December 30th

Kyungsoo melirik jam kecil berbentuk pororo yang terletak disamping komputernya. 12.45 pm. Sudah waktunya makan siang. Namja mungil itupun segera segera membereskan dokumen-dokumen di meja kerjanya. Sudah menjadi kebiasaannya untuk merapikan meja kerjanya sebelum ia meninggalkannya, walaupun ia hanya pergi selama beberapa menit.

Komputer ia biarkan menyala. Ia lalu mengambil tas kecil yang ia bawa dan mengeluarkan kotak makan berwarna biru muda. Ia bangun terlalu cepat tadi pagi, jadi ia memutuskan untuk membuat kimbab untuk bekal makan siangnya. Lumayan, ia bisa menghemat beberapa won hari ini.

Kyungsoo lalu memasang headset ditelinganya dan memutar lagu favoritenya. Ia terus bernyanyi sepanjang perjalanan kekantin. Kyungsoo tidak memedulikan orang-orang yang menatapinya, ia hanya merasa ingin bernyanyi sekarang. Itu saja.

Kantin sudah mulai ramai, yang mengharuskan Kyungsoo untuk berjalan mengitari kantin demi mendapatkan kursi kosong. Setelah sekitar 5 menit, Kyungsoo akhirnya menemukan meja kosong berkursi dua. Sebenarnya, ia ingin duduk dimeja yang berkursi empat (dikantin itu apa 2 jenis meja. Pertama, meja berkursi dua. Dan yang kedua, meja berkursi empat.). Entahlah, walau Kyungsoo menikmati makan siang sendiri, atau sesekali bersama Yifan, namun ia suka makan dimeja berkursi banyak.

Kyungsoo mulai menggigit kimbab pertamanya. Rasanya tidak buruk. Kyungsoo memang sedikit banyak, tahu cara memasak yang baik dan benar. Sejak kecil, ia banyak menghabiskan waktunya dengan neneknya yang juga tinggal dirumah bersama kedua orang tuanya. Dan Kyungsoo kecil akan sangat senang menemani neneknya tiap kali yeoja tua itu memasakkan sesuatu untuk Kyungsoo.

Kyungsoo menghitung kimbab yang tersisa dikotak makannya. Masih terlalu banyak. Kyungsoo mulai kebingungan. Sepertinya ia membuat terlalu banyak kimbab. Senyum lalu hinggap di bibir Kyungsoo. Ia tahu persis siapa yang bisa menghabiskan kimbab ini. Namja mungil itu lalu merogoh saku celananya. Setelah menemukan ponselnya, Kyungsoo segera mencari sebuah nama dikontaknya dan menelfonnya. Nada sambung kereta api terdengar untuk beberapa saat sebelum terganti dengan suara berat seorang namja.

"yeoboseyo?"

"Yifan! Aku membuatkan kimbab special untukmu, jadi cepat dan datanglah kekantin. Arachi?"

"that sounds good but I cant, Kyung." Terdengar nada menyesal di suara Yifan. Senyum Kyungsoo memudar perlahan.

"wae?"

Namja di seberang sana menelan ludahnya kasar. Ia telah merusak mood temannya.

"mianhae, Kyung. Aku ada rapat sampai jam setengah tiga nanti. Aku tidak bisa menyusulmu ke kantin. Mianhae."

"baiklah."

Kyungsoo segera memutuskan sambungan telepon dan meneguk air mineral, yang juga ia bawa dari rumah.

"beraninya ia menolak ajakanku." Ujar Kyungsoo kepada gambar pororo dibotol minumnya.

Kyungsoo lalu meletakkan botol minumnya dimeja. Menghentakkan, lebih tepatnya. Membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.

Biarkan saja mereka berpikir kalau aku sedang PMS!

Kyungsoo tidak menghiraukan orang-orang itu dan mulai memakan kimbabnya lagi. Kalau begini ceritanya, ia terpaksa harus memakan semua kimbab itu. Kyungsoo menatap kotak makannya miris. Masih terlalu banyak.

"kau terlihat sangat imut kalau cemberut, hyung."

