a
Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk RnR yang telah membaca/review/fave/alert/follow fic ini plus saya sekaligus. Ahaaay, saya cinta semuanyaaaa! *_*
Dozo, minna-sama! I will survive~
.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any commercial profit from making this fanfiction.
Waring: Alternate Universe, OOC, OC, OOT, typo(s), selipan bahasa asing.
Special backsound:
The Waltz – O.S.T Ashita no Nadja
Can We Dance – The Vamps
.
Have a nice read! ^_~
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Last chapter:
"Siapa tahu ada cinta romantis menunggu Kak Hinata di sana."
Awal candaan yang hanya ditanggapi dengan sedenting tawa.
.
"Kami menyayangimu, Hinata. Dan bagaimanapun kau, kami tetap bangga padamu."
Kejujuran paling tulus yang menerbitkan perasaan haru.
.
'Semoga aku bisa dan tidak mengecewakan diriku sendiri!'
Sebait doa bernapaskan harapan dipanjatkan pada Tuhan.
.
"Salam kenal, Hinata. Senang berkenalan denganmu."
The first fateful encounter—
.
"Sa-salam ke-kenal juga, Naruto … -kun.A-aku juga se-senang."
—and their hearts skips a beat.
.
#~**~#
The Waltz
.
Chapter 2
"First Impression"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Sekerjap mata seolah tidak terjadi apa-apa, Sakura berubah ekspresi lagi, datar. "Tidak apa-apa."
Semua baru mau mengomelinya, ketika Sakura mendadak tertawa kencang. "KYAAAA~ kalian ini cocoook sekaliii!" jerit Sakura dengan mata berbinar menatap Naruto dan Hinata.
"HAH?!" Semuanya ternganga melihat Sakura yang tampak antusias.
Naruto menghela napas panjang. Jantungnya berdenyut menyakitkan—perkataan Sakura itu menorehkan segaris luka baru padanya. Sedikit-banyak, Naruto merasa tersinggung. Bagaimana bisa Sakura mengatakan dia serasi dengan Hinata padahal Naruto sendiri susah-payah melupakannya? Benarkah Sakura merasa tidak apa-apa sama sekali jika Naruto tidak menyukainya seperti dulu? Ketika ia tengah menggulirkan pandangan kesal, tak sengaja dilihatnya Hinata yang salah tingkah karena perkataan Sakura. Dan entah kenapa, saat itu juga Naruto merasa sedikit lebih baik.
Seseorang datang mendekati mereka, lalu membungkuk hormat. "Maaf mengganggu. Hinata-sama, Anda ditunggu Hiashi-sama sekarang juga. Permisi."
Hinata mengangguk singkat lalu menoleh dengan senyum tipis menghadap yang lain, "Teman-teman, maaf … aku ditunggu Ayah. Terima kasih, Shion-san."
Kiba terkekeh, "Shion, mau berdansa denganku?" ajak Kiba dengan senyum lebar.
"Kiba gerak cepat!" seru Tenten.
Merasa perhatian darinya teralih, Hinata tersenyum kecil, melihat Kiba dan Shion yang digoda habis-habisan oleh teman-temannya.
"Ma-maaf. Aku permisi dulu, Naruto-kun," kata Hinata sopan.
Naruto mengangguk lalu tersenyum lebar—memaklumi Hinata yang pamit mendahului mereka. Entah ada angin apa yang membuatnya tersenyum lagi seperti saat ini. Ditolehkannya kepala pada Sasuke, luput melihat seringai licik dalam airmuka pemuda bergaya emo itu. "Ayo kita turun dari sini! Aku lapaaar~"
"Otakmu itu isinya hanya mengisi perut—oi, Dobe!" Sasuke berdecak kesal menyusul langkah panjang kawannya itu.
Hinata yang didampingi Neji menuruni tangga. Di seberang tangga yang satu lagi, terlihat Naruto juga menuruni tangga diekori Saske. Kedua pemuda itu tidak memedulikan mereka dipanggil-panggil oleh Sakura dan Ino.
Naruto dan Hinata … mereka berpisah jalan ke arah yang berlawanan.
.
#~**~#
.
Hinata seorang diri menghampiri kedua orang tuanya karena sesudah turun dari panggung tadi Neji dihampiri juniornya yang merupakan pelajar berprestasi di universitasnya. Seorang pemuda berpakaian agak terlalu kasual dengan rambut semerah darah dan tato kanji cinta di sudut keningnya, tidak memiliki alis dengan mata yang mengingatkannya akan Panda.
Hinata dengan halus pamit dan bergegas memenuhi panggilan suami-istri Hyuga itu. Tak jauh dari panggung musik, orangtuanya berdiri berdampingan dengan champagne di tangan mereka, bercakap-cakap dengan kolega-kolega mereka.
