2
Baekhyun tak menyangka akan bertemu dengan teman masa SMA nya dulu di tempat yang jauh dari Seoul. Kim Jongin, benar-benar telah berubah. Ia terlihat jauh lebih tinggi, sedikit eksotis dan tampan. Sekelibat bayangan Kai –Jongin meminta baekhyun memanggilnya begitu karena merasa kurang keren dengn nama Kim Jongin digunakan Eropa- ketika masih SMA hadir di kepala baekhyun. Ia ingat betul bagaimana gigihnya seorang kai dalam mengejar Do Kyungsoo dan berakhir dengan diterimanya cinta Jongin ketika pengumuman kelulusan. Benar-benar manis.
"Baekhyun, apa kau tak merindukannya?" tanya Kai setelah kurang lebih setengah jam mereka berbagi kisah.
"uh?ma-maksudmu kai?"
"Kau tau betul maksudku baekhyun, jangan mencoba menutupinya. Jangan memendamnya sendiri, berbagi itu indah- kan?"
Baekhyun terkekeh pelan "Apakah aku masih pantas merindunya? haha" Baekhyun tertawa miris di akhir kalimatnya
Kai hanya bisa menatap kasihan sambil menyinggungkan senyum. Mencoba mencari dimana letak lelucon yang bisa membuat baekhyun mengeluarkan tawanya. Kai tau, amat tau bagaimana kisah mereka berdua. Ia bahkan mati-matian –kala itu- membuat chanyeol keluar dari kamarnya dan akhirnya berhasil dengan keadaan chanyeol pingsan sebelumnya. Harusnya kai membeci namja mungil di depannya ini, tapi ia paham. Baekhyun memiliki alasan untuk itu, ia bisa membacanya dari mata baekhyun yang seolah ingin berkata 'Aku merindukannya' namun baekhyun kubur kuat kuat.
"Waktu terus berjalan baekhyun, semua telah berubah bahkan sampai-"
"Aku paham Kai" Potong baekhyun. "Aku cukup sadar apa yang telah aku lakukan dan ya, aku harus menerima konsekuensinya. Percayalah kai aku juga sedang berusaha bekerja sama dengan waktu tak sekarang mungkin nanti, mungkin" Baekhyun tersenyum mencoba menjelaskannya.
Seolah kembali ke masa itu, Kai melihat mereka berdua sam sama hancurnya seolah hanya mereka yang paham perekat macam apa yang bisa digunakan untuk membuatnya kembali terlihat utuh. Bisa saja saat ini Kai menelpon Chanyeol dan memberitahu bahwa ia sedang bersama seseorang yang telah menjadi oksigennya, namun kai tak mau gegabah. Biarkanlah ia egois kali ini demi kebaikan Chanyeol.
"Apa kau sedang bersama seseorang kesini? Kekasihmu mungkin? Hm? " Kai Mencoba mengalihkan pembicaraan sensitive ini sambil mengorek beberapa informasi yang mungkin penting untuk diberitakan pada kekasihnya nanti.
"Aku sedang melakukan sedikit pekerjaan disni dan seperti yang kau lihat, aku sendiri. Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan si burung hantu? " Dengan nada ragu baekhyun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan yang sedikit menimbulkan nyeri di bagian dada kirinya.
"Tentu saja! Bukan kah kau saksi hidup bagaimana susahnya aku mendapatkannya? Kyungsoo juga disni, apakah kau mau bertemu dengannya?"
"Tentu, aish aku sungguh merindukan namja kecil itu! Tapi mungkin tak sekarang, waktu satu jam kurang untuk melepas rindu dengannya haha"
"Ya ya ya , aku bisa mengerti bagaimana jika perempuan sedang berkumpul" Goda Kai pada baekhyun. Ia ingat bagaimana namja cantik ini sangat sensitive pada kata cantik. Apalagi jika kata itu ditujukan padanya.
"Yak apa katamu! apakah jakun ini kurang menunjukkan jika aku seorang namja ish!" Jawab baekhyun dengan wajah yang merengut. Bukan ya takut, kai malah tertawa dengan ekspresi baekhyun yang tidak terlihat menakutkan sam sekali itu
"Hahahaha baek asal kau tahu itu hampir tak terlihat baek asal kau tahu! Melihat ekspresimu yang menakutkan itu membuatku rindu pada pacarku uhh"
"Cih, Kim Jongin dan otak kotornya , selalu. Oh iya ini, datanglah ke acara fanmeetingku! Kalian mendapatkan tiket VIP, datanglah bersama kyungsoo aku merindukannya"
"Aigoo lihatlah penanyi ini, ne ne nanti akan ku sampaikan pada kyungsoo ku pastikan ia tak akan melewatinya"
"Emh jongin .."
"Ya baek?"
"Tadi kau bilang jika chanyeol juga disini, bisakah kau memberikan ini padanya?"
"Apa ini? Wah apa kau sedang menggodanya dengan video mesummu?" Kai mengangkat kedua alisnya naik turun, tatapan menggoda itu.
"Kya pabo! Hanya berikan itu padanya dan cucilah otak mu jongin aku jadi kasian dengan kyungsooku, pasti ia telah tercemar sekarang ckckckck" Baekhyun menggelengkan kedua kepalanya sambil mentap Kai seperti cirus yang bisa menyerangnya, iuh
"Yak, kita sudah dewasa kau ingat?" "Mengapa kau tak memberikannya sendiri?"
