Haloooo..
Buat yg udah pada req, sabar ya.. Chapter depan mungkin lagunya muncul. ;;)
Chrizzle mungkin udah kena ispa (infeksi saluran pernafasan atas) karena kabut asap di riau taaaak kunjung berhenti. Sudah dari sebulan yang lalu, dan tgl 13 kemarin yg terparah. Dududuh, Yatuhaaan, datangkanlah hujan! Butuh udara segar ya tuhan! #PrayForPekanbaru.
Sedih, ijel ngga sekolah, ngga bisa main, dirumah aja kayak orang bego, tapi engga juga niat untuk nulis. Tapi yasudah, kita berdoa aja yang terbaik untuk masyarakat riau, dan untuk semuanya.. O:)
Wooooh, aku suka banget baca review kalian chapter pertama itu.. Wkwowk, aku harap, review chappie ini sama hebohnya dengan yang lalu. Hahaha. Aku akan berusaha menghindari typo. Jadi kalo masih ada, gantung aja aku di pohon cabe. #ngedip2 ke fatayahn
(!) Tidak diharuskan mengenal lagu sebelum membaca, karena pada dasarnya lagu itu hanya menginspirasi.
Warning : OOC as always disini Hinata konyol, and Naruto jadi engga takut hantu, Typos as always, ntahngapabisaCANON –ngambil latar sesudah perang, tapi ada neji. :l rate balek ke T, masih manis-manis, belum ada yang minta lagu galau. :l XD
.
.
Song#2 Just The Way You Are - Bruno Mars, special made for YonaNobunaga.
.
.
.
'Aku ingin lebih dekat dengan Naruto-kun.'
'Aku ingin berada disamping Naruto-kun.'
'Aku ingin menggenggam tangannya dan berjalan disebelahnya.'
Tapi, susah mungkin ya. Untuk seorang Hinata. Ia hanya bisa mengungkapkannya dalam hati sendirian, disela-sela waktu istirahat latihan siang.
Angin sepoi yang sejuk membawa suasana menjadi sangat indah, membuat tubuh yang lelah berelaksasi, mata berakomodasi memandang sejauh mungkin, dan tubuh pun mulai mengantuk. Ditambah suara jernih ciprat air terjun yang samar terdengar dari arah barat, membuat suasana siang itu menjadi sangat adem-ayem.
Mata bulan Hinata memberat. Mencoba mengangkat kelopak mata pun ia tak kuat. Akhirnya, di bawah sebuah pohon rindang yang sejuk akibat daunnya yang tak berhenti berfotosintesis, gadis itu tertidur.
Suasananya mendukung, sih.
"Astaga, Hinata-sama."
Keluh seseorang dari jauh. Hinata sudah tak bisa mendengarnya, karena ia sudah terseret jauh dalam mimpi indahnya. Mimpi indah siangnya, yang hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Neji menggeleng-gelengkan kepala, heran akan tingkah adik sepupu kesayangannya yang menghilang sejak tadi pagi. Lenyap dari rumah Hyuuga, melewatkan sarapan dan waktu minum teh, dan kini malah tiduran di bawah pohon seperti penjual es yang kecapaian habis berdagang seharian, tapi esnya tidak laku-laku.
Walaupun Hinata larut dalam mimpi indah, tidur duduk bersandar di sebuah pohon bukanlah hal yang menyenangkan. Ia terus-menerus bergerak, kesana kemari, mencari posisi yang nyaman.
Kasihan juga melihatnya seperti itu.
Neji hanya menghela nafas, membungkuk, mengulurkan kedua tangan kekarnya ke balik punggung dan lipatan kaki Hinata, lalu menggendong adiknya itu di depan dadanya. Meletakkan kepala Hinata agar bersandar pada dadanya yang bidang, lalu mulai berjalan.
"Ayo pulang." Katanya lembut, berusaha tidak mengganggu sang tuan putri dari tidurnya.
.
.
Naruto memandangi Neji yang membawa Hinata menjauh. Rencananya tadi Naruto ingin duduk di depan Hinata dan menunggu hingga dia terbangun, tapi Hyuuga jenius itu keburu datang dan memaksa Naruto untuk mengurungkan niatnya.
Padahal, pasti seru melihat reaksi Hinata saat mengetahui Naruto ada di depannya saat ia baru bangun tidur. Mukanya pasti memerah, dengan jari-jari gemetar yang ia mainkan ketika gugup, dan bicaranya pasti menjadi terbata-bata penuh kepanikan.