"Maaf menganggu," tegur Hinata sopan. Perhatian lekas terpusat padanya dan gumam-gumam aneh serta pandangan orang-orang terhormat yang menyelidik, diulaskannya senyum kaku. "Ada apa Otou-sama dan Okaa-sama memanggilku?" Melelahkan sekali harus beraristokrat ria bahkan terhadap keluarga sendiri. Hinata tidak menyukai semua ini—sejujurnya karena membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ini putri kami." Hiashi tidak mengacuhkan pertanyaan putrinya. Tersenyum dingin, matanya menyiratkan keangkuhan dan kepuasan karena meneliti ekspresi terpana relasi-relasinya. "Hinata Hyuuga."
Sekali lagi, Hinata membungkukkan badannya pertanda hormat. Dalam hati mengkhawatirkan tiara yang dikenakannya bisa saja jatuh. "Salam kenal." Untunglah dia tidak terbata-bata walau merasa agak keki.
Gumam-gumam dan senyum formal merespon perkenalan Hinata. Kali ini Hiashi menatap putrinya, "Kapan kau akan memulai acara ulangtahunmu, Hinata?"
"Bukankah sudah dimulai dari tadi, Ayah?" Hinata balik bertanya, bingung akan pertanyaan yang dilontarkan Hiashi.
"Potong kue," cetus Hiashi, tak hirau dengan sepasang mata yang serupa miliknya membelalak kaget, "kau belum melakukannya."
Oke. Ini benar-benar aneh. Ayahnya, aristokrat kaku yang menjunjung semua tata krama dan tradisi, memintanya melakukan ritual sederhana potong kue yang dahulu kala selalu dianggapnya kekanak-kanakan? Hinata merasa bahwa pria paruh baya yang berdiri di hadapannya mungkin bukan ayahnya.
"Sekarang saja, ya, Nak?" Pertanyaan Ritsuki memulihkan Hinata dari keterkejutannya.
Gadis yang di hari ini beranjak pada usia tujuh belas tahun itu berpikir sejenak, sampai Shion menghampiri mereka lalu membungkuk tanda hormat dan berbisik padanya.
Hinata menahan luapan di hatinya lalu mengulum senyumnya, "Setelah aku kembali nanti. Tolong berikan aku waktu setengah jam," pinta Hinata, menghindari tatapan "buas" dari pemuda-pemuda yang dapat dipastikan anak relasi bisnis orangtuanya.
"Selama itu? Apa yang akan kaulakukan, Hinata?" tanya Ritsuki heran.
"Aku … ingin bertemu dengan teman-temanku dulu. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka."
"Oh, Haruno atau Uchiha? Yamanaka, Nara, Inuzuka, Aburame, dan yang lainnya?" Ibunya memastikan, dengan senyum meyakinkan dari Hinata, ibunya menghela napas lega dan diikuti angukkan persetujuan dari Hiashi. "Boleh saja. Sampaikan salam kami pada mereka, ya."
Hinata tidak menyangka orangtuanya akan memperbolehkannya pergi sebentar begitu saja. Bahkan tidak menyadari kejanggalan tingkahnya karena telah berbohong. Tapi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah dibuatnya, Hinata segera berpamitan dan undur diri dari hadapan orang-orang tua—serta kabur dari tatapan mesum yang dilayangkan padanya.
Gadis bersurai indigo itu mengangkat rok panjangnya dan melangkah secepat yang ia bisa di atas karpet merah terbentang dari panggung hingga pintu utama. Sesekali tersenyum pada sapa-sapaan yang dilayangkan padanya.
Shion mengejar Hinata dengan terburu-buru, "Mengapa tidak memulai acaranya, Hinata-sama?"
Langkah Hinata terhenti. Kakinya bersilang dengan anggun, lalu Hinata menoleh sedikit membuat roknya melambai perlahan—berefek menimbulkan seru kagum karena ia terlihat seperti berpose ala foto model, "Aku mau bertemu dengan teman-temanku yang tadi kauberitahukan kedatangan mereka, Shion. "
"Tadi kata Nona ingin bertemu dengan teman-teman—"
"Aku sudah bertemu mereka tadi, Shion," potong Hinata. Shion tampak terkejut mendengar perkataan Hinata—tak tahu bahwa gadis yang berada di hadapannya sekarang sudah berani mengelabui orangtuanya sendiri, "Tolong rahasiakan ini dari Ayah, Ibu, Hanabi, atau pun Kak Neji … kumohon, Shion," pinta Hinata memelas.
Shion yang notabene dididik sebagai seorang Housekeeper dan telah mengurus sekaligus menjadi teman Hinata dari kecil tentu mengerti bagaimana sifat Nonanya itu. Maka ia hanya mengangguk setuju. "Perlu kutemani, Nona?" tawarnya.
