Sadistic S. Kuro, in.

Untuk semua yang telah review, terima kasih banyak, bikin saya bangkit lagi dari berbagai masalah, juga menyemangati saya untuk terus menulis. Untuk semua yang menunggu fanfict abal ini (itu pun kalau ada) maaf saya baru bisa update setelah menghilang sekian lama.

Special thanks for :

Kiseki Amai, Kudo Widya-chan Edogawa, DarkNoah, Endou, Hikaru Uzumaki, Hikaru Uchiha, usil kipsi, Aoi no Kaze, Neko Raito-kun, Kuroi5, Za666, Syifa, Ruvina no Ookami Hime, Lee Lolina, eisa ayano, Uzumaki Winda, Akita Rei, Fi Suki Saki, Namikaze Narita-chan, yuchan desu, Puu Kyuukki, Ashahi Kagari-kun, and kitsune artix.

Serta salah satu fanfiction multichap abal dari author ini, alias Cinta yang Sadis, sudah saya hapus, karena saya baru sadar kalau alur ceritanya terlalu berantakan.

Setelah author ini lama menghilang, saya rasa ada banyak masalah di fanfic ini yang harus diperbaiki, tentunya dengan re-write. Jadi saya putuskan, saya re-write fanfic ini dari awal.

Serta saya umumkan kalau fanfic ini ganti nama, menjadi Another Crazy Version, karena inti dari fanfic ini adalah imajinasi liar dan gila seorang penggemar femNaru.

Start

Kali ini bukan Naruko yang menjawab. Tapi sesosok gadis 19 tahun dengan rambut merah tergerai sepunggung, dengan topeng rubah hitam dan mengenakan pakaian ANBU.

"Anda siapa?" tanya Hinata sopan.

"Kyuubi no Youko, panggil aku Kurama."

"Jangan bercanda! Kyuubi disegel pada tubuh Naruko. Kalau Bijuu sampai keluar dari tubuh Jinchuuriki, Jinchuuriki akan mati. Bagaimana mungkin?!" seru Hinata.

"Dia benar, Hinata, dia memang Kyuubi."

Hinata menoleh pada Naruko. Dia sudah berdiri dan membuka matanya.

"Bagaimana mungkin dia bisa keluar?" tanya Hinata.

"Tidak. Kami masih terhubung dengan segel. Secara detail tak bisa kujelaskan karena ini SSS-rank Fuinjutsu milik klan Uzumaki dari Uzugakure. Tapi aku bisa keluar dan menggunakan sedikit kekuatanku. Tenang saja, aku takkan menghancurkan Konoha, itu bukan tujuan utamaku saat ini," jelas Kurama.

"Sebaiknya penjelasannya dilanjutkan di rumah saja. Aku merasa ada yang mengintai kita," ujar Naruko sambil memakai jubah hitamnya.

"Tidak. Kita telat. Mereka sudah dekat, tunggu beberapa menit. Hadapi saja, bagus untuk latihan. Hanya sekumpulan ninja Iwa kelas teri," ujar Kurama.

Beberapa menit kemudian, empat orang dengan seragam ANBU Iwagakure mengepung mereka.

"Kurama-nee…" ujar Naruko pelan, dengan tatapan dingin.

"Ya?"

"Mereka ANBU, bukan ninja kelas teri seperti yang kau bilang," lanjut Naruko.

"Well, I'm a very naughty vixen."

"Kau jangan harap bisa mengalahkan kami. Jinchuuriki Kyuubi, menyerahlah. Kami hanya akan membawamu pergi ke Iwa," ujar salah satu dari mereka, tampaknya ketua tim itu.

"Wah, Taichou, kebetulan, ada Souke Hyuuga di sini. Tsuchikage-sama pasti akan senang," ujar yang lainnya.

"Hey, gaki, kau ingin ikut bersenang-senang atau membiarkanku membantai ninja-ninja kelas teri ini sendirian?" tanya Kurama, menghunuskan cakarnya.

"Kurama-nee, jangan marah, tapi kali ini giliranku bersenang-senang. Tolong bawa Hinata mundur. Terlalu berbahaya untuknya," ujar Naruko, kodachi dari kristal berwarna biru jernih terbentuk di kedua tangannya. Kurama hanya mendengus, dengan cakar yang kembali normal, lalu membawa Hinata ke tempat yang aman, membiarkan Naruko menghadapi empat ANBU sekaligus.

