"TWILIGHT"

Remake dari sebuah novel berjudul TWILIGHT oleh Stephenie Meyer.

Yang kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Lili Devita Sari

Diremake dengan sedikit perubahan untuk penyesuaian cerita. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari cerita ini. Hak cipta sepenuhnya milik penulis. Dan saya hanyalah me-REMAKE dengan menggunakan penyesuaian.

IT'S SO DAMN YAOI. IF YOU HAVE HOMOPHOBIC/HATE YAOI JUST CLICK BACK AND GO AWAY. IT'S SO EASY.

HUNHAN

RATED: T

Beberapa peran (baik karakter dan nama) akan diubah untuk penyesuaian cerita. Saya mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan.

Dilarang men-copy paste FF ini meski ini hanyalah hasil remake dari sebuah Novel dan bukan cerita hasil dari diri saya sendiri. Kalian mungkin belum pernah merasakan meremake dari novel ke bentuk ketikan secara manual itu sangatlah melelahkan. Jadi mohon tolong dihargai.

Note: karena ada yang review dan bilang masih bingung, atau belum dapat feelnya HunHan. Jadi saya akan merombak ulang remake ini untuk karakternya dari chapter awal, kecuali beberapa orang untuk memudahkan pembaca. untuk setting tidak akan saya ubah. Karena mungkin ada dari kalian yang udah baca dari chapter 1 dan ada sedikit perbedaan dalam cerita. Mohon maaf apabila kurang nyaman.

..Chryssans289..

The most main Character Idetified:

1). Bella Swan /genderbender/: Xi Luhan (male)

2). Carlisle Cullen: Oh Junmyeon

3). Esme Cullen: Oh Esme

4). Edward Cullen: Oh Sehun

5). Emmet Cullen: Oh Chanyeol

6). Alice Cullen: Oh Taeyeon

7). Rosalie Hale /genderbender/: Byun Baekhyun (male)

8). Jasper Hale /genderbender/: Byun Baekhee (female)

9). Luhan's Mom: Xi YiFei

10). Jacob Black: Wu Yi Fan

Other cast is on going..

.

.

Enjoy!

.

.

BAB II: BUKU YANG TERBUKA

.

.

.

Keesokan harinya lebih baik.. tapi juga lebih buruk.

Lebih baik karena hujan belum turun, meski langit sudah tebal oleh mendung. Itu lebih mudah karena aku tahu apa yang kuharapkan. Kai duduk bersamaku di kelas Bahasa Inggris, dan mengantarku ke kelas berikut. Chen si anggota klub Catur memelototinya sepanjang waktu; membuatku tersanjung. Orang-orang tidak memandangiku seperti kemarin. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang, bersama Kai, Chen, Jessica, dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. Aku merasa seperti air yang mengalir tenang sekarang, bukan tenggelam.

Lebih buruk karena aku lelah. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. Lebih buruk karena Mr Varner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. Menyedihkan karena aku harus main voli, dan sekalinya tidak terhantam bola, aku malah melemparnya ke teman sereguku. Dan lebih buruk karena Sehun sama sekali tak terlihat di sekolah.

Sepagian aku sangat mengkhawatirkan saat makan siang, waswas terhadap tatapan anehnya. Sebagian dari diriku ingin mengonfrontasi dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. Ketika terbaring nyalang diranjang, aku bahkan membayangkan apa yang akan kukatakan. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik, tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah.

Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica—mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Sehun dan gagal total—aku melihat keempat saudaranya duduk bersama di meja yang sama, tapi ia sendiri tidak ada.

Kai menghadang dan mengajak kami ke mejanya. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Kai, dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka, aku merasa sangat tidak nyaman, gelisah menantikan kedatangan Sehun. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti, dan membuktikan kecurigaanku keliru.

Ia tidak datang, dan dengan berlalunya waktu, akupun semakin tegang.

Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. Sampai waktu makan siang berakhir tadi, Sehun masih belum muncul juga. Kai, yang mirip Golden Retriver, melangkah setia disisiku menuju kelas. Sesampainya di pintu aku menahan napas, tapi Sehun juga tidak ada disana. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Kai mengikuti sambil terus menceritakan rencana jalan-jalan kepantai. Ia tetap dimejaku sampai bel berbunyi. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan wanita berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang pria itu, dan ini takkan mudah. Di kota seperti ini, tempat orang-orang selalu ingin tau apa yang terjadi atas orang lain, diplomasi sangatlah penting. Aku tak pernah pandai berdiplomasi; aku tak pernah pandai menghadapi teman pria yang kelewat ramah meski dasarnya aku seorang pria. Aku adalah orang yang cukup tertutup dan mencintai ketenangan.

Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian, berhubung Sehun tidak masuk. Aku terus-menerus mengingatkan diriku, tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Betapa konyol dan narsis aku bisa memengaruhi orang seperti itu. Tidak mungkin. Tapi aku tidak bisa berhenti menghawatirkan bahwa hal itu benar.

Ketika sekolah akhirnya usai, dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli mulai memudar, aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweater biru tentaraku. Aku bergegas meninggalkan kamar ganti, senang karena untuk sementara bisa melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. Aku berjalan cepat menuju parkiran. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu lalang. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas, memastikan semua ada di situ.

Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama aku tinggal bersamanya. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Mama sering mengajariku memasak sedari aku kecil, jadi hal seperti itu bukanlah masalah besar. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun dirumah. Jadi aku membuat daftar belanjaan, lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN yang disimpan di lemari, dan sekarang akan menuju Thriftway.

Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar, mengabaikan kepala-kepala yang menengok, dan mundur pelan menuju barisan mobil yang mengantre keluar dari parkiran. Ketika aku menunggu, mencoba berpura-pura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain, aku melihat Oh bersaudara, dan si kembar Byun masuk ke mobil mereka. Volvo baru yang mengkilap. Tentu saja. Sebelumnya aku tidak memerhatikan pakaian mereka—aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. Karena sekarang aku memerhatikan, jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus, simple, namun bermerk. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren, gaya mereka, mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Tapi sejauh yang ku ketahui, hidup memang lebih sering seperti itu. Dan sepertinya tak lantas membuat mereka diterima disini.

Tidak, aku tidak percaya sepenuhnya. Mereka memang suka menyendiri; tak bisa kubayangkan tak ada yang mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu.

Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka, sama seperti yang lain. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah.

The Thriftway tak jauh dari sekolah, hanya beberapa blok ke selatan, selepas jalan raya. Rasanya menyenangkan bisa berada di dalam supermarket; rasanya normal. Ditempat asalku akulah yang berbelanja, dan aku menyukainya. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan diatap yang mengingatkan keberadaanku sekarang.

Sampai dirumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan, lalu menyumpalkannya dimana-mana. Kuharap Charlie tidak keberatan. Kubungkus kentang dengan alumunium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya, melapisi steik dengan saus marinade, dan meletakkannya diatas sekarton telur di kulkas.

Selesai melakukannya, aku membawa tas sekolahku keatas. Sebelum mengerjakan PR, aku mengganti pakaian dengan yang kering, mengikat poniku yang mulai memanjang dengan karet kecil hingga kini rambutku tampak seperti apel, dan kemudian memeriksa e-mail-ku untuk pertama kali. Aku mendapat tiga pesan.

"Xiao-Lu...

Tulis ibuku.

...Kirimi aku kabar begitu kau sampai. Ceritakan bagaimana penerbanganmu. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. Aku hampir selesai mengepak untuk ke Florida, tapi aku tak bisa menemukan blus pinkku. Kau tau dimana aku meletakkannya? Phil kirim salam. -Ma."

Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. Pesan itu dikirim delapan jam setelah pesan pertama.

"Lu...

Tulisnya.

Kenapa kau belum mengirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? –Ma."

Yang terakhir dikirim pagi ini.

"Xi Luhan, kalau sampai jam setengah enam sore aku masih belum juga mendengar kabar darimu, aku akan menelpon Charlie."

Aku melihat jam. Aku masih punya waktu satu jam, tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak.

"Ma, tenang saja. Aku sedang menulis sekarang. Jangan konyol –Lulu."

Aku mengirimnya, dan memulai lagi.

"Ma, aku baik-baik saja. Tentu saja disini hujan. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. Sekolahku tidak jelek, hanya sedikit mengulang pelajaran. Aku bertemu beberapa anak yang baik saat makan siang bersamaku. Blus pinkmu ada di dry clean—kau harus mengambilnya hari jum'at."

Charlie membelikan aku truk, kau percaya? Aku menyukainya. Mobil tua, tapi benar-benar "bandel", yang berarti bagus, kau tau kan, buatku.

Aku juga rindu denganmu. Aku akan menulis lagi nanti, tapi aku takkan mengecek e-mailku setiap lima menit sekali. Tenang, tarik napas. Aku sayang Mama. –Lulu."

Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights—novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris—demi kesenangan, dan itulah yang kukatakan ketika Charlie pulang. Aku lupa waktu, dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steiknya.

"Luhan?" panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga.

Memangnya ada orang lain? Pikirku.

"Hai, Dad, sudah pulang?"

"Ya." Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan bootnya sementara aku sibuk di dapur. Setahuku, ia tidak pernah menembakkan senjatanya selama bertugas. Tapi senjatanya itu selalu siaga. Sewaktu aku datang kesini, ketika aku masih kanak-kanak, Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu ia masuk kerumah. Kurasa sekarang ia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri, dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri.

"Kita makan malam apa?" tanya Dad hati-hati. Ibuku juru masak imajinatif, dan percobaannya selalu tak aman untuk dimakan.

"Steik dan kentang," jawabku. Dan Dad tampak lega.

Sepertinya ia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa; jadi ia pergi ke ruang tamu dengan langkah di seret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Ini lebih nyaman untuk kami berdua. Aku membuat salad sementara steiknya sedang di panggang, kemudian menyiapkan meja makan.

Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap, dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan.

"Aromanya lezat, Lu,"

"Terima kasih."

"Kau terlihat imut."

Aku menoleh ketika Dad berbicara, kepalaku meneleng tanda tak mengerti.

"Kuncirmu, seperti apel, atau air mancur?" aku dapat melihat Dad tersenyum.

Aku tersipu, pipiku memerah, "Kupikir poniku sudah terlalu panjang, aku belum sempat memotongnya. Jadi yah, aku mengikatnya."

"Jangan dipotong,"

"Huh?"

"Kau lebih imut dengan rambut seperti itu."

Ah, aku mengerti. "Tapi rambutnya menusuk mataku."

"Begitukah? Potonglah kalau begitu, jangan terlalu berlebihan, kau tidak cocok dengan jenis rambut cepak ala tentara." Well, Dad mencoba mencairkan suasana. Dan aku hanya tersenyum tipis, terpaksa.

"Tentu saja tidak akan," balasku pelan.

Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Namun diam yang nyaman. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. Dalam beberapa hal, kami sangat cocok hidup bersama.

"Jadi, bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah mendapat teman baru?" Dad berkata setelah mengulur waktu.

"Well, aku mengambil beberapa kelas bersama wanita yang bernama Jessica. Saat makan siang, aku duduk bersama teman-temannya. Lalu ada seorang pria, namanya Kai, yang sangat bersahabat. Semuanya kelihatan lumayan baik." Dengan satu pengecualian mencolok.

"Itu pasti Alexander Kai. Anak baik—keluarganya baik. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. Karena banyak backpacker yang datang kesini, dia cukup berhasil."

"Apa kau mengenal keluarga Oh?" tanyaku ragu-ragu.

"Keluarga Dr Oh? tentu. Dr Oh orang hebat."

"Mereka.. anak-anaknya... agak berbeda. Sepertinya mereka tidak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah."

Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah.

"Orang-orang di kota ini," gumamnya."Dr Oh ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit manapun di dunia ini, dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya di sini." Lanjutnya, suaranya makin keras.

"Kita beruntung memilikinya—beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. Dia aset bagi komunitas kita, dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. Aku memang pernah ragu ketika mereka pindah kesini, dengan anak-anak remaja adopsi itu. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. Tapi mereka sangat dewasa—aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orang tuanya telah tinggal di sini selama beberapa generasi. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa—pergi kemping setiap dua akhir pekan sekali... Tapi hanya karena mereka pendatang baru, lalu orang-orang menggunjingkan mereka."

Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. Ia pasti tidak menyukai apapun yang dikatakan orang-orang.

Aku mundur sedikit. "Bagiku mereka sepertinya cukup ramah. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. Mereka sangat menarik." Tambahku.

"Kau harus bertemu Dr Oh," kata Charlie tertawa. "Untunglah pernikahannya bahagia. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkosentrasi bila dia berada di sekitar mereka."

Kami kembali terdiam ketika selesai makan. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. Ia kembali menonton TV, dan setelah selesai mencuci piring—disini tidak ada mesin pencuci piring—dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR matematika-ku. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya.

Malam itu suasana tenang. Aku tertidur dengan cepat, kelelahan.