Hinata menggeleng. "Kau berdansa saja dulu dengan Kiba," goda Hinata halus. Senang melihat Shion yang wajahnya memerah, "aku pergi dulu."
Dengan anggukkan dan sedikit gerutuan dari Shion, Hinata kembali melanjutkan perjalanannya. Sekali lagi, tidak memedulikan seluruh pandangan para lelaki yang seakan hendak memangsanya.
Hinata melangkah meninggalkan main ballroom dan tidak bereaksi pada siulan menggoda yang ditujukan kepadanya, menarik perhatian seseorang yang sama muaknya dengan orang-orang borjuis di sekitarnya. Di pesta semacam ini banyak bermuka dua, pikir si pengamat Hinata. Dia berpamitan kepada rekannya, beralasan sakit perut hendak ke toilet. Padahal ia penasaran pada gadis itu.
Setiap penjaga yang dilewati sang pewaris Hyuuga pasti akan membungkukkan badan tanda hormat, dan menyapanya sopan. Lebih mengejutkan lagi Hinata justru balas menegur mereka dengan ramah ketimbang sapaan modus dari pemuda-pemuda yang tertarik padanya. Entah kenapa, sudut-sudut bibirnya melengkungkan senyum menemukan tingkah unik yang sangat jarang dijumpainya pada Nona muda dari klan ternama.
Tata kramanya tidak usah diragukan lagi. Tapi melihat sikapnya yang lebih sederhana dan terlihat tulus pada pegawai serendah sekuriti dan pelayan itu, mengingat derajat tingginya itu cukup mengherankan. Tentu saja ini membuat semua yang bekerja di mansion Hyuuga ini sangat menyukai tuan putri mereka, mungkin bahkan menyayanginya. Masa pewaris sah Hyuga tidak mengetahui bahwa merendahkan sikap mereka pada orang yang derajatnya lebih rendah itu dianggap tabu dan amat menggelikan bagi golongan aristokrat?
"Tolong bukakan pintunya," pinta Hinata.
"Tapi, Hinata-sama, di luar sangat dingin dan turun salju," sahut penjaga pintu utama, menolak permintaan Hinata.
Hinata pasang muka memelas yang teramat sangat, sanggup membuat siapapun luluh karena tatapannya. "Oh, a-ayolah … Kotetsu-san!"
Kotetsu menghela napas berat, sulit baginya untuk menolak. Hinata beralih menatap penjaga pintu besar berwarna coklat yang menghalangi mata ungu keperakkannya untuk menatap salju yang satu lagi. "Tolong, Izumo-san…"
Orang tadi mengernyit heran. Mungkin gadis ini sudah sinting kali, ya. Di puncak musim dingin bersuhu rendah serta guguran salju, dia malah ingin keluar. Untuk apa? Tidakkah seharusnya dia menjadi seorang tuan putri yang dipuja semua orang? Berbaur dengan kalangan socialita, menanggapi tawaran para lelaki yang menawarkan diri untuk mengajaknya berdansa.
Kotetsu dan Izumo saling berpandangan—menggeleng lemah menyiratkan kekalahan, membuka pintu dengan enggan. Raut wajah nona mereka mencerah, lalu menatap mereka dengan pandangan yang menyiratkan rasa berterima kasih. "Terima kasih, Kotetsu-san, Izumo-san." Menatap keduanya bergantian lekat-lekat. "Tolong sampaikan pada yang lainnya, tidak usah repot memberikanku hadiah. Jasa kalian selama ini jauh lebih dari cukup untukku."
Kedua pria itu terkejut. Nona mereka yang satu ini bisa saja menebak rencana yang sudah tersusun rapi oleh segenap tenaga pekerja di rumah Hyuuga itu. Orang itu terkekeh geli, benar dugaannya—Hinata Hyuuga adalah gadis yang menarik.
Kotetsu dan Izumo tertawa. Memberikan hormat, sehormat-hormatnya pada nona mereka. "Baik, Hinata-sama!"
Tersenyum ramah Hinata melenggang keluar dari pintu. Baru tiga langkah melewati pintu, mata ungu keperakkannya melebar terpesona karena pemandangan yang memenuhi indera pengelihatannya.
Rumahnya—istana yang seperti museum ini—sama seperti kemarin, tertimbun salju. Banyak mobil-mobil mewah terparkir di halaman yang tidak berumput. Air mancur cantik itu airnya membeku dengan lekukan elok seakan dipahat oleh seniman menjadi karya berestetika tinggi kendati sesungguhnya membeku secara natural. Hamparan hijau rumput kini tertutupi oleh putih. Rangkaian pegunungan yang biasanya menampilkan warna indah biru kehijauan, pula puncaknya diselimuti putih.
Sepoi angin dingin membuat anak-anak rambut indigo yang membingkai wajahnya menari perlahan. Salju berguguran dari langit kelabu. Putih, lembut, dingin, bergumpal lalu mengendap pada gaya gravitasi yang menariknya.
