Seorang pria bepergian untuk mendapatkan pengalaman. Seorang wanita bepergian untuk melengkapi perhiasannya, dan harus ingat bahwa dia senantiasa dituntut untuk menjaga sikap dan kehormatannya
-Bunga Sharesputri-
Welcome!
Rumor and Envy in Luxe by Bunga Sharesputri
Disclaimer : Kamichama Karin (CHU) Koge Donbo
Warning : OOC, TYPO, Gaje, Alur yang mungkin kecepatan, dll
Don't like! Don't read!
Happy reading, minna!
Summary : Chapter 2 UPDATE!/ Kisah penuh konflik dan rumor para Bangsawan./'Mirip sekali dengan belatung yang ada dalam buah. Banyak dan busuk,'/ "Sebenarnya tidak begitu penting kurasa. Tapi, apa kau tahu arti nama 'Karin', Yagami?"/ "Hhhh… Apa sih bagusnya dia?! Aku itu lebih cantik daripada dia, Kazune Kujyo!"/ "Iya. Onee-san ada disini. Kamu perlu bantuan apa dari Onee-san?"/ "Sesuatu. Yang berharga. Paling berharga dalam hidupku."/ Bad Summary!
CHAPTER 2 : Pilihan dan Takdir
Normal POV
Himeka masih mengitari ruangan pertemuan para bangsawan yang diadakan 2 kali setahun itu. Matanya mencari-cari sesuatu yang mungkin dapat menarik hatinya diantara kerumunan para bangsawan .
'Mirip sekali dengan belatung yang ada dalam buah. Banyak dan busuk,' Himeka berbatin dalam hatinya. Ia menyeringai tipis-setipis mungkin. Setidaknya, agar tampak sebagai sebuah senyuman dimata para bangsawan lainnya.
"Ah, kau Himeka Kujyo, kan?" Himeka mendongak pelan. Menatap sesosok wanita muda bersurai coklat yang disanggul tinggi.
"Hn, anda benar. Tapi, aku tidak mengenalmu. Maaf," balas Himeka dingin. Ia sedang tak minat berbicara sekarang.
"Kau tak mengenalku? Namaku Sayuri Nishikiori. Kakak sepupu dari Michi. Kau pasti mengenal adikku, kau satu sekolah dengannya, bukan?" ujar Sayuri lembut. Himeka langsung menunduk dan menyentuh dahi dengan tangannya pelan. Mengartikan bahwasanya ia lupa akan Sayuri. Sesaat, ia kembali mendongak, menatap lurus wanita didepannya.
"Maaf. Ternyata anda, Sayuri-san. Aku lama tak bertemu denganmu, maka dari itu aku tak begitu ingat wajahmu."
"Jangan minta maaf, itu wajar bagiku. Tapi, kenapa kau tak bersama dengan Kazusa atau yang lainnya?" tanya Sayuri. Himeka tersenyum masam. Mood mengobrolnya kembali hilang.
Himeka menjawab anggun sambil mengulas senyum palsu. "Aku hanya ingin berkeliling dan ternyata aku bertemu denganmu, Sayuri-san."
"Astaga, Himeka. Jangan terlalu formal padaku. Lagipula kita akan segera menjadi keluarga bukan? Santai saja. Kazusa dan Michi akan bertunangan minggu depan, jadi kau tak perlu sungkan padaku. Mengerti?"
"Aku mengerti. Tapi, aku ingin kembali berkeliling. Apakah Sayuri keberatan?"
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku juga sudah ditunggu oleh suamiku. Sampai jumpa, Himeka!" Sayuri beranjak dari tempat ia berdiri. Meninggalkan Himeka sendirian.
'Aku memang ingin kita jadi keluarga. Tapi, tidak seperti ini. Aku membencinya. Yang aku mau itu aku dengan Michi-kun. Bukan Kazusa, Sayuri,'
.
.
Michi menatap gelas sampagne-nya. Pikirannya melayang-layang akan Himeka dan ucapan Kazune. Benarkah Himeka mencintainya? Dia selalu merasa itu tidak mungkin.
