"Payah."
KRAK!
JEEGGEEEEEERRR!
Todoroki Izuku merasa jiwanya retak dan menggelosor hancur tanpa arti bagaikan tebing marmer yang tengah digali.
Lelaki berjidat eksotis itu membanting gepokan naskah Izuku tanpa arti di meja yang membatasi keduanya. Matanya hanya memandang bosan, namun dengan tampangnya yang menyeramkan itu, ekspresinya selalu menjadi multitafsir.
Shinso Hitoshi memang terkenal sebagai 'Editor Kejam'.
"Kau membuat Ichikara—tokoh utama laki-lakinya malah menyerah dan bunuh diri?" gumamnya. Suara bass itu menambah efek horor dari penampilannya.
Izuku mengangguk. "Kupikir itu adalah ending yang terbaik."
"Siapa yang mau baca kisah roman yang tidak berakhir bahagia?" Shinso mendengus. "Kalaupun dicetak, novelmu bakal cuma menambah polusi kertas, tahu."
"Aku hanya berusaha realistis." Izuku masih membela diri. "Tidak semua yang kita inginkan berjalan sesuai rencana, kan?"
Shinso menghela nafas. "Izuku-san, aku memang suka dengan gaya menulismu. Sejauh ini, hampir tidak ada celaan yang bisa membuat naskahmu goyah sedikitpun. Tapi, aku tidak menyangka kalau penulis kebanggaan FlashMight Publisher ini tidak pandai menulis roman."
Perempatan kesal mengurat di pelipis Izuku.
"Jangan pasang muka begitu." Shinso melengos. "Aku bilang kau tidak pandai, bukan tidak bisa, kan? Makanya aku memintamu menulis ulang."
"Aku harus menulis seperti apa?"
Shinso merenung sejenak. "Entahlah. Novel roman itu melibatkan aspek yang besar. Konteks, penokohan, alur, lalu perasaan apa yang ingin kau sampaikan ketika pembaca membacanya."
Izuku mengeluarkan catatan kecilnya dan mulai menulis.
"Kalau kata anak jaman sekarang, naskahmu kurang baper. Endingnya mungkin sedih, tapi aku pribadi tidak merasakan perasaan yang hendak kau sampaikan. Malahan, aku berpikir bahwa Ichikara—si tokoh utamamu, adalah cowok lemah yang pengecut."
Izuku menaruh penanya. "Kau editor pertama yang memintaku menulis roman, Shinso-san."
"Aku tahu." Shinso mengganti tumpuan kakinya. "Hatsume membuatmu menjadi sangat imajinatif dalam membuat novel fantasi-fiksi. Bahkan beberapa novelmu sudah masuk cetakan kedua, kan? Itu luar biasa."
Izuku menunduk.
"Roman itu tidak melulu harus hubungan pacaran." Shinso mencondongkan badannya. "Ada domestic romance, tentang kehidupan rumah tangga. Atau reality romance, yang lebih mengedepankan hubungan persahabatan atau keluarga. Hubungan antara orangtua dan anak tiri juga sekarang sedang hype."
Pena kembali menggores kertas. Izuku mengangguk paham.
"Shinso-san, aku boleh minta tenggat waktu tambahan?"
"Hmm?"
"Ano...aku dapat tawaran juga dari Monoma-san. Jadi, mungkin akan makan waktu lama untuk memperbaiki naskahnya."
"Begini saja..." Shinso mulai berdiri. "Kuberi kau waktu 2 bulan untuk membuat naskah baru. Terserah mau kau edit sedikit yang sekarang, atau mau buat ulang. Yang penting, lewat dari dua bulan ini, aku tidak mau membimbingmu."
Izuku merenungi ucapan Shinso dalam-dalam.
Naskahmu kurang baper.
"Baper itu...harus segimana, sih?"
"Klien yang sekarang lebih mudah diajak bicara. Terlebih, desainmu yang kemarin mereka suka. Dan juga, mereka mau menambahkan elemen berupa—hey, kau dengar aku?!"