Naruto terkekeh kecil, tersenyum membayangkan sang kunoichi akan terlihat ketika rencananya berhasil.
Tapi, sayang seribu sayang. Ia mungkin harus melihatnya lain kali.
.
.
Beberapa hari kemudian, Hinata terlihat berjalan santai keluar dari rumahnya. Ia hendak menuju ke toko kelontong tempatnya biasa membeli barang kebutuhan perabotan rumahnya.
Di tengah jalan, ia bertemu dengan dua orang anak kecil yang sedang berdiri sendiri, tanpa ada pendamping. Mereka terlihat sedih, dan bingung. Seperti mencari sesuatu.
Hinata kemudian mendekati mereka, dan berlutut di depan seorang anak yang terlihat lebih tua. Ia tampak menggenggam tangan adiknya kuat. Awalnya mereka terlihat takut dengan seorang Hyuuga yang tiba-tiba datang di depan muka mereka, namun setelah melihat lengkung tulus bibir Hinata, mereka mulai membuka diri pelan-pelan.
Sementara itu, di tempat lain Naruto Uzumaki sedang berjalan gontai sepulang rencana makannya di Ichiraku. Hari ini, paman Teuchi dan Ayame pergi mendadak, sehingga tidak ada yang bisa membuka kedai. Jadi, kupon yang Naruto pegang akan terpaksa kadaluarsa dan dia harus membeli ramen instan di minimarket.
Ia sedang berjalan di tengah kerumunan manusia ketika ia melihat seseorang dengan rambut panjang gelap sedang berjongkok membelakanginya.
Itu Hinata. Rambutnya sudah sangat panjang hingga melewati batas punggungnya. Dan karena saat ini posisinya sedang berjongkok, rambut indigo itu menyentuh tanah. Ingin rasanya Naruto berlari kesana dan mengangkat rambut itu agar terhindar dari debu atau orang-orang yang tidak sengaja menginjaknya.
Ketika akan memutuskan melakukannya, Hinata malah berdiri dan menggandeng dua anak kecil di masing-masing tangannya dan berlalu.
Naruto mengikuti mereka, penasaran akan kegiatan mereka. Anak-anak itu berjalan membawa Hinata pada sebuah pasar yang terlihat cukup ramai, dimana saat itu memang adalah hari belanja dan semua ibu-ibu rumah tangga turun ke pasar dan membeli kebutuhan masing-masing.
Hinata mengantar anak-anak itu pada ibu mereka, setelah sebelum itu ia mengeceknya dengan byakugan.
Anak-anak itu berterimakasih pada Hinata, yang membuat gadis itu merona malu. Sang ibu juga berkali-kali menunduk tanda terimakasih dan maaf, yang dibalas ramah oleh Hinata.
Melihat ini Naruto hanya tersenyum. Ternyata selain dirinya, ada juga yang bisa membuat Hinata merona.
.
.
Hari ini hari latihan. Rokkie dua belas berkumpul untuk sparring bersama. Termasuk Naruto. Ketika ia sampai, yang ia lihat adalah Hinata sedang bertarung dengan Neji. Wajar saja, ia sudah telat lebih dari satu setengah jam.
"Hinata-sama. Aku tidak akan main-main." Kata Neji tegas, mengambil posisi bertarung terbaiknya.
"Aku juga tidak menganggap ini permainan." Balas Hinata tanpa tergagap.
Pertarungan atas nama persahabatan itu dimulai, dimana hanya kesungguhan Hinata yang Naruto perhatikan sejak tadi. Ia terlihat serius menghadapi Neji, walaupun lawannya itu sangat berat.
Sudah lebih dari dua puluh menit pertarungan itu berlangsung. Baik Neji ataupun Hinata tidak bisa saling mengalahkan. Mereka harus bisa mengambil ikat kepala lawan untuk menang. Ini sebetulnya sangat mudah bagi Neji, mengingat ikat kepala Hinata ada di lehernya. Tapi entah mengapa ia susah sekali untuk mendapatkannya.
'Tidak ada celah untuk menang.' Batin Neji.
Mereka maju, saling menyerang dengan pukulan masing-masing. Lalu tiba-tiba Hinata terdesak, dan hanya bisa menahan serangan Neji.
"Neji-nii. Kemarin aku mendapatkan sesuatu dibawah tempat tidurmu." Kata Hinata, di sela-sela pertarungannya.
Neji kemudian menjadi sangat terkejut, terkejut karena Hinata mengetahui tentang novel laris Jiraiya yang ia pinjam beberapa hari lalu dari Kakashi-sensei. Sebenarnya ia hanya penasaran mengapa Kakashi-sensei terus membacanya kemana-mana, namun setelah ia meminjamnya, yang ada dia malah ketagihan untuk membacanya.