Kyungsoo mendongak. Seorang namja sudah duduk didepannya. Kyungsoo terlonjak. Namja itu menyeringai kecil.

Hey, sejak kapan ia ada disitu?

"barusan aku melihatmu duduk sendiri disini. Dan karena kebetulan aku tidak membawa teman, apa salahnya kalau aku menemanimu. Lagipula, sudah tidak ada kursi kosong."

Jongin tersenyum lembut. Kyungsoo terlonjak kaget. Kali ini bukan karena Jongin, tapi karena jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak karuan. Iapun mengangguk-anggukan kepalanya sebagai balasan.

"eoh? Itu apa?" mata Jongin tertuju ke kotak berwarna biru muda didepan Kyungsoo.

"ah, i-ini? Ini bekal. Aku membawanya dari rumah. Kimbab. Mau?" Kyungsoo berbicara terputus-putus. Dalam hati ia merutuki diri.

"kau membuatnya sendiri?"

Kyungsoo mengangguk. Mata Jongin membulat beberapa mili.

"whoa. Kau hebat, hyung. Biar kucoba."

Jongin mengambil sumpit yang ada dimeja itu dan segera memasukkan sepotong kimbab ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya beberapa detik sebelum kembali membulatkan matanya.

"ini enak, hyung!" ujar Jongin sedetik setelah ia menelan kimbabnya itu. Kyungsoo tersenyum.

"kalau begitu habiskan saja semuanya. Aku sudah kenyang."

Kyungsoo menyodorkan kotak makan itu kearah Jongin. "benarkah, hyung?"

Kyungsoo mengangguk. Ia bisa melihat wajah Jongin yang sekarang sudah berbinar-binar. Namja ini punya sisi imut juga ternyata, pikir Kyungsoo.

Kyungsoo memandangi Jongin yang makan dengan lahap, sedikit tersenyum. Pandangannya lalu beralih ke botol minum pororo didepannya. Ia menatapnya kosong sebelum menarik napas panjang.

Hari ini, untuk pertama kalinya, Yifan menolak permintaan seorang Kyungsoo.

.

.

.

Yifan mendengarkan orang-orang diruangan itu yang saling melemparkan pendapat. Ia tidak angkat bicara, membiarkan klien-kliennya itu menyampaikan semua apa yang ingin mereka sampaikan. Namja tinggi itu melirik arloji di pergelangan tangannya. 2.25 p.m. Istirahat makan siang akan berakhir dalam 5 menit.

Wajah Kyungsoo seketika muncul dipikiran Yifan. Bagaimana pun, ia merasa bersalah sudah menolak permintaan Kyungsoo. Sangat bersalah. Yifan belum pernah sama sekali menolak permintaan Kyungsoo. Ia sering membujuk Kyungsoo agar namja mungil itu bisa sedikit bersabar, namun untuk menolak, Yifan sama sekali tidak pernah memikirkannya. Kesibukannya hari ini memaksanya untuk melakukan 'hal terlarang' itu.

Kyungsoo pasti akan marah besar kepadaku.

Yifan mendesah. Untungnya tidak ada satupun klien yang mendengannya.

"bagaimana menurutmu, Mr. Wu?"

Yifan menoleh. Sudah saatnya kembali ke dunia nyata.

"ah? Iya—iya, pendapat yang bagus, Mr. Jung."

Mr. Jung tersenyum senang. Yifan tertawa –atau meringis?- kecil.

"ehm. Baiklah, karena Mr. Jung sudah menyampaikan pendapatnya, kita akhirnya rapat hari ini. Kalian semua pasti sudah tidak sabar ingin menikmati makan siang kalian."

Yifan menampilkan senyum penuh kharismanya. Dia adalah ketua rapat. Sudah seharusnya ia bersikap seperti itu.

Orang-orang diruangan itu mengangguk menyetujui. Satu persatu orang mulai meninggalkan ruangan rapat, setelah sebelumnya sempat mengucapkan salam perpisahan satu sama lain.

Yifan menatap orang-orang yang berjalan meninggalkan ruang rapat dengan senyum. Teman-temannya itu sudah bekerja dengan baik. Ia lalu mulai membereskan barang-barangnnya.