Pemandangan ini membuatnya merindukan Inggris dan musim dinginnya. Meskipun udara yang dihirupnya dan tanah yang dipijaknya tak lagi sama, namun salju yang berguguran dari langitnya masih sama. Putih dari awan kelabu. Ah, daripada pesta ulang tahun semegah ini, lebih ia bermain perang-perangan bola salju seperti yang dulu ia lakukan dengan Kurenai dan keluarga kecilnya.
"Apa kabar, Hinata-sama?" Sapaan formal dari seorang penjaga di samping tangga yang sangat besar dan panjang. Beberapa penjaga—bagian sekuriti—berdiri berjajar di beberapa anak tangga.
"Baik," jawab Hinata. "Di luar dingin sekali. Mengapa kalian masih berdiri di tangga? Masuk saja ke dalam."
"Ta-tapi, Hinata-sama, ini perintah dari Hiashi-sama," jawab salah satu penjaga.
Hinata mengerutkan keningnya sebentar, lalu tersenyum, "Kalian masuk saja ke dalam. Nanti kalau beliau marah pada kalian, katakan aku yang meminta kalian melakukannya." Soal menghadapi ayahnya, tinggal ia laporkan saja hal ini pada ibunya—karena ibunya lebih rasional.
"Kemana Hinata-sama ingin pergi? Perlu kami antarkan?" tanya penjaga yang lain.
"Tidak. Aku ada sedikit keperluan, kalian cepatlah masuk." Hinata membalas senyum dari muka-muka para penjaga yang terlihat lebih gembira dan bergegas masuk ke dalam ruangan seraya berbincang satu sama lain.
Sembari menuruni tangga dengan mengangkat tinggi-tinggi gaunnya, Hinata menemukan mobil pengeruk salju yang tidak henti berputar-putar membersihkan jalan dari gumpalan putih persis kapas itu. Dengan perasaan damai menyusuri jalan yang membentang, tangan terangkat menyentuh salju-salju yang menerpanya. Tanpa tahu-menahu sedari tadi seseorang membuntutinya.
Pandangannya menerawang, sejauh mata memandang, baru disadarinya rumah Hyuga ini benar-benar terlalu luas. "A-astaga … dari sini hingga gerbang jauh sekali," desahnya. Belum apa-apa merasa lelah melihat jarak yang harus ia tempuh ke gerbang masuk istana klan Hyuuga ini.
Kaki putihnya yang terbalut high heels itu tetap melangkah tanpa ragu, menjejak di atas salju. Tak dihiraukannya butir-butir salju yang jatuh di atas surai bertahtakan sebuah tiara. Begitu pula angin dingin yang menciumi kulitnya yang tidak ditutupi sehelai benang pun. Rasa antusias dan berdebar ini tidak menghalangi dirinya untuk menuntaskan hal yang ingin dilakukannya. Ia menyayangkan air mancur yang air-airnya membeku karena pengaruh suhu hampir di mencapai nol derajat. Terekam dalam memorinya, dahulu kala air mancur itu menjulangkan airnya dengan sangat indah. Terutama jika sinar rembulan di malam purnama menimpanya.
Salah satu mobil pengeruk salju mendekatinya. Seseorang melongokkan kepalanya dari balik jendela berembun. "Hinata-sama, apa yang kaulakukan di sini?! Kau bisa sakit."
Sedikit bersalah mengetahui supir mobil pengeruk salju itu mengkhawatirkannya. "Ma-maaf," sesalnya, "aku mau ke gerbang utama ingin bertemu dengan teman-temanku."
Menggeleng-gelengkan kepala karena—sekali lagi karena—ini bukan pertama kalinya sang nona bertingkah anomali. "Bagaimana kalau saya mengantarkan Ojou-sama ke sana?" tawarnya.
Hinata mengangkat jam tangan silver yang melingkar di pergelangan tangannya. Menimbang sejenak lalu mengangguk. "Ba-baiklah. Terima kasih, Genma-san."
Genma mengangguk lega seraya membantu nonanya untuk menaiki mobil itu. Setelah memastikan posisi Hinata nyaman dan aman, mobil itu melaju menuju gerbang utama.
Orang yang mengikuti Hinata sedari tadi langsung panik. Akhirnya, setelah memantapkan tekad ia berlaku nekat—terima kasih pada rasa penasaran yang menghantuinya, berlari mengejar mobil itu sambil menggerutu dan mengeluh karena cuaca yang teramat dingin. Tak lama, mobil itu berhenti di gerbang utama—menghalanginya untuk melihat apa yang terjadi. Untung fisiknya terlatih sejak kecil sehingga berlari gila-gilaan seperti ini menembus hawa dingin menggigit bukan masalah besar untuknya.
