku celananya, tampak mencari-cari pemantik, Mikoto refleks menjulurkan tangannya, menjentik jari tepat di depan ujung tembakau yang telah terjepit di mulut Reishi.

"Penyalahgunaan kekuatan."

"Setidaknya kau bisa berhemat dan tidak perlu lagi membeli pemantik."

Lalu diam. Sunyi yang menggantung. Hanya ditemani gaung suara tonggeret dari kejauhan. Meski Mikoto sama sekali tidak merasa risih akan sepi yang menemani. Seolah keberadaan seorang Munakata Reishi di sampingnya adalah hal yang lumrah. Seakan tanpa hadirnya kata-kata sekalipun, pria itu akan mengerti apa yang ada dalam kepalanya.

… atau, benarkah demikian?

"… aku tidak menyangka Raja Biru ternyata seorang perokok."

Kata-kata yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Bahkan membuatnya sedikit terkejut. Tidak biasanya. Tidak seharusnya. Mengapa…?

Satu hela napas terdengar dari laki-laki itu. "Aku hanya merokok pada beberapa kesempatan tertentu. Jika memang tidak ada hal lain yang perlu kulakukan saat itu, atau… jika aku bersama manusia barbar sepertimu, ya, kecenderunganku untuk menarik sebatang rokok pasti akan muncul begitu saja. Kurasa seperti itu."

Ada pandang yang mengarah padanya. Satu senyum tipis yang ditujukan padanya. Mikoto nyaris berpikir matanya tengah membohongi dirinya sendiri. Namun rupanya tidak. Raut wajah melunak dari pria muda itu benar-benar hadir di sana. Mengetuk sesuatu dalam dadanya. Seakan pria itu tengah menanggalkan seluruh atribut sang Raja Biru, dan yang kini duduk bersebelahan dengannya hanyalah seorang laki-laki bernama Munakata Reishi.

"Suoh Mikoto, kau… adalah anak kecil yang kutemui di taman kota belasan tahun lalu itu, bukan? Yang membantuku menangkap kumbang, jangkrik, belalang, dan tonggeret?"

Panas membuncah dari dalam benaknya, menguar ke sekujur tubuhnya. Mikoto ingin tertawa. Ia ingin larut dalam rasa nostalgia itu.

"Dan kau adalah anak laki-laki yang pertama kali berani menamparku di pipi, Munakata."

"Karena perilakumu yang di luar ambang batas kewajaran sebagai anak kecil, Suoh. Oh, dan sepertinya sikap barbar dan serampanganmu itu masih belum terobati hingga kau dewasa seperti ini, eh? Lalu takdir membawa kita sebagai para pemilik Pedang Damocles? Rasanya aku tidak ingin tahu, akan jadi seperti apa kehidupanku selanjutnya."

Namun di balik nada pedas dan kalimat sarkas itu, Mikoto menemukannya. Binar cerah dari sepasang ungu yang pernah ditemuinya belasan tahun lalu ketika seorang bocah laki-laki balas membalas uluran tangannya. Ungu yang tak lagi terpancang padanya. Perhatian sepasang ungu bersorot teduh itu kini dicuri oleh langit biru luas dan arak-arak awan menaungi keduanya.

Untuk pertama kalinya, Mikoto tidak menyesali tangan takdir yang membelenggunya pada pedang sewarna merah darah yang menggantung maya di atas kepalanya.

.

.

"Anda sudah fasih melakukannya, Suoh-san."

Kening Mikoto bertaut. "Maksudmu?"

"Anda mengucapkannya. Anda mengatakan kata-kata yang tidak sempat Anda ucapkan saat itu."

Ia lantas mengangkat sebelah tangannya, menyisir surai-surai semerah bara apinya hingga ke tengkuk. Pertanda canggung.

"Hanya dengan berkomentar tentang dirinya yang ternyata seorang perokok?"

"Tapi Anda kini mengerti letak perbedaannya, bukan? Apa yang terjadi di dunia ketika Anda masih hidup, ketika Anda memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa, dan Kapten berakhir mematikan rokoknya yang baru setengah dihisap untuk kemudian meninggalkan Anda tanpa kata-kata. Jika Anda bandingkan dengan apa yang Anda lakukan baru saja, meskipun tindakan itu begitu kecil dan tidak bermakna, maka Anda mengerti bahwa kata-kata yang begitu sederhana sekalipun mampu mengubah segalanya, bukan?"