Sisa minggu itu berlangsung membosankan. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. Pada hari jum'at aku sudah bisa mengenali wajah, kalaupun bukan nama, hampir semua murid di sekolah. Di gimnasium anak-anak di timku sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak terburu-buru melangkah di depanku kalau tim lain coba memanfaatkan kelemahanku. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka.

Sehun tidak kembali ke sekolah.

Setiap hari dengan was-was aku memerhatikan sampai seluruh keluarga Oh memasuki kafetaria tanpanya. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut bergabung dalam pembicaraan. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai oleh Kai. Aku diajak, dan telah setuju untuk ikut. Bukan karena ingin, tapi karena tidak enak untuk menolak. Pantai seharusnya panas dan kering.

Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. Charlie, yang tidak terbiasa menghabiskan waktu dirumah, yang biasanya kosong, memilih bekerja sepanjang akhir pekan. Aku membersihkan rumah, mengerjakan PR, dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. Hari sabtu aku pergi ke perpustakaan, tapi berhubung koleksinya sangat sedikit, aku tidak jadi membuat kartu anggota; aku harus segera membuat jadwal untuk mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku yang bagus di sana. Iseng, aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini... dan bergidik memikirkannya.

Sepanjang akhir pekan hujan gerimis, tenang, sehingga aku bisa tidur nyenyak.

Hari senin orang-orang menyapaku di parkiran. Aku tidak tau nama mereka masing-masing, tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. Pagi ini cuaca lebih dingin, tapi untungnya tidak hujan. Di kelas Bahasa Inggris, seperti biasa Kai duduk disebelahku. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Sejujurnya ulangan itu sangat mudah.

Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka akan kurasakan pada titik ini. Lebih nyaman dari yang kuperkirakan.

Ketika kami berjalan keluar kelas, udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. Angin menerpa pipi dan hidungku.

"Wow," kata Kai. "Salju,"

Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputar-putar di wajahku.

"Uuuuhh." Salju. Hilang sudah hari baikku.

Kai tampak terkejut. "Tidakkah kau suka salju?"

"Tidak. Itu berarti terlalu dingin untuk hujan." Jelas. "Selain itu, kupikir seharusnya salju turun dalam kepingan—tau kan, masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud."

"Kau pernah melihat salju tidak sih?" tanyanya heran.

"Tentu saja pernah." Aku terdiam, "Di TV."

Kai tertawa. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. Aku curiga itu perbuatan Chen, yang berjalan menjauh memunggungi kami—dan bukannya menuju ke kelasnya. Sepertinya Kai memiliki dugaan yang sama. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih.

"Kita ketemu lagi saat makan siang, oke?" aku berkata sambil terus berjalan. "Begitu orang-orang mulai melemparkan bola basah itu, aku langsung masuk."

Kai hanya mengangguk, matanya tertuju pada sosok Chen yang semakin menjauh.

Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang; rupanya ini salju pertama di tahun baru. Aku tidak mengatakan apa-apa. Tentu saja lebih kering daripada hujan—sampai saljunya mencair di kaus kakimu.

Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. Bola-bola salju melesat kemana-mana. Aku memegang binder di tanganku. Jessica menganggapku konyol, tapi sesuatu pada ekpektasi menahannya untuk tidak melemparkah bola salju kearahku.

Kai menghampiri ketika kami sampai ke pintu. Ia tertawa, gumpalan es meleleh dirambutnya. Ia dan Jessica benar-benar penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. Diluar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja pojok. Lalu aku berdiri mematung. Ada lima orang dimeja itu.

Jessica menarik lenganku.

"Halo? Luhan? Kau ingin apa?"

Aku menunduk; telingaku panas, aku tak punya alasan untuk merasa malu. Aku mengingatkan diriku sendiri. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah.

"Luhan kenapa sih?" Kai bertanya pada Jessica.

"Tidak apa-apa," jawabku. "Hari ini aku minum soda saja." Aku berjalan pelan ke ujung antrean.

"Kau tidak lapar?" tanya Jessica.

"Sebenarnya, aku merasa sedikit tidak enak badan." Kataku, mataku masih tertuju pada lantai.

Aku menunggu Kai dan Jessica mengambil makanan mereka, lalu mengikuti mereka ke meja. Mataku menatap kebawah.

Aku menghirup sodaku pelan-pelan, perutku keroncongan. Dua kali Kai menanyakan keadaanku, dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Kukatakan aku baik-baik saja. Tapi berpikir apakah sebaiknya aku bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama satu jam kedepan.