"-chi-san! Michi-san!" Michi tersentak kaget mendengar panggilan Kazusa yang cukup keras, Memang tak begitu sopan untuk wanita bangsawan sekelas Kazusa.
"Ehm, ya?"
"Kenapa, sih? Kok murung gitu?" tanya Kazusa dengan nada yang tak ada lembut-lembutnya itu. Michi menghela nafas dan menggeleng tegas.
"Aku baik-baik saja. Aku sangat baik-baik saja," jawab Michi tenang.
.
.
.
Ding! Dong! Ding! Dong! Ding! Dong!
Suara jam besar diaula pertemuan itu berbunyi keras. Menandakan waktu sudah mencapai tengah malam. Para bangsawan langsung sibuk mengucapkan salam perpisahan pada bangsawan lainnya. Siapa tahu mereka tidak akan berjumpa dalam waktu lama. Tak sampai tiga puluh menit, para bangsawan sudah berjalan keluar. Menuju tempat dimana kendaraan-kendaraan mereka diparkir dan pulang ke kediaman-kediaman mewah mereka.
Seperti halnya Karin Hanazono. Dengan perasaan suntuk, ia berjalan keluar aula. Suntuk atau tidak, Karin masih berjalan tegap-tapi anggun- dengan sedikit menaikkan dagunya. Mencoba melambangkan status yang ia miliki sebagai bagian dari keluarga bangsawan Hanazono. Iris Green Emerald miliknya sedikit beriak liar. Siapa tahu ada bangsawan lain yang ia kenal lagi.
Salah! Ia salah jika melihat sekelilingnya. Ia segera menundukkan kepalanya ketika matanya beradu dengan mata mantan kekasihnya. Kazune Kujyo.
"Hei, sayang… kau kenapa? Jangan menundukkan kepalamu begitu sayang," Suzuka memberi saran atau lebih tepat bila disebut etika yang mesti dilakukan oleh wanita bangsawan manapun.
Karin mengangguk singkat sembari mengulas senyum pada Kaa-sannya. "Aku baik-baik saja. Dan aku tahu apa maksud kaa-san," balasnya pelan. Suzuka mengangguk dan mengelus sayang pada putri tunggalnya tersebut.
"Kaa-san tahu itu. Jadilah seorang wanita yang mengangkat derajat keluargamu dan jadilah seorang wanita yang selalu tahu mana-.."
"..-mana yang benar dan mana yang salah," potong Karin cepat. Detik berikunya, ia kembali mengulas senyum kalemnya. "Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan."
"Bagus. Kaa-san benar-benar bangga padamu, Karin."
Karin sudah memasuki lahan parkir dan segera memasuki mobil yang disediakan untuknya. Yagami-sang sopir keluarga Hanazono- juga ikut memasuki mobil setelah membukakan pintu untuk nona mudanya dan segera memacu kendaraannya.
"Nona?"
"Ya, Yagami?"
"Kalau boleh bertanya, kenapa nona agak murung begitu?" Karin menghela nafas mendengar pertanyaan itu.
"Sebenarnya tidak begitu penting kurasa. Tapi, apa kau tahu arti nama 'Karin', Yagami?"
"Tentu saja, nona," jawab Yagami tenang. "Artinya adalah Bunga Lonceng. Bukankah itu nama yang indah, nona?"
"Jika Hanazono?"
"Artinya Taman Bunga, nona. Mengapa anda bertanya begitu?"
"Aku… Aku hanya mau tahu kenapa aku diberi nama 'Karin'. Aku-.." Karin menghentikan ucapannya. Sedikit tidak enak karena ia merasa jadi curhat begitu. Yagami mengangguk mengerti dengan terus menatap penuh konsentrasi ke jalan-jalan yang mereka lewati.
"Nona, nama anda berarti Bunga Lonceng di Taman Bunga, bukan? Menurut pendapat saya, anda digambarkan sebagai sebuah bunga karena anda sangat cantik dan lonceng itu untuk menghindari kesuraman."