Terdiam. Penjelasan Kusuhara yang seolah menampar ego dalam dirinya… tidak.

Dinding ego yang terasa meretak dan mulai meruntuh di sekelilingnya.

Mikoto menghela napas panjang. Meski ia tahu ada senyum yang tersungging di bibir. "Aku mengerti kenapa kau menjadi anak buahnya. Kau pandai menceramahi, sama sepertinya."

Kusuhara tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya tawa geli yang membalas ucapannya.

.

.

Uji coba Mikoto dalam menawarkan satu teguk single scotch pada sang Raja Biru berakhir melabuhkannya pada petaka lainnya. Atau sebut saja, Munakata Reishi yang lantas tidak berhenti meneguk berbotol-botol sake hanya demi membasmi rasa kebas di mulut akibat whisky yang dipesannya itu, dan berlanjut memaksanya untuk membawa pria itu pulang….

"Jangan ke markasku—hik… pria barbar…. Kau tidak tahu… apa yang kupertaruhkan jika—hik… jika aku pulang ke sana, eh?"

Mikoto menghela napas seraya menuruti perintah laki-laki itu dan mengalungkan lengan Reishi di lehernya. Ia lalu menyeret langkahnya, membawa pinggang ramping itu dalam rangkulannya. Wangi aroma laut bercampur manis sake bersemilir di indera penciumannya. Memabukkan. Lebih mematikan dari minuman keras terkuat yang pernah ditenggaknya.

Melangkah keluar dari bar, Mikoto mengangkat tangannya, melambai ke arah taksi terdekat. Ia lantas membopong tubuh lunglai itu dan merebahkannya pada sandaran jok belakang. Namun ketika suara dengkuran kecil terdengar dari pria itu, Mikoto mendengus.

"Jangan tidur, Munakata. Aku tidak tahu di mana rumahmu."

"Dompet… di saku celana…."

Mikoto mendecak, namun lagi-lagi menuruti kata-kata itu. Dengan gerakan canggung ia mencari dan menarik keluar dompet milik Reishi, membukanya dan mengeluarkan kartu tanda pengenal yang mencantumkan alamat laki-laki itu kemudian menyerahkannya pada supir taksi. Tidak lama kemudian Mikoto menemukan dirinya telah melaju, membelah hening larut malam. Jajaran lampu-lampu bergerak cepat, terlewati laju kendaraan yang ditumpanginya. Sementara upaya yang dilakukan benaknya agar logikanya tidak meninggalkannya di tempat.

Tidak ketika Reishi menjatuhkan kepala dan bersandar di lengannya. Tertidur pulas dengan suara dengkur yang begitu manis, menginvasi indera pendengarannya.

"Kita sudah sampai, Tuan."

Setelah membayar supir taksi dan memapah Reishi turun dari mobil, keduanya berjalan masuk ke dalam satu bangunan apartemen mewah. Tidak heran, pikir Mikoto. Pejabat pemerintahan dengan posisi tertinggi semacam Reishi pasti memiliki uang untuk menyewa apartemen berkelas, di luar kamar asrama markas Scepter 4. Melirik sekilas pada kartu tanda pengenal di tangannya, Mikoto membawa Reishi menuju lift, menekan tombol lantai tujuan, lalu melangkah keluar melewati koridor hingga ia tiba di kamar paling ujung di lantai apartemen tersebut.

Tanpa disadarinya, pria dalam rangkulannya itu terbangun, tampak merogoh saku celana, lalu mengeluarkan dompet dan kartu lainnya untuk membukakan pintu apartemen. Mikoto melepaskannya, meski langkah oleng laki-laki itu tetap memaksanya untuk berjalan mengekori Reishi. Hingga sang tuan rumah menjatuhkan tubuh di atas sofa beludru empuk, diiringi satu tatap ke arahnya.

Pandang yang berhasil membangkitkan api dalam jiwanya. Gelora hasrat yang membakar sukmanya.