Konyol. Aku seharunya tak perlu melarikan diri.

Aku memutuskan melirik sekali lagi meja tempat keluarga Oh berada. Kalau ia menatapku, aku akan bolos kelas Biologi, seperti pengecut.

Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. Tak satupun dari mereka melihat kearahku. Aku sedikit mengangkat kepala.

Mereka sedang tertawa. Sehun, Baekhyun, dan Chanyeol, rambut mereka berlumuran salju yang meleleh. Taeyeon dan Baekhee menjauhkan diri ketika Chanyeol mengibaskan rambutnya yang basah kearah mereka. Mereka menikmati hari bersalju, seperti anak-anak lainnya—hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami.

Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu, ada sesuatu yang berbeda, aku tidak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. Aku mengamati Sehun dengan sangat saksama. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat—barangkali memerah akibat perang-perangan salju—lingkaran dibawah matanya juga tidak terlalu kentara. Tapi ada sesuatu. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka, berusaha menemukan perubahan itu.

"Kau sedang menatap apa Lu?" Jessica membuyarkan lamunanku, matanya mengikuti arah pandanganku.

Pada saat bersamaan mata Sehun bersibobrok dengan mataku.

Aku menunduk, kubiarkan poniku yang panjang menutupi dahi dan sebagian kelopak mataku. Meski aku begitu yakin, saat sekilas mata kami beradu pandang itu, ia tak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia hanya kelihatan penasaran, seperti tidak puas.

"Oh Sehun menatapmu," Jessica berbisik di telingaku sambil cekikikan.

"Dia tidak terlihat marah, ya kan?" aku tidak bisa menahan diri.

"Tidak," kata Jessica, terdengar bingung dengan pertanyaanku. "Apakah seharusnya dia marah?"

"Sepertinya dia tidak suka padaku," kataku jujur. Aku masih gelisah. Kutangkupkan kepalaku di tangan.

"Keluarga Oh tidak menyukai siapapun... well, mereka memang tidak memerdulikan siapa-siapa. Tapi dia masih memandangimu."

"Sudahlah, jangan dilihat lagi." Desisku.

Jessica mendengus, tapi akhirnya ia juga mengalihkan pandangan. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan, dan bermaksud mengancamnya kalau ia menolak.

Lalu Kai menyela kami—ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. Dari caranya menatap Kai, aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. Aku diam saja. Aku harus bersembunyi di gimnasium sampai lapangan parkir sepi.

Selama sisa waktu makan siang, dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. Kuputuskan untuk melaksanaan ideku tadi. Berhubung ia tidak kelihatan marah, aku akan ikut pelajaran Biologi. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya.

Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bersama Kai seperti biasa—sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju—tapi ketika kami berjalan menuju kelas, semua orang kecuali aku serempak mengeluh. Hujan turun, membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. Aku menaikkan tudung jaket, menyembunyikan perasaan senangku. Artinya aku bebas, bisa langsung pulang setelah olahraga berakhir.

Kai terus mencerocos, dan mengeluh sepanjang perjalanan gedung empat.

Begitu tiba dikelas, aku lega karena mejaku masih kosong. Mr Banner sedang berjalan mengelilingi kelas, membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masing-masing meja. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai, dan ruangan langsung bergema dengan suara anak-anak yang mengobrol. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu, iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku.

Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser, tapi mataku tetap terarah pada gambarku.

"Halo," kudengar suara merdu dan tenang.

Aku mendongak, terkejut karena Sehun-lah yang sedang berbicara padaku. Ia duduk hingga sejauh mungkin keujung meja, tapi kursnya diarahkan padaku. Air menetes dari rambutnya, berantakan—meski begitu ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. Wajahnya yang memesona tampak bersahabat, senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. Tapi matanya tampak berhati-hati.

"Namaku Oh Sehun." Lanjutnya. "Maaf aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. Kau pasti Luhan."

Sangking bingungnya, kepalaku sampai pusing apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Aku harus bicara; ia menunggu. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar.

"B-bagaimana kau tau namaku?" tanyaku terbata-bata.

Ia tertawa lembut, tawa yang menyenangkan.

"Oh, kurasa semua orang tau namamu. Seluruh kota telah menanti-nantikan kedatanganmu."

Aku tersenyum tipis, sudah kuduga jawabannya akan seperti ini.

"Tidak," bantahku bodoh. "Maksudku, kenapa kau memanggilku Luhan?"