Dan, yah, untuk menjaga image dinginnya, ia hanya bisa menyimpannya di bawah tempat tidur dan membacanya malam-malam sebelum tidur.
Neji kaget, membuat serangannya mengenai udara hampa. Dan saat inilah yang dimanfaatkan Hinata untuk memutarbalikkan keadaan. Ia mengambil tangan Neji yang kosong, memelintirnya kebelakang, dan melepas ikat kepala Neji yang menggantung di kepalanya.
Ia lalu melambai dan tertawa.
"Hinata-sama, kau curaaang!" Teriak Neji, lalu berlari mengejar Hinata. Membuat semua orang terheran-heran dan kemudian tertawa.
"Tapi aku menang! Horeeee!" Hinata kemudian berteriak, ungkapan rasa senangnya yang besar. Ia belum pernah sekalipun mengalahkan Neji, tak ia sangka trik murahannya handal untuk mengelabui Neji.
"Curaang. Tidak adil." Protes Neji lagi, lalu mengambil ikat kepalanya yang disodorkan oleh Hinata.
"Hahahaha. Akui kekalahanmu, Nii-san. Lalu soal benda itu, mana mungkin aku tahu, kan?" Ujar Hinata lagi, yang mau tak mau membuat Neji bertambah kesal.
"Hinata-samaaaaa!" Teriaknya gemas.
Hinata kembali tertawa, tak sadar tawa lepasnya mempesonakan hati semua orang. Ya, tentu saja. Hinata Hyuuga adalah anak pendiam, tawanya yang lepas dan terbahak itu tak pernah mereka lihat sekalipun. Bagi Neji, Kiba, dan Shino, mungkin itu adalah hal biasa karena mereka sangat dekat dengan Hinata. Namun untuk yang lain?
Dan Hinata yang ada di depan mereka ini terlihat jujur dan manis.
Hati yang terpesona itu adalah hati semua orang yang melihat, terlebih lagi untuk seorang pemuda yang terlambat datang itu. Seorang pemuda yang matanya tak henti mengikuti setiap gerakan gadis muda di hadapannya.
Hinata ternyata juga bisa curang –sedikit dan tertawa seperti itu.
.
.
Malam di hari yang sama, setelah pulang dari apartemen Kakashi-sensei untuk menulis laporan, Naruto terjebak hujan deras yang membuatnya harus menepi dan berteduh di emperan toko yang sudah tutup.
Hujan badai itu terlihat sangat kuat, belum lagi dengan petir yang terdengar saling menyahut.
"Kyaa!" Suara teriakan kecil membuat Naruto reflek menoleh ke belakang, dimana ia melihat di sisi lain emper toko ada seorang gadis yang duduk meringkuk ketakutan.
Rambutnya lepek karena air hujan, menutupi hampir seluruh badannya yang meringkuk dan saling memeluk. Naruto terkejut merinding, sempat mengira itu adalah hantu. Namun ketika ia melihat baju dan celana ungu yang biasa dipakai seseorang yang dikenalnya, ia langsung mendekat prihatin.
"Hi-hinata?"
Hinata menengadah, melihat ke arah Naruto yang tiba-tiba datang. Apakah ini mimpi? Ia terperangah beberapa saat.
Gelegar petir mengembalikannya dari pikiran-pikiran tentang bagaimana dan sedang apa Naruto di depannya. Membuat ia lebih jauh meringkuk, reflek ketakutan mendengar petir tersebut.
Dinginnya malam yang sudah memuncak itu membuatnya menggigil, bibir yang merah muda itu perlahan membiru.
"Kamu takut petir?"
"Ti-tidak, kok."
Seolah tak setuju, petir kembali menyambar dengan kuat.
"Kya!" Teriak Hinata sambil menutup telinganya.
"Katanya tidak takut?"
"Sebenarnya, aku lebih takut dengan keadaan di sini, Naruto-kun. Disini gelap, dingin, lembab, hujan badai, dan banyak petir. Mengerikan."
Naruto terkekeh menahan tawa sambil menatap gadis di depannya ini. Yang ia lihat bukannya seorang pewaris klan terkuat di Konoha, namun hanya gadis rapuh biasa. Gadis yang takut akan gelap dan petir, membuat Naruto ingin sekali menawarkan diri untuk melindunginya.
"Tidak usah takut, kan ada aku."