Shoto mengacuhkan ucapan Yaoyorozu Momo, wanita cerewet yang merupakan atasannya karena wanita itu adalah mandor konstruksi tempatnya bekerja. Banyak orang yang mengagumi Yaoyorozu (atau biasa dipanggil Yaomomo) karena kecerdasan, kecantikan, keseksian dan kekayaan yang dimilikinya. Tetapi, hanya Shoto yang memandangnya sebagai perempuan yang hard-to-please alias tukang komplain, panikan, gegabah dan perfeksionis sinting yang kadangkala tidak manusiawi dan berorientasi materi. Tentu saja, karena Shoto adalah Arsitek Utama sehingga ia seringkali mendapat pekerjaan mendadak karena ulah bossnya sendiri.
"Dengar. Intinya mereka punya ide sendiri." Shoto dengan acuh membuka kotak bekal yang dibawanya.
"Kau mau makan di depan bossmu?" sindir Yaomomo.
"Diam, kau. Aku tahu kau sudah makan." Desis Shoto. "Kau sudah membuatku melewatkan makan siangku. Memangnya tidak boleh?"
"Ya sudah, sana makan." Yaomomo mengalah.
Shoto dengan acuh membongkar kedua tingkat kotak makannya. Isinya empat kepal onigiri berselimut nori dengan nasi berwarna ungu, tiga gulung bacon panggang berisi daun bawang, kinpira gobo, acar tomat ranti dan manisan buah persik dalam cup kecil.
"Niat banget." Gumamnya.
"Beli di mana?" Yaomomo diam-diam mengintip sambil menyetir.
"Bawa dari rumah." Jawab Shoto sekenanya. "Amm...nyem nyem..."
"Kayak enak." Yaomomo mereguk liur. "Ibumu pintar masak, ya?"
"Istri." Ralat Shoto. Ia mengunyah onigiri-nya dengan tenang.
"Oh, aku nggak tahu kalau kau sudah menikah."
Shoto tidak memberikan jawaban. Ia sibuk mencuil-cuil kinpira gobo dengan sumpit. Berbeda dengan buatan kantin kantor atau yang pernah ia makan di beberapa restoran, kinpira gobo buatan Izuku tidak terlalu manis. Bahkan cenderung asin-gurih. Daging sapinya lembut dan sayurannya masih renyah. Cocok dengan acar tomatnya.
"Todoroki-san..."
"Hmm?"
Lampu merah. 120 detik. Lama sekali, tetapi masa bodoh. Shoto masih menikmati makan siangnya.
"Aku...boleh coba sedikit?"
Shoto menoleh. Pipinya menggembung karena penuh nasi dan lauk. "Nggak boleh."
Yaomomo tersenyum kecut. Shoto setengah hati mengoper kepadanya kotak makan tersebut dan Yaomomo mencicipi kinpira gobo dan bacon gulungnya. Ia sibuk mengunyah, namun dari raut wajahnya, nampak sekali masakan dalam kotak makan itu sangat enak.
"Yao-san..." kata Shoto muram. "Tolong tahu diri."
Meski malu, Yaomomo mengembalikan kotak makan tersebut. Shoto terlihat kesal ketika kinpira gobo-nya sudah habis, namun ia tetap menandaskan apapun yang masih tersisa di dalam kotak makan tersebut.
"Enak banget." Yaomomo mencabut sehelai tisu dan mengelap bibirnya. Ia bahkan tengah memulas bibirnya dengan gincu ketika lampu lalu lintas sudah menyala hijau. "Kalau punya istri yang masaknya sehandal itu, kau pasti betah dirumah, kan?"
Shoto membereskan kotak makannya. "Uhm. Aku baru pertama kali dibawakan bekal."
"Iya, iya. Enaknya, yang baru selesai cuti 2 minggu."
Proyek kali ini adalah lahan sempit yang terjepit antara gedung apartemen dan sebuah pabrik minuman berkarbonasi. Rencananya, daerah itu akan dibuat sebagai cafe kecil yang punya daya tarik khas: belasan burung hantu. Ide tolol itu dicetuskan oleh sang pemilik cafe yang ingin sekali memelihara burung hantu dan membuka cafe, sehingga pengunjungnya bisa melepas stress dengan bermain bersama burung hantu.
"Bagaimana? Kau bisa membuat kandang minimalis untuk—oy, kau mau kemana?!"