Baekhyun menarik nafas dalam dan tersenyum kecil setelahnya "Aku harus pergi jongin banyak hal yang harus ku perisapkan.."
"A-ah, perlu ku antar?"
"Ani, gomawo. Bukan kah tadi kau bilang merindukan burung hantumu? Pergilah aku tak ingin kau melampiaskan nafsumu padaku!"
"Hei aku setia asal kau tau. Lagipula aku tak berminat padamu bahkan ketika kau sudah menjadi penanyi ternama sekalipun. Kyungsoo satu-satunya namja yang ada dihatiku"
"Hahahaha, sampaikan salamku padanya! Aku pergi"
"Hati-hati baekbiiii"
Chanyeol masih terpaku di depan laptopnya. Tiga Tahun lamanya ia tak mendengar suara kesukaannya. Rindu itu kembali menyeruak dengan air mata yang terus emngalir sebagai pelampiasannya. Chanyeol bingung tak mengerti apa yang harus ia laukan. Hatinya menjerit sakit, setelah semua yang baekhyun lakukan padanya. Namun chanyeol tak menampik, rasa rindunya sama besar dengan amarah dan bencinya. Ia masih terpaku hingga setengah jam lamanya bahkan ketika lagu itu elah terulang sebanyak enam kali.
Ia harus menyelesaikannya sekarang. Sebelum semuanya terlambat, lagi.
"Kai kau dimana?"
"Dimana kau mendapatkan ini?" . Wajah chanyeol terlihat bingung ketika ia menemui Kai. Sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang chanyeol rasakan saat ini
"Baekhyun memberinya kemarin" Jawab Kai tanpa melepaskan konsentrasinya pada layar tv dan tangannya yang sedang sibuk mengutik stik ps
"Di-dia di-disini?" Mendengar namanya keluar dari mulut orang lain saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kepalanya pening seketika seakan akan ada bebean dengan bobot beribu ton di kepalanya
"Ya, ada beberapa pekerjan yang harus diselesaikannya. Chanyeol dengar, aku tak memaksamu untuk menemuinya hanya saja-" Ucapan Kai terpotng dengan suara lirih Chanyeol
"Tidak , aku tak ingin menemuinya. Tolong sampaikan saja padanya ak-" Dan Kai melakuka hal yang sama pada Chanyeol. Satu sama
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Kau tau, baekhyun sama buruknya denganmu! Bagaimana bisa kalian hidup seperti ini?"
"A- Uh, Ap-aapa katamu? Baekhyun?" Pekik Chanyeol tanpa sadar membuat Kai menarik senyum sisnis di ujung bibir kirinya
"Ya, dia sama buruknya denganmu, temui dan selesaikan semuanya. Besok hari terakhirnya disini. Kesempatan tak datang dua kali sob"
Detik selanjutnya hanya suara berisik dari televisi yang terdengar, selebihnya jatung dan pikiran chanyeol tak kalah berisiknya.
Suasana di Ballroom hotel siang ini sangat ramai. Baekhyun yang sudah mulai melakukan debutnya di Korea semenjak tahun lalu, telah memiliki banyak fans di luar yang terlihat menarik didukung dengan suara yang memikat hati, membuat Baekhyun lebih mudah dikenal.
Ntah apa yang harus baekhyun rasakan sekarang. Setelah kemarin bertemu kai, pikiran baekhyun tak bisa fokus. Rindu lebih mendominasinya saat ini. Bahkan saat managernya berbicara mengenai rentetan acara fanmeetnya baekhyun tidak mendengarkan sepenuhnya
"Bagaimana rupanya saat ini? Apakah wajahnya masih sama? Apakah dia mengingatku? Apakah dia memiliki kekasih? Dan yang terpenting Masihkah ia mencintainya?"
Pertanyaan itu terus menghantuinya dari semalam. Baekhyun menggelengkan kepalanya keras-keras. Kenapa jadi kacau sih, mana mungkin chanyeol mau menemuinya? Sepertinya alur cerita sinetron yang ditontonnya semalam masih terbawa olehnya. Baekhyun berdiri, sadar dari lamunannnya dengan kata Fokus yang beribu kali keluar dari bibir tipisnya.
Hampir 80% ruangan ini penuh oleh manusia, sisanya berisikan kamera, microfon dan semua alat alat yang terpasang untuk acaranya kali ini. Di balik panggung jantung baekhyun berdegub kerasnya, ia gugup. Kegiatan inhale-ekshale terus dilakukan baekhyun tanpa henti, tak biasanya ia segugup ini. Kiranya, karena ini pertama kali baginya di kota yang asing dengan penduduk dan bahasa yang asing pula. Takut takut ia melakukan kesalahan, meskipun teriakan fansnya di venue cukup menenagkannya, belum lagi pemikirannya tentang seseorang yang ia harapkan untuk datang, meskipun kecil bahkan sangat kecil kemungkinannya
"Okay guys, please welcome, Byun Baekhyun"
Selanjutnya, teriakan di ruangan itu menggema , bersamaan dengan langkah pasti diiringi degup jantungnya yang semakin menjadi.