"Tolong jelaskan lebih lanjut, Yagami. Aku tak begitu mengerti."
"Sebelum anda lahir, kediaman yang anda tempati itu hanya sebuah rumah yang sepi. Tidak ada suara tawa didalamnya walaupun memiliki penghuni. Sejak ada kabar bahwa Nyonya besar mengandung anak perempuan, Tuan besar segera membuat Taman Bunga yang mengelilingi rumah itu. Dan bertepatan ketika anda lahir, lonceng keluarga Hanazono berbunyi tepat pukul 12 siang. Jadi, saya rasa itulah mengapa anda diberi nama seperti itu. Bunga yang cantik lahir tepat ketika lonceng berbunyi, ditengah-tengah Taman Bunga. Itulah anda, nona.." Yagami menjelaskan sambil sesekali mulutnya membentuk senyuman tulus.
Karin ikut mengembangkan senyuman tulus miliknya. Matanya sedikit berbinar ceria. "Arigatou, Yagami. Aku senang. Seakan-akan aku merasa sangat dihargai. Arigatou.."
.
.
.
"Hhhh… Apa sih bagusnya dia?! Aku itu lebih cantik daripada dia, Kazune Kujyo!" Rika berteriak marah pada bayangannya di cermin kamarnya. Menumpahkan segala rasa kekesalannya pada pemuda bersurai Blonde yang notabene-nya adalah tunangannya sendiri.
Buk!
Puas berteriak-teriak dengan tidak elite-nya di kamarnya sendiri, ia menjatuhkan dirinya ke ranjangnya. Mengatur nafasnya yang sedikit tak beraturan akibat perbuatannya yang tidak mencerminkan sikap bangsawan tadi. Ukh, tidak! Dia tidak peduli dia bangsawan atau tidak. Dia hanya perlu memiliki Kazune Kujyo dan tentunya hatinya juga.
"Hah, apa lagi yang harus kulakukan?" gumam Rika kesal. " Aku sudah menghancurkan hubungan keduanya, tapi kenapa hati mereka berdua tidak hancur? Apakah rumor itu belum cukup? Aku sudah mengeluarkan segala pesonaku sebagai Rika Karasuma, Kami-sama!"
Ting!
Rika melirik handphone-nya yang tergeletak tak berdaya diatas lantai kamar. Ia langsung beranjak dan mengambil benda yang pertama kali ia lempar ketika memasuki kamarnya. Lecet dengan layar yang sedikit retak membuat Rika tersenyum miris dan sedikit menyesali kebodohannya.
Tak mau terlalu menyesal, ia segera membuka e-mail yang masuk. Rika tersenyum bahagia ketika melihat nama 'Kazune Kujyo' yang tertera disana. Tapi, dengan kejamnya isi e-mail itu sanggup melunturkan senyum bahagia yang baru terukir disana beberapa detik yang lalu.
'Jangan buat rumor lagi karena tadi, Rika. Aku tak mau berurusan dengan hal tak penting lagi. Kau sudah mendapatkanku, bukan? Jadi, diamlah dan jadilah wanita yang tenang.'
Rika merasakan dahinya mengerut kesal. Rasa marahnya sudah mulai membuncah di dadanya. Sudah banyak umpatan yang meluncur didalam hatinya. Ia langsung membalas e-mail itu.
'Itu semua terserah padaku! Aku tak akan segan-segan mengganggu kehidupannya lagi, bila aku mau, Kazune Kujyo! Aku masih belum mendapatkan hatimu, jadi jangan kau kira aku akan menyerahkanmu begitu saja! Aku mencintaimu, Kazune Kujyo! CAMKAN ITU!'
Ting!
Sebuah e-mail kembali masuk. Rika melirik malas pada layar handphone-nya dan langsung menggigit bibirnya begitu ia selesai membaca e-mail yang kembali masuk. Ditaruhnya handphone silver itu di ranjang dengan sedikit bergetar dan langsung keluar kamar. Meninggalkan e-mail yang terbuka di kamar itu.