Si owner belum selesai bicara. Shoto sudah angkat kaki tanpa bicara sepatah kata pun. Yaomomo mengejarnya, menjegal pundaknya dengan kasar hingga tubuhnya berbalik.
"Todoroki-san! Kembalilah dan minta maaf pada klien kita!"
"Lupakan saja." Shoto mendengus. "Cari saja arsitek lain. Aku tidak mau."
"Tapi...tapi ini proyekmu! Todoroki-san yang kukenal tidak pernah bekerja setengah-setengah!"
Shoto menelengkan kepalanya, merogoh kantong. Ia melihat si owner cafe berlari keluar ketika lelaki berambut nyentrik itu memantik rokoknya.
"Kalau kau tidak mau, kau bisa katakan dengan sopan, kan?" tegur sang owner.
"Begini..." Asap tipis menyelinap keluar dari bibir Shoto. "Dengan area sesempit itu kau mau membuat cafe lalu kandang burung hantu? Dan berapa yang kau mau? Belasan ekor?"
Si owner mengangguk.
"Burung hantu itu bukan satwa sembarangan. Mereka otoriter, rewel dan gampang stress. Sangat benci manusia, butuh ruang besar untuk terus terbang dan juga nocturnal. Proyek cafe Anda hanya akan membuat burung-burung itu mati sia-sia." Jelas Shoto.
"..." Si owner terdiam. "Te..tetapi...Yaoyorozu-san bilang bisa!"
Shoto mendelik atasannya. "Aku memang membuat desain cafe dengan kandang burung yang dinamis. Tapi, kurasa bossku tidak bilang kalau burung yang dimaksud adalah burung hantu."
Yaomomo membuang muka dengan enggan.
"Ta..tapi kalau dicoba tidak akan tahu, kan?"
Shoto menggeleng-geleng. "Sudahlah. Aku pernah memelihara dua ekor burung hantu bertanduk. Yang cebol, seperti yang Anda mau. Aku sudah sangat berhati-hati dalam merawat mereka. Makanan, kandang, suasananya. Tetap saja, mereka mati seminggu kemudian."
"Kenapa?"
"Burung hantu itu makhluk pemburu. Ia punya jangkauan terbang yang luas." Shoto terbatuk sedikit. "Dinding dan jeruji kandang pasti membuat mereka tertekan."
Yaomomo dan si owner terdiam.
"Masalah uangnya, bicarakan saja pada bossku." Ucap Shoto. "Aku masih mau mendesain ulang, selama kau tidak keras kepala dengan ide awalmu."
"Tunggu, Todoroki-san! Kau mau kemana?!"
"Pulang ke kantor." Jawabnya sambil mengeluarkan kunci mobil. "Aku juga tahu kebiasaanmu meletakkan kunci mobil di meja, boss."
Dengan rasa tidak berdosa, Shoto melajukan mobil Yaomomo kembali ke kantor—meninggalkan atasannya yang masih marah-marah di tempat pertemuan dengan klien.
Masak apa...
Izuku menghamparkan semua belanjaannya di meja. Aneka sayuran, kamaboko, daging sapi has luar yang sedang promo, satu bungkus karaage siap goreng, tahu, miso...
Kemudian tiba-tiba perkataan Shinso memenuhi kepalanya.
Naskahmu kurang baper.
Lalu ia menghela nafas.
"Apakah semakin lebar jidat seseorang, dia akan semakin menyebalkan, ya?" gumam Izuku.
"Siapa yang jidatnya lebar?"
Izuku menoleh, mendapati Shoto baru pulang. Ia menaruh sepatunya ke dalam rak dan memandang Izuku dengan tatapan kosong tak berarti.
"Tadaima." Kata Izuku.
"Kau baru pulang?" Shoto malah balas bertanya.
"Bilang tadaima! Kau punya istri di rumah yang harus diberi salam kalau kau pulang kerja."
Shoto berjengit kesal. Ia nampak tak suka saat Izuku memerintahnya begitu.
"Bilang tadaima!" Izuku masih bersikeras.
Shoto mengangguk canggung. "Ta..tadaimaa..."
"Okaeri~" Izuku tersenyum. "Aku belum masak. Bingung mau masak apa."
