Arun
(Two of three)
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
.
Arun
.
Aku Jimin. Sebelumnya aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas swasta. Sekarang aku hanya seorang pengangguran yang mengambil cuti kuliah di masa pemulihan setelah kecelakaan hebat yang merenggut sebagian ingatanku.
Aku tinggal di rumah Taehyung. Dia yang merawatku. Pertama kali aku datang ke rumahnya, aku benar-benar seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Dia dengan sabar mengajariku melakukan berbagai hal yang aku lupa. Seperti caranya menggunakan alat makan, atau hal-hal sepele lainnya.
Dia juga secara berkala kembali ke apartemen sewaanku untuk mengambil pakaian dan barangku yang tetinggal di sana. Secara tak resmi, aku telah pindah ke rumahnya sebagai penghuni baru. Jika saja nenek Taehyung masih hidup, mungkin kami akan tinggal bertiga. Tapi beliau sudah meninggal, aku masih ingat itu. Hari di mana Taehyung menangis semalaman dan aku hanya bisa memeluknya.
Satu yang ku syukuri, aku masih bisa mengingat dirinya dengan baik. Aku mengenalinya saat pertama kali aku membuka mata. Dia berkata bahwa dia memanggil namaku berkali-kali saat monitor detak jantungku hanya berdengung dan menampakkan garis hijau lurus yang tak putus. Aku kembali dalam genggaman tangannya, dengan dia yang menangis tersedu-sedan di hadapanku saat itu.
Mungkin memang banyak yang ku lupakan, banyak sekali. Termasuk teman-teman dan lingkunganku. Ada beberapa yang hanya kuingat namanya saja, tapi tidak dengan rupa dan perawakannya. Atau momen di mana aku pernah berkumpul dan menghabiskan waktu bersama mereka. Banyak sekali yang ku lupakan. Perlahan tapi pasti, aku mencoba mengingat satu-persatu dari kepingan-kepingan ingatanku yang hilang. Aku mencoba menyusun puzzle yang rumit itu, dibantu oleh Taehyung yang tak pernah bosan bercerita padaku tiap malamnya. Seperti dongeng pengantar tidurku.
Aku memang merasa bersedih karena tak dapat mengingat banyak hal, tapi aku senang karena Taehyung ada di sisiku. Keberadaannya sudah cukup membuatku tenang.
Termasuk ketika dia berbaring di sampingku, di atas satu ranjang yang sama. Dan kami akan memandang langit-langit kamar sementara dia bercerita. Mendengar suaranya membuatku merasa damai, pun ketika aku memeluknya. Itulah yang ku sukai. Aku dapat tidur dengan lelap jika dia berada dalam pelukanku semalaman.
.
Arun
.
Suatu ketika, pagi-pagi, aku menemukannya sedang sibuk memasukkan berbagai macam wadah plastik berisi makanan ke dalam sebuah paperbag. Salah satu wadahnya baru dia tutup dan aku sempat mencium baunya. Aku kenal, namanya kimchi.
"Kau sedang apa?"
Dia sedikit berjengit terkejut ketika aku memeluknya dari belakang.
"Astaga, kau mengagetkanku."
"Maaf." aku hanya terkekeh. Ku taruh daguku di bahunya dan ku intip apa yang sedang dia lakukan saat itu. "Mau diberikan pada siapa? Tetangga?"
"Bukan," katanya, setelah membiarkanku menunggu agak lama dalam diamnya. "untuk Yoongi."
"Yoongi?" aku membeo.
"Ya, untuk Yoongi."
Aku berpikir. Aku merasa pernah mendengar nama itu. Satu nama di antara banyak nama yang berkelebat di otakku. Mungkin, dia salah satu teman yang ku lupakan. "Rasanya aku tahu nama itu, teman kita ya?" jadi ku katakan saja padanya begitu, sesuai dengan apa yang aku pikirkan.
Hanya, dia tak langsung menjawabku, malah mengintip isi paperbagnya yang telah penuh. Seperti memastikan ada yang tertinggal atau tidak.
"Ya." akhirnya dia menjawab. "Aku ingin kau antarkan ini pada Yoongi."
"He?"
Dia membalik badannya dan membuatku sedikit melonggarkan pelukanku.
"Aku?" jariku menunjuk diriku sendiri. Jelas, aku sedikit terkejut dengan permintaannya.
"Kau belum penah bepergian sendiri lagi sejak kau kembali, 'kan?" tanyanya, konfirmatif, minta aku menjawab iya. Dan aku mengangguk samar menyadarinya. "Sekalian melatihmu untuk mengenal jalan."