Mengendap-ngendap, penguntit itu pun mendekati mobil pengeruk salju. Dilihatnya orang yang tadi dipanggil Genma telah membungkuk sopan padanya, menyebabkannya terlonjak kaget—namun dengan cepat dapat mengendalikan diri. Pria berambut coklat itu pasti menyadarinya berlari mengejar mobil yang dikemudikannya. Ia hanya mengangguk dan bergegas menuju gerbang utama.
Yang ditemukan olehnya sukses membuatnya tertegun.
Seorang gadis yang tertawa-tawa senang bersama dengan beberapa orang anak kecil dan orang-orang yang sebaya dengannya dalam pakaian sederhana ala rakyat jelata. Tentu bukan dari kalangan elit atau semacamnya.
"Cieeee~ Ojou-sama, selamat ulang tahun!" Terlontar ucapan selamat silih berganti pada Hinata yang mereka hanya bisa mengobrol dibatasi oleh gerbang besar.
"Ukh, jangan panggil aku seperti itu," pinta Hinata memelas. Mereka tergelak, mengepulkan uap hangat pada angin dingin yang berhembus.
"Hinata Nee-chan, otanjoubi omodetooou~!" koor anak-anak kecil ceria.
"Semuanya, terima kasih…" Ia menemukan Hinata sama terharunya dan memperlakukan orang-orang di balik gerbang besar itu sama seperti teman-teman mereka. "Genma-san, maaf, tolong ambilku titipanku," ucap Hinata.
Genma mengabaikan dia yang bersembunyi di balik mobil pengeruk salju, bergegas ke pos penjaga, dan kembali lagi menyerahkan satu kantong besar terbungkus plastik putih pada nonanya.
"Terima kasih, Genma," Hinata merogoh kantong plastik, mengeluarkan berkantong-kantong permen coklat yang ia kenali sebagai produk berkualitas manisan tersohor dari Inggris. Membagikannya satu per satu ke anak-anak yang memekik senang.
"Ya ampun, Hinata … kau yakin memberikan hadiah semahal ini pada kami?!" pekik seorang wanita pirang dikuncir empat.
"A-apa kau tidak menyukai hadiahnya, Temari-san? Ha-harusnya aku cari yang lain." Hinata menunduk kecewa.
Temari langsung mengibas-ibaskan tangannya. "Bukan begitu maksudku! Justru ini sangat berlebihan, Hinata. Tapi, terima kasih, ya." Diraihnya tangan Hinata yang sangat dingin, tersenyum yang menularkan senyum pada Hinata.
"Hinata, Gaara ada di dalam tidak?" tanya saudara lelaki Temari yang berdandan amat nyentrik, seperti seorang dalang boneka.
"Gaara-san? Tadi aku sempat bertemu denga. Kalian bisa ikut denganku kalau mau bertemu dengan—"
"—tidak, tidak usah," tepis Kankurou segera. Ia melirik kakaknya sejenak, dalam diam menyepakati sesuatu.
Suasana hening sejenak dalam kesedihan. Entah kesedihan apa, rasanya masih terlalu sulit untuk merabanya.
Hinata melirik jam tangan yang melingkar di tangan Temari yang sedang bergenggaman tangan dengannya. "Maaf, aku harus pergi. Tinggal lima belas menit untuk kembali ke dalam."
"Jaa, Hinata! Selamat berjuang menempuh jalan yang panjang! Padahal kan, kau bisa saja pakai mobil," kata Temari tak habis pikir.
Hinata hanya mengulas senyum tipis, lalu melambai kecil yang dibalas oleh lambaian heboh oleh teman-teman rakyat jelatanya.
"Jaa~ Hinata Nee-chan! Arigatou~" teriak anak-anak kecil dengan suara cemprengnya yang terdengar sangat menggemaskan.
Hinata tertawa kecil, didengarnya Temari bersuara, "Hinataaa~ jangan lupa makan sehari tiga kali! Awas maag-mu kambuh."
"Iya." Hinata tersenyum tipis.
"Cepat kembali, Hinata! Nanti kau bisa terlambat," seru Kankurou.
Hinata membalik dengan sempurna, hanya untuk mendapati senyum terlempar padanya, dan matanya bertemu dengan mata yang lagi-lagi membuatnya linglung karena birunya laut yang sangat disenanginya tertuang di sana.
"Selamat ulang tahun, Hinata."
Salju berjatuhan menjadi latar mereka saat bertemu yang kedua kalinya. Sunyi mengekori kata terakhir dari pemuda itu yang menyebut namanya. Tak ada yang bersuara.
Hinata sendiri rasanya ingin pingsan saat itu juga. Kakinya mendadak terasa selunak jeli. Dari sekian banyak orang, ia tidak ingin orang ini yang memergokinya bergaul dengan kalangan bawah. Karena mereka di kalangan elit. Mungkin untuk Hinata, itu bukan masalah. Tapi ia tidak bisa membaca sorot mata yang melunak memandangnya.