Naruto membuka jaket oranyenya, lalu menyampirkannya di sekeliling bahu Hinata, berharap jaket yang tidak seberapa tebal itu mempu menghangatkan –walau hanya sedikit badan Hinata yang menggigil gila sejak tadi.
"A-arigatou, Naruto– Kyaa!"
Kilat dan petir yang datang bersamaan membuat Hinata menunduk lebih jauh lagi. Ia benar-benar tak habis pikir mengapa suara petir itu bisa begitu mengerikan.
Naruto duduk dibelakang Hinata, lalu menggiring gadis itu juga agar duduk di depannya. Hinata hanya bisa menurut. Naruto melingkarkan tangannya disamping, Hinata, memeluk gadis itu erat. Hinata membelalak, kini sisi wajah dan kepalanya bersentuhan dengan dada Naruto yang hanya terlapisi kaos tipis berwarna hitam.
Wajahnya menghangat, aliran darah berkumpul serentak di pipi gembilnya. Ia merona akibat perlakuan gentle pemuda yang memeluknya itu.
Ah, seandainya ia hujan dan petir itu tidak pernah berhenti.
Gigil kecil yang ia rasakan di tubuh Naruto membuatnya sadar bahwa pemuda ini juga kedinginan. Entah apa yang merasukinya, perlahan tapi pasti, kedua tangan putih itu membalas pelukan Naruto, memeluk badannya, membuat wajah merahnya semakin erat dengan dada Naruto.
Naruto terkejut lalu tersenyum. Gadis ini memang tak pernah egois. Ia semakin mengeratkan pelukannya, berusaha memberikannya kehangatan sehangat yang ia mampu.
Bagi Hinata, suara hujan dan petir itu tak terdengar, terganti suara degup jantung Naruto yang menguasai pendengaran dan pikirannya.
.
.
Naruto berbaring santai di tempat tidurnya, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian semalam, kejadian yang begitu manis. Tapi, mau berapa kalipun ia mencoba, wajah Hinata yang ketakutan semalam tak bisa hilang dari pikirannya.
Hinata Hyuuga itu begitu manis. Namun ia begitu sederhana. Naruto tidak begitu mengerti mengapa kepolosan dan kesederhanaan bisa membuat seseorang menjadi begitu menyenangkan untuk dilihat.
Ia menyukainya. Naruto menyukai Hinata. Naruto Uzumaki menyukai Hinata Hyuuga.
Ia baru sadar akan hal itu.
Maka, di hari senggangnya itu, Naruto mengirimkan Hinata surat. Mengajak gadis itu untuk berkencan.
.
.
.
.
'Hai, Hinata..
Aku harap besok kamu tidak ada acara.
Aku ingin menghabiskan waktu seharian denganmu.
Besok aku tunggu kamu di taman Konoha jam 10 pagi, ya.
Kita kencan.
Dari : Naruto-ttebayo'
.
1 detik
2 detik
3 detik
"KYAAAAAA!"
Hinata tak ingat ia bisa berteriak dengan kencang hingga membuat semua pelayan di rumahnya berbondong-bondong datang ke kamarnya karena penasaran dan khawatir.
Ia lalu melihat jam, masih jam 2 siang, berarti ia punya 20 jam untuk bersiap-siap. Ia lalu keluar dengan tergesa-gesa mengabaikan seluruh orang rumah yang berdiri mematung di depan kamarnya.
"Barusan, Hinata-sama berteriak?"
.
.
Hinata berdiri di depan toko bunga Yamanaka dengan tangan bergetar yang memegang sebuah surat. Ia tampak bingung mau masuk atau tidak, tapi mengingat waktu yang terus berjalan, akhirnya ia masuk.
Ia lalu melihat Ino dan Sakura yang sedang bercengkrama di depan kasir. Hari itu sedang tidak terlalu ramai, sehingga mereka bisa santai. Bahkan ketika Hinata masuk, mereka masih tertawa-tawa.
"Hina-chan! Mau beli bunga?" Tanya Ino ramah. Biasanya Hinata sering membeli bibit bunga untuk ditanam.
"Ti-tidak, Ino-san." Balas Hinata gugup.
"Kalau begitu ayo kesini. Kami sedang membahas hal menarik." Ajak Sakura. Sekilas Hinata juga melihat Ino mengangguk semangat.
Hinata mendekat, namun ia hanya berdiri diam, memancing tanda tanya dibenak Ino dan Sakura.
"A-ano, Sakura-san, Ino-san, mmmm, maukah kalian me-membantuku?" Tanyanya dengan muka yang memerah malu. Namun, matanya menunjukkan keyakinan yang besar.