"Kalau aku tersesat bagaimana?" aku memasang wajah merengut dan ku bumbui nada bicaraku dengan sedikit canda, hanya untuk membuat Taehyung tersenyum, karena sejak tadi dia terlihat sedikit murung.
"Kau ini laki-laki, tersesat bukan masalah." dia memukul dadaku.
"Tapi kenapa kau ingin aku yang mengantarnya?"
Aku menangkap tangannya yang dia pakai untuk memukulku tadi itu, ku genggam dia di udara. Lalu ku kecup buku-buku jari itu hanya untuk mencium aromanya yang selalu ku sukai.
"Karena aku ingin."
"Serius, Tae."
"Kau juga harus bertemu dengan teman-temanmu yang lain. Termasuk dia."
Entah kenapa matanya teralih ke samping ketika dia menyebut teman. Lalu saat mata itu kembali padaku, dan kami saling bertatapan, dia segera memutusnya duluan dan melepaskan tangannya dari genggamanku.
"Sampai kapan tanganmu mau berada di pinggangku begini?" kemudian dia hempaskan tanganku dengan kasarnya.
Sejak dulu, dia memang tak berubah.
"Pergilah, antarkan ini ke rumah Yoongi. Aku akan menuliskan alamatnya untukmu. Termasuk peta sederhana agar kau tidak tersesat nantinya."
"Aku akan pergi asalkan saat aku kembali aku bisa memelukmu lagi seperti tadi." pintaku.
"Ah, terserah lah!" dia memutar bola matanya jengah. Aku hanya bercanda, dan rupanya dia sedikit kesal dengan candaan itu. "Lagipula saat kau kembali mungkin aku masih berada di kampus. Aku akan pulang malam lagi."
.
Arun
.
Aku menaiki sebuah bis umum. Rasanya agak sedikit takut. Aku takut salah turun halte. Dalam perjalanan aku tak memutus pandangku dari papan nama jalan atau banner besar yang terpampang. Ini Seoul yang sama dengan yang ku tinggali sebelumnya. Hanya saja rasanya asing.
Aku turun di sebuah halte. Dari petunjuk yang Taehyung berikan, aku masih harus berjalan kaki melewati pertokoan dan gang sempit menuju sebuah kawasan yang sedikit tersembunyi dari jalanan besar.
Aku sempat bertanya pada beberapa orang yang ku temui, untuk memastikan aku tak salah jalan. Akhirnya, setelah jauh menyusuri jalanan yang berkelok dan menanjak, ku melihat nomor yang cocok dengan nomor yang ada pada selembar kertas yang ku pegang.
Nomor 150. Sebuah bangunan bertingkat yang tua, dengan tangga besi usang berkarat yang catnya terkelupas. Dinding bangunan itu sedikit menghitam karena cuaca dan tetesan dari pipa air yang bocor. Aku menengadah, mencari pintu yang harus ku ketuk. Ada kombinasi huruf dan nomor di kertasku. B5. Jika tingkat pertama adalah A, maka tingkat kedua adalah B. Maka aku menaiki tangga yang berdecit itu untuk sampai ke lantai dua. Sambil terus memerhatikan sekitar, aku mencoba mengingat-ingat siapa Yoongi yang akan ku temui. Bagaimana rupanya. Bagaimana suaranya. Bagaimana perawakannya. Karena Yoongi dalam ingatanku hanya sebatas nama tanpa sosok yang jelas. Begitu kabur dan sulit ku terka.
Akhirnya, aku menemukan pintu itu. Tapi ketika ku ketuk, tak ada sahutan dari dalam. Tak ada yang membukakan pintu. Memang sedikit tidak sopan, tapi karena penasaran, aku pun mengintip lewat kaca jendela yang tertutup tirai tipis. Gelap. Tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di dalamnya.
"Apa dia sedang pergi...?" monologku. Aku mendengus panjang. Inginnya aku pulang saja kalau memang orang yang harus ku temui tidak ada di tempat, tapi aku dititipi pesan oleh Taehyung, dan aku tak enak hati jika kembali masih dengan jinjingan paperbag di tanganku. Maka, aku memutuskan untuk menunggu, duduk di sebuah bangku kayu reot yang berada di samping pintu. Saat menunduk, aku menemukan sebuah pot kecil di dekat kakiku. Pot yang kembang kuningnya sedang mekar. Ada tiga tangkai bunga yang berdiri searah matahari mencuat dari tanah dalam pot itu. Aku sedikit takjub. Bunga kecil yang indah, meski tak ku tahu namanya.