Ia tampak bingung. "Kau mau dipanggil Xi Luhan?"

"Tidak, aku lebih suka Luhan," kataku. "Tapi kupikir Charlie—maksudku ayahku—pasti memanggilku Xi Luhan di belakangku—pasti itulah yang diketahui orang-orang disini," aku mencoba menjelaskan, benar-benar merasa seperti orang bodoh.

"Oh." Ia tidak meneruskan. Aku memalingkan wajah malu-malu.

Untungnya Mr Banner memulai pelajaran saat itu juga. Aku mencoba berkosentrasi mendengarkan saat ia menjelaskan tentang percobaan yang akan kami lakukan hari ini. Slide di kotak tak dapat digunakan. Bersama partner masing-masing kami harus memisahkan slide akar bawang merah menjadi tahapan mitosis yang mereka representasikan dan memberi label sesuai identitas mereka. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. Dalam dua puluh menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar.

"Mulai," perintar Mr Banner.

"Kau duluan, partner?" tanya Sehun. Aku menagangkat kepala dan kulihat ia kembali tersenyum begitu menawan sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot.

"Atau aku bisa memulainya kalau kau mau." Senyum itu memudar, jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya.

"Tidak," kataku, wajahku merah padam. "Aku akan memulainya."

Aku memamerkan kemampuanku, haya sedikit. Aku pernah melakukan percobaan ini, dan aku tau apa yang kucari. Seharusnya mudah. Aku meletakkan slide pertama dibawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x. Kupelajari slide-nya sebentar.

Aku yakin dengan pengamatanku. "Profase."

"Boleh aku melihatnya?" pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. Sehun mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. Jari-jarinya dingin bagai es, seolah ia baru saja menggenggam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan, ketika ia menyentuhku, jarinya menyengatku bagai aliran listrik.

"Maaf," gumamnya pelan, langsung menarik tangannya. Bagaimanapun, ia tetap meraih mikroskop. Meski masih kaget, aku memerhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi.

"Profase," ia setuju, dan menulisnya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua, lalu melihatnya sepintas.

"Anafase," gumamnya sambil menulis.

Aku berusaha terdengar tak perduli. "Boleh kulihat?"

Ia terkekeh mengejek, dan mendorong mikroskop kearahku.

Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran, dan merasa kecewa karena dugaanku salah. Sial, dia benar.

"Slide tiga?" kuulurkan tanganku tanpa memandangnya.

Ia menyerahkannya padaku, sepertinya berhati-hati agar tidak menyuruhku lagi.

Aku berusaha mengenalinya secepat yang aku bisa.

"Interfase." Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya. Ia mengintip sebentar lalu menuliskannya. Aku bisa saja menuliskannya ketika ia sedang mengamati, tapi tulisannya yang jelas dan rapi membuatku minder. Aku tidak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku.

Kami selesai duluan. Aku bisa melihat Kai dan partnernya membandingkan dua slide lagi dan lagi, dan kelompok lain membuka buku dibawah meja.

Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. Aku mendongak, dan ia sedang menatapku, pandangan frustasi dan misterius yang sama. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini diwajahnya.

"Kau memakai lensa kontak, ya?" kataku tanpa berpikir.

Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. "Tidak."

"Oh." Gumamku. "Kupikir ada yang berbeda dengan matamu."

Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah.

Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali aku melihatnya—warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. Hari ini warna matanya benar-benar berbeda: coklat kekuningan yang aneh, lebih gelap dari mentega, tetapi dengan nuansa keemasan yang sama. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu, kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. Atau barangkali Forks membuatku sinting, dalam artian yang sebenarnya.

Aku menunduk. Tangannya mengepal lagi.

Lalu Mr Banner menghampiri meja kami, untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Ia melihat dari balik bahu, menatap percobaan yang sudah selesai, lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami.

"Jadi, Sehun, tidakkah kau pikir Xi Luhan perlu diberi kesempatan untuk menggunakan mikroskop?" tanya Mr Banner.

"Luhan," Sehun meralat ucapan Mr Banner. "Sebenarnya dia mengidentifikasi tiga dari lima slide itu."

Sekarang Mr Banner menatapku; ekspresinya skeptis.

"Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?" tanyanya.

Aku tersenyum malu, "Tidak dengan akar bawang merah."

"Whitefish blastula?"

"Yeah."

Mr. Banner mengangguk. "Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?"

"Ya."