Mereka membombardir dengan teknik Doton yang dikombinasikan dengan gulungan berisi ribuan kunai. Hinata sebenarnya ingin ikut membantu, mengingat Shugo Hakke bagus untuk mempertahankan diri dari serbuan senjata tajam sebanyak itu. Tapi dia memutuskan untuk tidak ikut campur. Dia penasaran dengan kodachi di tangan Naruko. Bagaimana kristal bisa terbentuk begitu saja?

"Crystal Release : Crystal Shield."

Tanpa merapal segel tangan, kristal biru jernih terbentuk di sekeliling Naruko, menjadi pelindung yang kuat. Hinata terkesima, bagaimana pelindung kristal itu bertahan dalam hujan kunai dan beberapa serangan teknik Doton sekaligus.

"Hanya segitu saja? Bahkan pelindung kristalku belum retak. Baiklah, saatnya upacara pemakaman. Crystal Release : Crystal Thorn Range!" seru Naruko sambil menancapkan kedua kodachi kristalnya ke tanah. Tiba-tiba tanah bergetar. Dalam radius 30 meter di sekitar Naruko, tumbuh duri-duri dari kristal, menyerang secara tak terduga. Tak ada yang cukup cepat untuk menghindar. Keempat ANBU itu meregang nyawa karena duri kristal itu tepat menusuk semua organ vital mereka. Mereka mati dengan cepat tanpa mampu menjerit.

"Gaki! Nice show! Aku harus menyimpan gambarnya!" seru Kurama bersemangat, menyambar buku sketsa kecil, pensil dan penghapus di tas pinggangnya, mulai menggambar.

'T-teknik apa itu?' batin Hinata takut. Dia belum pernah melihat begitu banyak orang tewas bersimbah darah di depan mata.

"Gomen, nanti kujelaskan. Teknik rahasia, Crystal Release (Shoton)," ujar Naruko, menggandeng tangan Hinata.

"Hey, Gaki, bagaimana dengan jasad mereka?" tanya Kurama.

"Kurasa Kurama-neechan sudah tahu jawabannya," balas Naruko sambil menyeringai nakal. Kurama hanya mendengus kesal, tapi mengangguk, membiarkan Naruko dan Hinata pergi duluan.

"Ternyata… Kyuubi no Youko tak seperti yang selama ini dibilang orang…" ujar Hinata, saat selesai mendengarkan penjelasan Naruko.

"Yeah… Banyak yang tak menyadarinya. Padahal shinobi harus melihat di balik apa yang terselubung. Tolong rahasiakan ini," ujar Naruko, menatap iris lavender Hinata lekat-lekat.

"Kau… memercayakan rahasia sebesar ini padaku?" tanya Hinata, yang dibalas anggukan Naruko.

'Takkan kusia-siakan kepercayaanmu, Naruko-neesan.'

Hinata hanya bisa menghela nafas. Hari ini sangat aneh. Melihat Bijuu terkuat di muka bumi mendadak jadi ibu rumah tangga bukanlah hal yang bisa kau lihat setiap saat. Hinata menatap Kurama yang asyik memasak. Sementara dia dan Naruko duduk di kursi makan. Beberapa gulungan dan buku tebal tergeletak di meja makan itu. Naruko asyik dengan buku berlabel 'Fuinjutsu Uzumaki, Middle-High Level'. Sementara Hinata, asyik membolak-balik buku berisi koleksi jurus klan Hyuuga. Perhatiannya terpecah, antara buku itu dan Kurama.

Kurama, Bijuu terkuat di muka bumi. Kyuubi no Youko, the Queen of Bijuu, Leader of the Youko Clan. Kini, memasak, dengan kaus hitam tanpa lengan dan rok merah selutut dan apron kuning lemon. Rambutnya dikuncir ekor kuda, membuatnya tampak… feminin.

"Hey, Hyuuga, lebih baik konsentrasi dengan bukumu. Menatapku takkan membantumu di Akademi. Sebulan lagi kalian masuk Akademi Ninja, 'kan?" tegur Kurama.