Seketika, Ino dan Sakura terpana.
'KA-KAWAAAIIII NEEE!'
Batin mereka bersamaan. Mereka langsung bergenggaman tangan kuat-kuat saking gemasnya.
"Memangnya ada apa Hinata?"
"E-etoo." Hinata tak sanggup menjawab, namun ia mengeluarkan surat yang ia terima dari Naruto beberapa saat lalu.
Sakura mengambilnya, dan membukanya dengan tidak sabaran, ia membacanya bersama Ino, lalu mereka berpandangan sesaat.
"KYAAA!"
.
.
.
"Jadi, untuk menjadi seorang wanita sejati, kamu harus mencoba mengenakan ini." Ino mengeluarkan sebuah kotak dari dalam lemarinya.
Mereka kini sudah berada di kamar Ino. Ketika mereka mengetahui Hinata akan berkencan dan meminta bantuan darinya, Ino langsung menutup toko dan mengajak mereka ke rumahnya.
"Ini? Tinggi sekali." Hinata mengangkat sepatu merah berhak tinggi itu dan meletakkannya di sebelah kakinya. "Aku tidak yakin bisa berdiri di atas benda ini." Desahnya.
Sakura lalu berjalan ke depannya. Ia mengambil sepatu itu dan memasangkannya ke kaki-kaki putih Hinata. Lalu menariknya untuk berdiri.
"Nah, itu bisa." Puji Sakura ketika ia melihat Hinata berjalan beberapa langkah, namun setelah ia berkata demikian Hinata jatuh ke lantai dengan tidak hormat.
.
"Kalau mau menjadi perempuan yang disukai laki-laki, kamu tidak boleh makan banyak. Laki-laki tidak suka dengan perempuan yang makannya banyak dan rakus." Kata Ino.
"Kamu juga harus terlihat kuat dan tegar. Kamu tidak boleh kelihatan lemah di hadapan laki-laki. KITA HARUS BUKTIKAN KEKUATAN KITA, HINATA!" Sambung Sakura bersemangat.
"Terus, kamu tidak boleh terlalu cepat menerima apa yang diberikan cowok, kata bukunya Jiraiya-sensei, cowok suka sekali dengan cewek yang susah untuk ditaklukan." Lanjut Ino
"Kamu tidak boleh ngomong terlalu banyak. Kamu harus menjaga image." Ujar Sakura
"Kamu biarkan dia menunggu. Daripada kamu yang menunggu." Tandas Ino
"AYO KITA BACA BUKU JIRAIYA-SENSEI!" Teriak Sakura.
Sementara Hinata hanya bisa mengangguk, sepertinya banyak hal yang belum ia kuasai untuk menjadi cewek.
"Kalian menginap dirumahku saja, Hinata, Sakura. Besok kita dandani Hinata untuk pergi berkencan."
.
.
.
Esoknya, hari kencan.
Hinata berdiri gelisah di belakang pohon, memperhatikan Naruto yang sudah menunggunya dari setengah jam yang lalu. Kakinya sudah gatal ingin berlari dan minta maaf ke Naruto, namun Sakura dan Ino pasti tidak akan mengizinkannya.
Jadi, tepat setengah jam lewat tiga menit, Hinata berjalan santai ke tempat Naruto duduk, memasang muka tak bersalah –seperti usulan Ino. Walaupun hatinya dag dig dug menunggu reaksi Naruto.
Katanya sih, harus lelaki yang menunggu pasangannya. Dan mereka harus ekstra sabar. Dan, katanya lagi, ini saat yang tepat untuk menguji kesabaran Naruto.
.
Ketika Naruto melihat Hinata, hanya satu hal yang datang padanya saat itu.
Keterkejutan.
Hinata Hyuuga yang berdiri di depannya ini, sekilas tampak bukanlah Hinata Hyuuga yang ia kenal.
Rambut panjang indigonya berubah menjadi keriting, keriting yang terlihat lusuh dan kering. Tidak memperlihatkan diri identitasnya sebagai Hyuuga sempurna berambut panjang seperti Neji, Hanabi, ataupun Hiashi.
Pakaian ninjanya juga sudah berubah menjadi gaun panjang yang hanya tinggal 5 cm lagi akan menyentuh tanah. Dan di gaun panjang itu banyak terdapat renda-renda, bak putri-putri Inggris yang sedang menghadiri pesta kerajaan.
Dan lagi, sejak kapan ia tambah tinggi 12 cm? Ya, karena sepatunya. Sepatu merah mencolok dengan banyak bunga itu memiliki hak 12 cm. Dan sialnya, sepatu pinjaman Ino itu kebesaran dan acapkali membuatnya oyong saat berjalan.