"Well," katanya setelah beberapa saat. "Kupikir kalian cocok menjadi partner." Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. Setelah ia pergi, aku mulai mencoret-corat buku catatanku.

"Sayang sekali turun salju, ya kan?" Sehun bertanya. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. Ketakutan kembali menyelimutiku. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan aku salah.

"Tidak juga," jawabku jujur, dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini, dan aku tak bisa berkosentrasi.

"Kau tidak suka dingin." Itu bukan pertanyaan.

"Atau basah."

"Forks pasti bukan tempat yang menyenangkan bagimu." Ujarnya melamun.

"Kau tak tau bagaimana rasanya." Gumamku dingin.

Ia tampak terpesona oleh perkataanku, entah untuk alasan apa, aku tak bisa membayangkannya. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan yang seharusnya.

"Lalu kenapa kau datang kesini?"

Tak seorangpun menanyakan itu padaku—tidak blak-blakan seperti dirinya, begitu menuntut jawaban.

"Jawabannya...rumit."

"Rasanya aku bisa mengerti." Desaknya.

Lama aku diam, lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung, dan aku menjawab tanpa berpikir.

"Ibuku menikah lagi," kataku.

"Ini tidak terdengar rumit," bantahnya, tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. "Kapan itu terjadi?"

"September lalu." Suaraku terdengar sedih, bahkan untukku sendiri.

"Dan kau tak menyukainya," Sehun mencoba menebak, suaranya masih ramah.

"Tidak, Phil baik. Terlalu muda barangkali, tapi cukup baik."

"Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?"

Aku tidak bisa mengerti ketertarikannya, tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk, seolah kisah hidupku yang membosankan entah kenapa menjadi sangat penting.

"Phil sering bepergian. Dia pemain bola." Aku setengah tersenyum.

"Apakah dia terkenal?" tanyanya, balas tersenyum.

"Barangkali tidak. Dia bukan pemain andal. Benar-benar liga kecil. Dia sering berpindah-pindah."

"Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian dengannya." Lagi-lagi ia melontarkan dugaan, bukan pertanyaan.

Dahiku mengkerut. "Tidak, dia tidak mengirimku kesini. Aku sendiri yang mau."

Alisnya bertaut. "Aku tak mengerti," katanya, dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini.

Aku mengehela napas. Kenapa aku menjelaskan semua ini padanya? Ia terus menatapku penasaran.

"Mula-mula dia tinggal denganku, tapi dia merindukan Phil. Ini membuatnya tidak bahagia... jadi kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang lebih berkualitas bersama Charlie." Suaraku terdengar muram ketika selesai berbicara.

"Tapi sekarang kau tidak bahagia." Ujarnya.

"Lalu?" tantangku.

"Itu tidak adil." Ia mengangkat bahu, namun tatapannya masih tajam.

Aku tertawa sinis, "Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil."

"Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini." Timpalnya datar.

"Ya sudah, itu saja." Kataku, bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu.

Tatapannya berubah menilai. "Kau pandai berpura-pura," katanya pelan. "Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kau perlihatkan pada orang lain."

Aku tersenyum, menahan keinginan untuk menjulurkan lidahku seperti anak lima tahun, lalu memalingkan wajah.

"Apa aku salah?"

Aku mencoba mengabaikannya.

"Kurasa tidak," gumamku puas.

"Kenapa ini penting untukmu?" tanyaku jengkel. Aku terus menghindari pandangannya, mengawasi Mr Banner yang sedang berkeliling.

"Pertanyaan yang sangat bagus," ujarnya, teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat.

Aku menghela napas, memandang marah kearah papan tulis.

"Apa aku mengganggumu?" Tanya Sehun. Ia terdengar senang.

Aku memandangnya tanpa berpikir... dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya. "Tidak juga. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Ekspresiku sangat mudah ditebak—ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka." Wajahku merengut.

"Kebalikannya, aku malah sulit menebakmu." Terlapas dari semua yang kukatakan dan diduganya, ia terdengar bersungguh-sungguh.

"Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang," balasku.

"Biasanya," ia tersenyum lebar, memamerkan sederet gigi putih yang sempurna.

Sehun kembali diam, tatapannya mengarah keluar jendela, mengamati rintik hujan.

Mr Banner menyuruh murid-murid tenang, dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku kepada pria yang membosankan namun tampan ini, yang mungkin membenciku atau tidak. Ia tampak menikmati percakapan kami, tapi sekarang bisa kulihat, dari sudut mataku, bahwa ia menjauh lagi dariku. Tangannya tegang mencengkram ujung meja.

Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr Banner menjelaskan dengan menggunakan transparansi OHP, tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku.

Ketika bel akhirnya berbunyi, Sehun langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. Dan seperti senin lalu, aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum.

Kai dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. Aku membayangkannya dengan ekor yang bergoyang-goyang.

"Itu buruk sekali," erangnya. "Semua isi slide itu mirip. Kau beruntung berpasangan dengan Oh."

"Gampang saja buatku." Kataku, terkejut mendengar ucapannya. Aku langsung menyesal. " Aku pernah melakukan percobaan ini, itu saja." Lanjutku sebelum perasaannya terluka.

"Sehun tampak cukup ramah hari ini," ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. Kai tidak tampak senang.

Aku berusaha terdengar kasual, "Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu."

Aku tak sanggup menyimak celotehan Kai sepanjang perjalanan menuju ke gimnasium, dan pelajaran olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. Kai satu tim denganku hari ini. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya, sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapatkan giliran serve. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba.

Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan kelapangan parkir, tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. Kunyalakan mesin penghangat, sekali ini tak memerdulikan suara mesin yang meraung-raung. Aku membuka jaket, melepas tudungnya, dan membiarkan rambut lembabku mengering terkena angin dalam perjalanan pulang.

Aku memandang sekelilingku, memastikan tak ada siapa-siapa. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. Oh Sehun sedang bersandar di pintu depan Volvo-nya, yang jaraknya tiga mobil dariku, matanya menatapku lekat-lekat. Aku langsung mengalihkan pandangan dan memundurkan truk, begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. Toyota itu beruntung, aku menginjak rem tepat pada waktunya. Trukku jenis penghancur. Aku menarik napas panjang, masih melihat ke sisi lain mobil, dan berhati-hati mundur lagi, kali ini lebih baik. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu, namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa.

.

.

.

BAB II: End.

.

Well, jujur saya cukup sedih ketika liat review sama yang follow/faf/view person-nya jauh timpang. Banyak yang liat tapi yang review bahkan ga sampe seperempat dari yang liat. Tapi saya bisa apa? saya hanyalah seorang author, ga mungkin juga maksa kalian buat review. Jujur itu bikin saya sedih dan nyaris mau hapus story remake ini.

because I fells like; saat kita udah kerja keras dan sama sekali gak dihargai itu rasanya gimana ya? Capek? Sedih? Kecewa? Ya kira-kira pencampuran dari rasa-rasa itu ampe jadi nano-nano. Tapi saya merubah pikiran, harus positif. Saya melakukan ini karena saya ingin dan saya berharap kalian terhibur dengan remake fanfiction ini. Jadi saya bakal berusaha tamatin apa yang sudah saya mulai sebisa mungkin.

Kupikir kalian udah ngerti lah ya. Kalian udah dewasa dan paham gimana rasanya ketika usaha keras kalan hanya dianggap angin lalu. Apa salahnya ngetik satu dua kalimat penyemangat/saran/kritik membangun di kotak review, contoh: "semangat bro."/ "lanjut thor." / "figting cuy." / "jangan hiatus men." atau apapun. saya ga keberatan kalian manggil saya apapun asalkan itu sopan. Jadi saya berharap yang masih sider, tolong lah mulai belajar menghargai jika karya anda sekalian ingin dihargai. Karena saya pun begitu. Setidaknya saya akan meluangkan waktu kurang dari satu menit untuk mereview FF yang saya baca.

Nah, saya sengaja gak kasih 'titik' setelah penulisan Dr – Mr – Mrs dan sejenisnya. Karena berdasarkan pengalaman Chapter 1, itu pas di upload namanya malah ilang. Contoh: Dr Oh, itu kalo dikasih titik setelah kata Dr entar ' Oh'-nya malah ngilang. Jadi maaf ya.

Satu lagi, kemarin banyak yang review katanya masih kurang ngerti akibat marga dan Nama yang saya ganti dan feels HunHan yang kurang dapet. Jadi saya rombak semuanya, kalian bisa baca ulang dari Chapter 1 kalau mau. Tadinya ada nama barat dan marga Cullen-nya ga saya ubah. Sekarang sudah saya rombak jadi nama-nama Korea semua kecuali beberapa orang untuk memudahkan pembaca. semoga kalian tidak keberatan.

Jangan lupa review chingudeul, aku sayang kalian^^

.

Chryssans289

18/06/2017