"Yeah, dan kami akan mendepak siswa lain dari daftar peringkat lima besar!" seru Naruko bersemangat. Sayangnya, malah dibalas dengan tatapan sweatdrop oleh Hinata dan Kurama.

"Eh? Apa aku salah ngomong?"

"Tidak… kurasa kau takkan mendepak mereka. Kau akan menghajar mereka, 'kan?" ujar Hinata. Naruko hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya.

"Naruko," panggil Hinata, saat mereka berlatih bersama keesokan harinya.

"Hm? Kenapa?" respon Naruko.

"Tahun ajaran baru di Akademi Ninja dimulai sebulan lagi. Otousama sudah pasti mendaftarkanku. Bagaimana denganmu? Village Council pasti akan ribut…"

"Aku yakin Ojiichama bisa membereskannya. Untuk Shinobi Council… hmm… Kalau orang kepercayaan Ojiichama dan tahu rahasia orang tuaku, pasti akan setuju. Tinggal Civilian Council sialan itu, serta para tetua merepotkan. Tapi aku punya cara sendiri untuk menghadapi mereka," jawab Naruko sambil menyeringai nakal. Hinata segera menangkap maksud seringaian itu.

"Apa pun itu, pasti tindakan nekat. Bisa beritahu aku?" tanya Hinata.

"Debat ringan. Kalau tak berhasil, akan kubekukan seluruh ruangan Council."

"Tapi itu berbahaya! Apalagi para tetua! Yang bernama Danzou-sama, kau bilang sendiri padaku kalau dia mengerahkan ANBU Nee-nya untuk mengawasimu."

"Bukan bahaya besar jika kuhadapi dengan partner-ku."

"Tapi kalau Kurama-san menampakkan diri, mereka akan mengira kalau Kyuubi lepas, ujung-ujungnya malah makin rumit."

"Aku sudah buat rencana, kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tenang saja, kau kira aku akan sukarela terjun ke kandang singa tanpa rencana?"

"Hiruzen! Apa kau serius membiarkan bocah Kyuubi itu masuk Akademi Ninja?! Dia akan jadi masalah kalau dia jadi shinobi!" seru seorang nenek yang diketahui adalah salah satu tetua desa bernama Utatane Koharu.

"Tentu saja. Dia sudah cukup umur untuk masuk Akademi," jawab Hiruzen santai.

'Fufufu, mereka belum tahu kalau dia sudah selevel Chuunin, berkat latihan dari Kurama. Baguslah, aku bisa mengejutkan mereka,' batin Hiruzen, tertawa dalam hati.

"Tapi Hiruzen, jika dia menjadi shinobi yang kuat, dia hanya akan membahayakan Konoha!" protes tetua yang satunya lagi, kakek-kakek berkacamata, bernama Mitokado Homura.

"Tidak. Aku yakin dia akan loyal pada Konoha," sahut Hiruzen.

Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu.

"Masuk!" balas Hiruzen.

Pintu terbuka. Tampak dua orang Chuunin, menjaga Naruko dari dua sisi. Dia hanya diam, tapi gagal menyembunyikan nafsu membunuhnya. Mereka lalu masuk.

"Homura-sama, kami sudah membawa bocah Kyuubi ini," ujar salah satu dari mereka.

"Aku bukan bocah Kyuubi. Kalian saja yang terlalu bodoh untuk mengerti Fuinjutsu selevel Shiki Fuujin," balas Naruko dingin, membuat Chuunin itu mencengkram kerah jaket hitam Naruko.

"Apa peduliku segel apa yang digunakan, hah?! Yang jelas, kau adalah monster yang mengamuk delapan tahun lalu!" timpal rekannya.

Hiruzen hanya diam, tapi melepaskan Killing Intent yang cukup untuk membuat dua Chuunin itu gemetar.

"Kalian! Sekarang, keluar!" seru Hiruzen, mengusir dua orang itu. Untungnya mereka menurut. Hanya Kami-sama yang tahu apa yang akan Hiruzen lakukan jika dua orang itu melanjutkan perbuatan mereka.

"Arigatou, Ojiichama. Lalu, Homura-san, Koharu-san, apa masalah kalian denganku?"