"Hello, there~ bumi kepada Hinata." Orang itu menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah gadis yang berulang tahun hari ini.
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, salah tingkah. Mengapa dia salah tingkah di saat yang paling tidak tepat? Mana sosok Hyuuga yang tadi begitu anggun dan menjunjung tata krama?
"A-aah… Na…-ruto," respon Hinata malu, hampir tidak terdengar.
"Kau punya teman-teman yang menyenangkan, ya, Hinata?" kata Naruto penuh semangat. Pemuda penyuka warna oranye itu nyengir lebar, lalu menyapa teman-teman jelata Hinata. "Selamat siang. Salam kenal. Uzumaki Naruto-ttebayo. Maksud kalian tadi, Sabaku no Gaara, bukan?" tanya Naruto ramah, "Dia temanku."
Hinata berbalik perlahan. Pupil dengan iris lavendernya melebar dalam keterkejutan. Tadi masih membekas di ingatannya, Naruto bersikap laksana salju. Kendati rupawan, namun dingin seakan tak terjamah. Ia sama sekali tak menyangka Naruto adalah tipe kaum elit yang akan merakyat. Sedikit-banyak, hal ini memengaruhi perspektif Hinata tentang Naruto. Tapi, kenapa Naruto memperkenalkan dirinya dengan—
"Kau teman Gaara? Syukurlah—kupikir adikku bakal mati kesepian," ujar Kankurou lega membuyarkan kebingungan Hinata.
Naruto bersalaman khas anak laki-laki dengan Kankurou dan high-five dengan anak-anak kecil yang menyertai mereka. Tersenyum lebar pada Temari. Mereka terlihat amat lega dan senang karena Naruto tampak ramah dan tidak seperti bangsawan pada umumnya.
"Naruto, kau tahu dimana Gaara berada?" tanya Temari berharap.
Naruto mengangguk, "Uhm-hm. Tapi sepertinya ia tidak niat mengikuti pesta. Habis—"
Kankurou mencoba berkelakar, "Habis manis sepah dibuang?"
Pemuda itu menggeleng, terkekeh sok misterius. "Bukan. habis gelap terbitlah terang!"
Semua yang ada di sana tertawa geli karena Naruto menanggapi lelucon Kankurou.
"Habis apa, Naruto?" tanya Temari setelah tawanya reda.
"Habis … ia juga bukan tipe yang tidak terlalu membaur, terlihat bosan. Kalau kalian begitu menyenangkan seperti ini, sepertinya aku mengerti kenapa Gaara merasa bosan," jawab Naruto lagi.
"Naruto Nii-chan!"
Naruto menoleh ke samping ketika anak-anak kecil menggemaskan itu memanggilnya dengan suara cempreng mereka. "Iya?"
"Nii-chan … pacarnya Hinata Nee-chan, ya?" tanya Konohamaru kecil ceria, cengirannya lebar menampilkan giginya yang berjendela dua.
Senyap melingkupi mereka. Hinata ingin masuk ke dalam tumpukan salju yang dibawa pengeruk salju. Supaya tidak ada yang melihat raut wajahnya yang merona—serta agar dapat menetralkan suhu di sekitarnya yang tiba-tiba meningkat ekstrim.
Tiga jitakan manis didapatkan tiga anak kecil itu. Temari menatap mereka galak. "Kalian ini! Konohamaru, Moegi, Udon! Kulaporkan pada Kakek Sarutobi. Jangan mencampuri urusan orang!"
Kankurou tertawa kecil.
"Naruto, Hinata, maaf, ya… mohon maklumi mereka," sesal Temari.
Naruto malah tertawa senang. "Tidak apa-apa." Tangan berkulit tan itu menjulur keluar gerbang utama, menepuk-nepuk kepala tiga orang anak itu. Naruto mendekatkan diri ke mereka. Berbisik-bisik pada ketiganya. "Kalau aku sudah menjadi orang yang beruntung itu, yang pertama kali kukabari… pasti kalian!" Diakhiri dengan kedipan modus pada ketiganya.
Tiga anak itu menjerit bahagia, membuahkan lagi omelan dari Temari dan teguran Kankurou.
Naruto menghampiri Hinata, lalu meraih tangan Hinata dan menggenggamnya. "Acara ulang tahunmu mulai beberapa menit lagi. Kita harus cepat. Jaa matta ne, Minna!" Naruto melambai ke arah mereka semua, lalu menarik Hinata pelan dan sopan yang masih merasa kalau sebentar lagi ia pasti pingsan.