Ia terlihat lebih dari aneh, jauh dari normal untuk seseorang yang akan pergi berkencan di festival tahunan Konoha.
"Hi-hi-hinata?!" Panggil Naruto serta tersentak berdiri. Ia tampak benar-benar kaget. Matanya tak henti menatapi gadis yang ia lihat berbeda dari yang ia lihat 24 jam yang lalu.
Pipi Hinata memerah, menambah kepekatan merah perona pipi yang dikenakannya. Hari itu pun make up nya sangat tebal, hingga ia merasa mataya akan jatuh akibat begitu beratnya bulu mata tiga lapis yang dikenakannya. Belum lagi bibirnya yang terasa gatal karena lipstick tebal merah yang dikenakannya.
"Ya sudah, ayo kita pergi." Naruto menggamit tangan Hinata dan pergi.
Sekilas, Naruto melihat Sakura dan Ino sedang mengintip sambil tos-tosan. Ia langsung tahu siapa yang bertanggung jawab membuat Hinata begini.
.
.
.
Hinata menatap cinnamon rolls kesukaannya itu dengan mata berbinar, namun tidak berani menyentuhnya.
Kata Ino, sebagai cewek, ia harus makan sedikit atau bahkan tidak makan di depan cowok. Cowok akan berpikir kalau cewek itu sangat menjaga berat badannya. Mereka tidak suka cewek yang makannya banyak.
Tapi, serius deh, ia sudah tidak sempat sarapan karena harus bersolek –disolek untuk hari ini. Perutnya sudah berbunyi dari tadi.
"Kue disini sangat enak. Kamu tidak makan?" Tanya Naruto. Ia menyodorkan piring berisi makanan kesukaan Hinata itu.
"Tidak, Naruto-kun. Aku sudah makan tadi." Kilahnya sambil tersenyum palsu.
"Ya sudah. Aku bayar sebentar, ya. Aku akan menunggumu di luar." Kata Naruto seraya bangkit menuju kasir.
Ketika Naruto hilang dari pandangan, Hinata mencomot cinnamon rolls itu ke dalam mulutnya sambil tersenyum bahagia.
"Astaga Kami-sama, terimakasih telah menciptakan makanan seenak ini." Katanya lagi sambil mengambil sepotong lagi. Ia sangat lapar hingga ia menyuapkan banyak bagian dan membuat mulutnya penuh.
Naruto yang diam-diam kembali hanya bisa menahan tawa melihat Hinata yang terlihat sangat bahagia saat makan, seperti seseorang yang baru makan dari sebulan berpuasa.
Mereka kemudian berjalan-jalan berkeliling. Naruto menunjuk sebuah rumah hantu dan mengajak Hinata kesana.
"Mau kesana, Hinata?"
Oh, sial. Hinata benar-benar tidak suka tempat ini. Ia bisa mati ketakutan.
Tapi, sebagai wanita sempurna, ia harus bisa! Ia tidak boleh terlihat lemah, apalagi di depan Naruto.
"Boleh saja." Katanya. Dengan suara menantang pula, tuh.
.
Deg. Deg. Deg.
'Fokus, Hinata! Yang perlu kau lakukan adalah mengecek keberadaan hantu-hantu itu dengan byakugan, dan bersiap-siap untuk kedatangan mereka.'
'Mereka hanya manusia yang berdandan setan.'
'Mereka tidak akan bisa merusak tekadmu untuk kencan dengan –KYAAA! Sial, apa itu tadii?'
Hinata menggenggam lengan Naruto, yang semakin lama semakin erat. Naruto pun merasa telapak tangan Hinata makin mendingin dan wajahnya pucat. Beberapa kali, Hinata tampak mengaktifkan byakugan dan menghindari hantu yang hendak membuatnya terkejut.
Tapi tetap saja, ketakutannya tak bisa di sembunyikan.
Hinata akhirnya berhasil, tanda keluar di depan sebuah pintu membuatnya lega, ia segera maju beberapa langkah di depan Naruto, langsung memanggil petugas yang berjaga di depan pintu untuk membukakan pintu.
Tapi sial, saat penjaga pintu membalikkan badan, yang terlihat hanya manusia dengan muka rata.
"KYAAAAAA!"
Brak! Hinata mendobrak pintu dan langsung berlari keluar.
"Hinata!"