Mikoto menelan ludah. Berusaha menahan segala desir menggila yang nyaris melalap laju kerja pikirannya. "Kalau kau baik-baik saja, aku pulang sekarang."

"… setelah memberiku satu teguk minumanmu sampai aku harus minum berbotol-botol sake untuk menghilangkan rasamu di mulutku, kau akan pulang begitu saja, Suoh Mikoto?"

Habislah sudah. Ia tidak bisa berkutik. Sementara gejolak napsu yang tumpah-ruah, mengunci gerak tubuhnya, mengontrol tangan dan kakinya, mematikan logikanya. Langkahnya perlahan mendekati sofa, merayap layaknya binatang buas mengincar mangsanya. Keringat meluncur turun dari tengkuknya. Jalaran rasa yang melilit dalam perutnya.

Ia menyeringai. Tubuhnya yang jatuh di samping pria itu. Sebelah telapak tangannya yang kemudian menangkap sisi wajah itu. "Kau tidak tahu monster macam apa yang sedang kau hadapi, Munakata."

Laki-laki itu hanya tersenyum. Sama-sama menyeringai. Sama-sama penuh arogansi. Bibirnya yang kemudian dicuri dengan satu hentakan kasar. Dingin. Apakah Raja Biru memiliki suhu tubuh yang begitu rendah? Ataukah memang dirinya saja, sebagai Raja Merah, yang selalu menguar panas api tanpa henti?

Meski Mikoto tidak lagi mempunyai waktu untuk berpikir. Pertarungan akan dominasi lantas memenuhi isi kepalanya. Tubuh Reishi yang kemudian dijatuhkannya. Lidah yang saling bertaut. Jemari lembut di sela helai-helai merahnya. Lembar demi lembar pakaian yang ditanggalkan. Getar napas berangsur menjadi desah tertahan. Cumbunya yang mendarat, sengaja meninggalkan tapak semerah bara apinya di atas kulit putih itu. Kedua tangannya yang lincah menjamah di sana-sini. Desah yang lambat-laun berubah menjadi lenguh, terdengar bagai alunan musik yang memacu adrenalinnya. Peluh di kedua tubuh yang mulai membasahi.

Lalu namanya yang dibisik rendah oleh suara itu. Di tengah erang. Di antara hasrat yang menagih untuk dipuaskannya.

"Suoh…. Ahh—"

Ia menghentak. Geraknya yang meliar. Membawa tubuh yang tengah menyatu dengannya itu berayun mengikuti iramanya. Membuatnya lupa akan rasa sengat dari kuku-kuku yang menancap di punggungnya. Dan ketika ia tiba di puncak kenikmatannya, sepasang emas miliknya kembali beradu dengan tatapan itu. Penuh emosi. Penuh gairah.

"Tidak pernah terpikir sebelumnya… kau akan membawaku ke dalam hubungan seperti ini, Suoh…."

Desah bergetar, meluncur dari pita suaranya. Ia tahu, ada kata yang harus diucapnya. Ada kalimat yang harus dirangkainya. Ia tahu, diam hanya akan menuntun dirinya dan pria itu untuk berjalan dalam kegelapan.

Melepaskan tubuh di bawahnya, disertai hela napas kecil, Mikoto menjawab, "Kau keberatan?"

"… aku hanya tidak tahu bahwa kau adalah tipe orang yang… kau tahu, memiliki selera terhadap hubungan sesama jenis."

Kekeh tawa di antara suaranya yang memberat. "Dan kau sendiri, lebih berselera jika kau menegang ketika mengelus tubuh perempuan?"

Pria di bawahnya itu mendengus. Meski ditemani satu semburat merah jambu manis di pipi. "Kau tahu aku tidak akan segan untuk menghentikan segala tindakan yang tidak berkenan bagiku."

"Hee…. Aku tersanjung kalau begitu, Munakata."

"Jangan berbesar kepala, Suoh. Kalau sudah begini, harus ada beberapa peraturan tambahan yang harus kuterapkan demi kebaikan bersama."

"Demi menjaga citra baikmu sebagai Raja Biru dan pegawai pemerintah, begitu maksudmu?"