"Kami tidak setuju kalau kau masuk ke Akademi Ninja," ujar Homura, memandang Naruko dengan dingin.

"Atas alasan apa? Hanya karena aku Jinchuuriki?" respon Naruko. Kedua tetua sisa perang itu terdiam membenarkan.

"Karena, jika kau jadi shinobi, pasti kau akan berkhianat pada Konoha," balas Koharu tak mau kalah.

"Jika aku memang ingin berkhianat pada Konoha, tentu sudah kulepaskan segel Kyuubi supaya dia bisa mengamuk sepuasnya," sahut Naruko.

"Memang kau bisa?" sindir Homura.

"Shiki Fuujin dirancang agar aku bisa menggunakan chakra Kyuubi dengan kesadaranku sendiri.

"Lagi pula, aku tidak yakin kau bisa lulus," sindir Koharu, mulai kehabisan amunisi dan kesabaran.

"Oh ya? Crystal Release : Crystal Claw!" seru Naruko. Cakar dari kristal terbentuk di tangan kiri Naruko. Killing intent dari mereka berempat memenuhi ruangan itu.

"Naruko, tenang dulu. Kau hanya akan membuat masalah semakin rumit kalau menyerang mereka," ujat Hiruzen.

"Siapa bilang aku ingin menyerang mereka? Aku ingin membunuh mereka! Diskriminasi ini menyebalkan!" seru Naruko, mulai dengan menyerang Koharu. Nenek tua itu terkejut melihat kecepatan Naruko. Bocah delapan tahun itu tiba-tiba sudah di depannya, menghapus jarak dengan cepat, lalu menyabetkan cakar kristal itu.

Trang!

Sesuai dugaan Naruko, ANBU takkan tinggal diam. Dua ANBU muncul, salah satu dari mereka menarik Koharu ke tempat yang aman, lalu yang satunya lagi memblok serangan Naruko.

"Koharu, Homura, keluar dari ruanganku! Kalian juga! Kecuali Naruko, tetap di sini!" seru Hiruzen kesal, menyuruh mereka semua pergi kecuali Naruko.

"Kenapa, Ojiichama? Lebih baik diselesaikan sekarang, sebelum Danzou ikut memperparah masalah," protes Naruko.

"Jangan sekarang, Naruko… Kau bisa dikejar-kejar Civilian Council itu. Mereka akan menuntut eksekusi. Jangan bunuh mereka, paling tidak, jangan sekarang… "

"Ojiichama, kau kira aku akan takut pada Civilian Council?" balas Naruko.

"Yeah, mereka memang hanya menang mulut, DAN menambah paperworks yang harus kukerjakan…"

Naruko hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.

"Kenapa tak pakai Kagebunshin no Jutsu saja?"

Detik itu juga, Hiruzen membenturkan kepalanya ke meja. Dia, the Professor of Shinobi, salah satu dari segelintir Shinobi Konoha yang telah mengarungi tiga perang besar dan bertahan hidup-hidup, guru dan Konoha no Sannin Shinobi, dan tak terpikirkan olehnya ide seperti itu. Serta yang memberitahunya adalah bocah delapan tahun yang bahkan belum menjejakkan kaki di Akademi Ninja.

"Eh? Kenapa? Memang Kage dilarang pakai Kagebunshin untuk mengerjakan paperworks, ya?" tanya Naruko dengan tampang 'polos'. Meskipun dalam hati, senyum kemenangan khas rubah yang baru mengerjai mangsa tersungging dengan indah.

"Tidak… tidak ada aturan tentang itu. Kau boleh pergi sekarang."

Naruko hanya mengangguk, melangkahkan kaki ke pintu. Setelah dia menutup pintu, dia mendengar sesuatu berbenturan dengan meja.

'Mungkin Ojiichama sedang depresi,' batinnya berasumsi.

Naruko's POV

Hari pertama di Akademi Ninja. Pasti membosankan, karena pelajaran pertama sudah dipastikan adalah ceramah tentang sejarah Hokage.

Apa aku harus pura-pura jadi bocah ingusan?