Hinata berlari begitu kencang, belum mengadaptasikan matanya yang langsung bertemu dengan cahaya matahari. Padahal baru saja ia keluar dari ruang gelap. Akhirnya, karena oleng akibat sepatu tingginya, ia menabrak penjual es krim dan membasahi gaunnya dengan berbagai rasa es krim.
Saat ia mundur, ia malah memijak bagian belakang gaunnya dan membuatnya oleng ke belakang, dan menabrak seorang pedagang ikan hias. Tangan putihnya menyenggol sebuah akuarium plastik. Akuarium yang berisi hanya air itu tumpah dan membasahi sekujur tubuh Hinata. Dari rambutnya yang keriting hingga gaunnya yang berenda-renda.
Ia terjatuh dengan memalukan. Di depan banyak orang. Di depan Naruto.
Di tengah keheningan dan kecanggungan yang dahsyat, ia kabur. Berlari membawa rasa malunya. Pergi, tanpa tujuan. Ia hanya ingin kabur dari Naruto.
.
.
Di samping sebuah danau, Hinata menangis. Ia menangis seperti anak kecil. Keras dan terisak-isak. Membuat maskaranya luntur, meninggalkan jejak hitam di pipi putihnya.
"Aku bodoh sekali." Katanya di sela-sela tangisannya.
"Bodoh! Manusia terbodoh yang pernah ada. Aku satu-satunya perempuan yang tak becus berjalan." Kini, ia mulai mencabuti rumput dengan kesal.
"Sekarang, Naruto akan seperti apa menilaiku? Huweeeeee!"
"Tidak pernah berubah, kok."
Suara bass itu membuat Hinata sontak berbalik membelakangi danau. Ia melihat Naruto yang terengah-engah. Seperti habis berkeliling seluruh desa untuk mencarinya.
Yah, itu memang benar sih.
"Bagiku, kamu Hinata, ya tetap Hinata. Seperti apapun wujudmu."
Naruto maju selangkah, dan Hinata menggeser tubuhnya mundur selangkah. Ngesot kebelakang, melupakan di belakangnya ada sebuah danau.
"Ja-jangan dekat-dekat, Naruto-kun."
"Bagiku, kamu tetap Hinata yang gagap, yang selalu gugup saat bertemu denganku. Hinata yang mempersiapkan segalanya sebaik mungkin, Hinata yang selalu tahu detil tentangku."
"Kamu tetap menawan, meski aku tahu kamu takut hantu, hujan deras atau petir, meskipun kamu makan banyak, atau kamu tidak memakai baju-baju bagus."
"Kamu adalah Hinata. Selamanya adalah Hinata. Hinata yang tidak pernah egois, Hinata yang tidak pernah menyerah, yang selalu berjuang bahkan untuk hal-hal kecil, Hinata yang punya jalan ninja yang sama denganku."
Naruto semakin maju, dan Hinata semakin menyeret badannya mundur.
"Kamu tak perlu berubah Hinata. Kamu itu sempurna. Kamu sempurna untukku. Kamu mempesona sebagai kamu. Semua yang kaulakukan untukku selalu membuatku berpikir kalau–
Byur! Splash! Byur!
–kamu akan jadi ibu yang hebat untuk anak-anakku."
Ah! Hinata tak mendengar bagian terakhir dan terpenting itu. Ia sudah keburu jatuh ke dalam danau. Bagaimana tidak, yang ia lakukan adalah mendengarkan sambil menyeret dirinya sendiri ke belakang, menuju ke danau.
Naruto sekarang cengok. Bagaimana mungkin Hinata bisa jatuh? Dan sialnya ia tak mendengar permintaan, pernyataan cinta tersirat Naruto. Masa ia harus mengulangnya dari awal?
Naruto ikut terjun ke danau dan membantu Hinata keluar dari air.
Setelah berada di daratan, ia merapikan rambut Hinata yang basah, dan sudah berubah lurus kembali. Setelah itu ia menghapus jejak maskara hitam di pipi Hinata dan menghapus lipstick tebal berwarna merah yang ia pakai.
"Tak perlu mencoba jadi orang lain, aku cinta kamu apa adanya." Katanya lembut.
Setelah itu Naruto mengecup kening Hinata, dan menggendongnya di depan dadanya. Ia berjalan saja, tidak menghiraukan tatapan banyak orang yang mengikutinya.
"Naruto-kun aku malu."
"Kalau begitu peluk saja aku. Sembunyikan wajahmu di dadaku."
"Ti-tidak, ah."
"Kenapa?"
"Kalau itu, a-aku pasti lebih malu lagi."
"Hahaha!"
"Ja-jangan tertawa."