Tidak ada jawaban. Hanya satu tinju di perutnya yang kemudian mendorong tubuhnya menjauh dari pria itu. Disertai warna merah yang semakin merona di wajah Munakata Reishi, yang tidak mungkin luput dari penglihatannya.


...


Mikoto menarik napas. Kehangatan yang dikenalnya, dirindunya, merayap membasuh seluruh raganya. Ada panas di ujung matanya. Ada sesak menyeruak di dadanya.

Ah, rupanya seperti itu….

"Jika Anda tidak menanyakan pendapat Kapten mengenai, ehm… hubungan seperti apa yang Kapten inginkan, maka Anda—"

"—maka aku tidak akan pernah mengerti alasan di balik segala peraturan tidak tertulis yang selalu ia peringatkan padaku."

Sosok Kusuhara di sisinya itu mengangguk. "Kapten adalah figur penting dalam masyarakat. Ada citra yang harus dijaga. Ada tanggung jawab yang harus dipikul. Namun di balik semua itu, Kapten tetaplah manusia biasa, tidak ubahnya seorang laki-laki yang membutuhkan tempat bersandar. Sekuat dan setangguh apapun Kapten sebagai Raja Biru, Kapten tidak bisa membuang sisi manusianya sebagai seorang Munakata Reishi. Dan pada Anda lah, kepercayaan untuk bersandar itu diberikan olehnya. Bahkan di setiap kali-pertama kenangan yang kalian tukar, Kapten tidak ragu untuk memilih Anda yang mungkin saat itu belum terlalu dikenalnya."

"Dan selama ini aku memilih untuk diam. Berpikir bahwa ia pasti akan mengerti dan mengenalku dengan sendirinya."

"Sementara yang menjadi alasan Anda untuk tidak pernah berkata apapun, adalah…?"

Mikoto mengangkat sebelah alisnya. "Sudah jelas, 'kan? Hal itu merepotkan. Aku malas berurusan dengan hal-hal merepotkan seperti itu."

"Tapi sekarang Anda mengerti akibat dari kemalasan Anda itu, bukan? Suoh-san, tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan tindakan atau diam semata. Banyak hal yang tetap harus Anda jelaskan menggunakan kata-kata Anda sendiri."

Ia tidak menjawab. Hanya dengus geli tertahan yang keluar dari mulutnya. Ia kemudian memandang ke sekeliling. Menatap pada kepungan dinding kabut mengitarinya. Cukup lama Mikoto mengawasi dan mengamati, menanti perubahan nuansa dan gambaran seperti yang ia lalui sebelumnya untuk membawanya menuju masa lalu. Meski pada kenyataannya, tidak ada yang terjadi.

"Lalu…? Setelah ini apa—"

"—Suoh…?"

Mikoto terbelalak. Tubuhnya sontak berbalik. Kedua matanya menyipit. Mencari. Kedua tangannya yang kemudian mengepal.

"Munakata!"

Dan dua buah siluet menjelma dari dalam kabut. Begitu buram dan kabur. Namun Mikoto yakin, dari sanalah asal suara tersebut. Kedua kakinya yang kemudian berlari. Lengannya yang lantas terjulur.

"Munakata! Munakata, tunggu—"

Siluet itu bergerak. Menjauh. Sementara tubuhnya yang dihempas angin kencang. Ia terpelanting dan terjatuh. Kembali ke tempatnya semula berdiri. Geram. Tatapannya nyalang mengarah pada Kusuhara.

"Apa maksudnya ini—"

Meski kata-katanya terputus. Kepala dayung milik sang pengayuh perahunya yang melesat dan mendarat tepat di depan kedua matanya dalam satu gerak cepat, seakan nyaris memutuskan kepalanya, menghalanginya untuk bangkit. Sedangkan senyum dari Kusuhara Takeru terpancang padanya. Dingin. Misterius. Meremang bulu kuduknya.

"Perjalanan Anda belum berakhir, Suoh-san. Dan sampai Anda menyelesaikan semuanya, Anda maupun Kapten tidak akan pernah saling menemukan satu sama lain."


...


p.s. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca, dan sampai juga esok hari di tema yang kedua~!