'Jika bagimu itu cinta, Rika… Aku hanya merasa kalau itu hanya obsesimu. Obsesi untuk menghancurkan kehidupannya dan mengambil diriku untuk itu. Tolong, hentikan obsesimu itu, Rika. Aku yakin kau pasti gadis yang baik tanpa rasa obsesi dan iri hatimu.'
.
.
.
.
Jam dikamar gadis beriris Hazel dan bermarga Kujyo itu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Tetapi, gadis itu belum beranjak bangun meski matanya sudah terbuka lebar. Ini hari Rabu dan mestinya Himeka sekolah, tapi gadis itu tetap diam disana.
"Loh, Himeka gak sekolah juga?" Himeka menyibakkan selimut dan bangun dari posisi tidurnya. Berniat melihat siapa yang bertanya walau ia jelas sudah tahu dari suaranya.
"Tidak, aku sedikit malas. Kau?" Himeka berkata dingin pada Kazusa. Kazusa mengendikkan bahunya tak mengerti.
"Aku juga tidak. Badanku tidak terasa sehat karena minuman yang kuminum kemarin. Tumben, nada bicaramu begitu, Himeka?" Kazusa bertanya kembali pada gadis bersurai Dark Blue.
Himeka beranjak turun dan membuka lemari bajunya perlahan. "Tidak ada apa-apa. Keluarlah, aku mau mandi."
"Habis itu, temani aku jalan, ya?" Himeka memutar bola matanya malas sembari mengeluarkan sebuah dress pendek selutut berwarna biru laut.
"Tidak. Bukankah kau sakit?"
"Aku tidak bilang kalau aku sakit. Temani saja, ya?" pinta Kazusa lagi dengan sedikit memelas.
"Baiklah. Tapi, kali ini saja."
"Arigatou, Himeka. Aku menyayangimu, deh," ujar Kazusa dengan mata berbinar ceria.
"Baguslah," balas Himeka lagi. 'Sayangnya, aku membencimu!'
.
.
.
Himeka melemparkan senyum palsu yang kini menjadi andalannya sekali lagi pada gadis bersurai blonde panjang didepannya. Kazusa sibuk memilih beberapa gaun untuk ia beli disalah satu toko baju langganannya.
"Hei, Himeka. Bagus yang ini atau yang ini?" Kazusa menunjukkan 2 baju ditangannya. Satu berwarna putih dengan renda berwarna pink cerah ditangan kirinya dan satu berwarna biru muda dengan sedikit warna oranye.
"Putih, kurasa."
"Oh, terimakasih. Himeka enggak pilih?"
"Sudah. Aku memilih warna coklat tua dan aku sudah menaruhnya dimeja kasir," jawab Himeka malas. "Aku juga sudah membayarnya."
"Oh… Kenapa warnanya suram gitu?" tanya Kazusa sekali lagi.
"Hanya ingin." Himeka menjawab pendek. Dirinya terlalu malas menanggapi sang lawan bicara.
"Ouh… Nanti kita mau kemana lagi, Himeka? Yah… setelah membeli gaun."
"Heh, kita? Aku tidak tahu. Lagipula, aku ingin ke café setelah ini," jawab Himeka datar. Sedetik setelahnya, ia kembali berujar datar. "Sendirian."
"Ehh?! Kenapa begitu? Sama-sama saja!" seru Kazusa ingin ikut.
"Tidak! Aku mau sendirian sekarang, Kazusa. Dan tolong bawakan belanjaanku, itu sudah kubayar!" kata Himeka setengah membentak Kazusa dan langsung berlalu pergi.
Kazusa menatap sedih pada tempat berdiri Himeka tadi. "Maaf, aku tidak tahu seberapa besar kau membenciku."
.
.
.
Himeka hanya menatap nanar jus alpukat-nya. Tidak berniat meminumnya sama sekali. Mulut mungilnya sibuk menggumamkan sesuatu dengan nada kesal. Hei, bagaimana pun jua dia adalah seorang bangsawan yang punya etika. Marah di tempat umum itu sungguh memalukan.