Mari catat apa yang harus kuwaspadai. Aburame, Hyuuga dan Inuzuka, trio klan pelacak terhebat. Aku tak mau ada yang tahu kemampuanku yang sebenarnya, yakh, setidaknya untuk saat ini. Lalu si pemalas jenius Nara, diam-diam menghanyutkan. Kuharap tidak ada Uchiha di kelasku.

Lalu tidak boleh pakai Shoton dan Hyouton. Cih, ini akan merepotkan…

Saat aku melihat papan pengumuman pembagian kelas, aku menghela nafas. Sedikit persiapan batin.

Aburame Shino

Akimichi Chouji

Haruno Sakura

Hyuuga Hinata

Inuzuka Kiba

Nara Shikamaru

Uchiha Sasuke

Uzumaki Naruko

Yamanaka Ino

Aku baru melihat ¼ dari daftar itu, dan aku memutuskan untuk memalingkan wajah, dengan sedikit pertimbangan untuk membakar kertas laknat itu.

Jadi kulangkahkan kaki menuju kelas, dengan ekspresi datar meski aku siap membekukan seluruh akademi, kapan saja.

End of Naruko's POV, Normal POV

Sementara Naruko menuju kelas, beberapa anak laki-laki berbisik-bisik. Mereka sepertinya tak tahu kalau Naruko Jinchuuriki Kyuubi. Jadi mereka menatapnya seperti anak biasa. Sayangnya, Naruko cukup manis bagi pandangan mereka. Serta pakaiannya yang lebih mencerminkan seorang shinobi, berbeda dengan kebanyakan perempuan yang lebih suka pakaian yang membuat mereka tampak cantik, tak peduli kalau itu justru membuat mereka tak cocok disebut kunochi.

Naruko tipe orang yang simpel. Hanya jaket hitam dengan lambang Uzu di bagian punggung, dengan garis oranye di bagian ujung jaket. Serta celana dan sepatu sandal ninja standar berwarna hitam. Kurama, dalam Animal Form-nya, melingkarkan diri di atas bahu Naruko dalam keadaan tidur. Kebanyakan mengira itu rubah partner-nya, seperti Inuzuka dan anjingnya.

Saat memasuki kelas, dia segera memilih tempat duduk. Bari ketiga dari depan. Setelah meletakkan tas ransel hitamnya, ada yang menepuk bahu Naruko. Dia segera menoleh. Perempuan berambut pirang dikuncir ekor kuda, dengan poni lempar kanan hampir menutupi mata kanan. Dia memakai pakaian berwarna ungu dengan manset putih dan perban.

"Hey, perkenalkan, aku Yamanaka Ino, kalau kau?" sapanya, sedikit perkenalan.

"Uzumaki Naruko," jawab Naruko pendek. Ino mengulurkan tangan, Naruko mengerti dan berjabat tangan.

"Ayo ikut aku. Akan kukenalkan teman-temanku!" seru Ino sambil menyeret Naruko ke arah sekumpulan anak. Ada Hinata di antara mereka.

"Naruko, apa 'Daredevil Project'-mu sukses?" tanya Hinata, mengkhawatirkan masalah apa yang akan menghantam gara-gara Village Council. Dia tahu ayahnya tidak begitu suka Village Council Meeting, karena lebih sering menimbulkan masalah dari pada menyelesaikan masalah.

"Yeah, mereka kalah telak," jawab Naruko sambil menyeringai.

"Eh? Kalian sudah saling kenal?" tanya laki-laki yang punya tato segitiga merah di kedua pipinya dan menggendong seekor anjing berbulu putih. Naruko langsung tahu kalau dia Inuzuka Kiba. Hanya ada satu Inuzuka di kelas itu, dan dipastikan hanya Inuzuka yang selalu membawa anjing ke mana-mana.

"Ya, s-sejak tiga bulan lalu. K-kami sering latihan bersama. Um, tepatnya dia yang melatihku…" ujar Hinata malu-malu.

Perkenalan berjalan lancar. Sampai tiba-tiba seorang anak laki-laki berambut hitam pantat ayam dengan baju berkerah tinggi muncul. Ada lambang Uchiha di punggung kausnya.

"Kyaaaa! Itu Uchiha Sasuke-kun!" seru Ino dan Sakura bersamaan. Yang lain hanya bisa menghela nafas melihat mereka.

"Ino-Pig! Sasuke-kun itu milikku!"