Tak lama aku duduk di kursi itu, aku mendegar bunyi tangga yang dipijak. Tang, tang, tang. Aku bangkit dari dudukku untuk memastikan siapa itu.
Harapku, dialah Yoongi yang ku tunggu.
Tang, tang. Dan ketika tangga itu hampir habis, perlahan nampaklah seseorang berpostur mungil yang mengenakan kaus hitam panjang dan celana jeans robek-robek berjalan gontai. Menjinjing kantung plastik dengan ujung-ujung daun bawang yang mencuat dari celahnya. Di puncak tangga, dia berhenti. Wajahnya yang semula terlipat pun terangkat.
Dan mata itu terarah padaku.
Baru kali ini aku merasa terpesona pada pandangan pertama kepada orang lain. Dia begitu... cantik. Meski ada gurat lelah dan sembab di wajahnya yang pucat.
Ada desir aneh yang menyapa dadaku, ketika kami bertemu mata.
"Park... Jimin?"
Ketika dia menyebut namaku, desir itu makin menjadi.
"Kau... Yoongi, 'kan?"
Aku bertanya untuk memastikan. Tapi dia tak langsung memberiku jawaban. Hanya matanya yang tak putus menatapku. Ada sesuatu dalam pantulan bening warna hitam itu, tapi aku tak dapat membacanya. Aku tak mengerti. Aku hanya merasa desir itu mencukil satu bagian dalam diriku, sakit. Sakit ketika melihat ada embun di sudut matanya.
"Ya."
Dia mengangguk, dan saat itu pula embun di pelupuk matanya jatuh seperti hujan. Dia menyekanya dengan jari.
"Kau sehat? Lama tak jumpa," katanya.
"Kenapa... kau menangis?"
"Tidak. Tidak apa-apa." si cantik itu menghapus jejak lelehan air asin yang membasahi pipinya yang kemerahan. Dengan kasar dan terburu. Matanya sembab sekali, tapi dia mengulum senyum dengan cara yang manis.
"Aku... diminta Taehyung untuk mengantarkan ini padamu." ku ulurkan tanganku untuk memberikan paperbag itu padanya. Tak sengaja, tanganku bersentuhan dengan tangannya saat dia menerima. Dan lagi-lagi, ada desir aneh yang ku rasa.
Tubuhku mendadak sakit di bagian yang tak jelas.
"Terimakasih. Masuklah dulu," katanya, sambil memasukkan kunci ke lubangnya. "akan ku buatkan minum. Kau pasti lelah sudah jauh-jauh kemari."
Aku tak sampai hati untuk menolak, jadilah ku anggukkan kepalaku tanda setuju. Kemudian aku masuk ke apartemen kecilnya yang sederhana.
Aku merasa asing dengan apa yang ku lihat. Tapi ketika melihat pungung itu aku merasakan hal yang berbeda. Seperti aku kenal betul posturnya. Dia yang menghadap konter dapur dan mengambil gelas yang tergantung itu seolah pernah ku lihat sebelumnya. Tapi entah kapan, di mana. Di kepalaku tak ada jawaban tentang ini. Sama sekali.
"Duduklah, maaf tak ada kursi yang nyaman untukmu."
"Terimakasih."
Benar, memang tak ada kursi. Hanya ada empat bantal alas duduk di atas lantai priketnya, mengelilingi sebuah meja bundar kecil. Tidak ada sekat di ruangan yang tak terlalu luas itu. Dari tempatku duduk, aku bisa langsung melihat kompor, kulkas kecil, dan selembar kasur tipis yang selimutnya tak terlipat rapi. Tak banyak furnitur di sana. Benar-benar sederhana.
"Ish."
Aku mendengar lelaki berambut hitam itu mendesis, aku juga melihat ada cairan kuning yang jatuh menetes ke lantai. Dia menumpahkan limun dari botol yang dipegangnya. Aku melihat dia tergesa mengambil selebar kain bal dan langsung duduk bersimpuh untuk mengelap lantainya yang basah.
"Biar ku bantu," kataku seraya bangkit dari dudukku dan menghampirinya. Aku berjongkok dan hendak mengambil kain bal itu, tapi dia menggelengkan kepala.
"Tidak. Tidak usah. Tidak apa-apa."
"Kau baik-baik saja?" tangannya sedikit gemetaran.
"Aku baik-baik saja. Hanya kurang tidur, jadinya begini." dia sedikit berkelakar dengan tawanya yang tipis.
"Apa kau bekerja di malam hari?"
"Ya," katanya sambil sedikit mengedikkan bahu.