"Kalau sedang marah, jangan ditahan saja. Lebih baik, ceritakan pada orang lain yang kau percaya," seseorang berucap geli dibelakang Himeka sambil menepuk pundak gadis bermarga Kujyo itu. Himeka sedikit kaget ketika menerima tepukan dipundaknya dan langsung menoleh.
"Ka-kau.."
"Hai, lama tidak berjumpa Himeka."
"Karin-san?" Himeka mengerjapkan matanya tak percaya melihat sosok yang sudah hampir dua tahun tidak ia temui itu.
"Hm, apa kabar?" tanya Karin sambil menarik kursi di depan Himeka sebelum mendudukinya. Ia hanya tersenyum manis melihat Himeka masih sedikit menganga tak percaya.
"Ke-kenapa bisa disini? Tidak kuliah? Apa kabar?" Himeka membalas pertanyaan Karin dengan rentetan pertanyaan yang membuat Karin kembali tersenyum geli.
"Aku baik dan aku hanya kebetulan disini. Jadi, aku mampir melihatmu. Aku sedang ingin tak kuliah saja. Kau bagaimana? Tidak sekolah juga?" Himeka menggeleng. Ia tersenyum pada gadis beriris Green Emerald di depannya.
Himeka menghela nafas berat. "Kupikir, kau tak mau bertemu keluarga Kujyo lagi. Ya… karena rumor itu. Rumor dua tahun lalu,"
"Kenapa mesti begitu? Jadi, aku tak boleh menemuimu begitu?"
"A-ah… bukan. Bukan begitu maksudku," jawab Himeka gugup. Dan jujur, hanya gadis didepannya ini yang sanggup membuat ia segugup ini. "Aku tak bermaksud begitu. Sungguh! Aku hanya ingin tanya saja."
Karin tersenyum samar. "Jadi, apa yang membuatmu marah, Himeka cantik?"
"Ja-jangan menggodaku!" Himeka melancarkan protesnya pada gadis didepannya ketika ia merasa rona merah mulai menjalari mukanya.
"Baiklah. Jadi?"
"Kazusa."
"Eh, Kazusa?" tanya Karin pelan. "Ada apa dengannya?"
"Dia menghancurkan mimpiku…"
"Hmm, karena Michi, ya?" Himeka menatap kaget. Tidak mengira, sosok yang sudah ia anggap sebagai kakak itu mengetahuinya. "Kukira kau tidak seharusnya marah padanya."
Himeka membelalakkan matanya sedikit lebar. "Apa maksudmu, Karin-san? Kau pasti marah, kan ketika Kazune direbut oleh Karasuma sialan itu?! Kenapa aku tidak?!" Hilang sudah pemikiran Himeka tentang etika. Persetan dengan seluruh etika bangsawan yang tiada gunanya sekarang!
Karin menatap Himeka penuh arti. "Kau benar, aku marah. Tapi, aku tidak membencinya. Kazune-san, Rika-san, seluruh keluarga Kujyou atau Karasuma, atau yang lainnya. Aku tidak membenci mereka semua, bahkan kau Himeka."
"Ti-tidak benci?"
"Iya. Tidak ada gunanya. Kebencian yang terus mengalir akan menghasilkan dendam, yang pada akhirnya akan mengendalikan dan membutakan dirimu. Aku tidak pernah terobsesi memiliki Kazune-san walau aku akui aku masih mencintainya. Aku tidak pernah memaksakan pendapatku padamu, Himeka. Aku hanya menyuarakan pendapatku. Hanya itu," jelas Karin panjang lebar. Himeka tertunduk malu.
"Maafkan aku. Tapi, salah ya jika aku membenci Kazusa dan memiliki keingan untuk mendapatkan Michi-kun? Yah, walau itu agak mustahil."
"Kurasa tidak juga. Kau, ya itu adalah keinginanmu. Dan yang kau alami adalah masalahmu," Karin berucap dengan nada anggunnya seperti biasa. "Tapi, ada saat dimana kita tak bisa memaksakan keinginan kita terjadi dan itu selalu hadir dalam lingkaran para bangsawan. Kau hanya bisa membuat pilihan diantara takdirmu sendiri."
