A Gundam Seed Fanfiction
I Know You With Me ~part 2~
Rate: T
Genre: Friendship, Hurt/Comfort
Rei : Hhe… ketemu lagi nie,… humb… ternyata ini jadinya twoshot ya? Hhe… maklum, saya agak bingung, gimana bedain antara oneshot sama twoshot… *digetok* tapi lupakan! Nah, di part ini beneran the end kok… sooo…. Aku harap kalian suka dengan ff gajeku ini… hhe. Kritik dan saran sangat diterima, yang pedes juga nggak apa, tapi jangan kepedesen *plak!*.
Cagalli: Rei! Lu kerjaannya ngomong melulu… kapan mulainya?
Lacus: iya Rei… kasihan yang ngebaca…
Rei: iya, ntar lagi juga selesai…
Athrun: Rei, persingkat waktu kepana?*digampar*
Kira: dudutz! Bukan kepana, tapi kenapa
Athrun: hehe… iya, maksudku ya itu…
Lacus: udah. Inget waktu…
Cagalli: cepetan omong disclaimernya!
Rei: ngg… tapi aku…
Kira: lama Rei…
Lacus: saya saja… doesn't own Gundam Seed or Gundam Seed Destiny
Kira+Athrun+Cagalli: happy reading….^^
Rei: huee...! kenapa sih kalian ini... *mojok*
"Dia melihatku yang tak bisa bergerak, dan berjongkok di sisiku," Cagalli masih saja asik 'bermain' dengan nisan di hadapan mereka itu, "Tak berapa lama, aku melihat langit-langit kembali runtuh…"
Cagalli berhenti sejenak, memberi sedikit jeda pada ucapannya.
"Dengan tenaga yang tersisa, aku melingkarkan tanganku untuk melindungi dia. Lalu… aku pingsan," ucap Cagalli dengan nada yang tampak agak sedikit lega.
"Begitu sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Kaki kiri dan tangan kananku sudah diobati dan diperban. Waktu itu, hanya ada Athrun di sampingku, dia terus ada di sini menungguku sampai sadar. Aku bertanya bagaimana keadaan dia, dan Athrun bilang…"
"Semua sudah terlambat?" tanya Lacus
Cagalli hanya menyunggingkan senyum palsu yang sedari tadi, terus saja ia pasang. Dia mulai berhenti membersihkan debu yang menempel pada nisan tersebut. Perlahan, dia mulai menarik kembali tangan yang ia gunakan dan berganti mengusap-usap tanah yang berada di dekatnya. Lacus menatap sendu dan iba pada gadis di sampingnya ini. Tatapan Cagalli tampak sangat tertekan, sangat merasa bersalah. Dipenuhi oleh segenap penyesalan.
"Dan aku…"
"Sudahlah… semuanya sudah terjadi…"
Tepat pada saat Cagalli mau memulai lagi, Lacus segera memotong perkataannya sambil menepuk tangan kiri Cagalli. Tanpa ia sadari, ternyata Lacus sudah berdiri di sampingnya dan mulai ikut berjongkok, sama seperti dirinya. Cagalli menatap wajah Lacus dengan seksama. Di wajah cewek itu, tampak kesedihan yang dalam, yang mungkin lebih besar dari apa yang ia rasakan. Namun, tak hanya kesedihan saja yang ada di sana. Senyum kebahagiaan. Itulah hal lain yang menghiasi wajah tenang, cantik, lembut dan ramah yang dimiliki oleh Lacus.
"Aku tahu tapi… kau belum sempat melihatnya, padahal… kau adalah Kakak angkatnya. Sekarang dia sudah tiada, dan itu semua karena aku. Aku tahu Lacus, aku tahu bagaimana rasanya terpisah dengan saudaramu…. Tapi, ini bukan hanya beberapa tahun saja… ini selamanya, dan dia mati karena melindungiku, seandainya saja aku…"
"Sudah, Cagalli, kumohon…. Jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri. Itu bukan salahmu, bukan salah siapapun. Itu semua yang terbaik, yang terbaik untuk kita, yang terbaik untuk dia, yang terbaik dari Allah, kita harus menerimanya. Meski berat untuk percaya, meski berat untuk melepas kepergiannya, kita harus tersenyum. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Lepaskan saja… jadikan apa yang telah terjadi di malam itu, bukan sebagai suatu kenangan yang menyakitkan. Tapi sebagai kenangan yang indah, karena pada malam itu… kau masih bisa melihat dia, kau masih bisa melihat senyumnya, kau masih bisa mendengar suaranya… dan lagi, sekarang dia sudah berada di tempat yang lebih baik. Harusnya kita senang, karena saat ini, dia telah pulang ke rumah yang kekal… tak ada tangis, yang ada hanya kebahagiaan…"
Cagalli tertunduk mendengar perkataan yang keluar dengan begitu lancar dari mulut Lacus, seorang Kakak yang telah kehilangan adiknya… err… adik angkat. Seseorang yang tidak bisa mengucapkan salam perpisahan secara langsung kepada saudarinya. Namun, Lacus tetap tegar, dia sama sekali tidak menyalahkan siapapun, karena memang tak ada yang salah. Senyum tipis mulai terukir indah di wajah cantik Cagalli. Bukan hanya sekedar senyum palsu yang selama ini dia perlihatkan, tapi benar-benar sebuah senyum tulus. Lacus menoleh, menatap Cagalli yang tersenyum sambil mengusap-usap nama yang ada pada nisan tersebut. Cewek berambut pink panjang itu menutup matanya dan tersenyum, merasakan hembusan angin lebut yang menerpa dirinya. Senyum cewek itu semakin lebar saat sebuah suara lembut tertangkap telinganya.