TOK TOK.

"masuk." Teriak Yifan. Seorang anggota rapat mungkin meninggalkan barangnnya disini. Sudah biasa.

"Mr. Wu."

Yifan mendongak. Yang masuk bukanlah anggota rapat tadi, melainkan sekertarisnya.

"ada apa, Luhan-sshi?"

Yifan menghentikan aktivitasnya sebentar dan beralih menatap Luhan, membuat namja dengan wajah manis itu sedikit gugup.

"euhm, makan siang untuk anda, Mr. Wu."

Luhan menyodorkan kotak makan berwarja hijau cerah kearah Yifan.

"sudah berapa kali aku katakan, kata tidak perlu memanggilku dengan embel-embel 'Mr', Luhan-sshi. Yifan saja cukup."

Namja didepan Yifan itu tertunduk. Berusaha menyembunyikan semburat merah dipipinya.

"ah, ne. Mianhaeyo, Mr—ah, Yifan-sshi."

Yifan tersenyum. "apa menu makan siang hari ini?" Yifan mulai membuka kotak makan didepannya.

"hanya kimbab, Yifan-sshi. Aku membuatnya sendiri."

Yifan menyuapkan sepotong kimbab kedalam mulutnya.

"enak, Luhan-sshi." Walaupun kimbab buatan Kyungsoo sebenarnya jauh lebih enak.

"g-gomawo."

Luhan tersenyum senang. Hatinya berdebar-debar. Yifan baru saja memujinya—memuji masakannya.

"kalau begitu, aku keluar dulu, Yifan-sshi. Masih banyak dokumen yang harus aku urus."

Yifan hanya mengangguk cepat. Ia harus menghabiskan kimbab ini atau perutnya akan terus bernyanyi nyaring.

Yifan menatap punggung Luhan yang berjalan menjauhinya. Segaris senyum terlukis dibibirnya. Ia baru menyadari kalau ia memiliki sekertaris yang sangat manis.

.

.

.

Kyungsoo menyalakan televisi yang berada di apartement kecilnya. Ia mengambil remote, dan kemudian mencoba duduk nyaman diatas sofa. Ia lalu memgonta-ganti channel, mencoba mencari acara tv yang layak tonton. Kyungsoo lalu meletakkan remotenya setelah menemukan sebuah acara komedi. Aku butuh tertawa, ucap Kyungsoo dalam hati.

Para penonton dilayar kaca terlihat tertawa keras. Ada yang sampai mengeluarkan air mata, atau memukul teman yang ada disampingnya. Namun, Kyungsoo tetap tidak bergeming. Ekspresinya sama sekali tidak berubah dari sejak pertama kali ia menyalakan tv. Bukan acara tv nya yang bermasalah, namun Kyungsoo.

Kyungsoo mulai menatap ponsel yang ia letakkan di meja depan sofa. Ponsel itu sama sekali tidak berbunyi sejak tadi siang. Kyungsoo mendengus. Namja itu tidak menyesal rupanya. Kyungsoo lalu mengacak-acak rambutnya.

Ada apa denganku!?

Kyungsoo mematikan televisi dan berlari menuju kamarnya. Ia harus tidur. Itu solusi terbaik. Namun, baru saja Kyungsoo membuka pintu kamarnya, ponselnya yang sengaja ia tinggal dimeja itu tiba-tiba berbunyi.

Kyungsoo membeku. Jantungnya berdebar-debar. Ia lalu berbalik arah dan berlari sekuat tenaga menuju arah suara. Kyungsoo lalu mendudukkan dirinya disofa sambil berusaha menormalkan nafasnya. Ia melirik ke ponselnya. Nama yang ia tunggu tertera dilayar ponsel. Mood Kyungsoo menjadi cerah setingkat.

Setelah dirasa napasnya mulai normal, Kyungsoo akhirnya mengangkat telefon itu.

"Mwo?" ucap Kyungsoo berusaha ketus. Ia memang seharusnya terdengar ketus.

"kau marah?"