"Hah? Takdir?"
Karin mengangguk.
"Aku tidak percaya takdir, Karin-san."
"Kenapa?"
"Entahlah. Walaupun aku percaya, aku bahkan tidak tahu arti sesungguhnya dari takdir." Himeka menjawab pelan. Ia menundukkan kepalanya. Tidak membiarkan Karin menatap iris Hazel-nya.
Sesaat, ia mencuri pandang pada Karin. Ia ingin tahu reaksi gadis itu, tapi gadis itu hanya diam. Diam mematung sambil menatap Himeka penuh pengertian. Sekali lagi, gadis itu kembali membuatnya gugup hingga akhirnya Himeka menghela nafas pelan. Terdengar desahan cemas bercampur didalamnya.
"Baiklah. Kau menang. Takdir, jujur aku tidak begitu menyukai sesuatu yang terlalu mendekati hal-hal berbau takdir. Takdir, itu pilihan yang dibuat manusia. Sayangnya, aku tidak menentukan takdirku sendiri. Statusku lah yang menentukan takdirku. Ja-jadi, aku… seakan tidak peduli pada takdir." Ada isakan pelan ketika Himeka bersuara.
"Seakan tidak peduli bukan berarti kau tidak peduli sama sekali, Himeka. Kau salah besar ketika beranggapan bahwa takdir itu pilihan yang dibuat oleh manusia dan status seseorang. Kau benar-benar salah besar, Himeka," ujar Karin. Tangan kanannya menjangkau bahu kiri Himeka dan mengelusnya pelan. "Takdir itu ditentukan oleh Kami-sama. Manusia hanya bisa memilih sebuah pilihan dan menanggung konsekuensi yang mungkin akan diterima oleh manusia itu sendiri. Tapi, ketika kau berpikir bahwa sebuah pilihan mungkin akan membuatmu skak mat, ketika Kami-sama tidak menentukan begitu, pilihan itu tidak akan membuatmu skak mat."
"Lalu, dimana aku bisa memilih takdirku sendiri? Bahkan saat ini saja, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menghentikan ketika Michi ditunangkan dengan Kazusa. Tidak bisa, Karin-san!" Himeka memekik frustasi. Otaknya sudah tak bisa benar-benar berpikir jernih.
"Bukankah kau yang memilih untuk berbuat seperti ini?" Karin menatap marah pada Himeka. Himeka tertegun.
"Kau yang memilih untuk diam. Kau yang memilih untuk tidak mengungkapkan perasaanmu. Kau yang memilih untuk membiarkan dia tidak melihat dirimu. Lalu, kenapa saat itu kau tidak memilih untuk bergerak dan mengungkapkan semuanya?!" Nyaris. Nyaris air mata Himeka terjatuh detik itu juga. Dia menyadari kebodohannya. Kenapa ia memiliki mulut yang hanya bisa diam dan mata yang hanya bisa melihat?
"A-aku… aku me-mema-memang bodoh, Ka-Karin-san. Aku be-benar ti-tidak s-sanggup melakukan hal itu. A-aku ha-hanya tak-takut ditolak," ucap Himeka dengan air mata tertahan. Suaranya tercekat penuh ketakutan. Karin menghela nafas. Menyadari, mungkin ia sudah kelewatan ketika mencoba memberi Himeka penjelasan. Tapi, yang perlu diketahui, Himeka juga cukup keras kepala.
"Hhhh… dan disitu juga letak kesalahanmu, Himeka." Karin merubah nada suaranya seperti biasa. Tenang dan lembut.
"A-apa?"
"Kau masih memiliki banyak orang yang menyayangimu. Yang bisa membantumu. Bibi dan paman mu yang selama ini merawatmu, Kazune-kun, Kazusa, aku, siapapun. Mereka bisa membantumu. Kau tak harus diam seperti apa yang biasa kau lakukan," Karin kembali berujar tenang. Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Tidak semua. Tidak semua bisa kau dapatkan hanya dengan diam dan bergerak samar. Aku yakin, kau mengerti maksudku.