"Tumben." Shoto menarik bangku dan duduk di kursi meja makan.
"Tadi editorku bilang naskahku kurang baper. Dia minta aku menggantinya."
Shoto tercenung. "Baper..."
"Maksudnya, kurang berasa roman. Ampun, deh. Jaman sekarang masih aja novel cinta-cintaan laku keras. Padahal itu kan cuma konten receh yang bikin anak jaman sekarang makin nggak suka denga karya sastra berkelas."
Shoto masih tidak memberikan tanggapan. Tetapi, Izuku tahu bahwa suaminya itu menunggu ucapannya lagi.
"Yah, meskipun aku tahu hampir semua novel bagus itu bumbu dasarnya cinta. Lolita, Wuthering Heights, Scarlet Letter, Norwegian Wood, Twilight! Coba sebut, salah satu novel yang tidak pakai cinta-cintaan?"
"American Gods?" Shoto menyeletuk,
"Kau baca novel itu, Shoto?!" manik emerald Izuku membelalak. "Kupikir kau tipe laki-laki yang nggak suka baca."
"Nggak sebanyak Izuku, kurasa." Shoto menggedikkan pundaknya. "Jadi kita makan apa?"
"Ah? Ung...kalau teriyaki mau? Aku sudah masak nasi, sih. Sebentar, ya."
Shoto hanya memperhatikan bagaimana dengan kikuknya, Izuku membereskan belanjaan yang tadi dihamparnya di meja makan. Ia mulai memasak dengan begitu tergesa-gesa, seakan keberadaan Shoto disana menuntutnya menyajikan makanan lebih cepat. Ia tahu bahwa Izuku itu adalah seorang penulis novel, tetapi baru kali ini Shoto mendengar racauannya mengenai pekerjaan dan karya sastra. Mungkin karena ini hari pertama mereka hidup di hari kerja setelah 10 hari menikah? Tidak juga, Shoto yang merasakan hal itu. Izuku adalah orang yang bekerja tanpa jam yang spesifik.
"Izuku..."
"Hmm? Sebentar lagi ma—"
Shoto menaruh dagunya tepat di puncak kepala Izuku.
"Ayo kita nonton. Terus, makan di luar."
"Ehh? Tapi, ini kan hari biasa. Dan lagi, nasinya—"
"Buat novelmu." Sela Shoto. "Aku nggak ngerti dengan semua yang kau katakan. Tapi, kurasa yang namanya menulis itu butuh pengalaman dan mood. Tidak sebatas menumpahkan imajinasi ke dalam kertas."
Izuku mengangguk. "Shoto...apa ini..."
"Kencan? He'eh." Shoto menempelkan keningnya ke puncak kepala Izuku. "Ini yang pertama, kan?"
Izuku terdiam. Shoto melangkah mundur dan beranjak pergi. Entitas berambut hijau berombak itu merosot ke lantai dan memegangi dadanya. Ada perasaan hangat yang membuncah, meledak-ledak sehingga rasanya menjadi sangat sesak. Meskipun tidak romantis dan terkesan ogah-ogahan, setidaknya Izuku tahu bahwa Shoto berusaha.
Satu langkah. Satu senti. Satu mili.
Berusaha meniadakan jurang diantara mereka.
A/n:
kinpira gobo: masakan tumis dari Jepang berupa serutan gobo, wortel, yang kadang-kadang ada dagingnya juga. Bumbunya biasanya kecap asin, kaldu dashi, mirin, sake, gula, dan ditaburi biji wijen.
chapter dua update! Well, sebenernya ini salah satu uji coba menerbitkan fanfic yang udah kelar alias completed.Di post bertahap setelah perbaikan EYD dan penambahan author note dan bacotan author. Jadi, mari kita perjelas kembali kalo pasangan Todoroki dan Izuku ini dua-duanya kerja. Shoto jadi arsitek, dan Izuku jadi penulis novel yang lebih sering di rumah. Awalnya, ini mau kukasih kategori angst. Namun, setelah baca ulang, nggak se angst itu, jadilah author masukin ke kategori drama. So far so fun, semoga para readers juga berpikir demikian.
Yosh, segitu dulu bacotnya. See you on the next chapter!