Naruto berjalan di samping Hinata, masih menggenggam tangan gadis tersebut, yang membuat Temari mendesah karena iri, "Beruntunglah Hinata menemukan Naruto yang mau menerima kita! Aku iriiiii~"
Kankurou mengangguk menyetujui. Kemudian perhatiannya teralih pada trio bocah bercerita riang pada teman-temannya. "Eh, apa yang tadi Naruto bicarakan?"
Ketiganya berpandangan, memberikan Kankuro dan Temari jawaban berupa tawa sok misterius khas anak-anak.
Genma hanya menatap kepergian tuan putrinya usai membungkuk sekilas. Menyisipkan doa supaya Nona Hyuuga itu tidak akan terkena sakit flu karena dibawa lari oleh seorang pemuda keturunan Namikaze.
.
#~**~#
.
Hinata mengerahkan segenap keberanian dalam dirinya untuk menyapa orang yang masih menggenggam tangannya. "Na-Naruto-kun?"
Hinata menekan perasaan aneh yang menggelitik hatinya. "Ta-tadi, kenapa kau memperkenalkan diri dengan marga Uzumaki dan bukan Namikaze?"
"Itu marga dari Okaa-chan. Lagipula, kalau aku mengenalkan diri sebagai Namikaze, apa teman-temanmu tidak akan segan padaku?" tukasnya ringan. Tentu ia tidak lupa bahwa nama Namikaze itu sendiri begitu prestisius.
Hinata terperangah sejenak. Barulah ia mengangguk. Kembali mereka direngkuh kesunyian.
Selama beberapa saat, Naruto berjalan bersisian dengan Hinata. Kecanggungan mengental dalam atmosfer yang menyelubungi keduanya. Sesungguhnya, Naruto berusaha keras menahan sudut-sudut bibirnya agar tidak meretas cengiran terlalu lebar. Ia tidak tahu harus membuka percapakapan dengan topik macam apa. Tidak tahu lelucon macam apa yang akan memicu terbitnya senyum tulus sang gadis—bukan merona malu karena canggung atau sekadar senyum sopan saja. Hinata tidak terlihat nyaman bersamanya. Ada perasaan yang menggelitik dirinya ketika menggenggam tangan dingin Hinata yang tampak memucat.
Naruto mengerjap-ngerjapkan mata. "Hei, Hinata … kau sakit, ya?"
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ti-tidak apa."
"Kau yakin?" tanya Naruto lagi.
Hinata mengangguk kaku.
Naruto melepaskan genggaman tangan hangatnya, sukses membuat Hinata menyembunyikan kedua tangannya yang terasa sangat dingin dengan bersidekap. Mereka berdua berjalan dengan cepat, tapi mengapa terasa amat lambat? Atau terasa lambat padahal sesungguhnya sangat cepat? Entahlah. Tidak ada yang menaruh peduli pada gulir konstan sang waktu.
Sepertinya jalan mereka terlampau sangat cepat, menikamkan hawa dingin yang yang tidak bisa lagi ditolak. Terang saja, salju turun lebih kencang dihembus angin dingin. Hela napas mereka mengepul pada bumbung langit kelabu.
Naruto berjalan dua langkah di belakang Hinata, mengamati gadis itu yang kerepotan membawa gaunnya agar tidak terseret sepanjang jalan menjadi kotor pula langkahnya terseok karena mengenakan high-heels.
Lelaki macam apa ia kalau sampai membiarkan seorang gadis kedinginan? Andai ada Kushina, sudah pasti ia akan menceramahi Naruto mengenai baiknya memperlakukan seorang gadis—terlebih tuan putri—sebagaimana mestinya.
'Aku … semangatlah diriku!' Hinata memelas menyamangati dirinya dalam hati. 'Tinggal sedikit lagi. Kau pasti bisa!' Tentu saja, sugesti ini sama sekali tak ada efek magisnya.
Hinata baru menundukkan kepalanya lagi, melangkah lagi meninggalkan jejak high heels itu di atas salju tipis yang menyelimuti jalan di sekitar air mancur ketika tiba-tiba aura hangat menyelimutinya. Semilir harum maskulin menentramkan menginvasi ruang penciumannya. Gadis yang menyukai kegiatan merangkai bunga tersebut berjengit terkejut.
"Hei, Hinata. Lepaskan sepatumu!"
Hinata lekas menatap sumber suara jernih yang menyuruhnya melepas sepatunya. Dia masih linglung. Tangannya terangkat menyentuh jas abu-abu yang disampirkan di bahunya. Wangi. "Na-Naruto-kun … u-untuk apa?"