Lalu dia bangkit berdiri selesai lantainya dia bersihkan. Pun dengan aku yang juga berdiri dengan menumpu pada pegangan tanganku di tepian konter. Aku memandanginya dari jarak yang dekat. Dan lagi-lagi, entah ini yang ke berapa kali, aku merasa ada bagian dalam tubuhku yang sakit. Perih.
Padahal kami tak saling bersentuhan, dia pun tak sedang menatapku. Hanya aku yang terfokus padanya dalam pandangku. Tapi rasanya sakit. Aku menelan ludah dengan susah.
Aku memang sering merasa sedih dan tak nyaman setiap kali aku bertemu dengan orang-orang yang telah aku lupakan. Tapi padanya, rasa itu lebih besar.
"Aku... akan mengganti gelas yang ini. Lengket gara-gara tumpahan tadi." ada kekeh yang dipaksakan dari suaranya.
Aku hanya diam memerhatikannya mengambil gelas. Pandanganku tertuju pada sosoknya, fitur wajahnya, dan perawakannya yang mungil dan kurus. Jari-jarinya yang panjang dan lentik itu menaruh gelas di atas konter dengan satu bunyi tak kecil. Sedangkan sebelah tangannya yang lain ada di perutnya.
Saat itu aku menerka, mencoba mengira tentang jawaban atas apa yang ku lihat.
"Apa kau sedang—," kataku menggantung. Dia tahu aku memerhatikannya. Dia berpaling dengan sedikit canggung.
"Oh. Iya."
Tangannya masih berada di sana, di atas perutnya yang tak terlalu terlihat menonjol karena tertutup kaos hitam besarnya.
Aku tak tahu lagi apa yang harus ku katakan. Aku ingin bertanya banyak hal, tapi tak ku utarakan karena aku tak berani. Kecanggungan di antara kami membuatku begitu. Mana lagi, aku tak tahan kalau teus merasa sakit karena hal yang tak ku pahami.
Akhirnya setelah meminum setengah gelas limun yang disuguhkannya, aku minta diri.
"Anu, sepertinya aku harus kembali sekarang."
Dia mengantarku sampai ke depan pintu.
"Terimakasih," ucapnya.
"Tidak, terimakasih."
Aku mengigit jariku sekilas. Aku ingin mengatakan sesuatu, tentang kebiasaan baruku setelah aku bangun dari koma. Memeluk siapa pun yang kutemui hanya agar otakku mendapat stimulan untuk bekerja mengembalikan lembar yang terkubur.
"Anu, Yoongi-ah."
"Ya?"
"Apa boleh... aku memelukmu?"
Matanya sedikit membesar ketika aku mengatakan itu.
"Sebetulnya, aku sering melakukan ini pada teman-temanku supaya aku juga cepat bisa mengingat mereka kembali... dan kamu, aku ingin mengingatmu juga, Yoongi-ah."
Aku tahu ini akan membuat keadaan bertambah canggung di antara kami. Jadi aku hanya melempar mataku dengan gelisah.
"Boleh saja," katanya.
Tak ku sangka dia akan mengamini permintaanku. Di ambang pintu itu, dia berdiri. Bahunya sedikit terangkat ketika dia mengulas senyum.
Aku pun melangkahkan kakiku dengan kikuk ke arahnya. Satu, dua, tiga langkah yang mengikis jarakku dengannya. Lalu tepat di hadapannya, aku membentangkan tanganku dan menariknya ke dalam pelukan.
Ku rasakan tangannya di punggungku. Dia membalas. Kepalaku di bahunya, dan wajahnya di dadaku. Aku menghirup aroma asing yang menguar dari dirinya. Suatu aroma yang tak ku kenal, tapi betul-betul membuat memoriku seolah berputar jauh ke masa lalu.
Memeluknya membuat desir di dadaku menguat, lama-lama menjadi sesuatu yang menyakitkan. Entah, perih.
Balasan pelukannya membuat sesuatu dalam diriku terluka, dan perih itu sebagai reaksinya. Tapi aku tak tahu bagian mana itu, karena kepalaku masih tak bisa mengingat alasan mengapa perasaanku begitu kuat ketika kami berpelukan.
.
Arun
.
"Tae."
"Hm?"
"Katakan padaku siapa sebenarnya Yoongi itu."
Rutinitas malam yang belum berubah setiap aku dan dia memandangi langit-langit kamar yang berbintang dalam kegelapan. Hanya saja aku membawa perasaanku ke rumah, tentang Yoongi yang terus terbayang di kepalaku.