"Forehead! Mana mau dia dengan jidat selebar lapanganmu!"

Naruko hanya mendengus, mundur teratur ke mejanya. Kebetulan Hinata duduk di samping kanannya.

'Kalau dia sampai ingin duduk di sampingku…'

Sayangnya, Sasuke malah melangkah kakinya ke tempat Naruko.

"Hey, apa aku boleh duduk di sampingmu?" tanya Sasuke.

"Tidak. Aku keberatan," tolak Naruko, mengagetkan separuh populasi kelas. Menolak seorang Uchiha. Anak perempuan yang lain mulai berteriak.

"Sasuke-kun! Duduk saja di sampingku, jangan dekat-dekat dengannya! Dia tak mengerti ketampananmu dan keelitan Uchiha!" seru Sakura.

"Sasuke-kun! Jangan dengarkan yang lain, duduklah di sampingku!" seru Ino.

Sasuke tak memedulikan teriakan fans-nya, masih menatap Naruko.

"Ayolah…" lanjut Sasuke. Entah dia tertarik pada Naruko, atau dia tak mau diterkam oleh fangirls-nya.

"Tidak. Minta saja salah satu fans-mu," jawab Naruko. Tapi Sasuke malah meletakkan tasnya di bangku samping kiri Naruko.

"Aku sudah bilang aku tidak mau, Baka-Sasuke-Teme! TIDAK! Jadi pindahkan tasmu sebelum aku membakarnya!" seru Naruko.

"Tidak. Aku tidak akan pindah," balas Sasuke, masih bertahan pada kebanggaannya sebagai Uchiha.

"Kalau kau tak mau pindah, ya sudah. Aku saja yang pindah. Karena aku menolak untuk duduk di sampingmu," ujar Naruko sambil mengambil tasnya.

'Dia menarik…'

"Kalau begitu aku tak jadi duduk di sini," ujar Sasuke, mengangkat tasnya dan berlalu. Naruko hanya mendengus kesal, meletakkan tasnya, hampir membanting tepatnya.

"Naruko, kenapa kau begitu padanya?" tanya Hinata. Banyak yang tertarik, ikut pasang telinga untuk mendengarkan.

"Aku benci Uchiha."

Tiga kata yang cukup untuk mengagetkan siapa pun yang mendengarkan.

Hinata terdiam sebentar. Lalu mengingat kebencian Kurama pada Uchiha karena dendamnya pada Uchiha Madara. Hanya dengan pengecualian pada Mikoto, Izuko dan Itachi.

"Karena Kurama-san?" tanya Hinata, sangat lirih, lebih tepatnya berbisik. Tapi cukup untuk didengar Naruko.

"Ya. Hanya karena itu. Tak ada alasan lain."

"Kasihan dia… Sepertinya dia belum pernah menerima penolakan…" ujar Hinata, menatap sang Uchiha yang duduk tak jauh dari mereka, di baris paling depan.

Sasuke's POV

Perempuan yang menarik. Pakaiannya lebih seperti shinobi. Dia tampaknya menyukai oranye, tapi dia tahu apa yang harus dikenakan shinobi. Serta dia tak menjerit seperti sekumpulan fangirls bodoh yang merusak citra kunoichi.

Dia menolakku, punya pendapatnya sendiri dan mempertahankannya dengan keras. Sepertinya tipe orang yang keras kepala. Jauh lebih baik daripada fangirls bodoh yang berisik dan menjerit hampir setiap saat. Bahkan terlalu jauh untuk dibandingkan. Apalagi, perempuan seperti dia lebih menantang.

End of Sasuke's POV

Kelas akhirnya dimulai. Chuunin pembimbing kelas itu menampakkan diri. Seorang dengan bekas luka goresan melintang di batang hidup. Umino Iruka.

Sesuai perkiraan Naruko, mereka memulai hari dengan perkenalan dan sejarah Hokage. Lebih dari separuh kelas harus berjuang menahan kantuknya, sementara si pemalas jenius Nara sudah tertidur sejak sesi perkenalan usai.

Tsuzuku

Pertemuan Uchiha dan Uzumaki, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Words : 2.755

Pages : 11

Mind to review?

Sadistic S. Kuro, out.