"Ya sudah. Malu, ya malu saja. Setidaknya kita malu bersama."
.
.
.
Owari
Hahaha... Ada yang nanya pemakaian uzumaki dan namikaze di fic ijel. Gausah bingung, kalau AU, ijel pake namikaze, kalau Canon, ijel pake uzumaki. XD
Special tengkyu untuk :
marukocan (pertamax): tengkyu. Bwahahaha. Tunggu ya.. Semoga chap depan balek ke t-plus lageee.
Setsuna f seiei-Kun: tengkyu. Wkwk fic bagus oneshoot, supaya ngga bikin penasaran, seiei-kun. Kalo mau fic multichap, silahkan buka cerita ijel yg lain. Bwahahaa. #modus.
Pain Tendou: tengkyu, sip!
Ahn-san: tengkyu. Udh dibales :p
: tengkyu buat sarannya! Akan ijel usahain buat, kalau ada tema lagu yang cocok. Hehee
34: tengkyu, sip (y) muah
: tengkyu hahaha (y) sip
Misti-chan: tengkyu wkkw ngga lanjut ceritanya. Tapi chapternya bakal lanjut, ceritanya beda. Hehehe. Namanya juga drabble. Tapi ntar kalo ada lagu yg sesuai, mungkin ijel bisa buat sekuel yg itu. Hehe
YonaNobunaga: tengkyu, hai! Ini pesanan anda, yang mulia. Aku sangaaaat berharap kesan pesan kritik saran dr kamu. Hehehee, bagaimana ceritanya?
Yui Kazu: tengkyu, okeee. Okee. Ntar ijel buatin, t plus plus plus ya? Hahahaha
7th Chocolava: tengkyu, kalo sempet ya say. Wkkw tergantung lagu, dan mood sih hahaha.
Ghashinia-san: tengkyu, mikirin apaaaa tu? Hahaha.. Hayoooooooo. Gerah ya? Sini ijel kipasinnnn :p
Riki Inuzuka: tengkyu udh mau request. Nanti ijel buatin. Kasi ijel waktu buat tau lagunya dlu yaa. Heheheee.
kirei-neko: tengkyu, hoooi, kemane ajee? :p wkwkwk udh, kalo ngga bisa komen apa-apa, bilang aja ijel sangat cantik :p
guest(1): tengkyu, salam kenal :p chap ini juga masih manis. Aku ngarep repiew kamu lagi looh, tapi yg pake nama. Biar bisa beneran kenal x)
guest(2): tengkyu, ini sudaah. Reviewww? :o
guest(3): tengkyu, ini juga sweet. Bagaimana? Hehehe. Hina-chan memang moeeeee XD
himechan: tengkyu, imperfect? Hahaha :l ketawa awkward. Apa itu imperfect? Nanti ya say. Ijel wb banget buat fic yg satu itu. Bingung setengah mati. Kamu bisa kasi saran buat imperfect?
guest(4): really? Really? Soo much thankyou I'd give to you! Hehe. Mind to rnr this chapter?
ifa: :p kamuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu kemana aja? Message kakak ngga pernah dijawabbb..
ayu: hahahahaha tengkyuu ayuu cantikk ;;) imperfect? Hahaha :l ijel stuck banget mau lanjutin itu. Ayu bisa kasi saran ijel?
shiro19uzumaki: tengkyu, sipp !
Durara: tengkyu, wkwkw aku jugaaa! Suka bangett! Bentar lagi nhfd juga! Doain ijel supaya bisa buat fic" fluffy yaaa.. :p
guest(5): tengkyu, wkwkw okee deh, diusahain, yaa.. Guest tukang moduus :p
Neko-chan: tengkyu. Wkwkkw sipp! Rnr yaa :p
Edwin-kun: tengkyu. Syudah dibales :p
Kaoru Mouri: tengkyu. Kaoru kemane ajee? Wkkw udh lama ngga nampak :p
: tengkyu. Iyakahh? Wkwkw berarti salah dugaan kamuu hahah. Mind to rnr chap yg inii?
ijel minta maap jika ada kesalahan dalam penulisan nama wkowkow
Buat semua yang request, tunggggguuuu, ya.. Cepat atau lambat pasti ijel buat hahaha.
Dan kalo ada lagu kesayangan kalian yg mau dibuatin fic, req aja sama ijel. Wkkwk pasti dibuatin kooks. Hehehe. Ijel mau nampung bwahahaha..
Terakhir, maukah kalian berbagi kesan-kesan setelah membaca chapter yang inii? Hehehe..