Kyungsoo tidak menjawab. Dia sudah tahu tapi masih menyempatkan diri untuk bertanya, huh.

"Kyung."

"hmm."

"Kyung."

"hmm."

Hening. Kyungsoo mengernyit. Ada apa dengan namja itu? Kenapa ia tiba-tiba tidak bersuara. Dia baru saja berniat memanggil nama namja itu, namun suara dari seberang sana mendahuluinya.

"bukalah jendela kamarmu."

Dahi Kyungsoo berkerut, "wae?"

Kyungsoo berlari cepat ke kamarnya, bahkan sebelum Yifan menjawab pertanyaannya.

"just do it."

"Dimana kau?" ucap Kyungsoo saat akhirnya ia berhasil membuka jendela.

"apa?" namja diseberang terdengar bingung. Kyungsoo mulai curiga.

"kau tidak ada di depan apartementku?"

Diam sejenak sebelum suara tawa berat Yifan terdengar ditelinga Kyungsoo.

"sepertinya kau terlalu banyak menonton drama romantis, Kyung."

"ya! Yifan! Stop it!"

Tawa Yifan meledak. Kyungsoo merutuki dirinya dalam hati sambil sesekali memukul-mukul kecil kepalanya. Bisa-bisanya ia berpikir Yifan akan melakukan hal romantic seperti berdiri didepan rumahnya ditengah malam demi meminta maaf kepada Kyungsoo.

"Kyung." Yifan mulai berbicara, "sekarang kau lihat langit diatas sana."

Jangan bilang alasannya menyuruhku melihat keluar jendela hanya untuk melihat langit malam…

"ibuku pernah berkata, kalau kau sedang marah atau sedang kesal dengan seseorang, tataplah langit malam berbintang. Hatimu akan tenang," Yifan menarik napas. Kyungsoo mulai mengarahkan pandangan kelangit malam. Indah.

"dan kau akan melupakan rasa marah dan kesalmu kepada orang itu."

Kyungsoo terdiam. Ia hanya terus memandangi langit yang dipenuhi bintang itu dengan takjub. Yifan benar, hatinya terasa tenang.

"sudah merasa baikan, nona?"

Kyungsoo hanya berdehem pelan.

"maafkan aku, Do Kyungsoo."

Kyungsoo membeku. Jika Yifan memanggilnya dengan nama lengkap, itu berarti dia sedang serius. Dan Kyungsoo bisa merasakannya.

"aku tidak bermaksud menolak ajakanmu tadi siang. Aku hanya terlalu sibuk dengan segala urusan kantor itu dan sama sekali tidak ada waktu untuk sekedar berdebat denganmu."

Kyungsoo tidak menyadari kalau sebuah senyum sudah terukir di bibir tebalnya.

"aku tidak akan menolak permintaanmu lagi, Ratu Kyungsoo-ku."

"ya!" Kyungsoo memerah. Yifan tertawa.

"aku akan membayar kesalahanku yang tadi. So, ada permintaan, Kyung?"

Kyungsoo berpikir sejenak, "bagaimana kalau sarapan bersama dirumahku besok pagi?"

"siap laksanakan!"

Kyungsoo tertawa. Tawanya untuk pertama kalinya hari ini.

"sekarang, tidurlah. Kau harus bangun cepat besok, untuk menyiapkanku makanan yang enak."

Kyungsoo mengangguk.

"aku matikan teleponn—"

"Yifan!"

"yes?"

Kyungsoo menggigit bibirnya. Haruskah ia mengatakannya?

"jaljayo."

Kyungsoo segera mematikan sambungan telepon bahkan sebelum Yifan merespon ucapannya barusan. Ia tidak perlu sebuah respon.

Kyungsoo lalu berlari menuju tempat tidurnya, membungkus badannya dengan selimut, lalu memejamkan mata.

Sepertinya malam ini aku akan mimpi indah. Kyungsoo tersenyum

.

.

.

TBC

Author's note:

Mainly krisoo in this chap. Bagusnya endingnya Kyungsoo sama siapa ya, Yifan or Jongin? Kalian yang tentukan ya. Thanks for reading and don't forget to review ya n_n