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Ya," kataku. "dia... sedang hamil, bukan? Tapi kenapa dia tinggal sendirian di tempat seperti itu? Mana lagi dia bekerja malam. Apa tidak ada yang mengurusnya?"
Ku lirik Taehyung dan dia hanya diam. Dahinya sedikit berkerut. Bukan, bukan marah. Aku seperti melihatnya sedang berpikir. Tapi entah memikirkan apa. Tatapannya kosong.
Kadang aku juga berpikir, Taehyung tak ingin mengatakan beberapa hal, dan aku harus tahu kalau dia ingin aku memahaminya sendiri tanpa bertanya.
Jadi ku biarkan dia tetap diam seperti itu, sementara aku pun turut menerawang jauh, kembali pada siang hariku di kediaman Yoongi. Sepotong kenangan baru yang ku rekam di kepala dan hatiku. Pertemuanku dengan Yoongi.
Juga tentang pelukan kami sebelum aku pamit pulang.
"Tae."
"Hm?" dia hanya bergumam. Ku rasakan ranjang sedikit berderit ketika dia memerosotkan tubuhnya dan benar-benar berbaring meluruskan kaki.
"Aku... memeluknya," ucapku. "dan aku merasakan sesuatu yang aneh saat itu."
"Apa yang kau rasakan?"
"Sakit." aku meringis mengingatnya. Rasa sakit ketika aku berpelukan dengan Yoongi dan rasa sakit ketika aku menceritakannya masih sama. "Aku merasa sakit, menderita."
Dia mendengarkanku tanpa merespon apapun, hanya bernapas.
Lantas ku julurkan tanganku untuk meraih pundaknya, ku rapatkan dia padaku untuk ku peluk. Dan saat bersamanya, memeluknya, aku merasakan hal yang jauh berbeda di banding ketika aku memeluk Yoongi.
"Memelukmu, aku merasa sakit itu memudar dengan sendirinya."
Dia masih tak meresponku dengan jawaban, atau setidaknya dengan gumaman. Tidak. Dia hanya diam, seolah menjadi pendengar setia saja.
"Katakan, Tae. Siapa dia sebenarnya?"
Dia tak menjawab, malah membalas pelukanku dan mengatukkan kepalanya ke dahiku.
"Tae."
"Jimin, aku tak selalu harus memberitahumu segala hal, bukan? Katamu kau menggunakan hatimu untuk meyakinkan diri. Sekarang ketika kau merasakan derita ketika memeluknya, harusnya kau menyadari sesuatu. Tentang alasan yang membuatmu menjadi seperti itu. Karena aku tak selamanya tahu tentang apa yang kau rasakan," ujarnya panjang lebar.
"Tae, jangan buat aku berpikir kalau aku telah mengkhianatimu demi dia."
"Siapa yang mengkhianati siapa? Kau bercanda." dia sedikit tertawa. Tadinya sempat terlintas di pikiranku bahwa alasan aku merasa menderita adalah karena aku pernah berbuat salah di masa lalu. Ku pikir aku telah berpaling dari Taehyung yang ku cintai dan memilih yang lain.
"Tae."
"Tidak ada yang terkhianati, tidak ada. Hidupmu bahagia sebelum ini, Jimin-ah," seperti malam-malam sebelumnya, dia selalu menyingkirkan anak rambutku yang panjangnya sampai ke bulu mataku. "Hidupmu bahagia, bahkan ketika kau bersamanya."
Ah, benar bukan dugaanku? Jika di mengatakan hal seperti itu, seolah terbukti bahwa aku pernah bersama Yoongi. Kalau tidak, kenapa ada samar luka yang ku lihat dari matanya?
Kami saling menerawang pantulan kelereng masing-masing.
"Tae, aku hanya mencintaimu, dan katamu dia hanya teman biasa, bukan—"
"Temuilah dia lagi, jika kau ingin tahu lebih banyak tentangnya."
Dia menyela sebelum aku selesai bicara. Aku tak tahu apa dia mendengarku atau tidak. Mungkin tidak karena ucapan kami bertubrukan di saat yang sama. Tapi ketika dia membalik badannya dan memunggungiku, aku merasa tak nyaman.
"Esok temuilah dia lagi," tukasnya, sebelum dia menarik selimutnya lebih tinggi.
Aku ragu untuk memeluknya. Rasa bersalah di dadaku mengurung. Tanganku bahkan tak lagi bertengger di bahunya.
"Selamat tidur Jimin-ah."
Apa aku telah mengkhianatinya?
Apa hubungan antara aku dan Yoongi di masa lalu?
.
Arun
.
Continued
It's Jimin side. Dan tersisa satu bagian lagi sebagai konklusi.