"O-Onee-san…" dan Karin langsung memeluk Himeka sambil tersenyum lembut, ketika ia sadar panggilan Himeka kepadanya berubah. Ia juga tahu. Sosok gadis dipelukannya juga butuh tempat sandaran. Seberapa tegarnya orang itu.
"Iya. Onee-san ada disini. Kamu perlu bantuan apa dari Onee-san?"
.
.
.
Tak. Tak. Tak. Tak. Tak.
Jemari Kazune tidak henti-hentinya menulis sesuatu dilaptopnya. Seulas senyum tampak menhias wajah tampannya. Yang sudah memikat beribu wanita didunia ini. Termasuk Rika, tunangannya yang terlalu terobsesi untuk memilikinya.
"Huhh…" memikirkannya saja membuat Kazune merasa tidak enak. Otaknya berputar mencari sebuah jawaban atas pertanyaan yang terus mengganggunya. "Kukira, kalau aku bertanya padanya, dia akan membantu."
Tangan Kazune beranjak mengambil sebuah telepon rumah yang terletak di meja kamarnya. Dengan cekatan, ia menekan tombol-tombol itu. 'Bagus, terhubung.'
Klik!
'Moshi-moshi. Dengan siapa, aku bicara?'
"Harusnya kau perbaiki tata karma milikmu, Sayuri."
'Oh, kau rupanya setan pirang. Ada apa? Ara, kuingatkan kau agar tidak menyarankanku memperbaiki tata karma ku. Kukira mesti kau yang melakukannya.'
"Heh, itu tidak penting dan jangan memanggilku setan pirang. Nama apa itu?"
'Nama buatanku.'
"Aku tidak tanya itu, Sayuri."
'Bukannya kau tadi ta-..'
"Sudah! Sekarang aku perlu bantuanmu. Kau mau tidak?"
'Ara, bantuan ya? Memangnya, kalau aku lakukan, kau beri aku apa?'
"Sesuatu. Yang berharga. Paling berharga dalam hidupku."
'Sepertinya menarik. Baiklah, ada apa?'
.
.
"Memang menyedihkan. Saling mencintai tidak bisa bersama. Saling merindukan tak bisa menyampaikan. Jangan biarkan cintamu menjadi api, yang akan membakar seluruh kehidupanmu. Jangan juga bohongi dirimu. Walau hatimu pada awalnya menolak patah, seiring kau terus menambah beban dan lukanya, ada saatnya hatimu perlahan patah tanpa kau sadari. Jujur saja."
-Bunga Sharesputri-
TBC (TO BE CONTINUE)
Yeah, chapter 2 selesai. Walau sepertinya, hasilnya agak atau sangat mengecewakan. Gomennasai, Mina-san. Bentar ya, sebelum Bunga tutup chapter ini, Bunga mau menjawab review duluu… ^^
Mulai dari Azahnurbandini! Arghhh… benarkah? Benar fanfic ini seru? Terimakasih ya udah mau menyukai fanfic Bunga. Terimakasih juga udah mereview…
Lalu, Ryiana. Lumayan? Lumayan apa? Lumayan jelek, ya? T ^ T . Maaf, Bunga tak bisa Update Kilat. Bunga hanya berjanji bahwa Bunga akan terus Update tanpa ketentuan pasti#Peace! Arigatou sudah mereview dan memberi Bunga semangat. Ganbatte juga!
Terakhir, Viwa-chan! Kyyaaa! Bunga juga penasaran. Penasaran sama kamunya#Eaaa. Ahahahaha… maaf-maaf. Bunga lagi banyak pikiran, jadi aneh gini. Aduh, kalau Update Kilat kayaknya kurang bisa. Kalau Update bisa, tapi dengan kecepatan siput#Peace! Arigatou sudah mereview…
Nah, selesai, Mina-san. Akhir kata,
Mind To Review?