"Ayo Cagalli… kita harus pergi… Kira dan Athrun menunggu kita…"
"Yah, benar… bisa-bisa mereka bikin ribut lagi…"
Lacus meggenggam tangan kiri Cagalli, mereka tersenyum tulus sambil menatap nisan tersebut. Setelah mengucapkan salam perpisahan, keduanya berjalan tenang dan damai, meninggalkan kompleks pemakaman ini. Tanpa disangka-sangaka, sosok 2 pemuda gagah nan tampan, berdiri tepat di pintu gerbang. Keduanya tersenyum tulus sambil menunggu dua orang cewek yang tengah berjalan ke arah pemuda dengan rambut berwarna coklat dan raven tersebut. Perlahan-lahan, angin lembut kembali berhembus dan menerbangkan kelopak bunga sakura dan daun-daun yang berjatuhan. Sayup-sayup, terdengar sebuah suara yang membuat kedua cewek itu menoleh kaget. Tak hanya mereka saja, kedua pemuda yang sedari tadi berdiri diam itupun tampak mengangkat wajah mereka. Lacus dan Cagalli saling berpandangan, mengerutkan dahi, lalu tertawa bahagia.
"Kira, apa kau tahu apa itu tadi?" tanya si baju merah sambil melingkarkan tangan kanannya di bahu Cagalli
"Entahlah, aku tak tahu, Athrun…" balas Kira sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lacus.
Kedua pasangan itu berjalan berdampingan sambil sesekali tertawa dan bertukar cerita. Sayang, mereka tak menoleh sama sekali. Karena, jika mereka mau menoleh sedikit saja, melihat kembali ke dalam kompleks, mereka akan menyadarinya. Sedari tadi, bayang-bayang sosok seorang gadis berambut kuning tampak berdiri tak jauh dari nisan abu-abu tersebut. Sosok itu terus saja mengamati tingkah laku Lacus dan Cagalli tanpa bersuara. Dia juga mengamati Athrun dan Kira yang hanya berdiri di depan pintu gerbang, menunggu dengan sabar. Dan kini, sosok gadis cantik nan lembut itu tersenyum manis, mata pink keunguannya menyiratkan kebahagiaan yang tak dapat dibayangkan. Seiring kepergian keempat orang itu, sosok tersebut semakin lama semakin menghilang. Hingga akhirnya, hanya sebuah bisikan suara lembutlah yang tersisa, menggantikan sosok itu…
"Terimakasih Kak Cagalli, Kak Lacus, Kak Kira dan juga Kak Athrun… aku sayang kalian…meskipun aku bukan adik kandung kalian, meskipun aku hanya anak yatim piatu yang diangkat anak oleh keluarga Clyne, kalian tetap menyayangiku seperti adik kalian sendiri… kalian yang terbaik… aku harap keluarga baru kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia… keluarga Kira dan Lacus Hibiki dan juga Athrun dan Cagalli Zala…"
Sebuah nama yang pastinya tak akan dilupakan oleh Lacus, Kira, Cagalli dan juga Athrun, terukir pada nisan abu-abu itu. Nama adik angkat Lacus, adik yang mereka sayangi, yang berusia lebih muda dari keempatnya…
Stellar Loussier Clyne
CE 57 – CE 75
The enD
Author Note:
Humb… udah cukup mungkin, ya? Hahaha…. Bagaimana? Adakah yang tersentuh? *readers: nggak!* hhe… ya sudahlah… yah, awalnya agak sedikit bingung, mau certain dengan sudut pandang yang bagaimana. Dan sudut pandang yang kaya gini tuh pertama kali aku gunakan di cerpen yang aku ubah jadi fic ini, so… intinya, kau mau tanya, apa sudut pandangnya udah bener? Cara ceritainnya udah bener? Huft… saya sama sekali tidak tersentuh waktu nulis ni ff, tak apalah. Yang penting readers tersentuh… hahaha *ditendang*. Okokokok see ya…
oh iya...klik yang dibawah ini yah...hhe...