"Oh, kau tidak berpikir berjalan dengan sepatu laknat itu dari sini sampai ujung sana hingga kita tiba di mainhouse lalu kau akan terus memakainya sepanjang pesta berlangsung, bukan? Lepaskan, pakai sepatuku saja. Aku tahu pasti ukurannya sangat kebesaran di kakimu. Tapi setidaknya lebih baik daripada kau mencederai kakimu sendiri," celoteh Naruto panjang-lebar sembari melepas sepatunya seraya menyakukan kaus kakinya yang sudah dilepaskan sembari ia berujar. Meringis tatkala kakinya menjejak permukaan salju yang sangat dingin.
"Ta-tapi, nanti Naruto-kun—"
"—cepatlah, Hinata!" Naruto melompat-lompat kecil agar tidak kedinginan.
Hinata yang tak lagi bisa menolak, terlebih karena hunjaman pandang tak terbantahkan dari Naruto, meragu melepaskan sepatu yang ia kenakan. Naruto menggeser sepatu pantofel hitam mengilat yang dikenakannya, memakaikannya pada Hinata. Lalu dia meraih sepatu Hinata untuk dibawakan olehnya.
"Ohooo~ ini terlihat seperti sepatu kaca. Atau sepatu pernikahan?" tanyanya, lebih kepada diri sendiri. "Haaa—haa—" Naruto pun bersin kencang-kencang.
"Naruto-kun, maaf ini gara-gara aku—"
"Aku yang menyuruhmu, 'kan?" Naruto mengibas-ibaskan tangan. Berlagak bahwa temperatur dingin menusuk hanyalah masalah sepele. ""Kau mau diam sampai kapan? Sebentar lagi acaranya mulai. Kau tidak mau kita mati kedinginan, kan?"
Hinata menundukkan kepalanya, lalu menggeleng."Kita harus bergegas." Kemudian berkata jujur pada Naruto tentang hal pertama yang terbersit ketika pemuda itu bersin lagi. "Kau kedinginan."
Naruto nyengir sembari menyeka ingus laknat yang meleleh dari indera penciumannya dengan punggung lengan. Ternyata ia tak bisa mengelabui gadis Hyuga begitu saja. Dia tahu Hinata telah berkata jujur padanya, maka dia merespon dengan kejujuran pula, "Uhm-hm. Omong-omong, kau terlihat seperti penguin memakai sepatuku. Lucu sekali."
Hinata menggigit bibir bagian dalamnya mendengar komentar Naruto.
Pemuda itu melompat-lompat kecil ketika kakinya mulai mati rasa akibat kedinginan. "Oke … ini benar-benar … DINGIN—DATTEBAYOOO!" Naruto berlari sprint menembus hembus angin, meninggalkan jejak telapak kaki tannya pada hamparan salju. Tawanya nyaring seperti bel berdering, menghela gemuruh salju-salju rapuh yang berdenting.
Hinata menatap sosoknya yang berlari sembari sesekali meloncat. Di sela derai salju, dirinya terpaku. Persis sekali seperti komposisi gerakan tarian alamiah kehidupan. Atau itulah persona impresif si Uzumaki muda yang terdengar dari lengking tawanya. Hinata tak bisa memutuskan mana yang lebih hangat; genggaman tangannya, jas sekelabu langitnya, wangi yang melekat pada jasnya, sepatunya yang kebesaran bagi putri sulung Hyuga tersebut, tawanya yang ringan nan kekanakan, atau aksinya melakukan semua hal ini untuk Hinata.
Ini pertama kalinya ada seorang lelaki, dari golongan aristokrat juga, berlaku seperti ini pada dirinya. Hinata terpikat pesona kesederhanaan Naruto yang seakan telah hilang dari pandangan tentang kakunya tata krama sebagai bangsawan, dibuat tergemap kagum karena keramahannya yang tidak ragu untuk membaur dengan segala kalangan.
Andai Naruto tidak sibuk berlari-lari seraya melompat-lompat sesekali, bilamana dia mengerling sekali saja pada gadis yang hari ini menginjak usia tujuh belas tahun, niscaya akan ditemukannya Hinata mengulas senyum yang diangan-angankannya.
"—terima kasih, Naruto-kun."
Secarik kekaguman itu seperti langkah-langkah pasti mereka menuju destinasi, susul-menyusul, beriringan, menyisakan jejak waltz terpolos bersemi di permukaan hamburan kristal-kristal es teramat lembut.
.
Tsuzuku
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
*nyengir* pasti yang udah pernah baca ini sebelumnya langsung kepikiran, "Perasaan adegan sebelumnya nggak begini—" YES, YOU'RE RIGHT! Mohon maafkan apabila masih terbawa gajenya jaman dulu waktu awal-awal masih menulis. Saya sendiri waktu baca ulang fic ini dan harus me-remake-nya, sungguh dibikin desperet dan pusyang untuk mengeditnya. Orz
.
WE ARE NHLs! WE ARE FAMILY! KEEP STAY COOL, FRIENDS!
.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan kehadirannya. ^_^
.
.
Sweet smile,
Light of Leviathan (LoL)
